Hello Schoolgirl (Part 5)

Author: Tirzsa

Title: Hello Schoolgirl

Main cast: 2PM’s Nichkhun & Wonder Girls’s Sunmi

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari film Korea dengan judul yang sama & film Thailand “First Kiss.”

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

***

Nichkhun terbangun mendengar alarmnya berbunyi. Ia mengusap matanya yang bengkak, lalu beranjak duduk di tepi ranjang. Nichkhun mengusap wajahnya yang berminyak dan menatap sosok yeoja yang memunggunginya di sofa seberang. Sunmi masih tertidur di sana, dengan selimut jatuh ke lantai. Nichkhun menghampiri yeoja itu dan mengguncang lengannya.

Ya, ppali ireona! Kau masih harus pulang ke rumahmu dan ke sekolah!”

Sunmi hanya menggeram dan menepis tangan Nichkhun. Nichkhun mendesah dan mencoba lagi. Kali ini ia mengguncang lengan Sunmi lebih kencang, hingga membuat sofa ikut berguncang. “Ya, ireona!”

“Aish~” Sunmi mengerutkan alis, merasa kesal dengan guncangan tangan Nichkhun pada lengannya.

Nichkhun bertolak pinggang, merasa frustasi dengan Sunmi yang enggan bangun juga. Ia mengulurkan kedua tangannya dan menarik tangan Sunmi serta tubuhnya turun dari sofa. Dengan metodenya itu, Sunmi akhirnya membuka matanya dengan paksa. Yeoja itu tampak terkejut mendapati dirinya di lantai yang dingin. Ia mendongak menatap Nichkhun dan namja itu segera melepaskan kedua tangannya.

Ppali ireona!” tukas Nichkhun.

Sunmi merengut kesal dan bangkit berdiri. Ia menarik kelopak matanya ke atas, menunjukkannya di depan wajah Nichkhun dan berteriak kesal, “Aku sudah bangun! Lihat! Lihat!”

Nichkhun menarik wajahnya dan menutup hidung. “Napasmu bau sekali,” gerutunya.

Sunmi menarik diri dan terdiam. Ia menghembuskan napas ke telapak tangannya dan nyaris muntah mencium aroma tidak sedap itu.

“Dengarkan aku,” kata Nichkhun, mengalihkan Sunmi dari bau mulutnya yang menusuk. Nichkhun membungkuk kearahnya, tepat di depan wajahnya, membuat Sunmi merasa gugup. “Ketika kita keluar kamar nanti, kau harus berjanji untuk membantuku menghadapi aboji dan hyungku. Oh yah, terutama hyungku, karena ia sangat sulit untuk dibohongi,” lanjut Nichkhun dengan berbisik.

Sunmi mengangguk patuh. “Aku harus melakukan apa?”

“Bersikaplah seperti yang sudah kurencanakan tadi malam. Berpura-puralah umurmu 23 tahun dan berpura-puralah bahwa kau adalah yeojachinguku.”

Sunmi menarik kaki bajunya dan merasa pernapasannya mulai tidak normal ketika Nichkhun berbisik kearahnya. “Kenapa aku harus bersikap seperti itu?”

“Aish~ Tidak usah banyak bertanya dan lakukan saja yang kuperintahkan,” tukas Nichkhun. Ia menatap wajah Sunmi yang memerah dan bertanya, “Mengapa raut wajahmu seperti itu?”

Sunmi menutup hidung dan mulutnya, lalu bergumam, “Mulutmu bau sekali, ahjussi.”

Nichkhun merengut dan mendorong wajah Sunmi dengan kasar. “Dasar bocah tengik!”

 

***

“Apakah kau bisa mendengar sesuatu?” tanya tuan Horvejkul sembari menatap Nichan dengan harap-harap cemas.

Nichan—menempelkan telinganya ke pintu kamar Nichkhun—sedang berusaha untuk mendengarkan sesuatu dari dalam. Saat abojinya bertanya, Nichan menggeleng ragu. “Tadi aku mendengar suara, tapi tidak jelas,” bisiknya.

Mata tuan Horvejkul berubah menjadi sayu. “Kau yakin? Coba dengar lagi. Tidak mungkin mereka tidak melakukan sesuatu.”

Nichan mengangguk kearah abojinya dan mendengarkan suara-suara di dalam. Namun suara-suara itu terdengar seperti gumaman tidak jelas di telinganya. Pintu kamar itu meredam seluruh suara yang berasal dari dalam dan membuat Nichan semakin frustasi setiap kali ia mendengar suara, namun ia hanya bisa menangkap beberapa kata saja.

“Chan, apa kau mendengar sesuatu?” Tuan Horvejkul kembali mendesaknya.

“Aish~ Tunggu sebentar,” gerutu Nichan, kesal. Ia kembali berkonsentrasi dan menggumam pada abojinya, “Aku mendengar sesuatu.”

Tuan Horvejkul terlonjak. “Oh! Jeongmal? Apa itu? Apakah yeoja itu merintih?”

Nichan mengerutkan alis. “Ani, sepertinya.. itu suara langkah kaki,” ujarnya ragu.

Mwo? Langkah kaki?”

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Nichan dan tuan Horvejkul tersentak dan segera memperbaiki gestur tubuh mereka yang mencurigakan. Nichkhun dan Sunmi yang muncul di balik pintu itu mengerutkan alis melihat kedua orang itu berdiri di depan pintu kamar dengan lagak mencurigakan.

“Apa yang kalian lakukan di depan pintu kamarku?” tanya Nichkhun sambil bergantian menatap aboji dan hyungnya.

Nichan dan tuan Horvejkul saling bertukar pandang dan menggumam. Nichan tiba-tiba terbahak dengan canggung, lalu menunjuk pintu kamar Nichkhun. “Ah~ Aku tadi melihat ada debu di pintu kamarmu, maka dari itu aku berniat membersihkannya tadi dan kau tiba-tiba keluar dari sana.”

Nichkhun dan Sunmi mengerutkan alis, tak percaya, dan membuat tuan Horvejkul dan Nichan menelan ludah dengan gugup.

Tuan Horvejkul menyadari satu kejanggalan pagi itu. Sunmi sudah berpakaian rapi—pakaian yang tadi malam ia lihat, dikenakannya kembali pagi itu. “Kenapa Sunmi sudah rapi sepagi ini? Ini baru jam setengah tujuh pagi, bukan?” kata tuan Horvejkul sembari melirik jam dinding yang ada di ruang TV, memastikan bahwa dirinya sedang tidak salah duga.

Nichkhun melingkarkan lengannya di pundak Sunmi dan berkata, “Dia harus segera pergi sekarang, karena masih harus mencari kunci rumahnya yang hilang, bukan begitu, Sunmi?”

Sunmi mendongak untuk menatap Nichkhun, melihat namja itu mengangkat alisnya dua kali dan mengangguk kearah Nichan dan tuan Horvejkul dengan canggung. “N-ne, aku harus segera pulang untuk mencari kunci rumahku yang hilang.”

Tuan Horvejkul mendesah dengan kecewa, wajahnya berubah lusuh seperti seorang anak yang dilarang membuka kado Natal sampai pagi tiba. “Oh, jinjjayo? Itu artinya, kau tidak bisa mengantar kami ke bandara pukul delapan nanti?” tanyanya.

Sunmi mengangguk. “Sepertinya begitu,” sahutnya sedih.

Tuan Horvejkul dan Nichkhun mengantar Sunmi sampai di depan pintu dan melepas kepergian yeoja itu dengan dua perasaan yang berbeda. Tuan Horvejkul kecewa berat karena tidak bisa melihat calon ‘menantu’-nya mengantarnya sampai ke bandara, sementara Nichkhun merasakan kelegaan yang luar biasa seolah angin segar baru saja menghembus ke wajahnya setelah sekian lama ia terdesak dengan udara yang penuh oleh polusi di sekelilingnya.

Saat Sunmi melambai hangat kearah tuan Horvejkul dan menghilang ditelan lift, tuan Horvejkul tersenyum tipis, lalu menoleh pada Nichkhun. “Kapan kau akan melamarnya?”

N-ne?” Nichkhun menyahut dengan gagap. Ia menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk. “Mungkin.. secepatnya. Aku akan mengabari keluarga di Thailand jika aku dan Sunmi merasa sudah siap.”

Tuan Horvejkul menepuk pundak anaknya dan berkata sambil mengerlingkan sebelah matanya, “Sebaiknya kau segera melamarnya, sebelum ia dilamar oleh orang lain.”

Entah mengapa, Nichkhun merasakan nada peringatan yang berarti dari ucapan abojinya. Ada gejolak lain di dalam dadanya yang memaksa dirinya mengartikan ucapan abojinya menjadi sesuatu yang lain, namun dengan sirat yang sama.

***

Sunmi masuk ke kamarnya melalui jendela, tepat ketika bibi Lim sedang membersihkan kamarnya pagi itu. Bibi Lim terkejut melihat Sunmi yang merangkak dari kusen jendela dan terengah-engah.

“Ya Tuhan, Nona, Anda darimana saja? Mengapa tidak pulang? Nyonya sangat kuatir karena Anda tidak pulang,” ujar bibi Lim, sembari membantu Sunmi duduk di tepi ranjang.

Sunmi mengusap lututnya dan berkata, “Oemma kuatir? Apakah aku tidak salah dengar? Mungkin maksud bibi, oemma sangat marah. Aku tadinya ingin pulang saat malam kemarin, tapi kulihat oemma berdiri di ruang tamu dengan memegang rotan. Ia pasti akan memukul bokongku dengan alat itu.”

Bibi Lim mendesah, terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk dan membenarkan Sunmi. “Benar, nyonya memang sangat marah tadi malam. Dan aku diminta untuk menunggu Anda pulang saat ia hendak pergi ke kantor tadi pagi. Ia bahkan memintaku untuk menahan Anda dan Anda tidak diperbolehkan kemana-mana dulu hari ini sampai nyonya pulang dan bicara empat mata dengan Anda, Nona.”

Mwo?” Sunmi meringis. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana oemmanya akan mati-matian mengomelinya sepanjang malam, mengurangi uang jajannya, melarangnya untuk keluar bersama Jo Kwon dan Sohee selama sebulan dan larangan-larangan lainnya yang mungkin bisa membuat hidup Sunmi menderita selama sebulan atau bahkan lebih. “Aish~ Oetteohke?”

Bibi Lim menatap wajah Sunmi dan memegang erat tangan yeoja itu. Sementara itu Sunmi menatap alat pel yang disandarkan pada lemari bajunya dan berpikir keras. Ia merasa harus melakukan sesuatu sebelum gunung itu—oemmanya—meledak marah. Tapi pikirannya sedang tidak bisa berfokus. Maka ia memutuskan untuk memikirkan yang akan dilakukannya nanti untuk menghindari oemmanya nanti. Yang jelas, ia masih tetap harus pergi ke sekolah hari itu.

Sunmi membalikkan badan kearah bibi Lim dan berkata, “Bibi, selama ini, aku sudah menganggapmu sebagai bibiku sendiri dan aku mohon, kali ini kau harus membantuku untuk menghindar dari amukan oemma.”

Bibi Lim mengerutkan alis. “Tapi, bagaimana caranya, Nona?”

“Pagi ini aku masih harus tetap ke sekolah. Aku ingin meminta bantuan bibi untuk mengemas seluruh pakaianku ke dalam tas-tas travel yang ada di kamar belakang. Siang nanti, sepulang sekolah, aku akan mengambil tas-tas itu nanti.”

“Anda ingin pergi dari rumah, Nona?”

Sunmi mengangguk mantap. Bibi Lim mungkin sudah berpikir bahwa Sunmi gila, tapi Sunmi menunjukkan kemantapan hatinya dengan anggukan itu. “Minggu depan, di sekolahku akan ada pesta prom dan aku menjadi panitia. Aku yakin oemma akan melarangku untuk berpartisipasi atau bahkan melarangku menghadiri pesta prom itu. Pesta prom itu sangat berarti untukku, bibi, dan jika aku tidak hadir di sana, masa remajaku di bangku SMU terasa tidak lengkap. Jadi, kau mau membantuku, kan?”

Bibi Lim mendongak ke langit-langit kamar dan berpikir. Ia tampak ragu. Tidak pernah sekalipun—sejak ia menjadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Lee—ia membohongi nyonya Lee atau melakukan sesuatu yang curang di belakang yeoja yang sangat ia hormati tersebut. Tapi tatapan memelas dan putus asa Sunmi, serta kasih sayangnya pada remaja itu—yang sudah seperti keponakannya sendiri—membuat hatinya luluh.

Bibi Lim menunduk untuk menatap Sunmi dengan sepasang matanya yang teduh dan mengangguk pada Sunmi. “Aku akan membantumu, Nona.”

Sunmi menjerit girang dan memeluk bibi Lim dengan erat. “Jeongmal gomawo, bibi.”

Bibi Lim balas memeluk Sunmi. “Ne, cheonmaneyo, Nona. Tapi, Nona,” bibi Lim melepas pelukannya pada Sunmi dan melanjutkan, “Anda akan kabur kemana? Anda akan tinggal di mana?”

Sunmi tersenyum. “Aku sudah tahu di mana aku akan tinggal, tapi bibi harus mengatakan pada oemma bahwa aku menginap di rumah temanku. Dan tenang saja, aku akan kembali ke rumah begitu pesta prom di sekolahku telah selesai diselenggarakan.”

Bibi Lim mengangguk dan tersenyum. “Ne, Nona.”

***

Nichkhun berpelukan dengan canggung dengan abojinya, lalu berpelukan dengan erat dan akrab dengan Nichan. Keduanya mengusap dan menepuk punggung masing-masing, lalu melepas pelukan mereka dan bertukar senyum. Setelah berpelukan, Nichkhun mengusap kemejanya untuk merapikan kusutnya di beberapa bagian, karena setelah mengantar Nichan dan tuan Horvejkul, ia masih harus segera kembali ke kantor sebelum Park sajangnim menghukumnya dengan berkas-berkas lainnya hingga memaksanya harus bekerja lembur.

“Ingat, Khun,” tuan Horvejkul berujar. “Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa untuk merawat apartemen dan perhatikan pola makanmu. Arra?”

Nichkhun mengangguk dan tersenyum. “Aboji juga. Jaga kesehatanmu dan sampaikan salamku pada oemma dan keluarga di Thailand. Jika libur Natal nanti, aku akan pulang ke Thailand.”

Tuan Horvejkul bergantian mengangguk. Nichan kali ini menggeser posisi abojinya dengan pelan dan berhadapan dengan dongsaengnya itu. “Khun, kau tahu kita ini adalah kakak adik dan bagaimanapun firasat seorang kakak akan begitu kuat pada adiknya.”

Nichkhun mengernnyitkan hidungnya, berusaha mencerna perkataan Nichan yang membingungkan. Ia mencoba menangkap maksud ucapan Nichan, tapi tidak mendapatkan sesuatu. Tawa Nichan meledak dan ia menepuk pundak adiknya berulang-ulang kali, lalu membisikkan sesuatu dengan gerakan bibir yang jelas.

Aku tahu Sunmi itu bukan yeojachingumu, kan? Kau hanya sedang berusaha menghindari desakan aboji yang terus-menerus memintamu segera menikah.”

Mata Nichkhun membulat. Ia melirik abojinya yang sedang sibuk mengatur tas-tas travel itu dan balas berbisik, “Aku mohon, Chan, jangan beritahu aboji soal itu atau ia akan membunuhku. Tolong jaga rahasia ini!

Nichan mengangguk dan tersenyum. “Tentu saja, Khun. Rahasia antara kakak dan adik tetap akan menjadi rahasia mereka berdua. Aku janji.”

Nichkhun tersenyum puas, merasa bersyukur memiliki kakak seperti Nichan. Setelah percakapan rahasia itu telah disepakati, Nichan dan tuan Horvejkul menarik tas-tas travel itu bersama mereka, melambai hangat kearah Nichkhun dan menghilang di balik keramaian orang di bandara.

***

Sohee memangku dagu sembari menatap Kim seosaengnim yang sedang menjelaskan aljabar dan persamaan linier di depan kelas. Matematika adalah pelajaran yang paling membosankan dan Sohee pikir, seharusnya sekolahnya mencari guru yang lebih baik dari Kim seosaengnim yang tampak sangat serius, sehingga matematika semakin terasa menjemukan. Sohee melirik beberapa orang temannya di kelas, mendapati beberapa orang juga melakukan hal yang sama dengannya—memangku dagu—tanpa benar-benar sedang menghayati pelajaran itu.

Sohee melirik ke sebelahnya, mendapati teman sebangkunya—Sunmi—mengatasi rasa bosannya dengan menggambar sesuatu di halaman depan buku pelajarannya. Sohee menjulurkan kepalanya untuk dapat melihat dengan jelas gambar Sunmi karena terhalang oleh cover buku itu sendiri. Sohee melihat Sunmi menggambar wajah seorang namja yang sedang tertidur dengan efek-efek dramatis yang sengaja di tambahkan oleh Sunmi agar wajah namja itu terlihat lebih tampan.

Sohee segera menoleh ke depan ketika mendengar Kim seosaengnim berdeham. Biasanya, Kim seosaengnim melakukan metode itu untuk menegur siswa-siswinya jika ada salah seorang dari mereka atau bahkan lebih, sedang tidak memerhatikan pelajarannya. Sohee menatap Kim seosaengnim dengan canggung dan melihat sepasang mata sinis di balik kacamata tebal namja paruh baya itu sedang menyorot pada sosok di sebelahnya.

Sohee menyikut lengan Sunmi dengan pelan dan menggumam, “Sunmi-ah, berbaliklah ke depan dan berhenti menggambar!”

Sunmi hanya menggeram kesal dan tetap melanjutkan kegiatannya. Ia terus menggambar dengan pulpen hitamnya, menebalkan beberapa garis wajah namja itu yang ia rasa perlu ditebalkan dan tersenyum-senyum sendiri. Kim seosaengnim berdeham sekali lagi dan seisi kelas mulai menyadari ada yang salah. Sohee menyikut lengan Sunmi sekali lagi, lebih keras, hingga tak sengaja Sunmi mengacaukan gambarnya sendiri. Kini wajah namja itu rusak akibat satu garis panjang yang melintas dari rambut hingga telinganya.

“Sohee-ah, mwohaneungoya?” pekik Sunmi kesal.

Seisi kelas menoleh pada Sunmi, menodong yeoja itu dengan tatapan risih. Sunmi menyadari bahwa suaranya terdengar terlalu keras di ruangan sehening itu dan ia mulai menyadari tatapan risih teman-temannya. Ia meringis dan tertunduk malu. Kim seosaengnim berjalan menghampiri bangku Sunmi dengan mistar panjang di tangannya.

Sohee mendelik kearah Sunmi dan berbisik, “Sunmi-ah, Kim seosaengnim sedang kemari! Cepat sembunyikan bukumu di bawah meja!”

Sunmi mengangguk dengan panik dan meraih bukunya di atas meja. Melihat gerak Sunmi, Kim seosaengnim mencium bau tidak menyenangkan itu dengan curiga, lalu bergerak cepat menuju bangku itu sebelum Sunmi berhasil menyembunyikan rahasianya. Kim seosaengnim melabrak meja Sunmi dengan mistarnya, membuat Sunmi bergetar dan tidak sengaja menjatuhkan buku itu ke lantai. Kim seosaengnim tersenyum seperti ibu tiri dan membungkuk untuk mengambil buku itu.

Sunmi menggigit kuku jarinya dan berkata dengan suara pelan, “Hm, seosaengnim, itu—”

Kim seosaengnim membuka covernya dan mendapati wajah seorang namja yang rusak karena satu garis panjang itu. “Siapa namja ini? Kau menggambar wajah namja ini selama aku menjelaskan di depan, Lee Sunmi?”

Sunmi meringis, menyesali kebodohannya. “Mianhae, seosaengnim,” katanya sambil tertunduk.

Kim seosaengnim menghela napas dengan tidak senang. Ia membanting buku itu ke atas meja dan membentak, “Neo! Berdiri di lapangan sekarang juga!”

***

Seungri melintas di koridor dan melihat beberapa siswa-siswi berkumpul di pinggir lapangan sambil terkikik-kikik geli. Ia segera menghampiri kerumunan itu dan menyisipkan diri di antara mereka untuk dapat mencapai posisi paling depan. Seungri terkejut saat melihat Sunmi berdiri di tengah lapangan dengan sebuah papan di atas dadanya dengan tulisan besar, “Aku dihukum karena menggambar wajah seorang namja saat pelajaran sedang berlangsung.

Seungri melihat wajah Sunmi bersemu merah dan yeoja itu berusaha untuk menyembunyikan wajah itu di balik tundukan dalam. Saat semua orang mulai bosan dengan pemandangan itu, Seungri mendekati Sunmi dan berdiri di depan yeoja itu dengan perasaan aneh, seolah ia tidak mengenal Sunmi lagi. Dulu, Seungri mengenal reaksi Sunmi yang akan tersenyum bodoh kearahnya setiap kali namja itu mendekat kearahnya, tapi Sunmi tidak melakukannya saat itu. Yeoja itu hanya terus tertunduk dan Seungri yakin betul bahwa Sunmi menyadari kehadirannya di sana, namun Sunmi sedang mencoba menghindar.

“Wajah siapa yang sebenarnya kau gambar?” tanya Seungri, sambil tersenyum.

Sunmi mendongak sekilas, melempar sorot sinis dan tertunduk kembali. “Sudah pasti bukan wajahmu,” desisnya.

Seungri merasakan perutnya mual mendapat sambutan tidak hangat itu. Ia baru sadar bahwa hubungannya dengan Sunmi memang sedang tidak baik. Namun, desisan Sunmi seolah menjatuhkan harga dirinya di bawah kaki yeoja itu. Sangat rendah. Seungri ikut memasang raut dingin dan berkata, “Aku meneleponmu kemarin dan mendengar seorang namja yang mengangkat teleponmu. Kau bermain di belakangku, bukan?”

Sunmi mendongak, menatap Seungri tak percaya dan tertawa histeris. “Mworago? Apa aku sedang tidak salah dengar? Bukankah kau yang bermain di belakangku? Kau pikir, aku tidak melihatmu berciuman dengan Jiyeon di ruang seni, bajingan?”

Seperti yang sudah bisa diduga, wajah Seungri memucat. Namja itu melangkah mundur tanpa bisa berkata apa-apa. Dan saat itu juga, Seungri tiba-tiba membalikkan badan berjalan dengan cepat meninggalkan Sunmi seperti seorang pencuri yang tertangkap basah. Sunmi tersenyum penuh kemenangan, merasakan kelegaan yang luar biasa pada tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kebahagiaan setelah perpisahan tidak menyenangkannya dengan Seungri. Ia merasa puas dan menang.

***

Siang itu, Junsu dan Nichkhun mencoba mencari suasana berbeda dengan makan siang di restoran terdekat di kantor mereka. Keduanya duduk berhadapan sambil menunggu makanan mereka tiba. Dua gelas cangkir kopi hitam pekat berada di hadapan mereka masing-masing, menunggu untuk diminum. Nichkhun meniup kepulan asap dari atas cangkirnya dan asap itu naik ke udara dan menguap.

“Aku tidak mengerti,” ujar Junsu tiba-tiba.

Nichkhun mendongak. “Soal apa?”

Junsu mendesah. “Soal kau.”

Nichkhun mengerutkan alis, menarik tubuhnya dan menatap Junsu. “Ada apa denganku?”

“Kau meninggalkan Yuri seorang di restoran saat kalian makan siang bersama, ia mengatakan hal itu padaku,” kata Junsu dengan nada tidak senang.

Nichkhun menatap tepi cangkir kopinya dan merengut. Ia mulai merasa kesal dengan semua itu dan juga membuat ketertarikannya pada Yuri semakin berkurang—walau sebenarnya dari awal ia memang tidak pernah tertarik pada yeoja itu. “Apa ia adalah anakmu? Mengapa ia harus selalu mengadu padamu seolah kau ini adalah oemmanya?” gerutunya.

Junsu mencondongkan tubuhnya, sampai dasinya nyaris masuk ke dalam cangkir kopi. “Apa kau tidak bisa mengerti perasaan seorang yeoja? Ia begitu menyukaimu, Khun, tapi kau bersikap dingin padanya. Jika kau memang tidak menyukainya, seharusnya kau langsung mengatakannya saja padaku hingga aku tidak perlu ikut merasa bersalah pada Yuri karena sudah mengenalkannya padamu.”

Nichkhun menempelkan telapak tangannya ke atas meja. “Aku tidak cukup tega untuk menyakiti perasaannya, Junsu!”

Junsu menarik tubuhnya dan bersandar pada kursinya. Ia menghela napas panjang. “Jika kau tidak cukup tega, kalau begitu biar aku saja yang mengatakan padanya bahwa kau tidak tertarik padanya.”

Nichkhun mengangkat kedua bahunya dan berkata, “Terserah kau saja.”

Junsu mengalihkan pandangannya ke luar jendela restoran dan melihat beberapa remaja SMU sedang berdiri di seberang jalan sambil terkikik. Masing-masing dari mereka sedang memegang gelas plastik dengan sedotan berisi cairan berwarna cokelat gelap yang sepertinya adalah coke. Junsu beralih menatap kaki remaja SMU itu dan tiba-tiba matanya membulat, ia terlonjak dari kursinya—nyaris jatuh—saat angin bertiup kencang dan meniup rok remaja-remaja itu hingga ke atas.

Nichkhun menoleh kearah Junsu dan melihat namja itu tersenyum-senyum sendiri. “Ya, apa yang kau lihat?”

“Khun, lihat!” Junsu menuding remaja-remaja SMU itu yang menjerit-jerit di seberang jalan sambil memegangi ujung rok mereka yang berada di atas lutut untuk menahan halau angin. “Aku sepertinya akan sering-sering datang ke restoran ini untuk melihat pemandangan istimewa ini,” lanjutnya sambil terbahak.

Nichkhun menatap remaja-remaja itu tanpa minat. Ia lalu menunduk dan mulai menyesap kopinya dalam diam. Dan saat makanan mereka datang, Junsu terus membahas soal warna pakaian dalam remaja-remaja SMU itu dengan bersemangat, membuat Nichkhun mulai kehilangan selera makan. Ia tidak menghabiskan makanannya dan mendadak tidak lagi merasa lapar karena telah duluan diisi oleh kekuatiran yang membingungkan.

***

Nichkhun sedang duduk di depan TV, menonton berita tanpa suara. Ia menatap pembaca berita—seorang namja dengan rambut disisir rapi, mengenakan setelan jas, dan sangat tampan—menggerak-gerakkan bibirnya tanpa suara. Nichkhun bermain di keheningan itu, mencoba menebak kata-kata yang diucapkan si pembaca berita hanya dengan membaca gerak bibirnya. Tepat pada saat itu, ia mendengar pintu apartemennya diketuk.

Nichkhun mendesah, merasa terganggu, namun tetap membuka pintu. Ia terkejut saat melihat Sunmi berdiri di depan pintunya, masih mengenakan seragam sekolah, tersenyum lebar, dengan membawa beberapa tas travel bersamanya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Dan mengapa membawa tas-tas itu?”

“Aku ingin tinggal bersamamu,” ujar Sunmi.

Mwo?” Nichkhun memekik. “Kau kan punya rumah, mengapa harus tinggal di apartemenku?”

“Aku tidak bisa tinggal di rumahku,” kata Sunmi dengan nada memelas. “Oemma sangat marah padaku karena aku tidak pulang semalaman dan seandainya ia mendapatiku berada di rumah saat ini, ia pasti akan menahanku dan melarangku pergi ke pesta prom nanti.”

“Itu bukan urusanku! Lagipula, ini apartemenku, bukan hotel!” pekik Nichkhun, kesal. “Kau tidak bisa seenaknya mengatakan bahwa kau akan tinggal di sini.”

Ahjussi, jebal.” Sunmi mulai merengek seperti bayi. Ia menarik-narik kaki baju Nichkhun dan terus merengek, membuat telinga Nichkhun panas. “Aku hanya akan tinggal di apartemenmu sampai pesta prom nanti. Jebal.”

Nichkhun menekan pelipisnya dan tertunduk. Ia benci mendengar suara rengekan Sunmi dan tidak tahan dengan rengekan itu karena terus membuatnya terjebak pada perasaan bersalah. Nichkhun mendongak, menggembungkan pipinya dan menghembuskan udara lewat cela mulutnya. “Baiklah,” katanya. “Kau boleh tinggal di apartemenku, tapi hanya sampai pesta prom di sekolahmu selesai, dan kau sudah harus kembali ke rumah, arasseo?”

Wajah Sunmi berubah ceria semerekah bunga pada musim semi. Ia mengangguk seperti anak anjing pada Nichkhun. “Ne, ahjussi. Gomawo,” ujarnya sambil memeluk Nichkhun sangat erat.

Nichkhun merasakan tubuhnya kaku seperti patung saat Sunmi memeluknya. Dan saat Sunmi melepas pelukan itu, Nichkhun bernapas lega. Sunmi tertawa kecil kearahnya dan mendorong tubuh namja itu untuk masuk ke dalam, namun dengan sigap, Nichkhun langsung menarik kerah kemeja Sunmi.

Ya, bawa tasmu masuk ke dalam!” tukasnya.

Sunmi menoleh. “Kau tidak berniat untuk membawakan tas itu ke dalam?”

Nichkhun mendengus. “Ini bukan hotel! Bawa sendiri tasmu ke dalam!”

Sunmi merengut. Ia terpaksa mengangkat tas-tas berat itu dan mengikuti langkah Nichkhun masuk ke dalam apartemen, lalu diam-diam menjulurkan lidahnya kearah punggung namja itu.

***

Nichkhun mengetuk pintu kamar tamu itu dan tidak mendengar Sunmi menyahut dari dalam. Mungkin ia sedang mandi, pikirnya. Nichkhun memutar knop pintu dan mendorong daun pintu hingga terbuka lebar. Ia mengamati kamar itu dan mendengar suara percikan air dari kamar mandi yang mengartikan bahwa tebakannya benar bahwa Sunmi sedang mandi. Ia merayap masuk ke dalam kamar itu dan menemukan seragam Sunmi digantung pada gagang pintu lemari besar yang merapat pada dinding kamar.

Nichkhun berdiri di depan seragam itu dan melipat kedua lengannya di atas dada. “Apakah roknya tidak terlalu pendek?” gumamnya seorang diri.

Nichkhun meraih rok itu dan mengangkatnya ke udara. Ia sedang menimbang-nimbang, lalu menarik rok itu dan menyesuaikan rok itu pada pinggulnya sendiri. Terlalu kecil untuk ukurannya. Dan bahkan rok itu terlihat sangat pendek pada kakinya yang panjang.

Ahjussi, mwohaneungoya?”

Nichkhun menoleh dan mendapati Sunmi berdiri di belakang punggungnya, sedang menatapnya aneh. Nichkhun menjauhkan rok itu dari kakinya dan menggantungkan kembali rok itu ke gagang pintu lemari, lalu menggeleng. “Hm, bukan apa-apa,” sahutnya terbata. Wajahnya memerah karena malu.

Sunmi mengangkat sebelah alisnya, melihat ke belakang untuk mengecek rok sekolahnya, lalu berkata, “Tapi tadi kulihat kau sedang mencoba mengenakan rokku.”

“Ah~ Tadi aku hanya..” Nichkhun menyisir rambutnya dengan jari, menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal sembari memikirkan jawaban yang tepat, lalu melanjutkan, “Sunmi-ah, apakah kau tidak merasa bahwa rokmu terlalu pendek?”

Sunmi angkat bahu. “Memangnya kenapa?”

Nichkhun mengangkat kedua lengannya di belakang kepala dan berkata, “Apa kau tidak merasa risih menggunakan rok yang begitu pendek?”

“Kenapa aku harus merasa risih?”

Nichkhun mengangkat kedua alisnya. “Hm, misalnya saja kau sedang berjalan di tepi jalan, lalu tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan rokmu. Dan semua orang namja akan melihatnya, apa kau tidak akan merasa kuatir?”

Sunmi menahan senyum di sudut bibirnya dan mengernyit. “Ahjussi, apakah kau baru saja mengkuatirkanku?”

Nichkhun menurunkan kedua lengannya ke sisi tubuhnya dan menggeleng. Wajahnya kembali bersemburat merah. “Ya, aku hanya mengatakannya saja, bukan berarti aku kuatir padamu!”

Sunmi menyilang kedua lengannya di atas dada dan mengangkat sebelah alisnya dengan angkuh. “Jeongmal? Aku tidak percaya.”

Nichkhun menggigit bibir bawahnya dengan deretan gigi depannya, lalu mengancam Sunmi dengan sebuah pelototan kejam. Tapi Sunmi tidak berkutik atau merasa takut sama sekali. Justru sebaliknya, Sunmi menarik sebelah alisnya lagi untuk menggoda Nichkhun, membuat namja itu merasa kalah.

“Aish~ Terserah kau saja!” gerutu Nichkhun, lalu segera keluar dari kamar Sunmi. Sesampainya di luar, Nichkhun menampar dahinya dan mengutuk dirinya.

***

Jo Kwon memutar penutup botol air mineralnya dan menenggaknya sampai sepertiga. “Pesta prom tinggal seminggu lagi,” katanya sambil mengusap sudut bibirnya yang basah. “Kalian akan mengajak siapa saat pesta prom nanti?”

Sohee dan Sunmi saling bertukar pandang. “Tentu saja aku bersama Heechul,” sahut Sohee dengan riang.

Sunmi menghela napas berat. “Bagus. Sekarang Sohee sudah memiliki pasangan, sementara aku belum.”

Jo Kwon menatap Sunmi dan tertawa. “Aigoo~ Kau sudah melupakanku, huh? Aku sama denganmu. Belum memiliki pasangan juga.”

“Menurut kalian, Seungri akan pergi bersama siapa saat pesta prom nanti?” tanya Sohee.

“Tentu saja bersama Jiyeon,” sungut Sunmi dengan sinis.

Sunmi mulai frustasi setiap kali berhadapan dengan kenyataan bahwa pesta prom harus membawa-bawa peraturan konyol tentang pasangan. Pesta prom menjadi sangat sakral di kehidupan remaja SMU dan jika menggagalkan pesta prom, sama saja sudah menghancurkan hidupmu sendiri. Sunmi ingin datang ke pesta prom bersama seorang namja yang bersedia menjadi pasangannya dan begitu mendambakan posisi sebagai Ratu Dansa di pesta prom nanti. Tapi, sampai detik ini, lokernya masih sepi oleh surat ajakan dari siswa-siswa di sekolahnya yang mengajak kencan di pesta prom dan itu membuatnya semakin putus asa.

“Lihat! Itu Jiyeon dan kawan-kawannya!” Sohee berseru sambil menunjuk kearah pintu masuk kantin.

Sunmi dan Jo Kwon ikut menoleh dan melihat Jiyeon sedang bercanda dengan beberapa dayang-dayangnya. Pemandangan itu masih menyisakan bara panas di hati Sunmi setiap kali melihat yeoja yang sudah merebut namjachingunya itu melintas di depan matanya, membuatnya merasa sangat muak.Namun setidaknya, ia masih merasa beruntung tidak harus berkencan dengan namja brengsek seperti Seungri di pesta prom.

“Jiyeon akan kemari!” bisik Jo Kwon sambil membungkuk pada kedua sahabatnya.

Sunmi dan Sohee melirik kearah Jiyeon dan beberapa orang dayang-dayang di belakangnya itu dengan sinis ketika mereka tiba di meja mereka. Jiyeon dan dayang-dayangnya tersenyum ramah pada mereka bertiga, namun ketiga orang itu hanya bersikap dingin dan menganggap Jiyeon dan kawan-kawannya tidak ada di sana.

“Sunmi-ah,” panggil Jiyeon dengan suara lembut. “Kau akan mengajak siapa saat pesta prom nanti?”

Sunmi mendongak untuk menatap Jiyeon. Ia menangkap sirat mengejek pada cara Jiyeon bertanya. “Itu bukan urusanmu!” desisnya.

Jiyeon mengangkat bahu dan menoleh pada beberapa orang temannya. “Sebaiknya kau bergegas, Sunmi-ah,” lanjut Jiyeon. “Sebelum semua namja di sekolah kita memiliki pasangan.”

Teman-teman Jiyeon tertawa kecil dan menepuk bahu Jiyeon. Ketiganya berjalan meninggalkan Sunmi dengan hati dongkol. “Aku akan mengajak namja yang lebih baik dari Seungri-mu itu, Jiyeon-ah,” teriak Sunmi, kesal. “Lihat saja nanti di pesta prom nanti.”

Jiyeon dan teman-temannya hanya menoleh sekilas, lalu terbahak, menertawakan usaha Sunmi. Sunmi mendengus kesal dan kembali menoleh pada kedua sahabatnya. “Menyebalkan sekali,” gerutunya.

“Tapi, benar apa yang dikatakan oleh Jiyeon,” sahut Sohee. “Sebaiknya kau harus segera memutuskan akan pergi bersama siapa.”

Sunmi meremas poninya dengan frustasi dan berpikir keras. Ia juga tidak bisa menampik kekuatirannya sejak tadi. Jika ia hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa sampai pesta prom tiba, bisa-bisa ia akan menjadi bahan olokan Jiyeon dan dayang-dayangnya di pesta prom nanti.

Sunmi mendesah dan mendongak ke langit-langit kantin. Tidak berapa lama kemudian, ia tersentak dan berseru, “Aku sudah tahu harus pergi bersama siapa!”

Jo Kwon dan Sohee saling bertukar pandang, lalu menoleh lagi pada Sunmi. “Kau akan pergi dengan siapa?”

“Nichkhun!”

“Kau yakin?” tanya Jo Kwon kuatir. “Apa ia mau pergi bersamamu? Kulihat, orangnya sedikit tidak bersahabat.”

Pundak Sunmi terkulai lemas. “Benar juga,” katanya lirih. “Apakah dia mau pergi bersamaku?”

***

Nichkhun membuka inbox e-mail dan menemukan beberapa e-mail baru dari beberapa teman SMU-nya. Ia membuka e-mail milik Taecyeon, salah seorang sahabatnya di SMU dulu, dan membaca deretan kalimat yang tertulis di sana.

From: okcat_taec@gmail.com

Subject: Anyyeong!

Hai, Khun! Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Aku mendengarmu bekerja sebagai seorang asisten manajer di sebuah bank swasta sekarang, aku sangat iri padamu kekeke. Minggu depan akan ada reuni SMU, angkatan kita. Kuharap kau bisa meluangkan waktumu untuk minggu depan, hari Sabtu, di Mega hotel, di Myeong-dong. Tapi, sebaiknya kau memang harus meluangkan untuk datang, karena cinta pertamamu akan hadir di sana. Kau mengerti, kan, maksudku? Kekeke.

Aku sudah menghubungi Victoria lewat e-mail & saat ini ia sedang berada di Amerika Serikat, melanjutkan pendidikan S2-nya. Sangat lucu, bukan? Ia tidak pernah berubah sejak kita mengenalnya di bangku SMU. Ia masih tergila-gila akan fisika yang rumit itu sampai harus menyeberang ke negeri orang untuk mempelajarinya. Tapi ia sudah janji padaku untuk mengambil cuti beberapa hari dari tempatnya bekerja dan izin dari kuliahnya untuk menghadiri reuni spesial ini.

Well, I’ll catch you later, bro! Annyeong!

Nichkhun termangu di depan layar komputernya. Mulutnya dalam keadaan menganga. Ia membaca ulang paragraph kedua dalam e-mail itu dan mengulum senyum. “Victoria akan ada di sana? Ia akan hadir?”

Senyuman tipis itu perlahan-lahan berubah menjadi seringai, lalu tawa bahagia. Nichkhun melompat dari kursinya dan menjerit dengan perasaan bebas. Gejolak di dadanya, degup jantungnya, darahnya yang berdesir, tak pernah membuatnya merasakan kebahagiaan yang membingungkan seperti saat ini. Dan sudah jelas, ia akan menyisihkan waktu secara spesial untuk acara reuni tersebut. Ia akan mencatat tanggal dan tempat itu di agendanya, di ponselnya dan menulis sebuah note dan menempelnya di depan pintu kulkas agar ia tidak melupakannya.

Nichkhun terenyak kembali di kursi kerjanya dan berputar-putar seperti seorang anak kecil. Ia mendongak ke langit dan tersenyum lebar. Akhirnya, batinnya. Akhirnya, kita akan bertemu lagi, Victoria. Dan aku berjanji, ini akan menjadi pertemuan yang tidak terlupakan. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Tidak akan.

To be continued…

43 thoughts on “Hello Schoolgirl (Part 5)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s