[FF Freelance] Free Spirit (Oneshot)

Title: Free Spirit

Author: Caglysfee

Rating: G

Length: Oneshot (1346 words)

Genre: Friendship, Family, Crack, Hurt/Comfort

Main Cast: Jung Yunho, Kwon Boa

Support Cast: Kim Jaejoong

Disclaimer: I am not, in any way; take any profit from the story. All real people are used without their permission. Events portrayed are fictional and do not reflect on the actual people within the stories. The contents are purely made for personal entertainment.

A/N: Terima kasih untuk seorang teman yang sudah memperkenalkan indahnya lagu jazz kepada saya. Sebuah sinkopasi tentunya tidak akan menjadi padu jika tidak dicoba, lalu mengapa kita harus menghindar karena banyak hal baru yang belum terbiasa?

 

 

 

FREE SPIRIT

-caglysfee

© 2012

.

.

.

Agaknya ada tabir tak kasatmata yang menyekat pemikiran orangtuaku menjadi dua: Kwon Boa—anak kebanggaan kami—harus melancong ke Salzburg, mengambil jurusan tari jazz, dan tampil di depan khalayak; khususnya untuk menjilat rekan bisnis appa. Dan yeah, satu lagi … Kwon Boa, gadis tengil kami. Ke mana saja dia? Seharian tidak terlihat batang hidungnya dan berhandai-handai dengan para tikus jalanan (well, mereka biasa memanggil penari-penari panggung—rekan sejawatku— dengan sebutan tikus jalanan).

Tidak keduanya, aku pun tak menyukai jazz. Tidak untuk seleret penuh garis paranada yang disarati sinkopasi, begitu pun aksentuasi pelik yang acap ditembangkan para penyanyinya. Mereka tidak salah, hanya saja aku tidak mengerti bagaimana mendengarkan alunan nada jazz dengan benar.

Berbeda dengan tetanggaku, pria jangkung itu bernama Jung Yunho. Ia memang tinggal berdua—bersama Kim Jaejoong. Aku menjumpai salah satu dari mereka di tempatku bekerja. Kala pub menampilkan musikal bertajuk Burlesque, aku merangsek masuk dengan paras kebingungan. Yunho serta merta menyembul di balik konter bar-nya. Pipi tirus itu memang memesona, tapi jika tidak disinggungi oleh eye-liner menggelikan, tentunya. Tidak perlu dibahas lebih lanjut karena memang Jung Yunho seorang gay. Namun, aku tak ingin menarik diri lantaran status modernis yang ia anut. Aku berperangai cukup realistis, berusaha memahami gelimpangan soju yang selalu berserakan di langkan hanok[1]-nya. Itu memang terdengar kolot. Paduan hanok tradisional; gramofon yang tak henti berputar mengalunkan lagu-lagu Nat King Cole; Yunho yang pemabuk.

Jung Yunho membersil keluar. Ia tak mengenakan atasan—hanya jins denim selutut, diimbuh rambut kusut masai.  “Boa-yah, ada masalah?” Matanya menyipit. “Tunggu, bukan masalah orangtuamu lagi ‘kan?” Tangannya menggaruk-garuk tengkuk.

Pemuda itu bukan cenayang, kendati berungutannya begitu jitu. Mungkin hanya keberuntungan semata. Aku berdecak kesal, menekuri galur-galur tipis yang membiraii serambi depan. “Begitulah,” ujarku acuh tak acuh.

Yunho tidak ambil pusing dengan polahku. Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu, Kwon Boa melengos masuk tanpa bunyi ketuk. Ya, hanya diiringi keritan renik di ambang pintu. Gramofon jazz itu sudah berubah wujud. Aku kerap membawa piringan vinyl pribadi. Bukan berisikan alunan uzur milik Dean Martin, melainkan opus-opus keren ala Scriabin.

Aku beringsut mengambil tempat di undak-undakan depan. Yunho membencinya. Ia memilih untuk merogoh-rogoh saku duster di kapslok; meraih Marlboro Lights-nya dengan sedikit petikan pemantik di akhir. “Okay, Nyonya Kwon masih memaksamu untuk bersekolah ke Salzburg?” tanyanya, membubungkan asap.

Aku terbatuk. “Itu yang kemarin, sayangnya.”

“Lalu, bagaimana dengan hari ini?” Ia duduk di sampingku. Aku meliriknya sepintas dengan sorot rikuh. Aku tahu, mungkin Yunho bukanlah orang yang tepat untuk mendengarkan kasus perjodohan keluarga.

“Ini soal umma yang gila mencarikanku kekasih.” Aku memberengut masam. “Kautahu, ia tidak berhenti memberondongiku dengan iklan kilat milik  teman-teman arisannya.”

Yunho terkekeh. Ia menepuk bahuku ringan. “Itu memang wajar, Boa-yah. Kau sama sekali tidak menikmati masa mudamu.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti perkataan Jung Yunho; seperti pekan-pekan sebelumnya ia mengibaratkan kerikil kehidupan dengan butiran kacang pecan. Itu memang pelik, tapi lantaran itulah aku memutuskan untuk kembali bertandang ke hanok-nya.

“Kau membosankan,” timpalnya, separuh terpicing. Ia nampak amat sangat menikmati julaian asap nikotin itu, seiring aku melempar tatapan sinis ke arahnya.

“Terserah katamu, aku yang membosankan, aku yang terlalu giat bekerja—”

“—itu memang faktanya,” sanggah Yunho, menyemburkan asap banyak-banyak. Aku tak pernah mengerti lika-liku kehidupan pemuda itu, termasuk benda-benda candu di dalamnya.

“Tapi setidaknya aku bukan pemabuk seperti dirimu,” singgungku.

“O, baiklah. Soju dan rokok ini adalah kenyataan, Boa.” Ekspresi wajahnya muram, memandangi botol-botol itu di pinggir pintu. “Begitu menyesakkan dan terkadang membuatmu bosan hidup.” Ia meraih botol itu perlahan dan mereguk isinya hingga tandas.

“Lantas mengapa kau malah meminumnya?”

“Mereka merupakan hal-hal yang mendasar; sama halnya seperti bekerja keras dan menghadapi kehidupan, oleh karena itu kau membutuhkan jazz untuk menenangkan pikiran.” Yunho tak serta merta membuatku tercengang. Jemarinya menjentikkan rokok di birai kayu. Perwakan tegapnya lekas menjulang dari anjungan hanok. Entah ia berpelesir ke mana. Sekonyong-konyong saja decitan jarum gramofon membuatku berjengit, melongokkan kepala ke arah rak piringan vinyl-nya.

“Hei, apa yang kaulakukan?!” protesku. Jung Yunho bergerak cepat, ia sudah mengganti piringan vinyl-ku dengan koleksi pribadi miliknya.

Kaki-kaki jenjang itu menandak-nandak mungil. “O, ayolah Kwon Boa. Setidaknya kau harus belajar untuk tersenyum!” teriak Yunho, berputar-putar seorang diri. Ia tak nampak mabuk. Kulitnya memang cokelat kemerahan, tersorot sinar mentari di pertengahan musim panas. Dan aku pun tak memiliki pilihan lain, selain mendengus geli—mengamati lenggak-lenggok konyolnya.

Jung Yunho memang berusaha menyelipkan sekelumit fantasi. Tentu, aku dapat menangkap nukilan itu, kendati merasa bahwa separuh dari kalimatnya terasa pilon. Kwon Boa tak pernah hidup kekurangan sedari kecil, namun aku lebih memilih untuk berjuang seorang diri. Dan tak mungkin terdistraksi oleh hal-hal utopis macam pulang malam dan bercinta.

Ya!Kwon Boa! Jangan bilang kau tidak menikmati lagunya,” Yunho masih berusaha menjejaliku dengan alunan perkusi jazz. Itu memang terdengar bebas—hal yang paling mendasar dari komposisi jazz, tapi sayangnya, tidak cocok untukku. Ya, jazz tidak pas untuk pemikiran Kwon Boa yang konvensional.

“Yun, bisa tolong kecilkan suaranya,” pintaku. Yunho menggeleng, ia malah membetot lenganku agar gegas berdiri.

“Yun?” Dahiku berkedut. Kami berdiri berhadap-hadapan, Yunho mendekap pinggangku dan kaki kami yang menjuntai kaku. Ini boleh terbilang ritual yang biasa kami lakukan—dan mungkin juga acap ia gandrungi bersama Jaejoong. Kadang aku merasa iri pada jiwa seorang Jung Yunho, jiwa yang bebas dan tidak memiliki banyak tuntutan. Wajar saja ia selalu bangun siang, tidak memedulikan letak peraduan matahari, dan bekerja di bar pada tenggat malam.

“Boa-yah, aku rasa ada sebuah ide menarik untukmu,” bisiknya.

Eung?” Alisku bertaut. Yunho menyeringai.

“Ini ide untuk mengelabui Nyonya Kwon, maksudku.” Ia tergelak seorang diri. Aku menatap lekat-lekat dirinya. Aku memang selalu memandang skeptis rencana-rencana itu, meski minggu lalu ia berusaha meyakinkan umma tentang pekerjaan di pub penari kami.

“Lalu, apa rencanamu?” tanyaku, menyejajarkan langkah.

Kontan Yunho mendekatkan bibirnya di telingaku, memamerkan deru napasnya yang bercampur aroma alkohol dan tembakau. “Bagaimana jika kita bermain lakon sebagai seorang kekasih?” Bibirnya melekuk menjadi semacam senyum culas.

Aku bergidik sangsi. “Kau yakin akan hal itu?” Mataku menyipit sejurus. Aku tahu, itu bukan ide yang buruk, kami takkan mungkin berkelit dalam kancah cinta segitiga atau bualan semacamnya, namun bagaimana dengan Jaejoong?

Jung Yunho mengangguk mantap. “Kalau begitu masalahmu sudah beres, benar ‘kan?”

“Er, tunggu dulu. Apa kau sungguh yakin?” aku bertanya ulang.

“Tentu saja, Kwon Boa.” Ia mencubit tungkai hidungku. “Apa lagi yang kauharapkan? Aku tak memiliki status dan well, kau tak berpikir aku terlalu buruk ‘kan?” Lagi-lagi ia terkekeh ringan. Yunho dan pemikirannya yang pragmatis; aku berusaha mencerna keduanya sekaligus.

“T-tidak,” aku mengedikkan bahu, “Tapi bagaimana dengan Kim Jaejoong?” Mungkin tak seyogianya aku membahas mengenai pemuda itu. Kami hanya berjumpa sesekali dan ia langsung raib tanpa sekelumit sapa. Status Kim Jaejoong tak ubahnya partner berbagi ranjang bagi Jung Yunho.

“Jae?” Langkah Yunho yang terhenti tak ayal membuatku menginjak jemari kakinya. “Aw!” ia meringis nyeri.

Aish, maafkan aku, Yun—”

“—lupakan saja, ini salahku.” Ia berjingkat-jingkat, memegangi jemari kakinya. “Ah, iya. Soal Jae, itu tentu bukan urusannya.”

“Mengapa kau menyimpulkannya dengan semudah itu?” tanyaku, berjongkok di sampingnya.

“Jae sedang pergi berkencan dengan Lina sekarang ini, jadi ia takkan melirikmu.”

“Tunggu!” aku memekik keras-keras, mendorong tubuhnya. Sekonyong-konyong saja Yunho terkesiap. Manik matanya melebar dan ia hanya tergoler dengan tatapan mencelus di parket kayu. “Bukankah kalian berpasangan dan kau …”

Tawa Yunho lekas meledak. “Kau berpikir aku seorang gay?”

Aku gegas bertekap mulut dan beringsut mundur. Kepalaku mengangguk perlahan-lahan, sementara membiarkan semburat merah itu menggerayangi pipi. Apa yang telah kupikirkan selama ini? Aku tak ikut tertawa bersama Yunho. Ia berusaha duduk, sembari bertelekan siku. “Apa yang membuatmu menilaiku sebagai seorang gay, Boa?” tanyanya.

Kurasa, ia tak perlu memberi penekanan para kata gay yang membuatku nyaris tersedak. “Tingkahmu dan Jae, lalu eye-liner itu—”

“—o, baiklah. Changmin juga sering mengenakannya jika kau tidak ada dan ia memang gay, sedangkan aku hanya berlakon. Itu hanya semacam riasan untuk tampil di atas panggung, bukankah kau juga memakainya?”

“Tapi ‘kan aku—”

“—sudahlah, setidaknya kau sudah tahu yang sebenarnya. Lalu, bagaimana dengan ide brilianku, apa kita akan tetap menjalankannya?” Yunho bergerak tanpa tedeng aling-aling hingga tatapan teduhnya membuatku nyaris mati kehilangan napas. Gigiku hanya menggertak maju mundur.

Alih-alih mendengar penyingkapan rahasia itu, entah mengapa aku lebih memilih Yunho yang berstatus gay.

-fin.

7 thoughts on “[FF Freelance] Free Spirit (Oneshot)

  1. Whoaaaa… ini keren!! Diksinya itu lohhh >< sekalipun ada beberapa kata yg aku ga ngerti karena stok kata2 yg aku pahamin terbatas.. ;;–;;

    Tapi… was this really end? :O
    padahal menurut aku konflik utamanya malah blm muncul… 😐
    sayang banget sih kayaknya kalo ini ga ada sekuelnya..

    • terima kasih ya 😀
      er, maaf buat diksinya yang terlalu tinggi, sebenernya ini sengaja dibikin pendek karena ya pengen menyorot ke konflik mengenai Boa yang terlalu monoton hidupnya dan Yun yang mengajarkan dia biar agak santai sedikit hehe.
      tapi, thanks lho buat sarannya, semoga saya bisa memulai sebuah cerita lain (sekuelnya) dari yang satu ini.

  2. paragraf pertama udah bikin tercengang. bukan dalam artian yg jelek loh, tapi karena diksinya yg bagus bgt. ga bnyk penulis yg bisa pake diksi ky gitu tnp terkesan alay ato sok pinter, mengingat ini adl fanfic yg pd umumnya pny kesan ringan, dan mnrtku km adl satu dr yg ga bnyk itu 😀 great job :)) dan endingnya sukses bikin ternganga lg. twistnya dapet bgt 🙂

    • terima kasih ya sudah membaca. wah, aduh… senang banget deh ada yang melihat sisi bagus dari ff saia. ya, saia akui sih ini emang sulit. apalagi di bagian filosofinya, saia sendiri mikir dua kali, pengen ditulis apa nggak ya? tapi sebenernya saia make diksi yang agak santai kok di sini *masih tebar alibi* /disate. karena saia berharap yang membaca bisa menangkap makna filosofi di dalamnya. endingnya, lols. itu twist kejutan buat para yunjae-shipper.

  3. cara penggambaran tokohnya dalam waktu singkat itu ngena banget, walaupun agak bingung sama diksi-nya, But, bagus banget lhoh,

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s