Love Letter

Cast

Kim Jonghyun (SHINee)

Han Saeyoung (You-Reader)

Genre: Romance

Written By: @Mischa_Jung

Happy Reading!!!!!

*********************

Backsound: FT Triple – Love Letter

Jonghyun mengayunkan langkahnya dengan pelan, hidungnya menghirup udara musim dingin dinegara Inggris.Lagu bertempo slow berdendang lembut dikedua telinganya yang disumpal headset.Ia berjalan ditengah kerumunan manusia yang memadati area pejalan kaki kawasan Oxford City,London. Kemudian memasukan tangannya yang kedinginan kedalam saku jaket dan ia mendongkahkan kepalanya melihat cuaca hari ini.

Sore ini lumayan cerah namun udara dingin masih membuatnya membeku sehingga ujung hidungnya memerah.Terdapat pula kepulan uap yang keluar dari mulutnya ketika menghela nafas.Jonghyun menghentikan langkah tepat lampu lalu lintas menandakan pejalan kaki tidak boleh menyebrang dan giliran kendaraan bermotor menggunakan jalan.Berdiri, terdiam menunggu lampu merah berubah jadi lampu hijau khusus pejalan kaki.

Jonghyun merasakan dadanya kembali merasakan perasaan yang tidak asing lagi.Sebuah kerinduan telah menyesakkan dada.Tepat lagu berjudul ‘She’s The One‘ dari penyanyi Robbie Williams sedang mengalun ditelinganya yang menyebabkan perasaan itu lagi lagi muncul. Teringat dahulu seberapa seringnya ia menyanyikan lagu itu.Bisa dibilang lagu ini menyisakan seberkas kenangan kecil dibagian masa lalunya.

Jonghyun tidak membenci lagu itu,hanya saja menyesal masih menyimpan lagu tersebut di playlist musiknya.Sekelebat ingatan lama sedang bermain di otaknya.Lagu yang pernah membahagiakannya bahkan ketika gadis itu masih disampingnya.Biasanya gadis itu bersandar dipundak Jonghyun sambil menikmati lantunan nada suaranya.Setelah Jonghyun menyelesaikan nyanyiannya,gadis itu selalu menatapnya lembut dan mengeluarkan senyuman termanis.

Tubuhnya seolah membeku ketika masih menangkap senyum dimatanya meski gadis itu tidak ada disekitarnya.Yeah…itu semua hanya halusinasi yang menggambarkan perasaannya.Tidak bisa mengelak lagi Jonghyun sangat merindukan gadis itu dan  rasanya ingin segera berlari kerumah lalu menekan bel sampai gadis itu muncul dihadapannya. Namun tidak mungkin jika dirinya ingin melakukan hal seperti itu.Keberadaan gadis itupun sudah dipisahkan oleh benua dan Jonghyun tidak ingin meneruskan kontak lagi setelah setahun lalu.

Kedua mata Jonghyun mengerjap pelan dan menghela nafas berat ketika lampu hijau khusus pejalan kaki sudah menyala.Ia menyebrangi jalan dengan pikiran yang tak menentu.Han Saeyoung,nama gadis itu terus terusan menyelimutinya dan membuat perasaan rindu semakin kuat.Lagi lagi menyesali kesalahan yang pernah dibuatnya.Seandainya saja ia tidak bersikap cuek yang melukai gadis itu.

Tepat mencapai gedung kecil berarsitektur eropa klasik seperti bangunan di Inggris pada umumnya, Jonghyun masuk kedalam dan menaiki tangga sampai dilantai 5. Kemudian ia membuka pintu flat apartemennya dan berjalan masuk kedalam kamar sunyi tanpa sambutan siapapun.Sudah lewat tiga tahun tinggal sendirian untuk memenuhi kuliahnya.

Samar samar terdengar derap langkah lain dalam salah satu ruang diflat.Jonghyun  menaruh tas sembarang dilantai dan bergegas.Satu nama muncul dipikirannya membuat ia mengeluarkan suaranya.Ia berpikir pemilik derap langkah adalah orang itu.

“Saeyoung-ah,kamu disini?”

Tidak ada jawaban apapun membuat Jonghyun memutuskan menelusuri sambil mencari arah sumber suara dan tiba tiba dikejutkan seekor kucing ras british short hair melompat kearahnya dari salah satu lemari kecil. Spontan Jonghyun menahan tubuh kucing tersebut dan membawanya keruang tengah.Ia duduk disofa yang bisa ditempati dua-tiga orang sambil membelai lembut bulu kucingnya.

“Bodoh sekali aku mengira Saeyoung ada disini.” ujarnya tersenyum miris menatap kucing yang sudah mendengkur dipangkuannya.

Jonghyun mengangkat kepalanya,menoleh kesekeliling nya dan merasakan terlalu sepinya tempat ini.Ia masih bisa merasakan hawa sosok Saeyoung disini.Sebelum lewat setahun,Saeyoung muncul diflatnya adalah pemandangan biasa dilihatnya.Biasanya gadis itu akan menyiapkan hidangan makanan terutama sayuran untuknya salah satu pembenci sayuran,membersihkan flat sambil mengomel karena pemilik kamar cukup tidak teratur dalam kebersihan sambil  membuang majalah-dvd yang biasa dimiliki pria dewasa atau dia datang untuk sekedar menganggunya jika sedang libur.Jonghyun ingin mencari kembali dimasa itu meski kelakuan overprotektifnya kadang mengesalkan.

Ingin mendengar suara tawa,omelan atau tangisnya yang pernah bergema disini.Kedatangan Saeyoung terlalu banyak meninggalkan kenangan yang mungkin tidak istimewa menurut orang lain.Dan satu satunya peninggalan gadis itu hanya kucing ini.

#Flashback.

“Jonghyun-ah,aku mohon..” Saeyoung menatap Jonghyun dengan tatapan berharap bahkan mengeluarkan mimik innocent andalannya. Ia berdiri didepan pintu flat dan tidak diijinkan masuk oleh sang pemilik sekaligus kekasihnya,Kim Jonghyun.

“Ck…tidak ada binatang didalam flatku.Kembalikan kucing itu ketempat semula atau kamu tidak akan masuk kedalam flat apartemenku selamanya.” seru Jonghyun mendelik tajam sekaligus memberikan ancaman pada gadis yang daritadi memelas.

“Jangan jahat begitu.Ayolah…kasihanilah kucing diterlantarkan.Lihatlah!kucing ini sangat lucu dan juga sangat menggemaskan.” Saeyoung mengangkat kucing dalam pelukannya dan masih belum menyerah meski sudah ditolak keras.

No…”

Please,Jonghyun-ah!Sekali ini saja kabulkan permintaanku.Aku pernah ingin memelihara binatang bersamamu dan kebetulan kucing manis ini adalah binatang tepat untuk kita.”

“Tidak…aku tidak begitu suka binatang.Lagipula kucing ini pasti kamu tinggalkan ditempatku karena teman sekamarmu alergi hewan berbulu.See…pasti aku yang repot mengurusi kucing ini.” Jonghyun melipat kedua tangannya didepan dada,berdiri tepat dipintu dan terus menghalangi Saeyoung agar tidak bisa masuk kedalam flat miliknya.

“Aku janji aku akan sering datang kesini demi mengurus kucing ini.Anggap saja kucing ini adalah anak kita.Ayolah…kumohon!” kata Saeyoung seraya menangkup kedua tangannya, memohon pada pria masih keras kepala.

“Kalau kamu ingin anak,kita bisa mendapatkannya nanti jika kamu jadi istriku…atau…. kamu malah mau sekarang?” balas Jonghyun enteng sambil tersenyum menyeringai.Ia sengaja mendekatkan kepalanya, menyisakan beberapa senti jarak antara dirinya dengan wajah Saeyoung.

Pipi Saeyoung langsung memerah lalu menggeleng cepat setelah mendengar ucapan Jonghyun bahkan ia refleks mundur selangkah. Pria itu menggodanya.

“Jangan mesum!” teriaknya.

Jonghyun menegakkan tubuhnya sambil mendesah kecil “Kalau begitu kembalikan kucing itu ketempat semula! Tidak selamanya kucing akan menjadi binatang lucu.” katanya mencoba memberi pencerahan untuk Saeyoung.

Saeyoung menundukkan kepalanya,kedua pundaknya lemas.Kecewa.Tanpa bicara banyak atau berargumen lagi,gadis itu berjalan pergi sambil membawa kucing. Jonghyun menggeleng kepala melihat sosok belakang Saeyoung sedang menuruni tangga seraya membawa pergi kucing itu.

Melihat aura yang muram seolah tidak bahagia itu membuat Jonghyun menghela nafas dan terpaksa mengalah pada egonya.Selalu begitu…ia tidak akan tega jika gadis itu seperti itu.Mungkin benar kata orang terdekatnya,Han Saeyoung adalah titik kelemahannya.

“Saeyoung-ah..” panggil Jonghyun sehingga langkah gadis itu berhenti sejenak tapi masih membelakangi kekasihnya. “Masuklah dan tentukan nama kucing itu untuk kita rawat bersama!” sambungnya sedikit dingin dan ketus.

Kedua mata Saeyoung langsung berbinar dan ia berbalik menatap pria itu dengan ekspresi tidak menyangka.Kemudian dia berlari tergesa gesa menaiki tangga,kembali dihadapan Jonghyun dengan senyum lebarnya dan terlihat jelas rasa senang tersirat darinya.Sementara Jonghyun meringgis menanggapi ekspresi Saeyoung lalu beralih menatap kucing itu dengan malas dan merasa kalah.

End Flashback

Odith…begitulah Saeyoung memberi nama kucing itu. Ia mencuri nama dari salah satu dewi kecantikan ‘Aphrodithe’ dalam mitologi Yunani.Jonghyun tidak mengerti sampai sekarang alasan nama itu harus diberikan pada kucing jantan ini tapi ia tidak protes dan membiarkan gadis itu memanggil kucing dengan sebutan ‘Odith’.

Semenjak keberadaan Odith diflatnya cukup mengundang kecemburuan Jonghyun yang merasa perhatian Saeyoung dicuri seekor anak kucing.Namun ia tidak terang terangan menunjukkan rasa iri sebab dirinya bukan tipe seperti itu.Disisi lain,Jonghyun merasa flat lebih ceria setiap tawa nyaring Saeyoung menonton tingkah gemas Odith.Ia cukup menikmati hidup bersama dengan Odith yang membuat Saeyoung lebih sering ada diflatnya sehingga pulang pada jam cukup larut.Gadis itu biasanya merengkek minta ditemani pulang dengan alasan ‘bahaya wanita cantik sendirian dinegara asing’.

Jonghyun menaruh Odith di sofa dan membiarkan tidur nyenyak disana lalu ia menyandarkan punggung. Dipenjamkan kedua matanya dan membayangkan Saeyoung melakukan berbagai aktifitas seolah gadis itu ada disekitarnya.Bayangan Saeyoung sedang mondar mandir didepannya terasa nyata.

——————————————

Han Saeyoung,gadis itu daritadi tidak menyingkir dari hadapan laptopnya.Tidak peduli salju pertama mulai turun dilangit Seoul dan suara riuh anak kecil menyambut turunnya salju diluar rumah serta bermain main.Kedua matanya terpaku menatap layar sedang menampilkan seluruh foto dalam sebuah folder.Foto foto itu berganti secara slide show.

Setiap potret itu berisi pria yang sama.Seorang lelaki yang mengisi hatinya selama tiga tahun terakhir dan berpisah begitu saja.Garis wajah keras yang terbilang tampan,rahangnya tegas dan memiliki badan cukup berotot serta gaya cueknya itu memiliki nama Kim Jonghyun.

Seulas senyum kecil diwajah Saeyoung setiap memandangi satu per satu potret potretnya yang memiliki kesan kuat dan bahagia.Ia cukup usil untuk memotret Jonghyun tanpa ijin.Beberapa foto konyol  yang tertangkap di kamera tanpa pria itu sadar. Namun Saeyoung tidak bisa tertawa lepas seperti dulu ketika foto konyol itu didepan matanya.

Rasanya sulit jika mengingat sudah lumayan lama ia tidak berhubungan lagi dengan pria itu bahkan kehilangan kontak.Tidak pernah bertemu itu sudah sewajarnya karena sudah terpisahkan oleh waktu dan benua.Rasanya sulit jika bertemu lagi meski masih punya perasaan yang belum berubah. Perpisahan adalah paling disesalinya tapi sudah takdir mereka seperti ini.

Titik bening mulai memenuhi pelupuk matanya ketika salah satu potret Jonghyun sedang tersenyum sambil menggendong Odith,kucing yang dipelihara olehnya bersama pria itu.Ingin kembali kemasa masa itu lagi meski harus melewati pertengkaran tidak berguna.

“Seandainya aku tidak pernah mengatakan ‘kita berpisah saja’ atau bersikap terlalu kekanakan, mungkin saja aku masih ada disana… ditempatmu..”

Setelah gumaman itu terucap,lelehan air mata turun dipipinya.Merindukan Kim Jonghyun adalah kondisi terberat dialaminya. Kemudian ia membuka salah satu web layanan email dan mulai menulis sesuatu disana.

To: Kim Jonghyun

Cc:
Subject: Untitle Message

Bagaimana kabarmu diInggris?Apakah disana sedang turun salju seperti di Seoul?Apakah disana sangat dingin?Mungkin aneh jika aku menanyakan kabarmu setelah kita tidak saling bicara selama setahun dan pulang ke Seoul.

Disini sangat dingin membuatku beku.Aku ingin lagi dipeluk olehmu seperti yang biasa kau lakukan ketika kedinginan.Hahahaha…..aku bodoh sekali masih saja mengharapkan kebaikanmu lagi padahal aku sendiri pergi dan mengakhiri semua antara kita.Kau boleh menganggapku wanita jahat.

Percaya atau tidak ketika aku kembali ke Seoul,aku sering terbangun lalu buru buru keluar karena harus menepati janjiku mengurus Odith dan juga menemuimu.Ketika aku keluar rumah setelah berpakaian lengkap,aku melihat lingkunganku berubah dan sadar bahwa aku telah meninggalkanmu.Inilah ketololanku.

Masakanku yang selalu kau makan dengan lahap terasa hambar dilidahku.Aku tidak mengerti mengapa bisa seperti ini?Aku tidak dapat makan dengan baik. Sulit menelan makanan sampai kenyang karena aku selalu membayangkan kau ada duduk didepanku, makan bersamaku.

Menangisimu sudah jadi kebiasaanku.Aku masih mencintaimu tapi aku bukan orang penyabar yang bisa menghadapi sifatmu yang terlalu cuek dan sibuk dengan dunia sendiri.Seandainya saja aku bisa bertahan lebih lama lagi tapi ternyata aku terlanjur mengatakan kalimat menyakitkan.Jika seandainya waktu itu kamu memintaku kembali,aku pasti mengabulkan itu tanpa berpikir panjang.Sayangnya kamu tidak melakukannya sehingga aku tidak bisa apa apa selain pergi dan kehilangan harapan.

Sudah dari sejak awal kita memang berbeda dan berbanding terbalik.Kau dan aku sering tidak sejalan dan tidak satu sepemahaman.Dari dulu aku tahu sebenarnya kita tidak cocok tapi aku tidak peduli hal itu karena aku menyukaimu.Kenyataan tetaplah kenyataan…ketidakcocokan itu justru menjadi perpisahan antara kita.Aku yang memulainya tapi juga yang mengakhirinya.

Mungkin karena kamu akan mendapat wanita lebih baik dan hidup baik tanpaku.Mungkin saja nasib kita memang seperti itu.Kuharap kamu selalu sehat dan bahagia.

 

Air mata Saeyoung menetes tepat diatas tuts keyboard laptop.Tangan  daritadi memegang kendali mouse kini bergetar ketika pointer tepat dikotak send.Ada keraguan terselip didadanya.Tidak bisa mengirim e-mail dan tidak ingin pria itu membaca apa yang ingin diungkapkan.Sama sekali tidak bisa menyampaikan tulisan yang diketiknya.

Mendadak suara Jonghyun menyanyikan bait lagu ‘She’s The One’ bergema digendang telinganya seolah suara itu berada sangat dekat dengannya.Tubuh Saeyoung bergetar hebat dan sulit bernafas sekarang. Rasanya sesak dan tidak bisa mengendalikan air matanya lagi.

Tangannya menggerakan mouse sehingga pointer mengklik kotak draft.Ia tetap tidak bisa mengirim e-mail sampai kotak draft sudah menyimpan lebih dari 50 e-mail yang ditujukan ke akun pria yang sama.Hati menjadi miris ketika melihat seberapa banyaknya ia mengetik email dan tidak pernah dikirim.

—————————————–

Pintu kamar tidur terbuka lebar dan terlihat sedikit berantakan.Inilah yang terjadi setelah gadis itu pergi. Bukannya Jonghyun tidak bisa mengurus diri tapi hanya saja ia sulit melakukannya.Entahlah semenjak Saeyoung pergi,keadaan jadi berbeda dan tentunya lebih terasa….hampa…

Jiwanya seolah kosong dan dunia jadi tidak berharga, itulah yang dipikirannya.Merasa tidak berguna sebagai manusia.Ketika gadis itu ada,setidaknya ia bisa menjadi penjaganya ataupun membagi sedikit perhatian untuknya meski dirinya bukan tipe peduli terutama mengenai wanita.Khusus pada Saeyoung, Jonghyun bisa jadi berbeda dari sifat aslinya dan entahlah kelembutan yang tersembunyi akan keluar secara alami.Hal itu membuktikan bahwa Han Saeyoung adalah…wanita teristimewanya.

Terlalu mudah mengubah jati dirinya jika sekali melihat gadis itu tersenyum.Panas yang terik pun terasa damai dan hangat jika dia bergelayut manja ditangannya.Kecupan kecil mampu meredakan setiap amarahnya yang Jonghyun yakini itu adalah senjata terampuh gadis itu.Tangis kecil meluluhkan hati dingin dan keegoisannya.Jonghyun bersikap seolah tidak peduli dan gengsi bilang ‘saranghae’ namun didalam batin terus mengulang kalimat itu.

Jonghyun mendekati meja belajar yang berhadapan langsung dengan jendela.Ia meraih bingkai foto dari atas meja dan tersenyum miris.Siluet wajah cantik dengan senyum yang paling ingin dilihatnya sekarang kini tercetak dalam kertas potret.Kulit putih,rambut panjang digerai dengan warna hitam kecoklatan dan kedua mata tidak begitu besar bahkan cenderung sipit namun berbinar lembut.Sementara Jonghyun dalam potret itu tersenyum disamping gadis itu.Ia ingat awalnya ia tidak ingin menaruh foto dikamar namun gadis itu bersikeras memajangnya bahkan sampai sekarang Jonghyun tidak pernah menyingkirkan bingkai itu sampai sekarang.

Kemudian Jonghyun menaruh bingkai foto ketempat semula.Lagi lagi perih menyerang dada.Selalu begitu. Pertengkaran kecil yang konyol menjadi seperti kenangan indah namun menyakitkan juga.Jonghyun menarik kursi lalu duduk.Terdiam sambil menatap kosong kearah beberapa lembar kertas dan pulpen yang tergeletak diatas meja.Ia mengenggam pulpen lalu mengoreskan rangkaian kalimat diatas kertas kosong.Semua ditujukan untuk Han Saeyoung yang masih mengisi otaknya.

London,4 December 2010.

Are you doing okay?Aren’t you sick?Aku selalu mempertanyakan dua kalimat setiap mengingatmu.Ini kebiasaanku sekarang, mengkhawatirkanmu tanpa aku. Apakah kamu makan dengan baik?aku takut kamu tidak menjaga gizimu karena aku tahu kamu tipe suka lupa makan jika sedang sibuk dan fokus suatu kegiatan.Kuharap kamu makan dengan baik seperti yang kau tegaskan padaku.

Disini musim dingin?Apakah disana juga sangat dingin ataukah mungkin sudah turun salju.Pakailah baju hangat ketika kedinginan. Aku mengkhawatirkanmu yang mudah kedinginan.Disana tidak ada yang bisa memberimu pelukan yang menghangatkanmu seperti kebiasaanku disini bersamamu.

Ketika aku berjalan keluar malam malam,aku mengingatmu dan cemas.Siapa yang kau panggil jika kamu takut berjalan sendirian dimalam hari.Aku berharap ada yang menjagamu disana atau pergilah bersama teman dan jangan pernah sendirian diluar pada malam hari.

Kekhawatiranku tidak bisa dihentikan.Ternyata aku sangat peduli tentangmu.Aku tahu seharusnya aku tidak bisa seperti ini tapi tetap saja aku terus memikirkanmu sepanjang hari meski kamu pergi sendiri,meninggalkanku.Mungkin kekhawatiranku saja terlalu berlebihan.

Ingin menertawakan pada pria cengeng yang menulis surat tapi nyatanya itulah terjadi padaku.Aku selalu mengejek pada seseorang yang tidak bisa menyampaikan isi perasaannya. Namun aku telah menertawakan bagian diriku yang melakukan seperti itu dan hanya bisa menulis surat yang tidak bisa disampaikan.

Membayangkanmu sedang tersenyum,aku ikut tersenyum.Ketika teringat kedua matamu yang basah dan menangis membuatku tersiksa seperti apa yang kualami saat terakhir kali aku melihatmu.Pundak kecil yang bergetar dan isak tangismu sambil mengatakan ‘kita berpisah saja’ itu seperti mimpi buruk.Aku yang bodoh…aku yang tolol telah membuatmu seperti itu dan harimu jadi sulit karena berhadapan dengan pria sepertiku.

Aku tidak tahu mengapa aku diam saja ketika kamu memutar tubuhmu,membelakangiku dan berjalan menjauh.Mengapa saat itu kakiku terasa kaku sehingga sulit rasanya mengejarmu dan memohon kau kembali.Suaraku yang seharusnya mencegah kepergianmu itu tertahan ditenggorokan dan tidak bisa kukeluarkan.Saraf saraf tubuhku seolah lumpuh mendadak dan kurasakan air mataku juga turun tanpa kusadari.Aku telah menangis?Pertama kalinya tangisanku keluar karena wanita.

Ketika kamu masih disampingku,kenapa aku tidak menyadari bahwa dirimu begitu berharga?Mengapa aku sangat cuek padamu ketika kamu datang dan tidak tahu kamu butuh perhatian lebih dariku?Ketika cinta pergi,aku terus mencari lagi dan tersadar kamu sudah tidak ada disebelahku lagi.Tidak ada lagi yang selalu merangkul tanganku atau menyandarkan kepala didadaku lagi.

Bodohnya aku baru memahami ketika kamu pergi bahkan setelah memberi luka dihatimu.Aku meminta maaf meski mungkin kamu tidak bisa mendengar ucapanku ini.Penyesalan itu tidak pernah sembuh dan aku terus menyimpannya.

Kuharap kamu terus baik baik saja dengan kehidupan sekarang…tanpaku.Berbahagialah dan jangan pernah tangisi pria yang sudah memberimu banyak kepedihan atau tidak bisa menghargai ketulusanmu sepertiku. Kamu sepantasnya tersenyum,tangisan bukan sesuatu yang cocok diwajahmu.Berbahagialah dan aku  mendoakan untukmu.

Pulpen digenggam Jonghyun terlepas dari tangannya sampai mengelinding.Air mata tidak bisa keluar meski dadanya tercabik sampai perih.Seluruh kalimat yang mewakili apa yang dipikirkan tertuang diatas selembar kertas membuat Jonghyun tertegun.Ini terlalu cengeng untuk pria sepertiku namun aku telah menulis,pikirnya.

Diraihnya amplop kosong lalu diselipkan kertas kedalamnya.Setelah amplop disegel,Jonghyun bangkit sehingga kursi bergerak mundur,menimbulkan suara gesekan dilantai.Ia mengambil kotak berukuran sedang dari laci meja.Dibukanya penutup kotak itu sampai memperlihatkan isinya.

Jonghyun menelan ludahnya seolah ada sebongkah batu tersangkut ditenggorokan.Nafasnya tertahan. Tumpukan amplop yang memenuhi satu kotak bahkan hampir tumpah.Terlalu banyak surat disimpan.Semua nya adalah surat berisi tulisan tulisannya selama setahun.

Jonghyun meletakkan surat terbarunya kedalam kotak dan bergabung dengan surat surat lain yang tidak pernah disampaikan. Kemudian,ia menutup kotak itu dengan senyum mirisnya. Membiarkan apa yang ingin dikatakannya pada surat itu tidak pernah dibaca gadis itu.Baginya,gadis itu tidak perlu mengetahuinya.

————————————–

One day of years 2012.

Saeyoung mengetuk kecil meja sambil membaca buku. Sesekali melirik kearah pintu dan menunggu seseorang yang seharusnya sudah datang dari 15 menit lalu.Pria itu sudah melanggar batas perjanjian dalam pertemuan.Percuma saja menggerutu sebab gerutuan hanya menjadi hal tidak berguna.

Ia berjanji pada seorang pria dicafe mungil kawasan Gangnam.Cafe bergaya rumahan terbuat dari kayu yang memberi kesan klasik sesuai dengan namanya, Poem’s Classic Kafe. Dindingnya dihiasi tulisan tulisan potongan kisah sastra barat dan puisi berbahasa inggris berasal abad pertengahan.Musik dari piringan hitam menambah suasana antik.

Gadis itu memilih duduk didekat pintu agar lebih mudah ditemukan pria itu.Saeyoung menggeleng kepala sambil melirik jam antik terpajang dicafe lalu meneguk secangkir mocca.Ia menompang dagu dengan tangannya dan sudah tidak ada  mood lagi melanjutkan bacaannya.Tiba tiba terdengar suara denting lonceng mengetuk kaca pintu menandakan ada yang datang membuat perhatian Saeyoung langsung beralih kearah pintu.

Pernafasan gadis itu langsung memberat dan kedua matanya melebar shock dan tidak percaya.Sosok pria yang tidak begitu berubah tiga tahun lalu kecuali potongan rambutnya telah muncul didepan matanya. Kim Jonghyun telah kembali dari Seoul. Wajah Saeyoung memucat seperti telah menemukan hantu.

Pria itu,Kim Jonghyun tampak tidak menyadari mantan kekasihnya berada ditempat yang sama.Yang ia lakukan adalah menuju ke meja counter,memesan salah satu jenis minuman coffe dan membayar- nya.Setelah americano coffe pesanannya sudah ditangannya, Jonghyun langsung meminumnya sambil mengedarkan tatapannya,mencari meja kosong untuk ditempatinya.Kemudian, pandangannya terhenti disalah satu meja dan membuatnya mematung.Han Saeyoung ada disini…

Setelah beberapa detik mata mereka saling bertemu dan tidak berkedip seolah terkejut dengan pertemuan tidak disangka sangkanya. Apakah Seoul terlalu kecil? Semudah itu kebetulan bertemu dengan mantan kekasih.Jonghyun menarik nafas dalam dan memutuskan menghampiri Saeyoung.Tidak mungkin dirinya mengabaikan orang dikenalnya.

Annyeong…sudah lama tidak bertemu.” Jonghyun menyunggingkan senyum kecil dan terdengar sedikit canggung dari nada suaranya.

Saeyoung hanya tersenyum tipis dan mengangguk kepala sekali.Ia menatap wajah Jonghyun sebentar lalu melirik kearah lain seolah takut memandanginya lama lama.

“Apakah aku boleh duduk disini?” tanya Jonghyun menunjuk kursi kosong yang berhadapan dengan Saeyoung.

“Eh..si..silahkan..” ujar Saeyoung gugup.Dalam hati mengutuki diri sendiri.Bodoh…kau sedang membuat janji dengan pria lain tapi kau malah mengijinkan Jonghyun duduk dihadapanmu,batinnya.

Jonghyun menarik kursi dan duduk.Ia merasakan betapa gugupnya dan situasi canggung. Diperhatikannya Saeyoung sedang mengaduk aduk coffe dengan cemas,beberapa kali melirik kearah lain seolah takut bertemu pandang kearahnya.Sikap gadis itu tampak sedang tidak nyaman dengan kedatangannya.

“Errr…bagaimana kabarmu?” Jonghyun membuka pembicaraan,mencairkan suasana kaku.

“Heemm…baik baik saja.” jawab Saeyoung singkat.

“Oh..syukurlah.Itu terlihat jelas dengan keadaanmu sekarang.” Jonghyun tersenyum kecil lalu menatap cover buku tergeletak di meja. “Masih saja suka membaca cerita cengeng.Apa kamu masih harus menyiapkan sekotak tisu setiap membaca buku sejenis itu?” sindirnya.

Spontan Saeyoung merenggut dan mencibir “Yakh… sudahlah jangan bicarakan soal kebiasaanku yang memalukan.” balasnya kesal sambil meraih bukunya dan memasukannya kedalam tas.

“Kau sama sekali tidak berubah.” Jonghyun  tertawa pelan melihat mimik gadis itu.Seperti dulu,dia akan menggemaskan jika disindir.

Deg!jantung Saeyoung berdegup tidak normal.Sialan beginilah selalu terjadi. Kemudian,Saeyoung meneguk rakus secangkir mocca untuk meredakan perasaan anehnya. Tak lama kemudian,ia merasakan ponselnya bergetar.Saeyoung langsung mengeluarkan ponsel dari tas dan nafasnya tertahan melihat nama seseorang yang menelponnya.Ia menatap antara takut dan ragu menjawab panggilan didepan Jonghyun.

“Kenapa didiamkan saja?Angkat saja teleponnya.” Jonghyun mengangkat sebelah alisnya, bingung.

“Ah..itu..” Saeyoung tergagap lalu melihat panggilan ponselnya berhenti dan ia menghela nafas lega. Dilihatnya Jonghyun sedang menatapnya aneh dan bingung namun Saeyoung tidak peduli.

“Kapan kembali dari Inggris?” tanya Saeyoung mencoba mengalihkan suasana.

“Sebulan lalu setelah wisuda kelulusan.”

“Oh…begitu lalu…err..bagaimana kabar Odith?” Suara Saeyoung menjadi lebih kecil ketika menanyakan kucing dipeliharanya bersama Jonghyun.Kucing itu salah satu pengikat hubungannya dengan pria itu.

Ekspresi Jonghyun jadi lebih muram dan senyumnya berubah jadi senyum miris.Ia mengaduk americano coffe-nya.

“Odith sudah mati tiga bulan lalu.”

Mata Saeyoung mengerjap pelan dan menutup mulut- nya seolah tidak percaya dengan kabar itu.Odith, kucing atraktif sudah mati.Tiba tiba pandangannya memburam dan merasa sangat sedih.Ia meneteskan air mata,menangisi kematian kucing yang dirawatnya bersama meski akhirnya dirinya sendiri meninggalkan Odith bersama pria itu.

“Dia sudah tenang disana setelah aku menguburkan- nya dipekarangan apartemenku.” ujar Jonghyun pelan.

Saeyoung mengangguk lalu tersenyum tipis seraya menyeka air mata “Bodoh sekali…aku menyesal waktu itu aku tidak merawatnya dengan baik dan kutinggalkan begitu saja.Mianhae…aku tidak menepati janjiku bahwa akulah mengurus kucing tapi malah akhirnya aku pergi.”

Jonghyun terdiam sebentar lalu melirik keluar jendela “Sudahlah…tidak perlu membahas apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah berlalu.Aku mengerti alasanmu pergi.” ujarnya sedikit lebih dingin.

Saeyoung mengigit bibirnya dan dada jadi sesak. Entahlah kalimat Jonghyun itu menusuk hatinya.Ia menelan ludah dan tidak tahu harus berbicara apapun lagi.

“J..jonghyun…aku..aku…tidak bermaksud pergi begitu saja.”

Jonghyun memalingkan pandangannya dari kaca jendela dan beralih menatap dalam wajah gadis itu yang sedih sekaligus gugup,kedua matanya tersirat seolah dia telah terluka.

“Kepergianku karena aku merasa harapanku hilang ketika berpisah denganmu.Awalnya itu cuma ucapan kekanakan dari wanita sepertiku dan berharap kamu mengejarku kembali untuk bersamamu.” kata Saeyoung tersenyum miris lalu menarik nafas dalam. “Dan kamu tidak melakukannya apa yang kuharapkan. Ternyata aku sadar mungkin sebaiknya kita berpisah agar tidak saling melukai satu sama lain dan kamu bisa hidup tanpa penganggu sepertiku.” tambahnya.

Pria itu tidak bersuara sama sekali dan tertegun. Ia merasakan dadanya sakit mendengar alasan gadis itu pergi.Bodoh…satu kata paling pantas untuk dirinya sendiri.Kemudian dia mengulurkan tangannya dan perlahan mengenggam tangan Saeyoung.

Gadis itu tampak terkejut merasakan pria itu telah menyentuh tangannya.Perasaan sakit tiba tiba menghilang namun ia bisa melihat raut wajah bersalah Jonghyun.

Mianhae…aku tidak melakukannya tapi aku sangat menyesali itu.” ucap Jonghyun lembut bahkan menatap halus gadis itu.

Tiba tiba senyum Saeyoung merekah.Mendengar kalimat itu membuat bebannya terangkat seolah harapan yang dikiranya sudah hilang itu ternyata masih ada untuknya.Merasa bahagia dan tenang mendengarnya.

Kemudian seorang pria bermata sipit  membuka pintu dari luar cafe sehingga lonceng mengetuk pintu menarik perhatian.Saeyoung melihat siapa yang datang dan spontan ia menarik tangan dari genggaman Jonghyun sebelum pria bermata sipit itu melihat apa yang terjadi.

“Saeyounggie…mianhae aku telat tapi kenapa tidak membalas teleponku?” tanya seorang pria bermata sipit menghampiri meja ditempati Saeyoung lalu dia menoleh kearah Jonghyun. “Siapa dia?”

“Ah..itu…Kim Jonghyun,temanku waktu kuliah di Inggris.” Saeyoung memperkenalkan Jonghyun pada pria itu dengan nada gugup.Jonghyun langsung berdiri dan menjabat tangan pria yang baru ditemuinya.

“Senang bertemu denganmu.Aku Lee Jinki,tunangan Saeyoung.” balas Jinki ramah membalas jabatan tangan Jonghyun. “Aku pernah mendengar beberapa kali tentangmu dari Saeyoung.”

Nafas Jonghyun tercekat mendengar status yang diakui Jinki.Pria itu…tunangan dari gadis yang masih dicintainya sampai sekarang. Rasanya peluru telah mencabik dada menyadari kenyataan.

Sementara Saeyoung menatap nanar Jonghyun dan ia tidak ingin hal ini terjadi namun tuhan telah menakdirkan pertemuan dua pria itu. Ia tidak bisa menghindari situasi ini lagi.

“Saeyoung,ayo kita fitting wedding dress sekarang! Dua jam lagi aku harus kembali ke kantor. Masih ada rapat.” Jinki melirik jam tangannya lalu menarik tangan Saeyoung,mengajaknya pergi.

Saeyoung mengangguk tanpa bicara apapun.Ia tidak berani melihat bagaimana reaksi Jonghyun.

“K..kalian akan menikah?”

Kepala Saeyoung terangkat setelah mendengar pertanyaan Jonghyun.Ia mengigit bibir bawahnya dan tidak tahu harus menjawab apa.Demi tuhan…ia tidak ingin Jonghyun tahu soal ini.Memang egois,Saeyoung masih mencintai Jonghyun dan menginginkan pria itu kembali disisinya sementara dirinya akan menikah dengan Lee Jinki.

Ne…dua minggu lagi.” jawab Jinki antusias dengan senyum lebarnya sampai memamerkan gigi kelincinya. “Aku akan mengirimmu undangan pernikahan kami. Beri aku alamatmu lewat kontak ini.” tambahnya mengeluarkan kartu nama dari saku kemeja.

Jonghyun memaksakan senyumannya setelah menerima kartu nama lalu menatap dua orang dihadapannya bergantian “Baik…akan kukirim alamatku kontak nomor ponselmu. Kamsahamnida, Jinki-sshi.” ucapnya.”Aku  ikut senang mendengar kalian akan menikah.” sambungnya  berbohong.

“Ahahaha…kamsahamnida.” ucap Jinki terkekeh lalu melirik Saeyoung yang sudah memucat. “Meski kami dijodohkan oleh orang tua kami tapi ternyata kami  saling menyukai dan cocok satu sama lain.”

Jonghyun menahan sesuatu yang memanas didadanya dan lagi lagi memakai topeng, menutupi apa yang dirasakannya.Ia menatap Saeyoung yang tidak berani memandanginya lagi.Ternyata senyuman gadis itu barusan hanya kebahaagiaan sesaat.

“Oh…syukurlah.Kuharap kamu selalu berbahagia dengan Jinki-sshi,Saeyoung-ah.” ujar Jonghyun tersenyum kecil.

Saat itu Saeyoung merasa tubuhnya lemas dan ingin menangis keras.Berikutnya Jinki menggandengnya berjalan keluar dari cafe setelah berpamitan dengan Jonghyun lalu menuntunnya kearah mobil milik Jinki yang terparkir diluar cafe.

Setelah mobil Jinki berjalan meninggalkan cafe. Saeyoung menutup kedua mata sehingga air matanya mengalir lembut.Ia langsung membuang muka keluar jendela seraya menatap setiap pemandangan dilewati mobil agar Jinki tidak curiga kalau dirinya sedang menangis.

Mianhae,Jonghyun.Kita tidak bisa bersama mungkin  memang takdir kita.” batinnya.

“Saeyoung,kamu baik baik saja?Kenapa diam saja?”

Suara lembut Jinki membuat Saeyoung buru buru mengusap air mata dan menoleh kearah pria itu sambil tersenyum lebar.Ia memasang topeng agar tidak dikhawatirkan.

Ne…aku hanya merasa sangat mengantuk.” jawab Saeyoung berbohong.

“Tidurlah!aku akan membangunkanmu jika sudah sampai di bridal.” Jinki mengelus kepala Saeyoung dengan tangan sebelahnya sebab tangan satunya sedang memegang kendali setir mobil.

Lee Jinki,calon suami berhati tulus dan memiliki senyuman yang lembut, persis apa yang menjadi tipe idealnya dan juga pilihan orang tuanya.Saeyoung harus membuka hatinya lebar lebar untuk Jinki dan tidak mau menyakiti pria yang disayanginya kedua kali.

“Aku menyayangimu,Jinki.” ucapnya tersenyum kecil dan disambut senyum lebar pria disampingnya. “Yeah… aku harus mencoba yang terbaik.” batinnya tanpa didengar siapapun.

————————————

Jonghyun menatap sekotak berisi tumpukan surat surat yang selalu ditulisnya.Ia membawa kotak berisi surat dari London dan menyimpan di kamarnya. Senyum miris bertengger diwajah Jonghyun setelah membaca ulang surat suratnya.

Kuharap kamu terus baik baik saja dengan kehidupan sekarang…tanpaku.Berbahagialah dan jangan pernah tangisi pria yang sudah memberimu banyak kepedihan atau tidak bisa menghargai ketulusanmu sepertiku. Kamu sepantasnya tersenyum,tangisan bukan sesuatu yang cocok diwajahmu. Berbahagialah dan aku  mendoakan untukmu.

“Sepertinya doa terakhirku dalam surat ini telah dikabulkan tuhan.” lirihnya setelah membaca salah satu tulisan disuratnya.

Ia menarik nafas dalam lalu memasukan kembali surat kedalam kotak itu.Jonghyun mengangkat kotak itu dan membawa keluar rumah.

Dipekarangan rumah,Jonghyun meletakkan kotak berisi surat ditanah.Kemudian ia mengeluarkan fliter api dari sakunya dan dilemparkan fliter itu ke tumpukan surat surat yang ditulisnya bertahun tahun. Dengan cepat,api menghanguskan kertas kertas dan mengubahnya jadi abu.

“Mari kita cari kebahagiaan dijalan masing masing dan saling melepaskan satu sama lain.Aku terima takdir ini.” gumamnya menatap surat surat terbakar dan berharap juga menghanguskan perasaannya kepada Saeyoung. “Selamat tinggal,Han Saeyoung.Setidaknya aku lebih lega ada pria menggantikanku.”

————-THE END————-

Thank You reader yang sudah membaca ff ini sampai tamat.Maaf banget kalau ending atau ceritanya gak menarik alias aneh.Kalau ada typo,tolong dimaklumin ya.Pemintaan terakhir saya: Please bgt buat reader yang cakep+unyu yang uda baca ff ini,tolong tinggalkan komentar buat saya.Komentar kalian tuh kaya harta karun buat saya bahkan saya juga terima saran dan kritik kalian.Kamsahamnida!!!!!

7 thoughts on “Love Letter

  1. astaga, sempet mikir mreka bakal bersatu setelah sekian taun ga ketemu tapi ternyata takdir mmg tak mempersatukan mreka ya. saeyoung bahkan mw nikah sama jinki.
    andai mreka bs saling mengungkapkan mungkin bakal lain ceritanya aplg mreka mmg msh saling mencintai.
    memang ga selamanya cinta itu berakhir indah.hehehe

    • Iya…mereka gak bisa bersatu…pdhl ujung”nya ud saling mengakui tapi ttp aja Saeyoung terlanjur mau menikah dgn Jinki…

      Gumawo ya ud mampir :D…responmu menyenangkanku…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s