[FF Freelance] About Sehun-Explanation (Ficlet)

Title : About Sehun-Explanation [The last Series of Shadow]

Author : Avery Song

Main Cast : Oh Sehun, Jung Ririn

Support Cast : Tao, Kim Ririn

Genre : Romance

Length : Ficlet

Rated : PG-13

Disclaimer : Cerita murni dari pemikiran author. Jika ada kesamaan alur dan tokoh itu hanya sebuah kebetulan semata. Part ini bakal ngejelasin kenapa di Series sebelumnya Sehun dengan gampangnya nerima tawaran Ririn. Dan kali ini cerita diambil dari sudut pandangnya Sehun. Mungkin ini series terakhir dari cerita ini. Nggak bakal ada lanjutannya. Emang cerita udah berhenti saat ‘The Party’. Disini aku bikin dari sudut pandang yang berbeda, dan lebih memperjelas tingkah Sehun yang ada di series series sebelumnya. Hope you guys like it. Maaf jika mengecewakan 🙂 Leave your comment please.

-_-_-_-_-_-_-

Blue Memories #1

Hanya menatapmu dalam keheningan. Helaian rambut indah yang biasanya tertata rapi, kini bekibar tertiup angin. Dalam jarak pandang dekat kini masih bisa kurasakan sinar bahagia yang terpancar dari kedua bola matamu. Terkadang aku sangsi jika dirimu yang kini tengah berada di hadapanku, mempunyai suatu masalah yang datang memenuhi pikiranmu.

Tiba-tiba saja datang menghampiriku di pagi buta, hanya untuk sekedar mengajakku mengunjungi suatu tempat dimana kau dan aku berdiri saat ini. Bahkan aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu hal yang tak penting disaat kau mengucapkannya beberapa hari yang lalu. Obrolan tentang melihat matahari terbit, yang menurut pemikiranku sangatlah tidak penting untuk dilakukan dalam waktu dekat ini, ternyata bertolak belakang dengan apa yang ada di dalam otakmu.

Semburat oranye yang berbaur dengan birunya langit yang mulai tampak, tercampur menjadi satu membentuk gradasi warna yang agak menyilaukan mata, tatkala sinarnya yang paling teratas muncul di horizon timur. Menyebabkan dirimu hanya terlihat seperti sebuah siluet yang tidak nyata.

Terkadang aku berfikir, apa benar dirimu ini telah menjadi milikku seutuhnya? Diluar sana bahkan terdapat berpuluh-puluh bahkan berjuta-juta lelaki lain yang masih pantas disandingkan dengan dirimu. Mengelak kenyataan, jika kedua orang yang telah membesarkanmu sejak kecil, tidak membiarkanmu bergaul dengan orang semacam diriku.

Setidaknya biarkan perasaan ini tetap bertahan selayaknya saat ini. Jika kutahu pada akhirnya raga dan jiwamu harus secara perlahan menghilang dari lingkar hidupku.

-_-_-_-_-_-_-

Seperti biasanya kulangkahkan kakiku santai. Mataku menangkap detik jarum jam yang terus bergulir. Sudah pukul tujuh tepat. Saat dimana gerbang sekolahan telah terututup sempurna. Kulihat dari tempatku kini berjalan, pintu gerbang yang berdiri dengan megahnya, tertutup tanpa ada celah untuk ku masuki.

Aku berdiri di bibir jalan. Mulutku sibuk mengunyah permen karet sambil menggoyang-goyangkan sebelah kaki untuk membunuh rasa bosan yang menerpa. Sudah jam tujuh lewat, tapi batang hidung Tao masih belum juga kelihatan.

Kucoba mencari keberadaannya di jalan utama yang mengarahkan siapapun jika berada di rute itu, menuju ke kompleks gedung sekolahan yang terpampang di depanku. Sesekali mataku melihat pintu gerbang, kali saja sudah terbuka sebagaimana mestinya.

Pertengkaran yang terjadi antara dance crew tadi malam, mungkin saja menjadi pemicu keterlambatan temanku yang satu itu. Dituduh menjiplak gerakan lawan memang memberi kesan buruk pada crew milikku, tapi sepertinya semua orang yang mengerti duniaku pasti akan mengira itu merupakan hal yang wajar, walau terkadang memicu sedikit perselisihan antara kedua kubu. Terlebih lagi jika sebenarnya crew milikku itu tidak memplagiat gerakan lain.

Seorang perempuan berdiri tak jauh dari gerbang. Ia melihat ke arahku seakan-akan diriku merupakan hal laknat yang tidak pantas berada di lingkungan sekitar sekolah. Aku tahu penampilanku terkesan berandalan, tapi seharusnya dia tidak perlu memperhatikan dengan tatapan seperti itu. Alasan mengapa membuatku membuang tatapan ke arah lain.

“Sehun-ah!!” Suara Tao memecah keheningan. Kulihat dia berlari sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Yang kurespon dengan baik, setidaknya ia telah mengalihkan pemikiranku. Laki-laki itu terus saja membahas hal tentang semalam, dan melontarkan perkataan yang seharusnya tidak ia ucapkan hingga-hingga membuatku tertawa.

In fact, pelatih BliBlaBla Dance Crew dulunya merupakan pelatih dance crew yang kini tengah kuikuti. Dan bagaimana bisa ia menggunakan otak bodohnya itu untuk menuntut kami, yang jelas-jelas di waktu lalu, ia sendiri yang membuat gerakan itu bagi kami. Dia terikat kontrak dan kami membayarnya untuk itu.

Pintu gerbang besar yang digeser menarik perhatianku. Menampakkan Kim songsaenim di baliknya, membuatku menggerutu dalam hati. Sungguh malang, di usianya yang hampir menginjak kepala lima, dia bahkan belum bisa menemukan pasangan hidupnya. Sudah kukatakan berulang kali padanya agar mengurangi kegarangan yang tercetak jelas di wajahnya itu, supaya ada wanita dewasa –bahkan nenek tua- mau menghabiskan sisa hidupnya bersama-sama dengan dirinya.

Kedua mataku beralih melihat keberadaan perempuan tadi. Sedikit terganggu saat mendapati dirinya tengah menatapku lekat-lekat. Dan kubiarkan Tao menggeretku berlalu dari hadapannya.

Tapi sedetik kemudian aku tertegun. Kutolehkan kepalaku sekali lagi ke belakang melihat sosok itu, masih tetap bergeming di tempatnya. Seketika itu juga ingatanku kembali terlempar ke masa lalu. Membuat dadaku terasa sesak, dan lelah disaat bersamaan.

“Jung Ririn! Apa yang kau lakukan disitu?! Cepat masuk atau akan kututup pintu gerbangnya!!”

Teriakan songsaenim masih bisa tertangkap oleh indra pendengaranku. Dan saat itu juga tubuhku terasa kaku. Masih berpikir jika ini semua hanya halusinasi semata, akibat rasa rindu yang selama ini membuncah di dalam hati.

-_-_-_-_-_-_-

Blue Memories #2

Dari balik rerimbunan pohon kulihat manusia terakhir yang berada di pemakaman baru saja memasuki mobilnya. Hilangnya kendaraan itu di belokan depan sana memberiku keberanian untuk keluar dari tempat persembunyianku.

Untuk membawa payung agar melindungiku dari rintikan hujan pun aku tak mampu. Awan gelap serta air hujan yang jatuh pun seakan tidak rela menerima kepergian gadis yang kini keberadaanya telah tertimbun tumpukan tanah lembab.

Kudekati gundukan tanah basah yang masih terlihat baru di sisi kanan pemakaman. Perasaanku bercampur menjadi satu tanpa bisa kuungkapkan bagaimana kacaunya. Sekali lagi hanya bisa menatap dalam keheningan.

Seluruh badanku bergetar. Air mata mendesak keluar di ujung mata. Sudah merasa tak kuat dengan kenyataan ini. Kedua kakiku tertekuk rapuh saat tidak sanggup menahan beban badanku. Aku berteriak di keheningan alam. Tertutup derasnya hujan yang kian menggila. Petir pun menemani keberadaanku. Meraung-raung seorang diri. Mencoba melepas kepergian gadisku. Kim Ririn….

-_-_-_-_-_-_-

Kehadiran sosok gadis itu masih menyita sebagian otakku. Ini rahasia. Tak ada yang tahu jika aku menjalin hubungan dengan seorang gadis bernama Kim Ririn di masa lalu, kecuali orang tua Ririn yang jelas-jelas menunjukkan sikap tidak sukanya padaku. Sudah enam bulan berlalu sejak hari pemakamannya. Dan sampai sekarang pun masih segar dalam ingatanku bagaimana keadaan mencekam yang menghampiriku saat itu.

Aku tidak pernah melupakannya. Sedetik pun tidak akan bisa. Bahkan setiap bentuk wajahnya pun aku masih bisa membayangkan. Mata yang akan selalu membentuk segaris lengkung jika tawanya menggema. Hidung kecilnya yang mancung sempurna. Bibir mungil merah jambunya. Bahkan aroma colognenya pun aku ingat.

Teguran dan tepukan di bahu menyedotku kembali ke alam nyata. Tao menyuruhku agar segera menyusul yang lain. Hari ini kami akan mengadakan pertunjukan jalanan. Sekedar untuk menambah popularitas hingga ke pelosok Seoul. Kutampik rasa gelisahku. Bertindak profesional yang seharusnya kulakukan saat ini.

Semuanya berjalan lancar. Mereka semua seakan lupa jika baru saja kemarin mengalami perseteruan tentang plagiat. Para penonton pun tidak bisa dibilang sedikit. Cenderung banyak malah. Semuanya bersemangat dalam pertunjukan ini. Dan melihat aura menggebu-gebu mereka, cukup membuatku terpacu untuk menampilkan yang terbaik hari ini. Hingga kulihat keberadaanya di tengah kerumunan.

Tubuhnya itu bagai center dilihat dari lensa mataku. Semua orang disekitarnya tampak hitam putih –tak berwarna- dan bahkan aku dapat merasa mereka semua terhenti. Termasuk waktu. Aku mengunci pandangannya. Bahkan untuk mengalihkan darinya pun aku tak sanggup. Merasa gadisku telah hidup kembali. Aku bisa merasakan kehadirannya lagi.

Tapi teriakan tragis menghantam telingaku. Membangunkanku dari ilusi bayang-bayang dirinya yang kurindukan selama ini. Membuatku langsung meninggalkan tempat, mengikuti para penari lainnya yang mulai pergi menuju arah studio dance kami.

Tak bisa kucegah saat badanku mulai berbalik kembali, merasa belum rela mengalihkan fokusku darinya. Kukira hanya ilusi, tapi kulihat dia benar-benar nyata. Yang membuatku secara pasti berlari mengejar dirinya.

Aku tahu Kim Ririn telah meninggal. Bahkan seratus persen aku menyadarinya. Tapi tidak bisa kupungkiri kehadiran gadis bernama Jung Ririn telah mengusik ruang tenangku. Bukan hanya kesamaan nama. Tapi wajah mereka benar-benar tidak beda jauh. Meski perbedaan kecil tetaplah ada.

Aku mulai meneriaki dirinya. Dia tetap acuh, berjalan seolah-olah jalanan ini hanyalah miliknya seorang diri. Kuteriaki dirinya lagi. Dan ia berhenti kali ini. Jantungku berdegup kencang saat wajahnya benar-benar telah menghadapku. Merasa sebongkah es menikam dadaku, membuatku sulit untuk menghirup oksigen. Bahkan aku hampir menitikkan air mata melihat jelmaan Kim Ririn di depan mataku.

Sebisa mungkin kukontrol hati dan pikiranku. Menghela nafas sebelum melontarkan perkataan yang tiba-tiba muncul di pikiranku. “Jangan beritahu orang-orang tentang apa yang baru saja kau lihat. Kau mengerti?” Setelah itu aku tidak bisa menahan kakiku yang dengan cepat pergi meninggalkannya dibelakang.

-_-_-_-_-_-_-

Aku merasa lelah. Bahkan jika dibolehkan aku ingin berhenti sekolah. Tapi jalan pikiran semua orang berbeda-beda, membuatku tidak bisa melaksanakan keinginanku itu dikala kedua orang tuaku tetap memaksakan kehendak mereka. Menyuruhku lulus hingga perguruan tinggi.

Apa mereka pikir jika aku mengantongi ijazah hingga lulus sebagai sarjana menjamin segalanya? Bahkan bisa saja dengan kemampuanku dalam tari-menari, membuat diriku berkeliling hingga ke penjuru dunia untuk menggelar berbagai macam pertunjukan. Hal yang otomatis memberi kebanggan tersendiri bagi diriku, serta mereka juga.

Aku melarikan diri ke taman belakang sekolah. Rasa kantuk yang sedari tadi tidak menghilang memaksaku berlari meninggalkan jam pelajaran. Setidaknya menurutku ini lebih baik daripada harus terang-terangan tertidur di dalam kelas, dihadapan songsaenim pula.

Kurebahkan diriku di bawah pohon Maple. Merasa tenang dengan menghirup udara sekitar yang begitu sejuk. Menyedot keseluruhan hingga ke paru-paru, dan mengantarku ke alam semu.

Suatu senja mengantarkan dirinya menghampiriku di taman dekat rumah. Saat itu Kim Ririn terlihat sangat cantik dalam balutan dress selutut berwarna biru laut, yang senada dengan warna flat shoesnya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, membuat bau khas shampoo miliknya tercium hingga hidungku.

“Apa kau punya masalah?” Aku bertanya pada dirinya. Dia hanya tersenyum. Seharusnya aku bahagia melihatnya, tapi senyuman dan tatapan matanya seolah memberikan arti lain padaku.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat kembali kutanyai apa telah terjadi sesuatu. Kedua tangannya menggenggamku erat. Seakan tidak pernah mau melepaskannya. Hal yang justru menambah keyakinanku jika ada yang tidak beres dengan dirinya.

“Aku harus pergi oppa. Aku harus pergi,” Dia mengulang kalimatnya berkali-kali, sebagaimana halnya repetisi. Matanya berubah sendu saat mengatakan itu. “Kau tak boleh pergi. Tanpa diriku,” Aku menolak pernyataannya keras. Hatiku mulai resah memikirkan arti ‘pergi’ yang ia ucapkan barusan.

“Aku harus pergi. Aku yakin oppa akan mendapatkan pengganti yang lebih baik.”

Kali ini ia mencoba melepaskan genggamannya. Keadaan berbalik. Kini aku yang mencoba menahan kepergiannya. Menahannya agar tetap berada di sisiku. Aku berteriak, memohon, meminta. Tapi hanya gelengan kepala yang aku dapatkan.

Genggamanku mengendur. Kekuatanku terserap bumi. Bahkan untuk menapakkan kakiku butuh perjuangan yang besar. Perlahan tapi pasti bayangannya mulai memudar. Aku mencoba meraihnya, tapi kakiku tak bisa bergerak. Aku berteriak padanya, tapi dia hanya tersenyum. Hingga dirinya benar-benar hilang, berubah menjadi butiran debu.

Terkejut dengan mimpiku barusan, kedua mataku memaksa untuk terbuka. Dan aku pun tambah terkejut saat mendapati gadis itu –Jung Ririn- telah berlutut di sampingku. Belum terbiasa akan kehadirannya membuatku mengambil langkah mundur, manjauh dari dirinya.

“Berkencan denganku. Oke, Sehun oppa?” Sedikit terperanjat dengan pengakuannya barusan. Tidak menyangka gadis ini mengambil alih tugas yang biasanya dilakukan oleh seorang lelaki. Dan pikiranku kembali melayang pada mimpiku barusan. Apa ini pertanda? Aku merasa bingung. Bingung karena takdir yang mempermainkan alur hidupku kini.

Mencoba mencari tahu dengan mengikuti permainan takdir. Tidak ada salahnya dicoba. Sejurus kemudian aku mendapati ekspresi kagetnya saat melihat perubahan raut di wajahku dalam waktu singkat. Bahkan senyuman pun tak lupa tersungging manis di bibirku.

“Mengapa tidak?”

Dan kurasa takdir akan menuntunku ke cerita lain. Yang bahkan aku sendiri tidak tahu akan seperti apa. Karena sudah menjadi hal umum jika takdir adalah rahasia alam. Aku hanya bisa menjalaninya sesuai garis yang telah ditentukan.

-FIN-

7 thoughts on “[FF Freelance] About Sehun-Explanation (Ficlet)

  1. hoaaa, ga nyangka ternyata di balik itu semua sehun menyimpan kenangan menyakitkan krn kematian kekasihnya yg bernama sama. jadi intinya mreka bersatu, mengikuti aliran takdir yg mempertemukan mreka..haha suka deh ^^

  2. Yah,ini gak akan lanjutannya lg berarti y?
    Ini ficlet juara bgt pokoknya..kalo da lnjtnx sih,tmbh asyik,kalo adaaaaa..
    Mian kalo komenku gaje mulu dr part awal..
    Satu kata “superior” *pinjem DO”

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s