[FF Freelance] Stay Close, Don’t Go (Part 2 – End)

Title                   : Stay Close, Don’t Go… (Part 2 –End)

Author              : Minrin1004

Rate                   : PG-13

Length              : Twoshoots

Genre               : Romance, Drama

 

Main Cast        : – Ahn Min Rin (OC)

                            : – Cho Kyuhyun

                            : – Jung Yunho

 

Other Cast       : – Im Yoona

                            : – Lee Hyukjae

                            : Find it by yourself^^

Previous part: Part 1

 

Disclaimer       : So.. I’m back with this ff, haish I don’t have much to tell-_- . Pokoknya tinggalkan jejak sehabis membaca ya, that’d mean a lot for me, happy reading^^

San Want Residence, Songshan, Taiwan

22.00 CST

Min Rin’s POV

Pikiranku benar-benar kacau saat ini. Kyuhyun, aku bergidik saat mata tajamnya menusuk bola mataku tadi. Akh! Dan bodohnya aku menolak ajakan pulangnya dan lebih memilih pulang bersama Yunho. Lagipula bagaimana bisa aku tega meninggalkan Yunho yang terluka seperti itu sendirian di Raohe? Dan apa aku mau mati dengan hanya berdua dengannya selama perjalanan ke apartemenku?

Dan sekarang aku juga hampir mati tercekik kesunyian yang diciptakan Yunho selama perjalanan. Suasananya begitu canggung, dan sekarang sampailah kami di parkiran San Want. Tanpa basa basi aku  buru-buru membuka pintu yang ternyata masih terkunci.

“Kau lupa membuka kuncinya?”

“Tidak. Aku hanya ingin menahanmu beberapa menit saja, bisakah?”

“Aku lelah, oppa.”

Yunho tertawa mendengar perkataanku tadi,

“Kau panggil aku apa? Oppa? Jujur saja aku belum terbiasa dengan panggilan itu, apalagi itu keluar dari mulutmu.”

“Baik, sekarang apa, tuan Jung?” tanyaku malas.

Yunho menatap yeoja disampingnya dalam. Sedangkan Rin hanya menunduk memainkan jari-jari tangannya.

“Gomawo.”

“Hm? Untuk apa?”

“Tak peduli kau menerima atau tidak. Aku akan tetap menganggap hari ini adalah kencan pertama kita.” Kata Yunho sambil memamerkan senyum manisnya.

Kata-kata itu sukses membuatku mengerjapkan mata tak percaya dan menatap namja aneh di sampingku. Lalu tiba-tiba Yunho yang masih tersenyum mendekatkan kepalanya kearahku, aku, aku bingung, apa ia benar-benar berani akan melakukan itu? Aku yang masih bingung mau merespon apa hanya bisa memundurkan kepalaku untuk menjaga jarak. Lalu,

*click*

“Kau lupa membuka seatbeltnya, Rinnie-ah.” Ucap Yunho di depan wajahku yang membuatku menundukkan kepalaku mengurangi rasa panas di pipiku yang sudah pasti akan membuat semburat kemerahan. Aku mendengar tawanya meledak sekali lagi,

“Kau lucu sekali, Rin. Apa kau pikir aku akan—? Hahahahaha,”

Aku hanya menatapnya garang dan bersiap untuk membuka pintu disampingku, lalu tangannya tiba-tiba mencengkeram tanganku.

“Gadisku marah, eh? Percayalah, Rin, kau begitu kuhormati, aku tidak akan berbuat yang macam-macam terhadapmu.”

Aku hanya menatapnya bingung. Entah kenapa kali ini ia terlihat begitu serius. Air mukanya sering berubah begitu drastis, apa ia bersungguh-sungguh? Kenapa hidup akhir-akhir ini senang sekali mempermainkanku sih? Pertama Kyuhyun, lalu Yunho. Lamunanku buyar saat tangan Yunho melambai-lambai di depan mataku,

“Kau lihat apa? Turunlah, aku mau pulang tau.”

“Aish kau ini! Lagipula siapa yang mau berlama-lama denganmu?!” kataku yang kali ini berhasil keluar dari mobilnya.

Aku menghentakkan kakiku kasar lalu kudengar ia berteriak dari dalam mobil,

“Istirahatlah yang cukup, jagi!”

“Tutup mulutmu, Jung Yunho bodoh!”

-o-

Ahn Corporation, Songshan, Taiwan

07.30 CST

Author’s POV

Min Rin datang sepagi itu berniat untuk melanjutkan meneliti laporan keuangan yang menyebabkannya berada dalam masalah itu. Ia mengutuk dirinya sendiri saat mendapati Kyuhyun dengan tampang yang amat dingin berdiri menyandar di meja kerja Min Rin.

“Apa kau menikmati kencanmu, jagiya?—

Min Rin hanya mengedarkan matanya mencari fokus lain agar tak menatap mata lawan bicaranya,

“Pasar malam Raohe, kencanmu bersama Jung Yunho, apa menyenangkan?”

“Tentu.” Jawabnya asal.

Min Rin diam berharap namja itu membalas perkataannya barusan. Tapi sayang air mukanya berubah tajam.

“Sejak awal aku berusaha sekeras yang kubisa untuk tidak peduli padamu. Tapi nyatanya kau tak mau pergi dari pikiranku.—

Ia bergerak maju ke arah Min Rin yang masih mematung di depan pintu.

“Lalu kusadari, diriku yang sebenarnya adalah orang yang memang tidak pernah peduli dengan apapun kecuali diriku sendiri. Dan bodohnya aku yang telah menjadikanmu bagian dari diriku, sayangnya sampai sekarang aku belum tau caranya tidak peduli dengan diriku sendiri.”

Min Rin mencekal tangan Kyuhyun saat disadarinya namja itu benar-benar ingin menyudahi percakapan dingin pagi ini.

“Aku hanya bercanda, Kyu. Hahaha kena kau!”

Tawa Min Rin terhenti karena nyatanya tawanya hanya ditanggapi oleh mata datar namja itu, tak ada jawaban sama sekali. Kyuhyun mengentakkan tangannya dari cengkeraman Min Rin yang langsung ditahan oleh yeoja itu.

“Eh, err, tidak, kau salah paham, Kyu. Ak-aku tidak berkencan dengannya. Sungguh.” Kata Min Rin melemah.

“Oh, itu sangat menenangkan hatiku.” Kata Kyuhyun dingin lalu melepaskan tangannya dari genggaman Min Rin.

Min Rin melemas dan mendudukkan dirinya di sofa ruang kerjanya.

“Kenapa kau selalu saja mengacaukan hidupmu sendiri sih, Rin” batinnya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis dalam diam di ruangan putih itu.

“Kenapa aku menangis? Kenapa aku merasa sangat jahat terhadapnya? Kenapa kali ini aku bahkan tak bisa memahami diriku sendiri?”

 

-o-

*A WEEK LATER*

Taipei Songshan Airport, Taiwan

19.45 CST

Min Rin’s POV

Aku sungguh mengacaukan hidupku. Pertama masalah laporan itu, lalu Yunho yang beberapa hari terakhir bersikap sangat aneh, dan terakhir namja itu, Cho Kyuhyun. Bahkan sejak hari itu matanya belum pernah bertemu denganku lagi. Sekeras apapun aku mencoba berbicara padanya, bisa dipastikan aku tak akan mendapat jawaban yang memuaskan. Apa kau semarah itu, Kyu?

Aku tersadar dari lamunanku saat appa memanggil namaku beberapa kali,

“Rin! Kau ini kenapa?! Kita sudah lama berpisah dan anakku tampaknya tak penasaran dengan keadaanku.”

Aku hanya tersenyum lalu memeluknya erat. Dia satu-satunya namja yang paling aku cintai di dunia ini. Kurasakan appa yang mencium puncak kepalaku,

“Kau kenal Park Haneul?” katanya sambil melepaskan pelukannya. Aku hanya mengangguk tanda ‘iya’.

“Tadi aku satu pesawat dengannya, ia bilang ia berkunjung ke sini karena ada pemotretan dan kudengar ia juga mau mengunjungi kekasihnya.”

“Lalu?”

“Ya! Kau ini kenapa? Bersemangatlah sedikit, ia mengundang kita untuk makan malam di rumahnya besok malam. Kau mau ikut?”

“Aku tidak tau.” Kataku lemas.

Appa hanya menatapku lalu memelukku lagi.

“Apa masalah itu sangat membebani anakku? Kau tidak usah khawatir, aku bisa menanganinya. Masalah dengan Lee Corporation sudah kutangani. Lagipula aku mengirimmu kesini kan untuk belajar, dan itulah pelajaranmu.”

Aku mempererat pelukanku sambil menahan isakanku. Lalu tubuhku menegang saat appa memanggil nama itu,

“Rin, apa itu Cho Kyuhyun?” katanya sambil menunjuk ke arah Kyuhyun yang tampak bersama seorang, gadis? P-park Haneul?

Aku yang masih menegang serasa tersambar petir saat Haneul melambaikan tangannya ke arahku dan appa. Ia mendekatiku sambil memegang tangan Kyuhyun.

“Ahjussi, kita bertemu lagi. Dan apa kau Ahn Min Rin? Astaga ternyata kau lebih cantik dari yang kukira.” Sapa Haneul sambil tersenyum ramah.

Aku yang masih sibuk mengatur nafasku hanya bisa tersenyum dan membungkuk ke arahnya.

“Haneul-ah, apa kau dan Kyuhyun—

“Ah ne, ahjussi. Kami memang sangat dekat.” Katanya mempererat rangkulannya di lengan Kyuhyun.

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku, tak berani menatap salah satu dari mereka. Lalu aku mengumpulkan keberanian untuk sekedar mendongak agar aku tidak terlalu terlihat bodoh.

“Senang bertemu denganmu, Haneul-ssi.” Kataku sambil tersenyum lebar.

Kugandeng lengan appaku dan memberinya isyarat agar segera beranjak,

“Appa, kau pasti lelah. Aku dan Yunho sudah menyiapkan kamarmu malam ini. Kami juga sudah menyiapkan beberapa makanan. Kuharap kau suka masakan kami—

Aku melirik Kyuhyun yang melihatku datar, kali ini rahangnya terlihat sangat keras. Jujur aku sangat takut jika ia sudah berekspresi seperti itu, maka kualihkan pandanganku ke arah Haneul.

“Haneul-ssi, apa kau mau ikut ke apartemen kami? Kebetulan aku dan Yunho memasak banyak hari ini,”

“A…aku—

“Tidak, aku dan Haneul akan makan diluar malam ini. Terima kasih atas ajakannya, tapi kami masih ingin berdua.” Potong Kyuhyun.

“Baik, aku mengerti kalian pasti saling merindu. Kajja appa, Yunho oppa sudah menunggu kita.”

Aku menunjukkan senyum lebar yang kupaksakan terlihat ikhlas itu. Tanpa menunjukkan sisi keberatan apapun, aku kembali membungkuk lalu menggandeng tangan appa dan menariknya menjauh dari mereka.

Kau mempunyai kekasih, tuan Cho? Lalu apa artinya sikap manismu waktu itu? Dan apa yang kau permasalahkan saat melihatku berkencan dengan Yunho? Kau busuk, Kyu, KAU BUSUK!

-o-

Ahn Corporation, Songshan, Taiwan

10.30 CST

Min Rin’s POV

Aku hanya memainkan pulpenku sementara appa menjelaskan beberapa materi di rapat kali ini. Sungguh sempitkah dunia ini sehingga aku tidak bisa sehari saja jauh dari setan itu? Berada satu ruangan dengannya membuatku gerah. Cho Kyuhyun, yaks bahkan aku rasanya tak mau lagi menyebut namanya.

Aku langsung merapikan beberapa kertas dihadapanku saat appa mulai menutup pembicaraan hari ini. Seperti biasa, aku akan mempersilakan semua peserta rapat untuk keluar ruangan sebelum aku, yah itulah yang appa ajarkan padaku selama ini, tidak masalah jika peserta rapat itu adalah atasan ataupun bawahanku. Aku membungkukkan badanku untuk memberi hormat pada peserta rapat yang satu persatu keluar, lalu mataku menangkap sosok yang aku bersumpah akan melakukan apapun untuk tidak melihatnya lagi. Dia hanya melirikku sekilas lalu berlalu menuju pintu, aku sungguh tak mengerti dirinya, dia selalu mempunyai cara untuk membekukanku, dan sialnya aku selalu terpengaruh.

“Appa, apa kau melihat Yunho oppa? Kenapa dia tidak hadir di rapat kali ini?”

“Ah aku hampir lupa! Yunho mu itu sakit, dia mencoba menghubungimu tapi kau tak menjawab, jadi dia menitip pesan padaku untuk memberitahumu tentang keadaannya.”

“Ah apa dia baik-baik saja? Sakit apa dia? Ini pasti karena ia terlalu lelah, sudah kubilang ia harus mengkonsumsi vitamin kan, dia itu keras kepala sekali.”

-o-

Appa sudah pulang lagi ke Korea sore tadi. Dan dengan alasan sudah ada Yunho yang akan menjagaku, aku jadi bisa meluluhkan hatinya untuk meliburkan pengawal-pengawalku walau hanya beberapa hari. Sudah kuputuskan juga untuk mengunjungi Yunho malam ini. Cih namja itu, tidak bisakah dia sedikit saja menuruti kata-kataku?

Aku mendongak saat gebrakan pintu mengganggu pendengaranku. Sekarang sudah jam 10 malam dan kau masih mau mengajakku ribut lagi, tuan Cho? Kau menggelikan.

“Tak bisakah kau bersikap lebih tenang?!” bentakku padanya.

Aku bergidik saat kulihat kini dirinya sedang menghampiriku dengan keadaan yang benar-benar kacau. Nafasnya yang tak beraturan, kemejanya yang berantakan, dan jangan lupakan matanya yang seperti ingin menghujamku tepat di nadiku. Dan sekarang aku terpojok di sudut ruangan di belakang meja kerjaku, terkunci oleh tubuhnya yang hanya beberapa senti dari tubuhku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang tak beraturan, dan… alkohol? Apa aku mencium bau alkohol? Apa dia mabuk?

“K-kau mabuk? Apa yang akan kau lakuk—emmm”

Aku merasakan bibirnya mengunci mulutku. Melumatnya kasar tanpa ampun. Aku terus meronta berusaha melepaskan diri, cukup lama sampai akhirnya aku berhasil menampar wajahnya dan tubuhnya pun mulai melemas. Ia terduduk tepat di depan kakiku. Ia menyenderkan tubuhnya di meja dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Beberapa kali ia mengusap wajah dan rambutnya yang berantakan.

“Kumohon jangan seperti ini, Rin. Kau benar-benar membunuhku.” Katanya bergetar.

“Kau sungguh menggelikan. Kau pikir apa yang sudah kuperbuat padamu?! Apa ini masih tentang ciuman malam itu? Apa itu sebuah masalah besar bagimu?!” bentakku.

Ia mendongak melihatku yang masih mematung berdiri di hadapannya. Lalu aku melihat seperti, air? Cho Kyuhyun yang keras hati itu menangis? Dihadapanku?

“Kau mabuk, tuan Cho. Pulanglah, Park Haneul pasti sangat mengkhawatirkanmu.”

“Tetaplah bersamaku, Rin. Jebbal..”

“Lalu kau mau aku dan Haneul menjadi milikmu, eh? Hahahah kau benar-benar hebat, tuan Cho.”

“Dia bukan kekasihku! Aku mencintaimu, Rin, tak bisakah kau merasakannya? Jangan pergi lebih jauh lagi, Rin, berjanjilah… untuk hanya menatapku.”

Kali ini nadanya terdengar sangat lemah. Air mataku yang kutahan sedari tadi akhirnya lepas juga, karena jujur saja, untuk melihatnya duduk di hadapanku sambil menunjukkan kelemahannya saja sudah sangat mencabik hatiku.

Kyuhyun menekuk kedua lututnya dan menungkupkan kepalanya disana.

Apa benar kau sesakit itu, Kyu?

Apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?

Tanganku sudah beberapa senti lagi diatas kepalanya. Ingin sekali hatiku untuk membelai kepala itu dan meneguhkan hatinya. Tapi aku tak akan membiarkan ada hati yang terluka lagi. Jung Yunho, namja itu sudah terang-terangan melamarku dihadapan appa. Walau aku masih bimbang dengan perasaanku sendiri, tapi aku yakin Yunho tak akan menyakitiku kelak. Dan yeoja itu, Park Haneul, ia pantas mendapatkan Kyuhyun, sangat pantas. Kukepalkan tanganku dan meyakinkan hatiku. Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, kulangkahkan kakiku menuju pintu tanpa menoleh lagi pada namja yang tertunduk tak bergeming itu.

-o-

Raohe Night Market, Songshan, Taiwan

22.00 CST

Min Rin’s POV

 

Pikiranku terlalu kacau untuk sekedar berpikir kemana aku akan pergi sekarang. Kyuhyun, jujur aku khawatir dengan keadaannya. Dia mabuk dan sangat kacau, tapi keadaan akan lebih kacau jika aku menemuinya malam ini. Setelah berjalan tanpa arah, aku memarkirkan mobilku di sebuah kedai kopi dan berjalan menyusuri jalanan ramai Raohe. Apa aku terlihat seperti orang gila? Berjalan dengan tatapan kosong sambil memutar gelas kopi di genggaman. Lalu aku tersadar saat handphone ku bergetar beberapa kali, Yunho, astaga aku lupa! Buru-buru aku membalikan badanku untuk menuju ke kedai kopi tadi, lalu,

“PERMISIII, MAAF, MINGGIRRR! MINGGIIIIR!”

Tak sempat aku menghindar lalu—

*BRAKK*

Aku meringis merasakan sakit di sekujur tubuhku dan parahnya kopiku tumpah ke badanku sendiri. Aish! Apa-apaan pria itu? Apa dia tidak punya mata?! Menabrakku dengan sepeda di jalanan menurun seperti ini?! Dia kira ini jalanan miliknya atau apa?!

“Astaga nona kau tidak apa-apa?! Maafkan aku nona maafkan aku! Aku tidak sengaja..”

Beberapa orang di pasar itu membantuku berdiri dan mendudukkanku di salah satu kios. Aku masih shock dengan kejadian barusan, lalu dia membungkuk menyejajarkan dirinya di depan wajahku.

“K-kau tidak apa-apa, non—”

*PLETAK*

Seketika aku pukul kepalanya yang membuatnya membulatkan matanya.

“Kau ini kurang ajar sekali! Menabrak orang sembarangan! Lenganku luka-luka begini dan lihatlah bajuku basah semua, kau ini..Aish! tak taukah kau hariku sudah sangat kacau!” hardikku kasar.

“KAU! Huh, baik, begini, sekali lagi aku minta maaf, nona. Aku akan mengantarmu pulang sebagai pertanggung jawabanku. Dimana rumahmu?” katanya merendahkan suara.

“Di San Want Residence. Aku tinggal disana. Kau mau mengantarku dengan sepedamu itu, eh? Kau mau membuatku mati kedinginan?!” kataku meninggikan suara.

“Lalu kau mau apa?! Aku tidak mampu membayarkan taksi untukmu sampai kesana! Kau ini cerewet sekali, tau kah kau aku ini juga sedang dalam kesulitan?!”

Belum sempat aku membalas perkataannya, dia lalu terlihat begitu panik saat matanya seperti menangkap sesuatu dibalik kerumunan. Dia langsung menarik lenganku dan memaksaku naik ke sepeda bututnya.

“Apa yang kau lihat? Cepat naik bodoh!”

“T..tapi kita mau kemana?!”

“Aku juga belum tau,”

Aku yang panik dan tidak tahu apa yang terjadi padanya dengan bodohnya menurut saja dengannya. Aku menengok ke belakang sesaat dan melihat beberapa pria gagah ber jas hitam yang seperti sedang mencari sesuatu. Aku tidak bisa melihat jelas wajah mereka karena tertutup orang yang berlalu lalang. Astaga apa yang aku lakukan? Siapa sebenarnya orang ini? Apa mereka itu bodyguard appa yang.. ah bukankah mereka sedang libur? Ah astaga! Jangan-jangan aku sedang bersama…

-o-

Songshan Business District, Taiwan

10.00 CST

Author’s POV

 

Yunho terus berkutik dengan ponsel di genggamannya.

“Apa sudah ada kabar?”  kata Yunho pada seseorang di line telephone nya.

Lalu Yoona datang membawa beberapa map.

“Yunho-ssi apa kau melihat nona Ahn?”

“Kumpulkan semua informasi dan saksi mata. Aku akan sampai disana dalam beberapa menit. Pastikan tuan Ahn tidak tau tentang ini.” lanjutnya.

“Ada apa? ” tanya Yoona lagi.

“Sejak kemarin malam Min Rin tidak bisa kuhubungi dan ia juga tidak pulang ke apartemennya, sekarang  mobilnya ditemukan di kedai kopi 24 jam di pasar malam Raohe.” Jelasnya.

“D-dia menghilang? Bodoh. Aku seharusnya mengingatkannya untuk tidak pergi kemanapun sendirian. Kudengar anak buah Lee Hyukjae sudah menyebar di Taipei. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada nona Ahn sekarang. Astaga apa yang harus kukatakan pada tuan Ahn…” sesal Yoona sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Tenanglah. Kita tidak boleh panik, bisa kupastikan anak buah Hyukjae tak akan menculiknya apalagi menyakitinya. Percaya padaku.” Kata Yunho sesaat sebelum tubuhnya benar-benar menghilang di balik pintu.

-o-

Raohe Night Market, Songshan, Taiwan

10.00 CST

Author’s POV

Kyuhyun yang sejak pagi tadi sibuk mencari Min Rin terlihat begitu kusut. Bagaimana tidak, beberapa saat sebelum yeoja itu sulit dihubungi adalah saat dimana ia dan yeoja itu beradu mulut. Kekhawatirannya semakin menjadi saat ia mengetahui bahwa ternyata perusahaan Ahn sedang menjadi rival bagi Lee Corporation dalam memperebutkan tender yang bernilai cukup besar. Tidak tertutup kemungkinan jika anak buah pemimpin Lee Corp. itu mencelakai yeoja setaraf Min Rin. Karena sudah menjadi rahasia umum jika keluarga pemilik Lee Corporation itu terkenal sangat ambisius, dan sudah sangat pasti akan melakukan apapun untuk mengalahkan rival-rivalnya.

Getaran ponsel di saku celana Kyuhyun menyadarkannya dari lamunannya. Jantungnya berdebar dua kali lipat saat ia membaca nama yang tertera di layar handphonenya.

“Yoboseyo, ahjussi.”

“Ah, Kyuhyun-ssi, kenapa Rin tidak bisa kuhubungi? Apa dia bersamamu? Kudengar cuaca Taiwan malam ini tidak akan baik. Bisakah kau menjaga Rin untukku? Kau tau dia sangat takut pada badai dan petir. Aku khawatir dia tidak bisa menanganinya sendiri.”

Tubuh namja itu membeku saat mendengar kabar dari tuan Ahn itu. Badai? Petir? Ia tak bisa membayangkan tubuh mungil Min Rin yang  bergetar saat mendengar petir di tengah badai.

“Ne, ahjussi. Tentu saja. Ehm,  a-aku sedang sibuk saat ini. Baiklah akan kupastikan Rin tak akan sendirian malam ini. Anda tidak perlu khawatir.”

“Aku tau aku bisa mengandalkanmu.”

*beep*

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.

“Bagaimana ini bisa terjadi? Kau mengacaukan segalanya, Kyu.” Bisiknya lirih.

-o-

Songshan Business District, Taiwan

20.00 CST

Author’s POV

 

Yunho memijit keningnya yang terasa sangat pusing, lalu ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Benar saja, tuan Ahn Min-soo yang pasti sedang bingung karena putrinya sulit dihubungi dan badai berpetir yang akan melanda Taiwan.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi disana. Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu Yunho-ssi. Katakan dimana putriku.” katanya datar.

“Apa yang anda bicarakan, tuan? Semuanya baik-baik saja.” Kata Yunho tak kalah tenang.

“PUTRIKU MENGHILANG DAN KAU MASIH BERANI MENGATAKAN SEMUANYA BAIK-BAIK SAJA?!” teriaknya di seberang.

Nafas Min-soo sangat jelas terdengar begitu tak beraturan. Emosinya yang memuncak begitu terasa dari nada bicaranya.

“Aku akan tiba di Taiwan besok pagi.” jawabnya lagi sebelum menutup teleponnya.

Yunho mengepalkan tangannya dan mengacak seluruh barang yang ada di mejanya.

“ADA DIMANA KAU SEBENARNYA?!” teriaknya menggema.

 

Wajah Yunho yang tertunduk menyiratkan begitu banyak emosi, dia menghela nafas panjang lalu dengan cepat meraih jas dan kunci mobilnya. Ya, dia mengutuk dirinya yang tidak memikirkan nama itu seharian ini. Nama yang paling mungkin tau keberadaan gadis itu.

-o-

Xinyi District, Taiwan

23.30 CST

Author’s POV

Yunho menutup kepalanya seadanya dan berlari kecil menuju suatu gedung. Hujan Xinyi malam itu begitu mengerikan, petir bersambaran dan hujan turun dengan derasnya. Beberapa pria ber jas hitam membungkuk kepadanya saat Ia melewatinya. Tanpa mengacuhkannya, ia terus menyusuri lorong panjang yang langsung menghubungkannya dengan ruangan bernuansa coklat. Ia menarik napas panjang dan membuka kenop pintu di hadapannya. Ditemuinya seorang namja yang sedang duduk memandangi laptop dan beberapa carik kertas di sampingnya. Namja itu tersenyum lebar saat mendapati Yunho yang setengah basah dan terlihat sangat kusut sedang berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya.

“Jung Yunho? Ku kira kau sudah terlalu malu untuk menunjukkan dirimu di hadapanku lagi.” Ujar namja itu.

“Dimana dia?” tembak Yunho.

Tawa namja itu menggelegar di ruangan cukup besar itu.

“Kenapa terburu-buru? Kau tak rindu padaku, hyung? Kau tak mau tau keadaanku dan appaku?”

Tangan Yunho mengepal dan rahangnya mengeras menahan emosi.

“Dimana dia.” Lanjutnya datar.

“Hahahahaha. Sudah kukira kau akan bertanya tentang hal ini padaku. Kau bodoh, Jung Yunho. Bagaimana bisa kau begitu ceroboh membiarkan putri pewaris Ahn Corporation itu berkeliaran sendirian? Dan bahkan kau tak tau keberadaannya, eh? Tololnya lagi kau bertanya padaku malam ini. Aku bisa saja membunuhnya jika aku mau. Kau ini sungguh menyedihkan.”

“DIMANA DIA, HYUKJAE?!” teriak Yunho tak bisa teredam lagi.

“Cih, jaga nada bicaramu Jung Yunho. Ini kantorku, kau ingat? Baiklah jika kau benar-benar ingin tau keberadaan gadis itu. Kau tak perlu khawatir, dia bersama kakakku, Donghae. Dia menabrak Rin di pasar malam Raohe dan sampai saat ini mereka masih bersama.”

“Donghae? Bagaimana bisa dia berada di Taiwan?”

“Appaku menyuruhnya untuk bertemu beberapa kolega nya disini. Tapi bodohnya dia malah kabur dan yang perlu disayangkan dia itu tidak pintar menyembunyikan diri. Dengan gampangnya aku mengetahui dia mengganti identitasnya dan mengaku bernama Aiden,”

“Sekarang dimana mereka?”

“Mereka masih di Songshan, bodoh. Ah! Aku lupa, besok malam appaku akan tiba di Taipei dan ia bilang ia ingin menemuimu. Chili’s grill and bar, Xinyi, jam 9 malam. Mungkin kau juga akan bertemu dengan putri tuan Ahn disana. Akan kusuruh orang untuk membawanya ke Xinyi.”

“Tidak. Aku harus bertemu dengannya sekarang juga. Katakan dimana mereka sekarang,”

“Akan kusuruh supirku untuk mengantarmu. Oh ya, berhati-hatilah, hyung. Jangan sampai kau terlalu terpesona dengan gadis itu, berpeganglah pada tujuan awalmu, arra?” katanya sambil memamerkan senyumnya.

Yunho tak berekspresi sama sekali dan langsung memutar tubuhnya menuju pintu. Dia menghentikan langkahnya dan tanpa membalikkan badannya dia berkata,

“Kau masih sama Hyukjae-ah. Begitu menyedihkan. Berpikir bahwa dirimu benar-benar berkuasa, eh? Bahkan ayahmu lebih memilih memercayakan seluruh asetnya padaku daripada dirimu. Think twice.”

Hyukjae yang masih duduk di kursinya hanya tersenyum mendengar perkataan tangan kanan ayahnya itu.

“Terima kasih atas kunjunganmu, hyung. Aku sangat senang kau mau mengunjungiku.”

Seringaian tajam Hyukjae masih mengembang saat Yunho membanting pelan pintu ruangannya.

-o-

Author’s POV

 

Namja itu menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah kecil. Min Rin segera turun dari sepeda itu dan memukul kepala namja dihadapannya.

“Akh! Appo! Kau ini apa-apaan!” teriaknya.

“Kau yang apa-apaan! Menabrak orang sembarangan lalu sekarang kau membawaku ke tempat terpencil dan gelap seperti in..HAB!—

Min Rin menutup mulutnya karena takut dengan kemungkinan yang terjadi,

“—jangan jangan kau mau menculikku, atau malah akan menjualku kepada laki-laki hidung belang, kan?! Kau dasar brengsek tidak tau diri!” katanya sambil memukul mukul namja itu.

“Dan oh ya! Tadi aku melihatmu begitu panik saat melihat laki-laki berjas hitam itu, jangan-jangan kau ini buronan FBI! Astaga aku sedang bersama buronan!”

“YA! Tak bisakah kau bersikap tenang?! Siapa yang kau bilang brengsek? Lagipula tak akan ada laki-laki yang sudi membayarmu, kau tau?! Mereka itu suruhan appaku, dia memang sedang mengejarku, lalu kau mau apa?! Kau begitu berisik! Sekarang masuklah, hujan sudah turun.”

“Masuk? Masuk kemana maksudmu? Ke rumah kecil itu? Kau gila atau apa?! Kau kira aku mau berdua denganmu berada di rumah sekecil itu, hah?! Kau bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak padaku, kan? Jangan terlalu berharap kau, tuan.”

“HAISH! Baik kalau kau tidak mau masuk, aku akan masuk sendiri, SENDIRI! Nikmatilah badai malam ini, nona. Aku tidak peduli.”

“K-kau bilang apa? badai? Apa malam ini akan terjadi badai?” kata Min Rin melemah.

“Kenapa? Kau takut? Hah! Jangan harap kau bisa masuk ke dalam rumahku, kau sungguh sudah menguras kesabaranku. Nikmati malammu~”

Ia membanting pintu rumah kecil itu dan meninggalkan Min Rin yang masih mematung di beranda. Gadis itu sungguh jelas terlihat ketakutan saat angin dingin menerpa pipinya, ia meringkuk di samping pintu itu sambil memeluk kakinya.

“Apa benar akan ada badai? Appa, aku takut.” Bisiknya lirih.

-o-

Author’s POV

Yunho keluar dari mobil hitam milik Hyukjae dan berlari menerobos hujan kecil Songshan menuju rumah kecil yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia melihat sosok yang saat ini sangat ia harapkan berada dalam pelukannya sedang memendamkan wajahnya sambil memeluk kakinya. Ia menghampiri gadis itu dan memanggil namanya beberapa kali.

“Rin? Kau tak apa?”

Yeoja itu mendongakkan kepalanya menampilkan wajah pucatnya.

“Oppa…” kata Rin yang langsung didekap oleh Yunho.

“Uljima, Rinnie-ah. Syukurlah aku menemukanmu,”

“Bagaimana kau bisa tau keberadaanku?”

Yunho mengembangkan senyumnya dan memandangi wajah yeoja dihadapannya.

“Bagaimana aku bisa tidak tau keberadaan calon istriku?”

Min Rin ikut tersenyum mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Yunho.

“Kalian menggelikan—” Ucap sebuah suara.

—Ini kesempatan terakhirmu, cepat masuk atau akan kukunci pintu ini sampai badai selesai.”

Min Rin berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Yunho yang masih berdiri di depan Donghae. Donghae melemparkan selembar baju kearah Yunho.

“Gantilah pakaian basahmu. Kau sangat bau, hyung.”

“Gomawo.” Ucap Yunho sambil tersenyum kecil.

-o-

Hujan Songshan turun semakin besar. Rumah yang hanya terdiri dari 2 kamar tidur itu memaksa Yunho untuk tidur di sofa. Baru sedetik ia memejamkan matanya, lalu ia merasa ada sesuatu yang menempel di pipinya. Ia langsung duduk saat melihat Min Rin yang jongkok disampingnya sambil menusuk-nusukkan telunjuknya ke pipi Yunho.

“Aku tidak bisa tidur, hujan diluar berisik sekali.”

“Mau kutemani? Bagaimana jika bermain?”

Ia hanya mengangguk dan mendudukkan dirinya tepat disamping Yunho.

“Pejamkan matamu dan hitung dari 1 sampai 100. Siapa yang paling cepat selesai, dia pemenangnya.”

“Kali ini aku akan mengalahkanmu.” Ujar yeoja itu menantang.

“Tak akan kubiarkan.”

Min Rin mulai memejamkan matanya dan berhitung dalam hati, sedangkan Yunho masih memandangi wajah yeoja disampingnya dalam.

*TARRR*

Petir kecil Songshan sudah mulai bersambaran, Min Rin membuka sebelah matanya dan mengintip Yunho.

“Kau masih menghitung?”

Yunho hanya mengangguk,

“Tapi aku kehilangan hitunganku. Petir menyebalkan. Sudah aku mau tidur saja.” Katanya sambil bangkit dari sofa.

*TARRR*

Min Rin berjongkok sambil menutup telinganya. Yunho menghampiri tubuh kecil yeoja itu dan membantunya berdiri.

“Kau takut petir?”

Min Rin hanya mengangguk, “Maukah kau temani aku tidur, oppa? Hanya temani saja, jebbal..”

Ia membaringkan tubuhnya di kasur keras kamar itu. Niat Min Rin yang melintangkan guling diantara keduanya hilang sudah saat petir bersambaran semakin menjadi.

“Bolehkan?” katanya sambil menyenderkan kepalanya di dada bidang Yunho.

“Itu milikmu, Rin.”

Yunho yang merasakan tubuh yeoja itu bergetar setiap kali mendengar petir membuatnya memiringkan tubuhnya dan mendekap Min Rin hangat.

“Pejamkan matamu dan hitung satu sampai seratus. Kali ini kau harus mengalahkanku.”

Min Rin mulai memejamkan matanya , dan tangan Yunho menutup telinga Min Rin saat dilihatnya kilat menyala dari balik jendela.

“Ak-ku tidak bisa, aku terlalu takut. Appa, aku mau appa,”

“Kau bisa, Rin. Apapun yang terjadi tetaplah berhitung.”

Air mata Min Rin akhirnya jatuh juga, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang langsung di raih oleh namja dihadapannya. Yunho merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kalung bermata biru,

“Mau kupakaikan?”

Min Rin sedikit mengangkat kepalanya saat Yunho mengalungkan kalung itu di lehernya.

“Itu adalah barang paling berharga yang kupunya, Rin. Peninggalan ibuku, ia terlihat begitu cantik saat mengenakannya.”

“Lalu kenapa kau memberikannya padaku?”

“Karena kau akan menjadi istriku.” Jawabnya cepat sambil tersenyum.

Min Rin tertegun sejenak dan menatap namja dihadapannya lembut,

“Kalau begitu kelak aku akan menjadi istri yang baik,” kata Rin sambil tertawa.

“Kali ini aku akan berpesan pada Tuhan agar anak-anakku tidak penakut seperti eommanya.”

“Aku tidak penakut!”

Yunho hanya tersenyum dan kembali mendekap tubuh mungil itu. Sunyi, sunyi sekali, hanya suara hembusan nafas keduanya yang diiringi suara hujan deras yang menusuk genting rumah itu.

“Oppa?”

“Jangan berisik. Aku mencoba untuk tidur.”

“Apa.. Apa kau bersungguh-sungguh saat kau bilang kau mencintaiku?”

Lagi-lagi tak ada jawaban yang keluar dari mulut namja itu, Min Rin mengeluarkan dirinya dari dekapan Yunho dan terus memandangi namja didepannya dengan serius,

“Apa kau bersungguh-sungguh saat kau bilang kau mau menikahiku?”

Namja itu tertegun mendengar perkataan Min Rin barusan, mata sayunya tertuju langsung pada manik mata yeoja di hadapannya, seketika senyuman lembut terlukis indah di wajah lelahnya,

“Kau tau? Mungkin aku tak akan bisa mencintai orang lain lebih dari ini, Rin.”

Min Rin hanya tersenyum merasakan bibir lembut Yunho yang menempel di keningnya. Hati yeoja itu belum pernah setenang ini sejak terakhir kali ibunya memeluknya. Gelegar petir dan dinginnya angin tak lagi terasa olehnya. Rengkuhan tangan nyaman itu bagai selimut pengantar tidur sekaligus pelindung dari segala ketakutannya.

-o-

Ahn Corporation, Songshan, Taiwan

08.00 CST

Author’s POV

Cuaca cerah Songshan pagi ini tak mengurangi kekhawatiran Kyuhyun terhadap gadis yang kini ia sadari sangat berpengaruh dalam hidupnya itu. Ia beranjak dari sofa yang didudukinya dan memutuskan untuk kembali mencari gadis itu. Lalu ia dikejutkan dengan keberadaan tuan Ahn Min-soo yang sekarang ada di ambang pintu. Yoona yang masih tertidur di sofa terbangun dan ikut terkejut dengan kedatangan tuan Ahn yang mendadak ini. Min-soo memijit keningnya yang pusing.

“Jeongmal joesonghabnida, ahjussi.”

Ia melirik sekilas kearah Kyuhyun dan tersenyum simpul. Ia menepuk punggung Kyuhyun dan mengusapnya.

“Ini bukan salahmu. Tak seharusnya aku melepasnya begitu saja, aku sebenarnya mengutus beberapa anak buahku untuk menjaganya selama di Taiwan. Tapi beberapa hari yang lalu Min Rin memaksaku untuk berhenti mengawalnya, aku jadi takut keberadaan mereka membuat Min Rinku merasa terganggu. Lalu aku menyuruh mereka berhenti selama beberapa hari. Tapi kenyataannya—

Min-soo menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya di sofa terdekat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

—kau hidupku, Rin. Tolong katakan kau baik-baik saja.” Katanya lirih.

Kyuhyun mengepalkan tangannya dan menghentakkan kakinya kasar ke arah pintu, langkahnya terhenti dan berbalik sejenak.

“Aku akan menemukan gadisku, aku pasti akan menemukannya.” ujarnya sebelum menutup pintu ruangan itu.

-o-

Author’s POV

Min Rin mengerjapkan matanya saat sinar matahari menusuk retinanya dari balik jendela. Ia sedikit tersenyum saat merasa dirinya masih dipeluk oleh Yunho. Tangan kecilnya mengusap kepala namja itu yang menyebabkan ia sedikit menggeliat.

“Jangan mengganggu tidurku, nona.” kata Yunho yang masih terpejam.

“Bangunlah, kita harus segera pergi dari sini. Aku tidak enak dengan, siapa dia namanya? Aiden? Ayolah oppa, buka matamu.”

Yunho membuka sebelah matanya dan tersenyum pada Min Rin.

“Aku akan mengajakmu jalan-jalan hari ini. Tapi sebelumnya kau harus mandi dulu, Rin. Mencium aroma tubuhmu yang bau itu semalaman membuatku sedikit pusing.”

“KAU!” teriak Rin nyaring.

-o-

Min Rin’s POV

 

Aku terpaksa meminjam kaos besar dan jaket jeans milik Aiden karena pakaianku sudah sangat tidak layak untuk dipakai lagi. Yunho tidak melepaskan gandengannya sedikit pun sejak tadi pagi kami meninggalkan rumah itu. Keramaian Xinyi tak menghalangi langkah kami menyusuri  jalanan ini. Entah apa namanya, tapi berada di dekatnya selalu membuatku nyaman. Caranya ia menenangkanku, membuatku tertawa, membuatku merasa aman, tak akan ada yang bisa menggantikan itu. Sampailah kami di sebuah restoran tradisional Taiwan yang terlihat sangat ramai.

“Makanan disini sangat enak, kau harus mencobanya. Kau duduklah di pojok sana, aku akan memesan makanan untuk kita berdua.”

Aku hanya mengangguk dan menuruti kata-katanya. Syukurlah cuaca hari ini cerah sekali, udaranya juga sangat menyegarkan. Terawanganku ke luar jendela terganggu saat suara seorang namja memanggil namaku. Aku berdiri dari dudukku saat mendapati beberapa orang berjas hitam mengelilingi mejaku.

“Anda harus ikut kami, nona. Tuan Ahn sudah menunggu anda.”

“K-kau siapa?”

“Anda juga, tuan Jung” kata mereka sambil membungkuk pada Yunho yang baru saja datang.

Yunho mengangguk dan meraih tanganku.

“Mereka siapa?”

“Suruhan appamu.”

-o-

Aku dan Yunho duduk di bangku belakang mobil itu. Tak kusangka appa begitu berkuasa hingga bisa menyebarkan anak-anak buahnya hanya untuk mencariku. Salah satu dari mereka bilang ia akan membawa kami ke Chili’s Grill and Bar di Xinyi. Ia juga bilang bahwa appa dan yang lainnya sudah menunggu kami disana. Entah kenapa aku merasa Yunho sangat gugup kali ini, kuraih tangannya untuk menenangkannya. Ia hanya melirikku sedikit dan kembali memandang keluar jendela.

“Oppa, memangnya ada apa? Kau terlihat tidak baik,”

Kurasakan tangannya yang membalas genggamanku,

“Hari ini adalah harinya,” katanya sambil tersenyum sayu.

“Apa maksudm—”

“Kita sudah sampai,” potong seseorang dibelakang kemudi.

Kami menyusuri lorong gedung itu dan masuk ke sebuah ruangan yang sudah ditempati oleh appa, Kyuhyun dan dua orang namja petinggi Lee Corporation, dan, eh, apa itu Aiden? Sebenarnya siapa dia itu? Aku yang terlalu takut untuk menatap mereka hanya menundukkan kepalaku, lalu kulihat appa berjalan menuju tempat aku dan Yunho berdiri. Ia berdiri tepat didepan kami, lalu

*BAM*

Tinjuan appa membuat Yunho tersungkur di lantai. Baru saja aku akan membantunya berdiri lalu tangan besar appa mencengkeram tanganku erat.

“Kau sungguh tak pantas untuknya,” kata appa sambil menarikku keluar dari ruangan itu.

-o-

San Want Residence, Songshan

12.00 CST

Author’s POV

Tak ada yang bersuara sepanjang perjalanan tadi. Min Rin yang masih bingung dengan apa yang terjadi harus menahan diri untuk tidak bertanya sampai keadaannya mereda. Kyuhyun, Min Rin dan Min-soo sekarang sudah duduk dalam diam di ruang tamu apartemen mewah milik keluarga Ahn itu. Sesekali Min-soo terlihat mengusap kepalanya dan memijit keningnya.

“Kemasi barang-barangmu. Kita pulang ke Korea malam ini juga.”

“T-tapi appa, aku..”

“Aku tak pernah mengajarkan anakku untuk menentang perkataanku, bukan?” katanya dingin sambil pergi ke kamarnya.

Min Rin menatap Kyuhyun yang sedari tadi hanya menunduk.

“Apa kau akan diam terus seperti itu, tuan Cho?” kata Rin dingin yang langsung menyusul appanya keluar dari ruang tamu itu.

-o-

Seoul, South Korea

Author’s POV

Min Rin merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Akhirnya berada di kamarnya sendiri tak sedikitpun merubah kekacauan hati yeoja itu.

“Sebenarnya ada apa? Kenapa appa memukul Yunho? Memangnya apa salahnya?—” kata Min Rin menerawang.

“—Kyuhyun, dia pasti tau jawabannya.”

Yeoja itu keluar menuju ruang tamu yang masih ditempati Kyuhyun.

“Kyu, aku ingin bicara denganmu.. Di taman belakang, ya?”

Namja itu terlihat menegang lalu mengangguk mengiyakan permintaan Min Rin.

Menit demi menit berlalu, hanya suara angin yang meniup pohon yang bisa didengar kali ini, tak ada sama sekali percakapan. Bahkan ini lebih canggung daripada saat mereka pertama kali bertemu.

“Kyu, kau, ehm, apa yang, ah bagaimana aku mengatakannya..” kata Min Rin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ia membohongimu.” Jawabnya singkat.

“Bohong? Apa maksudmu?”

Kyuhyun menatap yeoja itu dalam dan menghela nafas panjang. Ia mengedarkan matanya menatap setiap senti taman belakang keluarga Ahn itu.

“Jung Yunho, dia adalah kaki tangan Lee Corporation. Dan kau tau apa misinya? Menghancurkan appamu..”

“Hahahah, kau bercanda? Yunho adalah tangan kanan appa, dan.. ia sangat baik terhadap aku juga keluargaku. Ini terdengar begitu mustahil.”

“Tuan Lee memperlihatkan surat perjanjian kontrak kerja itu, dan Yunho lah yang menandatangani surat itu.”

“Jangan sembarangan bicara kau, tuan Cho!” kata Min Rin sambil berdiri dari duduknya.

Yeoja itu mengepalkan tangannya menahan emosi dan berniat beranjak masuk ke dalam rumah sesaat sebelum Kyuhyun mencengkeram tangannya dan memojokkannya di tembok rumah itu. Mata tajam Kyuhyun menusuk manik mata Min Rin yang saat ini begitu rentan. Tubuh Min Rin terkunci oleh dua tangan kuat milik namja itu.

“Dia lah yang memalsukan laporan keuangan itu, dia lah yang menyebabkan Ahn Corporation sering terkena masalah, dia berniat menghancurkan keluargamu dari dalam, Min Rin-ah. Dia masuk ke dalam keluargamu dan membuat dirinya sebagai orang kepercayaan, dan setelah ia memperoleh kepercayaan itu, ia akan memulai misinya, menghancurkan keluargamu.”

Tangisan Min Rin tak tertahan lagi, ia menangis kencang sambil menutup telinganya yang langsung di cegah oleh Kyuhyun.

“KAU HARUS MENDENGARKAN AKU ! KAU HARUS TAU SEMUANYA!” Bentak namja itu.

“Apa dia bilang dia mencintaimu, eh? Tidak, Rin. Itu bohong, semuanya bohong, semuanya ia perbuat semata-mata untuk uang menggiurkan yang ditawarkan tuan Lee. Dia tidak pernah mencintaimu. Dia TIDAK mencintaimu!”

Cengkeraman tangan Kyuhyun di kedua lengan Min Rin menguat saat dirasakannya tubuh yeoja itu melemas. Tangisannya pecah saat itu juga. Dengan kekuatan yang tersisa yeoja itu memberontak mengeluarkan diri dari kurungan Kyuhyun dan berlari masuk ke rumah. Min-soo yang baru keluar dari kamar menarik tangan anaknya yang sedang berlari menuju pintu keluar.

“Mau kemana kau, Ahn Min Rin?!”

“Aku harus bertemu Yunho, appa, jebbal”

“Itu tidak akan pernah terjadi lagi.”

“Appa!!” teriak Rin pecah.

Yeoja itu memejamkan matanya merasakan rasa sakit di pipinya saat tangan besar ayahnya berhasil menampar keras wajahnya. Tubuhnya yang tersungkur di lantai serasa tak punya tenaga lagi.

“Jangan sekali-kali kau menentangku, nona Ahn! Pernikahanmu dan Kyuhyun akan berlangsung 1 minggu lagi.”

Min Rin menekuk kedua lututnya dan menungkupkan kepalanya di kakinya.

“Kenapa ini begitu sakit? Kenapa ini terjadi saat hanya kaulah yang paling aku percaya? Yunho oppa, kau harus menjelaskan semuanya, aku akan percaya padamu, aku berjanji..” batinnya.

-o-

6 days later..

Min Rin’s POV

Hari ini adalah hari terakhirku, besok aku akan resmi menjadi nyonya Cho. Entah kenapa ini begitu berbeda, jika ini terjadi tepat sebelum aku mengenal Yunho, mungkin besok adalah hari paling bahagia sepanjang hidupku. Tapi hatiku terus berkata tidak, tanpa memperdulikan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku menghela nafas panjang sambil menikmati tiupan angin dari balkon rumahku. Kuhisap kopi di genggamanku yang sudah tidak terlalu panas, lalu aku dikejutkan oleh deheman Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berada di belakangku.

“Aku sangat gugup.”

Aku hanya tersenyum tanpa membalas perkataan apalagi tatapannya. Ia diam, terus diam, sampai akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Kulirik sedikit kepalanya yang memutar mengikuti langkahku, memandangi punggungku dari tempatnya berdiri.

Jeongmal mianhae, Kyu.

Aku mengunci diriku di kamar. Menerawang berharap ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dan bisa membuatku lebih baik. Aku harus bertemu Yunho paling tidak sekali saja sebelum besok. Apa dia baik-baik saja? Apa dia punya alasan yang lebih baik untuk kuterima? Lalu sesuatu dalam diriku menyebut nama seseorang, Yoona, apa dia tau  keberadaan Yunho? Apa salahnya untuk mencoba?

Kuraih handphoneku yang tergeletak di meja, kutekan beberapa digit nomor yang kuhapal diluar kepala. Aku sedikit terdiam saat suara lembutnya menjawab diseberang sana,

“Yoboseyo?”

“…”

“Nona Ahn? Kau disana?”

“Y-yoona-ah. Aku..”

“Nona? Kau baik-baik saja?”

“Apa kau tau dimana Yunho oppa?”

“A..aku—”

“Kumohon, Yoona-ah.”

Ia terdengar menghela nafas berat, “Ia kembali ke Seoul bersama keluarga Lee. Kudengar Yunho tinggal di apartemennya di Chungdam,”

“Bisa kau beri tau aku alamat lengkapnya? Sekali ini saja, kumohon.”

“Tuan Ahn melarangku untuk memberi tau apapun soal Yunho kepadamu, nona. Aku minta maaf.”

*beep*

-o-

Seoul, South Korea

07.30 am

Min Rin’s POV

 

Hari ini telah tiba, aku merapikan lipatan gaunku di depan cermin, dan sesekali membetulkan lilitan kecil di kalung pemberian Yunho. Kupandangi tubuhku dari atas sampai bawah. Apa aku sudah secantik dirimu, eomma? Tak kusadari air mataku jatuh lagi, tapi kali ini senyumanlah yang membuat air mataku jatuh. Gaun yang dipakai eomma saat menikah dengan appa tak kusangka begitu pas melekat di tubuhku. Gaun ini juga yang akan menjadi saksi atas janji yang akan kuucapkan nanti didepan altar. Mungkin ini memang yang terbaik, mungkin Kyuhyun memang yang terbaik untukku, karena sejauh ini hidupku selalu berjalan mulus saat appa memegang kendali.

“Kau, cantik.” Ucap sebuah suara di ambang pintu.

Aku menoleh kearahnya dan tersenyum melihat Kyuhyun berdiri disana.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk, tuan Cho?” kataku santai berusaha mencairkan suasana.

“Maafkan aku, Rin.”

Aku yang masih sibuk merapikan gaunku tertegun dan menatap mata sayu namja itu.

“Kau ini bicara apa? Kita akan menikah, jagiya.” Kataku sambil tersenyum.

“Tidak, ini terlalu egois. Aku memang sangat menginginkanmu, Rin, tapi bukan ini yang kuinginkan. Pernikahan ini akan begitu mengerikan, kau harus terjebak denganku seumur hidupmu sedangkan kau jelas-jelas tidak mencintaiku.”

Kyuhyun menutup matanya menyiratkan begitu banyak emosi.

“Aku akan melepaskanmu. Ini yang terbaik. Hidup bersama orang yang tidak kau cintai pasti akan menyiksa dirimu. Aku tak akan tahan melihat itu.”

Aku membeku saat kata-kata itu keluar dari mulutnya. Kenapa ini jadi begitu rumit? Kau… kenapa kau terlihat sangat sakit?

“Kumohon izinkan aku memelukmu sekali lagi, Rin. Bisakah?”

Ia berjalan mendekatiku dan memelukku erat, erat sekali, seakan sedang mengajakku merasakan sakit di hatinya.

“Entahlah, Kyu. Aku—”

“Aku tau dimana Yunho tinggal, akan kuantar kau kesana. Yakinkan hatimu, Rin.”

Ia membalikkan badannya dan menghilang dibalik pintu. Ini kesempatanku, Yunho oppa kuharap kau disana.

-o-

Mobil Kyuhyun terparkir di basement sebuah apartemen mewah di Chungdam. Entahlah aku merasa sangat takut kali ini.

“Kamarnya berada di lantai 29, nomor 580.”

Ia tak melepaskan pandangannya dari fokusnya yang entah apa dihadapannya. Aku segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam gedung itu. Lantai demi lantai kulewati dengan cepat, dan akhirnya aku disini, di depan kamar 580. Kutekan bel di samping pintu itu tapi tak ada jawaban, ku tekan lagi dan tetap tidak ada jawaban. Kubuka kenop pintu itu dan, tidak terkunci? Yunho meninggalkan apartemen sebesar ini tidak terkunci? Dan astaga keadaannya kacau sekali, aku masuk menelusuri setiap ruangan yang ada. Apa dia sudah pergi? Kemana dia? Lalu aku mendapati ruangan kerjanya penuh dengan kertas yang sepertinya sudah di remas. Kupilah satu persatu kertas itu, ya ini adalah sebuah surat. Dan ini untukku, ada banyak namaku yang tertulis di kertas-kertas ini. Kuambil salah satu yang paling rusak, kertasnya sangat lecak seperti habis diremas keras.

“To: Ahn Min Rin,

Aku tau kau sudah tau siapa aku sebenarnya. Ini memang salah, aku seharusnya tidak melakukan ini. Masalah yang dialami keluargaku begitu besar, mereka mengancam akan menghabisi seluruh keluargaku jika kami tidak bisa membayar hutang itu. Jadi aku bersedia saat tuan Lee menyuruhku untuk bekerja untuknya. Satu, dua tahun aku masih bisa memegang prinsip awalku, tapi lalu aku sadar bahwa aku terlalu berhutang pada ayahmu. Dia mengajarkanku banyak hal, bahkan lebih berharga dari pelajaran dari guru manapun. Lalu mereka menyadari aku yang terlalu jauh terlibat dengan keluargamu. Mereka terus menekanku dengan ancaman-ancaman gila. Aku tak akan bisa menolak jika mereka sudah mengancam keselamatan keluargaku. Dan kau, kau datang membuat mereka sadar bahwa kau lah kelemahan utama dari ayahmu. Aku sempat berpikir untuk mengambilmu untuk menghancurkan ayahmu. Tapi kau, kau membuatku begitu lemah. Aku akan sekejap saja melupakan semua kebusukanku saat aku bersama dirimu. Entahlah, Rin. Kuharap ini bukan yang orang bilang cinta. Karena aku merasa tak pantas untuk mengatakan itu dihadapan yeoja sepertimu.

Jung Yunho”

Air mataku lagi-lagi menetes, membuat kertas rusak itu basah.

“Kau! Apa yang kau lakukan!” kata Yunho sambil menarik kertas di genggamanku kasar.

“Op-pa—” isakku tertahan.

“—Kenapa kau…”

“Pulanglah, Rin. Jangan pernah temui aku lagi.”

Aku memeluk tubuh hangat itu, ia terus mendorong tubuhku yang selalu aku tahan sekuat tenagaku.

“Kumohon, oppa.”

Tangisanku semakin menjadi saat kurasakan tangannya membalas pelukanku. Tangan itu mengusap kepalaku lembut, kecupannya di puncak kepalaku terasa begitu lemah, detakan jantungnya membuatku tak ingin berhenti memeluk namja yang sudah seperti duniaku ini.

“Aku berhutang pada ayahmu terlalu banyak, Rin. Dia sangat baik padaku dan keluargaku. Aku akan melakukan apa saja untuk bisa membayarnya.”

“Kau berjanji untuk menikahiku, oppa.”

Aku merasakan hembusan lembutnya yang mengenai wajahku, pelukannya mengerat dan jantungnya berdetak lebih cepat,

“Ini sudah tak sama, Rin…”

“Andwae! Kau sudah berjanji, Jung Yunho!”

“Aku terlalu busuk untukmu, kau pantas mendapat yang lebih baik dari aku. Belajarlah untuk mencintai Kyuhyun, suamimu.”

Aku melepas pelukannya kasar, “Aku belum menikah dengannya, oppa. Aku mau menagih janjimu!”

“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau malah kesini? Jangan bertindak bodoh, Rin, kumohon.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, Yunho meraihnya dan mendekapku lagi.

“Sudah cukup aku menghancurkan keluargamu. Ayahmu tak akan membiarkan orang busuk sepertiku bersanding denganmu, kumohon Rin, hanya ini yang bisa kuperbuat untuk membalas budi ayahmu. Kembalilah, menikahlah dengan Kyuhyun. Dia sungguh yang terbaik untukmu.”

“Jangan lepaskan aku..”

“Aku sudah melepaskanmu. Sekarang giliranmu yang melepaskan aku, lepaskan aku, Rin.”

“Jangan begini, oppa, jebbal.”

Pelukannya merenggang membuatku mempererat pelukanku. Ini sungguh sangat berat bagiku. Yunho menarik kepalaku kehadapannya, aku hanya bisa memejamkan mata saat bibir lembutnya menyapu bibirku. Lama sampai aku benar-benar rela melepaskan pelukanku. Yunho mengusap pipiku dengan tangan besarnya, membersihkan sisa tangisanku tadi. Ia menyentuh kalung pemberiannya yang masih tergantung indah di leherku.

“Kau bahkan lebih cantik dari kalung itu, Rin.” Senyumnya singkat.

Aku meraba wajahnya, merasakan setiap lekukan dan tekstur kulitnya. Berharap suatu hari nanti aku akan benar-benar bisa memilikinya.

“Aku tak bisa membayangkan jika suatu hari nanti kau dimiliki yeoja lain,”

“Maka lepaskan aku, itu akan mempermudah dirimu. Sekarang pergilah, menikahlah dengan Cho Kyuhyun. Anggaplah kau lakukan ini untukku, untuk yang terakhir kali.”

Aku hanya mengangguk lesu. Ini pilihan terakhir, aku benar-benar harus melepaskannya.

-o-

Aku masuk kedalam mobil Kyuhyun yang masih terparkir di basement. Air mukanya terlihat begitu pasrah, dia tersenyum padaku lembut, lembut sekali yang juga aku balas dengan senyumanku.

“Kurasa aku harus mengganti tuxedo ku.” Candanya.

“Kau mencintaiku?—” tanyaku singkat yang sukses membuat wajahnya terlihat bingung.

“—Jawab aku,”

“Kau yang bilang sendiri kau tak tega melihatku hidup bersama orang yang tak kucintai, kan? Lalu kau tega melihatku hidup bersama orang yang tidak mencintaiku?”

“A-aku tidak mengerti.”

“Nikahi aku, Cho Kyuhyun.”

“M-mwo?”

“Menikahlah denganku, kuharap cinta datang karena terbiasa benar adanya.” Kataku sambil memasang seatbelt.

“A-apa yang dia lakukan padamu? Kau sakit?”

Tawaku pecah melihat tingkah namja itu, dia terus memeriksa keningku seakan aku sedang terserang penyakit aneh.

“Aku akan belajar mencintaimu, Kyu. Jika kau tak bisa menerima alasanku, anggap saja aku menikahimu atas permintaan appa, aku belum pernah menentang perkataannya selama ini. Kau mau, kan?”

Seketika senyuman lega terlukis indah di wajah tampannya.

“Maafkan aku yang sering membuatmu terluka, Kyu.”

“Kau?”

Hanya hening yang menyelimuti kami kali ini.

“Mau sampai kapan kau memandangiku seperti itu? Kita bisa diusir appa jika kita terlambat!”

Dia tersenyum sekali lagi dan melajukan mobil sportnya kencang.

“Lihatlah dirimu di kaca. Kau begitu mengerikan, make up mu luntur semua.”

“Bersyukurlah, mungkin ini alasan Yunho tidak mau menikahiku.”

Dia tertawa dan mempercepat laju mobilnya, sesampainya kami di gereja, aku melihat appa yang sedang melipat tangannya diatas dada.

“Darimana saja kalian berdua?! Dan kau kenapa begitu kacau?!” kata appa gusar.

“Kyuhyun mengacaukanku! Dia mengacaukanku appa!” kataku sambil menunjuk nunjuk hidung calon suamiku.

“Kau jangan seperti anak kecil, Ahn Min Rin! Benarkan make up mu, sebentar lagi acaranya dimulai!” katanya sambil mendorongku masuk kedalam ruang ganti.

Sayup-sayup kudengar appa bicara dengan Kyuhyun,

“Kau apa kan anakku, Cho Kyuhyun?!”

“A-aku tidak—akh! Appo!”

Aku berbalik melihat Kyuhyun yang mengusap kepalanya setelah dijitak oleh appa. Dia mengekorkan matanya menatapku yang masih menahan tawa. Inilah yang terbaik untukku, keluargaku, dan juga Yunho. Dengan melakukan ini, aku tau aku tidak mengecewakan siapapun. Yunho sudah jelas-jelas bilang sudah melepasku, appa yang memang menginginkan ini terjadi, dan Kyuhyun, aku tau aku tidak akan menyesal menghabiskan seluruh hidupku bersama orang yang sudah menganggapku bagian dari dirinya sendiri.

-o-

Myeongdong Cathedral, Seoul, South Korea

Aku melingkarkan tanganku di tangan appa. Astaga aku akan melakukan langkah besar dalam hidupku. Tanganku yang berbalut sarung tangan putih berkeringat menahan gugup.

“Kau siap?”

Aku mengangguk setuju lalu kami berjalan masuk menuju altar. Semua tamu berdiri menyambutku masuk. Bisa kurasakan banyak mata yang tertuju padaku, tapi mataku hanya tertuju pada satu titik, disana, dimana sudah berdiri tegap namja dengan wajah gugupnya, dia suamiku, menungguku diujung altar sambil melebarkan senyumnya. Appa menyerahkan aku ke tangan Kyuhyun. Jantungku berdegup kencang sampai rasanya aku hampir mati. Dan sekarang kami berdiri berdampingan, mengucapkan ikrar suci yang akan menyatukan kami sampai akhir hayat.

“Dengan nama Tuhan. Saya, Cho Kyuhyun, menerima  engkau, Ahn Min Rin menjadi istri yang sah dan satu-satunya untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan dihargai, sampai kematian memisahkan kita.”

“Dengan nama Tuhan. Saya, Ahn Min Rin, menerima engkau, Cho Kyuhyun menjadi suami yang sah dan satu-satunya untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan dihargai, sampai kematian memisahkan kita.”

“Anda telah menyatakan ikrar Anda di hadapan Gereja. Semoga Tuhan dalam kebaikan-Nya memperkuat ikrar Anda dan mengisi Anda berdua dengan berkat-Nya. Bahwa dengan ini Tuhan telah bergabung, maka kalian berdua tidak terpisahkan. Amin.”

Kyuhyun membuka tudung kepalaku dan mencium bibirku singkat.

“Kali ini kau tidak boleh pergi dariku lagi, nyonya Cho.” Bisiknya pelan.

Aku memamerkan jejeran gigiku melalui senyumanku. Rasanya aneh, satu jam yang lalu aku diliputi sejuta keraguan, dan sekarang bahkan langit yang runtuhpun tak bisa menggoyahkan keyakinanku atas keputusan yang kulakukan.

-the end-

23 thoughts on “[FF Freelance] Stay Close, Don’t Go (Part 2 – End)

  1. autorrr gelaaaa!!!! gue udh deg2an aja kalo rin ama yunho. sumpah gak ikhlas bgt! kasian kyu! itu rin juga hati malah main serong! huaa.. tp akhrnya dia sma kyu jg! gilaaa lega bgt aku.. huaa tor daebak! sequel ya!!!

    • Kalo sequel aku nggak berani bikinnya, takut nggak seru -_- tapi ada niat bikin side story yang nyeritain dari sudut pandang Yunho sih, kalo nggak seru ya mangapin aja deh yah namanya juga amatir -_-“

    • akhirnya bisa komen juga..maap thor,,kemaren tiba2 pulsa abis…langsung deh muncul tulisan “problem loading page” gede banget =.=”

      sebenernya,,-ini menurutku loh yah- pas bagian min rin pisah sama yunho trus balik ke kyuhyun,agak kecepetan.

      trus pas mereka tiba2 ada di resto itu,agak
      membingungkan. waktu tu pikirku “loh?kok si kyuhyun ma bapaknya minrin ada di sini??” kurang penjelasan 🙂

      pas kyuhyun putus sama minrin juga agak kurang greget.

      itu aja sih…tapi sebenernya…ff ini BAGOOOOOOOOOOOOOSSSS BANGET…#capslock jebol.

      ayo thor..aku menunggu sequel..yippiiee.. 😀
      semoga komenku yg geje ini bisa diterima ya 🙂

      • Waaa terimakasih masukannya, tp yg terakhir itu yg pas pisah sama yunho buat balik ke kyuhyun emg kubikin cepet soalnya yunho nya maksa trs karakter minrin disini nurut bgt sama ayahnya, daaan buat jadi bahan kalo aja aku mau bikin lanjutannya hihi, tapi tq bgt loh masukannya *kish

  2. aish~
    aku smpet kesel pas min rin masih mihak yunho, gaktau knpa lebih suka minrin sama kyu ketimbang yunho eh nggak nyangka endingnya bgni ^^ daebak!

  3. dag dig dug bca ending’nya…. ^^

    Q pkir Min rin’na bkal ma Yunho,
    Trnyata TIDAK…..
    lega Bca’na….
    Buat Author’na Keyeeeennnnn dach….. 🙂

    • Thanks for reading^^ iyasih disini percintaannya jadi berkesan superficial, but I’m looking forward to make a side story or somewhat similar jst to clear the mess hahaa wish me luck!

  4. ffny daebak.waktu baca q sempet mikir ntar kyu ma min dhalangi ma yunho.eh ksniny pas yunho bnr2 tlus dan min jga tulus kok ksihan kyu.tpi pas ending liat yunho ma min g brsatu kok yg g ikhlas q thour ksian yunho.soalny kyu awal2ny romantis ma min tpi pas akhir kasar jdi feeling lbh dpet ke yunho.tpi kl suruh milih kyu ma yunho q jga pusing #plakabaikan.overall bagus thour.q tgg karya selanjutny

  5. sumpah part ini bikin tegang.. dr part awal sih emg udh feeling & berharap kyu sama min rin. tp pas baca part ini sempet berpikir jgn2 min rin malah sm yunho. abisnya kyknya min rin-yunho keliatan saling mencintai. tp untung deh akhirnya malah kyu-min rin

Leave a Reply to Gorin Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s