[FF Freelance] The Farewell Only I Didn’t Know (Oneshot)

Title : The Farewell Only I Didn’t Know

Author : ivana

Rating : PG-13

Length : Oneshot

Genre : Romance, Family, Angst.

Cast :

  1. Park Minseul (OC)
  2. Lee Jinki (SHINee)
  3. Lee Junho (2PM)
  4. Kim Kibum (SHINee)
  5. Park Jiyeon (T-Ara)

Disclaimer : Seluruh cast belong to God, fandom, dan agensi masing-masing kecuali Park Minseul. Cerita pernah tau tapi lupa itu denger dari seseorang, baca buku, dari film atau darimana, tapi bisa dipastikan saya mengembangkan sendiri kok 😉

A/N : This is a super long oneshot! Contains about 3000 words, jadi yang ngerasa matanya pegel bisa laah berhenti bentar baru baca lagi :p Pernah diposting di blog pribadi tapi banyak perubahan termasuk perubahan main casts. Well, happy reading and don’t be silent reader pleaseJ

=====

 

Aku bertanya-tanya tentang apa yang dirasakan oleh seseorang yang bangun dari koma. Apakah mereka terbangun lalu merasakan sakit di mata mereka karena lama tak melihat cahaya? Adakah keinginan mereka untuk kembali menutup mata, tenggelam dalam gelap, tidak berpikir, tidak melakukan apapun, karena itu lebih nyaman daripada hidup? Apakah jika mereka terbangun, diam-diam mereka mengharap untuk kembali ke dunia yang sebelumnya—meskipun itu tidak nyata?

 

====

 

Minseul

Hari itu, aku terbangun dan mendapati langit-langit dan dinding ruangan yang kutahu bukanlah kamarku. Bau yang sangat asing langsung menusuk indera penciuman, membuat hidungku butuh beberapa waktu untuk terbiasa. Aku berusaha bangkit, kemudian merasakan sakit pada lengan kiriku—yang rupanya telah dibalut perban. Aneh. Sejak kapan aku terluka? Namun perhatianku teralihkan oleh bunyi-bunyi dari beberapa alat yang mengelilingi ranjangku. Apa yang aku lihat sudah cukup membuatku tahu bahwa aku sedang berada di sebuah kamar rawat rumah sakit. Jantungku berdegup. Mengapa aku disini?

Belum semua pertanyaan itu terjawab, aku tiba-tiba mendengar suara pintu yang terbuka. Umma. Melihat aku yang juga memandang ke arahnya penuh dengan rasa bingung, umma memberikan aku tatapan yang seakan-akan mengatakan bahwa ia akan segera menjelaskan semuanya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku tak sabar.

“Kau dan Onew kecelakaan.”

Aku membeku. Sebesit memori langsung terputar secara otomatis dalam ingatanku, menampilkan sosok Onew yang sudut-sudut bibirnya tengah terangkat menunjukkan deretan giginya yang bersih dan rapi. Matanya memandang lurus ke depan, memfokuskan diri pada jalanan. Satu tangannya memegang erat pada setir, sedangkan yang lain berkeliaran menggenggam jemariku. Rasanya begitu cepat, saat tiba-tiba seperti ada yang menyambar. Terdengar decit ban yang bergesekan keras di atas aspal, bau karet yang terbakar menyengat menusuk hidung, suara yang memekikkan telinga dari logam yang bertabrakan dengan logam, semuanya terasa secepet kilat sampai akhirnya aku tiba di tempat ini di detik berikutnya ketika aku sadar.

Umma tampak memandangku khawatir. Meskipun aku tidak sedang melihatnya, tapi aku tahu, ia tengah menahan pertanyaan-pertanyaan yang tercekat di tenggorokannya. Sungguh, aku tidak mengerti. Mengapa aku hampir tidak ingat? Dan yang paling penting… Onew. Dimana dia?

“Dimana Onew?”

Umma terlihat tidak bisa menjawabnya. Paling tidak jika ia bisa, ia hanya tidak tahu akan memulai dari mana.

“Apa yang terjadi padanya? Dimana dia, umma?”

Aku tahu. Aku terus mengulanginya. Aku hanya ingin tahu keadaan Onew. Apakah ia terluka? Kalaupun iya, seberapa parah-kah?

Belum umma menjawab, pintu kembali terdengar terbuka. Sedetik kemudian, aku dapat melihat dengan jelas sosok adikku—Jiyeon yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Di belakang Jiyeon, hadir sesosok laki-laki yang lebih dewasa darinya. Aku tahu siapa laki-laki itu; Lee Junho. Keduanya memandang ke arahku dengan tatapan khawatir. Sebaliknya, aku mengangkat tangan kananku dan melambaikannya pelan—mengatakan bahwa aku baik-baik saja.

Junho terlihat berjalan mendekati umma, membisikkan sesuatu padanya, dan sejenak kemudian umma pergi meninggalkan ruangan, begitu juga Jiyeon. Setelah keduanya menghilang di balik pintu, Junho memandang ke arahku, memberikan senyuman terbaiknya, lalu ia mendekat dan duduk di tempat semula umma berada.

Ia mengulurkan tangannya, berusaha meraih kedua tanganku dengan lembut. Tatapannya hangat—begitu juga kedua telapak tangannya. Tak bisa kusangkal, jariku yang semula membeku dan mati rasa, kini mulai dapat kurasakan kembali karena genggamannya. Begitulah sosok Lee Junho yang kutahu. Dan kali ini, kuharap ia mempunyai jawaban dari segala pertanyaanku.

“Kau baik-baik saja?”

Hanya sebuah pertanyaan klise dari seorang sahabat pada umumnya. “Ne.” aku mengangguk pelan. Bukan karena aku tidak bertenaga, tapi karena kenyataannya, aku tidak benar-benar baik-baik saja. Aku terluka karena kecelakaan, aku tidak sadarkan diri untuk—entahlah berapa lama, dan sekarang aku tidak tahu dimana kekasihku berada.

Junho mengangguk-anggukkan kepalanya, mengambil jeda beberapa detik baru berbicara lagi.

“Kau pasti mencari Onew.”

Aku mengangguk.

“Dia meninggalkan rumah sakit kemarin malam. Orang tua nya membawanya keluar kota, kembali ke kota kelahirannya.”

“Untuk apa?”

“Untuk menyembuhkannya.”

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengangguk menerima jawaban Junho. Meskipun untuk saat ini aku tidak bisa melihatnya, paling tidak aku sudah mengetahui bahwa ia baik-baik saja, ia aman.

Dan aku masih bisa menemuinya lagi.

Junho

Aku adalah manusia yang sangat buruk. Aku berjalan ke ruangan itu, memberitahu sebuah kebohongan besar kepada Minseul saat gadis itu menanti sebuah jawaban pasti. Salah, ini semua salah. Suatu saat Minseul-pun pasti akan menyadarinya. Bagaimanapun juga, meski disembunyikan secara baik-baik, waktu selalu enggan untuk tidak membongkar kenyataan secara pelan-pelan, dan Minseul tak mungkin menghadapinya sendiri.

Aku duduk di bangku lorong rumah sakit. Memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Aku baru saja tiba di rumah ketika orang tua Minseul meneleponku dan menyuruhku untuk segera ke rumah sakit. Awalnya aku sama sekali tidak tahu apapun. Aku hanya menurutinya, mengetahui seberapa bergetar suara yang kudengar dari ujung telepon, dan berharap tidak ada hal buruk apapun yang terjadi.

Ketika aku memasuki ruangan, terdapat ibu Minseul, kedua orang tua Onew, Key, dan akupun melihat Onew disana.

Ia tersembunyi di balik selimut rumah sakit. Tak ada luka yang bisa kulihat selain di sedikit bagian wajahnya. Aku bisa melihat sebuah respirator di mulutnya, dan tubuhnya dihinggapi oleh berbagai macam alat yang tidak begitu kuketahui. Namun tak ada satupun yang menyala—atau setidaknya secara konstan mengeluarkan bunyi ‘beep’ seperti apa yang aku tahu. Aku masih tidak mengerti.

Aku mengalihkan pandangan ke setiap orang disana, mencermati ekspresi mereka lekat-lekat, dan mulai menyerah ketika yang kutemukan hanyalah air mata. Untuk saat itu, ruangan itu benar-benar dipenuhi duka. Aku melihat ke arah Key. Untuk sekali seumur hidupku, aku melihatnya menangis seperti ini.

“Apa yang terjadi?” aku seperti orang bodoh—menanyakan hal yang sama sekali tidak butuh jawaban.

Meski tetap saja, temanku itu menjawab. Ia memberi tahu aku yang sebenarnya.

Dengan suara yang bergetar, Key berkata, “Hyung sudah tidak ada.”

Saat aku masih kecil, aku tidak mengerti apa yang buruk dari sebuah kematian. Mengapa selalu ada air mata yang mengiringinya? Mengapa selalu ada duka? Jika kematian itu pasti adanya, mengapa kita masih tidak siap untuk menerimanya?

Namun kali ini, aku menyadari, mengapa orang-orang begitu takut terhadap kematian. Terutama jika itu adalah seseorang yang kau kenal. Kemarin, mereka ada disana. Kau bisa melihat mereka, mendengar suara mereka, memegang tangan mereka, bercanda dengan mereka. Tapi hari ini, mulut mereka tertutup, mata mereka tertutup, hanya diam. Rasanya seperti bagian dari hidupmu ada yang menghilang. Entah bagaimana, dengan cara yang tidak bisa dimengerti, mereka hanya pergi begitu saja.

Aku mengenal Onew dari Key. Key adalah temanku sejak kecil—mungkin sejak kami berumur sepuluh tahun. Ia hanya beberapa bulan lebih muda dariku, dan kini kami berada di universitas yang sama. Dan untuk Onew sendiri, ia adalah kakak yang lebih tua satu tahun dari Key. Aku dan Onew bukanlah teman baik, tapi kami saling mengenal dekat satu sama lain. Suatu hari, Onew bertemu dengan Minseul di kelas musik. Aku tidak tahu seberapa jauh proses mereka untuk mengenali satu sama lain, tapi yang kuyakini, pada malam natal kedua semenjak mereka bertemu, mereka sudah berpacaran. Sejak itu pula, aku jadi lebih sering bertemu dengan Onew. Hubungan yang ia jalin dengan sahabat satu kampusku—Minseul—berpengaruh pula pada hubunganku dengannya. Faktanya, ia kini sudah menjadi bagian dalam hidupku.

Dan sekarang, dia pergi.

Tepat setelah aku meninggalkan ruangan itu, aku tidak bisa merasakan kedua kakiku lagi. Yang aku tahu, tiba-tiba aku sudah terduduk di lantai, bahuku bersandar pada dinding. Di lorong rumah sakit ini, aku berusaha menolak kenyataan yang sebaliknya harus kuhadapi. Aku tetap bertahan disini, memilih untuk tidak bergerak. Onew. Lee Jinki. Pergi. Mengapa ini bisa terjadi?

Tidak lama kemudian, akupun menyerah dan entah bagaimana aku bisa mengatur kembali pola nafasku. Aku mencuci wajahku, aku kembali berjalan, aku kembali berbicara. Namun rasanya, aku masih hidup di dalam mimpi buruk. Beberapa saat kemudian, aku sudah duduk di samping ibu Minseul di luar ruangan gadis itu, sampai akhirnya, ibu Minseul menceritakan segalanya.

Kembali terpikirkan olehku, bagaimana Minseul akan bereaksi nantinya. Aku yakin ia pasti akan hancur. Aku sudah melihat apa saja yang Minseul dan Onew lalui bersama selama ini. Bagaimana cara mereka berbagi kasih, cara mereka saling membisikkan kata cinta, cara mereka memegang janji masing-masing. Mereka tampak sangat sempurna bersama.

Jika kuputar sebuah kilas balik, aku kembali merasa benar-benar bersalah. Memberi tahu sahabatku bahwa orang yang benar-benar ia cintai masih hidup saat ia tidak lagi bernafas. Aku berani memberikan jaminan bahwa ia akan bertemu dengannya lagi, walaupun kenyataannya, selamanya itu tidak akan terjadi.

Aku mengatakan semua kebohongan ini, membuat janji-janji yang tak mungkin kupenuhi, karena aku takut ia hancur.

Aku-pun menyetujuinya jika ia tidak mungkin terus hidup di atas kebohongan ini. Mau tak mau aku harus memercayai waktu, dimana nanti, hanya waktu-lah yang membangunkannya. Aku hanya berharap semoga suatu saat nanti Minseul mau memaafkan aku, atas apa yang kulakukan terhadapnya, dan terhadap Onew juga.

Tapi tidak.

Aku harus mengatakan ini padanya.

Perlahan aku beranjak dari dudukku dan berbalik. Aku berniat membuka gagang pintu kamar rumah sakitnya, membangunkannya jika ia sedang tidur, dan menceritakan semuanya. Ini yang harus aku lakukan bukan? Aku tahu ibu Minseul tidak akan menyukainya, begitu juga Jiyeon. Tapi ini yang terbaik. Aku tidak akan membiarkan Minseul hidup dalam kebohongan.

Jiyeon panik. Ia sangat terpukul. Sama halnya dengan aku dan Key, dia juga melewati proses yang sama, proses untuk menerima kenyataan sepahit ini. Aku belum tiba disini saat Jiyeon berlari ke sisi Onew, menangis disana dengan sedikit meneriakkan nama calon kakak iparnya tersebut. Dari apa yang Key ceritakan padaku, ibunya akhirnya menariknya mundur, dan kemudian yang tersisa pun hanya isakan tangisnya saja. Dia datang berbicara padaku setelahnya, saat aku sudah mengetahui bahwa Onew sudah tidak ada.

Ia berkata, “Jangan katakan pada eonni, oppa.”

Itu adalah Jiyeon yang berbeda. Meskipun ia adalah perempuan yang jauh lebih muda dariku, namun apa yang aku tahu adalah, dia tidak pernah serapuh ini. Minseul adalah kakaknya yang lebih tua tiga tahun darinya. Walau begitu, ia-pun memiliki waktu dimana ia harus berpikir sebagai orang dewasa layaknya apa yang diajarkan oleh Minseul. Dan jika Jiyeon telah melakukannya, bisa dipastikan ia benar-benar berusaha.

Saat itu, saat aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya, aku tidak bisa menolak. Dia adalah seorang adik, dan ia-pun berkewajiban untuk melindungi kakaknya.

Inilah aku, terdiam berdiri di depan kamar Minseul. Dari kaca berbentuk persegi panjang yang ada di permukaan pintu, aku bisa melihat sosok kaburnya yang sedang duduk di atas ranjang. Aku memaksakan tanganku untuk menyentuh gagang pintu, mendorongnya perlahan dan melangkahkan kakiku masuk.

Mungkin aku salah karena aku terlalu spontan. Ketika aku sudah berdiri di samping ranjangnya, aku terdiam, dan—dengan bodohnya—baru mencari susunan kata-kata yang tepat. Beberapa saat terlewati dengan aku yang masih terus bungkam, mengetahui memang tak ada kalimat yang aku temukan. Aku sadar ini tak mudah, tapi aku tidak pernah tahu bahwa semuanya akan menjadi sesulit ini.

Ia masih memandangiku bingung dengan kedua mata bulatnya sejak aku memasuki ruangan. Aku tidak akan menyalahkannya jika ia bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba masuk dan berdiri di sampingnya, bisu.

“Ada yang salah, Junho?”

Ada. Kau ada dalam kesalahan besar. Kau hidup dalam kebohongan.

“Ti..tidak. Tidak ada yang salah.”

Key

Sebagai seorang adik, terkadang aku tidak mengharapkan keberadaan hyung-ku. Aku hanya tidak menyukai bagaimana ia selalu benar di mata kedua orang tuaku, bagaimana ia selalu dianggap paling dewasa, dan bagaimana ia selalu mengguruiku atas segala hal. Kami hanya berbeda satu tahun, dan rasanya aku selalu seperti anak kecil baginya.

Kenyataannya, Onew sama sekali bukanlah kakak yang buruk. Wawasan dan pengetahuannya luas. Meskipun ia menyebalkan, tapi ia telah mengajariku banyak hal. Dan di balik sifat-nya yang selalu menggurui, ada kalanya kata-katanya selalu benar. Bila aku berpikir ia sedang sok dewasa, maka justru akulah yang kekanak-kanakkan. Dia punya tanggung jawab. Dia menjaga dan melindungi aku dengan sebagaimana mestinya.

Kami sering berargumen—tentu saja. Kami adalah saudara, dan begitulah rutinitas kakak-adik lainnya di muka bumi ini. Tapi tetap saja, kami akan selalu saling membutuhkan. Aku selalu berpikir bahwa aku tidak akan pernah bisa sama tanpanya.

Dan itu terbukti.

Sekarang ia sudah tidak ada. Yang kurasakan adalah, aku sungguh berbeda. Setiap aku mendengar derap langkah memasuki rumah, aku berbalik, dan berharap menemukan sosok Onew disana. Tapi aku tidak pernah melihatnya lagi. Setiap saat aku selalu menghabiskan waktuku mencarinya—bertanya-tanya dimana ia berada, sampai akhirnya sepuluh detik kemudian, aku tersadar bahwa ia tengah berbaring di kamar mayat rumah sakit. Dinyatakan meninggal. Organnya mati. Jiwanya mati. Rasanya seperti sebagian jiwaku telah tercabik, menyebabkan aku harus menahan darah yang mengucur dari sekujur tubuhku.

Dua hari lagi adalah pemakamannya.

Ironis. Untuk seseorang yang sangat terorganisir seperti dia, dia tidak pernah mengatur rencana pemakamannya.

Onew adalah sosok yang penuh dengan persiapan. Ia selalu menyiapkan segala sesuatu sedetail mungkin sebelum bertindak. Ia selalu merencanakan baju apa yang ia gunakan untuk tiga hari ke depan. Ia selalu merencanakan makanan apa yang akan ia makan untuk makan malam. Ia selalu merencanakan teknik belajar apa yang harus ia gunakan untuk menghadapi ujian di universitasnya. Ia juga selalu mengatur jadwal makan dan tidurnya tepat waktu. Ia mengatur letak-letak barang di kamarnya dengan sempurna. Pada lemari pakaiannya-pun, ia menyusunnya berurutan dengan warna pelangi. Aku bahkan bisa menebak kalau ia sudah mempersiapkan dan mengatur rencana pernikahannya kelak.

Tapi tidak untuk pemakamannya.

Kau tahu mengapa?

Karena tidak ada satupun orang yang berharap untuk mati esok hari.

Onew tidak pernah berharap untuk bertabrakan dengan sebuah truk yang tiba-tiba menghantam mobilnya dari arah berlawanan saat ia bersama Minseul. Dia tidak pernah mengharapkan untuk mati saat ia merasakan paru-parunya tak berfungsi lagi. Ia hanya tidak mengharapkan untuk mati. Mengapa ia harus mati? Mengapa?

Saat itu, di pertengahan bulan Oktober, Onew baru saja pulang dari kelas musiknya sekitar pukul lima sore. Saat itu aku tengah sibuk menonton tv di ruang tengah, dan tiba-tiba ia duduk di sebelahku.

“Yah. Aku ingin bercerita sesuatu padamu.”

Aku mengulurkan tanganku, membiarkannya berkeliaran mencari remote tv. Tepat saat aku menemukannya, aku segera menekan tombol power.

“Ada apa?”

Ia tampak begitu senang untuk bercerita, namun juga sedikit kebingungan, “sepertinya aku jatuh cinta pada seseorang.”

Aku melempar tatapan geli kepadanya. Bukan bermaksud apa-apa. Ini hanya sedikit aneh. Seumur hidupku, baru kali ini ia mengatakan hal semacam itu. Laki-laki jarang sekali berbicara tentang cinta, begitu pula Onew dan aku. Kami sama-sama saling memendam soal topik yang satu itu. Meski aku tahu ia sudah pernah berpacaran dengan beberapa gadis, tapi aku tidak begitu peduli.

Mengetahui bahwa seorang ‘Onew’ baru saja mengucapkannya, aku-pun meyakini bahwa ini adalah hal serius. Aku kembali bersikap normal, lalu menanyakan hal yang biasa ditanyakan orang lain pada umumnya. “Kepada siapa?”

Ia mengalihkan pandangannya dariku. Onew memandang ke arah depan, meski aku tak tahu pasti apa yang tengah ia tatap. Yang aku tahu, sudut bibirnya terlihat saling menarik membentuk senyuman. Pipinya tampak bersemu merah, dan dengan malu-malu, ia menjawab, “Park Minseul.”

Walaupun tidak pernah bertemu, namun nama itu tidak asing lagi bagiku. Onew sering menyebutnya di beberapa pembicaraan dengan aku. Kurasa gadis itu satu kelas musik dengannya atau entahlah. Kini aku merasa tidak perlu banyak bertanya lagi, ia memang benar mencintainya. Karena itulah aku hanya menjawabnya dengan sederhana, “Ia beruntung jika mendapatkanmu, hyung.”

Aku seratus persen yakin Minseul tidak pernah mengharapkan ini sebelumnya.

Tunggu. Dia bahkan tidak mengetahuinya. Yang dia tahu, Onew masih hidup. Dan ia masih bisa menemuinya.

Aku baru saja menyadari betapa Minseul begitu berarti bagi Onew. Baru saja kemarin aku mendapat firasat untuk memasuki kamar Onew. Semenjak kepergiannya, pintu kamar itu bahkan belum tersentuh sama sekali. Orang tuaku saja tidak mau mendekat, seakan-akan menjaga radius satu meter dari sana, atau mereka akan kembali terbayang.

Aku sudah lama menyadari keberadaan sebuah papan kayu berukuran se-televisi yang ada di atas meja belajarnya. Namun baru hari itulah aku menyadari seberapa dalam arti papan itu. Selama ini, aku selalu mendapatinya mengisi papan itu dengan berbagai macam hal. Mulai dari mencorat-coretnya dengan spidol besar, menempelinya dengan formula-formula fisika, jadwal keberangkatan bus, beberapa catatan kecil, sampai akhirnya ia mulai mengisinya dengan foto-foto. Saat aku mengamati papan itu, ternyata semuanya berisi tentang ia dan Minseul. Mulai dari foto-foto Minseul sendirian, sampai dengan foto polaroid mereka dimanapun mereka mengambilnya. Semuanya tersenyum.

Dan sekarang ia tidak ada disana. Senyumnya hilang, pudar.

Aku merasa benar-benar melemah. Aku hanyalah seorang adik, yang harus terus-terusan berurai air mata ketika menemukan saudaranya meninggal. Aku membeku, tidak bisa bergerak ataupun melangkah maju.

Aku tidak tahu harus bagaimana.

Bagian dari tubuhku menghilang, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengisinya kembali.

Hyung, katakan padaku.

Apa yang harus kulakukan?

Mengapa kau tidak disini?

Jiyeon

Aku mengingat saat-saat dimana eonni adalah seorang pemain biola yang sangat hebat. Ia mulai memelajarinya sejak umur enam tahun, saat dimana aku hanya bisa melihatnya dari jauh tanpa berbuat apa-apa. Aku tak bertepuk tangan saat ia tampil di pesta tahunan sekolahnya karena aku masih di pangkuan umma. Aku masih tidak bisa memahami kehebatannya, bahkan selalu merasa ketakutan, seperti sebagaimana bocah umur tiga tahun mestinya.

Aku ingin eonni yang selalu seperti itu. Mencintai musik seperti ia mencintai dirinya sendiri. Hanya musiklah yang membuatnya sebahagia ini. Dan karena musik itulah, ia bisa bertemu dengan Onew oppa. Aku bangga menjadi adiknya. Ia mencintai banyak hal, dan hebatnya, ia mencintai semuanya dengan sepenuh hati—tanpa tersisa sedikitpun. Begitukah bagaimana wanita seharusnya?

Aku tak pernah membayangkan, bagaimana jadinya eonni, saat menyadari bahwa salah satu orang yang dicintainya telah pergi. Apakah ia akan tetap terus seperti ini? Apakah ia masih bisa mencintai? Tidakkah seluruh rasa cinta itu akan ikut mati?

Karena itulah, aku memutuskan untuk menyembunyikan kepergian Onew oppa darinya.

Mungkin aku sangat licik. Saat semuanya memantapkan diri untuk memberitahukan eonni tentang yang sebenarnya, aku tidak memperbolehkan mereka. Aku meminta mereka untuk berbohong. Mengatakan bahwa Onew oppa sedang kembali ke kota kelahirannya untuk pengobatan. Mungkin terdengar sederhana, tapi itu adalah kebohongan terbesar yang pernah kuciptakan. Apa baiknya menyembunyikan kematian seseorang? Walaupun aku tahu semua ini akan memperburuk keadaan. Aku hanya tidak ingin eonni berubah. Aku tidak ingin ia mati rasa.

Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dekat denganmu? Semua orang menunjukkan kesedihan mereka dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa dari mereka menangis, beberapa menutup diri mereka sendiri, beberapa—yang bodoh—justru ikut menghilang mengekorinya. Tapi walaupun begitu, alasan akan sakit yang kita rasakan adalah sama. Semua hanya karena kita kehilangan kontak dengan seseorang yang kita cintai.

Setiap hari, kau bangun dari tidurmu, kau makan, kau berpakaian, kau pergi ke sekolah, melihat orang-orang di sekitarmu. Kau berbicara dengan mereka, kau tertawa dengan mereka. Mereka berbagi rasa sakit, mereka berbagi kebahagiaan. Orang-orang yang kau cintai sama seperti keluargamu sendiri. Kau bergantung pada mereka akan banyak hal, tak peduli perlu atau tidak. Dan saat mereka menghilang, kau sangat ingin mereka untuk kembali bagaimanapun caranya. Tapi ketika kau tahu bahwa mereka tidak akan kembali, rasa sakit yang kau rasakan sebelumnya kembali menyiksamu, seratus kali lipat lebih kuat.

Onew oppa adalah sosok yang sangat luar biasa. Jika aku diharuskan untuk mengatakan siapa laki-laki terhebat di dunia ini, aku akan memilih Onew oppa setelah ayahku. Selama satu setengah tahun aku mengenalnya, ia benar-benar telah menjadi calon kakak ipar yang baik. Ia benar-benar menjaga eonni, ia benar-benar menyayanginya, ia memandang eonni seperti tidak ada yang lain di dunia ini.

Tidak hanya eonni, aku yakin semua orang di sekitarnya-pun pasti menyukainya. Begitu pula aku. Setiap ia bertemu dengan eonni, ia akan selalu menanyakan bagaimana kabarku, meskipun sehari sebelumnya ia sudah menanyakannya. Jika ia pergi ke suatu tempat bersama eonni, hal terakhir yang tidak pernah ia lewatkan adalah membelikan sesuatu untukku. Entah itu makanan atau apapun. Ia bahkan tahu warna kesukaanku, ia tahu baju-baju apa yang biasanya kupakai, sehingga jika aku berpakaian sedikit berbeda, ia akan menyadarinya. Onew oppa juga tidak jarang menjemput aku di sekolah saat eonni tidak bisa melakukannya. Memang benar kata eonni, Onew oppa adalah seseorang yang sangat terorganisir. Ia bahkan melakukan segala persiapan sebelum akhirnya benar-benar menjadi kakak iparku.

Dengan begitu, siapa yang kini tidak merasa kehilangannya? Bahkan aku yakin, pembencinya sekalipun akan merasa kehilangan. Kehilangan orang untuk melampiaskan amarah mereka berbeda tipis dengan kehilangan orang yang kau cintai.

Eonni-pun, tidak akan selamanya sanggup menjalani hari-harinya tanpa sosok Onew oppa.

Aku menyembunyikan ini semua, kuharap mereka bisa mengerti. Mungkin aku egois. Tidak hanya aku yang rapuh, tapi Key oppa, Junho oppa, orang tua Onew oppa, mereka semua juga menangis bersamaku.

Aku tahu, tak seharusnya aku melakukan ini. Membiarkan eonni hidup dalam kebohongan yang bisa-bisa membunuhnya perlahan. Tapi percayalah, aku berjanji akan memberitahunya nanti. Sebelum ia yang mengetahuinya sendiri. Aku janji.

Onew

Dalam film-film, kecelakaan biasanya digambarkan dengan jejak ban yang membekas di permukaan aspal—disertai suara decitan yang memekikkan telinga. Orang-orang berteriak ketakutan. Si pengemudi berdarah-darah, setengah sadar, mereka terperangkap di kursi mereka. Kaca mobil yang pecah berserakan di tanah seperti berlian yang berkilauan.

Sekarang, saat aku benar-benar mengalaminya, rasanya sungguh berbeda. Meski ada pula persamaan-persamaan kecilnya.

Sekelilingku penuh dengan kekacauan.

Dan Minseul terkulai lemas dalam pelukanku.

Adalah sebuah masalah besar bagiku mendapatinya dalam keadaan seperti ini. Kepalanya bersandar di bahuku, darah mengalir dari pelipisnya. Matanya tertutup rapat, bahkan aku mulai merasakan nafasnya yang melambat. Setidaknya, dia hidup. Aku berusaha menguatkannya, kupanggil namanya berkali-kali, tapi tak ada jawaban.

Tapi meskipun aku telah melihat hal-hal seperti itu, terlalu mudah bagiku untuk tetap melihat kecantikannya. Ia seperti seorang bidadari. Seorang bidadari yang hanya sedang tertidur saja.

Aku menelan ludah saat aku berusaha mengendalikan diriku sendiri. Aku harus menelepon ambulans. Aku harus menyelamatkan Minseul, sekarang juga. Tapi sayangnya, untuk merogoh kantong celanaku saja rasanya sulit setengah mati. Aku merasa kedua tanganku mati rasa. Pandanganku mengabur, hanya dirinya saja yang nyata.

Aku sendiri—saat itu—pun mengakui bahwa aku benar-benar bersalah. Tidak seharusnya aku lalai seperti ini. Seharusnya aku lebih fokus lagi sehingga aku bisa waspada dengan kendaraan dari arah berlawanan. Seharusnya aku tidak terlalu menengah sehingga kendaraan lain bisa lewat dengan mudah. Mungkin ini sebuah kecelakaan, tapi seharusnya aku tidak membiarkan ini semua terjadi, lalu melukai Minseul seperti ini.

Mengapa aku begitu ceroboh? Mengapa aku begitu tidak bertanggung jawab?

Aku menggertakkan gigiku sendiri saat kucoba untuk mengusir semua itu dari pikiranku. Hanya rasa bersalah saja tidak mungkin membantuku dalam situasi seperti ini. Aku butuh bantuan. Tapi apa daya, untuk sekedar memindahkan tubuhku saja aku tidak sanggup. Selain itu, aku tidak akan membiarkan Minseul sendirian disini. Aku merasa putus asa hingga akhirnya kusapukan pandangan ke sekitar meski sebagian besar kabur tak terlihat. Saat itu adalah pagi hari, tapi tidak terlalu pagi. Seharusnya semua toko-toko sudah buka.

Akhirnya aku menghela nafas lega saat seorang karyawan toko berlari ke arahku. Ia menggenggam ponselnya, mungkin baru saja menelepon ambulans untukku. Sesaat kemudian, orang-orang disana mulai berdatangan.

Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Semuanya akan baik-baik saja. Ambulans akan datang. Minseul akan selamat. Semuanya akan membantumu Jinki. Kau akan hidup. Minseul akan hidup. Semua akan baik-baik saja.

Aku mulai mendengar suara mobil lain yang mendekat. Sirine.

Aku hampir tidak merasakan apa-apa lagi saat seorang wanita mendekatiku dan menanyakan apakah aku butuh bantuan. Aku mengangguk lemah dengan sisa tenagaku. Dengan bantuan beberapa pria dewasa, wanita itu berusaha mengeluarkanku dulu. Mungkin mereka mengira Minseul sudah mati. Tapi tidak. Tidak akan. Aku berteriak, mengelak.

“Selamatkan dia dulu, kumohon…”

Aku harus melindungi Minseul. Bagaimanapun caranya, ia harus selamat.

Masih dengan bantuan mereka, aku juga berusaha melepas Minseul dari dalam. Kakinya terjepit, butuh waktu yang cukup lama untuk membebaskannya. Aku berkali-kali berteriak pada mereka saat mereka berusaha menarik Minseul dengan paksa. Aku ingin melindunginya. Aku ingin ia selamat. Aku ingin ia hidup. Aku ingin setelah ini, bagian tubuhnya masihlah sempurna. Aku masih ingin melihat senyumnya lagi, aku masih ingin bertemu dengannya, dan merasakan jemarinya yang mengait pada jemariku.

Tepat setelah Minseul berhasil keluar, akupun berusaha mendorong diriku sendiri, tapi nyatanya, aku masih tidak bisa bergerak. Badanku tergencet, rasa sakitnya baru menjalar ke seluruh tubuh sekarang. Aku bahkan baru menyadari kalau T-shirt yang kukenakan sudah penuh oleh darah. Nafasku mulai memberat, aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi.

“Tunggulah, bantuan akan datang, jangan paksakan dirimu, tunggulah” samar-samar suara seorang pria dewasa menyapa telingaku.

Aku menghela nafas, “Kumohon biarkan ia hidup…”

Dan setelah itu, ada sebuah kilatan rasa sakit yang kurasa. Hanya sepersekian detik, namun itulah terakhir kalinya aku mengedipkan mata, dan setelahnya, semua gelap.

 

Tanpa perlu dijelaskan, aku tahu.

 

Aku mati.

 

Meninggalkan Minseul sendiri, tanpa satupun ucapan selamat tinggal yang bisa kukatakan.

Tuhan, maukah Kau menjaganya? Untukku?

THE END

15 thoughts on “[FF Freelance] The Farewell Only I Didn’t Know (Oneshot)

  1. aigoo~ kasian minseul gtw klo onew uda meninggal..kasian sih dy hrs idup dalam kebohongan tapi klo demi kebaikan kenapa nggak. pas bagian onew pov, ya Tuhan..dy tetep mikirin keselamatan minseul tanpa sempat berpamitan..huweee T-T

  2. huwaaaaaaa ceritanya onew bikin aq nangis plus merindinggggg…ya ampun…author hebat bgt sih bisa manggambarkan kematian onew sampe detail begitu…aq jd sedihhh plus beneran merindinggg…ditunggu ya lanjutannya….
    fightingggg…

  3. Daebak.. Iyaa thor aku jg sk bagian key pov.. Tp pas bgian onew pov bs bkn air mt jatuh.. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s