Last Rain

Last Rain

 

Author: Chenhye

Cast: Bae Suzy, Ok Taecyeon

Other cast: Jang Wooyoung

Genre: Sad, Angst, Romance

Length: Ficlet

Rating: G

Pernah diposting di Sides Of Chenhye

Last Rain

Aku memandang sisa-sisa tetesan hujan yang turun dari atap kecil pelindung halte bus ini. Kutengadahkan tanganku ke depan, setetes air pun segera membasahi telapak tanganku. Rasanya amat begitu dingin, seperti rasa hatiku yang membeku karena merindukannya.

When rain falls. I always remember you..

 

Perlahan-lahan cairan bening keluar dari mataku. Aku tidak tahu. Entah sudah keberapa kali air mata ini jatuh membasahi pipiku. Yang ku ingat, semenjak dia menghilang. Air mata ini seperti diatur secara otomatis untuk mengalir ketika otakku mengingat sosok dirinya.

I don’t know, how much tears falls..

 

Flashback

“Suzy-ah.. mianhae, aku terlambat. Tadi aku lembur latihan. Saat ingin menjemputmu hujan langsung turun. Benar-benar menyebalkan..“

Aku menolehkan kepalaku yang sejak tadi menatap lurus ke depan, memandang rintikan hujan.

Oppa?“ gumamku terkejut ketika kulihat seorang lelaki yang sejak tadi kutunggu-tunggu sedang berdiri di depanku.

“Kau pasti sudah lama menungguku, jeongmal mianhae.“ ucap lelaki bernama Taecyeon itu dengan wajah menyesal.

Ani-ya, nan gwaenchana. Oppa, kenapa kau menjemputku hujan-hujan begini?“ ucapku dengan nada agak kesal, bagaimana tidak? Mantel yang dikenakannya saja basah kuyub.

“Aku yakin, hujan seperti ini tidak akan berhenti sampai malam. Mana mungkin aku membiarkanmu sendirian di sini menungguku.“ kata Taecyeon sembari mengelus puncak kepalaku. Aku hanya bisa tersipu malu.

Kajja, ganti mantelmu.“ ucapku sembari membuka mantel yang kukenakan.

Andwae! Pakai lagi mantelmu!“ cegah Taecyeon melarangku dengan tegas. “Wae-yo? Aku tidak mau pulang denganmu kalau bajumu basah seperti itu.“ ucapku tak kalah tegas sembari terus membuka kancing mantelku.

“ Bae Suzy! Kau sekarang mulai berani membantah perintah namja chingu-mu yaaa?“ kata Taecyeon sembari menatapku dengan tatapan nakal. Lalu, tiba-tiba Taecyeon melangkahkan kakinya mendekatiku.

“YA! kau mau apa?“ Aku segera mundur ke belakang ketika melihat Taecyeon berjalan mendekatiku dengan tatapan nakal. “Kajja, kita berhujan bersama!!!“

Tiba-tiba Taecyeon menarik tanganku lalu berlari menerobos hujan. “Ya! Oppa! Hujannn.. nanti kita sakit.“ ucapku sembari mencoba melindungi kepalaku dengan telapak tanganku.

“Aih! Hanya sesekali tidak akan sakit, Suzy..“ kata Taecyeon sembari terus berlari. Aku pun mencoba berlari menyamai langkahnya yang agak cepat.

“Sini! Supaya tidak kedinginan..“

Tiba-tiba Taecyeon merangkulku di sisi kanannya. Aku sedikit terkejut ketika Taecyeon menarikku ke rangkulannya. Namun, sesaat kemudian aku tersenyum senang. Aku bisa merasakan kehangatan di tengah hujan begini di dalam rangkulan Taecyeon.

“Ayo.. nikmati hujannnnnnn!!!“ teriak Taecyeon sembari memandangku yang sejak tadi terdiam karena terlalu senang.

Aku pun segera balik memandangnya sembari tersenyum.

Flashback End

Aku tersenyum saat otakku mulai mengingat kejadian indah ketika aku bersama dirinya. Namun, senyuman ini berbeda dengan senyuman saat itu. Bukan sebuah senyuman kebahagiaan, tetapi senyuman kerinduan dan kehilangan. Senyuman yang penuh dengan rasa sakit dan penyesalan. Segeraku hapus air mataku yang kembali mengalir membasahi pipiku.

I always try to smile, even I remember it..

Aku melangkahkan kakiku ke belakang, lalu duduk di bangku panjang yang ada di halte bus ini. Perlahan-lahan aku mencoba menutup mataku. Aku ingin mencoba untuk berhenti menangis ketika aku pergi ke tempat ini, aku ingin berhenti menangis ketika aku mengingat kejadian indah di tempat ini. Aku ingin..

Aku ingin aku dapat mengingat semua itu  dengan senyuman. Aku ingin menyimpan itu sebagai kenangan indahku. Tetapi, aku selalu gagal melawan rasa ketidak relaanku saat kepergian dirinya.

I want I can remember it with a fine memory

And keep my heart let you go..

Flashback

Aku memandang jam warna biru yang tergantung di tangan kananku. Jam sudah menunjukan pukul 05.30 sore. Sudah 2 jam setengah aku menunggu Taecyeon menjemputku. Kemana dia? Biasanya Taecyeon tidak pernah seterlambat ini menjemputku.

Aku segera merogoh ponselku, mencoba untuk menelpon Taecyeon. Namun, sambungan gagal. Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan khawatir menyelimuti diriku. Aku pun mencoba menenangkan diriku.

“ Baiklah.. aku tunggu 15 menit lagi. Kalau oppa belum datang juga. Aku langsung pergi ke tempat latihannya. “ gumamku pelan.

Namun, 15 menit telah berlalu, Taecyeon belum datang juga. Aku semakin takut dan khawatir. Belum lagi hari yang sudah agak gelap dan awan yang mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.

Aku mencoba menenangkan diriku kembali.

“Ya Tuhan, semoga Taecyeon oppa baik-baik saja.“ doaku dalam hati. Namun, perasaan khawatir semakin menyelimuti diri ku.

Tanpa berpikir dua kali lagi, aku segera berjalan meninggalkan halte bus ini. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat latihan Taecyeon saja, daripada aku diselimuti dengan ketakutan dan kekhawatiran terus menerus.

Namun, saat di tengah jalan tiba-tiba ponselku bergetar.

“Taecyeon oppa, kau baik-baik saja?“ Aku langsung mengangkat telpon ketika kulihat nama yang tertera di layar ponselku adalah orang yang sejak tadi membuat kukhawatir.

“Suzy-ah.. Taecyeon..“ ucap orang di sebrang sana dengan nada khawatir. Aku yakin, ini bukan suara Taecyeon.

“Waeyo? Ada apa dengan Taecyeon oppa? ini bukan Taecyeon oppa?“ Aku langsung bertanya ketika mendengar nama Taecyeon. Apa dia baik-baik saja? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini.

“Taecyeon.. Taecyeon tidak baik-baik saja Suzy-ah.“ kata suara di sebrang sana lagi dengan nada lirih.

Waeyo?! Taecyon oppa kenapa?!“ ucapku dengan suara tak sabar. Sepertinya, sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.

“Ah! Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Suzy-ah, ppali-ya! Sekarang juga kau ke tempat latihan 2PM.“ ucap lelaki itu dengan suara serak. Aku rasa dia sedang menangis. Aduh.. apa yang terjadi?

Arraseo! Aku sudah di jalan.“

Aku kembali melanjutkan langkahku menuju tempat latihan 2PM. Kini, aku berjalan dengan sangat cepat lantas seperti berlari. Sekarang perasaanku benar-benar tak menentu. Oppa, kenapa..?

Ketika jarak tempat latihan 2PM dengan posisiku berdiri sekarang tidak jauh lagi. Aku melihat ada banyak orang berkumpul di tepi jalan, hanya berjarak beberapa meter dari halaman tempat latihan 2PM. Sepertinya tadi terjadi tabrakan hebat, karena kulihat ada banyak darah berceceran di tengah jalan. Jangan-jangan..

Aku kembali melanjutkan jalanku yang sempat terhenti gara-gara melihat itu. Perasaanku semakin tidak enak. Apa darah itu adalah darah..

Aku segera menggelengkan kepalaku dengan kuat ketika sebersit pemikiran tidak baik melintas di benakku. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Itu darah ..

“Suzy-ah!!

Aku mengedarkan pandanganku di sekitar kumpulan orang itu. Karena aku merasa suara itu berasal dari kerumbunan itu.

“Wooyoung oppa?“ gumamku terkejut ketika kulihat Wooyoung sedang bersimpuh di atas rerumputan. Dan sepertinya ada seseorang yang sedang menyandarkan kepalanya di paha Wooyoung. Astaga, kenapa wajah orang yang bersandar di paha Wooyoung itu penuh darah?

Oppa.. sedang apa di sini? Taecyeon oppa mana? Dia baik-baik saja, kan?“ tanyaku dengan nada khawatir sembari mendekati Wooyoung.

Tiba-tiba Wooyoung menatapku dengan tatapan lirih.

“Suzy-sshi..“ Tiba-tiba orang yang berbaring di paha Wooyoung berbicara dengan suara lirih.

Apa tadi dia menyebut namaku?

“Ini.. Taecyeon.“ kata Wooyoung dengan suara tertahan sembari memandang orang yang berbaring di pahanya dengan tatapan tak tega.

Mwo? Andwae! Bohong! Mana Taecyeon oppa? Ok Taecyeon, Wooyoung oppa! Bukan dia!“ Aku segera mengelak ketika Wooyoung mengatakan orang yang penuh darah di wajahnya ini Taecyeon. Itu tidak mungkin!

“Suzy-sshi.. nan namja chingu-ya.“ kata orang itu lagi sembari mencoba menaikan tangannya, mencoba meraih tanganku.

Tanpa kusadari, cairan bening jatuh dari mataku ketika mataku memandang ke wajah lelaki yang penuh darah itu. Astaga.. itu tidak mungkin Taecyeon! Itu tidak mungkin! Tidak mungkin orang yang wajahnya penuh darah itu..

Kurasakan air mataku semakin deras mengalir. Entah kenapa hatiku berkata bahwa orang itu adalah Taecyeon.

Tidak! Tidak! Itu bukan Taecyeon! Aku terus mencoba mengelak.

Tiba-tiba kakiku melemah, tulang-tulang kakiku rasanya seperti tidak berfungsi. Air mata semakin deras membasahi pipiku.

“Taecyeon oppa..“ Tanpa sadar mulutku berbicara dengan sendirinya. Ya, lelaki ini memang benar-benar Taecyeon, namja chingu-ku.

“Suzy-sshi, jeongmal mianhae. Aku.. tidak.. bisa menjemputmu.“ ucap Taecyeon dengan suara lemah.

Oppa.. apa yang terjadi dengan mu? Kenapa kau jadi begini?“ kataku dengan suara pelan lantas seperti bisikan. Air mataku benar-benar tidak bisa dibendung lagi.

Taecyeon tiba-tiba mengangkat tangannya lalu meraih tangan kananku. Digenggamnya tanganku sekuat tenaga yang masih dimilikinya. Dia tersenyum ditengah banyaknya darah yang menutupi wajahnya.

“Apa pun yang terjadi padaku, aku mohon hiduplah dengan bahagia Suzy-sshi. Tetaplah tersenyum seberat apa pun penderitaan yang kau hadapi. Aku akan selalu mendukungmu.“ kata Taecyeon lagi dengan suara yang sudah lantas seperti bisikan.

Oppa.. kumohon.. bertahanlah untukku. “ ucapku lagi sembari menggenggam tangannya kuat-kuat. Seolah tak ingin membiarkan tangan yang selalu mengelus rambutku dengan kehangatan ini pergi dari hidupku.

Taecyeon hanya tersenyum sembari menghapus air mata yang membasahi pipiku sejak tadi.

“Semua yang hidup akan kembali ke asalnya. Aku tak akan selamanya hidup Suzy-sshi.“ katanya lagi dengan tatapan mata yang hangat. Aku mohon.. jangan biarkan pemilik mata hangat ini pergi dari hidupku.

Kajja, kita ke rumah sakit sekarang! Aku akan lakukan apa pun oppa agar kau bisa bertahan.“ ucapku lagi dengan nada meninggi. Aku benar-benar takut kehilangannya.

“Kau tidak boleh seperti ini. Mana Suzy yang tegar dan tidak cengeng  yang selalu hadir dalam hidupku? “ kata Taecyeon lagi, kini matanya sudah terlihat sayup-sayup. Kumohon.. hentikan waktu sekarang juga!

Oppa.. hajimal..“ Aku kembali memohon dengan isakan tangis yang sudah tak terbendung lagi.

“Suzy-sshi.. nan jeongmal saranghaeyo. Oppa, hanya ingin.. kau menjadi gadis.. yang selalu.. disayangi oleh semua orang..“

Sesaat setelah itu, mata Taecyeon semakin sayup-sayup hingga kedua matanya tidak lagi terbuka.

Oppa..!!! hajimal.. jangan tinggalkan aku.. Oppa! Nado.. nado saranghaeyo..“ Aku berteriak dengan kencangnya ketika mata Taecyeon tidak lagi terbuka dan nafasnya tidak terasa lagi.

Tangisanku kali ini benar-benar pecah.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, seperti dugaanku.

Aku memeluk Taecyeon ke dalam pelukanku. Tak peduli seberapa banyaknya darah yang akan mengotori bajuku. Aku tidak peduli.

Hujan terus turun dengan derasnya, hujan ini benar-benar mewakili perasaanku sekarang. Hati ku hancur, hilang, semuanya.. seperti tidak berasa lagi dalam hatiku.

Saat itu juga, pertama kalinya aku merasakan sakit, sakit yang teramat sakit. Saat di mana orang yang aku cintai pergi meninggalkanku.

Flashback End

Tangisanku kembali pecah saat otakku lagi-lagi mengingat kejadian itu. Kejadian yang rasanya inginku musnahkan dari hidupku. Kejadian yang selama ini selalu kuanggap adalah mimpi burukku. Aku menangis, tidak hanya dalam air mata. Tapi juga di dalam hatiku, sakit. Aku bisa merasakan sakit yang teramat di dalam hatiku.

Even though, I always try to let you go. It just make my tears over and over.

It hurts..

Even more and more I cry. It can’t make my heart feel better.

Perlahan-lahan kuangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk. Kuhapus perlahan air mata yang membasahi pipiku. Kulihat, hujan kembali turun dengan derasnya. Sesaat kemudian, aku beranjak dari dudukanku lalu berjalan ke tepi halte bus. Sejak tadi pagi aku berada di halte bus ini, hujan selalu setia menemaniku. Aku lalu memasukkan tanganku ke dalam saku mantel.

Sesaat kemudian, aku berjalan pelan menerobos hujan. Kubiarkan mantelku basah kuyub.

Aku ingin hari ini aku sepuasnya mengingat itu semua. Aku ingin membiarkan air mata ini mengalir sepuasnya. Aku ingin membiarkan hati ini merasakan sakit sepuasnya.

Aku berharap setelah ini aku bisa menjadi gadis yang lebih tegar lagi. Aku ingin Taecyeon melihatku dengan kebahagiaan. Aku ingin dia tersenyum diatas sana.

And, once again

Let me remember, let me cry, let me feel hurts

Let me..

 

I promise..

After this

 

I will smile in my life

I will happy in my life

And let you see me with happiness.

The End

19 thoughts on “Last Rain

  1. astaga, sedih banget itu suzy..
    kasian taecyeon harus mati di pelukannya sendiri setelah kecelakaan..ditambah ujan pula, serasa langit ikut menangis T-T

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s