Foolery [Part 5]

Foolery

Main Cast :

  • Kim Taeyeon ‘SNSD’
  • Jang Wooyoung ‘2PM’

Support Cast :

  • Ham Eunjung ‘T-ara’

Genre : Romance

Rating : PG-15

Length : Chapter

Disclaimer :

Terinspirasi dari sebuah komik Korea *tapi aku sendiri lupa apa judulnya*

Credit poster : Altrisesilver

Previous Part : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

***

Taeyeon berjalan keluar dari rumah sakit sambil merentangkan kedua tangannya untuk menghirup udara malam. Saat ia tengah menikmati sejuknya udara malam, tiba-tiba ia teringat bahwa ia lupa mengambil ponselnya yang masih berada di dalam kamar Wooyoung.

Seketika ia tersenyum dan membalikkan badannya berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Saat ia sampai di depan kamar Wooyoung, secara tidak sengaja ia mendengar pembicaraan Wooyoung dengan seseorang yang suaranya terdengar dengan sangat jelas bahwa itu pasti adalah suara seorang yeoja.

Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Wooyoung dan mencoba untuk mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu.

***

“Wooyoung, apa kau benar-benar baik-baik saja?” tanya Eunjung dengan raut wajah panik.

“Tidak usaha berpura-pura di depanku, pulanglah! Aku sedang dalam mood yang tidak baik dan terlebih aku malas untuk berbicara denganmu,” kata Wooyoung tanpa sekalipun menolehkan kepalanya untuk menatap Eunjung.

“Apa aku sebegitu buruknya di matamu? Wooyoung, apa kau masih marah dengan kejadian waktu itu? Waktu itu…” belum selesai Eunjung melanjutkan perkataannya, perkataannya sudah dilanjutkan oleh Wooyoung.

“Waktu itu aku benar-benar sedang mabuk dan kau tidak tau apa yang terjadi denganmu, apa itu yang kau maksud?” balas Wooyoung dengan nada suara yang terdengar sedikit meninggi.

“Wooyoung, sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku hanya mencintaimu, aku tidak pernah berniat untuk menduaimu,” kata Eunjung dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“Baiklah, lalu kalau begitu apa maksud kau mengubah Taeyeon? Apa kau ingin menghancurkan hidupnya?” tanya Wooyoung dan kali ini ia berbalik menatap Eunjung dengan tatapan yang sangat tajam.

“Itu…” lagi-lagi Eunjung hanya bisa terdiam ketika ia ditanya oleh Wooyoung.

“Apa kau ingin membuatnya sama seperti dirimu dulu?” tanya Wooyoung dan kali ini ia bangkit berdiri dari tempat tidurnya dan berdiri menghadap Eunjung.

Tatapan tajam dari Wooyoung, sedikit memberikan tekanan pada Eunjung. Ia akui memang maksud dari perbuatannya pada Taeyeon memang seperti apa yang dikatakan oleh Wooyoung.

Wooyoung menarik tangan Eunjung dengan kasar sehingga membuat Eunjung meringis kesakitan. “Lepaskan!” seru Eunjung.

“Aku tidak akan melepaskanmu, apa kau tau akibat perbuatanmu pada Taeyeon ia hampir saja dilecehkan oleh orang lain?” bentak Wooyoung pada Eunjung.

Eunjung mulai tidak terima dengan perbuatan Wooyoung padanya “Ya, semua yang kau katakan adalah benar. Aku memang bermaksud mengubah dirinya sama sepertiku dengan maksud agar KAU kembali teringat padaku dan kembali padaku,” kata Eunjung dengan penuh penekanan di beberapa perkataannya.

Wooyoung melepaskan genggaman tangannya pada Eunjung lalu menatap Eunjung dengan pandangan yang tidak berubah dari sebelumnya –Tajam—“Kau berubah menjadi sosok menakutkan bagiku,”

“Aku seperti ini karenamu, bukankah dulu aku sama seperti Taeyeon. Dulu aku juga seorang siswa yang teladan dan culun sepertinya. Tetapi karena cintaku padamu dan aku mengetahui dari banyak orang bahwa tipe yeoja yang kau sukai adalah yeoja berparas cantik tanpa kacamata, maka aku berani mengubah diriku hingga menjadi seperti yang sekarang ini,” kata Eunjung dan kali ini air matanya mulai mengalir dari sudut matanya.

“Jadi kau melakukan hal yang sama terhadapnya agar kau mendapat keuntungan kembali?” tanya Wooyoung dengan nada suara yang mulai meninggi karena kali ini emosinya pada Eunjung telah mengalir diseluruh tubuhnya.

Ne, itu semua benar. Aku menggunakannya supaya kau tidak dapat melupakanku dan kembali padaku. Bukankah dari dalam lubuk hatimu kau masih mencintaiku?” tanya Eunjung sambil berjalan mendekati Wooyoung.

***

Suara yeoja itu, itu suara Eunjung eonni, gumam Taeyeon dalam hatinya. Setelah ia cukup yakin bahwa itu memang benar adalah suara Eunjung, ia semakin mendekatkan telinganya ke pintu kamar Wooyoung untuk menguping pembicaraan mereka.

Ne, itu semua benar. Aku menggunakannya supaya kau tidak dapat melupakanku dan kembali padaku. Bukankah dari dalam lubuk hatimu kau masih mencintaiku?” suara Eunjung terdengar dengan cukup jelas di telinga Taeyeon.

***

Bunyi suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Eunjung dan Wooyoung ke arah pintu itu. Baik Eunjung maupun Wooyoung tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Taeyeon masuk ke dalam kamar itu dengan matanya yang berkaca-kaca.

“Apa yang kau lakukan disini, keluar sekarang juga,” Wooyoung memerintahkan Taeyeon untuk segera keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati Taeyeon lalu menarik tangannya.

Taeyeon menolak untuk beranjak dari kamar Wooyoung dan ia menepis tangan Wooyoung dan berjalan mendekati Eunjung “Apa yang kau katakan itu adalah benar, eonni?”

“Taeyeon ah,” kata Eunjung dan menghapus air matanya itu lalu berbalik menatap Wooyoung yang memberi isyarat padanya untuk merahasiakan pembicaraan mereka.

Eonni, jawab aku!” bentak Taeyeon masih dengan matanya yang berkaca-kaca.

Eunjung merasakan cemburu yang amat besar ketika ia melihat bagaimana cara Wooyoung yang memintanya untuk merahasiakan pembicaraan mereka dari Taeyeon. Ia dapat merasakan bahwa perasaan Wooyoung kini tidak tertuju lagi padanya, melainkan tertuju pada yeoja dihadapannya saat ini –Taeyeon– Eunjung menatap Wooyoung dengan pandangan sinis lalu beralih menatap Taeyeon dan berkata dengan pelan “Itu benar, apa yang kau dengar adalah benar,”

Ya, Eunjung! Apa yang kau lakukan?” bentak Wooyoung pada Eunjung lalu menarik lengan yeoja itu dengan kasar dan menariknya keluar dari kamarnya.

Eunjung tetap bertahan pada posisi berdirinya, ia tidak membiarkan diirnya ikut terseret oleh Wooyoung. Ia menggigit tangan Wooyoung yang mengenggamnya dengan sekuat tenaganya sehingga membuat Wooyoung dengan spontan melepaskan genggaman tangannya dan meringis kesakitan.

Sekujur tubuh Taeyeon mulai terasa lemas, seperti ditimpa oleh sebuah batu besar yang membuatnya sulit untuk bergerak maupun berkata-kata. Bibirnya bergetar, perasaannya saat ini benar-benar hancur bagaikan kaca yang retak. “Eonni, tapi mengapa kau melakukannya padaku?” tanya Taeyeon dengan bibirnya yang bergetar dan air mata yang mulai membasahi pipinya.

“Karena kau sama sepertiku Taeyeon. Dulu aku sama sepertimu. Tapi berkatmu kali ini, Wooyoung kembali lagi padaku,” kata Eunjung dengan senyuman sinisnya lalu beralih menatap Wooyoung yang menatapnya tajam dan merangkul lengannya.

“Taeyeon, jangan percaya pada kata-katanya. Lebih baik saat ini kau pulang,” perintah Wooyoung pada Taeyeon lalu menepis tangan Eunjung dengan kasar.

“Kalau kau tidak percaya padaku, aku bisa membuktikannya,” kata Eunjung pada Taeyeon lalu beralih menatap Wooyoung “Siapa yang kau cintai? Aku atau Taeyeon?”

“Aku..” Wooyoung tidak dapat mengatakan secara langsung kepada dua yeoja yang ada di kamarnya ini tentang siapa orang yang dia cintai. Jujur dari dalam hatinya, ia memang menaruh perasaan pada Taeyeon sejak dulu apalagi ketika ia tahu bahwa Taeyeon adalah orang yang harus ia lindungi sesuai dengan janjinya di masa kecil.

Saat ini, Wooyoung merasa bahwa ia benar-benar belum siap untuk mengatakan siapa orang yang dia cintai saat ini. Bibirnya terasa berat untuk mengatakan siapa orang yang dia cintai. Ia belum bisa memastikan perasaannya pada Taeyeon. “Yang jelas, aku tidak mencintai Eunjung,” katanya singkat diikuti dengan tatapan tajam yang dipasang oleh Eunjung untuknya.

“lalu? Untuk apa kau memberitahukan bahwa kau tidak mencintainya? Bukankah yang dia tanyakan adalah siapa yang kau cintai?” tanya Taeyeon sambil berulang kali menghapus air matanya yang membasahi pipinya. Ia mencoba sebisa mungkin bersikap tegar dihadapan Eunjung dan Wooyoung.

“Wooyoung, kalau kau tidak mencintaiku lalu untuk apa kau tadi memelukku?” tanya Eunjung dengan tersenyum licik pada Wooyoung dan mendapat tatapan yang sangat tajan dari Wooyoung.

“Berhentilah berkata yang tidak-tidak,” kata Wooyoung lalu kembali beralih menatap Taeyeon yang menunduk dengan lemas.

“Lalu kalau kau tidak mencintainya, apa kau mencintaiku?” tanya Taeyeon dengan mengangkat kepalanya untuk menatap kedua orang dihadapannya ini –Eunjung dan Wooyoung—. “Gumawo, aku sudah tau jawabannya. Gumawo buat hari ini, bila aku tidak tahu yang sebenarnya sampai saat ini, mungkin aku akan terus menjadi alat penyatu hubungan kalian,” lanjut Taeyeon ketika Wooyoung tidak menjawabnya lalu berlari meninggalkan Eunjung dan Wooyoung.

“Apa ini yang kau inginkan?” tanya Wooyoung dan menatap Eunjung dengan pandangan yang sangat tajam.

“Ya, bila aku tidak bisa mendapatkanmu kembali, siapapun tidak berhak memilikimu!” seru Eunjung lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Wooyoung.

***

Taeyeon berlari keluar dari rumah sakit dengan tangannya yang terus berusaha menghapus air matanya yang terus mengalir. Ia merasa bodoh karena dengan mudahnya percaya pada perkataan Eunjung.

Anni, Taeyeon bukan seperti ini, Taeyeon harus kuat,batinnya dalam hati sambil terus menguatkan dirinya untuk tidak menangis.

***

Keesokan harinya,

Taeyeon masih terlelap dalam tidurnya setelah seharian menangisi hal yang ia anggap tidak berguna untuknya.

Terdengar beberapa kali pintu kamar Taeyeon diketuk oleh eommanya disusul dengan suara yang membuatnya tersadar dari tidurnya.

“Taeyeon, apa kau tidak ingin pergi ke sekolah hari ini?” tanya eommanya dari balik pintu kamarnya.

Ne, aku tidak enak badan eomma,” kata Taeyeon dari balik selimut yang menutupi dirinya lalu kembali melanjutkan tidurnya.

Mwo? Kau tidak enak badan? Apa kau ingin pergi ke dokter?” tanya eommanya lagi.

Anni, aku hanya butuh waktu untuk beristirahat,”

“Baiklah, eomma akan menghubungi pihak sekolah dan meminta izin untukmu, bila ada yang kau perlukan beritahu pada eomma, arasso?”

Ne,” jawab Taeyeon dengan nada yang terdengar cukup malas.

***

Meskipun keadaan Wooyoung belum bisa dikatakan pulih total, ia sudah memaksakan dirinya untuk kabur dari rumah sakit dan pergi ke sekolah. Suatu hal telah memaksakan dirinya untuk harus pergi ke sekolah.

Saat ia melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah, pandangan seluruh siswi di tempat itu tertuju padanya. Mereka semua memasang raut wajah yang berbeda-beda. Ada yang terlihat panik dan ada yang terlihat iba.

“Apa kau sudah sembuh?” sapa Eunjung dari balik tubuh Wooyoung.

Tanpa menolehkan kepalanya, Wooyoung sudah mengetahui bahwa itu adalah suara Eunjung. “Berhentilah menganggu hidupku, aku sudah cukup muak melihatmu. Perasaan yang tersisa untukmu saat ini adalah perasaan kebecian,” kata Wooyoung yang sontak membuat Eunjung berjalan di depan Wooyoung dan menatapnya dengan kedua bola matanya.

“Aku tau kau membenciku, tapi aku akan mampu membuatmu mencintaiku kembali,” kata Eunjung lalu merangkul tangan Wooyoung.

Wooyoung menepis tangan Eunjung dengan kasar sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan. Wooyoung terlihat tidak perduli lagi dengan gadis yang ada di hadapannya –Eunjung—, ia terus melanjutkan langkahnya tanpa membalikkan badannya untuk sekedar melihat keadaan gadis itu yang sepertinya sedang kesakitan.

Wooyoung,  aku akan lihat sampai kapan kau akan menolakku, batin Eunjung dengan senyuman yang penuh makna.

***

Park Sonsaengnim memasuki kelas mereka dengan beberapa lembar kertas hasil ujian siswa-siswinya beberapa tempo yang lalu. Begitu ia sampai di mejanya, ia meletakkan semua hasil kertas ujian itu ke atas meja dan melihat ke sekeliling ruangan itu.

“Ke mana Taeyeon?” tanya Park Sonsaengnim ketika ia tidak dapat menemukan murid kesayangannya itu.

Semua siswa dan siswi berpandangan antara satu sama lainnya karena mereka memang tidak menyadari sama sekali bahwa hari itu Taeyeon tidak datang ke sekolah. Berbeda dengan Wooyoung yang melihat ke arah tempat duduk Taeyeon.

Ia merasa penyebab terbesar ketidakhadiran Taeyeon di sekolah disebabkan masalah semalam.

Setelah bel tanda pulang berbunyi, ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat mendahului Park Sonsaengnim dan teman-temannya yang belum keluar dari dalam kelas. Ia tidak menghiraukan omelan dari Park Sonsaengnim yang mengatakan bahwa dirinya tidak sopan.

***

Taeyeon baru saja keluar dari sebuah minimarket kecil yang ada di dekat rumahnya. Ia merasa bosan dan bodoh bila terus mengurung dirinya di dalam kamar. Ia juga memerlukan sedikit udara segar untuk melupakan apa yang di dengarnya semalam.

Baru saja ia melangkahkan kakinya untuk beberapa langkah, ia merasakan pundaknya dipegang oleh seseorang. Ia menolehkan kepalanya untuk menatap orang itu dan ternyata orang itu adalah……..

To Be Continue ..

AN : Hi hi..

sebelumnya Aku mau minta maaf dulu yah, ngepostnya kelamaan.. Mianhaeyo yeorobun..

Bulan-bulan ini aku bakal sangat sibuk soalnya, ada acara di sekolahku dan aku salah satu panitianya jadi pasti sibuk banget..

tapi untuk next part aku berusaha sebisa mungkin untuk ngepost secepatnya..

Gumawo buat readers yang uda setia nungguin FF ini..

61 thoughts on “Foolery [Part 5]

  1. kasian banget taeyeon unnie..
    cuma dimanfaatkan aja sama eunjung..
    huhu

    tapi siapakah orang itu?
    wooyoung atau eunjung y?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s