[FF Freelance] Cinderella in Joseon (Part 1)

Title                :    Cinderella in joseon part 1

Author            :    Iyane DongKyuChul

Cast                 :    SUPER JUNIOR

                              Han Ji eun & crazy elf

                              Sohee and Jessica as oenni

Length            :    Chapter

Genre              :   Mix

 Previous part: Prolog

Disclaimer      :  sebelum baca part 1, di mohonkan untuk membaca Cinderella in Joseon prolog terlebih dahulu, biar nyambung baca part 1-nya.

Cerita ini terinpirasi dari banyak film saiguk, tapi aku Cuma mengambil tentang penceritaan kekuasan di zaman jesoen dan cerita ini juga terinspirasi dari Cinderella story dengan alur kepunyaan aku, cerita asli karya aku. hehehe

Aaa… sebagai catatan mungkin akan ada beberapa kosa kata kerajaan (bahasa korea kuno) yang akan muncul, seperti hwangthaeja jeona artinya yang mulia pangeran mahkota, mama di tujukan untuk pemanggilan kepada anggota kerajaan perempuan seperti untuk permaisuri, ibu suri yang artinya yang mulia, sedangkan untuk raja biasanya di panggil cheoha atau jeona. barulah untuk pangeran tanpa embel-embel mahkota di panggil thaeja. Bigung mama adalah putri mahkota.

Abamama itu artinya ayah (sebutan ayah oleh pangeran), ibu di panggil eomeoni. (kok salah makhlum aja aku asli Indonesia** plakkk alesannn

Akh pokonya gitu-gitulah, ntar akan paham kok baca. Sebenarnya aku juga bingung jelasin nya hahhaha

Hope enjoyed …^^ ^^

****—-*****

“Apaan itu, walaupun semua berharap nyata. Hei itu hanya dongeng yang akan terjadi duaa banding 100 di kehidupan sekarang.. Kau mau berharap apa lagi?” aku menatap tajam pada peri gila itu, yang benar saja dia menyuruhku berperan jadi cinderella pada dongeng ciptaannya. Gadis lemah yang mau-maunya disiksa ibu tirinya yang menyebalkan itu tanpa perlawanan dan dengan naifnya meninggalkan sepatu di jalan, kurang kerja. Dan sekarang peri gila itu mengirimku ke dongengnya menyuruhku memerankan dengan baik menjadi cinderellla disini?. Cih, sial. Akan ku kacaukan ceritanya.

“kirim aku ke tahun 2012 kembali, aku tak sudi hidup di zaman kuno ini, tanpa teknologi tanpa kecanggihan apapun”

“tidak sebelum kau melaksanakan tugasmu”

cringg…

Aku melihat peri itu menggoyangkan tongkatnya mengubah gaun biru sapphire selututku menjadi baju yang hampir aku sebut pengemis

“yak, apa yang kau lakukan hah?” dia tersenyum. Ku akui senyumnya manis, cih dia pikir aku akan luluh. Tidak.

“kau masih keras kepala, lakukan saja jika tidak kau akan lebih lama dsini” dia benar-benar mengancamku.

“siapa yang akan jadi pangeranku?”

“kau akan tau nanti ji eun-a.!” oke aku tak peduli, awas saja jika dia tak sesuai inginku

“siapa yang akan jadi kedua oenni tiriku?”

“YAK, KENAPA KAU JADI BANYAK TANYAK NONA SOMBONG DAN ANGKUH?”

glek, aku menelan ludahku karena teriakannya “A-ku. . . Aku hanya ingin tau” mencoba tenang masih dengan angkuhku, menyembunyikan takutku. Aiss kenapa kakiku malah bergetar

Sial. Dia melihatnya.

“liatlah disana, jessica dan sohee” ucapnya lirih

“MWOYA?” mataku menoleh cepat.. Mataku menangkap sebuah rumah sederhana dan hampir bobrok. Menyebalkan. Aku beralih pada ke dua gadis cantik yang membuatku mual. Peri gila itu benar-benar mempermainkan emosiku.

Aku berjalan menghampiri kedua oeni tiriku. Asal kau tau saja, aku membenci mereka. Kau tau kenapa? Karna mereka dekat dengan seorang namja yang sangat aku sukai di tahun 2012. Tapi sayangnya dia hanya bisa aku pandang tanpa bisa mengatakan say hello sekalipun karena hanya aku yang mengenalnya. Ini hadiah, aku bisa bermain kecil. Peri bodoh , maafkan aku mulai mengacaukan cerita dongeng tololmu.

Aku tersenyum tipis sembari menghampiri sohee.

“hai sohee oeni, bagaimana kabar mu hari ini, kuharap buruk” sapaku dengan menggoyor kepalanya kasar.

Drukkk, jessica mendorongku kasar, hampir saja aku terjatuh. “APA YANG KAU LAKUKAN HAH? DIA OENNIMU DAN ADIKKU” ucapnya tajam, aku melihat kilatan marah dimatanya. Tentu saja dan wajar.

“kakak tiri” ucapku dengan santai, menambah marahnya. Aku menoleh pada sohee. Dia hanya diam, menangkap pandanganku lalu berhambur ke rumah bobrok itu. Aku yakin itu rumah kami. Hai peri tolol, apakah dirumah itu ada AC?

Bruuukkkkkkkk. . .

sohee kembali dengan menghempaskan setumpuk pakaian dihadapanku, membuatku bingung. Cerita cinderellla sepertinya akan segera dimulai.

“cuci semua itu sampai bersih di kali, jangan pulang sebelum kau menyelesaikannya. Jika tak ada, bersiaplah kehilangan jatah makan malammu”

sial, dia berhasil mengancam dengan makanan. Pandanganku beralih pada setumpuk pakaian kotor itu. Sebenarnya berapa orang penghuni rumah jelek itu? Kenapa bajunya bisa sebanyak itu?. 1 gerobak sampah. Okh tangan halusku. Aku akan mengutuk peri gila dan kedua makhluk gila itu. Akh mereka orang saraf, gila, sinting, penjahat yang harus di singkirkan.

***

Aku menyelusuri hutan kecil, jalanan tanah hingga tiba di sungai ini. Mataku menyapu ke sekeliling tempat. Indah. Bahkan kau bisa tidur dsini, kicauan burungnya seperti alunan musik alam yang tak akan pernah kau temukan di tahun 2012, merdu. Anginnya sejuk. Apalagi dengan bukit bukit kecil di seberang sungai ini. Tak ada polusi udara hanya ada udara segar. Dan itu membuahkan pertanyaan untukmu. Benarkah ini sungai han yang aku kenal? Benarkah ini sungai kebanggaan bangsa korea?

Huamm aku mengantuk,, aku menumpuk baju-baju itu menjadi alasku. Tanpa sadar mataku malah terpejam, menjadikan tidur yang paling lelap.

Tham thum tham cring akh tush cring thum thum thum. . .

Aku menggeliat pelan mengembalikan kesadaran dari tidur panjangku yang terkacaukan oleh bunyia-bunyian aneh. Aku menutup wajahku dengan tangan tanpa berniat membuka mataku menghadang silaunya matahari yang menyembul di antara daun-daun rindang. Aku memajukan kepalaku kebelakang mendekatkn diri pada pohon besar di belakangku mencoba menjauhkan mataku dari silaunya matahari, mencoba tak peduli dengan keberisikan itu. Kemudian Membuat mataku senyaman mungkin untuk dapat terpejam dan melanjutkan kegiatan tidurku. Aku mencoba mengacuhkan keberisikan yang kian menjadikanku jengkel.

Thum dush cring cring thum thummm cring hiaaakkkk…

Berisik.. Brengsek dari suaranya aku tau itu sekarang bunyi pedang. Apakah mereka berniat berperang disaat aku tidur?… Aku bahkan masih enggan membuka mata atau sekedar menoleh melihat pertunjukan di balik pohon ini. Mereka takkan pernah bisa mengganggu jadwal tidurku.

“pangeran, apakah anda mendengar sesuatu sejenis dengkuran?” tanya seorang pria, mungkin pengawalnya.

“MWOYA?” kali ini dia berhasil membuka mataku merasakan ada cairan bening segar disekitar mulutku, akh aku berhasil membuat pulau baru  seoul disana, rekor yang bagus untuk beberapa saat di jam tidurku, aku mengelap kasar dengan baju-baju yang ku jadikan alas tidurku lalu aku menoleh ke belakang di balik pohon besar ini, guna melihat siapa orang-orang ini, berani sekali mengataiku. Yak apakah dengkuranku terlalu berirama? Keterlaluan, bahkan aku tak memakai mikrofon.

“Sebaiknya kita pergi, ini akan membahayakan kita” ucap pria lain nya

Aku melihat seorang laki-laki  mengenakan hanbok dengan jaegori yang paling mewah kurasa di zaman joseon ini sedang menunggang kuda, sekilas aku melihatnya saat mata kami bertabrakan. Sayangnya dia terlalu cepat membuang pandangannya tanpa membiarkanku mengenalinya. Entahlah aku merasa akrab dengan wajahnya

Sang pemilik kuda itu melenggak pergi menyebrangi sungai yang tak seberapa dalam itu dengan cepat di ikuti beberapa pengawalnya.

Aku memandangi daerah sumber keributan tadi. Tak ada siapapun disana, hanya ada bekas rerumputan yang telah layu karena terinjak. Akh mungkin mereka cuma latihan atau bermain bukan kah di sini tempatnya cukup nyaman. Apalagi sekedar tidur siang. Hahaha

kau tau, ada sesuatu yang aneh. Aku mencoba mereka ulang kejadian tadi di memori otakku.

“pangeran, apakah anda mendengar sesuatu sejenis dengkuran?”

“PA PA PANGE . . . RAN?” jeritku merasa bodoh “kenapa aku tak menyadarinya, ji eun-ya kau pabo” tuturku lagi “aish aku harus mengejarnya dan membuatnya mengambil sepatuku, cerita ini akan ending lebìh cepat, aku jenius, dan peri gila itu bodoh”. Ucapku pada diri sendiri, aku merasa pintar.

Aku baru akan bangkit dari dudukku Tapi jangankan mengejar, aku bahkan tak bisa bangun, leherku seperti tercekik, seperti ada orang yang menarik kerah bajuku, menahanku untuk bangkit.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH?” teriak sebuah suara.

Ku tolehkan arah kepala pada sumber suara

Akhhh peri gila ini lagi

“YAK, Untuk apa kau disini? Apa hobimu berteriak padaku?”  tanyaku garang. aku benar-benar ingin mencincang peri bodoh ini “kau tau aku bisa melempar sepatuku padanya, dan berlari, besoknya dia akan mencari pemilik sepatu ini, cerita ini ending, aku bisa pulang DARI ZAMAN KUNO INI” tukasku lagiku dengan melakukan tekanan pada beberapa kata.

“dan kau akan langsung di gantung, kau tak bisa pulang, menyedihkan mati di zaman joseon, mati di zaman yang kau sebut kuno. Kau menghilang di tahun 2012, tanpa mayat karena mayatmu tertingal di masa lampau. Kau puas dengan penjelasanku NONA JENIUS??” jelasnya, kali ini dia benar. Aku harus mencari cara lain.

“bahkan aku masih memaafkanmu setelah mengataiku gila dan bodoh” expresinya berubah. Apa peduliku, dia yang mengirimku kesini menjalankan dongeng konyol ciptaan nya.

“kau lagi-lagi mempermainkan emosiku, cuci ini semua. Kau tidak lihat cuacanya? Bahkan ini hampir sore.” Peri itu kembali mengatur nafasnya ketika melihat raut wajah datarku.

“tidurmu seperti orang mati, apa selama ini kau tak pernah tidur? Ha? Atau kau ingin pulang besok pagi?” ucapnya sarkatis, kemudian dia tersenyum menyebalkan.

Aku menatap langit biru, peri gila itu lagi-lagi benar. Menyebalkan..

“ya kau, bukankah tongkatmu sangat berguna?”

“kau pikir aku akan menggunakan energi tongkatku pada hal-hal kecil seperti itu?, tugasku hanya mengawasimu jadi lakukan saja tugasmu dengan baik NONA” ucapnya sebelum menghilang dari hadapanku. dia benar-benar membuatku jengkel dengan tingkahnya, cih, apakah dia pikir begitu menyenangkan muncul dan hilang tiba-tiba?. Satu hal yang ingin ku lakukan adalah menendangnya dari cerita konyolnya..

Aku memperhatikan cucian yang akan menghancurkan tangan halusku. Benar ada yang salah, setidaknya aku pernah melihat ajhumma pembantuku mempergunakannya. “YAK PERI GILA DIMANA SABUNNYA???. . .”

“bukan urusankuuuu….” teriak peri itu panjang di udara tanpa memperlihatkan wujud sama sekali, hanya gema suaranya yang terdengar saling bersahutan di antara pepohonan. sedetik aku merasa kasihan dengan sungai ini harus mendengar suara cempreng milik peri gila itu.

Aku berkacak pinggang memperhatikan cucian ini. Sialan, bahkan secuil sabunpun tak tampak di zaman  kuno ini. Aku mengingat kembali bayangan bagaimana ajhumma mencuci semua pakaianku tanpa mesin cuci, jujur saja aku tak mengerti cara mencuci. Benar ini tak sesusah yang ku kira, Cuma menyelupkannya dalam air, menguceknya sebentar dan selesai. Cih ini sangat mudah.

Aku merenggangkan otot-ototku yang terlanjur kaku, kemudian menatap langit yang sudah berganti warna menjadi gelap di sinari cahaya bulan pertama.

Krueek kruek. . .

Aku meraba perutku yang mengeluarkan suara nyaring.

“akh benar-benar lapar, ini sungguh melelahkan. Mengangkat pakaian-pakaian itu dari air kemudian memerasnya sungguh menyiksa badanku. ingin rasanya menangis jika seperti ini”

aku kembali memandangi langit, memandangi sinar bulan purnama. Aku merasakan angin dingin sungai han menerpa wajahku. Gesekan-gesekan pepohonan mendengung, membuatku memperhatikan sekelilingku. Suasana tiba-tiba menyeramkan. Aku menyadari satu hal, bulan purnama. Ya bulan purnama, bukankah bulan purnama mempunyai sejarah yang panjang dalam hal-hal dunia kegelapan yang akan mengubah malam menjadi malam paling menyeramkan. Dan disaat yang sama kelelapan bayangan putih dan menyeramkan akan hadir. Aku menelan ludahku pahit. Aku mengingat beberapa serial televise yang menampilkan betapa mengerikan malam purnama disaat malam menjelang. Bulu kudukku berdiri. Tanpa berfikir panjang aku memasukkan cucian ke dalam ransel keranjang dari rotan, secepat kilat.

Auuu. . . . Auuu  auuuuuuuu

deg, suara longlongan srigala saling menyahut menambah betapa mengerikan malam.

Aku tak akan mati disini sendirian.

“peri gilaaa. . . .” teriakku, dan sedetik kemudian dia muncul di hadapanku. Aku tersenyum tipis.

“YAK, KAU INGIN MATI DI TANGANKU HAH, SEKALI LAGI KAU MENAMBAHKAN EMBEL-EMBEL ituu. . .” dia menghentikan kata-katanya memperhatikan sekeliling.

“mwo?” aku memandangnya sekilas sebelum beralih pada gesekan-gesekan pohon-pohon seakan ingin merayakan pertengkaran kami lagi “Jika aku mati di tanganmu atau mati ditempat ini sendirian, tak ada yang melanjutkan ceritamu, kau tau? Hubungan kita simbiosis mutualisme, araso?” aku menatap nya tajam

auu. . Au au. . .

Grek grek grek

kami saling memandang ketakutan seakan ludah saja akan makin sulit ditelan. Gonggongan serigala, bunyi-bunyiann aneh kian Menambah daftar betapa mengerikannya tempat ini.

Aku mencengkram lengannya, menariknya pergi.. .”kaja”

Tapi peri itu berseringai aneh padaku, namun matanya tetap berkeliling kanan kiri kami seolah meneliti dari setiap sela-sela pohon itu siapa yang akan muncul.

“ck ck ternyata orang sepertimu bisa merasakan ketakutan ya?? Hahaha, aku ingin tertawa melihatmu saat ini” peri gila ini masih saja terkekeh menertawakan ketakutanku. Membuatku ingin menendangnya.

“kita akan melewati hutan ini berdua!!” kecamku sengit tak membiarkan gengamanku terlepas mudah dari lengannya. Tak akan pernah aku mengalami ketakutanku seorang diri. Bukankah dia yang mengirimku ke zaman kuno ini??, bukankah lebih adil jika semua harus di bagi berdua.

“hahaha, kau takut? , ini bukan tugasku” tukasnya sambil berusaha melepaskan cengkraman kuatku pada lengannya. Wajahnya pucat pasi bersirat ketakutan ketika daunan kering diterbangkan angin malam. Dan dia masih masih bersikap seolah semua hanya aku yang mengalami ketakutan dan dia tidak sama sekali

“le… le… lepaskan aku” pintanya kemudian sambil memandangi sekelilingnya. Yang kian gelap saat kami mulai memasuki area jalanan setapak yang gelap, pengap, dingin dan sepi.

“yak kau, kenapa masih saja berakting, kau pikir aku bodoh?”. Dia tak mengubris bentakanku dan masih saja mengamati sekelilingnya dengan sarat ketakutan luar biasa, sambil mengayunkan tongkatnya agar dapat mengeluarkan cahaya semacam senter.

“cih, bagaimana kau ketakutan, kau tau setan dan dirimu itu sejenis, sama-sama makhluk menakutkan yang tak bisa di lihat dengan kasat mata maupun dengan mikroskop sekalipun. Memalukan” gumamku.

Dia memandangiku. Aku mengangkat sebelah alisku.

“yak kau tak tau? Cih, mereka itu menakutkan, wajahnya jauh dari kesan cantik sepertiku, aku tinggal di kayangan dan mereka…” ucapan nya tergantung ketika sebuah longlongan serigala kembali terdengar di telinga kami, sesaat aku merasa sensasi terpaan angin dingin menerpa wajah kami berdua kembali. Seseorang tanpa menyentuh tanah berwarna putih seperti terbang diantara kami. Aku menatap peri gila itu, dia menatapku. Kami saling memandang mencoba mengatur rasa. Ini selalu akan berakhir buruk

“lari, kita harus lari” ucapku datar kemudian.

“hana, d-dul, sssssssset” ucapnya gagap di antara tarikan nafasnya

“AAAAAAAAAAKKKKKKKHHHHHHHH…………….”

Menjelang pagi…

“HAN JI EUNNNNNNNN, KAU APAKAN BAJUKUUUUUU…………….” Suara Jessica menggelegar seisi rumah.

****

Aku takkan menyerah mudah, setidaknya tak akan membiarkan mereka mengancamku dengan makanan lagi. Aku berusaha berkeliling tempat ini mencari uang dengan caraku. Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku kesal yaitu kedua oenni sialanku itu. Aku juga tak mengerti bagaimana mungkin mereka tetap saja mempesona di zaman kuno ini, hiak itu menyebalkan membuatku muntah. Zaman 2012 dan zaman joseon ini membuatku benar-benar harus menggigit jari karena mereka. Dan yang menyedihkan adalah gaun mewah yang kubeli dengan mahal di paksakan diganti dengan pakaian hanbok yang ribet, parahnya adalah hanbok paling buruk yang pernah kulihat di sejarah hidupku. Dan hanbok yang kupakai adalah dengan kombinasi jaegori (baju bagian atas pada hanbok) kuning kusam dan chima (rok/ bawahan pada hanbok) merah bata yang tak kalah kusamnya. Menambah buruk penampilanku. Sungguh membuatku menggeleng kepala bagaimana orang-orang di zaman ini hampir semuanya memakai warna dan jenis yang sama denganku, tanpa mengeluh ini buruk sekalipun. Selera mereka benar-benar buruk.

Aksi jual beli disini masih sedikit di penuhi orang-orang, jalanan tanah yang sesekali  menerbangkan debu membuatku tak menyangka bahwa ini yang di sebut pasar. Mataku tanpa sengaja menangkap seorang gadis berhanbok sama percis dengan yang kukenakan. Mulutku terbuka lebar, tak percaya. Aku terus memandanginya sampai ia menghilang di balik keramaian.

Aku melihat seorang ajhumma penjual buah di sebelahku. “kau bisa pinjamkan aku ruang tertutup?” dia memandangku heran, tak lama dia menunjukkan sebuah ruangan. Aku bergegas masuk kesana. Aku sungguh tak peduli dengan aturan atau adat zaman kuno ini. Aku tak kan pernah menyamaiku dengan mereka. Aku menggerai rambutku yang tadinya hanya terikat daengi (pita), membiarkan rambut ikal berwarna merah kecoklatan tergerai kemudian membelahnya dua bagian sebelum mengikatnya dua bagian, kiri dan kanan. Sebagai tambahannya aku membiarkan poniku jatuh memperlihatkan betapa aegyonya wajah yeoja sepertiku. Hal biasa yang dilakukan setiap yoeja di tahun 2012 akan terlihat luar biasa di zaman ini. Ini menarik.

Aku keluar dari ruangan itu, beberapa pasang mata menatap gaya rambutku aneh, beberapa menatapku tanpa kedipan atau tabjub yang kebanyakan para namja, sedangkan beberapa ajhumma tua hanya memandangku sekilas dan kemudian melanjutkan kegiatan jual beli. Aku melihat beberapa buah apel yang terlihat ranum, merah dan harum. Tanganku mulai gatal ikut dalam acara pilih memilih buah apel.

“bagaimana pekerjaan di istana?” tanya seorang pembeli pada pembeli lainnya

“aissy sungguh melelahkan, apalagi sejak kepulangan pangeran dari pelayaran dari barat. Terlalu banyak acara jamuan makan, membuat para dayang kewalahan. Apalagi beberapa anggota kerajaan dan bangsawan silih berganti datang melihat pangeran. Kau tau? Bahkan pangeran sering kali kabur karena bosan”.

“akh benarkah, aku akan bertemu pangeran kalau begitu” ucap seorang gadis dengan raut wajah senang. “dan dia akan memilihku jadi istrinya, ketika melihat wajahku” ucapnya dengan penuh percaya diri membuatku mual mendengar ocehannya.

“yak kau” aku memperhatikan dirinya “ apa kau tak sadar bentuk dirimu hah?? Dan kau dengan tak tau malunya berkata seperti itu? Apa kau pernah berkaca?” tanyaku sarkatis. Matanya melotot sempurna kepadaku. Seolah dengan matanya ia akan menelanku hidup-hidup.

Dengan acuhku, aku memasang tampang angkuhku lagi “waeyo, tak terima?, saranku adalah sebaiknya berhenti bermimpi nona” ucapku sengit.

Kali ini dia memperhatikan penampilanku. Aku kembali memasang tampang aegyoku, sambil memutar-mutar ujung rambut ikal panjangku.

“apa kau gingsaeng?” sepatah kata darinya membuatku panas, apa aku terlihat seperti itu? (gingsaeng = pelacur)

“da.. dae daega?” aku menunjuk hidungku sendiri tak percaya. Dia mengangguk acuh. Membuatku panas.

“YA!!!” aku menjambak rambutnya hingga daengi maupun kepangannya terlepas, dia menarik rambutku membuatku menambah beberapa kekuatan kembali menarik rambutnya dengan tanganku yang bebas akibatnya dia juga menarik rambutku dengan tangan satunya.

“KU BILANG LEPASKAN AKU!!!”

“YA!!! KAU YANG LEPASKAN KU!”

“YA!!! KAU BEGITU INGIN CARI MATI HAH?!“ dia mengeraskan tarikannya

“A A A….. “ erangku hebat, sebagai balasannya tak kalah sadis akupun menendang kakinya yang tertutupi chima (rok pada hanbok) sehingga memberikan sebuah bunyi dan aku yakin Tepat sasaran.

Namun berakibat lebih parah, kami berdua terjatuh tanpa melepaskan tangan dari namanya jambakan. Kami bergelinding di tanah dengan kaki saling menendang. Sekejab aku melihat sekeliling sudah ramai. Bahkan beberapa orang berusaha memisahkan kami, termasuk ajhumma penjual buah, dan dayang istana tadi. Tapi kami bagaikan surat dan perangko atau bagaikan  kentut dan baunya, begitu susah memisahkan diri.

“yak kubilang berhenti kalian para yoeja. Bersainglah secara adil, jika kalian menginginkannya. carilah di istana timur dan barat, aku dengar dia sering di kedua tempat itu!!!” Teriak dayang itu marah, dan kemudian pergi meninggalkan keramaian orang dan pertengkaran kami. Info baru itu menghentikan kegiatan kami.

Kami saling membuang wajah ketika mata kami saling bertemu. Aku melihatnya berantakan, bajunya kotor dengan debu. Aku merasa tak kalah buruk dengan keadaanku. Sedetik kemudian aku melihat peri gila itu muncul lagi disampingku.

“kau benar-benar berhasil membuat masalah lagi han ji eun-ssi” ujarnya datar dengan melipat tangannya di  bawah dadanya.

Setidaknya aku mendapat sebuah info peri gila

***

Author Pov

 Joena dan permaisuri sedang menikmati teh tujuh rupa bunga di istana kerajaan.

“Thaeja Jeona tibaaaaaaaa” teriak seorang dayang

Heechul membungkukkan badan kemudian seorang pelayan menarik salah satu kursi agar bisa di duduki.

“bagaimana kabarmu hari ini Thaeja?” tanya permaisuri

“terima kasih mengkhawatirkanku permaisuri”

Perhatian ketiganya terhenti ketika seorang pelayan menuangkan teh, kemudian mundur perlahan  ketempatnya semula.

“jeona, aku berharap anda dapat membatalkan pengangkatanku menjadi putra mahkota”

“apa kau berniat terus tinggal di luar istana?, hanya putra mahkota yang bisa tinggal di istana.”

“pemakaman hyung belum lama abomama” seru heechul naik satu oktaf, emosi.

“thaeja! Jaga bicaramu pada kaisar” bentak permaisuri,

“eomeoni, abamama beberapa tahun kalian mengusirku dari istana, melakukan pelayaran ke barat tapi tiba-tiba menyuruhku kembali ketika hyung sudah tiada dan memaksaku menjadi putra mahkota. Itu tak pernah adil, bukankah masih ada kim jong woon ”

“thaeja, panggil abomama dengan jeona!”

“de, araso permaisuri” ucap heechul dingin kemudian pergi meninggalkan tempatnya.

Permasisuri marah besar, jeona menyentuh tangan permaisuri mencoba menenangkan

“dia masih belum menerima kematian putra mahkota kim heejong yang secara mendadak, biarkan saja”

‘jeona…” rengek permaisuri.

“pengawal, ikuti dia” perintah jeona

***

Han Ji eun pov

Benar-benar menyebalkan kenapa sebuah pekerjaan tak bisa kudapatkan di zaman kuno ini. Perhatianku teralihkan pada gang sempit, kulihat beberapa orang tergeletak begitu saja tak berdaya. Kurasa seorang pria berhasil memukul semuanya.

Aku menajamkan penglihatanku, akh ini benar-benar menyebalkan. Peri sialan itu apa juga mengaburkan ingatanku?, kenapa aku selalu merasa namja itu tak asing.

Kulihat seseorang dari arah belakangnya mengambil sebilah kayu sepertinya dia akan memukul laki-laki itu. Buru-buru kugigit apel yang di berikan ajhumma penjual buah tadi, setelah selesai kuperhatikan keadaan sekeliling, berharap peri bodoh nan sialan itu tak muncul menyaksikan aksi pahlawanku, anio aku hanya tak suka jika satu lawan banyak di menangi oleh yang banyak, bukankah itu tak adil.

Dalam sekejab ku lempari lelaki yang memegang kayu itu dengan sampah apel milikku.

Kena…!

Aku sedikit menggaruk kepalaku, mendongak ke atas agar terkesan angkuh “aisyy kenapa selalu ada pemandangan tak enak hari ini, zaman kuno!” tuturku sengaja, seandainya peri itu melihat aksiku setidaknya ia tak mengira aku sedang berbaik hati.

Puas, aku beranjak lari dari sana sebelum namja itu mengejarku.

***

Heechul pov

“ya! Bukankah sudah ku bilang jangan mengikutiku, kau ingin mati heh?” aku mengapit leher pengawal ini dengan lenganku.

“aa ….. aa….ampuni kami pangeran, baginda raja menyuruh kami”

“akh” teriak seseorang dari belakang, saat aku menoleh kulihat tongkat kayu yang di pakai dayang pembantu jatuh ke tanah bersamaan sebuah apel yang baru saja di makan terkotori debu saat jatuh.

Hahahhahha……

Aku tertawa keras, mengamati apel dan dirinya yang mengaduh kesakitan. Lemparan yang dahsyat, sepertinya aku harus berterima kasih pada …

Kulihat seorang yoeja berjalan cepat, akh bukankah dia yoeja tukang ngorok di tepi sungai han itu?

“ya!” panggilku, tapi dia keburu berlari. Baiklah bukan urusanku, lebih baik aku ke istana timur mengganggu bocah nakal itu

“ya kalian, jangan ada yang mengikutiku” ucapku sambil menendang salah satu bokong mereka.

***

Author Pov

Ji eun berjingkit-jingkit dengan susah payah pada pagar istana changdeok. Ia sedikit terkagum dengan istana yang berbeda dengan masa depan. Ia mengintip kedalam sana dan bertanya-tanya sendiri apakah kim jong woon yang bermain pedang adalah pangeran yang ia cari. Keasyikan terganggu ketika tiba-tiba batu pagar yang ia pegangi bergerak seakan mau terjatuh yang menimbulkan decitan.

“siapa disana?” teriak kim jong woon tersadar dengan sebuah suara. teriakan pangeran kim jong woon membuat ji eun terkejut dan buru-buru menunduk. Dia bergetar dan takut.

“sial, apa yang harus kulakukan, aku akan mati jika tertangkap di jaman ini.  ottoke…ottoke?” gumamnya pelan.

“apa yang kau lakukan di perkarangan istana ini, yoeja?”

Tubuh jieun terhenyak ke belakang, perlahan dengan rasa takut ia menoleh kesampingnya pada sumber suara. dengan rasa takut ia mengamati orang itu dari bawah ke atas. Namja ini tak terlihat seperti pengawal ataupun seseorang dari istana, pakaian hanboknya bukan dari sutra namun berbahan satin, sama dengan dirinya. dan ehm, boleh ku katakan, ia lebih mirip gelandangan miskin dengan bulu-bulu kecil menghiasi dagu dan dibawah hidung, sederhananya kumis halus dan juga jenggot kecil nan sedikit menghias dagunya.

“akh kau membuatku kaget” ucapnya lega.

Belum hilang kekagetannya, ia mendengar suara derak langkah kaki, secepat kilat ia mengapit tangan namja itu, berlari bersama kembali memasuki pekarangan pemukiman.

Ji eun maupun heechul berlari bergandengan tangan tanpa mereka sadari. Walaupun cukup kaget dengan aksi gadis itu, hari itu heechul merasa aneh dengan dirinya, kenapa dia harus ikut berlari.

Mereka berhenti di sebuah tempat makan, dengan nafas yang ngos-ngosan.

Ji eun salah tingkah ketika menyadari ia berpegangan tangan dengan namja yang tak di kenalnya itu, melepaskannya dengan buru-buru. Sedangkan heechul memandang aneh pada ji eun, dan tersenyum meremehkan. Heechul menganggap gaya rambut yoeja di sebelahnya sangat aneh.

***

Ji eun Pov

 Kulihat namja di sebelahku tersenyum merendah, “apa kau tak pernah melihat yoeja cantik sepertiku?” tanyaku angkuh. Aku benar-benar kesal sebenarnya, jika saja ia tak muncul dan menampakkan ujung kepalanya. Aku mungkin bisa meniru suara kucing.

“mwo? Kau percaya diri sekali, jika para pengawal tau kau itu pengintip aku benar-benar tak bisa membayangkan kau akan mati tergantung”

Sial, namja ini…

“ya!, aku menyelamatkanmu ara, jika aku tak membawamu lari bersamaku, tak kujamin hidupmu hari ini selamat”

“cih, joengmal?” serunya lagi-lagi meremehkan, “aku tersanjung”  ucapnya tak peduli.

“kau benar-benar tak bisa terima kasih, aku tak peduli sekarang aku lapar. Kau harus memberiku makanan” ucapku tajam, dan menyeretnya pada tempat makan yang sedikit ramai.

Ku perhatikan lantai tanah disini, debunya beterbangan kecil , “sangat jorok” gumamku

“bicaramu sombong sekali, kau berlagak seolah-olah kau itu putri mahkota ataupun seseorang yang hidup lama di istana. Gaya bahasamu juga sepertinya bukan berasal dari sini. Dari mana kau berasal!?” tanyanya.

Aisy, namja ini, jika kubilang kau juga tak percaya. “tentu saja aku berasal dari sini, ha-nyang”

*seoul pada masa joseon di namakan ha-nyang.

Kulihat aura wajahnya menatapku curiga, aku menggebrak meja. “ya, kau harus percaya padaku. Gara-gara kau aku bahkan tak bisa menatap lama yesung, kim jong woonku”

“wuahahahhahahahaha, KIM JONG WOONMU?, wuahhahahah, kurasa aku tau kenapa kau mengintipnya”

Aisy tawaannya, membuatku muak. Kenapa aku bertemu dengan namja ini, padahal aku sangat senang bertemu super junior yesung-namja aneh itu. “ya berhenti tertawa”

“ara-ara” ucapnya diantara tawa.

“siapa namamu?, aku akan mempertimbangkan dirimu menjadi temanku. Ini tawaran menarikkan?”

Ia memajukan wajahnya yang terhalang meja kecil yang di penuhi 2 botol arak dan makanan diantara kami “bagaimana jika aku keberatan menjadi temanmu” bisiknya “notemune, yoeja sombong dan kasar”

“YA!” seruku lagi tajam. Dia terkejut.

“aisy, kau pemaksa sekali. Aku Xi Che, ARA?”

“Xi Che?, aaa…. Greeso. Kau orang yang terpilih berteman denganku”

“itu terdengar begitu sial” gumamnya. Aku menatap namja sialan itu sengit. Tak sengaja aku malah menatap pemandangan yang sama sekali tak menyenangkan. Dua orang gelandangan tampak begitu menyedihkan.

“sebenarnya makanan di zaman ini tak begitu enak, malah aku bosan. Dulu aku bisa makan makanan enak, ramyon, hamburger, stick, atau tinggal menelpon toko pizza jika aku benar-benar lapar” ucapku. mataku mengitari keliling takut-takut jika peri gila itu muncul. Tak ingin ia melihat kebaikan hatiku, memuakkan.

Xi Che menatapku kebingungan. “kau menyebutkan apa? Ha.. ham bu ger, sticke?, nama apa itu?”

“aisy sudahlah kau tak kan tau” ucapku malas. Mataku benar-benar sakit melihat pemandangan gelandangan itu.

“ya apa kau pangeran?” tanyaku padanya, dan tiba-tiba saja Xi Che tersedak dan terbatuk-batuk. Ia memukul-mukul bagian dadanya “apa maksudmu?”

“ei….., ya kau tak lihat itu?” Tunjukku pada gelandangan itu. “bagaimana mungkin di istana begitu berimpah ruah buah makanan, sedangkan rakyatnya hampir mati kelaparan. Aisy benar-benar menyebalkan, jika saja aku bertemu pangeran pertama-tama aku akan menendang perutnya yang buncit itu sebelum menikah dengannya” ucapku secepat kilat.

Kulihat Xi Che menganga lebar dengan mulut penuh dengan nasi, matanya yang bulat terbuka lebar seakan biji matanya akan keluar

“bisakah kau memberikan mereka sesuatu?” tanyaku lembut. Mulutnya yang menganga tertutup kembali, kulihat ia berusaha mengembalikan ekspresinya seperti semula.

“neo… pertama kau mengatakan pangeran berperut buncit apa kau pernah melihatnya heh?” , Xi Che menggebrak meja membuat mangkok makanan yang kosong sedikit terbang terangkat.

“kedua setelah menghinanya habis-habisan, menendang perutnya kau mau menikahinya? Apa kau pikir dia akan menikah dengan yoeja kasar, sombong dan angkuh sepertimu? Heh” ucapnya dengan mata melotot dan mulut masih bersisakan makanan.

Aku menggebrak meja  “ya! Kenapa kau yang jadi marah, apa aku harus mempertegas. Dia itu takdirku dan dia akan menikah denganku” seruku dengan penuh emosi.

Dia mencibirku dan tertawa mengejekku “kau jangan bermimpi, dia tak akan pernah menikahi orang sepertimu, jangankah menikah jatuh cinta padamu saja itu sangat menjijikan”

Namja ini benar-benar membuatku marah. Kuraih gelas yang terbuat dari bambu dan mengguyurkan isinya ke wajahnya. Rasakan!

“KAU PIKIR SIAPA DIRIMU HEH, PENGAWAL KERAJAAN AKAN SEGERA MENANGKAPMU DAN KAU AKAN DIHUKUM GANTUNG, BERANI-BERANINYA KAU MENGHINA YANG MULIA PANGERAN” ucapnya

“YA!” bentakku.

Kurasakan air dingin merembes ke wajahku, kulihat ia melakukan hal yang sama. Menyiramku dengan air dari gelas bambu.

“NEO…..” tunjukku ke wajahnya, dengan segera aku menjambak rambut Xi Che sekuat mungkin. Dan aku merasakan ujung kepalaku merasa sakit, laki-laki ini melakukan hal yang sama. “bukankah kau namja?, lepaskan tanganmu bodoh”

“tanganmu yang seharusnya menyingkir dari kepalaku, kau tau kepalaku sangat berharga. Lepaskan aku”

BYUURRRRRRRR….

Aku melepaskan jambakanku, dan dia juga melakukan hal yang sama. Tubuh kami basah dengan air. Aku mengendus-ngendus bau menyengat yang datang dari bajuku, kulihat Xi Che melakukan hal yang sama. Kemudian mata kami beralih pada orang yang menyiram kami. Kulihat seorang yoeja berkacak pinggang dengan tangan memegang ember dari kayu.

Mataku menyipit, memperhatikan dengan lekat yoeja itu. Bukankah ia yang tadi di pasar?

“neo….?” Tanyaku terkejut

“neo…. ?, kau lagi?” tanyanya dengan tampang murka padaku. Benar-benar sial hari ini.

“kalian berdua, dari tadi hanya membuat keributan. PERGI DARI SINII………………” teriaknya.

Yoeja ini menyeret kami berdua keluar hingga pagar tokonya. Meninggalkan kami dengan penampilan kusut dan bau, lebih menyedihkan dari pada pengemis yang tadi.

Aku menoleh ke sisi kiri, Xi Che tak jauh berbeda denganku. Aku benar-benar membenci namja ini.

Xi Che melakukan hal yang sama, kemudian kami saling membuang muka dan berjalan ke arah berlawanan.

Awas saja jika bertemu dengannya lagi.

“kau benar-benar hebat hari ini, dalam satu hari , dua kali kau membuat joseon benar-benar seperti area tinju ji eun-ssi”

Kepalaku langsung menoleh ke samping, peri gila ini lagi.

***

Heechul pov

Aku singgah ke istana changdeok, kulihat jung woon masih berlatih pedang kali ini ia tak berlatih sendiri seperti tadi kini dia berlatih dengan pengawalnya Ryeo-wook . Mereka menghentikan latihannya ketika melihatku. Ryeo-wook  langsung mundur berada di belakang jung woon.

“ada apa dengan penampilanmu hyung?” tanyanya menatapku heran “lalu mana pengawalmu?”

Emosiku langsung membuncah ketika jung woon mengungkit penampilan, “rakyat jelata itu aku akan menghukumnya, berani sekali dia menyentuhku” ucapku sambil membunyikan jari-jariku.

“hyung, kau bisa menceritakan padaku apa yang terjadi padamu, apa ini terjadi karena kau meninggalkan pengawalmu lagi”

“ini terjadi gara-gara yoeja itu” ucapku berapi-api. Aku benar-benar membencinya sampai ke ubun-ubun.

“yoeja?”

“hmm, ne yoeja”

“seorang pangeran calon putra mahkota, kim heechul, hyungku kalah dengan seorang yoeja?” tanyanya dan tertawa cengengesan, kulihat ryewoook menahan tawanya. “ini terdengar menggelikan” ocehnya.

“kau tak melihat dirinya, yoeja itu sangat mengerikan. Aisy”

Kulihat mereka masih terkekeh bersama. “ya! Kulihat kau sangat kelelahan, berhentilah berlatih. Sudah lama kita tidak melakukan hal ini. Bisakah kita mandi bersama kali ini?”

“akh baiklah” ucapnya. “wooki-ssi, katakan pada dayang agar menyiapkan keperluan segera” perintahnya kemudian.

Ryeo-wook  membungkuk “ne, thaeja”

Aku berjalan memasuki istana ini, ku hentikan langkahku dan kembali berpaling pada jung woon sejenak, sesaat kulihat rautan panah sebelum mataku beralih ke dirinya. “akh jong woon-a , aku menolak menjadi putra mahkota. Bukankah kau adikku, aku akan menyarankan dirimu pada abomama”

Kulihat ia hanya tersenyum datar, akh pasti alasan itu lagi.

Author pov

Heechul memainkan air di kolam pemandian seorang diri, kepalanya menoleh ringan saat jung woon masuk – ikut berendam bersama. Heechul menyunggingkan senyum khasnya beberapa detik sebelum matanya beralih memperhatikan ryeowook hanya berdiri tegap di pintu.

“tak ada penjahat di luar sana. Apakah kau hanya berdiri saja dan tak ingin masuk bersama kami?, bukankah tugasmu melindungi kami!. Bagaimana jika ku katakan hidungku bermasalah ketika mencium bau tak sedap dari dirimu. Sekarang bagaimana kau bisa menjelaskan bisa melindungi kami dari dirimu sendiri ryeowook-ssi”

Para pengawal yang berada disana tersenyum dengan perkataan blak-blakan heechul, sedangkan jung woon hanya tersenyum terkulum dan berkata pada pengawal pribadinya itu “masuklah, kau berkeringat lebih banyak setelah mengajariku hari ini”

Setelah mendengar perkataan jung woon. Ryeowook membuka bajunya dan ikut berendam bersama mereka.

Puas melihat pengawal ryeowook masuk ke kolam, heechul membuka suaranya. Mengidentifikasi namdongsaengnya.

“sejak kapan kau tertarik dengan bela diri, dengan anak panah, dan..” heechul menghadap ke jungwoon “pedang” lanjutnya. “bukankah diantara kita bertiga hanya kau yang paling membenci hal-hal mengenai itu”

“itu…”, jungwoon mulai bingung memberikan alasan.

“apakah sejak kematian hyung?, kudengar kau sempat mengurung diri bahkan tak ingin melihatnya di kuburkan”

Jung woon hanya meratapi langit terdiam beberapa lama sebelum akhirnya menjawab “hanya tertarik saja, terlebih ketika melihat keahlian bela diri wooki” tuturnya lalu menoleh ke ryeowook dengan sirat kesedihan yang terpendam. Ryeowook merasa sedikit terhenyak ketika namanya disebut, ia menoleh ke jung woon, mata mereka bertemu tanpa sepatah katapun keluar dari ryeowook.

“benarkah itu?” tanya heechul tak percaya.

“lalu kenapa kau selalu kabur dari pengawal dan malah berkeliaran ke kota?” tanya jung woon mengalihkan pembicaraan yang membuat heechul kelabakan, salah tingkah.

“kau juga sering kabur pada saat anak perempuan keluarga bangsawan lainnya ingin melihatmu terlebih pada saat jamuan makan” cecar jung woon lagi.

“memangnya itu salahku?, siapa suruh mengadakan jamuan makan hampir setiap hari”

“makanya kau kabur ke kota untuk bertemu seorang yoeja yang membuatmu ketempatku dalam keadaan menyedihkan?” selidik jung woon.

Heechul mengeram ketika di ungkit penampilan. Ia kembali mengingat yoeja perusak itu.

“siapa yang menemuinya? Aisy kau tak tau saja, aku ingin mencincang mulut sombongnya”

Jung woon tertawa saat melihat ekspresi hyungnya, sehingga membuat heechul menambah emosi kesal. Jung woon terus saja menggoda heechul yang sudah mengomel panjang karena yoeja itu. Seolah keberadaan ryeowook hanyalah orang asing yang tidak di undang.

Melihat keakraban keduanya, ryeowook tersenyum terkulum dan bangkit berdiri. Membuat pasangan kakak adik itu melihat ke arahnya.

“aku sudah selesai” tuturnya datar dalam keadaan menunduk.

Heechul dan jungwoon merasa bahwa mereka sedikit keterlaluan mengabaikan keberadaan ryeowook. Akhirnya jungwoonpun bangkit berdiri.

“sepertinya aku pun juga”

Ryeowook dan jungwoon keluar meninggalkan heechul sendiri.

Setelah mereka keluar, heechulpun ingin bangkit namun hidungnya mengendus-endus tubuhnya sendiri. Ia kembali merasa jengkel dengan aroma tubuhnya dan membenamkan kepalanya ke air ‘awas kau’ batinnya.

To be continue

itulah alasan kenapa namja pabo heechul , berewokan di covernya. kalian aja gak kenal siapa itu, ji eun juga gak sadar bahwa itu heechul. hohhohoho

thanks untuk waktu yang kalian berikan untuk membaca bacaan gak jelas ini.. ^^ Gomawo

6 thoughts on “[FF Freelance] Cinderella in Joseon (Part 1)

  1. Waaah publish juga akhrnya.. aku kenal loh dari awal kalo yg di cover itu heechul.. karna dia yeoboku (?) dalam keadaan apapun, penampilan apapun. pasti aku lgsg mengenalinya.. ahaha,.
    makanya aku lgsg tertarik bca ff ini krna main castnya dia..
    hihi

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s