Foolery [Part 4]

Main Cast :

  • Kim Taeyeon ‘SNSD’
  • Jang Wooyoung ‘2PM’

Support Cast :

  • Ham Eunjung ‘T-ara’

Genre : Romance

Rating : PG-15

Length : Chapter

Disclaimer :

Terinspirasi dari sebuah komik Korea *tapi aku sendiri lupa apa judulnya*

Credit poster : Altrisesilver

Previous Part : Part 1 | Part 2 | Part 3

***

Andwae!!” Taeyeon berteriak dengan cukup keras sambil berusaha meloloskan dirinya dari para siswa nakal yang kini tengah menganggunya. Ia berlari sejauh mungkin dan berharap menemukan seseorang yang dapt membantunya untuk meloloskan diri.

Jalan yang dilaluinya itu sangatlah sepi dan sangat jarang dilintasi oleh orang-orang. Para siswa itu terlihat tertawa dengan cukup puas sambil berjalan dengan santai untuk mengikuti Taeyeon. Mereka tidak berniat untuk mengejarnya karena mereka tau akan sangat sulit bagi Taeyeon untuk mencari pertolongan di jalan itu.

Langkah Taeyeon terhenti ketika secara tidak sengaja kepalanya terbentur ke dada bidang seorang namja. Ia segera mengangkat kepalanya untuk menatap orang yang ditabraknya dan berharap bahwa namja yang ditabraknya adalah orang yang baik dan mau menolongnya.

“Wooyoung,” seru Taeyeon dengan wajahnya yang masih pucat karena ketakutan. “Tolong aku,” lanjutnya sambil bersembunyi dibelakang punggung Wooyoung.

Para siswa yang mengejar Taeyeon semakin mendekatkan dirinya kepada Taeyeon dan Wooyoung. Salah seorang dari siswa tersebut menertawai Taeyeon sambil berkata “Noona, kau mencari perlindungan? Kami ada disini untuk melindungimu,”

Wooyoung yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi antara Taeyeon dengan para siswa ini, menolehkan kepalnya ke belakang bermaksud untuk meminta penjelasan Taeyeon. Tetapi saat ia melihat ke belakang, ia mendapati badan Taeyeon yang gemetaran. Taeyeon terlihat seperti orang yang sedang ketakutan.

Nuguya?” tanya Wooyoung kepada para siswa yang mencoba untuk mendekati  Taeyeon.

Hyung, kau tidak perlu untuk melindunginya. Apa kau ingin menikmatinya sendiri? Ayolah Hyung, kita nikmati bersama-sama,” kata salah seorang siswa itu lalu diikuti dengan suara tawa dari teman-temannya.

“Cuci otak mesum kalian itu,” kata Wooyoung lalu menarik tangan Taeyeon yang berada di belakangnya itu untuk mengikutinya.

Para siswa itu terlihat seakan tidak senang dengan perlakuan Wooyoung, salah seorang dari mereka berlari ke arah Taeyeon dan segera menarik tangannya dengan kasar.

“Wooyoung!” seru Taeyeon ketika tangannya sudah hampir terlepas dari genggaman Wooyoung.

Wooyoung segera menolehkan kepalanya dan mendapati tangan Taeyeon yang kini ditarik kasar oleh para siswa itu. “Ya, Lepaskan! Lepaskan dia ketika aku masih bertindak manusiawi,” kata Wooyoung dan kali ini ia kembali mempererat genggamannya pada telapak tangan Taeyeon sambil menepis tangan siswa yang menarik tangan Taeyeon itu.

Siswa-siswa itu terlihat tidak senang dengan perlakuan Wooyoung yang dengan seenak saja membawa Taeyeon menjauh dari mereka. Beberapa dari mereka mencoba untuk menarik tangan Taeyeon kembali sehingga membuat Wooyoung mulai merasa kesal dan dengan secepat kilat ia melayangkan tendangan kakinya pada pipi beberapa siswa itu lalu menarik tangan Taeyeon untuk ikut kabur bersamanya.

Siswa-siswa itu terlihat tidak terima dengan perlakuan Wooyoung, mereka mengambil beberapa batu kerikil dengan ukuran yang cukup besar yang ada di jalanan lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga sehingga tepat di kepala Wooyoung. Setelah mereka merasa cukup puas, mereka berlari dengan sekuat tenaga mereka untuk menjauh dari Wooyoung dan Taeyeon.

Langkah Wooyoung terhenti untuk beberapa saat ketika ia merasakan suatu benda keras seperti batu tepat mengenai belakang kepalanya. Ia melepaskan genggaman tangannya lalu memegang bagian belakang kepalanya dan meringis kesakitan.

“Wooyoung, gwaenchanayo?” tanya Taeyeon dengan panik ketika ia melihat bagian belakang kepalanya mulai mengucurkan darah segar.

Anni, gwaenchana. Neo, gwaenchanayo?” tanya Wooyoung dengan wajahnya mulai berubah menjadi pucat sambil terus memegangi bagian belakang kepalanya meskipun ia merasakan bagian belakang kepalanya mulai mengeluarkan darah segar.

Ne, gumawo. Tapi apa benar kau..” kata Taeyeon terhenti ketika tubuh Wooyoung tiba-tiba saja terjatuh ke bawah tanah.

“Wooyoung!” seru Taeyeon dengan mata yang berkaca-kaca sambil mencoba untuk memapah tubuh Wooyoung yang cukup berat sambil meneteskan air matanya “Wooyoung, bangun!” serunya sambil mengguncang tubuh Wooyoung.

Ia segera mengambil ponselnya dari dalam sakunya dan dengan tangannya yang masih bergetar entah karena masih merasa ketakutan dengan kejadian yang baru dialaminya atau melihat kepala Wooyoung yang mengucurkan banyak darah lalu menghubungi ambulance.

***

Tak berapa lama, ambulance datang ke tempat itu dan beberapa petugas keluar dari ambulance itu dengan membawa tandu lalu membantu Taeyeon untuk meletakkan tubuh Wooyoung ke atas tandu.

Taeyeon mengikuti mereka untuk masuk ke dalam ambulance dengan baju dan tangannya yang terkena bekas darah Wooyoung. Setelah ia naik ke atas, pintu ambulance pun tertutup.

***

Taeyeon menunggu di depan ruang ICU dengan tangan yang bergetar. Ia tidak berani untuk menghubungi siapapun saat itu termasuk eommanya. Karena ia takut eommanya pasti akan memarahinya karena telah menganggu pekerjaan eommanya.

1 jam kemudian,

Pintu ruang ICU mulai terbuka dan seorang dokter dengan pakaian operasi berjalan keluar dari ruangan itu. Dengan segera, Taeyeon berjalan menghampiri dokter itu dan bertanya seputar keadaan Wooyoung pada dokter itu “Apa dia baik-baik saja?”

Sebuah senyuman mulai mengembang dari bibir dokter itu untuk menenangkan Taeyeon “Ne, dia baik-baik saja, untung saja ia dibawa tepat pada waktunya. Bila tidak mungkin dia akan meninggal karena kehabisan darah.  Kami akan memindahkannya ke ruangan pasien sebentar lagi,” kata dokter itu sambil menepuk pundak Taeyeon lalu berjalan meninggalkannya.

***

Taeyeon menunggu Wooyoung yang masih belum sadar. Sepanjang hari itu, setelah ia pulang ke rumahnya untuk mengganti pakaian, ia segera beranjak menuju ke rumah sakit untuk menjaga Wooyoung.

Ia memangku dagunya sambil mengawasi bila tiba-tiba saja Wooyoung sadar. Lama ia mengamati wajah Wooyoung dan ia mulai tertarik untuk meletakkan telunjuk tangannya untuk menelusuri setiap lekuk wajah Wooyoung. Ketika telunjuknya berhenti tepat di atas bibir Wooyoung, ia mulai tersenyum-senyum sendiri apalagi ketika ia mulai mengingat kejadian di mana Wooyoung menciumnya waktu itu.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Wooyoung yang membuyarkan pikiran Taeyeon dan Taeyeon segera menjauhkan tangannya dari bibir Wooyoung dan dengan gerakan yang sedikit kikuk ia mengambil segelas air mineral yang ada di atas meja dan memberikannya pada Wooyoung.

“Kau sudah sadar?” tanya Taeyeon dan mencoba untuk bersikap sewajarnya.

Wooyoung meneguk air mineral itu lalu memberikannya pada Taeyeon, “Kau sendiri, apa kau baik-baik saja? Mereka tidak melakukan hal apapun padamu kan?” tanyanya tanpa menatap Taeyeon.

Ne, gumawo telah menolongku,” kata Taeyeon sambil menganggukkan kepalanya.

Wooyoung terlihat menghembuskan nafasnya dan berbalik menatap taeyeon dengan wajah yang cukup kesal. “Mengapa kau harus melewati jalan itu? dan mengapa kau mengubah dirimu menjadi seperti ini?” bentaknya pada Taeyeon.

Taeyeon menatap Wooyoung dengan aneh. Ini ada kejadian yang sangat langka yang bisa dialaminya, biasanya Wooyoung tidak akan bertanya padanya ataupun berbicara padanya kalau bukan karena Park Sonsaengnim yang selalu menyuruhnya untuk mencari Wooyoung.

“Apa kau perhatian padaku?” tanya Taeyeon dengan raut wajah yang terlihat cukup senang.

“Perhatian? Mwo? Seorang yeoja hampir dilecehkan oleh beberapa orang namja, dan sebagai seorang namja yang melihat kejadian itu tentu saja aku harus menolongnya. Bila hal itu terjadi pada orang lain, aku juga akan menolongnya,” kata Wooyoung tanpa menatap Taeyeon yang kini menunduk.

Sekali-kali Wooyoung mencoba untuk melirik ke arah Taeyeon sambil tersenyum melihatnya. Dalam hatinya ia cukup senang dan lega ketika mengetahui bahwa Taeyeon baik-baik saja.

***

Flashback

Seorang anak kecil berumur 12 tahun menangis di bawah sebuah pohon besar yang ada di taman yang biasanya merupakan tempat bermain Wooyoung yang juga pada saat itu berumur 12 tahun.

Wooyoung menatap gadis itu dari kejauhan lalu berjalan mendekatinya. Ia memetik setangkai bunga mawar yang ada di taman itu lalu memberikannya pada gadis kecil yang tengah menangis itu. “Untukmu,” katanya dan membuat gadis kecil itu mengangkat kepalanya untuk menatapnya.

“Mengapa kau menangis?” tanya Wooyoung dan mengambil posisi duduk tepat di sebelah gadis kecil itu.

“Semua teman-temanku menjauhiku karena sewaktu ujian aku tidak mau memberitahu mereka dan mereka juga mengatakanku si itik yang buruk rupa,” kata gadis kecil itu sambil sekali-kali mengusap air matanya yang mengalir dari sudut matanya.

“Mereka benar-benar jahat, itukan bukan salahmu. Uljima, kau akan seperti itik yang buruk rupa bila kau terus menangis,” kata Wooyoung lalu menjulurkan lidahnya keluar untuk mengejek gadis kecil itu.

Gadis kecil itu menghapus air matanya lalu memukul lengan Wooyoung dengan tenaganya yang tergolong lemah lalu tertawa melihat Wooyoung yang berpura-pura menahan sakit. “Kau tidak pandai berakting. Semua temanku pandai berakting, di depan guru mereka baik terhadapku, tetapi ketika tidak ada guru, mereka akan menjahiliku,” kata gadis kecil itu lalu memainkan setangkai mawar yang didapatnya tadi.

“Benarkah? Katakan kepadaku siapa mereka, aku akan menghukum mereka. Karena kau sering dijahili maka mulai hari ini aku akan melindungimu,” kata Wooyoung lalu bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang lalu memasang raut wajah yang sangat serius akan perkataannya.

“Kau tidak mengenal mereka, tapi benarkah kau akan melindungiku?” tanya gadis kecil itu dan ikut bangkit dari duduknya.

Geureom, aku orang yang tepat janji dan aku tidak akan pernah mengingkarinya,”

“Kalau begitu kita berjanji,” kata gadis kecil itu lalu mengeluarkan jari kelingkingnya.

Wooyoung melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik gadis kecil itu sambil tersenyum.

***

“Siapa namamu?” tanya Wooyoung.

“Taeyeon imnida. Namamu?” gadis kecil itu kembali mengajukan pertanyaan kepada Wooyoung.

“Aku.. Tidak akan memberitahumu,” kata Wooyoung dan menjulurkan lidahnya keluar dan berlari pergi meninggalkan gadis itu.

“Kau kembali, kalau kau tidak memberitahu namamu berarti kau seorang pembual yang hebat,” seru Taeyeon dengan sekuat mungkin.

“Benarkah? Aku bukan pembual hebat, hanya saja aku pahlawan yang akan melindungimu tanpa memberitahukan namaku,” balas Wooyoung dari kejauhan.

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” tanya Taeyeon dengan melipatkan kedua tangannya.

“Bukankah kita sudah berjanji? Kali ini aku harus pergi, eommaku menungguku di rumah,” balas Wooyoung dan kali ini ia berlari sekuat tenaganya untuk menjauh dari gadis kecil itu.

Flashback End

***

“Apa ada hal yang lucu yang membuatmu tersenyum?” tanya Taeyeon ketika ia melihat Wooyoung terus tersenyum-senyum sendiri.

Wooyoung tersadar dari lamunannya lalu dengan segera mungkin ia memasang raut wajah yang datar dan hal ini membuat Taeyeon menatap Wooyoung dengan aneh.

“Apakah kau bercita-cita menjadi pemain film? Raut wajahmu sangat mudah berubah,”

“Kau sudah boleh pulang, aku bisa mengurus diriku sendiri,” kata Wooyoung dengan menatap Taeyeon sekilas lalu kemudian kembali membuang mukanya.

“Baiklah, sekali lagi gumawo. Jangan lupa untuk minum obat yang ada di atas meja,” kata Taeyeon lalu mengambil tas sekolahnya yang ia letakkan di atas meja dan kemudian membungkuk memberi hormat pada Wooyoung.

“Jangan melewati jalan itu lagi, lewatilah jalan yang ramai,” kata Wooyoung dan membuat Taeyeon mengangguk tanda setuju lalu berjalan keluar dari kamar Wooyoung dengan tersenyum.

Taeyeon merasa Wooyoung sangat memperhatikannya saat ini meskipun ia tahu bahwa ini semua hanyalah perasaannya. Tetapi dengan hanya begitu, ia sudah cukup merasa senang.

***

Eunjung berlari menelusuri koridor rumah sakit dengan raut wajah yang cukup panik. Ketika ia sampai di kamar Wooyoung, tanpa minta izin terlebih dahulu, ia membuka pintunya dan masuk ke dalam.

“Apa ada yang ketinggalan?” tanya Wooyoung tanpa menatap siapa orang yang yang masuk ke dalam kamarnya karena ia mengira orang yang masuk itu adalah Taeyeon.

“Wooyoung, apa kau baik-baik saja?”  tanya Eunjung dengan panik sambil berjalan mendekati Wooyoung.

“Eunjung? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Wooyoung tanpa menatapnya sama sekali.

TBC…

AN  : Mian, ngepostnya kelamaan..

Habisnya akhir-akhir ini lagi sibuk,,

ehheh

Btw, sorry y kalau misalnya ceritanya gaje and masih ada typo nya..

At last, Don’t forget to leave your comment..

Thank you

67 thoughts on “Foolery [Part 4]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s