Marriage Without Love (1st) – Reunion –

Marriage Without Love (1st)

– Reunion –

Cast :

Im Yoona, Jung Jessica, Hwang Tiffany,

Choi Siwon, Lee Donghae, Kim Heechul.

Series, Romance, Wedding Life, Sad, General

A/N :

Ok, ini dia part satunya ^^ Oh, iya banyak yang ngira kalau hubungan YoonHae bakalan benci jadi cinta kan ? Sebetulnya nggak salah sih, tapi juga nggak bener, tahu kenapa ? Karena mereka justru lebih condong ke rasa suka menjadi benci*Eits, inget, rasa suka bukan cinta* Penasaran kan ? Iya kan ? Silahkan dibaca ^^

Silent Reader, Go Away, Plagiator*Kick*

Happy Reading~^^

Reunion

I’m happy cause i never saying goodbye to you.

Because saying goodbye means going away.

And going away means forgetting.

“Jangan menangis lagi, Yoong. Kita pasti bertemu lagi. Pasti.” Bocah lelaki itu menatap gadis kecil di depannya dengan lembut. Ia menggenggam telapak tangan mungil itu untuk meyakinkan bahwa kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya bukanlah sekedar omong kosong.

“Jika kau tidak bisa menemuiku suatu saat nanti, maka aku yang akan menjemputmu, Yoong. Bukankah kita sudah berjanji untuk hidup bersama selamanya ? Bukankah sudah kukatakan kalau selamanya kau adalah putri untukku dan aku adalah pangeranmu ? Itu tidak akan pernah berubah, Yoong. Aku yakin ada takdir di antara kita. Takdir yang akan mempertemukan kita kembali dengan cara semustahil apapun. Kamu percaya denganku bukan ?”

Gadis kecil di depannya pun mengangguk dan mengukir sebuah senyuman kecil di wajah mungilnya menggantikan air mata yang mengalir.

“Aku percaya, Hae.”

09.00 KST, Incheon Airport.

Sebuah senyuman tak henti – hentinya terlukis di wajah cantik Im Yoona. Ia berjalan dengan sedikit berjingkrak. Perasaan bahagia memenuhi rongga dadanya dan membuatnya tak bisa menghilangkan lengkungan di bibirnya.

“Aku kembali Hankuk !” Gadis itu berteriak di tengah hiruk pikuk bandara tanpa sedikit pun merasa malu pada pengunjung bandara lainnya.

Lee Donghae menatap pintu kedatangan luar negeri dengan resah. Lagi – lagi ia melirik arlojinya. Ia resah bukan karena telah lama menunggu, lebih tepatnya ia resah karena tidak sabar untuk bertemu kembali dengan teman masa kecilnya yang baru kembali dari Jepang, Im Yoona.

“Bagaimana wajahnya sekarang ?” Senyuman lembut sama sekali tak hilang dari wajah tampannya.

Rambut coklat gelapnya terus bergerak tertiup angin. Jung Jessica menatap wajah tampan namjachingu-nya yang berdiri di sebelahnya. Lelaki itu terus tersenyum sambil menatap pintu kedatangan luar negeri. Hal itu tak urung membuat Jessica Jung tersenyum.

“Tenanglah. Ia tak akan lari, Donghae-ah.”

Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana hitam favoritnya membuat sosok Choi Siwon semakin terlihat mempesona. Lesung pipit di kedua sisi wajahnya tak pernah menghilang sejak setengah jam lalu ia menunggu gadis itu. Gadis yang sangat penting baginya.

“Kuharap ia masih menyukai mawar merah.” Ia menatap buket mawar merah yang digenggamnya dan kembali tersenyum.

Jemari lentik milik Tiffany Hwang bergerak merapikan poni rambutnya. Ia kemudian merapikan mantel coklat yang ia kenakan dan tersenyum lebar ketika melihat sosok tinggi itu tak jauh darinya tengah menatapnya juga. Gadis itu tersenyum hingga membuat mata besarnya membentuk bulan sabit.

Tanpa sadar ia menabrak bahu seseorang di depannya. “Ah. Gomenasai, oh maksudku, mianheyo.”

Ne, gwenchanayo.” Gadis yang ia tabrak barusan tersenyum tipis.

Ia pun ikut tersenyum sebelum berjalan pergi menemui lelaki jenjang dan tampan tersebut.

Kim Heechul kembali berdecak kesal saat matanya tetap tak menemukan sosok yang ia cari.

“Kenapa aku harus menemui pria tua itu ? Bukankah kau bisa pergi sendiri menjemputnya ?” Dia berkata pada seorang pria paruh baya di sebelahnya.

“Tapi ini perintah Nyonya Besar, Tuan Muda.”

Lelaki itu menghela nafasnya panjang. Dia lalu melangkahkan kakinya menjauh. “Aku mau beli minum. Panas sekali di sini.”

Saat ia berbalik tubuhnya menabrak seseorang dan mengakibatkan suara bedebam lumayan keras. Dia menemukan seorang wanita berambut coklat tua yang sedang terduduk dan mengaduh kesakitan di depannya. Dengan cepat ia mengambil 3 kaleng minuman yang terjatuh dari genggaman wanita itu.

“Maaf.” Dia berkata singkat sambil menyerahkan kaleng – kaleng tadi dan pergi tanpa membantu wanita itu berdiri.

Im Yoona terus berjalan menelusuri bandar udara tersebut sambil menyeret koper merah muda miliknya.

“Dong Hae ?” Langkah gadis itu terhenti saat dari kejauhan matanya bertemu dengan sesosok pria yang dikenalnya. “Dong Hae !” Ia kemudian menyerukan suara itu dan membuat sosok pria tersebut berbalik menatapnya. Dia kemudian melangkah kecil mendekat dengan senyuman lebar di bibirnya.

“Lee Dong Hae ?” Gadis itu menunjuk pria di depannya dengan jari telunjuk dan tersenyum lebar.

Lelaki di depannya seketika tersenyum lebar dan memeluk dirinya.

“Woah. Kau Im Yoon Ah ? Im Yoona Ah yang itu ?” Lee Donghae sengaja membelalakkan matanya selebar mungkin untuk menggoda gadis di depannya. Hei, tentu saja ia berbohong jika ia berkata teman masa kecilnya ini telah tumbuh menjadi gadis yang buruk rupa. Tidak. Sama sekali tidak, Im Yoon Ah telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik.

“Dong Hae-ah ?” Sebuah suara nyaring memecah obrolan keduanya. Dari balik punggung Donghae terlihat seorang wanita mungil dengan tangan penuh kaleng minuman dingin.

“Ah. Jessica, kau sudah kembali ? Sini, biar kukenalkan kau dengan dia.” Lee Dong Hae menarik pergelangan tangan kurus milik wanita itu dan menghadapkan wanita tersebut dengan Im Yoon Ah.

“Kenalkan, dia Jessica. Pacarku.” Dong Hae tersenyum lebar.

Im Yoon Ah melebarkan matanya dan menatap wanita cantik di depannya. Rambut kecoklatan, mata coklat, bulu mata yang lentik, dan kulit putih pucat. Singkat kata, cantik. Gadis di depannya ini sangat cantik. Dan jika kalian mengharapkan Im Yoon Ah akan merasakan perasaan cemburu atau apapun itu, kalian harus kecewa. Tentu saja ia ingat tentang janji kecil dirinya dengan Lee Dong Hae untuk hidup bersama selamanya tapi hei, itu janji saat mereka masih dua orang bocah ingusan. Itu sama sekali tidak berlaku untuk saat ini.

“Hai. Aku Im Yoon Ah. Kami teman masa kecil.” Dia memajukan tangannya. “Aku baru saja kembali ke Korea dan sebelum ini aku tinggal di Jepang. Salam kenal, Unnie.”

Jessica Jung tampak ragu dan menatap lurus ke arah gadis di depannya. Mungkin sifatnya yang tertutup pada orang – orang barulah yang membuatnya seperti ini. Mata coklatnya menelusuri wajah cantik itu. Kecantikan di depannya ini berbeda. Polos dan penuh senyuman, mungkin itulah kesan pertama setiap orang pada saat pertama kali bertemu Yoona. Rambut hitam gelap, mata yang besar dan bersih lalu bibir yang tipis serta dahi yang indah. Sangat berbeda dengan dirinya, bukan ? Tidak. Tidak. Ia bukannya mengatakan dirinya sendiri buruk rupa, ia tahu dan sadar bahwa ia memiliki wajah yang cantik tapi kecantikan mereka berdua berbeda. Jika Im Yoona memiliki kecantikan yang begitu bersih dan hangat maka ia adalah kebalikannya, ia memiliki kecantikan yang dingin.

“Uhh, Jessica Unnie ?” Im Yoona menggerak – gerakan tangannya yang masih terulur menunggu sambutan dari Jessica.

“Ah. Iya. Maaf. Jessica imnida.” Akhirnya Jessica menyambut tangan di depannya dan berjabat tangan sekilas.  

“Oh iya, apakah Unnie memiliki darah campuran ? Maaf, kalau aku lancang tapi Unnie perlu tahu kalau aku memiliki rasa keingintahuan yang akut. Jadi, mungkin Unnie akan capek saat bersamaku karena aku akan banyak bertanya.” Gadis itu menjelaskan tanpa ada sedikit pun rasa canggung.

“Itu bukan rasa keingintahuan, Yoong. Itu karena kamu terlalu banyak omong,” Donghae menimpali.

“YAA ! Diam !” Yoona memukul pelan pundak lelaki itu.

“Ya. Nenekku berasal dari Inggris.” Jessica berkata pelan.

Yoona mengangguk – anggukan kepalanya mengerti. “Itu. Mata dan rambut Unnie. Aku sangat menyukainya. Warna coklat yang menenangkan.”

Jessica tercekat. Ini adalah kedua kalinya ada orang yang mengatakan hal itu pada dirinya. Sejak kecil, ia sudah membenci mata dan rambutnya yang berbeda dengan orang – orang di sekitarnya, bahkan Krystal -adik perempuannya- memiliki warna mata dan rambut gelap lalu kenapa dirinya lain ? Rambut dan mata ini telah membuatnya diasingkan dan menjadi pribadi yang tertutup sejak masa kanak – kanak. Ia menjadi kehilangan rasa percaya diri karena ejekan milik teman – teman kecilnya.

“Ya, bukan ? Itu indah, bukan ? Aku pun menyukainya.” Lee Dong Hae merangkul pelan pundak Jessica dan melemparkan sebuah senyuman pada gadis itu.

Jessica menatap Dong Hae dan sebuah senyuman tipis tersangkut di bibirnya. Lelaki itulah orang yang memuji mata dan rambutnya untuk pertama kalinya. Namun sedetik kemudian Jung Jessica kembali tercekat. ‘Warna coklat yang menenangkan’ kata – kata itu…Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Donghae dan Yoona yang sedang berbicara secara bergantian. Kata – kata itu…Donghae juga mengatakannya. Persis sama. Mereka mengatakan hal yang sama mengenai dirinya. Mata Jessica terus bergerak menatap dua orang di depannya secara bergantian. Ia sudah menyadari akan ada sebuah badai yang datang.

“Jadi, kau akan mengambil kuliah di universitas kami ?” Donghae bertanya tanpa sedikit pun mengalihkan konsentrasinya dari jalanan di depannya.

Im Yoona mengangguk singkat. “Yup. Designer, Aku akan mengambik jurusan itu.”

“Bagaimana keadaan Aboeji dan Eomonim ?”

Aboeji dan Eomonim ?” Jessica berbisik pelan.

“Oh, jangan salah sangka, Unnie. Aku dan Donghae memang memanggil orang tua kami masing masing dengan sebutan seperti itu karena kedua orang tua kami adalah teman yang sangat dekat.”

Jessica tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Tenang saja. Aku tidak akan salah sangka pada kalian berdua,” dustanya.

Yoona ikut tersenyum lebar, “Eomma masih cerewet seperti dulu dan dia selalu memaksaku untuk menikah muda sedangkan Appa selalu sibuk menasehatiku untuk bersikap seperti wanita anggun.” Gadis itu menghela nafas panjang, “Bahkan sebelum aku naik pesawat kemarin, mereka berlomba – lomba menceramahiku hingga akhirnya mereka sepakat untuk menyuruhku kembali ke Jepang dengan membawa seorang calon suami. Membuatku gila saja.”

Donghae tertawa pelan, “Sejujurnya, saat mereka menelponku untuk mengatakan kau akan kembali ke Korea, mereka sudah menawarkanku untuk menjadi calon suamimu.”

Mwo ? Aissh. Kau sudah menolaknya, bukan ? Aku tak mau menikah dengan lelaki cerewet sepertimu,” tukas Im Yoona setengah mencibir.

“Tentu saja aku langsung menolaknya. Aku pun ingin menikah dengan seorang yang anggun seperti Jessica bukan wanita tomboy sepertimu.”

“YA !” Yoona memukul pelan pundak Donghae dari kursi belakang.

Jessica yang mendapat posisi duduk di sebelah Donghae tertawa singkat. “Kalian benar – benar akrab.”

“Oh. Jangan salah sangka, Jessica-ah. Aku hanya mencintaimu.” Donghae menatap Jessica kilat.

“YA ! YA ! Jangan berkata cinta di depan seorang gadis yang tak mempunyai pacar sepertiku.” Yoona berdecak kesal setengah bercanda.

Lee Donghae tertawa singkat, “Karena itu carilah pacar.”

“Aku belum menemukan yang tepat,” tegas Yoona. “Oh iya, sejak kapan kalian berpacaran ?”

“4 Tahun lalu,” ucap Donghae.

“4 Tahun ? Wah, itu waktu yang lama. Hei Unnie, apa Unnie tidak bosan dengan monster cerewet seperti ini ?”

Jessica hanya bisa tertawa lalu menggeleng pelan.

“Tentu saja dia tidak akan bosan. Mana mungkin ia bosan dengan pacar yang setampan ini.”

Yoona mendengus geli mendengarnya.

Im Yoona berjalan cepat menelusuri kota Seoul. Sesekali ia melirik ke arah toko – toko yang berjejer di sampingnya dan saat ia menemukan baju yang menarik perhatiannya, ia akan berhenti lalu memasuki toko tersebut kemudian keluar dengan membawa tas belanjaan.

Berbelanja memang menjadi hal yang paling ia senangi di dunia ini. Dan berbelanja pulalah yang menjadi kegiatan pertama Im Yoona setelah ia kembali ke Seoul. Walaupun kenyataannya ia memang seorang gadis yang tidak anggun tapi ia sangat peduli dengan penampilannya. Rambutnya tak pernah kusut, kulitnya selalu lembut, kukunya tak pernah polos selalu berwarna, dan baju yang ia kenakan tak pernah bertabrakan atau ketinggalan jaman. Gadis itu melirik ke arah salah satu toko dan menemukan sebuah gaun mini berwarna biru langit dengan renda – renda manis. Ia terpaku sesaat sampai tak menyadari ada seseorang di depannya.

Bruk.

Im Yoona memekik tertahan saat tubuhnya menabrak seseorang dan terjungkal ke belakang.

“Ah.” Ia berteriak saat merasakan suatu cairan panas tersiram ke arah rok-nya. Cairan panas berwarna hitam, kopi.

Ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah orang yang baru saja ia tabrak.

“Apa kau baik – baik saja ?”

Tidak. Rasa marahnya tiba – tiba menghilang berganti dengan kekaguman. Seorang lelaki jenjang tengah mengulurkan tangannya pada Yoona untuk mencoba membantu gadis itu berdiri.

Im Yoona masih terdiam terperangkap dalam tatapan tenang milik lelaki di depannya. Jantungnya berdebar berkali lipat lebih cepat. Ah. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta ?

Choi Siwon membantu gadis di depannya dengan sigap. Ia menarik pelan tubuh gadis itu hingga berdiri. “Maaf,” ucapnya.

“Ah. Oh, tidak apa – apa.” Gadis itu tampak tergagap.

“Panas. Ah, panas sekali. Apa ini ?”

Lelaki itu menahan tawanya saat melihat ekspresi panik sekaligus lucu milik gadis itu saat menemukan ada noda hitam di rok putihnya.

“Oh. Maaf. Kopiku mengenai rok-mu.” Pria Choi itu mengangkat gelas kertasnya.

“Ini pasti susah hilang. Aih, aku baru saja membeli rok ini.” Gadis itu berdecak sebal.

Siwon tersenyum tipis, “Bagaimana kalau kau mengikutiku ? Kurasa aku bisa membelikanmu rok baru sementara kita akan menitipkan rok ini di laundry. Tentu saja semua menjadi tanggunganku. Bagaimana ?”

“Rok baru ? Oh. Tidak, tidak. Kau tidak perlu melakukan itu.” Gadis itu menggeleng panik.

“Tenang saja, aku tidak melakukan ini tanpa mengharapkan apapun.” Choi Siwon tersenyum tipis.

“Maksudmu ?”

“Temani aku makan siang hari ini dan anggap kita impas.”

Gadis di depannya membulatkan mata tak percaya. Ia lalu berdecak geli. “Hanya itu ?”

“Ya, hanya itu.” Lelaki tampan tersebut menganggukan kepala.

“Tentu saja aku mau. Oh ya, dengan catatan aku yang membayar makan siang ini.”

Choi Siwon mengangguk tenang, “Baiklah.” Lelaki itu kemudian menarik tangan Im Yoona dan menggandeng gadis itu menuju mobilnya.

“Oh, kita belum berkenalan. Aku Im Yoona.”

“Siwon. Aku Choi Siwon.”

“Donghae ? Kenapa kau di sini ?” Yoona mengangkat salah satu alisnya saat menemukan Donghae berdiri di depan pagar flat-nya.

Lee Donghae hanya tersenyum tipis dan mengangkat beberapa lembar kertas, “Mengantar brosur universitas. Kurasa kau akan butuh ini.”

Im Yoona tersenyum lebar. “Terima kasih.” Ia berlari dan memeluk teman sejak kecilnya itu.

Donghae membalas pelukan gadis itu dan dahinya berkerut saat menemukan seorang lelaki tinggi keluar dari mobil di belakang Yoona.

Gadis cantik itu menyadari Siwon yang tengah menatapnya. Ia kemudian menyeret Donghae mendekati Siwon.

“Donghae, dia Siwon, teman baruku dan Siwon, dia Donghae, temanku sejak kecil.” Gadis itu bergantian menatap kedua lelaki di depannya.

Dan entah kenapa Donghae membenci Siwon bahkan sejak mereka pertama bertemu.

Ia sangat tidak menyukai lelaki itu tanpa alasan yang jelas.

“Tuan Muda, saya mohon temuilah Tuan besar.” Seorang lelaki paruh baya menatap tuan mudanya dengan pandangan memohon.

“Untuk apa ? Agar dia bisa merendahkanku lagi ? Tidak akan. Aku tidak akan menemuinya.” Kim Heechul justru memakai mantelnya dan berjalan ke arah mobil hitamnya.

“Tuan muda—” Lelaki paruh baya tadi hanya dapat melihat mobil hitam tadi menjauh.

Kim Heechul menginjak pedal gas semakin keras.

“Kau sama sekali tidak pantas menyandang nama Kim.”

Kata – kata itu terus terngiang di otaknya.

Ah. Dia tidak bisa menyetir dalam keadaan kacau seperti ini. Bagaimanapun ia hanya memiliki nyawa satu dan saat ini ia masih tak ingin mati karena kecelakaan.

Dengan kasar ia memarkirkan mobilnya di pinggiran sebuah taman. Ia membuka kemudian membanting keras pintu mobil itu. Dengan langkah gontai, ia berjalan mendekati salah satu kursi taman. Kim Heechul kemudian membanting tubuhnya lumayan keras di atas kursi itu.

Dia menumpukan kepalanya pada kedua telapak tangannya yang nyaris menutupi seluruh wajah tampannya kecuali mata. “Marga Kim. Terlalu berat,” lirihnya.

“Um. Cogiyo. Apa kau baik – baik saja ?” Sebuah suara nyaring mengagetkannya.

Ia mendongak dan menemukan seorang gadis berambut coklat tua tengah menatapnya.

“Kenapa aku harus baik – baik saja ?” tanyanya terkesan kasar.

“Kau…kenapa membentakku ? Aku hanya takut kalau kau akan bunuh diri karena terlihat begitu frustasi dan dengan berbesar hati aku bertanya padamu tapi kamu justru…aih,” cecar gadis itu.

Kim Heechul membelalakkan matanya. “Diam kau. Gadis aneh.”

“Kau yang diam.” Gadis itu menatapnya sarkastik.

“Sudahlah, percuma aku mengkhawatirkanmu. Anggap saja aku tidak pernah bertanya padamu.”

Gadis itu berbalik sambil menyeret tali anjingnya. Ia kemudian duduk tak jauh dari Heechul dan melepaskan tali pada leher peliharaannya tersebut dan membiarkan anjing kecil itu berlari bebas.

Mata Kim Heechul sama sekali tak bisa terlepas dari gadis itu. Dan ia semakin terperangkap saat gadis itu menampakan senyum yang begitu indah. Dia…jatuh cinta pada gadis itu ?

To Be Continue…

66 thoughts on “Marriage Without Love (1st) – Reunion –

  1. masih sedikit bingung…yoona? tifany? jessica? donghae? siwon? heenim (uri namja) \(^_^)/ gak sabar nunggu kelanjutannya….

  2. wahhhhh,,,,, sugen couple….. kurang seokyu nie…. sunsun couple jga… yy couple juga…. masukin aja semua hahahhahahahha… good job, walau sedikit puyeng baca diawalnya…. fighting….

  3. wah.. amasih bingung bacanya. next part cepet publish ya.. oh iya aku bakal seneng dan rajin baca kli ff ini paitingnya haesica, YoonWon, sama HeeFany. please ya pairingnya itu..

  4. Nie pairingx sapa cih kok aq bingung??? Klo yoonwon ,haesica n heefany pasti aq baca ampe end hehehe 🙂 mana lanjutanx thor??? 😦

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s