[FF Freelance] Stay Close, Don’t Go (Part 1)

Title : Stay Close, Don’t Go… (1/2)
Author : Minrin1004
Rate : PG-13
Length : Twoshoots
Genre : Light angst, Romance

Main Cast : – Ahn Min Rin (OC)
: – Cho Kyuhyun
: – Jung Yunho

Other Cast : – Im Yoona
: – Lee Hyukjae
: Find it by yourself^^

Disclaimer : Ini ff paling pertama yang pernah aku bikin, jadi kalo agak-agak ancur gitu dimaafin aja yah. Oh iya, don’t forget to leave your comment! Aku menerima segala bentuk caci maki untuk jalan cerita, bukan castnya yah hihi. The storyline originally written by me and the rest are belong to God^^, happy reading, fellas!

Grand Hyatt Hotel, Seoul, South Korea
19.00 KST
Cho Corporation’s 56th Anniversary
Kyuhyun’s POV

“Kyu, malam ini aku ingin kau bertemu dengan temanku, Ahn Min-soo. Perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaannya. Akan sangat menguntungkan bagi kita untuk bekerja sama dengannya, Ahn Corporation terkenal sangat kuat di Korea dan China. Ini kesempatan emas bagi kita.”

“Hanya bertemu? Baiklah aku akan bertemu dengannya nanti.”

Niatku untuk segera kabur tertahan saat appa menarik lenganku.

“Dengarkan aku dulu!” bisiknya tertahan. “Aku dengar dia akan mengirim putri bungsunya ke Taiwan untuk menangani anak perusahaannya disana. Dan aku sudah terlanjur bilang kalau kau akan membantunya karena, yah, kau tahu, kau sudah cukup pintar dalam hal ini. Dan putrinya itu belum berpengalaman sama sekali.”

“Jadi appa? Kau? Hah, sudah kutebak hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat kau akan mengambil alih hidupku.”

“Ini hanya empat bulan, Kyu. Tapi akan lebih bagus lagi jika kau bisa mengambil hatinya.”

Aku terbelalak mendengar pernyataan paling egois yang pernah kudengar itu. Belum sempat aku protes lalu,

“Ah, itu mereka. Sekarang kau Cho Kyuhyun anakku, kau tau aku belum pernah memohon sebelumnya, tapi kali ini aku benar-benar memohon padamu, berhentilah bersikap tak acuh dan jangan sampai ada kesan kau tak peduli sama sekali dengan mereka.”

Baik, ini lebih terdengar seperti “Berhentilah bersikap menyebalkan, Kyu.”

Aku mengikuti langkah besar appa menuju tuan Ahn dan putrinya. Oh iya, perlu kujelaskan, perkataan appa yang “…berhentilah bersikap tak acuh dan jangan sampai ada kesan kau tak peduli sama sekali dengan mereka.” Itu bukan apa-apa. Bukannya aku tidak peduli dengan apapun tapi salahkan sifatku yang tidak pintar mengeluarkan emosi. Aku selalu terlihat datar, yah begitulah perkataan teman-temanku. Tapi, apa peduliku?
Aku agak tercengang melihat putri bungsu tuan Ahn yang kudengar akan segera menjabat sebagai orang nomor 1 di Ahn Corporation. Yah, memang kuakui dia manis, tapi apa Min-soo ahjussi sudah tidak waras dengan akan memberikan perusahaan sebesar ini kepada gadis manja ini? Dari gerak-geriknya sangat bisa ditebak sifatnya seperti apa. Tangannya yang tidak berhenti mengayun, bahkan dia tidak sama sekali menunjukkan aura anggun seorang calon pewaris Ahn Corporation. Dan selama empat bulan aku harus mendampinginya? Mendampingi? Kurasa bukan aku yang akan menjadi pendamping, bisa kupastikan dia tak akan bisa menangani hal semacam ini. Aku bukan sedang membicarakan gelarnya sebagai lulusan terbaik dari universitas terpandang di negeri ini, tapi mentalnya yang sudah pasti sangat rentan adalah masalahnya.
Aku hanya tersenyum dan menanggapi basa-basi membosankan ini seadanya.
“Kenapa kau tidak mengobrol dengan Rin? Kalian bisa mengobrol di taman sambil minum wine.” Kata appa sambil tersenyum dan matanya yang seakan akan mengulitiku kalau tidak menuruti perkataannya.
“Ah Rin, kajja kita keluar.”
Dia hanya mengangguk dan mengikutiku berjalan.
-o-
Sudah lumayan lama aku dan Rin duduk di taman ini. Awalnya aku hampir mati bosan berada dalam situasi canggung seperti ini. Tapi sebenarnya, kalau kau benar-benar memperhatikan, gadis ini memang sangat manis. Dan dia lumayan pintar mencairkan suasana. Yah, kau tau, dia suka sekali bicara.Walau lawakannya memang sedikit crispy, tapi ekspresinya seakan mengajakku untuk tertawa juga.
Kurasakan tetesan air di puncak kepalaku. Hujan? Aish, cuaca ini sungguh mengganggu. Kulirik Rin yang sedang memutar gelas wine kosong di genggamannya.
“Hujan sudah mulai turun. Kau masih mau disini?” kataku padanya.
Aku sedikit terkejut menangkap jawabannya. Apa dia mengangguk? Dia mau mengotori gaun dan make up mahalnya itu?
“Kau pernah main hujan? Aku sudah lama tak melakukannya. Temani aku, ya? Jebbal..”
Aku tersenyum mendengar rengekannya. Jika appa menyalahkan keputusan bodohku kali ini, aku akan berbalik menyalahkan dirinya yang telah memaksaku untuk bersikap peduli pada tamunya kali ini.
Malam ini langit begitu gelap, dan hujan turun cukup deras. Tetapi entah kenapa aku akan ikut tersenyum saat melihatnya tertawa seperti ini. Lalu dia mendekatiku yang dari tadi tidak bergeming dan mengajakku berputar bersamanya. Lalu,
*TARRRR*
Suara petir menggelegar membuat tubuh mungil itu memelukku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat. Aku tertawa kecil melihat sikapnya, namun aku sedikit khawatir setelah menyadari badannya yang menegang dan detakan jantungnya yang terasa semakin cepat.
“Neo gwenchana?”
Tubuhnya masih memeluk tubuhku erat. Erat sekali.
“Rin?”
Lalu kurasakan badannya melemas dan aku cepat menyangganya dengan kedua tanganku yang tanpa kusadari sedang membalas pelukannya. Pingsan? Dia pingsan hanya karena petir?
-o-
Cho’s Residence, Gangnam-gu, Seoul
01.00 KST

Setelah mengganti pakaian dan mandi air hangat, aku menghampiri appa yang sedang duduk termenung dengan tatapan kosong di ruang kerjanya. Kejadian tadi membuat tuan Ahn panik bukan main. Dia langsung membawa Rin ke rumah sakit tapi lalu dia hanya menyuruhku untuk pulang dan membiarkannya mengurus segalanya.
“Dia, mm, apa Rin tidak apa-apa?” kataku memulai.
“Saat itu, saat petir besar itu, ekspresi tuan Ahn seketika berubah dan langsung mencari Rin. Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi dia benar-benar panik saat mendengar petir itu.”
“Sama halnya dengan Min Rin. Dia memelukku saat mendengar petir itu. Apa dia tidak apa-apa?”
“Jika kau ingin tau keadaannya kenapa kau tidak menjenguknya besok pagi? Sekarang kau tidurlah, dan eh, jangan lupa minum suplemen. Kau kedinginan kan tadi? Aku tidak mau kau sampai jatuh sakit.”
Aku mengangguk dan langsung menuju kamar. Aku merebahkan tubuhku di kasur lalu menghela nafas panjang. Aku, apa aku mengkhawatirkannya? Tapi tak bisa kubohongi diri bahwa tadi aku memang merasa nyaman bersama dengannya. Yah, dia teman yang cukup baik sepertinya. Dan teman harus saling memperhatikan, kan?
-o-
Severance Hospital, Seoul
10.00 KST

Aku menyusuri lorong rumah sakit tempat Min Rin dirawat. Sengaja kubawakan sekeranjang buah-buahan sebagai buah tangan. Dan sampailah aku di depan kamarnya. Yeoja itu masih tertidur dan ayahnya sedang duduk membaca koran di sofa di pojok ruangan. Aku membuka kenop pintu itu dan membungkuk tanda salam pada tuan Ahn. Dia tersenyum padaku dan menghampiri ranjang Min Rin.

“Ahjussi, aku ingin meminta maaf soal—

“Tidak ada yang perlu kumaafkan. Ini bukan salah siapa-siapa.” Potongnya.

“Tapi apa dia baik-baik saja? Kenapa dia begitu pucat? Apa terjadi sesuatu padanya? Aku ingat sekali wajahnya yang memucat saat mendengar petir itu. Apa dia—eh, m..m..maaf aku banyak bicara. A-aku hanya, penasaran.”

“Kau ini, apa sebegitu penasarannya? Dia baik-baik saja, sekarang Min Rinku sedang tidur. Dan kau, mau temani aku sarapan? Aku akan menceritakan semuanya padamu.”

Aku mengangguk dan mengikuti langkah tuan Ahn di belakangnya. Aku menengok sekilas pada yeoja yang kini sedang tertidur pulas itu. Lega sekali rasanya mengetahui dia baik-baik saja. Apa yang aku katakan? Sejak kapan aku peduli pada hal lain selain diriku sendiri?

-o-

Kami memilih untuk duduk di luar ruangan. Udara Seoul pagi ini segar sekali, aku memutar cangkir dihadapanku karena bingung akan memulai dari mana.

“Jadi kau benar-benar ingin mendengar ceritaku?”

Aku hanya mengangguk pertanda ‘iya’. Lalu dia menyesap kopinya dan menghela nafas panjang.

“Min Rin kecilku suka sekali bermain hujan. Dulu Rin kerap kali memaksaku dan Min Rin eomma untuk menemaninya bermain. Walau begitu, dia takut sekali dengan petir. Aku masih ingat jelas ekspresi takutnya saat dia mendengar suara menggelegar itu. Dia akan memeluk eommanya saat dia takut. Hanya eommanyalah satu-satunya yang bisa menenangkan Min Rin kecilku.” Kenangnya sambil tersenyum. “Lalu suatu hari aku bertengkar hebat dengan istriku. Badai berpetir sedang melanda Seoul kala itu. Tak kusangka Rin memperhatikan kami yang saling berteriak di balik pintu kamar kami. Dia menangis karena takut. Lalu istriku memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu, aku sudah mati-matian mencegahnya karena diluar hujan sangat deras. Atau setidaknya tunggu sampai hujannya sedikit mereda.” Lanjutnya sambil menyesap kopinya. “tapi istriku memang keras kepala. Dia tetap memaksa untuk pergi saat itu juga. Min Rinku meminta istriku untuk membawanya pergi juga, tapi istriku tak mengindahkan perkataannya dan berlalu begitu saja. Min Rinku terus mengejar eommanya sampai ke pintu pagar rumah kami. Tak peduli lagi dengan rasa takutnya pada petir yang saat itu bersambaran. Aku berusaha menarik Rin untuk masuk kedalam rumah saat suara debuman keras mengalihkan perhatian kami.”

Wajah Min-soo ahjussi terlihat begitu datar kali ini. Dia tersenyum tipis dan sesekali menyesap kopi dihadapannya.

“Istriku, mobilnya tertabrak mobil lain saat melaju di perempatan yang terletak beberapa meter di depan rumah kami. Saat itu dia melaju lurus dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba ada mobil lain yang menghantam bagian kiri mobilnya. Tepat di tempatnya duduk. Sakit sekali rasanya jika mengingat kejadian ini, jeritan Min Rin kecilku yang pecah saat melihat kejadian itu. Min Rin ku yang masih 10 tahun harus menghadapi dua ketakutannya sekaligus. Dia menyaksikan kejadian mengerikan itu di tengah-tengah petir yang bersambaran. Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya bermain hujan lagi. Sekalipun aku sudah menawarkan diriku untuk menemaninya bermain, dia akan tetap menolakku. Kau beruntung dapat melihat senyuman putriku saat dia bermain hujan saat itu Kyu, itu senyumannya yang paling tulus sekaligus senyuman yang paling bisa menyembuhkan semua rasa lelahku.” Jelasnya lagi.

Aku masih tertegun mencerna apa yang Min-soo ahjussi katakan tadi.

“Aku minta maaf, ahjussi. Aku tidak bermaksud untuk—

“Tak apa. Lagipula aku sudah berjanji untuk menceritakan semuanya, kan?”

Perlu kuakui. Ada yang berbeda saat ia bermain hujan bersamaku. Wajahnya begitu polos dan bahagia. Rasanya aku, ah bagaimana aku menjelaskannya. Tapi ada sesuatu dalam diriku yang membuatku ingin, ingin.. hah, ya, aku ingin mengenal senyuman itu lebih dalam. Apa ini terlalu cepat? Siapa peduli?

-o-

*A FEW WEEKS LATER*
Songshan Business District, Taiwan
09.00 CST
Author’s POV

Seperti biasa, keadaan anak perusahaan Ahn Corp. selalu terlihat sibuk. Kali ini seluruh pimpinan divisi sedang disibukkan dengan persiapan meeting tahunan yang akan diselenggarakan hari ini, yang tentu saja akan dihadiri oleh Mr. Ahn Min-soo, orang nomor 1 di Ahn Corporation. Kali ini, Mr. Ahn akan membawa putri bungsunya, Ahn Min Rin, untuk membantunya mengurus anak perusahaannya di Taiwan, sekaligus memperkenalkannya pada dunia bisnis yang cepat atau lambat akan menjadi dunianya juga.
-o-

Seorang laki-laki tinggi berjas hitam berlari kecil menuju ruang rapat. Dan membungkuk memberi hormat pada atasannya yang sedang bersandar di kaca sambil menikmati pemandangan dari gedung itu.

“Permisi, tuan Jung. Tuan Ahn dan putrinya sudah sampai.”

“Aku sudah tau, dan kau pergilah.” Katanya dingin.

Pria berjas itu lalu menunduk sekali lagi dan berjalan keluar pintu. Yunho melirik sekilas saat pegawainya itu menutup pintu dan kembali menatap iringan mobil yang satu persatu memasuki gedung Ahn Corporation dari tempatnya berdiri. Memperhatikan setiap orang yang keluar dari mobil-mobil itu.

“Hmm, itukah putri bungsu yang selalu kau banggakan, tuan Ahn? Astaga nona, kau tidak perlu repot-repot mengurus cabang perusahaan milik ayahmu ini. Belum puaskah kau dengan hartamu di Korea sana, hm? Bisa kupastikan, Ahn Corporation, perusahaan paling berjaya dekade ini, akan selalu aman dan tidak akan jatuh ke tangan siapapun kecuali aku, Jung Yunho.” Pria itu menunjukkan seringainya yang langsung pudar saat melihat pria ber jas hitam keluar dari mobil mewah berikutnya. Seketika rahangnya mengeras dan tatapannya menajam.

“Cho Kyuhyun?”

Lalu terlihat seringaian itu tampak lagi di wajahnya yang tampan.

“Selamat datang di Taiwan, tuan Cho.”

-o-

Min Rin’s POV

Dini hari tadi aku baru sampai di kota ini dan sekarang aku harus bangun pagi untuk menghadiri acara sepenting ini. Astaga aku gugup sekali hari ini. Sial! Kenapa appa tidak memberi tahuku kalau hari ini kami akan bertemu Kyuhyun oppa juga. Setidaknya aku bisa menyiapkan topik pembicaraan jika saja ada kesempatan berbicara dengannya. Ah! Appa selalu saja menjebakku. Dari rayuan manisnya yang mengajakku berlibur ke China, sampai disinilah aku berakhir, Ahn Corporation. Yah walaupun aku dan Kyuhyun baru kenal beberapa bulan ini, ketampanannya yang diatas rata-rata itu cukup menyilaukanku. Dan kuharap kehadiran pria tampan di rapat kali ini bisa sedikit membangkitkan semangatku.

Dan jujur saja, saat aku keluar dari mobil, aku sedikit takjub dengan bangunan yang kuketahui milik ayahku ini. Memang ini tak sebesar yang di Seoul, tapi aku suka suasana gedung ini. Ada taman kecil di sisi kiri dan kanan dari gerbang menuju pintu utama.

Kami disambut hangat oleh beberapa pria paruh baya ber jas hitam.

“Selamat datang di Taiwan, nona Ahn.”

Aku hanya berbasa-basi seadanya sampai ku dengar suara appaku memanggil nama itu.

“Kyuhyun-ssi, kau datang tepat waktu. Aku dan Rin baru saja sampai.”

Kyuhyun. Astaga pria itu… bisakah kenyataan berhenti mengatakan kalau dia akan mendampingiku disini untuk empat bulan ke depan?

“Bagaimana kabarmu, nona Ahn?” katanya singkat sambil menjulurkan tangannya yang tentu saja kujabat dengan cepat.

“Kau ini apa-apaan oppa? Bisakah orang-orang disini berhenti memanggilku nona Ahn? Risih sekali rasanya.” kataku sambil mengerucutkan bibirku.

“Kau ingin ku panggil apa? Nyonya Cho?” katanya sambil tertawa renyah.

Astaga. Apa-apaan kata-katanya itu? Baru saja aku mau melancarkan protesku lalu,

“Jangan salahkan nona muda ini jika suatu hari nanti kata-katamu barusan akan menjadi salah satu tujuan hidupmu, tuan Cho.”
-o-

Kyuhyun’s POV

Aku keluar dari mobilku dan mendapati Min-soo ahjussi sudah berdiri di depan lobby. Dan apa aku tidak salah lihat? Apa itu Min Rin? Astaga gadis itu berubah sekali, terlihat begitu rapi dan dewasa. Ah apa aku akan terlihat bodoh dengan terus memandangnya seperti ini?

“Bagaimana kabarmu, nona Ahn?” sapaku.

“Kau ini apa-apaan? Bisakah orang-orang disini berhenti memanggilku nona Ahn? Risih sekali rasanya.” katanya sambil mengerucutkan bibir.

Aish! Bisakah kau tidak menunjukkan ekspresi itu di hadapanku, Rin? Membuatku sungguh ingin mencubit pipimu saat ini.

“Kau ingin ku panggil apa? Nyonya Cho?” kataku menggodanya.

“Jangan salahkan nona muda ini jika suatu hari nanti kata-katamu barusan akan menjadi salah satu tujuan hidupmu, tuan Cho.”

Kutolehkan kepalaku untuk mencari sumber suara. Kudapati seorang namja berperawakan tinggi yang sedang tersenyum ke arahku dan tuan Ahn.

“Semoga kau bisa menikmati waktumu di Taiwan, tuan Cho.”

-o-

Songshan Business District, Taiwan
13.00 CST
Min Rin’s POV

Dan akhirnya rapat membosankan ini selesai juga. Aku masih tak mengerti bagaimana orang-orang disini bisa tahan duduk selama 4 jam untuk mendengarkan hal-hal seperti ini. Strategi pemasaran dan keuntungan yang akan didapat lah, cara untuk menekan biaya produksi lah. Aku hanya bisa diam karena handphone ku disita appa dari kemarin. Dan sekarang yang aku butuhkan hanya makanan. Ayolah, aku belum makan apapun dari pagi tadi.

“Mau makan siang bersama?” ucap sebuah suara.

“Ah, mm, maaf tuan Jung. Tapi kurasa aku harus menemani appaku.”

“Sepertinya tidak, tadi appamu yang menyuruhku untuk mengajakmu makan siang. Dan oh ya, selama empat bulan ke depan aku yang akan membantumu dan tuan Cho beradaptasi disini, Min Rin-ssi. Kau harus membiasakan diri dengan kehadiranku, ok?”

Well, Jung Yunho ini tidak terlalu buruk. Yah, setidaknya dia mau memulai percakapan basa basi ini. Kukira aku baru saja mendapat kesempatan untuk lebih dekat denganmu, Kyu. Bahkan ternyata lebih baik aku berbicara dengan kucingku daripada bicara denganmu. Sebanyak apapun aku bercerita, kau akan hanya menunjukkan senyuman yang, yah, oke, itu salah satu senyum favoritku. Tapi kenapa susah sekali untuk mencuri perhatianmu, sih? Apa aku pernah sekali saja melintas di pikiranmu? Kurasa tidak. Jangan bermimpi kau Ahn Min Rin.

“Kajja, kita makan siang.”
-o-

Aku mengedarkan mataku untuk mencari tempat yang masih kosong. Astaga, restoran ini tampak begitu ramai. Lalu kulihat seorang yeoja ber dress hitam polos menghampiriku dan Yunho.

“Selamat siang nona Ahn, aku sudah menyiapkan tempat untuk kita,” Katanya sambil memamerkan senyum manisnya. Aish, bagaimana bisa yeoja ini tampak begitu mempesona? Bahkan aku yang sesama yeoja pun mengakui kecantikannya.

“Im Yoona imnida. Aku yang akan menjadi asistenmu selama di Taiwan, nona Ahn. Jangan ragu untuk menghubungiku jika kau butuh sesuatu.”

Ah senangnya mengetahui asistenku orang Korea juga. Dia membungkuk lalu menjulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya singkat lalu mengikutinya berjalan memasuki lorong bertuliskan Reserved Room. Apakah ini terlalu berlebihan? Mungkin.

-o-

San Want Residence, Songshan, Taiwan
17.00 CST

Yunho mengantarku ke apartemen dan menyarankanku untuk istirahat karena besok aku harus sudah mulai bekerja. Bekerja? Ya bekerja. Perkataan appa yang memintaku untuk ‘membantunya’ ternyata bohong besar. Dia langsung pulang ke Korea saat aku pergi makan siang. Yunho menjelaskannya semuanya siang tadi. Dia juga memberi tahuku bahwa appa mengutus beberapa orang untuk menjagaku selama di Taiwan, menjaga dari seseorang -yang aku lupa namanya- tapi yang jelas dia itu bermarga Lee. Jadi aku harus terbiasa dengan pria-pria ber jas hitam yang akan selalu berada di sekitarku walau tidak dalam jarak dekat.

“Arrgghhh!”

Aku mengacak rambutku frustasi. Aku harus tinggal di apartemen sebesar ini sendirian? Empat bulan?? Appa kau kejam sekali.

Oh iya! Hampir saja aku lupa, Yunho mengatakan bahwa appaku meninggalkan pesan di laci meja riasku. Aku langsung melompat dari sofa dan berlari ke kamarku. Kutarik kasar laci itu dan menemukan ponselku dan secarik kertas dibawahnya.

“Dear Rin-ie Jagi,

Aku tahu kau pasti sedang mengutukku saat kau membaca surat ini. Tapi sungguh, aku tak mempunyai maksud buruk apapun untuk meninggalkanmu di Taiwan. Ini yang terbaik, Rin, cepat atau lambat kau harus mengenal dunia ini. Aku menyiapkan kartu kredit dan mobil untukmu, kunci dan kartunya ada di laci yang sama. Kuharap kau mau mengerti. Saranghae.

All yours,
Appa”

Aku menggosok wajahku kasar, kulirik kunci mobil yang tergeletak di laci itu.

“Aku butuh udara segar. Mungkin jalan-jalan sebentar tak akan apa-apa..” batinku.

Seorang pegawai apartemen mengantar mobilku sampai ke lobby. Aku sedikit terperangah dengan ‘titipan’ appaku ini. White Audi A5? Kau bercanda?

“Mobil anda, nona Ahn.” Kata pegawai itu sambil membungkuk. Aku senyum padanya lalu langsung masuk kedalam mobil. Tindakanku ini memang nekat, aku yang bahkan belum sampai 2 hari berada di Taiwan sedang berjalan tanpa arah mengelilingi kota asing ini. Kali ini aku akan berterima kasih pada orang tuaku yang sudah mengajarkanku bahasa Taiwan dan Mandarin sejak kecil.

“Aish, kemana aku akan pergi? Mencicipi jajanan Taiwan sepertinya menarik.”

-o-

San Want Residence, Songshan, Taiwan
09.00 CST
Author’s POV

*BEEP BEEP*
Alarm pagi Min Rin sudah yang kesekian kalinya berbunyi. Tangan gadis itu meraih handphonenya yang ada di meja kecil di sebelah kasurnya, niatnya untuk memberi jeda sekali lagi pada alarm itu pupus saat matanya menangkap angka 09.00 di layar handphonenya.
“Jam 9? Aish! Kenapa kau selalu begini sih, Rin-ie!” katanya panik. Ia meraih handuk dan langsung bergegas ke kamar mandi.
Satu minggu terakhir ini pekerjaannya memaksanya untuk terjaga sampai dini hari. Entah apa yang terjadi tapi perusahaan itu jadi sering diterpa masalah-masalah yang untungnya masih bisa diatasinya. Karena memalukan bagi seorang lulusan terbaik dari universitas bisnis manajemen terbaik di Korea jika tidak bisa mengatasi hal itu.
-o-
Min Rin melajukan mobilnya secepat mungkin, dan seperti biasa, ada mobil sedan hitam yang mengikutinya kemanapun ia pergi. Dia sekarang sudah mulai terbiasa dengan orang-orang suruhan appanya itu.
Ia berlari lari kecil karena kini jam sudah menunjukkan pukul 10.00 . Sesampainya di ruangannya, ia sedikit terkejut dengan keberadaan Kyuhyun, Yunho, dan Yoona yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Tampaknya ini bukan situasi yang baik, karena Yunho tidak berhenti memijit keningnya dan Kyuhyun yang menghela nafas berat.
“M..maaf aku terlambat. Aku benar-benar minta maaf.” Ucap Rin yang tak berani menatap satupun dari mereka.
“Duduklah, ada yang perlu kami bicarakan.” Kata Yunho.
Yoona menyerahkan beberapa map yang berisi laporan keuangan perusahaan Ahn. Ia membacanya sekilas dan menatap Yoona dengan tatapan ‘apa ada yang salah?’.
“Baik, begini, di lembar pertama, disana tercatat kau memesan 500 unit monitor dan 150 unit CPU kepada Lee Corporation. Perlu kuberitahu bahwa Lee Corporation bukanlah supplier kita, dan semua yang kau pesan ini harganya sangat tinggi, ditambah lagi kau memesannya dalam jumlah besar. Persediaan kita masih sangat cukup bahkan mungkin akan mencukupi sampai akhir periode. Dan yang kedua, disana juga tercatat kau melakukan penarikan kas perusahaan untuk pengeluaran pribadimu sebesar 350,000 TWD. Kali ini kita berpotensi mengalami kerugian besar. Bisa kau jelaskan?” Jelas Yunho.
Mata Min Rin membulat sempurna dan tangannya menahan mulutnya yang sepertinya akan berteriak itu. Hanya beberapa saat, lalu ia melemas dan tangannya terkepal diatas lututnya.
“Tidak mungkin! Aku tidak pernah melakukan pembelian sebesar itu, dan perlu kau catat bahwa aku tidak pernah menarik kas perusahaan sepeser pun untuk keperluan pribadiku!” Katanya tertahan.
“Tapi ada tanda tangan anda di surat-surat ini, nona. Mungkin anda lupa karena saya mengerti akhir-akhir ini anda terlihat kelelahan.” Tambah Yoona.
Perkataan Yoona barusan sukses membuat air mata Min Rin yang tertahan tumpah ke pipinya yang mulus.
“Sekarang tenangkan dirimu dan mungkin kau harus membicarakan hal ini dengan ayahmu. Dewasalah, Rin, jangan gegabah. Atau kau akan membahayakan kelangsungan perusahaan ini.” tambah Yunho yang langsung keluar dari ruangan itu diikuti Yoona dan Kyuhyun.
Setelah mendengar pintu itu tertutup, ia segera menguatkan diri dan menyeka air matanya lalu mengecek kembali laporan keuangan itu.
“Ada yang aneh. Aku memang menandatangani surat pembelian monitor dan CPU, tapi hanya beberapa unit, dan itu BUKAN dari Lee Corporation. Tapi sekuat apapun aku menentang, ini tidak akan melunak karena ada tanda tanganku di surat-surat yang kuyakin dipalsukan itu. Ini memang persis tanda tanganku, tapi akan kubuktikan bahwa ada yang salah, dan itu bukan aku.” Batinnya.
-o-
Sekarang sudah larut dan Min Rin masih berkutat dengan laptop dan beberapa lembar kertas di ruangannya. Tak peduli sudah berapa banyak air mata yang keluar hari itu, ia harus tetap meluruskan masalah ini. Memang lelah, sangat lelah, mengingat seberapa besar ia mengorbankan waktu dan tenaganya untuk perusahaan ini dan inilah yang ia terima. Ia menyenderkan punggungnya di kursi kerjanya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terus begitu, berharap yang dilakukannya saat ini bisa membuatnya lebih baik.
Kyuhyun yang juga belum pulang menatapnya khawatir di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia memberanikan diri untuk membuka pintu itu dan menghampiri yeoja yang kini mulai tak bisa pergi dari pikirannya. Min Rin melihat Kyuhyun yang memasuki ruangannya dan tersenyum sekilas.
“Kau harus istirahat, Rin.”
“Aku akan tetap disini sampai aku menemukan kesalahan pencatatannya.” Jawabnya singkat.
Kyuhyun menarik tangan Min Rin dan memaksanya untuk menatap wajahnya.
“Aku tau ini tidak mudah bagimu. Tapi kau juga perlu mengistirahatkan badanmu. Akhir-akhir ini kau selalu pulang larut dan datang pagi keesokan harinya. Aku tau masalah ini adalah kekeliruan besar, aku tidak mempercayainya bahkan disaat pertama aku mendengar kabar ini. Karena.. karena ini tidak masuk akal. Kau mungkin tidak berpengalaman dalam mengurus perusahaan, tapi kau bukan orang bodoh dalam manajemen bisnis. Jangan mempersulit dirimu sendiri, Rin. Berhentilah membuatku khawatir.”
Min Rin tersenyum lemah dan membalas tatapan mata Kyuhyun yang membuat namja itu salah tingkah. Tangan kecil Min Rin mengusap rahang tegas Kyuhyun dan tanpa diduga ia mencium bibir namja itu. Tak ada lumatan, hanya sapuan lembut yang sangat menjelaskan bahwa dua manusia itu sedang jatuh cinta. Cukup lama sampai Kyuhyun tersadar bahwa yeoja dipelukannya ini sedang menangis dalam bisu. Kyuhyun melepas tautan bibir mereka dan memeluk gadis itu.
“Ketakutanku saat ini adalah melihatmu melemah di bawah tekanan-tekanan yang ada. Kita akan meluruskan kekeliruan ini secepatnya. Aku berjanji.” Ucap Kyuhyun yang lalu mengecup puncak kepala Min Rin.
-o-
Ahn Corporation, Songshan, Taiwan
08.00 CST
Author’s POV

Yoona merapikan make-up nya di kamar mandi Ahn Corp. Lalu dua orang yeoja yang berada di sampingnya berbisik satu sama lain,
“Kau tau? Kudengar nona Ahn menarik uang dalam jumlah besar untuk pengeluaran pribadinya dari kas perusahaan. Cih kukira dia berbeda, ternyata sama saja..”
“Ah iya! Kudengar dia juga membeli barang dalam jumlah besar dari Lee Corp. yang notabene bukan supplier kita, dia itu ceroboh sekali sih.”
Lalu seorang yeoja keluar dari salah satu bilik kamar mandi dan menyambar percakapan dua temannya.
“Hey! Apa kalian sedang membicarakan nona Ahn? Kau tau apa? Kemarin malam aku mendapat lembur hingga larut, dan saat aku ingin pulang, aku melewati ruangan nona Ahn dan mendapati Kyuhyun sedang berciuman dengannya! Dia itu wanita murahan atau apa sih?”
“Omo! Benarkah? Aish dia itu murahan sekali.” Sahut yeoja disebelahnya.
“Hah kukira mereka hanya sebatas rekan kerja. Lagipula Kyuhyun itu namja yang tampan dan berpendidikan, ia juga kaya raya, sayang sekali jika dia harus bersama wanita itu.”
“Iya benar, walau kita tak secantik dan sekaya nona Ahn, tapi setidaknya kita masih bersikap lebih baik darinya.” Timpal salah satu dari mereka.
Yoona terdiam mendengar percakapan mereka. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Min Rin jika mendengar pembicaraan busuk ini. Ia mendelik tajam pada ketiga yeoja disampingnya yang membuat mereka sadar bahwa yeoja disamping mereka adalah asisten Min Rin selama di Taiwan. Mereka saling menatap lalu menunduk berharap Yoona tak memperhatikan wajah-wajah mereka.
“Busuk.” Ucap Yoona sambil berlalu.
Pagi itu Kyuhyun datang lebih awal dan tujuan utamanya kini adalah ruangan Min Rin. Senyumannya melebar saat matanya menangkap sosok yeoja itu sedang membolak-balik beberapa dokumen.
“Selamat pagi, nona Ahn.” canda Kyuhyun.
Min Rin hanya tersenyum sekilas dan kembali membaca dokumen-dokumen di hadapannya. Merasa kalah karena tak ditanggapi, Kyuhyun duduk di kursi tepat di depan meja yeoja itu dan menempelkan wajahnya di meja dengan mata merajuk ke arah Min Rin.
“Kau ini kenapa? Seperti anak kecil..” kata Min Rin yang akhirnya bersuara.
Kyuhyun menegakkan tubuhnya kembali dan entah kenapa senyumannya tak bisa menghilang sejak tadi pagi ia membuka mata.
“Apa yang tadi malam itu meresmikan hubungan kita?”
Min Rin hanya mendelik dan memutar kursinya hingga membelakangi Kyuhyun yang sedang tertawa melihat tingkah Min Rin. Kyuhyun berputar mengelilingi meja dan berlutut menyejajarkan tubuhnya tepat di depan Min Rin. Ia menarik map yang dipakai Rin untuk menutupi wajahnya dan tertawa sekali lagi.
“Kau ini.. apa maumu? Aku sedang sibuk.” Jawab Rin salah tingkah.
“Aku akan pergi setelah kau menjawabku, nyonya Cho.”
“Aish! Apa-apaan panggilan itu? Aku harus jawab apa? Apa yang kau tanyakan sebenarnya?”
Rona merah menghiasi wajah Rin yang putih membuat tawa Kyuhyun semakin menjadi.
“Karena kau sudah berani menciumku tadi malam, dengan begitu kau harus jadi kekasihku.” Ucap Kyuhyun dengan wajah menggoda.
Min Rin mengerutkan keningnya dan berusaha menahan tawanya.
“Baik, kuberi kau pilihan. Bernafaslah jika kau menerimaku atau jilat sikutmu jika kau menolakku.”
“Apa-apaan itu? Aku tidak mau.” Tolaknya mentah.
“Baik kalau begitu sekarang kau resmi menjadi tunanganku.”
“Aku bilang aku tid—
“Satu tolakan lagi dan kau akan resmi menjadi calon istriku.” Potongnya.
Dan akhirnya tawa Rin pecah juga. Ia tak percaya Cho Kyuhyun yang ia kenal sebagai namja datar yang tak pernah peduli pada apapun kecuali dirinya sekarang menyatakan, ah tidak, memaksanya untuk menerima cintanya dengan cara konyol seperti ini. Min Rin bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu, lalu tubuhnya tertahan saat Kyuhyun mendekap tubuhnya dari belakang dan mencium pipinya.
“Gomawo jagiya.”
“Untuk apa? Aku belum mengatakan apapun tentang lamaran konyolmu.”
“Aish, jinjja! Ini bukan lamaran tau! Ini denda yang harus kau bayar karena sudah berani menyentuh bibirku!”
“Siapa yang kau bilang menyentuh bibirmu?!”
Min Rin memukul kepala namja itu seraya Kyuhyun yang mempererat pelukannya, namun semua itu tak berlangsung lama saat Rin menyadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka dibalik jendela ruangannya.
“Sekarang apa lagi?” gumam Rin hampir tak terdengar.
-o-
Suasana Ahn Corporation begitu hampa beberapa hari kebelakang. Masalah yang menimpa Min Rin ditambah lagi kedekatannya dengan Kyuhyun tanpa diduga berdampak sangat besar dengan image Rin sebagai calon pemimpin perusahaan itu.
Handphone Yunho bergetar pertanda ada panggilan masuk. Ia mengedarkan matanya sejenak lalu mengangkat telepon itu.
“Ada apa?” tembaknya langsung.
“How’s it going?”
“Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Hanya ada sedikit masalah, sepertinya mereka mempunyai hubungan khusus.”
“Tidak. Keluarga Cho tidak boleh bersatu dengan keluarga Ahn. Atasi mereka. Aku mempercayakan hal ini hanya padamu, Jung Yunho. Kaulah satu-satunya yang tak pernah mengecewakanku.”
“Aku tau,”
“Jadi apa rencanamu?”
“Kau tak perlu tau. Aku akan mengurus semuanya. Sekarang biarkan aku bekerja.”
*beep*
Yunho memutuskan telepon itu begitu saja. Ia menghela nafas lalu berjalan keluar pintu.
-o-
Min Rin sedikit terkejut saat pintu ruangannya terbuka dan menunjukkan sosok Yunho yang kali ini sedang tersenyum padanya. Ia sedikit canggung saat bertemu dengannya semenjak kejadian laporan keuangan itu. Sikap Yunho berubah menjadi sangat dingin dan hanya menyapa seadanya jika bertemu. Tapi kali ini dunia seperti membawanya pada beberapa minggu lalu saat pertemuan pertamanya dengan namja itu.
“Kau kusut sekali, Rin. Jangan terlalu keras pada dirimu, lagipula besok kan weekend. Bagaimana jika keluar sebentar? Hanya untuk menghirup udara segar, mungkin. Anggap saja ini permintaan maafku yang sudah bersikap dingin padamu beberapa hari kebelakang.” Katanya santai.
“A..aku tidak—
“Oh iya, aku belum pernah di tolak oleh yeoja manapun sebelumnya. Jadi kali ini aku tak menerima alasan penolakan dalam bentuk apapun, ok?”
“Kajja.” Sambungnya lagi sambil menarik tangan Min Rin.
-o-
Raohe Night Market, Songshan, Taiwan
19.00 CST
Author’s POV

Mereka berjalan menyusuri jalanan sesak pasar malam itu. Mata Min Rin yang berbinar meyakinkan Yunho bahwa yeoja itu menikmati perjalanannya.

“Kau senang?”

“Tentu.” Jawab Rin sambil melahap es serut di genggamannya.

“Beberapa hari ini kau terlihat sangat kusut, dan wajahmu jadi jelek sekali, membuatku malas datang ke kantor saja. Ah, itu dia! Game station! Ayo bermain, aku akan mengalahkanmu, nona Ahn yang terhormat.”

Yeoja itu membuang es serutnya dan mendongak menatap Yunho dengan tatapan menantang.

“Apa yang kau katakan, ya!, Jung Yunho?! Kau mau melawanku? Apa kau yakin? Jangan mengadu pada ibumu jika aku mengalahkanmu malam ini!”

Masih dengan tawa jahil, Yunho menarik tangan Min Rin dan menembus kerumunan di pasar malam itu.

-o-

“Kau kalah, Rin. Sudah sangat jelas sekarang kemampuan mengemudimu sangat kacau. Dan kau harus mendapat hukuman.”

“Video game itu rusak! Setir mobilnya tidak bisa berbelok ke kiri, hah menyebalkan!”

“Apalah alasanmu, kau tetap harus menerima hukuman.”

“Baik, baik. Apa hukumanku?”

Yunho menggerakkan matanya tanda ia sedang berpikir. Lalu tidak lama kemudian senyumnya melebar dan menatap Min Rin jahil.

“Berlarilah ke ke ujung jalan itu dan kau harus tertawa sekeras yang kau bisa”

“A-apa? Andwae!! Kau mau membuatku terlihat seperti orang gila?! Kau saja yang mempermalukan dirimu, pokoknya aku tidak mau!”

Yunho memicingkan matanya yang sukses membuat yeoja itu menatapnya heran.

“Baik, akan kutunjukkan bagaimana mempermalukan diri sendiri itu” jawab Yunho singkat.

“Permisi nyonya, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Yunho pada seorang wanita paruh baya yang lewat disampingnya.

“Ada apa?”

“Tidakkah aku dan kekasihku terlihat sangat serasi?”

Min Rin yang masih bingung menatap Yunho membelalakkan matanya saat kata-kata itu meluncur dari bibir namja itu.

“Ah, dia itu sangat manis, dan kau juga tampan. Kalian tentu saja terlihat begitu serasi, kudoakan pernikahan kalian akan berlangsung secepatnya.”

“T-tapi aku—

“Terima kasih banyak atas doamu, nyonya. Aku memang sangat mencintainya.” Potong Yunho.

Wanita paruh baya itu hanya tersenyum lalu berlalu meninggalkan Yunho dan Min Rin bersama kepalannya yang sudah siap untuk mendarat di kepala Yunho.

“YA! Kau ini apa-apaan!”

“Akh! Appo! Tadi kau yang menyuruhku untuk mempermalukan diriku sendiri kan?”

“A..ah? Apa maksudm..—YA! Jadi maksudmu dengan memperkenalkanku sebagai kekasihmu itu sama dengan mempermalukan dirimu sendiri?! Baik kalau begitu, aku akan melakukan hukumanku!”

Tawa Yunho yang keras membuat beberapa orang menoleh padanya, Min Rin yang kesal dengan perbuatan namja itu langsung berlari ke ujung jalan lalu tertawa sangat keras,

“HAHAHAHAHAHAHA, e-eh apa yang—”

Min Rin yang sedang melakukan hukumannya terkejut saat Yunho yang sedang mengejarnya sambil tertawa keras itu menabrak dan memeluknya dari belakang. Adegan ini lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkejaran, bukan?

“K-kau ini apa-apaan?!”

Min Rin memberontak sekeras yang ia bisa, lalu tiba-tiba ia merasakan tubuh Yunho yang tertarik ke belakang,

*BAM!*

Tinjuan seorang namja berhasil mengalirkan darah segar dari ujung bibir Yunho. Reflek, Min Rin menghampiri Yunho yang terduduk di tanah,

“Astaga oppa, kau baik-baik saja?—

Min Rin menyiapkan kepalan di tangan kecilnya dan bersiap meninju orang yang melukai Yunho.

“YA! KAU INI APA-AP… A-ah, Kyuhyun? Kau? Bagaimana bisa—

To be continued…

14 thoughts on “[FF Freelance] Stay Close, Don’t Go (Part 1)

  1. Kyaaa serruuu! Iisshhh itu dasar yunho mata duitan! Aaahhhhhhhh kyu hajar aja tuh yunhoooo… Mudahan kyu ama rin hubungannya baik2 ajaa.. Gue bca ini deg2an sndri torr.. Haha.. Part slnjtnya jgn lama2. Keep writing..K

  2. min rin kyknya orang yg rada plin plan ya karakternya. disaat kyu deket bgt sama dia, dia ngerasa nyaman, pas ketemu yunho jg gitu. jd bingung sama sikap min rin.
    tp yunho kyknya pnya rencana buruk nih X-(. mdh2an min rin gak kejebak yunho & tetep sama kyu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s