(Ficlet) The Boy

The Boy

 

Author: Chenhye – @Isna_jung14

Cast: Yoon Junhyung Beast, Jung Ah Joong OC

Other Cast: Jung Eun Ri OC

Genre: Romance(?)

Length: Ficlet

Pernah dipublish di blog pribadi saya Sides Of Chenhye

The Boy~

“Eun Ri, diam di sini saja. Jangan ke mana-mana, eonni mau pergi ke sana sebentar.” Ah Joong berjongkok sembari menatap kedua mata bulat adiknya yang berdiri manis di bawah pohon maple.

“Ne, eonni. Tetapi, eonni tidak lamakan?” tanya Eun Ri sembari memandang sekilas toko kecil yang ada di seberang jalan sana.

“Tidak, hanya sebentar. Kau ingin eonni belikan ice cream?” tanya Ah Joong dengan senyum manis. Eun Ri mengangguk senang.

“Baiklah, tunggu sebentar ya. Ingat, jangan ke mana-mana.” Setelah mengelus rambut Eun Ri yang panjang sebahu, Ah Joong bangkit berdiri lalu berjalan menuju sebuah toko yang ada di seberang jalan sana.

Gadis itu ingin membeli beberapa bumbu dapur di toko kecil itu, namun melihat jalan yang ramai dan padat, sulit baginya kalau harus mengajak adiknya, Eun Ri yang masih berumur 3 tahun itu untuk ikut menyeberang. Oleh sebab itu-lah, Ah Joong meninggalkan adiknya sebentar di bawah pohon maple itu.

Melihat kakaknya, Ah Joong yang mulai mencoba menyeberang jalan yang padat. Eun Ri masih berdiri memandangi kakaknya. Namun, tiba-tiba mata bulatnya melihat beberapa ekor burung kecil berterbangan di sekitarnya.

Merasa tertarik dengan burung-burung kecil yang mulai berjalan di atas rerumputan, Eun Ri berlari-lari kecil menghampirinya hingga membuat burung-burung kecil itu terkejut dan kembali terbang.

Eun Ri tersenyum lalu kembali berlari sembari merentangkan kedua tangannya, mencoba untuk meraih salah satu dari burung-burung kecil itu. Ditengah larinya yang sedang mengejar burung-burung kecil itu, Eun Ri tidak melihat jalan di sekitarnya hingga membuat kakinya yang masih lincah itu tersandung beberapa kerikil batu.

Tanpa bisa menyeimbangkan badannya, Eun Ri terjatuh dan tersungkur di atas hamparan kerikil-kerikil batu itu. Seketika itu juga, terdengar suara tangis Eun Ri yang melengking karena kesakitan.

Ah Joong yang sedang berjalan menuju pohon maple dengan sebuah kantong plastik belanjaan yang tergantung di tangan kirinya dan sebuah ice cream strawberry tergenggam di tangan kanannya tampak bingung melihat Eun Ri yang tidak ada di bawah pohon itu lagi.

“Eun Ri-ya, Jung Eun Ri..”

Ah Joong mencoba memanggil nama adiknya sembari menolehkan kepalanya kesana-kemari dan memanjangkan pandangan matanya, berharap melihat sosok Eun Ri di sekitar taman maple ini.

“Huhuhu.. eonnie..”

Samar-samar Ah Joong mendengar suara tangis anak kecil yang terdengar tidak jauh dari tempat dirinya berdiri. Entah kenapa Ah Joong merasa mengenali dan tidak asing dengan suara itu. Suara itu seperti suara Eun Ri.

Perlahan namun pasti, Ah Joong pun berjalan mencari asal suara itu. Suara tangis itu semakin terdengar jelas di telinga Ah Joong ketika kakinya berjalan mendekat di balik semak-semak yang cukup rimbun.

Mata Ah Joong menangkap sebuah bangku kecil di dekat semak-semak itu dan seorang lelaki dan anak kecil yang tampak duduk tepat di sebelah lelaki itu.

Lelaki itu tampak mengelus rambut anak kecil itu. Ah Joong tidak tahu pasti apa yang dilakukan lelaki itu karena posisi mereka yang memunggungi Ah Joong.

“Ah Joong eonni.. hiks, eonni..”

Ah Joong tersentak begitu mendengar suara seorang anak kecil memanggil namanya, Ah Joong kenal, itu pasti suara Eun Ri. Langkah Ah Joong semakin lebar. Gadis itu harus segera menemukan Eun Ri, kalau tidak eomma-nya bisa mengomelinya kalau sampai pulang tanpa membawa Eun Ri. Bahkan mungkin memukulinya.

“Eun Ri!” seru Ah Joong begitu melihat adiknya duduk di bangku kecil sembari menggosok-gosok kedua matanya yang tampak bengkak.

Ah Joong segera berlari menuju bangku kecil itu.

Seketika Ah Joong sadar, bahwa yang tadi dilihatnya di balik semak-semak yang rimbun itu ternyata adiknya. Dan lelaki itu..

“Eun Ri, gwaenchana-yo?” Ah Joong segera berjongkok di depan Eun Ri sembari menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi adiknya yang tampak memerah. Wajah Ah Joong tampak sangat khawatir, namun perasaan lega karena telah menemukan adiknya membuatnya cukup tenang.

“Kaki dan sikunya berdarah.”

Ah Joong sontak menolehkan kepalanya ke samping. Gadis itu tersentak melihat seorang lelaki yang tersenyum lembut sembari menatap matanya.

“Sepertinya adikmu terjatuh. Tadi aku menemukannya terduduk dengan penuh air mata di sekitar hamparan kerikil itu.” ucap lelaki itu lagi sembari mengelus rambut Eun Ri yang duduk di sebelahnya.

Hentakan kecil dari kaki adiknya membuat Ah Joong tersadar dari lamunannya yang entah sejak kapan terpaku memandangi wajah lelaki itu.

“Oh, kamsahamnida.” ucap Ah Joong, canggung sembari menundukan kepalanya pada lelaki itu.

“Eonni, sakit sekali.” rintih Eun Ri sembari menunjuk lututnya yang berdarah.

Ah Joong kembali menatap adiknya dan meniup luka di lutut Eun Ri, mencoba untuk menghilangkan sesaat rasa perihnya.

“Baiklah, kita pulang saja ya? Eonni akan obati ketika tiba di rumah.” ucap Ah Joong sembari menghapus buliran air mata yang membasahi pipi adiknya. “Tidak mau.” Eun Ri menggeleng cepat.

“Aku sudah ingin mengobatinya, tetapi dia bersikeras tidak mau.” sela lelaki itu sembari menunjukan obat tetes luka yang tergenggam di tangan kirinya.

Ah Joong memandang lelaki itu lagi. Entah kenapa desiran aneh terasa di dadanya ketika lelaki itu berbicara sembari menatap dalam ke arah bola matanya. Ini aneh, pikir Ah Joong.

“Adikku memang tidak suka dengan obat luka. Dia akan dengan polosnya, mencuci lukanya dengan air agar obat tetes luka itu menghilang dari lukanya walaupun itu terasa perih.” tanggap Ah Joong sembari memandang adiknya yang tertunduk lemas.

“Benarkah? Hmm.. kalau begitu akan kucoba membujuknya” ucap lelaki itu sembari beranjak berdiri.

Ah Joong tersentak melihat lelaki itu beranjak dari bangku. Ah Joong bisa melihat tubuh lelaki itu yang tinggi, dadanya yang bidang, dan tubuhnya yang atletis. Tanpa diduga Ah Joong, lelaki itu tiba-tiba berjongkok tepat di sebelahnya.

“Adik kecil yang manis, lukamu akan sembuh dengan obat luka ini. Kalau tidak segera diobati lukanya akan infeksi dan kulitmu bisa berubah jadi kulit nenek-nenek.” ucap lelaki itu sembari memandang Eun Ri yang duduk manis di atas bangku.

“Mwo? Kulit nenek-nenek? Seperti Jung On haramonie? Tidak mau!” Eun Ri mengelak dengan tegas sembari mengingat-ngingat bagaimana kulit neneknya, Jung On haramonie.

“Nah, biarkan oppa yang tampan dan eonni yang cantik ini mengobati lukamu ya?” tawar lelaki itu dengan senyum manis yang masih bertengger di wajahnya. Ah Joong kembali tersentak mendengar ucapan lelaki itu, namum sama sekali tidak berniat membuka mulutnya. Sekarang yang terpenting baginya, Eun Ri mau lukanya diobati.

“Ini tidak akan sakit sama sekali. Oppa berani menjamin, lukamu akan sembuh dalam 3 hari.” kata lelaki itu lagi.

“Kalau tidak bagaimana?” tanya Eun Ri, polos.

“Oppa akan mentraktirmu 1 box ice cream rasa apa saja.” jawab lelaki itu. “Jeongmal?” Eun Ri terbelalak riang. “Kalau begitu aku ingin lukanya tidak sembuh saja.” Eun Ri bergumam riang.

Lelaki itu tertawa lalu perlahan-lahan meneteskan obat luka itu di lutut Eun Ri. Ah Joong dengan segera membantu lelaki itu. Dengan lembut Ah Joong meniup luka yang sudah ditetesi dengan obat luka.

“Tidak sakitkan?” tanya lelaki itu. Eun Ri mengangguk. Lelaki itu kembali tersenyum lalu menolehkan kepalanya ke arah Ah Joong. Ah Joong sontak salah tingkah menanggapi senyuman lelaki itu. “Selesai.” ucap lelaki itu pada Ah Joong.

Dengan salah tingkah dan bingung harus berbuat apa, Ah Joong tersenyum dan menganggukan kepalanya. “Gomawo.” ucap Ah Joong.

“Ini lollipop untukmu. Lain kali kalau bermain hati-hati. Kasiankan eonni kalau sampai dimarahin eomma kalau ternyata kamu pulang dengan keadaan luka.” nasihat lelaki itu lagi sembari memberikan lollipop warna-warni kepada Eun Ri dari saku celananya.

Dengan senang hati, Eun Ri meraihnya. “Ne, aku akan hati-hati. Ah Joong eonni, mianhae.” ucap Eun Ri sembari menatap Ah Joong dengan wajah polosnya.

“Ne, gwaenchana. Lain kali jangan buat eonni khawatir.” kata Ah Joong sembari mengelus puncak kelapa Eun Ri. Ah Joong lalu beranjak berdiri, lelaki itu pun mengikuti Ah Joong yang beranjak berdiri.

“Gomawo karena telah menyelamatkan adikku. Aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau adikku sampai menghilang entah kemana.” ucap Ah Joong sembari tersenyum kecil.

“Tidak masalah sama sekali. Aku senang membantumu.” jawab lelaki itu dengan senyuman lembut.

“Hmm, kalau begitu aku pamit pulang. Sekali lagi, terima kasih.” Ah Joong membungkukan badannya. Tepat saat itu, matanya melihat tangan kanannya penuh dengan cairan berwarna merah muda. “Omona, ice cream-nya meleleh.” gumam Ah Joong tanpa sadar.

Karena terlalu panik, Ah Joong tidak ingat lagi dengan ice cream yang dibelinya untuk adiknya.

Lelaki itu tertawa kecil melihat lelehan ice cream yang mencair memenuhi tangan kanan Ah Joong. Dengan hati-hati, lelaki itu menarik cone ice cream yang tergenggam di tangan Ah Joong lalu meletakkannya di atas bangku.

“Kau seperti anak kecil.” gumam lelaki itu sembari mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan segera membersihkan ice cream yang mencair di tangan Ah Joong.

Ah Joong terkejut seketika begitu tangan lelaki itu menyentuh kulitnya. Tangannya terasa sangat hangat di tangan Ah Joong. Namun gadis itu hanya bisa terdiam melihat lelaki itu membersihkan telapak tangan kanannya. “Go.. gomawo.” ucap Ah Joong dengan terbata-bata.

Lelaki itu hanya tersenyum manis, melipat sapu tanganya, dan meletakkannya di atas bangku.

“Eonni, ayo pulang.” Eun Ri menarik-narik levis yang dikenakan Ah Joong. Ucapan yang disertai tarikan levis-nya itu sontak menyadarkan lamunan sesaat dan kegugupan Ah Joong.

“Ne, kajja.” jawab Ah Joong sembari membantu adiknya turun dari bangku. “Oppa, gomawo-yo. Neomuna jinjja jinjja jinjja miciseoyeo (Kau benar-benar tampan).” ucap Eun Ri dengan gembira. Lelaki itu tersenyum lalu tertawa kecil, “Gomawo, adik kecil yang manis.”

“Mm.. sekali lagi terima kasih banyak. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu.” ucap Ah Joong sembari menggengam tangan adiknya dengan erat, mencoba untuk menahan kegugupannya.

“Datanglah 3 hari lagi ke taman ini setelah luka adik mu sembuh, aku akan mengajak kau dan adikmu makan ice cream.” jawab lelaki itu dengan senyuman sembari memasukan sebelah tangannya ke saku celananya.

Ah Joong menganggakat alisnya, heran.

“Jinjja?” Eun Ri mendongak begitu mendengar ucapan lelaki itu.

“Tentu saja. Oleh karena itu, lukamu harus sering-sering diobati biar cepat sembuh dan kita cepat makan ice cream.” kata lelaki itu.

“Tidak masalah. Eonni, nanti malam obati lukaku lagi ya.” ucap Eun Ri dengan polosnya. Lelaki itu hanya tersenyum.

“Kau membuatku semakin bingung bagaimana cara membalas kebaikanmu.” ucap Ah Joong.

“Aku senang membantumu.” jawab lelaki itu lagi.

“Sekali lagi, terima kasih banyak.” Ah Joong menundukan tubuhnya.

“Tidak perlu menunduk seperti itu, Ah Joong-sshi.”

Ah Joong terkejut mendengar lelaki itu mengucapkan namanya dan sontak mendongakkan kepalanya.

Lelaki itu hanya tersenyum melihat wajah Ah Joong yang bingung, “Namaku Yong Junhyung. Cukup panggil aku, Junhyung.”

 

The End

 

Bingung kenapa judulnya The Boy? Whehe

Judulnya The Boy karena dalam cerita ini tokoh Junhyung dari awal ampe mau abis disebutkan dengan ‘Lelaki itu’. Konyol? Gaje? Memang! 😀 *dapat idenya aja tengah malam*

Kalau responnya bagus, sequel akan saya pertimbangkan XD

2 thoughts on “(Ficlet) The Boy

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s