Monster (Part 7 – End)

Author: Tirzsa

Title: Monster

Main cast:

  • Big Bang’s TOP
  • Wonder Girls’s Sunye

Support cast:

  • 2NE1’s Park Bom
  • Big Bang’s G-Dragon

Genre: Romance, Angst

Rating: PG-16

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari lagu Big Bang “Monster”, drama, film, & novel.

Credit poster: Altha.

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6

***

“Seunghyun?”

Namja itu terkesiap melihat Sunye berdiri di sana. Ia menelan ludah dengan suara keras dan merasakan ketakutan itu menjalar ke seluruh kulitnya. Tangannya gemetar. Pisau dan gas halothane itu jatuh ke atas aspal jalan dan menimbulkan bunyi yang berisik, mengacaukan keheningan di antara mereka bertiga. Saat Seunghyun berjalan mendekat, Jiyong meraih tangan Sunye dan menggenggamnya sangat erat.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Sunye-ah..” kata Seunghyun dengan suara memelas.

Bibir Sunye bergetar. Tampak yeoja itu berusaha menahan tangisnya. Tapi air mata yang mengalir jatuh ke pipinya telah menjawab segalanya. Ia melepas genggaman tangan Jiyong dan mendekat kearah Seunghyun sampai jarak mereka tidak lebih dari tiga langkah. Sunye mendongak untuk menatap sepasang mata yang kini memelas iba, tapi hatinya kini telah berubah menjadi sedingin es. Tatapan itu tidak cukup hangat untuk mencairkan hatinya.

“Sunye-ah..” bisik Seunghyun.

Sunye mengangkat tangan kanannya dan melayangkan sebuah tamparan keras pada pipi kanan Seunghyun. Seunghyun meringis dan merasakan pipinya memanas. Ia menyentuh pipinya, lalu kembali menatap Sunye tak percaya.

“Aku mencintaimu, Seunghyun. Sangat mencintaimu,” kata Sunye terisak. “Aku mencintaimu apa adanya dirimu. Aku masih bisa menoleransi pekerjaanmu sebagai seorang penipu. Tapi, ya Tuhan,” Sunye memalingkan wajah dan menutup mulutnya. “Pembunuh? Tuhan bahkan sangat sulit memaafkan seorang pembunuh!”

Air mata Seunghyun ikut mengalir. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar seperti kedinginan dan berkata, “Tapi aku melakukan ini karena aku ingin menyingkirkan bajingan itu dari hidupmu, Sunye!” pekik Seunghyun putus asa sembari menuding Jiyong yang masih membeku di belakang Sunye. “Aku tidak tahan jika melihatmu menderita karenanya!”

Sunye menepis kasar tangan Seunghyun saat tangan itu hendak menyentuh pipinya. “Tapi bukan seperti itu caranya!”

Wae? Ia memang pantas mendapatkannya! Ia pantas dibunuh!”

Sekali lagi Sunye melayangkan tamparan keras pada pipi kiri Seunghyun. “Cukup!” teriaknya dengan isak tangis yang semakin meledak-ledak. “Mulai sekarang, jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi. Aku tidak mau melihat seorang pembunuh di sekitarku!”

Sunye berjalan berbalik, meninggalkan Seunghyun dengan luka yang menganga dan sangat perih. Jiyong menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan bingung. Tak berapa lama kemudian, ia mengikuti Sunye dari belakang. Setelah beberapa mil jauhnya mereka berjalan, sesekali Jiyong menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang dan masih bisa melihat sosok yang tadi ditakutinya bersimpuh di atas aspal dan berubah menjadi pribadi yang lemah.

Seunghyun tertunduk dan terisak-isak melihat kepergian Sunye yang akhirnya menghilang di balik kegelapan malam.

***

“Dari yang kutahu, sepertinya korbannya sudah banyak. Aku melihat di kamarnya penuh oleh foto-foto namja yang merupakan korbannya,” jelas Jiyong pada petugas kepolisian itu.

Petugas polisi itu mengangguk-angguk dan lanjut mengetikkan laporannya. “Lalu, selain itu, apa yang kau temukan di kamarnya?”

“Di dalam lemarinya aku melihat banyak barang-barang aneh, yang didominan dengan benda-benda tajam. Sepertinya benda-benda tajam itu digunakan untuk membunuh korbannya.”

Sunye duduk di bangku belakang Jiyong dan mendengarkan semua penjelasan Jiyong dengan hati teriris-iris. Selama ini ia merasa sudah mengenal Seunghyun dengan baik, namun saat mendengar penjelasan Jiyong mengenai sosok calon pembunuhnya pada polisi, Sunye merasa terkejut, sekaligus sedih. Berulang kali ia tertunduk untuk menyembunyikan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“Menurut Anda, apa motif pembunuh tersebut sehingga begitu mengincar Anda?” tanya petugas polisi itu.

Jiyong tertunduk sekilas, lalu menoleh ke belakang, melihat Sunye yang juga sedang tertunduk. “Kurasa orang itu hanya sedang berniat melindungi seseorang, tapi caranya sedikit salah,” gumam Jiyong.

Petugas polisi itu mengangguk-angguk lagi kearah mesin ketiknya, lalu mendongak dan memasang senyum ramah pada Jiyong. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk mengejar buronan ini dan Anda tidak perlu lagi merasa khawatir.”

***

Seunghyun masuk ke gedung seni itu pada tengah malam. Ia berdiri di tangga penonton dan menatap grand piano yang ada di tengah-tengah panggung. Seunghyun bergerak mendekati grand piano itu dan mengusap tutsnya dengan ujung jemarinya. Ia menekan salah satu tuts piano dan suaranya bergema di ruangan yang sepi dan agak gelap itu.

Matanya bergerak mengamati bangku yang ada di depan piano dan terenyak di sana disertai desahan berat. Matanya yang merah dan redup sudah cukup membuktikan bahwa ia sedang dalam keadaan mabuk berat. Hatinya kacau, disertai dengan ketakutan. Selama ini, Seunghyun selalu punya cara untuk menghindari dari polisi dan menjadi buronan baginya adalah sebuah kesenangan. Seperti bermain petak umpet. Tapi kali ini ia merasa berbeda. Ada ketakutan yang mengikutinya. Entah karena apa.

Air mata menggantung di pelupuk matanya. Seunghyun mengulurkan tangan, menyentuh tuts-tuts piano itu hingga memainkan nada yang merdu. Lagu yang pernah ia mainkan bersama Sunye menggema di gedung seni. Tapi Seunghyun merasa kosong. Tidak ada lagi seorang yeoja yang duduk bersamanya di sana dan menemaninya bermain. Mengingat hal itu, emosinya terpancing. Seunghyun meringis, air matanya jatuh, ia memainkan piano itu dengan tempo yang sangat cepat.

Jari-jarinya yang besar menekan tuts itu keras-keras dengan penuh amarah. Temponya semakin cepat hingga kemerduan dari lagu tersebut perlahan-lahan menghilang digantikan oleh alunan melodi yang menakutkan. Air mata Seunghyun terus mengalir, jatuh membasahi tuts-tuts piano itu. Alunan itu terdengar semakin menakutkan, hingga sampai di klimaks, Seunghyun berhenti di satu tuts piano dengan tenang.

Ia menoleh, menatap tuts piano itu dan membayangkan bagaimana jari kelingkingnya bertemu dengan milik Sunye. Bagaimana jari kelingking kecil Sunye mengusap lembut jari kelingkingnya, memberi sengatan kebahagiaan di hatinya. Namun, bayangan itu dengan segera hilang dan menguap ke udara. Yang Seunghyun lihat hanyalah jari kelingkingnya sendiri. Bergetar di atas tuts piano.

Seunghyun menarik jemarinya dan mengangkat kesepuluh jemarinya tinggi-tinggi ke udara, lalu menekan tuts-tuts piano dengan asal. Ia memainkan nada asal itu terus-menerus. Ia marah dengan dirinya sendiri. Meringis dan terus menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan. Keringat dan air mata jatuh melalui dagu dan menjadi satu. Dan permainan piano itu ditutup dengan kepala Seunghyun yang menindih tuts-tuts piano itu. Jatuh karena kelelahan.

***

Dua orang namja bertubuh besar dengan setelan serba hitam mengetuk pintu apartemen Park Bom. Tidak berapa lama kemudian, Park Bom muncul dari balik pintu dan mempersilahkan dua orang namja itu masuk ke dalam rumahnya. Dua orang namja itu mengikuti langkah Park Bom yang membimbing mereka masuk ke dalam ruang kerja pribadi di dalam apartemen itu.

Park Bom lalu duduk di belakang meja kerjanya, sementara dua orang namja itu berdiri di depan sana, menunggu sesuatu. Park Bom membungkuk untuk mengambil sesuatu dari dalam laci kerjanya. Sebuah foto.

“Aku ingin kalian mencari orang ini,” kata Park Bom sambil menyerahkan foto itu pada dua orang namja itu.

Salah seorang dari mereka—yang memiliki luka di leher—meraih foto itu dan menunjukkannya pada rekannya. Mereka berdua memandangi foto itu dengan tajam. “Siapa namja ini?”

“Namanya Seunghyun,” kata Park Bom. “Aku ingin kalian mencarinya. Ia adalah orang yang sudah mencuri seluruh surat-surat berhargaku. Singkatnya, ia adalah seorang pencuri dan penipu. Aku sudah melaporkannya ke polisi dari minggu lalu, tapi polisi terlalu idiot untuk menemukan namja cerdas seperti Seunghyun. Jadi kupikir aku akan memakai jasa kalian saja.”

Kedua orang itu saling berpandangan dan tersenyum bangga. “Lalu, kau ingin kami menangkap namja ini hidup-hidup, lalu membawanya kepadamu atau langsung menghabisinya?” tanya si namja yang memiliki luka di lehernya.

Park Bom bersandar pada kursinya dan berpikir. “Aku sudah kehilangan harta bendaku selama dua minggu, dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku ingin Seunghyun mati, jadi langsung habisi dia.”

Kedua orang namja itu tersenyum lagi. “Baiklah. Kami akan langsung menghabisinya.”

***

“Selamat siang, tuan Kwon!” sapa Sunye pada namja paruh baya itu.

Tuan Kwon mendongak dari kipas rotannya dan tersenyum. “Oh, Sunye? Mencari Jiyong?”

Yeoja itu mengangguk. Belum sempat tuan Kwon memanggil anak laki-lakinya, Jiyong sudah muncul dari pintu gudang dengan celemek putih menempel pada tubuhnya. “Sunye-ah, kau datang!”

Sunye menggamit lengan Jiyong dan mereka berdua duduk di bangku panjang yang ada di restoran keluarga Kwon. Sunye mengangkat sebuah kantongan putih yang sejak tadi ia bawa ke hadapan Jiyong.

“Tada~ Aku membawa makanan kesukaanmu!” serunya girang.

“Wah~ Jeongmal?” Jiyong meraih kantongan plastik itu dan membukanya. Senyum di wajahnya berubah menjadi kerut kekecewaan saat melihat dua bungkus vanilla ice cream. “Sunye, ini, kan, ice cream,” gumam Jiyong.

Sunye mengangguk. “Ne, kau suka ice cream, kan?”

Jiyong mendesah, mendongakkan kepalanya dengan perasaan penuh kecewa dan berkata, “Sunye, apa kau lupa? Makanan kesukaanku adalah kue beras, bukan ice cream.”

Kali ini, senyum di wajah Sunye yang perlahan memudar. “Tapi, ice cream adalah—” Sunye tersentak. Ia memalingkan wajah dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. Tapi Jiyong bisa membaca itu semua.

Jiyong mendesah panjang. “Ice cream makanan kesukaan Seunghyun, bukan aku,” gumamnya lirih.

Sunye tidak menyahut dan juga menoleh. Ia terus memalingkan wajah dan mengatur pernapasannya agar tidak terisak. Ia mengutuk kebodohannya. Bagaimana bisa ia melakukan kesalahan fatal seperti ini? Bagaimana bisa ia mengingat kesukaan Seunghyun di saat ia seharusnya sudah sepenuhnya melupakan namja itu? Sunye sedang bergolak pada dirinya sendiri. Sunye merasa bersalah karena ia terus-terusan mencari sosok Seunghyun dari Jiyong. Bukan lagi mencari. Namun mengubah Jiyong seperti Seunghyun.

Sunye merindukan kehangatan Seunghyun. Bagaimana ia harus mendongakkan kepala untuk menatap wajah Seunghyun, merasakan tangan besar itu menggenggam tangannya, dan bagaimana Seunghyun mengusap bekas ice cream pada sudut bibirnya. Sunye bersedia mati hanya untuk merasakan kehangatan itu sekali lagi. Tapi ia berusaha menolak mati-matian untuk tidak lagi mencari-cari Seunghyun walau ia merindukan namja itu setengah mati. Dan caranya selalu ampuh.

Berulang-ulang kali Sunye mengingat bagaimana sosok Seunghyun saat terakhir kali ia melihatnya. Memeluk gas halothane, pisau lipat, dan bertampang dingin dan serius di bawah temaram lampu jalan. Benar-benar mirip seorang monster, hingga mengingat-ngingat kehangatan yang tersembunyi di balik sosok dingin itu saja membuat Sunye merasa mual dan benci. Ia terus memberi sugesti itu pada dirinya, namun lagi-lagi semua berakhir sia-sia. Ia rasa, ia terlalu mencintai Seunghyun lebih dari yang ia kira.

Jiyong mengulurkan tangan, menyentuh pundak Sunye. “Sunye, gwaenchanha?”

Sunye menghapus air mata dan mengusap hidungnya dengan segera, lalu menoleh pada Jiyong. “Ne, gwaenchanha.”

Jiyong memandangi sepasang mata yang merah itu  dan menelan ludah. “Apa aku keterlaluan? Apa aku menyakiti hatimu? Mianhae.”

Sunye tersenyum dan menggeleng. “Ani, gwaenchanha. Ini memang salahku. Mianhae. Aku akan membelikanmu kue beras jika kau mau.”

“Tidak usah,” tukas Jiyong, menarik tangan Sunye. Namja itu mencoba tersenyum. “Kita makan ice cream ini saja.”

Jiyong mengambil dua bungkus ice cream itu dan membukanya satu-satu. Masing-masing untuk dirinya dan Sunye. Mereka menikmati ice cream itu dalam diam. Jiyong menelan cairan ice cream yang telah meleleh di lidahnya dengan perasaan berat. Ia melirik Sunye yang menikmati ice creamnya dengan sangat pelan sehingga ice cream itu meleleh ke jari-jarinya yang kurus.

***

Daesung menggeliat di atas ranjangnya dan menggeram kesal ketika mendengar suara pintu apartemennya diketuk keras oleh seseorang. Ia bangkit duduk di tepi ranjang, menguap, dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu dibuka, Daesung menemukan dua sosok namja bertubuh besar dan kekar, memakai setelan serba hitam, dan salah satu dari mereka mempunyai luka di leher.

“Siapa kalian?” tanya Daesung sembari menelan ludah.

Namja dengan luka di lehernya tidak tanggung-tanggung langsung menarik kerah baju Daesung dan menarik tubuh Daesung ke hadapannya. “Kau adalah teman Seunghyun, bukan?”

Tubuh Daesung seketika bergetar ketakutan. Bulu-bulu halus di belakang lehernya berdiri. “A-a-aku—”

“Kau teman Seunghyun, bukan? Jawablah!” bentak namja yang lain.

Daesung mengangguk gugup. “Ne, aku teman Seunghyun. Apa yang kalian inginkan dari Seunghyun?”

Namja dengan luka di leher itu melempar tubuh Daesung sampai punggungnya menabrak daun pintu. “Kalau begitu, katakan pada kami, di mana Seunghyun berada?”

Ani, aku tidak akan mengatakannya sampai kalian mengatakan lebih dulu maksud kalian untuk menemui Seunghyun!” Daesung bersikeras. Ia mengepalkan tinjunya dan mendapati dirinya bergetar karena sudah berani menantang dua orang namja yang bertubuh dua kali lipat lebih besar darinya itu.

Dua orang namja itu saling berpandangan dan mengirimkan sinyal satu sama lain yang tidak bisa Daesung artikan. Lalu tiba-tiba, namja dengan luka di leher menerjang tubuh Daesung dan melayangkan sebuah tinju keras pada rahang Daesung. Daesung terkapar dengan rahang berdenyut ke lantai dan meringis. Sementara itu namja yang lainnya menarik dagunya dengan kasar dan menatapnya dengan tajam.

“Katakan di mana Seunghyun berada atau kami akan membunuhmu!”

***

Seunghyun meraih satu per satu pisau dan alat-alat lainnya dari dalam lemari dan melemparnya kedalam karung besar. Seusai mengosongkan lemarinya, Seunghyun beralih menuju meja yang ada di dalam kamar apartemennya dan mengambil korek api dan bahan bakar minyak. Ia berniat membakar seluruh barang-barang itu dan ingin memulai hidup baru sebagai Seunghyun yang baru. Pekerjaan haram itu akan ia tinggalkan dan bahkan Seunghyun sudah menyimpan tabungan untuk membangun sebuah usaha sendiri.

Baru saja Seunghyun hendak membawa karung besar itu ke tempat pembuangan sampah, ponselnya berbunyi. Daesung meneleponnya.

Yeobboseo?”

Hyung, di mana kau sekarang?” tanya Daesung dari seberang telepon.

“Aku? Aku sekarang ada di rumah. Waeyo? Mengapa kau terdengar panik?”

Hyung, sebaiknya kau segera pergi sekarang. Tadi aku didatangi oleh dua orang namja yang mencarimu. Mereka akan membunuhmu, hyung!” pekik Daesung, putus asa.

Seunghyun mengernyit. “Mworago?”

Seunghyun mendongak ke pintu, mendengar suara ketukan keras. Ia segera mematikan ponselnya dan membungkuk untuk mengintip dari lubang kunci. Dua orang namja berdiri di luar pintu apartemennya dengan wajah lelah, namun marah dan tak sabaran. Seunghyun tersentak saat mendengar pintu itu kali ini digedor lebih keras. Ia merasakan jantungnya mulai berpacu dan ia tidak pernah merasa nyalinya sekecil ini. Seunghyun bagaikan tikus yang kecil dan malang yang terjebak di sudut ruangan oleh dua kucing hitam berbadan besar.

Dengan panik, Seunghyun mundur beberapa langkah, melempar karung besar di tangannya, lalu mengamati sekelilingnya. Setidaknya, ia tetap harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri. Entah itu kabur ke mana atau bersembunyi.

“Keluar, Seunghyun!” teriak salah seorang dari mereka.

Seunghyun menelan ludah dengan susah payah. Bersembunyi sepertinya bukan jawaban yang tepat karena pintu rumahnya mulai bergetar saat ketukan di pintunya mulai berubah menjadi tendangan-tendangan kasar. Seunghyun menuju jendela apartemennya dan melarikan diri lewat sana. Ia menjatuhkan diri dengan sengaja ke bak sampah yang ada di bawahnya persis saat pintu apartemennya berhasil didobrak oleh dua orang namja itu.

Dua orang namja itu melongok ke bawah jendela ketika melihat bayangan seseorang melompat dari sana. Dan saat mereka melongok, keduanya melihat Seunghyun sudah bangkit dan berlari menjauh.

Namja dengan luka di leher meninju kaca jendela kamar sampai pecah dan mengumpat, “Sial!”

***

Setahun kemudian…

“Tada~” Nyonya Kwon mendorong tubuh Sunye untuk keluar dari ruang fitting dan tersenyum pada Jiyong yang duduk di luar untuk menunggu. “Bagaimana, Jiyong? Sunye sangat cantik, bukan?”

Mata Jiyong berseri-seri melihat calon istrinya berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin yang cantik melekat pada tubuhnya. Sunye tampak tertunduk dengan raut lusuh. Nyonya Kwon memutar tubuh yeoja itu untuk menambah efek anggun dan wajah Jiyong semakin cerah. Ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Sunye, memandangi calon istrinya dari bawah ke atas dengan decak kagum.

“Kau benar-benar cantik, jagi,” ucap Jiyong memuji.

Sunye hanya tersenyum tipis. “Gomawo.”

Nyonya Kwon ikut tersenyum. “Selesai mencoba baju pernikahan kalian, kita akan langsung pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan. Aku sudah pernah berkunjung ke sana sebelumnya dan cincin-cincin di sana sangat bagus dan aku yakin kalian akan menyukainya.”

***

Sunye melongo seperti orang bodoh saat masuk ke dalam toko perhiasan itu. Ia ingat betul itu adalah toko perhiasan yang pernah ia kunjungi bersama Seunghyun. Sunye menatap wajah-wajah karyawan yang familiar dilihatnya saat setahun silam. Mereka masih bekerja di sana dengan seragam dan raut ramah mereka.

“Sunye, kemarilah!” Nyonya Kwon melambai pada Sunye yang masih berdiri di ambang pintu masuk toko dengan perasaan takjub.

Sunye segera menghampiri nyonya Kwon dan Jiyong yang sedang melihat-lihat cincin-cincin yang ada di balik kotak kaca. Sunye ikut menunduk untuk melihat-lihat cincin dan tidak tertarik pada satu cincin pun. Tidak ada cincin yang bisa menarik perhatiannya saat itu. Namun nyonya Kwon dengan semangat melihat-lihat cincin itu dan memilih beberapa ‘calon’ cincin pernikahan untuk mereka.

“Lihat ini,” kata nyonya Kwon sambil mengangkat salah satu sepasang cincin cantik ke hadapan Sunye. “Cantik, bukan? Cobalah.”

Nyonya Kwon meraih tangan Sunye dan hendak memasangkan cincin itu ke lingkaran jari manis Sunye. Tapi Sunye buru-buru menarik tangannya saat baru saja menyadari bahwa cincin yang diberikan Seunghyun masih melingkar di sana. Dengan panik, ia menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya.

“Sunye, ada apa?” tanya nyonya Kwon dengan raut bingung.

Mianhae, aku ingin pergi ke toilet sebentar,” kata Sunye, gugup. “Tidak apa-apa, kan?”

Nyonya Kwon melirik Jiyong, namun namja itu hanya angkat bahu. Akhirnya, setelah mendapat anggukan setuju dari kedua orang itu, Sunye segera melarikan diri ke luar toko. Ia bisa bernapas lega sekarang, namun waktunya tidak cukup lama. Sunye menarik cincin itu dengan sekuat tenaga agar bisa keluar dari jari manisnya, tapi selalu sia-sia. Ia terengah-engah karena kesakitan dan juga lelah, lalu kembali mencoba mengeluarkan cincin itu dari jemarinya.

“Kau masih mencoba untuk mengeluarkan cincin itu hingga sekarang?”

Sunye merinding. Ia memberanikan diri untuk mendongak saat mendengar suara berat itu, dan seperti dugaannya, ia mendapati Seunghyun berdiri di hadapannya. Jarak mereka tidak lebih dari 5 kaki. Sunye mengamati wajah Seunghyun dan merasakan perbedaan yang berarti saat terakhir kali ia melihat wajah namja itu. Sosok Seunghyun kini terlihat lebih hangat dengan potongan rambut yang rapi serta berpakaian casual. Dan seperti kesan pertamanya pada Seunghyun, mata itu selalu berhasil menghipnotisnya dengan mudah.

Seunghyun mengulum senyum, meraih tangan Sunye, dan mengusap jari manis Sunye—di mana cincin yang diberikannya berada. “Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa cincin ini tidak bisa dilepas?”

Sunye memalingkan wajah dan menarik tangannya. Seunghyun menyadari bahwa sepertinya Sunye masih belum bisa memaafkan dirinya dan ia sendiri bahkan masih belum bisa melupakan yeoja itu. Namun, ia memberanikan diri untuk kembali muncul di hadapan Sunye dengan harapan bahwa Sunye masih mau memberi secercah harapan untuk hubungan mereka.

Seunghyun mendesah. Ia mengulurkan tangan dan mengusap pipi Sunye. “Kau masih marah padaku? Kau masih membenciku?”

Sunye meringis, lalu menepis tangan Seunghyun dengan kasar. “Aku pikir kau mendengarkan perkataanku saat kita terakhir kali bertemu. Aku bilang, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

Waeyo?” tanya Seunghyun dengan nada putus asa. “Karena aku.. pembunuh dan penipu?”

Sunye tertunduk. Mengingat dua status itu melekat pada sosok Seunghyun membuat hatinya kembali hancur. Ia menekan pelipisnya dengan tangannya yang gemetar, lalu mulai terisak. “Kau lebih dari itu, Seunghyun!” jerit Sunye, putus asa. “Kau adalah monster dan aku tidak mau berurusan denganmu lagi, jadi mohon, tinggalkan aku sekarang!”

“Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu, Sunye,” ringis Seunghyun sembari menangkap tangan Sunye. “Aku sangat mencintaimu. Dan yang perlu kau tahu, aku bukan lagi Seunghyun yang dulu kau kenal. Aku sudah berbeda dan aku sudah tidak lagi melakukan kejahatan apapun sekarang.”

“Lepaskan!” Sunye menepis tangan Seunghyun sekali lagi dan mengusap air matanya. “Penipu tetap saja penipu di mataku. Dan pembunuh tetap saja pembunuh. Aku tidak akan percaya dengan omonganmu lagi, jadi tinggalkan aku sekarang!”

Sunye berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Seunghyun dengan berlinang air mata. Ia mulai tidak tahan harus terus-menerus berhadapan dengan Seunghyun. Ia takut, ia akan kembali jatuh cinta pada sosok yang seharusnya dibenci itu, maka ia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan nyonya Kwon dan Jiyong yang masih berada di toko perhiasan begitu saja.

Seunghyun mengawasi kepergian Sunye dengan setengah hati. Ia mengikuti yeoja itu dari belakang dan terus mencoba mencari titik harapan itu pada Sunye.

“Sunye, kau harus mendengarku!” teriak Seunghyun, sembari berlari kecil, terus mengekor pada Sunye. “Aku bukan lagi monster yang seperti yang kau kenal! Aku sudah berubah! Aku mohon, percayalah padaku!”

“Pergilah!” Sunye balas berteriak dengan suara parau. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Jiyong, jadi tinggalkan aku!”

Seunghyun menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Kau tidak bisa menikah dengan Jiyong, Sunye! Ia sudah mencampakkanmu saat bersama Park Bom!”

Sunye tidak lagi menyahut dan mempercepat langkah kakinya menuju halte bus. Sesampainya di sana, ia segera menaiki bus dan meninggalkan Seunghyun. Dilihatnya Seunghyun mulai berlari mengejarnya, namun bus mulai berjalan pelan meninggalkan halte. Seunghyun sepertinya tidak juga patah arang dan terus mengejar, berlari sekuat tenaga. Sunye menoleh pada jendela bus dan melihat Seunghyun berlari di sisi bus dengan terengah-engah.

“Sunye! Aku mencintaimu! Aku bukan lagi orang jahat seperti yang kau kenal! Aku sudah berubah! Kau harus percaya padaku! Aku mohon!” teriak Seunghyun.

Sunye menggigit bibirnya dan mulai merasa tidak tega. Tapi ia terus menguatkan hati agar tidak merasa iba pada Seunghyun. Sementara itu, dilihatnya Seunghyun terus berlari mengejar bus, dan akhirnya jatuh ke jalan karena lelah. Sunye terlonjak dari duduknya, merasa khawatir, lalu menoleh ke belakang. Ia melihat Seunghyun terduduk di atas aspal dengan napas terengah. Selanjutnya, ia melihat dua orang namja yang memakai setelah serba hitam menghampiri Seunghyun dan mulai memukulinya dengan tiba-tiba.

“Seunghyun!”

***

“Mau apa kalian?!” pekik Seunghyun saat dua orang namja yang pernah dilihatnya setahun silam—yang mendobrak pintu apartemennya—menghampirinya di jalan.

Salah seorang dari mereka—dengan luka di leher—menerjang Seunghyun dengan sepatunya yang besar tepat ke ulu hati Seunghyun. Sementara yang lain, mulai memukuli rahang Seunghyun hingga Seunghyun mulai kehilangan penglihatan akibat berfokus pada rasa sakit yang menerjang perut dan rahangnya. Ia jatuh terkapar di atas aspal, sementara sepatu besar namja suruhan Park Bom itu menekan wajah Seunghyun ke aspal.

“Park Bom mengatakan bahwa polisi terlalu idiot untuk bisa menangkap namja cerdas sepertimu, tapi ternyata,” namja itu terbahak, lalu meludah ke wajah Seunghyun. “Kau juga sama idiotnya dengan polisi. Kau pikir kami tidak bisa melacakmu, huh?”

Seunghyun meringis kesakitan saat sepatu itu mulai menginjak wajahnya lebih keras. “Ampuni aku! Aku mohon!”

Kedua namja itu terbahak lagi, lalu memandang rendah pada Seunghyun. “Memohonlah untuk mati!”

Namja dengan luka di leher menarik kerah baju Seunghyun dan memberi kode pada rekannya untuk melaksanakan tugasnya. Namja itu mengangguk pada rekannya, lalu mengambil sebuah batang kayu di pinggir jalan. Ia melayangkan kayu itu ke udara, sementara Seunghyun mulai kehilangan kesadaran. Ia tidak mampu lagi untuk melihat dengan jelas dan hanya bisa diam saat namja itu menghantamkan kayu itu ke bagian belakang kepalanya.

Satu bunyi keras yang berdebam dan Seunghyun merasakan kesakitan tiada tara pada tengkorak kepalanya. Ia pusing dan tiba-tiba merasa mual. Namja yang menarik kerahnya membiarkan Seunghyun jatuh ke aspal dengan darah merembes dari kepalanya, lalu segera menarik rekannya untuk melarikan diri, saat melihat Sunye berlari dari kejauhan menghampiri mereka.

Sunye berlari sekuat tenaga, menghampiri Seunghyun dan menangis dengan terisak saat melihat darah dari kepala Seunghyun menggenang di dekat kakinya. Ia jatuh ke atas aspal dan mengangkat kepala Seunghyun ke atas pangkuannya. Mata Seunghyun terlihat redup, tapi Sunye tahu bahwa Seunghyun masih sadar dan bisa mendengarkannya.

“Ya Tuhan, mengapa hal ini bisa terjadi padamu?” ringis Sunye sambil mengusap pipi Seunghyun.

Seunghyun mengangkat sudut bibirnya dengan susah payah, menyimpulkan sebuah senyum tipis. “Kau masih peduli padaku?” tanyanya dengan terbata.

Tangan Sunye bergetar dan perutnya terasa mual karena mencium bau amis dari darah yang menggenang di telapak tangannya. “Lebih dari itu,” bisiknya lirih.

Kali ini Seunghyun tersenyum lebih lebar, walau matanya nyaris menutup. “Kau masih mencintaiku?”

Sunye mengangguk dan memaksakan senyum. Seunghyun mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Sunye. “Aku juga masih mencintaimu,” lirihnya, lalu jatuh pingsan tak sadarkan diri.

“Seunghyun!” Sunye menjerit panik sambil mengguncang tubuh namja itu dan memanggil namanya berulang-ulang kali, tapi Seunghyun tidak juga sadar.

Sunye mengamati sekelilingnya untuk meminta bantuan, tapi ia tidak melihat siapapun di sana. Jalanan terlalu sepi. Masih dengan menangis dan panik, Sunye akhirnya memutuskan untuk menggotong tubuh Seunghyun di pundaknya dan membawanya ke rumah sakit terdekat yang ia tahu. Tubuh Seunghyun yang dua kali lebih besar darinya membuat Sunye harus bersusah payah untuk menggotong tubuh namja itu dan membuat napasnya terengah-engah.

Setibanya di depan rumah sakit, beberapa perawat yang melihat Sunye dan Seunghyun langsung berlari menghampiri mereka sambil membawa ranjang beroda untuk merebahkan tubuh Seunghyun di sana. Perawat-perawat itu dengan sigap melarikan Seunghyun yang bersimbah darah ke ruang UGD, sementara Sunye jatuh terduduk di teras UGD dengan pernapasan kacau.

Sunye mengusap dadanya dan merasakan napasnya mulai menipis. Ia menarik napas dengan hitungan tak tentu dan menyadari bahwa asmanya kembali kambuh. Sunye merogoh-rogoh isi tasnya dengan panik dan kalut, tapi tidak menemukan inhalernya di mana-mana. Ia sudah pasti dengan ceroboh, lupa membawa inhalernya lagi.

Sunye terus mengusap dadanya dan menarik napas dengan terputus-putus. Paru-parunya terasa semakin menyempit dan seolah akan meledak beberapa saat lagi. Pandangan mata Sunye mulai memicing, ia merasa pusing dan terkapar di lantai teras tanpa ada satupun orang di sana. Suara tarikan napasnya terdengar menyedihkan. Dadanya naik turun dengan kacau dan itu menyiksanya dengan sangat.

Usapan Sunye pada dadanya semakin melemah. Matanya mulai terpejam dengan perlahan-lahan. Dadanya mulai naik turun dengan sangat pelan. Suara napasnya yang tertahan akhirnya berubah menjadi satu hembusan napas yang panjang diiringi mata yang terpejam rapat.

***

Seunghyun tersentak dari bangunnya dengan kepala diperban. Ia melemparkan pandangan ke sekelilingnya dan baru menyadari bahwa ia sedang berada di salah satu kamar rawat di rumah sakit. Dilihatnya seorang dokter dan perawat sedang berdiri di sisi ranjangnya.

“Bagaimana perasaan Anda? Sudah merasa lebih baik?” tanya dokter itu sambil tersenyum ramah.

Seunghyun mengerjap-ngerjapkan mata, mengusap perbannya, lalu teringat akan Sunye. Ia tahu Sunye tadi bersamanya, namun sekarang ia tidak bisa menemui Sunye di ruangan itu. “Di mana Sunye?”

Dokter dan perawat itu mengerutkan alis. “Sunye?”

Ne, seorang yeoja yang tadi bersamaku,” kata Seunghyun. “Di mana ia?”

Perawat itu menatap dokter dan sepertinya tahu sesuatu. Mereka saling berbisik dan akhirnya si perawat itu mengatakan sesuatu. “Jika Anda ingin melihat teman Anda, sebaiknya Anda ikut saya.”

Seunghyun mengangguk dan mengikuti langkah perawat itu. Entah kenapa, Seunghyun harus merasa gugup dan ketakutan saat ia melihat perawat itu membawanya ke sebuah ruangan dengan papan nama ‘Kamar Mayat’ di depannya. Tadinya, Seunghyun sempat mengira bahwa perawat itu mengalami gangguan jiwa atau semacamnya, tapi perawat itu benar-benar berhenti di depan kamar mayat itu.

Perawat itu mendorong pintu kamar mayat itu dan mempersilahkan Seunghyun untuk masuk bersamanya. Hawa dingin dan bau pekat yang menusuk hidung menyambut kehadiran Seunghyun di sana.

“Untuk apa kita berada di sini?” tanya Seunghyun dengan nada gugup.

Perawat itu tidak menyahut. Ia terus berjalan menuju salah satu ranjang beroda yang di atasnya berbaring seseorang dengan tubuhnya ditutup oleh kain putih. Seunghyun menatap sosok mayat yang masih belum diketahuinya itu dan merasa sedih tanpa sebab.

Perawat itu mengulurkan tangan dan menyentuh ujung kain di atas kepala mayat tersebut dan berujar, “Teman Anda tadi yang mengantarkan Anda ke sini, tuan Seunghyun. Anda bisa saja meninggal karena kehabisan darah jika ia tidak segera membawa Anda ke rumah sakit. Tapi..”

Seunghyun mengerutkan alis dan mengamati perubahan air wajah perawat itu yang mendadak sendu. “Tapi apa? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” desaknya.

Perawat itu hanya diam dan menarik kain putih itu. Tampak sosok Sunye terbujur kaku di sana. Wajahnya pucat dan matanya terpejam rapat. Mata Seunghyun membulat saat melihat pemandangan itu. Namja itu berteriak histeris dan jatuh bersimpuh di sisi ranjang. Seunghyun menangis sejadi-jadinya dan memeluk tubuh tak bernyawa itu.

“Ia mengalami sesak napas saat mengantarkan Anda ke rumah sakit. Dan begitu kami mencoba menyelamatkan nyawanya, ia ternyata sudah meninggal,” jelas perawat itu. “Kami sungguh menyesal dan turut berduka cita, tuan Seunghyun.”

***

Tiga tahun kemudian…

“Silahkan datang kembali,” seru Seunghyun pada seorang pelanggan.

Setelah mengantar pelanggan itu sampai ke depan pintu kafe, ia mendongak untuk melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Seunghyun melepas celemek hijau tua yang melekat pada tubuhnya dan menghampiri Daesung yang berdiri di belakang bar.

“Kau jaga kafe ini sebentar,” katanya pada Daesung. “Aku ingin pergi sebentar.”

Daesung mengangguk di balik bar, lalu Seunghyun beranjak keluar dari kafe. Seunghyun singgah ke salah satu toko bunga di pinggir jalan dan membeli dua tangkai bunga mawar putih. Seusai membeli bunga, ia menaiki bus dan turun di sebuah pemakaman sepi di pinggir kota Seoul. Ia menghampiri salah satu makam milik Sunye dan meletakkan bunga mawar itu di depan batu nisannya. Seunghyun bahkan mencabut rumput-rumput liar yang ada di sekitar makam itu dan mengecup puncak batu nisan itu.

Seunghyun mendesah dan memaksakan senyum. Ia mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya. Cincin yang pernah digunakan oleh Sunye, kini terlepas dari jari manisnya. Seunghyun menemukan cincin itu di lantai kamar mayat rumah sakit. Sungguh keajaiban, bagaimana Sunye berusaha sekuat mungkin untuk melepas cincin itu dari tangannya, namun ketika di rumah sakit, cincin itu terlepas dengan sendirinya, tanpa paksaan. Seunghyun menduga bahwa ini benar-benar kekuasaan Tuhan. Tuhan bisa melakukan apa saja, jika memang ia tidak menghendaki Sunye untuk bersama Seunghyun.

Walau merasa kecewa, Seunghyun tetap menyimpan ruang di hatinya untuk Sunye. Ia meletakkan cincin itu di atas batu nisan Sunye dan membisik, “Aku mencintaimu.”

THE END

***

NOTE:  Maaf kalau endingnya mengecewakan. Kalau boleh jujur, part terakhir ini saya kerjakan dengan tidak mood, so hasilnya pun jadi kurang memuaskan.

31 thoughts on “Monster (Part 7 – End)

  1. So sad T^T gak nyangka, kirain Seunghyun.
    Nasib Jiyong gimna pula… TOP fighting~
    Gak mood kok msh bsa bagus kyk bgni ya? Pokoknya DAEBAKK banget deh😀

  2. itu kenapa harus mati ?
    trus TOP ga dipenjara ? kok bisa ? bukannya polisi tetep cari ?
    kok sad ending sih ? author nya ga seru u.u

  3. ganyangka endingnya bakal jadi kayak gini. kirain sunye bakal jadi nikah sama jiyong atau balik sama seunghyun. eh taunya malah meninggal T_T hampir nangis pas baca endingnya. cerita nya ngena. keep writing ya thor!

  4. miiiin.. ini apanya yang ga mood… *mata becek udah karena air mata*
    seriusan sedih banget ceritanya. kalo di awal bilangnya ini dari lagu Monster-nya Bigbang ya dapet banget.. diakui *masih sesenggukan*
    unexpected ending.. sad romance.. aaa~ kenapa ga happy ending aja sih *rewelnya mulai keluar* seriusan sedih banget. ini sumpah drama banget min. pasti oke banget klu di-film-in.
    lagi dan lagi sebenernya ini sad drama gitu ya, tapi somehow author bisa membawakannya dengan oke. kayak udah profesional gitu. walau bikin galau reader-nya kayak gini..
    thumbs up deh buat author-nya :’) cerita keren.
    fin.

  5. Ya ampun thor……..q kra bkalan bahagia. Gk taunya si Sunye yg meninggal.
    Thor tega……. knapa critainnya si Sunye meninggal. Sequel dong jebal……
    See ya in the other ff

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s