[FF Freelance] Shadow (Ficlet)

Title : Shadow

Author : Avery Song

Main Cast : Oh Sehun, Jung Ririn

Genre : Romance

Length : Ficlet

Rated : PG-13

Disclaimer : Ficlet ini pernah aku posting di blog pribadi aku. Dan ini murni dari pikiran aku. FF ini aku bikin buat temen aku Julia. Leave your comment please, and contact me @silviaufa ^^

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

 

     Dekapannya pada bahuku semakin mengerat seiring angin malam yang berhembus menerpa tubuhku. Dapat kurasakan badanku agak bergetar dalam pelukannya. Kami berdua tetap berjalan beriringan menyusuri pinggiran pantai. Sesekali ombak kecil datang membasahi hingga pergelangan kakiku.

     Hening. Tak ada yang berniat memulai pembicaraan diantara kami. Hanya deburan ombak yang tertangkap oleh gendang telingaku. Bisa saja aku berpikir jika sekarang hanya aku seorang diri yang berjalan menyusuri pinggiran pantai, tapi dekapan hangatnya menyadarkanku jika aku tak sendiri.

     Berulang kali kedengar helaan nafas keluar dari mulutnya, tapi suara miliknya tak kunjung datang menyapa telingaku. Hingga  menit selanjutnya, kualihkan pandanganku menatap wajahnya dari bawah. Mengingat tinggiku yang tidak bisa menyamai tinggi bahunya.

     Wajahnya kabur jika dilihat dari sudut pandang mataku. Entah karena minimnya cahaya yang ada di pinggiran pantai ini, atau mungkin karena mataku yang bermasalah. Yang jelas aku tidak bisa melihat wajah laki-laki yang kini tengah mendekapmu.

     Bisa kulihat sudut bibirnya terangkat. Detik selanjutnya dia menoleh menatap wajahku. Tapi tetap saja aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dan yang kuingat akan tentang dirinya, tinggi badan yang sangat menjulang jika ia berada di sisiku, serta senyuman samar yang terukir di bibirnya.

     Bahkan untuk selanjutnya, aku tidak mempermasalahkan wajahnya dan hanya merasakan nyaman jika berada di sisinya. Dan dapat kurasakan hal itu begitu nyata….

***

     Setelah menjejakkan kakiku ke tanah, langsung kupacu kakiku agar berlari kencang ke arah gedung sekolahku. Kulirik jam tangan yang melekat di pergelangan tanganku. Tiga puluh detik lagi. Kutambah kecepatan berlariku sembari menatap pintu gerbang yang sudah mulai terlihat, walau masih tampak kecil karena jarak yang terbentang di depanku.

Bisa kulihat pintu itu mulai digeser, memperkecil jarak utama memasuki wilayah gedung sekolahan. Para murid yang baru datang, yang berada di sekitar sana, juga berlari kecil agar tidak terlambat. Sedangkan aku, masih harus berlari menempuh jarak dua ratus meter sebelum mencapainnya.

Aku mengumpat dalam hati ketika pintu gerbang tertutup sempurna ketika aku berhasil memegangnya. “Songsaenim kumohon ijinkan aku masuk. Aku hanya telat sedetik. Jebal songsaenim,” ujarku memohon pada Kim songsaenim, guru killer yang terkenal akan ke disiplinannya itu.

Ekspresi wajahnya tak berubah, barang sedikitpun tidak. Wajah dingin dengan tatapan mengerikan, yang mampu membuat semua orang diam tak berkutik jika ditatapnya. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya, diangkat dagu miliknya yang menambah sedikit kesan angkuh, pertanda jika dialah yang mempunyai kuasa.

Merasa jika usahaku sia-sia akhirnya aku berjalan agak menjauh dari gerbang. Setidaknya aku harus menunggu sekitar lima belas menit sebelum pintu gerbang itu terbuka kembali. Aku sedikit menyesali, jika saja bus yang kutumpangi tadi melaju agak cepat. Jika saja sepedaku tidak rusak, aku tidak harus naik bus yang pada akhirnya membuatku berdiri saat ini. Di tempat ini.

Kutundukkan kepalaku lalu menendang kerikil secara asal-asalan. Begitu seterusnya hingga ekor mataku menangkap sepasang sepatu milik seseorang yang tengah berdiri tak jauh dariku. Perlahan kutatap dirinya mulai dari ujung sepatu hingga ujung rambutnya.

Berantakan. Kemeja sekolah kusut yang tidak terpasang rapi di balik ikat pinggang, dasi sekolah yang melingkar di sekitar leher secara longgar, jas sekolah berwarna coklat yang tersampir malas di pundak kanannya. Penampilan yang benar-benar menyalahi peraturan yang telah ditetapkan.

Kuamati dirinya yang asyik mengunyah permen sembari menggoyangkan sebelah kakinya, mempertandakan jika dia bosan mungkin. Pandangannya beralih secara cepat, melihat ke arah jalan berbalik ke arah gerbang kembali ke arah jalan, hingga akhirnya berhenti ketika kedua mata itu menangkap pandangan kedua mataku. Hanya sedetik, karena detik selanjutnya ia kembali menatap ke arah jalanan, dan mulutnya tetap sibuk mengunyah permen.

Entah mengapa rasanya menarik menatap dirinya itu. Untuk ukuran sebagian para lelaki, tinggi badannya termasuk di atas rata-rata kebanyakan orang. Bahkan dari jarak tempatku berdiri dapat kulihat betapa menjulangnya dirinya itu jika dibandingkan dengan diriku.

Tubuhku agak tersentak ketika menyadari kenyataan itu. Kucoba mengamati lekuk wajahnya lebih cermat. Tapi hal itu tidak membuahkan hasil. Kucoba mengingat bayang lelaki yang hadir di mimpiku semalam. Tapi tetap saja wajahnya tidak dapat kulihat secara jelas.

“Sehun-ah!!” teriakan seseorang menyadarkanku. Kulihat laki-laki jangkung tadi menghentikan aktifitasnya, mengunyah permen karet dan menggoyangkan sebelah kakinya bosan, lalu menolehkan kepalanya ke arah seorang laki-laki yang tengah berlari ke arahnya.

Kali ini aku merasakan ada yang berbeda dengan detak jantung dan perasaanku. Bukan karena apa, hanya saja senyuman yang baru saja kulihat itu mengingatkanku pada laki-laki yang semalam hadir dalam mimpiku.

Dapat kudengar gesekan roda besi tua dengan lintasannya, menandakan jika pintu gerbang terbuka sehingga aku bisa masuk. Tapi aku tetap terdiam di tempat menerawang ke arah dirinya dengan tatapan kosong. Dia berjalan, bersama temannya yang baru datang, menuju gerbang. Membuatku hanya bisa menatap dirinya yang tengah bercanda dengan otakku yang kukira telah kehilangan fungsinya.

Dan saat dua langkah dari tempatku berdiri, laki-laki bernama Sehun itu, menoleh ke arahku dengan sisa senyuman akibat candaan temannya itu. Dan dengan bodohnya aku hanya menatap ke dirinya tanpa ekspresi, begitu saja hingga ia hilang dari jarak pandangku.

“Jung Ririn! Apa yang kau lakukan disitu?! Cepat masuk atau akan kututup pintu gerbangnya!!” teriakan Kim songsaenim menyadarkanku. Dengan tergesa dan sisa kesadaran yang kupunya, kulangkahkan kakiku menuju gedung utama dimana kelasku berada.

Sehun? Mengetahui fakta jika laki-laki itu mengingatkanku pada laki-laki yang muncul dalam mimpiku tadi malam, entah mengapa membuat perasaanku menjadi kacau.

-FIN-

9 thoughts on “[FF Freelance] Shadow (Ficlet)

  1. Keren nih,walau d awal2 kyagnya ada beberapa typo tp it’s ok,gak ngerusak ceritanya kok!

    Jd yg d pantai itu cuma mimpi?
    Wajib dibikin sequelnya nih..^^

  2. jd yg diawal itu cuma mimpi? aku pikir sekilas ingetan lho..
    duhhh, harus ad sekuelnya ini..penasaran itu ama sehunnya *lho* hehehe ^^v

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s