[FF Freelance] The Party (Ficlet)

Title : The Party [Sequel Shadow & Secret]

Author : Avery Song

Cast : Oh Sehun, Jung Ririn

Genre : Romance

Length : Ficlet

Rated : PG-13

Disclaimer : Cerita murni dari pemikiran author. Jika ada kesamaan alur, nama tokoh itu hanya ketidak sengajaan belaka. Maaf jika kurang memuaskan. Hope you guys like it 😉 Leave your comment please.

-_-_-_-_-_-_-

Kupandangi undangan berwarna soft pink yang kini tengah kupegang. Di bagian pinggirnya, sekilas tampak kilauan diamond menyilaukan mata, padahal benda-benda kecil itu hanyalah sebuah permata putih imitasi yang biasanya digunakan sebagai penghias.

Cover benda yang benar-benar menipu. Dari luar terlihat begitu mewah, sampai-sampai memabukkan mata. Yang aslinya tertutup dengan hal itu, membuat kita tidak menyadari kesalahan apa yang tengah kita lihat. Sama sepertinya dengan diriku saat ini. Berpura-pura seakan semua hal baik-baik saja, tetapi sebenarnya resah melandaku di dalam.

Unforgettable moment. Tema birthday party itu tercetak tebal di bagian paling atas isi undangan. Tetapi bukan kalimat itu yang membuatku galau hingga seperti ini. Ada tambahan lain yang diminta oleh sang penyelenggara pesta.

Pasangan kembar itu –Aecha dan Aeyoung- sepertinya tahu betul hal apa yang seharusnya mereka lakukan untuk menjahiliku. Come with your partner. Kalimat kecil itu tertulis miring di bagian bawah. Dan para undangan pesta juga tahu yang dimaksud ‘partner’ dalam tanda kutip ini apa. Bukan hanya sekedar partner kerja atau lainnya. Yah, mungkin bisa diartikan sebagai ‘pacar’ oleh kebanyakan orang.

Padahal mereka berdua sangat mengerti bagaimana cerita cintaku yang paling akhir. Cerita yang kandas, bahkan saat cerita itu belum sempat kumulai. Dan sekarang yang benar-benar membuatku kesal, betapa teganya mereka berdua membuat tema dengan hal –yang bahkan dengan memikirkannya- dapat membuatku mengingat betapa malangnya nasibku ini.

Angin sejuk langsung menyerbuku saat kedua kakiku menginjak rerumputan taman belakang sekolah. Bahkan langit biru yang tertutup gumpalan awan putih terlihat begitu berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang terasa begitu gelap.

Pohon Maple yang berdiri kokoh di taman belakang, menjadi tempat favoritku akhir-akhir ini. Saat ini, menyendiri merupakan hal yang paling tepat untuk kulakukan. Langkahku terhenti di tengah jalan saat mataku menangkap ada orang lain yang sedang terbaring pulas di bawah pohon.

Aku berjalan pelan menghampiri orang itu. Mencoba meminimalisir suara yang akan timbul jika kakiku tak sengaja menginjak dedaunan kering yang telah tersebar luas di area taman belakang.

Ternyata Sehun. Kedua tangan miliknya itu dijadikan alas, agar kepalanya tidak menyentuh langsung rumput hijau. Wajahnya tampak tenang dalam tidur. Seberkas cahaya matahari menerpa langsung wajah malaikat miliknya itu, membuatnya terlihat semakin bersinar dalam damai.

Aku berlutut disampingnya. Sedikit tertegun melihat sudut bibirnya terangkat sedikit. Terlihat sekali jika laki-laki itu sangat menikmati alam bawah sadarnya. Yang membuatku –tanpa sadar- ikut tersenyum.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di dalam benakku. Kualihkan tatapanku dari wajahnya menuju undangan yang kini tergeletak manis di sampingku. Bergelut dalam pikiranku sendiri, yang bahkan sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Lalu menatap dirinya lagi, yang kini mulai bergerak resah, mungkin sedikit terganggu dengan kedatangan diriku.

Senyumku merekah dengan sendirinya. Bersamaan dengan itu, kedua kelopak matanya mulai terbuka perlahan.

Matanya membulat sempurna ketika mendapati diriku yang sedang berlutut di sebelahnya. Ditambah lagi adanya senyuman aneh yang tersungging di bibirku. Membuat dirinya langsung mengambil langkah mundur secara refleks.

“Berkencan denganku. Oke, Sehun oppa?” Aku tak bisa menahan kekehan kecil yang sukses meluncur dari mulutku. Sedangkan dirinya hanya bisa terdiam mematung, masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulutku. “Satu rahasiamu ada padaku. Dan kuharap kau tidak menolaknya.”

Hanya sedetik rasa kemenangan itu hinggap ke dasar hatiku, karena selanjutnya sebuah hal yang tak terduga, membuat diriku merasa sedang tak menapak bumi.

Raut wajahnya berubah dalam sekejap mata. Bahkan senyum manis yang terbentuk di bibirnya itu terlihat begitu menawan, walau posisi tubuhnya tidak berubah sejengkal pun.

“Mengapa tidak?” Dia berdiri dari posisi duduknya.

Badannya yang tinggi, berdiri begitu menjulang di hadapanku. Ditambah posisiku yang sedang berlutut, membuatku benar-benar harus mendongakkan kepalaku agar dapat melihat bayangan wajahnya yang tampak gelap, karena posisinya yang membelakangi matahari.

Tangannya terulur tepat di depan wajahku. “Jadi, sekarang kita sepasang kekasih?” Ku terima uluran tangannya, lalu dengan satu tarikan keras aku telah berdiri tegap menghadap arahnya.

Hanya satu langkah jarak yang tersisa di antara kami. Bahkan aku bisa melihat dengan jelas tatapan miliknya, yang menurutku berbeda dari biasanya. Satu nilai tambah baginya. Aku sangat menyukai bola mata coklat pekat yang terlihat datar, tetapi di saat bersamaan dapat meneduhkan hati. Memberikan sensasi tersendiri saat menatap dalam ke arahnya.

“Tapi bicara soal nama, aku bahkan belum mengetahui namamu,” Sehun terdiam sejenak. Tiba-tiba tawa renyah mengalun menerpa telingaku. “Aku seorang pacar yang buruk bukan? Nama perempuanku saja aku tidak mengetahuinya.”

Matanya agak menyipit saat mendapati tanda pengenal yang terpasang rapi di bagian kanan jas sekolahku. “Jung Ririn,” Gumamnya pelan. Bahkan aku melihat sendiri sebuah senyuman tersungging sempurna saat dia menggumamkan namaku tadi.

Diliriknya sekilas jam putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Sepulang sekolah,” Matanya kembali mencari-cari mataku. “Haruskah kita berkencan?” Sesaat aku lupa bagaimana caranya bernafas, ketika –untuk kesekian kalinya- dia tersenyum manis ke arahku.

Satu langkah mendekat ke arahku. Dia menutup jarak yang sebelumnya terbentang diantara kami. Kepalanya bergerak mendekati telingaku. Yang membuatku menahan nafas seketika, bahkan untuk melangkah mundur menghindar dari dirinya pun aku tak mampu.

“Sampai jumpa sepulang sekolah. Chagi?” Tawa kecilnya, serta helaan nafasnya menyapu permukaan kulit bagian belakangku. Membuat bulu kudukku meremang seketika.

Dapat kurasakan kepergiannya meninggalkan taman belakang. Hingga akhirnya aku bisa kembali menghirup udara segar yang berputar di sekelilingku secara normal. Keberadaanya benar-benar terasa mencekikku, walau bukan dalam artian yang negatif.

Percaya tidak percaya, aku agak menyesali sikap awalku yang terkesan agresif. Walau tidak bisa kupungkiri jika di lain sisi aku merasa bahagia, karena setidaknya aku bisa menjadi pacarnya. Bahkan aku ragu, apa mungkin yang baru saja ia katakan hanya sebuah kebohongan belaka, dikarenakan dia tidak tega menolakku?

Tapi apapun pemikiran yang ada di dalam otaknya, aku bahkan tidak peduli dengan itu. Aku hanya bisa merasakan perasaan meluap-luap dalam dri ini, dan hanya mau menjalani apa saja yang memang harus kujalani di waktu ini. Bahkan aku bisa datang ke pesta perayaan ulang tahun si kembar dan menunjukkan pada mereka, jika usaha mereka untuk menjahiliku tidak berhasil. Karena faktanya, aku telah memiliki partner.

-FIN-

6 thoughts on “[FF Freelance] The Party (Ficlet)

  1. mwooo? ga nyangka sehun mau aja diajak pacaran sama ririn tapi itu beneran ato boongan ya? asa aneh jg sih tiba2 jadi gitu aja..wkwkwk *sirik mode on*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s