Be My Lady (Part 3)

Author : Xan She

Title : Be My Lady

Main Cast :

  • Jang Wooyoung ‘2PM’
  • Kim Taeyeon ‘SNSD’

Genre : Romance, Life

Length : Chapter

Rating : PG-13

Disclaimer : Terinspirasi dari berbagai film, drama & novel

Previous : Part 1 | Part 2

—<><>—

“Setelah ini apa kau akan langsung pulang?” Tanya Seohyun sambil membuka pintu lokernya lalu mengambil buku-buku yang siang tadi ia simpan di sana.

Ne, kurasa begitu. Hari sudah sore, aku harus membatu oemma menjaga kios.” Taeyeon berjalan mendekati Seohyun lalu mulai membuka lokernya yang hanya terpisah beberapa pintu dari loker milik Seohyun.

Taeyeon sedikit terkejut saat melihat selembar kertas asing yang terlipat rapi berada di dalam lokernya. Dengan hati-hati, ia mulai meraih kertas itu dan perlahan membuka lipatannya hingga ia dapat melihat dengan jelas tulisan tangan seseorang disana.

Seohyun menutup pintu lokernya lalu menatap Taeyeon dengan sedikit heran. Ia melihat sahabatnya itu tengah serius membaca tulisan-tulisan di atas selembar kertas. Ekspresinya sulit untuk diartikan. “Taeyeon-ah, ada apa? Mengapa ekspresimu seperti itu?” Tanyanya penasaran.

Taeyeon belum juga menjawab. Keningnya berkerut setiap kali membaca ulang isi selambar kertas itu. Karena penasaran, akhirnya Seohyun menghampiri Taeyeon dan meraih kertas itu perlahan dari genggaman Taeyeon.

Jam delapan malam nanti kutunggu kau di gedung tuakampus. Kita selesaikan segera urusan diantara kita. Pastikan kau tidak akan datang terlambat apalagi sampai melarikan diri.

Mwo? Apakah ini surat dari Wooyoung oppa? Apa ia memintamu bertanding malam ini?” Seohyun melirik Taeyeon yang masih menunjukkan ekspresi tegang. “Pertandingan apa yang akan kalian mainkan di gedung tua kampus?” Tanyanya kemudian.

Mollayo, aku tidak mengerti apa yang ada di kepala pria itu,” ucap Taeyeon geram.

“Kau akan datang?”

Ani, untuk apa aku datang malam-malam ke tempat mengerikan itu? Kajja, kita pulang sekarang!” Taeyeon menutup pintu lokernya dengan sekali hentakan lalu meraih salah satu tangan Seohyun untuk mengajaknya pergi.

“Apa kau benar-benar tidak akan datang? Wooyoung oppa pasti akan langsung menganggapmu kalah dalam pertandingan kali ini. Dan otomatis kau harus menjadi budaknya selama satu bulan. Apa kau akan membiarkan semua itu terjadi?”

Taeyeon menghentikan langkahnya lalu melepaskan genggaman tangannya di tangan Seohyun baru kemudian bersuara, “Ya, Seohyun-ah, apa aku ini bodoh? Aku bahkan tidak tau apa rencana pria itu malam ini. Aku tidak akan pergi!” Taeyeon segera melanjutkan langkahnya tanpa berniat kembali mengajak Seohyun untuk ikut dengannya.

“Taeyeon-ah, kuharap kau mau mempertimbangkan keputusanmu sekali lagi. Aku benar-benar tidak yakin Wooyoung oppa akan diam saja bila kau tidak mau mengikuti permainannya,” teriak Seohyun ke arah Taeyeon yang berjalan semakin jauh darinya.

Taeyeon sama sekali tidak memperdulikan teriakan Seohyun. Langkahnya semakin cepat untuk segera keluar dari area kampus. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih jam enam sore. Ia tidak ada waktu untuk menunggu sampai jam delapan tiba.

Langkah Taeyeon terhenti begitu ada yang menghadangnya tepat sebelum ia melangkah melewati gerbang kampus.

“Apa kau akan melarikan diri?” Tanya Wooyoung yang telah berdiri kokoh di hadapan Taeyeon. “Kau sudah membaca pesanku, bukan?

Ne, dan aku tidak akan datang!” Jawab Taeyeon cepat.

Mwo? Apa kau takut kalah dariku?”

Ani, aku hanya tidak punya waktu menemanimu bermain-main malam ini,” ucap Taeyeon tegas lalu bergerak melewati Wooyoung. “Menyingkir! Biarkan aku lewat!”

“Aku tidak akan memaksamu untuk datang. Bila kau tetap tidak mengikuti pertandingan terakhir malam ini, tepati janjimu untuk menjadi budakku selama satu bulan!” Nada suara Wooyoung terdengar sedikit mengancam. Ia tidak menoleh menghadap Taeyeon yang perlahan melemahkan langkahnya keluar dari area kampus setelah berhasil melewatinya.

–<><>–

“Apa yeoja itu benar-benar tidak akan datang?”

“Kurasa begitu!” Wooyoung menjawab pertanyaan Chansung sambil memangku kedua tangannya di depan dada. Matanya masih mengawasi segala penjuru–berjaga-jaga kalau saja Taeyeon muncul tiba-tiba.

Wooyoung telah berada tepat di depan gedung tua kampus sejak lima belas menit yang lalu. Sekarang waktu hampir mendekati pukul delapan malam, namun rivalnya–Taeyeon–sama sekali belum menampakkan dirinya, padahal seisi kampus sengaja datang ke gedung itu karena penasaran dengan pertandingan seru yang akan dimainkan Wooyoung dan Taeyeon malam ini walaupun mereka sendiri tidak tau pasti apa.

“Baiklah, sepertinya kita harus menghitung sampai tiga. Apabila sampai hitungan ketiga yeoja itu tidak juga datang, maka dipastikan Wooyounglah pamenangnya.” Chansung memberikan sedikit intruksi.

Wooyoung masih berusaha mengamati keadaan sekeliling. Ia sangat berharap Taeyeon datang secepatnya. Tidak akan seru bila ia harus menang tanpa perlawanan dari yeoja itu. Di sisi lain Seohyun nampak gelisah menunggu kedatangan Taeyeon. Berkali-kali ia mencoba menghubungi sahabatnya itu, namun tidak ada jawaban. puluhan pesan singkat pun sudah ia kirim agar sahabatnya itu mau datang untuk menyanggupi tantangan Wooyoung. Ia juga tidak rela bila Taeyeon sampai harus kalah dari Wooyoung semudah ini.

“Bisa aku mulai menghitung?” Tanya Chansung meminta persetujuan Wooyoung.

Untuk beberapa saat Wooyoung masih berusaha mengawasi sekitarnya lalu mengangguk.

Di sudut lain, Junho mulai terlihat tidak sabar menunggu Taeyeon datang. Ia yakin yeoja itu tidak akan mengalah semudah ini. Dan ia yakin Taeyeon akan memenuhi permintaannya untuk mengalahkan Wooyoung.

Ok, aku akan mulai menghitung! Hana… Dul… Ss..

Chakkaman! Aku datang!” Taeyeon buru-buru berteriak untuk menghentikan hitungan Chansung. Ia nampak kelelahan karena berlari-lari untuk menuju tempat itu.

Seluruh orang yang ada di sana kompak menunjukkan raut terkejut saat Taeyeon tiba tepat pada waktunya. Sebagian diantara mereka menunjukkan ekspresi senang karena berharap dapat menyaksikan pertandingan seru malam ini. Namun sebagian lagi menunjukkan kekecewaannya karena berharap Wooyoung dapat menang dengan mudah. Salah satunya adalah Tiffany, mimik wajahnya yang sebelumnya senang, mendadak berubah begitu melihat Taeyeon muncul.

Seohyun dan Junho tersenyum lega. Begitu pula dengan Wooyoung, ia cukup senang Taeyeon akhirnya datang untuk menyanggupi tantangannya.

“Kau hampir terlambat!” Ucap Wooyoung dengan sikap angkuh.

“Tidak usah banyak komentar, yang jelas aku sudah datang,” jawab Taeyeon tak kalah angkuh. “Cepat selesaikan permainan kali ini. Aku harus segera kembali ke rumah.”

“Baiklah, karena dua orang yang akan bertanding hari ini sudah tiba, mari segera kita mulai pertandingannya. Aku akan menjelaskan aturan mainnya,” Chansung memberikan sedikit kode agar Wooyoung dan Taeyeon segera mendekat ke arahnya. “Tugas kalian adalah mencari kunci untuk membuka pintu utama gedung yang ada di belakang sana,” Chansung menunjuk gedung tua kampus yang berada tepat di belakangnya.

“Dimana kita harus mencari kunci itu?” Tanya Wooyoung kemudian.

“Ya, pertanyaanmu seperti kau baru mendengar aturan permainan kali ini. Aku yakin kau hanya pura-pura bertanya seperti itu. Kau sebenarnya juga ikut merencanakan permainan ini, kan?” Tebak Taeyeon dengan lirikan tajam ke arah Wooyoung yang berada di sebelahnya.

“Ya, memang aku yang mengusulkan pertandingan terakhir ini kita lakukan di gedung tua itu. Tapi aku sungguh baru tau permainannya adalah mencari kunci pintu utama,” Wooyoung mencoba membela diri.

Jeongmal? Bagaimana aku bisa mempercayai ucapanmu?” Tanya Taeyeon tak percaya.

“Kau ini sulit sekali diberi tau.” Wooyong terlihat mulai kesal.

“Sudah, sudah.” Chansung berusaha untuk menengahi. “Ya, Nona, yang dikatakan Wooyoung itu benar. Ia memang baru mengetahui permainan ini. Bila kau ragu, silahkan kau tanyakan saja pada sahabatmu, Seohyun. Ia juga terlibat dalam permainan kali ini.”

Mwo? Seohyun?” Taeyeon terkejut, ia menoleh ke arah Seohyun yang berdiri diantara penonton di belakangnya. Seohyun hanya bisa tersenyum kaku sambil menggerakan bibirnya mengucap sebuah kata ‘mianhae’

“Kau percaya sekarang?” Tanya Wooyoung dengan nada menyindir. Taeyeon menoleh kearahnya dengan lirikan tajam. “Jadi, jangan bilang kalau aku bermain curang dalam permainan kali ini. Kau harus rela menerima kekalahan.”

“Ya, apa kau sangat yakin akan menang dariku? Sepertinya kau yang harus bersiap-siap menangis karena kalah dariku,” ucap Taeyeon dengan nafas sedikit memburu karena menahan kesal.

Jinjjayo? Apa kau yakin dengan ucapanmu?”

Geureom!” Jawab Taeyeon cepat.

“Sudahlah, aku lanjutkan peraturan permainannya. Kalian harus mencari kunci itu di setiap ruang yang ada di dalam gedung tersebut,” Chansung segera bersuara untuk mengakhiri kontak mata penuh dendam diantara kedua orang di hadapannya.

Mwo? Semua ruang?” Tanya Taeyeon terkejut. “Gedung itu sangat tinggi, kami tidak akan mudah menemukan kunci itu.”

“Justru disana letak serunya pertandingan kali ini. Kalian harus berjuang hingga kunci itu ditemukan. Yang menemukan kunci itu lebih dulu adalah pemenangnya. Yang kalah harus rela menjadi budak sang pemenang selama sebulan ke dapan. Mengerti?”

Keduanya–Wooyoung dan Taeyeon–hanya tercengang tak bersuara mendengar penjelasan Chansung.

“Oh iya, gedung itu sudah lama padam listrik. Jadi kalian hanya akan dibekali masing-masing satu buah lampu senter. Tiffany dan Junho akan memberikannya kepada kalian,” Chansung menoleh ke arah Tiffany dan Junho agar segera membekali para peserta pertandingan dengan lampu senter.

Tiffany mendekat menghampiri Wooyoung. “Berjuanglah, aku mengharapkanmu menang!”

Ne, kau tenang saja!” Jawab Wooyoung meyakinkan. Ia menyambut sebuah senter dari yeoja itu.

Taeyeon menunggu Junho yang mendekat kearahnnya dengan perasaan tegang. Ia tengah berpikir bagaimana caranya ia dapat masuk ke gedung tua kampus dengan hanya berbekal sebuah lampu senter? Ia sangat takut akan kegelapan.

Gwaenchanha?” Tanya Junho cemas begitu melihat ekspresi ketakutan di wajah Taeyeon.

Ne, gwaenchanha,” jawab Taeyeon ragu.

“Ambillah ini!” Junho memberikan sebuah lampu senter kepada Taeyeon yang segera disambut yeoja itu dengan tangan gemetar. “Apa kau sungguh tidak apa-apa?” Tanya Junho lagi.

N-ne, aku baik-baik saja,” jawab Taeyeon meyakinkan. Kali ini intonasinya sedikit nyaring agar Junho benar-benar mempercayai ucapannya.

“Baguslah kalau begitu. Aku percaya padamu!” Ucap Junho singkat. Ia yakin Taeyeon mengerti apa yang diucapkannya. Ia tidak bisa berkata banyak karena Wooyoung dan yang lain tengah berada di dekatnya.

Taeyeon mengangguk lemah. Tangannya menggenggam erat lampu senter pemberian Junho.

“Baiklah, mari kita mulai pertandingan terakhir malam ini,” Chansung menepukkan tangannya beberapa kali untuk menarik perhatian semua orang yang berada disana, terutama Wooyoung dan Taeyeon. “Ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan kepada kalian.”

Wooyoung dan Taeyeon menatap Chansung penuh penantian. Mereka menunggu apalagi yang akan diucapkan namja itu pada mereka.

“Aku hanya ingin mengingatkan sedikit tentang sejarah gedung ini. Gedung tua di belakangku ini bediri sejak lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Ini adalah gedung pertama kampus ini. Namun sejak dua puluh tahun lalu, gedung ini tidak lagi digunakan untuk proses belajar mengajar. Tepat sekitar dua puluh tahun yang lalu seorang siswi bunuh diri di ruang kelasnya dengan alasan yang masih misterius. Ada yang bilang gadis itu bunuh diri akibat mendapatkan banyak penekanan dari seniornya, ada juga yang mengatakan kalau gadis itu mengakhiri hidupnya karena putus dari namjachingunya. Sejak saat itu pula situasi proses belajar mengajar di gedung itu sering mengalami hal-hal aneh. Terlebih pada malam hari.”

“Ya, bisakah kau menceritakan hal itu setelah kami menyelesaikan permainan ini?” Potong Taeyeon cepat. Ia sempat merinding mendengarkan cerita Chansung yang sangat mengerikan. Terlebih memperhatikan cara namja itu bercerita dengan nada yang sangat menakutkan sehingga sukses membuat keberanian Taeyeon menurun drastis.

“Justru kalian harus mengetahui cerita ini terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam. Jangan sampai kalian terkejut bila menemukan hal-hal aneh di dalam sana, seperti jeritan suara seorang yeoja atau melihat sesosok yeoja berambut panjang dengan wajah pucat seputih kertas,” lanjut Chansung dengan nada yang dibuat-buat agar terdengar dramatis.

“Ya! Hentikan!” Teriak Taeyeon sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

Wooyoung tertawa geli melihat reaksi Taeyeon yang berlebihan. Sebelumnya ia hanya terkekeh berusaha menahan ledakan tawanya saat Taeyeon berkali-kali menunjukkan ekspresi ketakutannya. Tapi ia sungguh tidak dapat lagi menahan tawanya begitu mendengar teriakan nyaring yeoja itu.

“Ya, apa kau tidak sadar kalau reaksimu itu sangat berlebihan? Ini hanya sebuah cerita yang belum jelas kebenarannya. Lagipula apa kau benar-benar percaya ada hantu di dunia ini?” Tanya Wooyoung sambil masih berusaha untuk meredam tawanya.

Taeyeon mengakhiri usahanya menutup rapat kedua telinganya. Ia mulai menjauhkan tangannya dan perlahan membuka kedua matanya lalu melirik namja di sebelahnya dengan tatapan penuh amarah. “Berhenti tertawa! Jangan berlagak seolah kau adalah seorang pemberani. Awas saja bila kau berteriak ketakutan saat bertemu dengan gadis itu di dalam sana,”

“Haha~ kau ini lucu sekali. Aku tidak percaya pada hantu!” Ucap Wooyoung meremehkan.

“Baiklah, kalian sudah bisa mulai masuk ke dalam gedung itu sekarang. Berjuanglah!” Kata Chansung akhirnya. Ia berjalan ke samping untuk membiarkan Wooyoung dan Taeyeon memasuki gedung itu dengan leluasa.

Taeyeon menatap sekali lagi Wooyoung yang juga tengah menatapnya. Hanya saja tatapan keduanya berbeda satu sama lain. Taeyeon menatap Wooyoung penuh ketegangan, tetapi sebaliknya Wooyoung justru menatap Taeyeon dengan senyuman licik.

Taeyeon memberanikan diri masuk ke dalam gedung lebih dulu disusul Wooyoung di belakangnya. Setelah keduanya telah benar-benar memasuki gedung itu, tiba-tiba saja terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras. Taeyeon dan Wooyoung menoleh kompak ke arah pintu utama. Meraka sama-sama mengarahkan cahaya lampu senter ke arah pintu itu yang ternyata telah kembali tertutup.

Taeyeon berjalan cepat menghampiri pintu lalu berusaha membukanya, namun tidak berhasil. Pintu itu telah dikunci dari luar. “Ya, mwohaneungoya?” Teriak Taeyeon kemudian. Ia menggedor-gedor pintu itu beberapa kali.

“Kalian bisa membuka pintu ini setelah menemukan kunci itu. Jadi berjuanglah bila kalian ingin keluar secepatnya dari gedung ini!” Teriak Chansung dari luar gedung.

Taeyeon semakin panik. Berkali-kali ia mencoba memutar kembali handle pintu itu lalu menggedor-gedornya semakin kencang, “Ya, apa kau sudah gila?”

“Chansung-ah, apa kau serius?” Wooyoung ikut bersuara. Ia mendekati Taeyeon yang masih berusaha membuka pintu itu.

Ne, aku serius. Cepat temukan kunci itu atau kalian akan bermalam di dalam hingga pagi,” teriak Chansung lagi.

“Ya, kau benar-benar sudah gila! Bagaimana bila kami tidak berhasil menemukannya?” Nada suara Taeyeon meninggi. Ia mulai lelah menggedor-gedor pintu di depannya yang tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.

“Sudahlah, tidak ada gunanya kau berjuang membuka pintu ini dengan tenagamu sendiri. Cepat temukan kunci itu lalu segera pergi dari tempat ini!” Wooyoung berjalan lebih dulu memasuki area gedung yang lebih dalam. Ia mengarahkan lampu senternya perlahan ke sekitarnya.

Taeyeon menghentikan usaha sia-sianya lalu akhirnya mengikuti Wooyoung dari belakang. Ia mengarahkan lampu senternya ke segala arah dengan cepat. Ia tidak benar-benar sedang mencari keberadaan kunci itu, justru ia tengah berjaga-jaga kalau saja sosok yeoja yang diceritakan Chansung tadi tiba-tiba saja menampakkan dirinya.

Langkah Taeyeon terhenti begitu tubuhnya membentur sesuatu. Ia bisa merasakan sesuatu di depannya itu bukanlah tembok atau benda keras lainnya. Ia yakin ia tengah berbenturan dengan tubuh seseorang.

AARRGGKH!!!!

“Ya, Nona penipu, mengapa kau berteriak seperti itu?” Tanya Wooyoung sambil mengarahkan cahaya lampu senter ke wajahnya sendiri dari bawah, sehingga memberikan efek menyeramkan.

Taeyeon membuka matanya perlahan lalu memukul Wooyoung beberapa kali, “Ya, mwohaneungoya? Mengapa kau mengarahkan sentermu seperti itu? Apa kau mencoba menakut-nakutiku?”

“Ya, berhenti memukulku! Aku hanya ingin bertanya apa kau akan terus mengikutiku seperti ini?”

“Siapa yang mengikutimu? Kau ini percaya diri sekali.”

“Kalau begitu jalanlah lebih dulu di depanku. Aku merasa terganggu bila kau terus mengekor di belakangku.”

“Kau saja yang berjalan lebih dulu. Aku sedang mencari-cari kunci itu di sekitar sini.” Taeyeon mulai mengarahkan lampu senternya ke sebelah kirinya. Suasana lorong panjang yang sepi mulai terlihat disana.

Jinjjayo? Baiklah, kita berpencar. Jangan coba-coba mengikutiku!”

M-mwo? Berpencar? Apa kau yakin?”

Ne, aku akan memberi taumu bila aku telah menemukan kunci itu. Kita akan segera keluar dari tempat ini.”

Mwo? Kau bilang, kau yang akan lebih dulu menemukan kunci itu? Tidak akan! Aku yang akan lebih dulu menemukannya.”

“Cih, berhenti bermimpi! Lihat saja, sebentar lagi kau akan menangis karena kalah!” Cibir Wooyoung lalu kembali melangkah menuju tangga untuk naik ke lantai dua.

Taeyeon menatap kesal kepergian namja itu. Beberapa detik kemudian perasaan takut kembali menghinggapinya. Ia kini telah benar-benar sendiri. “Apa ia benar-benar tega membiarkanku sendiri?”

Dengan sisa-sisa keberaniannya, Taeyeon perlahan melangkah memasuki sebuah ruang kelas yang paling dekat dengannya. Dari papan nama di pintu tersebut, Taeyeon tau bahwa kelas itu adalah ruang kelas sastra.

Taeyeon mulai melakukan usahanya mencari kunci itu di setiap meja di kelas itu. Langkahnya perlahan dan hati-hati. Kerja jantungnya yang semakin cepat masih sulit ia kendalikan. Sekuat tenaga ia berusaha untuk bersikap berani.

BRAAKK!!

Suara bantingan pintu terdengar nyaring di belakang Taeyeon. Taeyeon menoleh cepat dan segera mengarahkan senternya ke pintu kelas. Tertutup. Deg! Taeyeon benar-benar takut saat ini.

“Siapa itu?” Tanyanya memberanikan diri. Kakinya yang kaku ia paksakan berjalan mendekati pintu. “Wooyoung-ssi, kau kah itu? Kumohon jangan coba menakut-nakutiku,”

Tidak ada jawaban hingga Taeyeon telah berdiri di balik pintu itu. Tangannya melayang meraih handle pintu dan mencoba membukanya. Terbuka, pintu itu tidak terkunci. Untuk beberapa detik, Taeyeon dapat menghembuskan nafas lega. Namun sedetik kemudian ia kembali dibuat ketakutan saat mendengar alunan permainan piano yang merdu dari ujung lorong.

Bulu kuduk Taeyeon mendadak berdiri. Tubuhnya lemas saking takutnya. “Eotthoke?” Tanyanya panik. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. “Wooyoung-ssi, kau dimana? Bisakah kita mencari kunci itu bersama-sama?” Taeyeon kembali berjuang menuntun langkahnya untuk berjalan mendekati suara alunan piano itu. “Wooyoung-ssi, kumohon berhentilah bermain-main. Aku ingin segera keluar dari tempat ini!” Rengek Taeyeon hampir menangis. Langkahnya terhenti begitu alunan suara piano sudah tidak terdengar, berganti dengan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Taeyeon menutup kedua matanya rapat-rapat sambil menyandarkan tubuhnya di tembok lorong hingga merosot. Senternya masih digenggamnya erat, namun ia tidak berani menggerakan tangannya untuk memastikan pemilik langkah-langkah berat itu.

Beberapa saat kemudian terdengar pintu-pintu kelas di sepanjang lorong itu tertutup nyaring bergantian. Suara hentakan jendela-jendela kelas yang terbuka dan tertutup bergantian pun semakin membuat Taeyeon ketakutan. Ia bahkan hampir pingsan di tempat. Air matanya mengalir, ia hanya berharap sosok yeoja yang diceritakan Chansung tadi tidak menampakkan diri di hadapannya atau ia akan benar-benar pingsan di tempat.

“Aaarrggkkh!! Kumohon jangan ganggu aku. Aku hanya mencari sebuah kunci, setelah itu aku pasti akan segera pergi dari tempat ini.” Taeyeon memohon sambil menangis. Matanya masih ia pejamkan rapat-rapat.

–<><>–

Wooyoung menahan tawanya ketika mendengar suara Taeyeon memohon-mohon entah pada siapa. Ia cukup puas karena telah menakut-nakuti yeoja itu sejauh ini. Bantingan pintu, alunan suara piano serta langkah-langkah kaki yang berat, semua itu adalah ulahnya untuk mengerjai Taeyeon.

Setelah puas memberi Taeyeon pelajaran, ia segera berlalu pergi dari tempat itu untuk melanjutkan usahanya mencari kunci yang dimaksud. Ia kembali melangkah menaiki anak-anak tangga menuju ke lantai dua.

Tanpa perasaan takut sedikit pun, Wooyoung mulai menjelajah isi setiap kelas. Ia mencari dengan serius. Mulai dari balik papan tulis, balik pintu kelas serta di kolong-kolong bangku dan meja.

Pencarian Wooyoung terhenti ketika menemukan sebuah kunci yang tergantung di balik pintu kelas kesekian yang dijelajahnya.

“Apa mereka tidak bisa menyembunyikan kunci ini di tempat yang lebih sulit?” Ucap Wooyoung sambil tersenyum meremehkan. “Ini mudah sekali ditemukan!”

Ia segera menyimpan kunci itu ke dalam saku jaketnya lalu keluar dari dalam kelas tersebut. Langkahnya melemah begitu melihat sesuatu di ujung lorong menuju tangga. Ia memicingkan sedikit matanya sambil mengarahkan lampu senter ke ujung lorong. Semakin ia melangkah, Wooyoung dapat melihat dengan jelas bahwa yang ia lihat menyerupai sesosok yeoja.

“Ya, Nona penipu, kau kah itu?” Tanya Wooyoung ketika jaraknya dengan sosok itu semakin dekat.

Wooyoung mengerutkan keningnya ketika belum juga mendengar jawaban dari sosok itu. Ia sempat tidak yakin bahwa sosok yang tengah dilihatnya itu adalah Taeyeon. Pakaian yang dikenakannya berbeda dengan yang dikenakan Taeyeon tadi. Rambut yeoja itu pun terlihat panjang terurai berwarna hitam yang sedikit menutupi sebagian wajahnya.

Bagaimana ia bisa merubah penampilannya dalam waktu yang sangat cepat? Tanyanya dalam hati.

“Ya, Nona penipu, apa yang kau lakukan disini? Apa kau berusaha menakut-nakutiku?” Wooyoung kini menghentikan langkahnya tepat di hadapan sosok itu. Ia menggerakkan wajahnya mendekati sosok itu untuk lebih memperhatikan wajah yang tertunduk di hadapannya.

AARRRGGKH!!

Wooyoung berteriak begitu sosok yeoja di depannya mulai menegakkan kepala dan menatapnya dengan tatapan menyeramkan. Ia jatuh terduduk sambil berusaha untuk menjauh dari sosok itu.

“Apa kau tau dimana namjachinguku?” Tanya sosok itu dengan suara yang terdengar menggema dan menyeramkan sambil perhalan mendekati Wooyoung.

“Ya, a-aku tidak tau siapa yang kau cari. Kumohon biarkan aku pergi!” Wooyoung segera bangkit berdiri dan berlari di sepanjang lorong untuk menjauh dari sosok yeoja menyeramkan itu. Benar kata Chansung, sosok itu sangat menyeramkan, wajahnya putih pucat seputih kertas.

Wooyoung memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, namun nihil. Sosok itu sudah tidak berada di belakangnya. Ia pun menghentikan langkahnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Wooyoung dapat merasa lega untuk beberapa saat, namun tidak lama setelah itu ia kembali dibuat terkejut saat kembali menoleh ke arah depan. Wajah sosok yeoja itu berada sangat dekat dengannya.

AARRRGGKH!!

Wooyoung kembali berlari ke arah yang berlawanan dari arah larinya tadi. Langkahnya terhenti ketika kepalanya secara tidak sengaja membentur tembok dengan keras. Tubuhnya ambruk di lantai. Lampu senter yang ia genggam sedari tadi terlepas dari tangannya dan bergulir membentur tembok dengan kondisi yang masih menyala.

–<><>–

Taeyeon membuka matanya lalu bangkit dari sandarannya di tembok. Ia mendengar suara teriakan dari lantai dua.

“Aku seperti mendengar suara teriakan namja menyebalkan itu? Ada apa dengannya?”

Taeyeon berjalan cepat menghampiri sumber suara. Ia menaiki anak-anak tangga untuk segera sampai ke lantai dua. Tidak jauh dari tangga, Taeyeon menemukan sebuah lampu senter milik Wooyoung. Ia lalu mengarahkan lampu senter miliknya ke sekitar. Betapa terkejutnya Taeyeon begitu melihat tubuh Wooyoung tergeletak tak sadarkan diri dengan kening yang terlihat sedikit memar.

“Ya, Wooyoung-ssi, gwaenchanha? Sadarlah!” Taeyeon menepuk-nepuk pelan pipi Wooyoung–berusaha menyadarkannya–namun tidak membuahkan hasil. Namja itu pingsan.

Dengan susah payah Taeyeon menegakkan tubuh Wooyoung hingga terduduk dan bersandar di tembok. Karena tubuh namja itu yang sangat berat, akhirnya Taeyeon hanya bisa membiarkannya terduduk di tempat karena tidak kuat untuk membawanya lebih jauh. Taeyeon ikut duduk di samping Wooyoung yang masih tak sadarkan diri. Ia memperhatiakn kening Wooyoung yang terlihat berwarna biru di sisi sebelah kiri.

“Sebenarnya apa yang terjadi hingga ia bisa terluka seperti ini?” Tanya Taeyeon pada dirinya sendiri. “Sekarang apa yang harus kulakuan? Apa aku harus meminta bantuan?” Taeyeon meraih ponselnya dari saku celananya. “Aish~ baterainya habis. Mengapa harus disaat seperti ini ponselku tidak dapat diajak bekerja sama?” Keluhnya kemudian.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya ia memutuskan untuk menemani Wooyoung sebentar hingga namja itu sadar. Ia membiarkan namja itu bersandar lemah di bahunya untuk beberapa saat. Tapi karena merasakan sandaran Wooyoung yang terasa sangat berat, akhirnya Taeyeon menuntun kepala Wooyoung untuk berbaring di atas kedua pahanya. Dengan begini Taeyeon tidak terasa terbebani.

Taeyeon kembali meneliti luka di wajah Wooyoung dengan senternya. “Sepertinya cukup parah,” ucapnya dengan suara pelan. Matanya beralih memperhatikan wajah namja itu. “Wajahnya tidak terlihat menyebalkan bila sedang tertidur seperti ini,” Taeyeon tersenyum-senyam menatap wajah Wooyoung yang sangat polos bila sedang tertidur.

Cukup lama Taeyeon menunggu Wooyoung sadar, namun namja itu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Taeyeon mulai terlihat kelelahan. Kelopak matanya perlahan meredup hingga akhirnya ia ikut tertidur dengan posisi duduk.

–<><>–

“Sebenarnya apa yang mereka berdua lakukan di dalam? Mengapa Wooyoung belum juga keluar dari gedung itu?” Tiffany terlihat paling tidak tenang dari yang lain. Sudah tiga jam sejak Wooyoung dan Taeyeon memasuki gedung tua kampus, tapi belum juga ada satu pun yang kembali.

Para penonton yang tadinya padat kini mulai berguguran meninggalkan lokasi. Mereka lebih memilih menunggu hasil pertandingan di esok hari.

Selain Tiffany dan member 2PM, Seohyun pun masih menunggu dengan gelisah di depan gedung tua kampus. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya–Taeyeon–yang sangat takut akan gelap.

“Apa tidak lebih baik kita menyusulnya ke dalam?” Usul Tiffany mulai tak sabar.

“Lebih baik kita tunggu sebentar lagi!” Ucap Chansung memutuskan.

–<><>–

Wooyoung menerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Gelap. Ia. Tidak dapat melihat apapun. Ia meringis beberapa kali sambil memegangi keningnya yang terasa perih. Ia juga merasakan sesuatu yang empuk di alas kepalanya. Namun ia belum bisa memastikan apa itu.

Dengan susah payah, Wooyoung meraih lampu senter yang paling dekat dengannya lalu ia arahkan cahaya itu tepat ke atas kepalanya. Mata Wooyoung membulat begitu melihat Taeyeon tengah tertidur sambil memangkunya yang bersandar di paha yeoja itu.

Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa tidur di pangkuannya? Tanya Wooyoung dalam hati. Ia belum bangkit dari sandarannya di paha Taeyeon. Ia masih berusaha mengingat-ingat kejadian yang membuatnya pingsan.

Wooyoung telah mengingatnya. Ia ingat sesosok yeoja yang mengejarnya membuatnya membentur tembok hingga tak sadarkan diri.

Mengapa ia mau menolongku? Padahal aku menakut-nakutinya hingga menangis tadi. Cukup lama Wooyoung bertahan di posisinya sambil menatap wajah polos Taeyeon di atasnya menggunakan lampu senter.

Aku sudah keterlaluan padanya, padahal ia begitu peduli padaku. Wooyoung masih berkata-kata dalam hati kemudian mulai bangkit dari tidurnya hingga terduduk di samping Taeyeon. Dengan perlahan ia arahkan kepala yeoja itu untuk bersandar di bahunya. Dengan begini Taeyeon akan merasa lebih nyaman.

Wooyoung kembali memejamkan matanya, kemudian kembali tertidur dengan posisi duduk.

 

To be continued…

 

131 thoughts on “Be My Lady (Part 3)

  1. Iiihh,.serem jga t4x itu,.apalgii tadi Wooyoung oppa juga ng’liat penampakan sosok hantu yeoja itu,hihihiii *merinding bacax,.

    Aah,so sweet,kyakx bisa cinlok niih,ahahaee:D

  2. So sweet sih, tapi yang baca ikut tegang deg-degan 😀 kena karma kan tuh bocah.
    Ini kenapa malah pada tidur? Ini gedung tua bukan hotel.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s