Hello Schoolgirl (Part 6)

Author: Tirzsa

Title: Hello Schoolgirl

Main cast: 2PM’s Nichkhun & Wonder Girls’s Sunmi

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari film Korea dengan judul yang sama & film Thailand “First Kiss.”

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5

***

Minggu pagi yang cerah. Sunmi terbangun dan berjalan keluar kamar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. Ia menarik sisi bajunya yang melorot dan mendapati Nichkhun sedang memunggunginya di pantry. Matahari pagi yang tumpah ke dalam dapur menerangi setiap objek di sana dengan cahaya emasnya yang lembut. Nichkhun dengan segera dapat menyadari keberadaan Sunmi ketika yeoja itu menuju dapur dan duduk di meja makan.

Nichkhun membalikkan badan, menyisir rambutnya—yang baru saja Sunmi sadari berwarna cokelat gelap ketika terkena sinar matahari—dengan jari-jarinya yang panjang, lalu menyapa Sunmi dengan senyum hangat. “Selamat pagi.”

Sunmi merasa takjub dengan pemandangan pagi itu. Nichkhun terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Sungguh berbeda, batin Sunmi yakin. Ia mengamati Nichkhun yang membawa dua gelas cangkir teh ke atas meja dan duduk bersama. Sunmi tersentak, menyadari perbedaan itu dengan mata membulat. Rambut Nichkhun kini disisir rapi, klimis. Ia tampak terlihat seperti seorang duda dengan banyak anak dan juga kaya raya. Sangat menawan, batin Sunmi.

Ahjussi, apakah kepalamu baru saja menghantam sesuatu?” tanya Sunmi, selidik. “Kau bersikap aneh sekali pagi ini.”

Nichkhun menghirup aroma tehnya dan tersenyum anggun. “Jeongmalyo? Aku merasa biasa saja hari ini.”

Sunmi mengernyit, tak percaya. Ia meraih cangkir tehnya dan mengendusnya. Melihat tingkah aneh Nichkhun pagi itu membuat Sunmi kuatir kalau-kalau namja itu memasukkan racun ke dalam tehnya. Namun, mengendus aroma daun teh hijau yang wangi dan pekat itu, membuat Sunmi yakin bahwa tidak ada racun di dalam sana. Ia menyesapnya sedikit dan ternyata memang tidak ada.

Ahjussi, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Sunmi sambil meletakkan cangkir tehnya kembali.

Nichkhun mengusap sudut bibirnya dan menatap Sunmi. “Apa yang ingin kau bicarakan? Apa kau sudah berniat akan segera pergi dari apartemenku?”

Sunmi melirik sinis pada namja di hadapannya itu dan menggeleng. “Ani, bukan soal itu. Tapi soal pesta prom di sekolahku,” ucapnya. “Kau tahu, kan, pesta prom itu identik sekali dengan yang namanya pasangan serta Raja dan Ratu Dansa.  Aku begitu ingin bisa datang ke pesta prom dengan sempurna, tapi aku belum punya pasangan, jadi..”

Nichkhun memicingkan mata dengan selidik. “Kau ingin aku menemanimu sebagai pasanganmu?”

Sunmi mengangguk antusias. “Kau mau, kan?”

Nichkhun mendesah, menggeser cangkir tehnya dan tiba-tiba bangkit berdiri. “Aku tidak mau,” tukasnya.

Sunmi mendesah kecewa. “Waeyo?”

“Itu acara anak SMU, Sunmi!” tegas Nichkhun, menahan nada kesal dalam suaranya. “Dan umurku sudah 25 tahun. Aku tidak mau bergabung bersama teman-temanmu itu.”

“Lalu apa masalahnya jika kau berumur 25 tahun?” tanya Sunmi dengan nada memelas. “Bukan hanya karena kau sudah berumur 25 tahun, lantas kau tidak bisa hadir di pesta anak SMU!”

“Cukup!” teriak Nichkhun. “Sekali aku bilang aku tidak akan pergi, maka jawabannya akan tetap sama. Sebaiknya kau pergi mencari namja lain, jangan aku.”

Sunmi merengut kesal sembari melihat punggung Nichkhun yang menghilang di balik pintu kamar yang dibanting. Ia sedikit terkejut dengan reaksi Nichkhun yang dirasa berlebihan. Sunmi hanya mengajaknya pergi ke pesta prom, tapi mengapa Nichkhun harus sampai berteriak kesal seperti itu?

***

Pesta prom tinggal lima hari lagi dan ini membuat Sunmi merasa semakin kuatir dan gugup. Kecemasannya nyaris naik ke puncak kepalanya dan membuatnya stress. Dilihatnya punggung Nichkhun yang berjalan di depannya sedang memeluk kantong belanjaan. Sunmi menendang debu trotoar dengan ujung sepatunya dan menghela napas. Ia mendongakkan kepalanya dan menangkap sebuah boneka berbentuk hewan cumi-cumi terpajang di salah satu restoran. Sunmi mendekati jendela restoran itu dan meringis. “Omo, boneka itu lucu sekali.”

Nichkhun yang mendengar ucapan Sunmi, berbalik dan mendapati yeoja itu menempelkan dahi pada kaca jendela restoran. “Mwohaneungoya?”

Ahjussi, lihat!” Sunmi menunjuk boneka cumi-cumi itu dan melanjutkan, “Lucu sekali, bukan?”

Nichkhun menatap boneka cumi-cumi berwarna merah dengan mulut kerucut, tentacles yang pendek, dan kepala cumi-cumi yang sebesar kepala manusia berada di belakang kaca jendela. Ia melihat sebuah tulisan besar di sampingnya, “Dapatkan boneka ini secara gratis jika Anda bisa memenangkan lomba menghabiskan tteokbeokki dalam waktu 15 menit!

Ahjussi, bolehkah kau memenangkan lomba itu untukku?” pinta Sunmi dengan mata berseri-seri.

Shireo,” sergahnya cepat. “Aku tidak mau.”

Waeyo?” tanya Sunmi. “Aku begitu menginginkan boneka cumi-cumi itu, ahjussi.”

“Kalau begitu, kau saja yang mengikuti lombanya. Aku tidak akan mau.”

“Aku tidak bisa, ahjussi. Mulutku sedang sariawan dan aku tidak bisa makan yang pedas,” kata Sunmi sambil menarik bibir bawahnya dan menunjukkan bulatan  putih pucat pada bagian dalam mulutnya. “Lihat!”

Nichkhun bergidik. “Aish! Jorok sekali.”

Sunmi justru tersenyum bangga dan kembali memasang raut memelas. Ia menarik-narik saku jaket Nichkhun dan merengek dengan suara yang lebih keras, “Ahjussi, jebal. Menangkan lomba itu untukku. Aku mohon!”

Nichkhun benar-benar benci melihat Sunmi merengek padanya seperti seorang bayi dan ia tahu ia akan selalu gagal jika berhadapan dengan rengekan Sunmi yang menyebalkan. Maka, ia pun menyetujuinya dengan terpaksa dan Sunmi menjerit girang, lalu menggiringnya masuk ke dalam restoran.

Seorang yeoja bercelemek menyambut keduanya dan mempersilahkan mereka duduk di salah satu meja kosong di sudut restoran. “Anda berdua ingin memesan apa?” tanya si pelayan dengan ramah.

Nichkhun mendongak kearah jendela depan, di mana boneka berbentu cumi-cumi itu menunggu. “Aku ingin mengikuti lomba untuk mendapatkan boneka di depan sana. Boleh, kan?”

Si pelayan ikut mendongak ke jendela, mengangguk, lalu tersenyum pada Nichkhun. “Tentu saja, Tuan. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan tteokbeokkinya untuk Anda.”

Si pelayan menghilang di balik pintu dapur. Nichkhun menghela napas, sementara Sunmi menggosok-gosok telapak tangannya dengan tidak sabar. Tak berapa lama kemudian, si pelayan kembali dengan membawa semangkuk besar tteokbeokki dan mengalungi stopwatch di lehernya. Nichkhun dan Sunmi membungkuk kearah tteokbeokki itu dan menelan ludah. Tteokbeokki itu terlihat seperti kubangan darah dengan tulang-tulang putih kecil mengambang di atasnya. Asapnya mengepul ke atas dan aroma pedasnya membuat keduanya terbatuk.

“Peraturannya adalah Anda harus menghabiskan tteokbeokki ini dalam waktu 15 menit. Jika Anda dapat menghabiskannya dengan mudah, Anda boleh mendapatkan boneka cumi-cumi itu dan tidak perlu membayar tteokbeokki ini,” jelas si pelayan. “Namun, jika Anda gagal, Anda harus membayar harga tteokbeokki ini dan gagal mendapatkan boneka tersebut.”

Nichkhun mengusap keningnya dan menatap Sunmi yang menyeringai kearahnya. “Benar-benar menyebalkan,” gerutunya.

“Apakah sudah bisa dimulai sekarang?” tanya si pelayan.

Nichkhun mendesah, lalu mengangguk. Ia mengambil sendok dan bersiaga pada posisinya. Saat si pelayan berteriak, “Mulai!”, Nichkhun dengan sigap menyendok potongan kue beras itu dan menyuapnya ke dalam mulut. Ia nyaris terbatuk dan memuntahkan isi mulutnya ke luar ketika tidak sengaja menghisap aroma pedas itu melalui mulut. Nichkhun mendesis hebat ketika merasakan kuah tteokbeokki itu membakar lidahnya.

Ahjussi, kau pasti bisa! Ahjussi, kunyah! Telan, ahjussi! Telan!” seru Sunmi, menyemangati Nichkhun. Sunmi menoleh pada si pelayan yang sedang mengawasi stopwatchnya dan bertanya, “Bolehkah aku membantu menyuapinya?”

“Hm,” si pelayan menggumam, mencoba mempertimbangkan. “Aku rasa, boleh.”

Sunmi tersenyum, lalu meraih sendok lainnya untuk membantu Nichkhun menghabiskan tteokbeokki itu. Ia terus menyuapi mulut Nichkhun dengan tteokbeokki itu, hingga mulut Nichkhun menggembung seperti balon. “Telan, ahjussi! Kunyah dan telan!”

Air mata menggenang di pelupuk mata Nichkhun. Ketika ia mengedip, air mata itu jatuh, dan Nichkhun meringis sembari mengunyah tteokbeokki itu. Si pelayan terkikik geli melihat pemandangan itu. Bahkan aksi mereka berdua itu menjadi pusat perhatian seisi restoran. Beberapa orang memandang Nichkhun dengan iba, sementara yang lain terkikik-kikik geli.

Mulut Nichkhun menggembung, dipenuhi oleh tteokbeokki yang membakar mulutnya. Saat Sunmi hendak menyuapinya lagi, Nichkhun terbatuk dan memuntahkan seluruh isi mulutnya ke lantai. Semua orang meringis jijik, sementara Nichkhun menjerit meminta air.

***

Sunmi menelan ludah. Ia mengamati air wajah Nichkhun yang duduk di seberang pantry dengan bibir bengkak dan merah. Nichkhun balas menatap yeoja itu dengan sorot sinis.

Sunmi berdeham. “Ahjussi, karena kau sudah tidak berhasil mendapatkan boneka untukku, kau mau menggantinya dengan menjadi pasanganku di pesta prom nanti, bukan?”

Nichkhun mengusap bibirnya yang bengkak dan mendesis, “Kau bahkan masih berani memintaku untuk menjadi pasanganmu setelah kau berhasil membuat bibirku seperti ini, huh?”

Sunmi merengut. “Mianhae,” ucapnya dengan nada sesal.

Nichkhun menghela napas berat, lalu bangkit berdiri dan mengurung diri di kamar.

***

Nichkhun merebahkan diri di atas ranjang dan menghela napas panjang. Ia memejamkan mata dan menekan pelipisnya kuat-kuat. Pikirannya sedang kalut. Ingatan tentang pengalaman pahitnya tentang pesta prom membuat merasa drop. Nichkhun sebenarnya tidak berniat ingin menolak ajakan Sunmi untuk pergi ke pesta prom. Tapi, keadaan mendesaknya dan membuat Nichkhun merasa tidak nyaman.

Nichkhun mengingat dengan jelas, bagaimana pengalaman pahitnya saat pesta prom bisa terus terngiang-ngiang di kepalanya. Saat SMU dulu, ia pernah mengajak Victoria untuk menjadi pasangannya di pesta prom. Walau Nichkhun tahu kemungkinannya sangat kecil untuk pergi bersama Victoria—mengingat Victoria mempunyai banyak penggemar namja saat masih sekolah dulu—tapi Nichkhun tetap menaruh harapan pada surat cinta yang ia selipkan pada loker Victoria.

Lalu, beberapa hari kemudian, Victoria mendatanginya dan mengatakan bahwa ia mau pergi bersama Nichkhun ke pesta prom nanti. Nichkhun menjadikan moment itu sebagai kenangan yang tidak terlupakan saat Victoria tersenyum padanya dan memintanya untuk dijemput dan berdandan sebaik mungkin. Nichkhun bahkan meluangkan banyak waktu untuk merawat diri dan mengeluarkan banyak uang untuk meminjam setelan jas yang ia rasa cocok dari toko pakaian di sebelah rumahnya. Ia melakukan apapun untuk bisa tampil sempurna di depan seluruh teman-temannya dan juga Victoria.

Dan pesta prom yang ditunggu-tunggunya pun tiba. Nichkhun datang ke rumah Victoria 30 menit sebelum pesta dimulai, berniat ingin menjemput yeoja itu. Tapi saat ia datang, ia disambut oleh berita tidak menyenangkan yang disampaikan oleh orangtua Victoria yang mengatakan bahwa Victoria sudah pergi bersama namja lain ke pesta prom. Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya, Nichkhun terus mencoba menduga-duga, siapa namja yang sudah ‘mencuri’ posisinya dan juga berusaha berpikir positif bahwa Victoria tetap akan menjadi pasangannya.

Namun, setibanya di pesta prom, Nichkhun harus menelan pil pahit kekecewaan bahwa Victoria sudah menjadi pasangan Kyuhyun. Bahkan saat Victoria bertemu dengan Nichkhun, yeoja itu melempar senyum ramah, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Kyuhyun juga sempat menepuk pundak Nichkhun dan menanyakan di mana pasangannya. Nichkhun saat itu hanya bisa melirik pasangan Kyuhyun dengan hati miris dan berbisik dalam hati, “Pasanganku sedang bersamamu sekarang.”

Nichkhun mengusap wajahnya dan menghantamkan kepalanya ke atas ranjang hingga ranjang itu bergetar. Dan yang lebih membuatnya membenci dirinya adalah sampai sekarang ia belum juga bisa melupakan Victoria setelah apa yang dilakukan yeoja itu padanya. Bahkan diam-diam Nichkhun masih berharap bisa mendapatkan hati Victoria.

Nichkhun beranjak dari ranjangnya dan menarik laci meja kerjanya. Sebuah foto dari pesta prom beberapa tahun silam masih ia simpan. Di foto itu, ia berdiri seorang diri. Tanpa pasangan. Tanpa Victoria.

***

“Bagaimana? Apakah Nichkhun mau pergi bersamamu?” tanya Sohee di ujung telepon.

Sunmi mendesah dan menggeleng. “Ani. Aku sudah mengajaknya dua kali dan ia tetap tidak mau.”

“Oh, jeongmalyo? Mungkin caramu salah. Seharusnya kau melakukan sesuatu yang bisa menyenangkan hatinya agar ia mau pergi bersamamu,” kata Sohee.

“Seperti?”

“Entahlah. Gunakan otakmu untuk berpikir. Kau mengenalnya lebih baik dariku, jadi kau pasti tahu apa yang disukainya.”

Sunmi menggembungkan pipinya dan berpikir keras untuk beberapa lama, lalu berseru pada Sohee, “Sepertinya aku tahu apa yang akan kulakukan untuk membujuknya, tapi kau harus membantuku.”

“Bagaimana aku bisa membantumu?”

“Nanti aku akan menghubungimu esok pagi.”

***

Nichkhun berdiri di depan cermin kamarnya, hendak mengenakan dasi pada kerah kemejanya saat mendengar suara ribut dari luar kamar yang sepertinya berasal dari dapur. Ia mengurungkan niat untuk mengenakan dasi dan berjalan keluar kamar untuk melihat keadaan. Begitu ia keluar dari kamar, wangi makanan menyerbu indra penciuman Nichkhun. Ia menoleh ke dapur dan mendapati Sunmi dengan pakaian seragam serta celemek sedang sibuk menata meja makan.

Sunmi mendongak dan tersenyum saat melihat Nichkhun menghampirinya. “Selamat pagi, ahjussi!”

Nichkhun tidak mendengarkan Sunmi dan menunduk melihat semua jenis makanan yang ada di atas meja makan. “Ige mwoya? Kau sendiri yang memasaknya?”

Sunmi mengangguk bangga. “Oetteoh? Kau menyukainya?”

Nichkhun mengulum senyum dan berkata, “Biasanya aku sarapan dengan membeli sandwich di toko roti yang kulewati, tapi sekarang sepertinya aku boleh sarapan tanpa harus mengeluarkan uang lagi.”

“Kalau begitu, duduklah, lalu kita sarapan bersama.”

Nichkhun menggeser kursi dan duduk berhadapan bersama Sunmi. Keduanya mulai menikmati sarapan masing-masing. Sunmi memanfaatkan kesempatan itu untuk diam-diam menghubungi Sohee lewat ponsel yang ia sembunyikan di bawah meja makan. Ia menyelipkan headset di belakang telinganya lalu ke telinga agar Nichkhun tidak dapat menyadarinya.

Sunmi-ah, kau bisa mendengarku?” tanya Sohee di ujung telepon.

Ne!” sahut Sunmi.

Nichkhun mendongak. “Mworago?”

Sunmi menggeleng kearah Nichkhun dan tersenyum. “Lanjutkan saja makanmu.”

Kau sedang bersama Nichkhun sekarang? Bagaimana bisa?” tanya Sohee curiga.

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan,” bisik Sunmi dengan mimik kaku. “Sekarang, katakan padaku apa yang harus kulakukan.”

Baiklah. Yang perlu kau lakukan adalah memuji dirinya agar ia merasa tersanjung. Tataplah matanya dan katakan, ‘kau memiliki mata yang indah’!

Sunmi mengangguk, lalu menatap Nichkhun yang sedang menghabiskan sarapannya. Nichkhun yang merasa risih ditatapi seperti itu, mendongak dan balas menatap Sunmi dengan alis mengerut. Sunmi berpangku tangan, mengerjap-ngerjapkan matanya dan tersenyum manis pada namja itu. “Aku memiliki mata yang indah, bukan?” ucapnya.

Nichkhun mengernyit, bingung. “Mwo?”

Ya Tuhan, bukan kau, babo!” sergah Sohee di ujung telepon. Sunmi menarik diri dan ikut mengernyit. “Katakan padanya bahwa dia memiliki mata yang indah, bukan malah memuji matamu sendiri!

Sunmi menepuk dahi dan mengutuk diri. Sementara itu, Nichkhun mengamati yeoja itu masih dengan perasaan aneh. Nichkhun menempelkan telapak tangannya di dahi Sunmi dan berkata, “Gwaenchanha? Kau terlihat aneh sekali hari ini.”

Sunmi terkekeh pelan. “Ne, gwaenchanha,” ucapnya sembari mematikan sambungan teleponnya dengan Sohee. Sohee sama sekali tidak membantu, gerutunya dalam hati.

Masih dengan menatap risih pada Sunmi, Nichkhun menarik tangannya dan meletakkan sendoknya ke atas piring. Sarapannya telah habis dan sekarang ia sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia bangkit dari duduknya dan hendak mengenakan dasinya yang masih menggantung di lehernya, namun dengan sigap dan penuh inisiatif, Sunmi segera mencegat Nichkhun.

“Biar aku saja!” serunya sambil menepis tangan Nichkhun untuk menghindar.

Nichkhun mulai merasa curiga dengan perubahan sikap Sunmi yang drastis. Yeoja itu terlihat begitu baik padanya dan bahkan sampai urusan mengenakan dasi, ia juga ingin mengambil alih. Nichkhun mengawasi Sunmi saat yeoja itu mengikat dasi itu dengan rapi di lehernya.

Nichkhun memicingkan matanya dan berkata, “Aku merasa tidak mengenalmu pagi ini. Kau pasti melakukan semua ini dengan maksud tertentu, bukan?”

Sunmi mendongak kearah Nichkhun dan terkekeh. “Ne, karena aku sudah membuatkan sarapan dan mengikat dasimu, kau mau menemaniku untuk pergi ke pesta prom nanti, bukan?”

Nichkhun mengangkat sudut bibirnya hingga menyimpulkan sebuah senyum sinis dan menepuk-nepuk pipi Sunmi. “Aigoo~ Sudah kuduga kau masih bersikeras untuk membujukku menemanimu ke pesta prom. Tapi, jawabanku tetap sama, aku tidak akan menemanimu ke sana, jadi berhentilah membujukku. Arraseo?”

Sunmi menggigit bibir bawahnya dengan kesal dan merasa sia-sia. Aku bahkan sudah bangun lebih awal hanya untuk membuatkannya sarapan, gerutunya. Dan sekarang, ia masih menolak untuk membantuku juga? Menyebalkan! Karena kesal, simpul dasi yang masih dipegang olehnya ditarik dengan kencang sampai mencekik leher Nichkhun. Namja itu tersentak dan terbatuk karena simpul dasi yang menekan jakunnya dengan keras. Sunmi mendorong tubuh Nichkhun sampai ia terjerembap ke kursi makan, lalu melengos pergi begitu saja.

Nichkhun menatap Sunmi dengan kesal dan membentak, “Aish~ Dasar bocah tengik!”

***

Sunmi menatap buku pelajaran matematikanya dan mengetukkan ujung pulpen ke dahinya, berpikir keras. Tak berapa lama kemudian, ia kembali mengubah posisi tubuhnya dengan bertelekan siku di atas meja belajar dan kembali menatap rumus-rumus rumit di buku pelajarannya. Tapi, berikutnya, ia meringis dan membanting buku pelajarannya di atas meja, lalu mendesah panjang. Tugas sekolahnya begitu menumpuk, tapi Sunmi tidak bisa berpikir.

Pikirannya penuh oleh kekuatiran yang tidak berujung. Pesta prom akan dilaksanakan lusa nanti dan ia masih belum mempunyai pasangan. Sunmi sudah mencoba mengajak beberapa orang namja di sekolahnya, tapi seperti apa yang dikuatirkan oleh Sohee, semua namja di sekolahnya kini sudah memiliki pasangan masing-masing. Dan sepertinya, hanya tersisa dirinya seorang yang belum juga memiliki pasangan untuk ke pesta prom.

“Aish~” Sunmi mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Ia benar-benar merasa putus asa sekarang. Sunmi tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menjadi bahan lelucon Jiyeon dan dayang-dayangnya saat di pesta prom nanti ketika ia sudah dengan begitu percaya diri memamerkan pasangan yang dinanti-nantikannya, namun begitu hari itu tiba, nyatanya Sunmi hanya datang seorang diri.

Sunmi mendadak ingin sekali menangis dan berteriak, tapi ia sadar bahwa ia sedang berada di rumah orang lain. Nichkhun ahjussi. Sunmi mengusap wajahnya dan mendesah sekali lagi. Tiap kali ia mengingat wajah Nichkhun, rasa dongkolnya semakin menjadi. Ia seharusnya tidak punya alasan untuk membenci namja itu hanya karena Nichkhun tidak ingin menjadi pasangannya di pesta prom, tapi.. aish~ Sunmi mendesah lagi.

Aku tetap harus melakukan sesuatu! Sunmi bertekad dalam hati dan beranjak menuju pintu kamar Nichkhun. Ia mengetuk pintu itu dan memangil nama Nichkhun, tapi tidak ada sahutan dari sana. Sunmi mencoba mengetuknya lagi, lalu menempelkan telinganya ke daun pintu untuk mendengar suara. Mungkin dia sudah tidur, batinnya kecewa.

Sunmi memutar knop pintu kamar yang hening itu dan mendapati Nichkhun sedang terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam rapat. Bahkan, ia bisa mendengar suara dengkur Nichkhun yang samar. Sunmi terkikik geli, lalu merangkak ke atas ranjang dengan sangat pelan. Keheningan di kamar itu dikacaukan dengan guncangan hebat saat Sunmi tiba-tiba melompat-lompat di atas ranjang dan berteriak, “Ahjussi, ireona!”

Nichkhun terlonjak dari tidurnya dan dengan kalap menoleh kesana kemari dengan mata merah dan meredup. “Mwo? Mwo?” sahutnya panik.

Sunmi terbahak dan terenyak di atas ranjang. Nichkhun menoleh padanya dan mendesah kesal. “Mwohaneungoya?” pekiknya.

“Aku tidak bisa tidur, ahjussi,” rengek Sunmi.

Nichkhun memutar bola matanya dan merebahkan diri di atas ranjang. Ia menarik selimutnya dan bersembunyi di baliknya. “Itu bukan urusanku,” gumamnya. “Kembali ke kamarmu dan tidurlah. Ini sudah tengah malam. Lihat, tubuhmu sangat pendek karena kau kurang tidur.”

Sunmi merengut kesal, meraih bantal lainnya dan memukul kepala Nichkhun dengan bantal. “Brengsek!”

Nichkhun menyingkap selimutnya dan menyorot Sunmi dengan kesal. “Ya!”

Wae?” Sunmi balas menantang.

Nichkhun hanya mendengus, lalu kembali tidur. Tidak ada gunanya bertengkar dengan anak kecil, gerutunya dalam hati.

Pundak Sunmi terkulai lemas. Air matanya mulai menggenang. Ia merasa putus asa dan kesal. Nichkhun—satu-satunya orang yang ia harapkan bisa membantunya—malah tidak memedulikannya sama sekali. Sunmi mengamati wajah Nichkhun yang sudah kembali tertidur dan mengulurkan tangan untuk memencet hidung namja itu. Wajah Nichkhun yang tertidur mendadak berubah merah dan beberapa saat kemudian, namja itu kembali terlonjak dari tidur nyenyaknya dengan mulut megap-megap, mencari pasukan oksigen.

Nichkhun menoleh pada Sunmi dan berteriak marah, “Mwohaneungoya?!”

“Aku mohon, ahjussi,” Sunmi memelas. “Kau harus membantuku! Kau harus menemaniku ke pesta prom atau hidupku akan hancur untuk selamanya!”

Nichkhun mengusap dahinya dan mendengus kesal. “Harus berapa kali kukatakan padamu agar kau mengerti bahwa aku tidak ingin pergi ke pesta prom itu denganmu, huh? Asal kau tahu, aku juga ada rencana untuk lusa nanti dan aku tidak bisa menyia-nyiakannya karena yeoja yang kucintai akan datang ke sana dan aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Jadi, berhentilah mengajakku!”

Sunmi mengerjap-ngerjapkan matanya dengan perasaan aneh. Perkataan Nichkhun barusan seakan-akan adalah sebuah gelombang air yang sangat besar dan menyapu hatinya yang rapuh. Sunmi menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangisnya yang hendak meledak. Ia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Nichkhun yang masih menatapnya.

Sebelum Sunmi menutup pintu kamar, ia berbalik, berteriak kearah Nichkhun, “Aku sangat membencimu, ahjussi!” lalu membanting pintu.

Mata Nichkhun membulat saat melihat reaksi Sunmi. Ia tidak menyangka bahwa Sunmi akan bereaksi seperti itu dan kalau ia sedang tidak salah lihat, sepertinya, tadi ia melihat air mata mengalir dari mata Sunmi. Yeoja itu menangis.

***

Nichkhun berdiri di depan cermin kamar dan memperbaiki kerah kemejanya, lalu tersenyum puas. Ia tampak sempurna dengan setelan jasdan rambut disisir rapi. Nichkhun sudah siap pergi ke reuni angkatannya dan tidak sabar untuk bertemu Victoria. Ia sendiri merasa penasaran sudah seperti apa Victoria sekarang. Victoria pasti bertambah cantik, pikir Nichkhun sembari tersenyum pada bayangannya di cermin.

Setelah merasa puas dengan penampilannya, Nichkhun beralih keluar kamar. Tepat pada saat itu, ia melihat Sunmi juga keluar dari kamar tamu dengan dress hitam selutut dan rambutnya yang digerai panjang melewati bahu. Untuk beberapa saat, keduanya diam, saling mengamati diri masing-masing, lalu memalingkan wajah. Sunmi melirik sinis kearah Nichkhun, mendengus kesal, lalu berjalan mendahuluinya untuk keluar dari pintu.

***

Begitu turun dari taksi, Nichkhun berdiri terpaku di depan Mega hotel, tempat di mana acara reuninya dilaksanakan. Acara reuni SMU-nya diadakan di ball room hotel tersebut yang berada di lantai dua. Dalam perjalanan tadi, Nichkhun sempat bertukar pesan dengan Taecyeon yang sudah duluan berada di dalam. Menurut pengakuan Taecyeon, Victoria sudah berada di dalam. Ini membuat Nichkhun semakin merasa gugup dan kuatir.

Nichkhun mengecek penampilannya untuk terakhir kali lewat kaca pintu masuk hotel, lalu menghembuskan napas panjang. Walau ia tidak yakin bisa membuat Victoria merasa terkesima dengan penampilan istimewanya nanti, Nichkhun harus tetap dan berpikir positif. Ia tidak akan mengetahui jawabannya jika ia tidak mencoba, bukan?

Setelah memantapkan hati, Nichkhun masuk ke ball room dan disambut oleh wajah-wajah familiar. Beberapa sahabat SMU-nya, Taecyeon dan Wooyoung menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. Nichkhun membalas pelukan kedua sahabatnya itu sambil tertawa bahagia.

Omo, omo,” Wooyoung tertawa geli. “Khunnie, aku merasa sudah tidak mengenalmu lagi. Kau sangat tampan malam ini.”

Nichkhun menepuk pundak Wooyoung sambil tertawa saat sahabatnya itu mengamatinya dari bawah ke atas. “Bisa saja kau ini.”

“Uyong-ah, uri Khunnie tidak akan berdandan setampan ini bukan tanpa alasan,” kata Taecyeon sambil terkikik dan mendelik pada Nichkhun.

Wooyoung mengangkat alisnya untuk mengartikan maksud ucapan Taecyeon. Kedua sahabat Nichkhun itu saling mendelik satu sama lain, mengirimkan kode-kode rahasia. Wooyoung menepuk tangannya dengan riang saat akhirnya mengerti maksud ucapan Taecyeon. Keduanya lalu terbahak dan membuat raut Nichkhun panas.

Wooyoung merangkul Nichkhun dan berkata, “Untuk Victoria, bukan?”

Tak ada yang Nichkhun lakukan selain hanya tersipu malu. Wooyoung dan Taecyeon terkikik geli, lalu menoleh ke satu arah, tepat di mana meja panjang di sisi kanan ruangan yang menjadi tempat berkumpul para yeoja sedang berbincang dan menikmati wine. “Victoria ada di sana,” kata Wooyoung. “Ia yang menggunakan dress berwarna ungu itu. Kau melihatnya, bukan?”

Nichkhun memicingkan mata kearah yang ditunjuk Wooyoung. Ia melihat seorang yeoja yang sedang memunggunginya, mengenakan dress ungu dengan gelas wine di tangan kanannya. Rambut yeoja itu berwarna pirang panjang dan tergerai dengan indah melewati bahunya. Nichkhun bisa mengenali dengan mudah bahwa itu memang Victoria. Bagaimana gaya yeoja itu berdiri dengan anggun dan pinggulnya yang ramping sudah menunjukkan semuanya.

“Datangi dia sekarang, Khunnie!” bisik Taecyeon sambil menepuk bahu Nichkhun.

Nichkhun menelan ludah. Rasa gugup itu kembali menguasai dirinya. “Tapi—”

“Ayolah, Khunnie!” tukas Wooyoung. “Kau ini namja sejati, bukan? Ayolah! Datangi dia dan katakan sesuatu!”

Taecyeon dan Wooyoung mendorong bahu Nichkhun untuk maju dan mendekati Victoria. Nichkhun bisa merasakan jantungnya meloncat-loncat tidak tentu dan telapak tangannya terasa berkeringat dan dingin. Ia menelan ludah beberapa kali, lalu berdeham keras.

“Victoria-ssi..”

Mendengar Nichkhun memanggil namanya, Victoria menoleh dengan perlahan hingga rambut panjangnya berkibas dan mengusap pipi Nichkhun dengan lembut. Mendapati Nichkhun berada di belakangnya, Victoria tersenyum lebar. “Khunnie!” serunya girang.

Nichkhun balas tersenyum. Seperti dugaannya, Victoria bertambah cantik. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan sangat memesona. Tak pernah sekalipun Nichkhun merasa tidak dihipnotis oleh wajah cantik yeoja itu. “Long time no see,” ucapnya.

Victoria mengangguk. Ia melangkah kearah Nichkhun, mempersempit jarak keduanya hingga mata keduanya bertemu dalam jarak yang sangat dekat, lalu berbisik,“Yeah, long time no see..

***

Sunmi berdiri di seberang jalan sambil menatap lurus kearah gerbang sekolahnya. Sekolahnya tampak sudah ramai oleh para siswa dan siswi kelas 12 yang datang dengan pasangan mereka masing-masing. Sunmi menangkap siluet Jiyeon dan Seungri yang sedang bergandengan tangan memasuki gerbang sekolah mereka. Tekadnya untuk tetap datang ke pesta prom mendadak runtuh.

Keberanian yang sudah ia bangun selama dua malam terakhir kini hancur begitu saja setelah menyadari bahwa hanya ia satu-satunya yeoja yang tidak memiliki pasangan. Sunmi menggigit bibir bawahnya dan menghentak-hentakkan sepatu high heelsnya ke atas aspal. Apakah aku tetap harus masuk ke dalam atau mungkin lebih baik aku pulang saja?

Sunmi menggeleng dan mengepalkan tangannya. “Ani, ani,” gumamnya kepada diri sendiri. “Jika aku pulang dan tidak datang ke pesta prom, Jiyeon pasti akan mengatakan bahwa aku pengecut. Aku tetap harus masuk! Harus! Sunmi-ah, fighting!”

Sunmi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan kuat-kuat lewat mulut. Tekadnya sudah bulat. Setelah memantapkan keyakinan dan hatinya, Sunmi melangkah maju untuk menghadapi ketakutannya. Namun, begitu ia selangkah lagi melewati gerbang sekolah, ia kembali berbelok dan mundur ke belakang sambil meringis dan menggigiti kuku jarinya.

Omo, oetteohke?” gumamnya ketakutan.

“Sunmi-ssi?”

Bulu-bulu halus di tengkuk Sunmi berdiri. Ia berhenti menggigiti kuku jarinya saat mendengar suara yang terdengar horor di telinganya itu, lalu membalikkan badan dengan perlahan. Jiyeon tersenyum sinis kearahnya dengan kedua lengan dilipat di atas dada.

Jiyeon menyapukan pandangannya ke sekeliling, lalu bertanya, “Di mana pasanganmu? Kau tidak datang sendiri, bukan?”

Sunmi menelan ludah. “Hm, soal itu—”

Jiyeon memicingkan matanya dan tersenyum sinis. “Jangan bilang kau tidak datang bersama pasanganmu? Kukira kau ingin memamerkan padaku pasanganmu yang tampan dan hebat itu, bukan?”

Sunmi mengangkat dagunya. “Ne, geureumyo. Tapi, sayangnya, pasanganku tidak bisa datang karena.. karena..” Sunmi terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat, lalu berseru, “Karena dia sedang sibuk dan punya acara lain.”

“Ah~ Jeongmalyo?” Jiyeon mengangguk-anggukkan kepalanya dengan raut mengejek, lalu kembali memasang raut sinisnya. “Lihat, bagaimana pasanganmu lebih memilih pergi ke acara lain daripada pergi bersamamu. Bukankah itu menyedihkan?”

Para siswa dan siswi yang melihat Sunmi dan Jiyeon yang sedang bersitegang di depan gerbang sekolah jadi tergerak untuk mendekati keduanya dan bahkan mengerumuni mereka dengan penuh rasa penasaran. Sunmi melirik satu per satu wajah-wajah penasaran itu dengan kepala sedikit tertunduk. Ia mulai merasa malu dan sangat tersudut. Dan Jiyeon terlihat semakin puas menikmati kemenangannya.

“Teman-teman,” Jiyeon berteriak sambil menepuk tangan untuk merebut perhatian seluruh orang. “Sunmi sudah dengan sangat bangga dan menyombongkan diri soal pasangannya di hadapanku beberapa hari yang lalu, namun, lihatlah!” Jiyeon berhenti sebentar, menikmati reaksi teman-temannya dan melanjutkan, “Sekarang dia hanya datang sendiri tanpa pasangannya. Dan dia bilang, pasangannya sedang sibuk dan punya acara lain. Ironis sekali, bukan, bagaimana pasangannya lebih memilih pergi ke acara itu daripada bersama Sunmi?”

Lutut Sunmi bergetar kaku saat mendengar suara cekikikan dari mulut teman-temannya. Matanya terasa panas dan tangisnya nyaris meledak kalau-kalau ia tidak mencoba bertahan untuk beberapa saat lagi. Ya Tuhan, tolong aku, jeritnya dalam hati. Tolong aku, tolong aku, tolong aku! Sunmi terus berdoa dalam hati sementara tawa teman-temannya semakin mengeras, menyiksa indera pendengarannya. Ia menutup telinganya dan menggelengkan kepalanya. TOLONG AKU!

“Sunmi-ah..”

Suara tawa yang menggelegar tadi mendadak hening saat mendengar suara berat seorang namja di antara kerumunan itu. Semua pasang mata menoleh pada titik yang sama, tepat di barisan paling belakang di antara kerumunan itu. Sunmi ikut menoleh dan melihat sosok seorang namja yang tersembunyi di balik kerumunan orang itu.

Sunmi menelan ludah dan menggumam dalam hati, “Ahjussi, kaukah itu?

To be continued…

Advertisements

44 thoughts on “Hello Schoolgirl (Part 6)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s