[FF Freelance] Cinderella in Joseon (Prolog)

Author             : Iyane DongKyuChul

Main Cast       : Kim heechul and Han ji eun

Suport Cast     : crazy elf and super junior

Length             : Chapter

Rating               : 16+

Genre             : Mix (comedi, Romance, fighting, etc)

 

Mungkin cerita ini mirip dengan rooftop prince tapi aku membuatnya jauh sebelum film itu keluar. Dan aku sempat terkejut, jadi aku namain juga cerita ini dengan ‘rooftop prince 2’ otte? Hehhe.

Mungkin ada beberapa tokoh nanti yang muncul dan jangan terkejut (part 1 dan seterusnya), mohon di nikmati ceritanya –jangan di bashing orangnya. Dan bertanya padaku –kenapa harus dia? N bla bla. Karena semuanya sudah aku atur sedemikian rupa* cailaahh sombong amat bahasa saia **terlalu sadar diri Hhhh—,. tengKYU ya ^^

Hope enjoyed

****—–****

Apa kau percaya? Di dunia ini bukan hanya berisi manusia? Tidak, kami bukan alien seperti yang kalian pikirkan. Kami bertugas menciptakan kisah cinta pada manusia tapi tidak semua hanya yang terpilih yang dapat merasakan kisah yang kami buat. Banyak manusia menyebutkan cerita kami dengan dongeng. Mmm mungkin kau tau ini, mereka adalah karya terbaikku :

Cinderella…

Chan chun hyang dan myong ryong….

Dan terakhir lady Diana dan Charles, namun aku gagal menyatukan cinta mereka hingga akhir. Pihak ke tiga camellia, menghancurkan kisah cerita yang aku buat. Aku gagal dan di hukum beberapa tahun agar aku dapat menyelesaikan karya lagi dan di haruskan menjadi pengawas lagi.

Mungkin kau tak percaya ini , negeri kami di sebut negeri kayangan.

Bangsa yunani menyebut kami cupid tapi kami adalah ‘Peri cinta’

***

Han ji eun Pov

Aku menutup pelan laptopku.

“sohee lagi, Jessica lagi, apa tak ada berita lebih bagus? Aisy kenapa mereka selalu berkeliaran di samping dirinya?” ujarku pada diri sendiri atau pada setan jika ada yang dengar.

Tok tok tok

“ji eun-a, kemarikan baju-baju kotormu sayang, ajhumma akan mencucinya hari ini” suara oemmaku yang lembut di balik pintu kamarku.

“ne oemma” teriakku,

Aku melangkahkan kaki mengambil pakaian kotor yang sudah menumpuk seperti sampah di sudut kamar. Aku tak pernah mencucinya sendiri dengan tanganku, beberapa aku masukkan ke mesin cuci, jika ada yang harus di cuci menggunakan tangan ajhumma akan membantuku mencucinya atau aku akan membawanya ke dry cleaning.

Aku memilah baju-baju kotor. Astaga, sudah berapa lama aku tak mencuci? Kenapa sebanyak ini?. Kemudian aku menuju lemari guna melihat isinya, nyaris kosong. Hanya tersedia beberapa baju ketinggalan zaman. Bahkan aku tak melihat baju yang pantas lebih tepatnya tak bisa memilih, tak banyak pilihan, hanya satu pilihan untuk gaun pesta nanti malam. Syukurlah setidaknya gaun ini gaun yang paling cantik yang kumiliki. Gaun biru sapphire sepanjang lutut.

Aku menyerahkan baju-baju kotor dengan sedikit omelan dari oemma. Setelah oemma menyerahkan baju-bajuku pada ajhumma. Aku mengikutinya ke ruang keluaraga. Hingga akhirnya oemma duduk di sebuah sofa panjang berwarna coklat tua.

“oemma…” ucapku manja sembari tidur di pangkuannya.

“waeyo…, kali ini kau akan meminta apa lagi?, bulan lalu kau menghabiskan setengah lebih tabungan ayahmu hanya karena kau menginginkan gaun pesta biru sapphire”

Aku melihat oemma dengan wajah memelas “tiket konser” rengekku pelan dan manja

“andwe, oemma akan berhenti memanjakanmu kali ini!”

“OEMMA..” nadaku naik satu oktaf. Sejujurnya aku kesal, bukankah aku anak tunggal. Aku tau keluargaku tak sekaya seperti pemilik hotel-hotel mewah penghasil jutaan dolar perbulannya. Tapi aku juga bukan keluarga miskin yang harus makan mie ramen sekedar mengisi perut mereka. Aku kuliah di universitas seoul, terlalu banyak kaum elit. Dan aku hanya menyesuaikan diri. Apa itu juga salah? Sudah sepantasnya bukan, aku tak akan merendahkan diriku sendiri disana. TIDAK AKAN!.

Aku menghempaskan nafasku kesal. Lagi pula aku tak pernah meminta hal ini, yeah walaupun aku sering merengek. Anio tepatnya memaksa. Dan sekarang aku menginginkan tiket itu. Setidaknya baru kali kali ini aku merengek meminta tiket. Aku hanya ingin melihatnya perform secara langsung.

Aku tersenyum pada oemma. Senyum dengan eyes smile dan egyoeku “aku akan ke pesta malam ini oemma, oemma aku tak akan pulang jika kau tak menstransfernya” ancamku

Aku Cuma mulai muak membaca artikel-artikelnya saja. Super junior. Sekarang aku hanya ingin bertemu.

Aku selalu mendapatkan apa yang kumau, gaun biru sapphire itu termasuk tiket itu. Tiket yang seharusnya tak dijual lagi karena sold out. Dan kau tau aku akan mendapatkannya jika aku menghadiri pesta mewah itu. Bukankah aku cukup elegan dan cantik? Jadi kurasa aku pantas.

“oemma aku tak mau tau, kau harus menstransfer uang ke rekeningku oe?”aku bangkit dari dudukku, lalu menepuk rokku yang tak kotor.

Selesai sudah jurus rayuku yang terakhir dengan ‘merajuk’ kemudian aku melanjutkannya dengan jurus rayu terakhirku memeluknya manja, mengecup pipi kerutnya. Aku bergegas melangkah ke kamar mandi karena jurus rayuku ku kira cukup.

“sayang… berhentilah bersikap seperti itu. Restauran bubur kita mengalami beberapa masalah di beberapa cabang, butuh modal besar jika tak ingin…”

“tutup saja” potongku, seraya masuk ke kamar mandi.

“terserah kau saja, oemma tak kan peduli kali ini”.

***

Waktu sudah menunjukkan taringnya, langit menyibakkan kemerah-merahan. Sudah waktunya aku akan pergi tapi aku tak melihat oemma memegang ponsel atau keluar seharian ini artinya uang belum di transfer.

Aku menghampiri oemma akhirnya. Rasa kesalku membludak bagaikan bom yang akan meluncur.

“oemma apa kau tak menyayangiku? Bukankah satu atau dua resto yang bermasalah. Lalu kenapa harus mengorbankan kesenangan pribadiku?, apa semuanya lebih penting dari kebahagianku?” aku mendengus kesal.

“lalu aku mengatakan pada teman-temanku, mian aku tak bisa ikut kalian, satu dan dua restoku bermasalah, begitukah yang kau inginkan oemma?heh?” ujarku lagi

“oemma itu konyol, aku tak akan melakukan itu, menjatuhkan harga diriku. Bukankah aku mendapatkan apa yang ku mau selama ini? Dan sekarang demi harta kau tak menyayangiku” tandasku tajam. Aku berhasil wajah ommaku beralih menatapku dengan raut terkejut, aku yakin setelah ini aku pasti mendapatkan yang ku mau!

Plakkk

Aku memegang pipiku, dugaanku meleset. Air mataku mengalir pelan di pipiku, bukan karena sakit akan tamparan, tapi karena oemma yang selalu memanjakanku baru kali ini menamparku.

Aku melihat raut wajahnya yang menyesal . aku mengelus pipiku yang sakit dan basah…

“oemma, aku Cuma berharap padamu untuk menstransfer uang, tapi harta lebih penting bagimu dari pada kebahagianku, dari pada harga diriku” ucapku ketus dan dingin.

“sayang…” ucapnya lembut dengan nada penyesalan . aku tak peduli , aku masih marah.

“oemma dan appa tak pernah menyayangiku” air mataku mengalir lagi.

“Mianhae sayang….” Tuturnya lagi, tapi amarahku, rasa kecewaku lebih besar. Mataku menjerit marah ketika kulihat oemma mencoba meraih bahuku, ku tepis tangan yang berkerut itu. Aku mengambil tas tangan yang kuletakkan diatas meja, kemudian beranjak ke arah pintu keluar. Tak ku perdulikan oemma yang memanggilku, mencoba menahan kepergianku.

Saat tanganku akan menarik kenop pintu, aku mengingat satu hal. Ku hentikan langkah kakiku dan menghadapnya, wajah oemma masih tersirat kesedihan. Dan aku tak ingin peduli karena akupun lebih dari itu

“appa” kataku dengan suara parau karena isak tangis “appa bahkan lebih peduli pada resto-resto itu, sekarang oemma. Kalian tidak peduli padaku. Oemma kau tak perlu menungguku, karena kau lebih lebih menyayangi uangmu dari pada diriku”, sindirku tajam menyiratkan ancaman. Aku masih bersikeras mendapatkan apa yang aku mau. Dan aku ingin mendapatkan tiket itu.

Ku tutup pintu rumah dengan bantingan keras “AKU MEMBENCIMU”

***

aku duduk di sebuah café sedikit pojokan. Setengah delapan malam, berarti hampir setengah jam aku menangis. Mudah-mudahan tidak bengkak. Sekarang aku serasa menjadi orang yang sedang di campakkan. menyedihkan. Betapa tidak, seorang gadis bergaun biru sapphire, memilih duduk di pojokan sambil menangis.

Aku membuka peralatan make up ku yang aku bawa seadanya di dalam tas. Menyapu sedikit riasan diwajah agar tak terlihat sembab karna menangis, yah setidaknya wajah ini tak terlihat seperti orang yang di aniaya. Setelah selesai , aku mengutak atik tabletku memeriksa rekeningku lewat website bank. Mencoba berpikir oemma akan berubah pikiran.

“apa ini?, aisy!” pekikku tak percaya dengan yang kulihat, aku mencoba membukanya sekali lagi, memastikan aku hanya salah lihat. Tetap sama.

“hanya 50000 won?” aku menelan ludahku pahit.

“ oemma kau tak menyayangiku rupanya” gumamku antara sedih dan kesal.

Aku tak tau harus berbuat apalagi sekarang, bahkan isi dompetku hanya menyisakan recehan-recehan tak berarti setelah membayar tagihan makanku. Lalu bagaimana dengan tiket? Bagaimana dengan pesta?, aku benar-benar menyesal kabur tanpa membawa mobil.

Aku keluar dari café itu dengan tampang kesal. Malam ini aku akan gila. Sepertinya aku perlu bantuan malam ini, aku meraih ponselku. Memencet beberapa tombol sebelum tersambung dengan pemilik nomor.

“kau jemput aku sekarang juga di café heaven, aku hanya memberi waktumu 15 menit”

Tut tut tut, aku mematikan ponsel tanpa menunggu jawabannya. Aku tersenyum puas.

15 menit bahkan satu jam sudah berlalu tak ada tanda apapun bahwa teman-temanku akan bertindak baik. Aku semakin merasa tolol dengan hanya melihat mobil dan manusia yang bertebaran di jalan. Dan aku hanya terduduk bodoh di halte memperhatikan mereka. Benar- benar sial.

Dari halte ini cukup bisa ku perhatikan pemandangan bagaimana sebuah mobil berwarna silver dari kejauhan yang melaju kencang dari arah kiriku dan kemudian berputar arah, berbelok di kejauhan. Sungguh sangat jelas terlihat bagaimana mobil itu melejit melawan angin malam.

Hingga mataku terkunci pada sosok wanita yang membelakangiku, berdiri di sisi trotoar dengan pakaian yang kusebut ‘aneh’. Gaun putih dengan tempelan-tempelan renda pada bawahannya, sederhana tapi sangat tampak mewah dan elegan. Bahkan kau dapat merasakan bagaimana menawannya gaun itu walaupun hanya terlihat dari arah belakangnya saja.

Apakah kau tau dimana letak keanehannya?. Keanehannya terletak pada kedua sayap sisi kanan dan kiri yang melekat sempurna pada punggungnya. Sayap yang terdiri dari bulu-bulu ayam itu berwarna putih senada dengan gaun sepanjang tumit kaki atau kau menyebutnya long dress, seperti yang sering kau lihat di beberapa iklan atau serial drama atau mungkin pendeskripsian dongeng yang membohongi anak-anak kecil dengan cerita-cerita khayalan yang indah.

Sekali melihatnya saja aku yakin dan merasa dia berhasil merogoh kocek yang dalam hanya untuk disainer terkenal, hingga sayap itu tampak seperti asli. Apa dia akan ke pesta kostum?

Bibirku tertarik sempurna begitu saja. Baru beberapa saat memandanginya , aku mendengar suara bising. Mobil sport berwarna silver yang kulihat beberapa waktu lalu melaju dari arah kanan tanpa merubah alur laju dengan kecepatan tak begitu berubah dengan yang kulihat tadi. Dan wanita itu bahkan tak menoleh ke kiri kanan jalanan. Hanya berjalan lurus ke depan. Shit, apa yang ada dalam pikirannya?

Kakiku reflek berlari ke arahnya, aku mencengkram lengannya kuat menariknya ke sisi jalan, kami terjungkal jatuh pada trotoar di sisi jalan. Tubuhnya menimpa diriku, bahkan aku merasa terantuk kerasnya badan aspal. Cukup untuk menghasilkan sedikit benjolan, dan beberapa luka lecet pada siku lenganku. Aku mendorong tubuhnya kasar dari tubuhku.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN, APA KAU BODOH ATAU APA? APA KAU TAK PUNYA MATA SEHINGGA KAU TAK BISA MELIHAT DENGAN BAIK HAH??!” Bentakku Tajam.

Dia hanya diam menatapku tanpa sepatah katapun dengan sorotan mata dan rautan wajah yang aneh.

Aku balas memandanginya dengan tatapan angkuhku, tatapan yang biasa kuberikan jika aku tak begitu nyaman pada suatu kondisi.

“YA! APAKAH KAU BUTA ATAU TULI?, BAHKAN MOBIL SEBERISIK ITU SAJA KAU TAK DENGAR” cecarku lagi yang hanya di tanggapinya dengan kebisuan dan terus menatapku tanpa berkedip, membuatku jengkel dan frustasi.

“cih, bahkan kau tidak  mengucapkan kata terima kasih”  ujarku pasrah tak kunjung mendapat responnya.

Aku mendengus kesal “jika kau berniat bunuh diri, carilah tempat yang lebih bagus, jangan merepotkan orang lain, arasso??” sekarang aku mencoba mengingatkannya yang masih tanpa berkedip melihatku, lalu aku menjentil keningnya.

Bersama-sama dengan orang ini menambah rasa kesalku. Jalan satu-satunya hanyalah menjauh darinya, aku berjalan menjauhi orang bodoh ini yang terus melihatku tak bergerak seperti patung.

“apa kau bisa melihatku?”

Akh akhirnya ia bersuara juga, aku menghentikan langkahku, tanpa menoleh kepadanya “apa dia gila?” desisku tanpa menimbulkan suara.

Aku meneruskan langkahku, baru beberapa saat aku berjalan , aku merasa tak nyaman dengan langkahku sendiri. Aku menoleh, aisy wanita gila ini kenapa mengikutiku?

“Ya! Kenapa kau mengikutiku?!, dengar ya…”

“karena kau belum menjawab pertanyaanku” potongnya.

“aku menarik nafasku berat, hari ini aku cukup lelah “kau gila?, astaga, semua orang bisa melihatmu, kau puas?!”

“anio” ucapnya sembari menggeleng kepalanya ringan, dan berlari menyamai langkah kakiku “hanya kau” ucapnya kemudian.

Astaga apalagi ini “apa kau begitu terharu di tolong olehku?”

“apa karena kau melihatku, kau berpikir aku akan mati dan kau menolongku?” tanyanya lagi dengan tenang.

“SIAPA YANG MENOLONGMU HAH? AKU HANYA TAK SUKA DARAH. SEKARANG PERGILAH” tandasku. aku akan gila jika terus menjawab pertanyaan konyol itu.

“araso” ucapnya lembut kemudian, membuatku berdehem mengembalikan kondisi tenang pada diriku karena dirinya berhasil mengobrak abrik emosi.

“apa kau menyukai ibumu?”

Aku terhenyak dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. sekeliming bayangan pertengkaran tadi singgah di memori otakku seketika.

“aku membencinya” jawabku ketus, setelah terdiam beberapa saat untuk menjawab pertanyaannya.

“benarkah? Itu buruk”. Sergahnya. Aku tak peduli dengan komentarnya. Itu bukan urusannya lagi pula.

“tapi itu bagus” sambungnya lagi yang membuatku sesaat memandang wajah wanita ini. Apa dia benar-benar manusia? Jawabannya tak wajar. Oke ini bukan urusanku.

Aku kembali meneruskan langkahku yang terhenti karena dirinya.

“setidaknya itu tidak akan mempersulitmu nantinya. Hei apa kau menyukai Cinderella story?”

Huft aku kehilangan kesabaranku.

“ne, ne, ne, bahkan anak kecilpun menyukai cerita nan indah itu” jawabku ketus dan asal.

“chincayeo?, hahaha, apakah kau mau… anio, kau tau kau adalah pilihan yang tepat. Syukurlah kau menyukai cerita itu. Setidaknya kau akan merasa nyaman menyelesaikan tugasmu. Kau tau kenapa kau bisa melihatku?, karena itu ketetapan takdirmu. Mmm sebenarnya kau tak terlalu buruk, sehingga takdir harus memilihmu. Hahaha tentu saja kau akan baik-baik saja disana” ocehnya panjang lebar.

Aku mengerjab mataku pelan, menyentuh kepalaku yang terasa pusing dengan ucapan-ucapannya, menggelengnya pelan. Wanita ini benar-benar gila. Takdir? Tugas? Apa dia bermaksud membuatku sama dengannya?? – G.I.L.A-

“hahaha araso, araso, kau bingung?”

Dengan berani dia menyentuh kedua pundakku, seolah dia telah mengenal cukup lama diriku. Bukankah tadi dia berexpresi dingin, putus asa?, kemudian dia berubah menjadi ekspresi wartawan, kemudian dia berubah lagi layaknya orang gila lalu sekarang dia tertawa-tawa bodoh. Apa dia punya banyak ekspresi dalam satu waktu?

“berapa banyak ekspresi yang kau punya?, lalu siapa kau berani….”

“a….a…, ah, aku seorang peri” potongnya sembari menggerakkan sayap putih di belakangnya. Tubuhku terhenyak kebelakang tak percaya dengan pandanganku.

“P-PE RI?”

“ne, aku adalah peri. Hanya kau yang bisa melihatku, berarti kau lah orang yang terpilih itu. Kau tau? Aku ditugaskan mencari peran utama dalam dongeng ciptaanku. Cinderella story. Sudah seminggu lebih aku mencari keberadaanmu, padahal deadlinenya besok, tak ada waktu lagi” ucapnya dengan nada sedih

“peran utamanya sudah di tentukan dan hanya orang yang melihatku yang bisa mengalami kisah ini, sungguh susah mencarinya. Jika aku gagal menemukan orangnya itu berarti akhir karirku sebagai peri. Dan akhirnya aku bertemu denganmu, aku bisa merasakan keberadaan tokoh yang terpilih itu dan itu kau, tapi kau tak merasakan kehadiranku sama sekali di café tadi. Hingga aku putus asa dan aku mulai merasa ragu jika kau orangnya. Akhirnya aku keluar dari café berniat protes pada sunbae, tapi kau menyapaku dengan cara berbeda. Saat itu aku semakin yakin kau lah orangnya. Tentu saja aku mengurungkan niatku protes pada sunbae”

“alasan kenapa kau bisa terpilih menjadi tokoh terpilih, aku juga tak tau karena itu juga sebagian tugasmu jika kau berniat mencari tau. Takdir terpilih sudah di putuskan bahwa itu dirimu, bukankah takdir yang sudah di tetapkan depan mata harus segera di laksanakan?. Kau tak bisa menolak takdirmu ataupun berkata tidak. Karena kau tetap akan ikut, baik dengan cara lembut ataupun diseret paksa. Araso?!” kecamnya yang membuatku kaget tiba-tiba.

“tenang, aku akan menemanimu, kisahnya kali ini di zaman Joseon . kita akan kesana” ceritanya panjang.

Yeah aku mendengarnya dengan bagus, sepertinya dia pengarang yang hebat.

Plok plok plok aku menepuk tangan.

“ceritamu hebat” sindirku dengan wajah mencemooh.

Dia menatapku lagi – garang. Dia pikir aku bodoh, sayap itu bukankah punya pengait di belakang.

“SIAPA KAU YANG BERANI MENATAPKU SEPERTI ITU?, APA KAU LEBIH CANTIK, LEBIH HEBAT DARI KU? SEHINGGA KAU SELANCANG INI HEH?, KAU TAK MENGENAL HAN JI EUN?, CIH” balasku dengan tatapan tak kalah angkuh.

Tapi matanya mengerikan

“Kau…” tandasnya, berbicara menggunakan giginya dengan mata melotot sangar.

“jangan mengikutiku lagi, araso. Bukankah kau sudah puas, aku sudah mendengarkan cerita ciptaanmu” aku tersenyum sinis. Tanpa peduli bagaimana raut wajahnya lagi, aku berbalik badan dan melangkah menjauh dari sosoknya. aku harus kabur …

Ini sudah terlalu menakutkan.

“YA! KAU INGIN MATI ?! BERANI SEKALI KAU MEREMEHKANKU” teriaknya kejam dan mengerikan.

Aku menoleh ke sumber suara, mataku membulat tak percaya. Dia… dia terbang, kakinya tak lagi menginjak tanah, di udara ia mengeluarkan sebuah tongkat dan mengayunkannya menunjuk ke arahku.

Sinar tongkat itu menghunus tajam kearahku, sekalipun aku menghalanginya dengan menyilangkan tanganku di wajahku.

“MATI KAU …. !”

Criiiiiiinnnggggggggggg…….

TO BE Continue…..

 

thanks untuk waktu yang kalian berikan untuk membaca bacaan gak jelas ini.. ^^ Gomawo

6 thoughts on “[FF Freelance] Cinderella in Joseon (Prolog)

  1. Ada backsound ‘cringgg..’ nya..itu bunyi jam weker atau magic spell..? Haha *gapenting
    keep write thor 😉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s