Rouge Ange (An Angel With Red Wings) Part 1

Author : Awsomeoneim

Genre : Romantic, Fantasy, Past-Present Live,

Cast :

Main Cast :

ü  Shin Min Young (OC)

ü  Kris a.k.a Wu Yi Fan (EXO M)

ü  Sehun (EXO K)

Figuran :

ü  Shin Mun Hoon (Min Young’s Younger Brother)

ü  Shin Min Ah (Min Young’s Older Sister)

ü  EXO M & EXO K Members

ü  Others

+oOoOoOo+

Kalian pernah dengar tentang Rouge Ange? Hmm.. Melihat kedua alis kalian yang sedang bertaut, sepertinya mendengar ‘hal’ itu saja baru kali ini. Aku benar?

Hah.. tidak masalah jika kalian belum pernah bertemu dengannya. Aku akan menceritakan makhluk seperti apa itu Rouge Ange. Karena aku sudah 2 kali bertemu dengan makhluk itu.

Di kehidupan lalu, dan kehidupan masa kini…

Entah ikatan magis apa yang ada di antara kami, sehingga membuatku harus bertemu dengannya di setiap kehidupanku.

+oOoOoOo+

*Present*

Musim dingin sudah dimulai hari ini. Terlihat dari cuaca hari ini yang super mendung sejak pagi, tapi tidak setetes bulir hujan pun yang turun. Ah, jadi ingin bergelung di dalam selimut yang hangat ini sampai nanti nantinya nanti.…

Selimut ini satu-satunya media pengganti alat pemanas yang rusak sejak musim salju tahun lalu. Sangat menyebalkan kalau harus beraktivitas sambil begemeletukan.

“Shin Min Young-ah, mau sampai kapan kau menjadi kepompong begitu?” suara cempreng nam dongsaengku membahana di dalam selimut.

“Kau berisik sekali Shin Mun Hoon!” balasku dari dalam selimut.

“Kau mau mendengar suara cemprengku atau siraman air es??” ia kini menarik-narik sisi selimutku sekaligus berteriak lebih dekat pada telingaku.

YAA!! Jangan berteriak di telingaku!! Aku tidak punya cukup uang untuk berobat ke THT jika gendang telingaku sampai pecah gara-gara suara mautmu!!” Aku segera duduk tegak di kasur.

Itu membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan dari tempatnya berjinjit sehingga ia terhuyung dan hampir jatuh. Hampir. Hanya hampir. Menyebalkan! Aku dengan enggan menyibakkan selimut kesayanganku dan memanjat turun lalu menyambar handuk di kursi.

“Kau akan berangkat denganku lagi?” tanyaku sebelum masuk ke kamar mandi.

Mun Hoon menggangguk sambil merapikan kembali seragamnya di depan cerminku. Saat aku sudah berada di dalam kamar mandi, kudengar ia berteriak, “Nuna, aku akan sarapan duluan. Kalau kau terlalu lama mandi, kau hanya akan menemukan tumpukan piring kotor. Arra??” BLAMM, lalu suara pintu kamar yang ditutup dengan kasar yang kudengar.

10 Menit kemudian aku sudah berada di ruang makan dan menangkap basah Mun Hoon yang hendak mengambil potongan ayam terakhir di atas meja makan. Cukup dengan death glare untuk ia menarik kembali tangannya. Aku terkikik melihat wajahnya yang tertunduk dalam.

Kami makan dalam kesunyian. Hanya kami berdua yang tersisa di rumah. Appa belum pulang sejak 2 hari lalu dari tempat pemotongan kayu, untuk mengisi stok toko meubel kami. Umma sudah berangkat selepas subuh ke pertambakan ikan salmon, karena hari ini tambak kami panen. Eonni tentu saja sudah berangkat 1 jam lalu ke kampusnya.

Setelah sarapan, aku dan Mun Hoon akan berjalan ke halte bus, dan berangkat bersama karena kompleks sekolah kami berada di satu lokasi. Sebenarnya universitas Eonni juga berada di lokasi yang sama, hanya saja ia selalu beralasan masuk pagi sehingga hanya aku dan Mun Hoon yang berangkat bersama.

Setelah beberapa menit berlalu, kami tiba di tempat tujuan. Sebelum Mun Hoon melepas gandengan tangannya dariku, ia menunjuk sebuah kerumunan ramai di depan universitas Eonniku, Universitas Samchundong.

Nuna, kenapa ramai sekali di sana?”

Mollayo, yang jelas bukan ada kecelakaan karena… para mahasiswi itu tampak bersemangat ..” analisaku saat menatap gerombolan mahasiswi yang benar-benar riuh.

“Apakah ada artis terkenal yang akan datang ke sana?” tanya Mun Hoon lagi.

Belum sempat aku berkata ‘Mollayo’ untuk yang kedua kali, pertanyaan Mun Hoon sudah terjawab otomatis setelah sebuah bus –yang juga sempat lewat di samping kami- berhenti di depan kerumunan itu dan menyebabkan teriakan para yeoja makin bergema.

Aku dan Mun Hoon tetap bergandengan dan menatap ke arah kerumunan itu dengan tatapan heran. Satu per satu namja tampak turun dari bus itu, dengan gaya cool dan pakaian yang..wah. Jelas terlihat kalau mereka bukan artis biasa.

“AH!” Mun Hoon tuba-tiba menggoyangkan tanganku, “Nuna, aku tau siapa mereka! Aku pernah melihat salah satu personilnya!!”

Seiring dengan makin kerasnya teriakan para yeoja saat para namja di dalam bus itu turun bergantian, makin kencang pula Mun Hoon menggoyang-goyangkan tanganku dan sekarang ia juga sedang berjingkrak-jingkrak di tempat. Ada apa dengan nam dongsaengku?? -_-a

“Okay, okay.. aku dengarkan. Siapa mereka?” tanyaku pura-pura tertarik.. daripada Mun Hoon makin menjadi-jadi. Kalau lebih lama kuacuhkan, bisa-bisa ia salto di tempat..

“EXO nuna. Itu EXO!!” Kulihat kedua matanya berbinar penuh semangat. Ah, seperti saat Einstein berhasil menemukan rumus-rumus gilanya. Ups.

“Ooh, ne.. nuna tau. Itu Boyband baru yang sedang marak diberitakan akhir-akhir ini,” yeah, aku memang tau sedikit tentang mereka.

“Apakah kau Fanboy mereka?” tanyaku setelah terdiam sesaat.

Anio.. Aku tau dari para yeoja di kelasku. Mereka sama histerisnya dengan nuna-nuna yang ada di sana jika melihat foto / video mereka. Mereka sangat berisik, makanya aku tertarik untuk tau apa yang membuat mereka begitu gila,” bisa kulihat ekspressi menggebu-gebu Mun Hoon saat berkata demikian. Oh, nam dongsaengku, sepertinya.. kau juga sudah terinveksi virus Kpop. Ckckck.. =_=”

Arra.. kalau begitu, kau bisa ceritakan kepada teman-temanmu bahwa kau barusaja melihat EXO secara live nanti di kelas, Ok? Sekarang segeralah masuk. 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi,” ujarku sambil mengelus rambutnya yang hitam pekat, sama sepertiku.

“Ye, Nuna. Mereka pasti sangat iri!!” ujar Mun Hoon dengan cengiran lebar.

Setelah mengecup pipi kanan dan kiriku ia segera berlari melewati pagar masuk sekolah dengan kecepatan ekstra. Hm… dia sendiri pasti tidak sabar untuk jadi pusat perhatian para yeoja itu. Ah, semoga saja ia tidak jadi playboy di masa depan…

=o)o)o)(o(o(o=

[Sore hari, Rumah Keluarga Shin]

Aku sedang mencuci piring saat kudengar pintu di buka. Heels 7cm milik seorang yeoja berpostur semampai terdengar mendekat dan berhenti di depan mesin pendingin.

“Oh, Eonni..Oso oseyo* [selamat datang -informal-]” sapaku saat ia mencari-cari sesuatu.

Ia hanya bergumam menjawabku, lalu raut wajahnya tampak kecewa, “Min Young-ah, kenapa botol Jus Apelku tidak ada?”

“Sepulang sekolah Mun Hoon sudah meminumnya. Ia bilang ia sangat haus sehabis olahraga. Memangnya tidak ada lagi?” tanyaku sambil menghentikan kegiatanku.

Ish, itu botol yang terakhir.. Ck!” Eonni mendecak kesal sambil tetap berkacak pinggang di depan kulkas.

Eonni mau kubelikan?” tanyaku tanpa niat yang sesungguhnya.

Mulon imnida!* [tentu saja!] Aku sangat haus. Aku sudah sangat sibuk mengurusi kedatangan EXO di kampus pagi ini, dan aku sudah membayangkan betapa segarnya Jus Apel yang sudah ku dinginkan semalaman.” Ia menatapku dengan sebal.

‘Hey, bukan aku yang meminumnya! Kenapa kau menatapku begitu Eonni?!’

Arra, akan kubelikan setelah aku selesai dengan tumpukan piring ini,” ujarku sambil kembali menyalakan kran air di hadapanku.

Kukira setelah aku berkata seperti itu ia akan berkata, “Ah, ternyata kau sibuk.. Kalau begitu biar aku sendiri yang membelinya.”

Atau paling tidak ia harusnya berkata, “Ah, baiklah, biar aku yang menggantikanmu mencuci piring. Kau segeralah ke supermarket dan belikan aku Jus Apel!”

Tapi yang ia katakan justru, “Ppaliwa!! Aku sudah tidak tahan dengan rasa haus ini!” lalu ia menghentakkan lagi heelsnya memasuki kamar.

‘Ish, semoga heelsmu itu patah!’ kutukku dalam hati.

Dan.. setelah aku usai mencuci piring dan hendak membuka pintu, kudengar eonni berteriak dari dalam kamarnya, “Aaargh, kenapa heels kesayanganku harus patah?! Siapa yang dengan teganya mengutuk yeoja anggun dan baik hati sepertiku?!”

Aku tersenyum penuh kemenangan..kkk~

=o)o)o)(o(o(o=

Dalam perjalanan kembali dari supermarket, aku merapatkan jaketku. Ah, pantas saja eonni tidak ingin membeli sendiri jusnya, cuacanya sangat dingin seperti ini!! Kedua telapak tanganku sudah memucat sejak berangkat tadi. Aigoo bagaimana aku akan bertahan nanti malam?! Alat pemanas di rumah kan sedang rusak!

Ketika akan menutup pintu pagar, seseorang menahanku.

“Hey, agassi.. bisa jangan tutup pintunya dulu? Ijinkan aku masuk.. aku sangat kedinginan sejak tadi..” suara seorang namja.

Aku mengalihkan pandanganku dan… wa… apakah ini mimpi? Kenapa ada seorang raksasa di hadapanku?!

Ya, namja dihadapanku ini hampir menyaingi tinggi Namsan Tower tembok pagar rumah kami.

Nu..nuguseyo?” itu pertanyaan wajib sebelum kau membiarkan orang asing masuk. Itu yang dikatakan eomma sejak aku kecil.

“Akan kujelaskan di dalam. Sekarang bisakah kau membawaku masuk?? Jebaal~ Kau tidak lihat bajuku tipis begini?” nada bicaranya mulai merengek dan menjengkelkan.

“Tapi aku tidak bisa mengijinkan orang asing masuk..” bantahku.

“Kalau aku mengatakan aku anggota CIA apakah kau akan mengijinkanku masuk?” tanyanya dengan tatapan setajam elang.

“A..apakah kau.. anggota CIA?? Sungguh?” tanyaku penuh keraguan. Hey, dia terlihat lebih seperti model dibanding agen rahasia. Atau.. ini penyamarannya?

“Hahaha, tentu saja bukan! Aku hanya bercanda..” ia tertawa senang dan menyebabkan kepulan asap dari mulutnya keluar sangat banyak. Hm.. ini pasti karena udara semakin dingin.

“Kau mau mengatakan kalau kau orang baik – baik dengan membuat lelucon speerti itu?”

“YAP!! Kau benar nona. Sekarang bisakah kau mengijinkanku masuk sebelum badanku benar-benar membeku di sini?” ia menatapku penuh harap.

Ya Tuhan.. Namja aneh ini, namja aneh ini… kenapa kau mengirimnya kemari?!

Aku pasrah saat ia mendorong kasar pagar agar terbuka lebih lebar dan mempermudahnya masuk. Tentu saja, badanku seukuran anak SMP begini –Padahal aku sudah SMA kelas 11- bagaimana bisa melawan badannya yang sudah seukuran Ade Rai  eh maksudku  Mike Tyson oh tidak, mungkin lebih cocok jika aku bilang seukuran Big Mama. Okay, aku hanya bercanda v-_-v Badan namja itu cukup tegap dan berkarisma khas milik Mahasiswa. Mungkin dia memang mahasiswa.

Beruntunglah aku masih sempat menghentikannya sebelum ia membuka pintu rumah. Sebelum ia kembali mengomel, aku sudah meletakkan jari telunjuk di bibirku, kode ia harus diam.

“Kalau kau mau masuk dengan aman, ikuti instruksiku, dan Jangan KOMENTAR! Kalau kau sudah kuberi kode, baru kau bisa masuk, Arra!!”

Tanpa menunggu responnya, aku segera membuka pintu. Benar dugaanku, eonni sedang berada di dapur, mengubek-ubek kulkas. Aku mana bisa membawa namja asing itu ke kamarku yang ada di lantai dua, jika ada dia di dapur? Karena untuk menaiki tangga, kami harus melewati dapur.

Aku memutar otak dan… aha!! Aku pura-pura tidak melihat eonni yang masih memunggungiku, dan berjalan diam-diam ke kamarnya. Berhasil!! Aku sudah meletakkan botol jusnya di pojok meja tempat belajarnya. Setelah menutup kembali kamarnya, barulah aku menuju dapur. Tepat saat eonni menutup kulkas.

Eonni, jusnya sudah kuletakkan di kamar,” ujarku tanpa dosa sambil pura-pura mencuci tangan di wastafel. Posisiku memunggunginya.

Tidak ada respon. Aku menoleh ke arahnya, oh, dia sedang mengenakan headset.. pantas saja. Aku mencolek bahunya dan ia otomatis menoleh lalu melepaskan salah satu headsetnya.

Wae?” tanyanya kasar. Seperti biasa.

Aku mengulang perkataanku, dan bisa diduga.. bukannya berterima kasih ia malah membentakku, “YAA, lancang sekali kau masuk ke kamarku tanpa ijin!!” ia menggebrak kitchen set sebelum berlalu dari hadapanku.

‘Aish, monster!! Semoga kau kesulitan mencari jusmu!!’ Kutukku (lagi).

Setelah eonni menutup pintu kamarnya, aku segera berlari ke pintu depan dan menarik masuk namja asing yang menggigil kedinginan di luar sana. Poor namja~

Aku menutup pintu dan segera menariknya berlari tanpa suara menaiki tangga. Tepat ketika kami menginjakkan kaki di puncak, kulihat eonni melangkah menuju dapur sambil menggerutu dan menggenggam sebotol Jus Apel.

Aku menghela nafas lega dan kembali menarik Namja itu menuju kamarku.

Nugu?” tanyanya sambil menunjuk arah dapur.

Nan eonni,” jawabku singkat sambil membuka pintu kamar. Aku menyuruhnya meletakkan sepatunya di kolong tempat tidur Mun Hoon.

Oh, aku teringat Mun Hoon.. dia ada dimana? Aku melihat kamar ini kosong tak berpenghuni. Kemana dia?

“Kenapa di kamar ini ada 2 bed?” suara namja asing itu membuyarkan lamunanku.

“Itu.. karena aku sekamar dengan nam dongsaengku. Ia baru kelas 5 SD, dan karena iniliah kamar paling luas, kami berada di satu kamar,”

Namja itu mengangguk tanda mengerti sambil memperhatikan satu per satu barang yang ada di kamar ini.

“Kau ini sebenarnya siapa?” tanyaku setelah membawa kursi dan duduk di hadapannya yang sedang duduk santai di tempat tidur Mun Hoon.

Nan?” ia menunjuk dirinya sendiri. Tapi yang kemudian ia lakukan hanya diam dan melihat ke kanan dan kekiri, “Apakah kau akan percaya kalau kuberitau siapa aku sebenarnya?” ia balik bertanya.

“Kalau kau tidak berkata kau sebenarnya anggota CIA, Spiderman, Superman, Batman, Catwoman aku akan percaya.”

“Jadi kalau aku bilang aku ini artis kau akan percaya?” sebelah alisnya naik. Menatapku penuh keraguan.

Aku menghela nafas frustasi, “Kau ini sebenarnya siapa?? Kenapa sulit sekali mengatakan siapa dirimu sebenarnya, Tuan?!” Aku tidak bisa menahan rasa kesalku lebih lama, itu sebabnya aku membentaknya.

Syukurlah kamar ini dilengkapi peredam suara. Kalau tidak.. eonni pasti sudah berlari kemari dan membentakku menyuruhku diam.

**hanya kamar ini yang diberi peredam suara karena Mun Hoon dan Min Young sering menyalakan music keras-keras [juga bertengkar dan saling memaki satu sama lain] dan itu sangat mengganggu**

“Kris, Leader EXO M!!”

Sebuah seruan dari suara cempreng yang sangat kukenal menyapa telingaku yang sejak tadi dipeluk kesunyian karena menunggu jawaban namja asing di hadapanku.

Kutolehkan kepalaku ke arah tersebut dan.. Mun Hoon berdiri di depan pintu kamar mandi dengan sebuah handuk di lehernya dan ia hanya mengenakan… boxer biru berbintang.. Yeah, dia setengah berteriak dan juga menunjuk namja asing itu dengan keadaan topless..

YAAA Shin Mun Hoon!! Kenakan dulu pakaianmu baru keluar dari kamar mandi!! Kau ini sangat tidak sopan!!” bentakku saat melihat namja.. yang kalau tidak salah tadi aku dengar namanya Kris, terkejut dengan pemandangan di hadapannya.

Ini pasti kali pertama namanya disebut oleh bocah laki-laki kelas 5 SD yang baru selesai mandi, dengan hanya menggunakan boxer biru berbintang, dan sedang menunjuknya disertai tatapan kagum..

Ya Tuhan… mengapa harus begini?!

.

.

.

.

.

Eh, tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh… Kris? Namanya Kris? Sepertinya aku familier dengan nama itu.. Kris.. yeah, sepertinya.. aku mengenal Kris.. Tapi, Kris yang mana?

+oOoOoOo+

*Past*

Langit hitam pekat di luar rumah hampir mengantarku ke pelukan angan mimpi jika saja tidak ada ketukan bergemuruh seperti genderang perang di pintu kayu milikku.

‘Setan seperti apa yang kurang kerjaan mengganggu waktu istirahat di tengah malam begini.. Argh!!’

Suara gesekan diantara sol tipis sandal usangku dengan lantai rumah yang berupa tanah mengiringi langkahku hingga aku berhenti di depan pintu rumah yang bergetar lumayan kencang karena ketukan tanpa ampun dari luar sana.

‘Krieet’ engsel pintu yang sudah karatan membuatku agak kesulitan membuka pintu malang itu.

Pandanganku terpaku pada sosok tinggi yang berdiri tepat di depanku, “Nu…Nuguseyo??”

Perawakannya sangat jauh berbeda dengan masyarakat desa ini.. pasti dia orang asing. Tapi.. desa mana yang penduduknya memiliki postur tubuh setinggi namja ini? Aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan warga dari desa tetangga setinggi dia. Kulitnya juga tampak.. begitu putih.

“Bisakah kau mengijinkanku masuk? Di luar sangat dingin..” ujar namja asing itu. Kulihat  kedua telapak tangannya saling ia usapkan dan sesekali ia tiup dengan hembusan nafas dari mulutnya.

‘Dingin? Ah, tubuhnya juga tampak basah..’ aku melihat ke luar rumah. ‘Kenapa aku tidak sadar jika dari tadi hujan sedang turun dengan derasnya?’

“Ah, ne.. Deuro osipsiyo* [Silahkan masuk –Yang menyuruh masuk di dalam-]” jawabku segera ketika melihat tubuhnya yang semakin menggigil.

Ia menyunggingkan senyuman tipis sembari berjalan masuk dan duduk di salah satu kursi kayu di ruang tamu, sementara aku kembali menutup pintu. ‘Ugh, semoga tidak ada siapapun yang tau ada namja asing yang masuk ke rumahku di tengah malam..’

Aku segera masuk ke kamar dan mencari sebuah handuk bersih di lemari, lalu kembali ke ruang tamu. “Segera kubuatkan minuman hangat, keringkan dulu rambutmu dengan handuk ini.”

Tidak sengaja tangannya yang hendak meraih handuk dari tanganku bersentuhan. Tangannya terasa sangat dingin! ‘Sudah berapa lama dia di luar sana sampai – sampai tangannya sudah sedingin mayat?’

Kamsahamnida,” suaranya yang cukup dalam membuyarkan lamunanku.

Aku hanya bergumam lalu segera menuju dapur dan membuatkannya segelas teh hangat. Saat aku kembali ke ruang tamu dengan segelas teh, namja itu sedang berdiri tenang mengamati langit-langit rumahku dan tampak sudah tidak menggigil.

“Minumlah, ini bisa lebih menghangatkan tubuhmu,” ujarku sambil meletakkan teh itu di meja kemudian mengambil tempat duduk di seberang tempatnya duduk tadi.

Kami hanya saling diam selama beberapa menit. Namja itu tidak menyentuh sedikitpun isi di dalam gelas itu. ‘Apakah ia takut kuracuni?’

“Kenapa kau tidak meminumnya? Bukankah kau kedinginan?” Kuputuskan bertanya daripada kondisi sunyi ini berlanjut lebih lama.

Dia tersenyum tipis, “Aniyo.. badanku sudah lebih hangat setelah masuk ke dalam sini.”

“Kau takut aku meracunimu?”

Ia mengangguk, “Hm.. Ne. Aku tidak terbiasa menerima minuman dari orang asing. Mianhamnida.”

Aku balas mengangguk mengerti tanpa rasa sakit hati atas ucapannya yang jujur. Hm.. alasan dia cukup rasional. Kembali kesunyian menyergap kami. Dalam diam aku mengamati yang dilakukan oleh namja di hadapanku, ‘Dari sikapnya.. ia benar-benar seperti orang asing. Apa dia bukan manusia? Aish, mana mungkin mitos seperti itu nyata… Mungkin, dia pangeran kerajaan yang tersesat… Hm.. itu bisa jadi.. Tapi itu terdengar seperti dongeng!!’

Odi saseyo?” tanyaku saat ia sedang mengamati beberapa hiasan dinding rumahku.

Ia tidak mengalihkan perhatiannya dan menjawab dengan singkat, “Jauh dari sini.”

Reflek sebuah pertanyaan muncul di benakku, ‘Apakah dia gelandangan?’

Tapi pertanyaan yang terlontar keluar dari pertanyaanku justru hal yang berbeda, “Dangsin eui ireumeun muotsimnika?* [siapa namamu?]”

Kali ini ia menatapku, tepat di kedua mataku. Sehingga aku menyadari sebuah hal yang kulewatkan sejak tadi. Kedua matanya berwarna merah menyala…

Je ireumeun..* [namaku..]” Suaranya yang lembut kembali terdengar bersamaan dengan munculnya sebuah hal ganjil.

Sepasang sayap berwarna merah gelap mengembang di daerah punggungnya.

“Kris imnida.”

+oOoOoOo+

-To Be Continued-

Uwaaaah~ akhirnya part 1 selesai ^^

Baru dapat ilham pas sahur, dan baru selesai sekarang.. #plakkk

Semoga FF ini bisa jadi teman ngabuburit gooders dan bermanfaat. Amin.

Read Comment Like, WAJIB!!

45 thoughts on “Rouge Ange (An Angel With Red Wings) Part 1

  1. hallo thor.. salam kenal! aku reader baru, waaah kris emang paling cocok sm karakter yg kaya gini hehe
    izin lanjut baca yah thor

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s