Rouge Ange (An Angel With Red Wings) Part 2

Author : Awsomeoneim

Genre : Romantic, Fantasy, Past-Present Live,

Cast :

Main Cast :

ü  Shin Min Young (OC)

ü  Kris a.k.a Wu Yi Fan (EXO M)

ü  Sehun (EXO K)

Figuran :

ü  Shin Mun Hoon (Min Young’s Younger Brother)

ü  Shin Min Ah (Min Young’s Older Sister)

ü  EXO M & EXO K Members

ü  Others

+oOoOoOo+

Info Penjelas :

Karena reader bilang banyak yang bingung, maka akan author jelaskan bahwa…

  1. FF ini alurnya *PAST* menceritakan kehidupan di masa lalu Min Young, *PRESENT* menceritakan kehidupan di masa kini Min Young.
  2. Di kedua masa tersebut, Min Young bertemu dengan namja bernama Kris.
  3. Di kehidupan lalu, Kris adalah seorang Rouge Ange, tapi di kehidupan sekarang Kris manusia normal biasa yang bekerja sebagai seorang artis [leader EXO M] walau ia masih kuliah (universitasnya sama dengan universitas Eonni-nya Min Young)
  4. P.O.V. di FF ini kemungkinan hanya akan ada 2, yaitu Author P.O.V. dan Min Young P.O.V. Tiap pergantian P.O.V. pasti akan diberi tau, jadi kalau tidak ada tulisan “Author P.O.V.” ya berarti itu adalah Min Young P.O.V. Begitu sebaliknya.
  5. Mengenai ciri Rouge Ange akan author jelaskan secara bertahap seiring dengan berjalannya alur cerita. Arrachi?

Cha! Sekian Penjelasan dan jawaban resmi dari author. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, silahkan RCL ^^

Kamsahamnida~

Previous : Part 1

+oOoOoOo+

=Sekilas Chapter sebelumnya….=

*Past*

Kali ini ia menatapku, tepat di kedua mataku. Sehingga aku menyadari sebuah hal yang kulewatkan sejak tadi. Kedua matanya berwarna merah menyala…

“Je ireumeun..* [namaku..]” Suaranya yang lembut kembali terdengar bersamaan dengan munculnya sebuah hal ganjil.

Sepasang sayap berwarna merah gelap mengembang di daerah punggungnya.

“Kris imnida.”

+oOoOoOo+

*Past*

“Ah,” aku tersadar dari lamunanku saat seseorang melambaikan tangannya berulang kali di depan wajahku.

Waeyo agassi? Neo gwenchana?namja di hadapanku sedang bertanya dengan wajah heran.

Aku tergagap beberapa kali sebelum menjawab, “Ne, aku baik-baik saja..” Kemudian aku kembali menatapnya dan aku sudah tidak melihat ada sepasang sayap besar berwarna merah di punggung namja asing itu.

“Mm.. mungkin kau butuh tidur lagi. Mianhe aku sudah merepotkanmu di tengah malam seperti ini,” Kris menampakkan sedikit senyuman kecut.

Ahni, aku sudah terbiasa bangun di tengah malam..” lalu aku bingung harus bicara apalagi..

Sementara Kris hanya menggangguk mendengar kata-kataku. Ya, dia begitu pendiam.. mungkin karena kami masih merasa asing satu sama lain. Aaah, dia membuat otakku blank.. Apa yang harus kukatakan lagi??

Oh, mungkin dia sungkan untuk bertanya apakah ia bisa tinggal sementara di sini.. “Walaupun hujan sudah reda, jalanan di luar pasti sangat becek dan licin. Mungkin lebih aman jika kau pergi besok pagi saja. Kalau kau mau menginap di sini sampai besok pagi, akan kusiapkan kamar untukmu. Kebetulan di sini ada..”

“Maaf sebelumnya,” ucapnya memutuskan kalimatku, “Tapi, a..apakah boleh jika aku meminta ijin untuk tinggal di sini selama… seminggu?”

‘Seminggu? Aku sih tidak masalah tapi… apa kata orang desa jika tau aku tinggal dengan seorang namja yang bahkan aku sendiri tidak tau jelas latar belakangnya??’

“Aku tidak keberatan asalkan.. Kau tidak terlalu sering keluar masuk rumah disaat keadaan desa ramai. Bukannya aku mau memenjarakanmu di sini, tapi.. aku hanya berusaha melindungi kita berdua dari tuduhan yang mungkin dilontarkan orang lain,” itu keputusanku setelah memikirkannya beberapa saat.

Sebuah senyuman bahagia terbentuk dari kedua sudut bibir Kris. Hm.. ketampanannya jadi meningkat 50%!! Aish, apa yang kupikirkan?!

Kamsahamnida agassi, kamsahamnida..” ujarnya dengan nada yang begitu ceria.

Ne, cheonmaneyo Kris-ssi,” aku balas tersenyum tipis padanya, “Chamkaman.. aku akan merapihkan ruangan untukmu.”

Aku segera membalikkan badanku sebelum membiarkan kedua mataku menangkap senyuman manis dari namja asing itu lagi. Karena kalau tidak.. kurasa aku akan.. Pingsan!!

[Pagi hari..]

Aku bangun lebih pagi dari biasanya sekalipun aku tidur lebih larut semalam. Alasannya? Tentu saja karena hari ini aku tida sendirian.. Tidak sopan sekali jika tuan rumah bangun lebih siang dibanding tamunya.

Kusingkap sedikit gorden penutup kamar tidur Kris, dan.. aku seperti melihat seorang malaikat yang tertidur dengan pulasnya. Aigoo dengan kedua kelopak mata yang tertutup saja ia begitu menawan…

Reflek tanganku segera menutup tirai itu dan bersiap untuk mandi saat ingatanku kembali memutar momen dimana aku melihat kedua mata Kris berwarna merah menyala dan sepasang sayap merah tua mengembang dari punggungnya. Aish.. bukankah itu hanya ilusiku semata? Tapi ilusi itu terasa sangat nyata untuk beberapa detik.

‘Step Step Step’ suara langkah kaki mengalihkan perhatianku yang sudah akan melangkah masuk ke kamar mandi. Kulihat Kris baru berjalan keluar dari kamarnya dengan rambut coklat keemasan yang sangat berantakan. Nyaris seperti sarang burung. Ia sedang menguap dan sedikit merenggangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Saat ia memutar badannya ke kiri, ia mempause gerakannya karena melihatku yang sedang melihatnya.

“Ups, mianhe,” ujarku segera ketika kami telah saling bertatapan selama 5 detik. Tanpa basa – basi aku segera mengunci diriku di dalam kamar mandi. Di dalam sana aku segera mmenarik nafas banyak-banyak.

‘Aigoo.. kalau harus melihatnya lagi lebih lama, sepertinya nyawaku akan benar-benar terlepas dari raganya..’ >,<

=kegiatan mandinya Min Young author skip yaaa… *yaiyalah, siapa juga yang mau baca, Thor!!* [Blethaaak <- author disambit LPG 700 KG]=

Sambil menunggu Kris yang sedang mandi, aku memotong roti menjadi beberapa bagian. Hm.. sepertinya aku harus ke pasar sepulang dari bekerja. Persediaan sayur dan daging kosong melompong, sehingga kami hanya akan sarapan dengan roti, madu, dan segelas teh hangat. Sepertinya itu cukup untuk mengganjal perut sampai pukul 10 pagi nanti.

Saat mencium aroma sabun yang kukenal otomatis kepalaku mendongak, dan mendapatinya sudah berdiri di hadapanku. Kris. Ia sedang menatap roti dan madu seperti orang kelaparan (?!) Untuk meyakinkan diriku sendiri, diam-diam aku melihat kedua matanya. Warna matanya hitam kelam seperti orang normal, kok.. Yeah, yang kemarin itu memang hanya ilusi.

Mianhe, hanya ini yang bisa aku hidangkan. Nanti sepulang bekerja aku akan berbelanja,” ujarku sambil menyodorkan setumpuk roti, semangkuk madu, dan segelas teh kehadapannya.

“Perlu kutemani?” tanyanya sebelum ia melahap roti pertamanya.

“Jangan! Ah, maksudku tidak perlu. Aku sudah terbiasa berbelanja sendiri,” jawabku sambil memotong lagi beberapa roti untukku. ‘Nanti kau bisa menyihir para pedagang wanita di sana dengan tampang malaikatmu itu. Andwaeee’

“Anggap saja ucapan terima kasihku. Aku kan sudah merepotkanmu.. ah, aku akan merepotkanmu sampai 6 hari kedepan lebih tepatnya,” Kris berbicara tanpa menghentikan tangannya yang asik mencelupkan roti ke dalam madu sebelum berpindah ke mulutnya.

“Sungguh, aku tidak..aaakh,” sial, mulai lagi aku ceroboh sehingga jari telunjukku tergores pisau.

‘GREP!!’ sebelum aku sempat menarik sendiri tanganku, Kris sudah melakukannya dan menyesap darah yang keluar dari jariku.

Ia menyesapnya cukup lama dan aku hanya bisa membatu di tempat. Setelah aku menyadari ia cukup lama menyesapnya, Kris melepaskan jariku. Aneh, aku bisa melihat lukanya sudah tertutup sempurna. Ilusi di pagi harikah?

“Sudah lebih baik?” tanyanya sambil menatap kedua mataku yang sedang menatapnya penuh tanda tanya.

Entah apa karena aku masih mengantuk tapi.. ilusi pagi ini benar-benar sangat banyak jika semua kejadian yang barusaja terjadi ini di anggap ilusi.

  1. Luka goresan di jariku sudah tertutup sempurna.
  2. Sepertinya aku menangkap suara Kris mendesis “Mashitta” walau sangat pelan, setelah ia melepaskan jariku dari isapannya.
  3. Kedua matanya kembali berwarna merah cerah saat ia menatapku dan bertanya apakah aku sudah merasa lebih baik.

Siapa sebenarnya namja yang sedang duduk di hadapanku ini? Ahni.. mungkin seharusnya aku bertanya.. APA sebenarnya namja yang sedang duduk di hadapanku ini?!

+oOoOoOo+

=Sekilas Chapter sebelumnya….=

*Present*

Ini pasti kali pertama namanya disebut oleh bocah laki-laki kelas 5 SD yang baru selesai mandi, dengan hanya menggunakan boxer biru berbintang, dan sedang menunjuknya disertai tatapan kagum..

Ya Tuhan… mengapa harus begini?!

.

.

.

.

.

Eh, tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh… Kris? Namanya Kris? Sepertinya aku familier dengan nama itu.. Kris.. yeah, sepertinya.. aku mengenal Kris.. Tapi, Kris yang mana?

+oOoOoOo+

*Present*

Setelah mendengar teriakanku, baik Kris maupun Mun Hoon terlonjak sedikit dari tempat mereka masing-masing dan menatapku dengan tatapan blank. Untuk mencairkan suasana aku berdehem cukup keras.

“Mun Hoooon, kubilang. Cepat. Pakai. kausmu!! Ppaliwa!!” ujarku dengan penekanan di tiap katanya. Aku gemas sekali melihat nam dongsaengku membeku ditempat seperti tersambar petir. Okay, mungkin karena bentakanku tadi beda tipis dengan suara halilintar.. -,-

“Akk…Ne, nuna!” ia tampak kebingungan mencari kausnya kesana kemari.

‘Jeezzz bocah ini!!’ sebelum sempat aku menyemprotnya lagi, ia sudah dengan sigap menarik sehelai kaus dari lemari dan mengenakannya lalu tersenyum polos kepadaku dengan tatapan ‘Well Done!!’.

Aish, dengan tatapannya itu dia yang biasanya selalu menyentakku balik malah terkesan seperti ‘bocah laki-laki manis’ hari ini. Pasti demi imagenya di depan artis ini. Sial, aku sudah seperti tokoh antagonis saja..

Aku hanya bisa pasrah melihat tingkahnya yang SANGAT berbeda saat ini. Ah, kusiapkan minuman hangat dulu saja untuk Kris. Kulihat tadi di luar sana ia sangat kedinginan.

“Mun Hoon-ah, temani Kris ssi mengobrol sementara aku menyiapkan teh hangat. Arrachi?” aku juga berusaha berakting manis kepadanya. Aku menahan tawa sebelum keluar dari kamar saat melihat Mun Hoon menatapku dengan tatapan ‘Apakah kau kesurupan nuna??’

Kkk~ biar tau dia bagaimana rasa ‘geli’ yang kurasakan saat melihatnya bertingkah begitu ‘manis’..

Saat aku kembali ke kamar dengan 2 gelas teh hangat, kulihat Mun Hoon sudah mengambil posisi duduk di samping Kris. Mereka tampak santai ngobrol berdua.

“Kris hyung, kau akan tinggal sampai kapan di sini?”

Kris tampak diam berpikir untuk beberapa saat, “Mungkin nanti malam. Aku sudah meminta temanku untuk menjemputku di sini. Karena mulai besok pagi, kelasku akan dimulai.”

Chingu? Kenapa tidak sekarang saja?” tanyaku setelah menyodorkan segelas teh kepada Kris.

Nuna!” Mun Hoon menatapku dengan tatapan horror. Apakah ada yang salah dengan ucapanku?

Waeyo?” tanyaku sambil menatap balik Mun Hoon.

Ish, bagaimana bisa sih wanita sepertimu berlaku sangat kasar kepada artis terkenal seperti Kris hyung? Dia kan baru sampai. Dia pasti sangat kedinginan di luar sana. Biarkan dia istirahat dulu di sini sebentar..” Mun Hoon tampak sedikit cemberut. Pasti ada motif dibalik semua ini…

“Mun Hoon-ah, kita tidak tinggal sendiri di sini. Bagaimana jika tiba-tiba umma/appa menemukannya sedang berada di kamar kita? Kau mau tidur di teras rumah karena diusir?”

Nuna.. umma dan appa kan tidak kenal EXO. Kita tinggal bilang saja dia temanmu.. Jebaal~” ujar Mun Hoon dengan sorot mata penuh kasih (?)

“Jika Min Ah eonni yang tiba-tiba merangsek masuk ke kamar, apa yang akan kau katakan, wahai bocah berhati emas?” tanyaku sambil mendekatkan jarak wajah diantara kami.

“A..itu…” BINGO!! Mun Hoon mati kutu! Ia kini menunduk dan menggaruk kulit kepalanya yang kuyakin sedang gatal karena nervous. Dia kan juga anti dengan ‘iblis Shin’ yang satu itu.

“Min Ah? Shin Min Ah?” Kris menatapku bingung.

Aku kembali ke posisi semulaku, “Ne, dia eonniku. Kau pasti mengenalnya karena ia ketua senat di Universitas Samchundong. EXO tiba di sana kan tadi pagi?”

“Hm.. ne, aku ingat. Yeah, kami dalam misi menyelesaikan kuliah kami.. itu sebabnya kami mentransferkan diri ke Universitas Samchundong. Apakah kau juga di universitas?” Kris tampak menyipitkan sebelah matanya.

“Ahni, aku masih SMA. Tapi, sekolahku berada di satu kompleks yang sama dengan Un.Sam. [singkatan dari : Universitas Samchundong, biar ngga kepanjangan ^^v]

Setelah mengangguk mengerti, Kris menyodorkan gelas yang tadi kuberikan. Isinya sudah kosong melompong. Aigoo kapan ia meminumnya? Jangan-jangan… ia tumpahkan ke karpet -,-“

Setelah itu, tidak ada perbincangan lain. Suasana kamar kami begitu sepi dan canggung. Hingga…

Mun Hoon mendekat ke arah Kris dan membisikkan sesuatu yang dapat kudengar,  “Kris hyung, kau suka main game tidak?”

“Yeah, aku sangat suka.. tapi game apa?” Kris tampaknya tertarik dengan tawaran bocah satu itu. Sementara aku hanya memperhatikan tingkah mereka seperti penonton bioskop.

Mun Hoon tampak sangat antusias mendengar kata-kata Kris, “Apa saja yang ada di komputer. Kau mau kan main bersamaku?”

Ekspressi Kris juga tidak jauh berbeda dengan Mun Hoon, “Baiklah, aku setuju!! Yang menang dapat apa?”

“Entahlah.. hm.. bagaimana kalau Ramyun?”

Kris tampak menimang-nimang tawaran Mun Hoon sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum evil..

“Jika kalian kalau mau bermain game silahkan saja. Tapi tolong jangan berisik, aku mau mengerjakan tugasku!” Aku menyerah.. terserahlah kedua makhluk itu akan melakukan apa daripada ia menggangguku belajar.

“Mengerjakan tugas?” Mun Hoon -yang kini sudah duduk berdampingan dengan Kris di depan komputer dengan sebuah joystick di masing-masing genggaman mereka- menatapku dengan wajah innocent.

Waegurae?” aku menatapnya curiga. Apa lagi jebakan verbal yang akan dia ciptakan?!

“Tidak biasanya..” jawabnya lirih dan dengan acuhnya mengalihkan tatapannya ke layar komputer.

YAAA, jangan bicara yang tidak-tidak Shin Mun Hoon!!” aku meliriknya dengan lirikan laser sebelum kuputuskan untuk memasang headphone agar teriakan-teriakan mereka tidak mengganggu fungsi kerja otak brillianku ini. Amin.

[Tengah Malam]

Pukul 07.00 P.M. umma sudah pulang dan membawa beberapa potongan ikan salmon fresh yang tentu saja sangat menggiurkan untuk dijadikan berbagai menu olahan.  Aku diam-diam membawa beberapa makanan ke kamar untuk Kris ssi, beruntunglah Min Ah eonni sedang tidak ada di rumah sehingga tidak ada yang cerewet bertanya mengapa aku membawa makanan ke dalam kamar.

Tapi.. ini sudah pukul 11.30 P.M. dan Kris ssi masih asyik bermain game sendirian –karena Mun Hoon sudah tertidur lelap setelah mengerjakan tugas Aljabar- dan aku tentu saja masih sibuk dengan beberapa lembar latihan ujian. Bukankah dia bilang temannya akan menjemputnya?

“Kau sedang apa? Tampaknya serius sekali?” suara Kris ssi terdengar sangat dekat dan lumayan mengagetkanku.

“Kris ssi.. kau.. mengagetkanku saja,” ujarku yang baru saja sadar Kris yang bertubuh jangkung itu sudah berdiri di sampingku dan memandangi kertas-kertas di atas meja belajarku.

“Aku tanya, kau sedang mengerjakan apa? Kenapa sangat berantakan sekali?” tanyanya lagi sambil mengangkat selembar kertas soal yang terdekat.

“Latihan untuk ujian kelulusan. Minggu depan aku ada Try Out, mangkanya aku ingin mencicil,” aku kembali membaca sebuah soal.

“Oooh..” ia hanya ber-Oh tanpa mengembalikan lembaran yang dipegangnya, “Apakah kau butuh tentor?” tanyanya tetap dengan gaya angkuhnya

Ahni, aku sudah terbiasa belajar sendiri,” jawabku tak kalah cuek dengannya.

“Hm.. padahal aku mempunyai seorang teman yang sangat ahli dibidang Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi, dan.. ah apalagi ya?? Uh, pokoknya ia sangat jenius dan kalau kau mau aku bisa memintanya menjadi tentormu. Apalagi untuk soal seperti ini..” saat kulirik dari sudut mataku, Kris tampak membolak-balik lembaran di tangannya dengan tatapan meremehkan, ‘Ini seperti soal untuk anak SD..’

“Kris ssi.. aku. Tidak. Butuh. Tentor. Arra?!”

“Bagaimana kalau kau coba dulu, kalau cara mengajarnya tidak enak, kau bisa melaporkannya padaku,” kini Kris ssi mensejajarkan pandangannya denganku.

“Tidak perlu repot-repot,” aku hanya memandangnya sekilas.

“Anggap saja balas budiku..” ia tetap pada posisinya.

“Jika kau mau membayar hutang budi, jangan libatkan orang lain, Kris ssi,” aku kembali memandangnya, kali ini lebih lama. Karena.. aku seperti kembali tertarik ke dalam mimpi yang sama saat aku pertama kali mendengar nama ‘Kris’ disebut.

Pandangannya.. sepertinya aku kenal betul. Warna merah juga berkelebat di fikiranku.. tapi aku tidak ingat dengan jelas..

‘Apa mungkin aku pernah bertemu orang yang mirip Kris ssi tapi memakai contact lens berwarna merah?’

‘KRIIIIIIIING  KRIIIIIIIING  KRIIIIIIIING’ nada dering dari ponsel Kris ssi membuat kami berdua segera mengalihkan pandangan kami satu sama lain.

Kris ssi segera berjalan menjauh dan mengangkat telefonnya, sementara aku tetap di tempat dengan debaran jantung yang tidak karuan.

‘Ish, kenapa kami bertatapan begitu lama? Kami? Yeah, bukan hanya aku yang menatapnya, tapi Kris ssi juga menatapku begitu dalam. Apa yang sedang difikirkannya?’

Agassi, temanku sudah tiba di depan rumahmu. Sudah saatnya aku pulang,” ujar Kris tepat disaat aku menoleh ke arahnya.

“Oh ne, akan kuantar kau sampai depan,” balasku sambil merapikan beberapa kertas yang bertebaran di meja sementara Kris ssi memakai kembali sepatunya.

Kami turun mengendap-endap seperti pencuri di tengah kegelapan ruangan. Mau bagaimana lagi? Semua orang sudah terlelap dalam buaian mimpi.. dan aku masih harus mengantarkan namja asing nyasar ini keluar rumah –yang kuyakin pasti SANGAT AMAT dingin di luar sana- ditengah malam.

Sesampainya di luar rumah, hawa dingin dengan penuh suka cita menyambut kulit lenganku yang hanya dilapisi sweater tipis. Tepat setelah aku membuka pagar rumah, kulihat seorang namja berjaket tebal bersender di luar mobil Pagani Huayra Silver.

“Sehun-ah,” sapa Kris sambil berjalan mendekat ke arah namja itu.

Aish, Kris hyung.. kau membuat semua member EXO khawatir karena kau menghilang begitu saja. Ckckck.. bagaimana bisa kau nyasar?” Namja dihadapan Kris ssi memberondongnya dengan berbagai omelan. Padahal beberapa detik lalu, kukira ia namja pendiam.

“Sudah, kuceritakan di apartemen saja, disini sangat dingin. Kalau aku cerita sekarang, kita akan jadi patung es sungguhan..”

Arraseo,” ujarnya cuek. Lalu teman Kris ssi mengalihkan pandangannya ke balik punggung Kris.

Nuguseyo?” tanyanya entah kepada siapa.

“Itu yeoja pemilik rumah ini. Dia yeo deongsaeng dari Shin Min Ah, namanya…” Kris tampak berhenti sejenak lalu menatapku, “Boleh kutahu siapa namamu agassi? Aku lupa kalau kau belum memberitaukan namamu, kkk~” ujarnya keki.

Hyungah.. kau berada di rumah ini hampir lebih dari 5 jam dank au tidak tau siapa nama yeoja yang meyelamatkanmu?? Sungguh T.E.R.L.A.L.U.~” Namja di belakangnya kembali berdecak keheranan.

Nan, Shin Min Young imnida,” ujarku segera sambil tersenyum tipis.

“Ouh, iya.. nama agassi baik hati ini Shin Min Young,” Kris ssi mengulangi lagi yang kuucapkan sebagai lanjutan dari ucapannya yang terhenti.

Ah annyeong Min Young ssi, naneun Sehun imnida, bangapseumnida,” namja di samping Kris ssi tersenyum -sangat- minim setelah memperkenalkan dirinya.

Ne, nado bangapseumnida Sehun ssi,”

Cha! Ayo kita segera pulang, udaranya sangat dingin malam ini,” seru Kris ssi sambil menggosokkan kedua telapan tangannya yang tidak dibungkus sarung tangan.

“Oiya, aku membawakan sepasang sarung tanganmu yang tertinggal di bus, hyung,” Sehun ssi menyodorkan sepasang benda hitam dari dalam saku jaketnya kepada Kris ssi.

Setelah mengenakannya, Kris ssi menghampiriku, “Jeongmal gomawoyo Min Young-ah, semoga sukses dengan Try Outmu!” ujarnya sambil mengacak rambutku ringan.

Melihat senyumnya yang begitu tulus, aku hanya bisa mengangguk dan berkata, “Ne, cheonmaneyo Kris ssi. Tto mannapsida* [sampai jumpa lagi -formal-]”

Kudapati Kris ssi mengangguk senang sebelum berjalan masuk ke mobil milik temannya. Kemmudian kulihat Sehun ssi yang masih berada di luar mobilnya.

“Segeralah masuk lalu rendam tangan dan kakimu di air hangat, Min Young ssi, udara sangat dingin,” pesan Sehun ssi saat melihatku beberapa kali meniupkan udara hangat ke kedua telapak tanganku.

Arrayo, Sehun ssi,” aku mengangguk menjanjikan apa yang dikatakannya.

Mendengar jawabanku, ia tersenyum –kali ini sedikit lebih banyak- kepadaku sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian mobil silver itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap kenalpot putih dibelakangnya.

“Min Young-ah,”

Seruan yang sangat kuhafal membuatku kembali berbalik sebelum meraih handle pintu pagar.

Min Ah eonni.

“Sedang apa kau tengah malam begini di luar rumah? Kulihat dari kejauhan kau bebicara dengan 2 namja. Nugu??”

DEG.. eottohke? Haruskah eonni tau jika… sejak tadi sore Kris ssi datang ke rumah? Haruskah eonni tau jika kedua namja tadi adalah Kris dan Sehun ssi?

Eonni kan ketua senat, jadi kurasa ia …..

+oOoOoOo+

-To be Continued-

 

Hm… kasih tau Min Ah eonni ngga ya??  \u,u/

Ayo gooders tebak apa yang akan dilaporkan Min Young~

Jawabannya bisa kalian tau di Chapter 3..

Yang tebakannya bener, dapet pelukan dari Kris / Sehun di alam mimpi *kalau ketemu..kkk*

Semoga FF ini bisa jadi teman ngabuburit gooders dan bermanfaat. Amin.

Read Comment Like, WAJIB!!

34 thoughts on “Rouge Ange (An Angel With Red Wings) Part 2

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s