Just The Way You Are Part 9

Title   :: Just The Way You Are Part 9

Author   :: Hyunhae

Genre   :: Romance, Friendship, Family

Length   :: Chaptered

Rating   :: PG-15

Main Cast   :: Kang Minhyuk of CN Blue, Kim Seoeun (OC)

Other Cast   :: Member of CN Blue, Lee Joonhyuk, Lee Haejin (OC)

Disclaimer   :: This story and plot is mine

a/n   :: Long time no see… Selamat Hari Raya Idul Fitri semuanyaa~, Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir bathin yaaa…^^

ini juga dipublish di blog pribadi saya,, happy reading..sorry for typo..

Previous Part :: [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4] [Part 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8]

―――――――――――――――――――――――――――――――――

Seoeun POV

“Karena aku tidak akan membiarkan kau pergi untuk menemui namja itu.”

“Aku-tidak-akan-membiarkan-kau-pergi-untuk-menemui-namja-bernama-Joonhyuk-itu.”

“Kau bilang saja padanya tidak bisa pulang, suruh ia pulang tidak usah menunggumu.”

“Ne, aku memang anak kecil. Lalu kenapa? Kau mau meninggalkanku? Menyesal mencintai anak kecil sepertiku? Ingin pergi dariku?”

“Dan membiarkanmu menemui namja itu? aku sudah bilang padamu untuk tetap bersamaku, hanya menatapku jangan beralih pada namja lain, apa begitu susahnya?”

“Karena kau sudah berjanji padaku.”

“AAARRGGGHHH!!!” aku jadi frustasi sendiri mengingat kejadian antara aku dan Minhyuk di dorm, ini bahkan sudah hampir seminggu, dan aku belum bertemu dengannya sama sekali. Lebih tepatnya tidak mau menemuinya.

Haejin sudah tahu tentang hal ini dan yah dia sempat mengamuk padaku juga pada Minhyuk. Tapi, namja bernama Kang Minhyuk itu sampai sekarang bahkan tidak ada usaha untuk meminta maaf atau bicara padaku, pada hari pertama setelah kejadian itu ia memang menelepon dan mengirimiku pesan tapi karena tidak kunjung kuladeni ia menyerah tidak melanjutkan usahanya, namja macam apa itu?

Oh, dan masalahku berkurang satu. Kenapa? Karena masalahku dengan Joonhyuk oppa sudah selesai, aku sudah memberikannya jawaban.

-Flashback-

“Oppa, sudah lama? Mianhae, tadi ada sedikit masalah jadi lebih lama sampainya.”

“Gwaechana, harusnya aku yang minta maaf, karena datang kesini tiba-tiba jadi kau juga repot.”

“Nan gwaenchanayo, oppa. Ah, kajja oppa, masuk dulu.” kataku lalu membuka pintu apartemen.

“Duduk dulu, oppa. Biar kubuatkan minum dulu.”kataku dan bergegas menuju dapur.

“Heish, Kang Minhyuk menyebalkan.” Sambil membuatkan minum untuk Joonhyuk oppa aku masih menggerutu pelan, mengumpat Minhyuk.

Hah, membuatku kesal saja kalau mengingat perlakuannya padaku.

“Seo~ya, memangnya kau tadi habis darimana?” tanya Joonhyuk oppa begitu aku kembali ke depan dan meyerahkan minumnya.

“Ne? ah, habis dari tempat teman.”

“Oh, tapi aku tidak menganggumu kan?”

“Aniyo, oppa tidak mengangguku kok. Hehe.” Jawabku.

“Hmm, baguslah. Aku takut menganggumu.”

“Aniyo. Oh ya, oppa memangnya ada apa menemuiku malam-malam begini? Ada hal pentingkah?”

“Ah ya, aku lupa. Jadi, aku sebenarnya ingin tahu jawabanmu atas pertanyaanku yang lalu, pembicaraan kita di café. Otte?” aku yang tadinya masih tersenyum menyambut senyumnya saat mendengar ucapannya tadi langsung diam dan yah inilah yang kutakutkan, karena jujur saja, aku belum memiliki jawabannya.

“Seo~ya. Otte? Sudah punya jawabannya?” aku masih tidak menjawab dan hanya meremas-remas tangaku gelisah. Aigoo, apa yang harus ku jawab?

“Mmm, oppa, sebenarnya, aku sendiri juga belum tahu harus menjawab apa.” Kataku akhirnya, yah aku memang tidak tahu kan, jadi lebih baik jawab jujur saja, siapa tahu Joonhyuk oppa memakluminya.

“Ara.”

“Ne?”

“Arasseo. Karena kau belum tahu jawabannya, maka biar aku sendiri yang mencari tahu jawabannya.” Katanya, aku hanya melihatnya bingung dan aku juga tidak tahu mau bicara apa.

Joonhyuk oppa juga tidak bicara dan malah merengkuh wajahku dan tahu-tahu saja ia sudah menempelkan bibirnya, ia menciumku. Omo. Aku masih shock jadi hanya bisa diam, Joonhyuk oppa mulai melumat bibirku, ia juga menghisap bibir atas dan bawahku bergantian. Aku, masih diam, tidak membalas ataupun menolak ciumannya sama sekali.

Sampai akhirnya Joonhyuk oppa sendiri yang melepaskan ciumannya, ia langsung melepaskan rengkuhan tangannya dari wajahku.

“Aku sudah tahu jawabannya.” Katanya membuka mulut setelah kami terdiam beberapa saat setelah insiden ciuman itu.

“Ne? maksud oppa?”

“Aku sudah tahu jawabanmu, ternyata memang benar-benar tidak ada kesempatan untukku lagi ya? Kupikir aku masih punya kesempatan. Ternyata memang sudah tidak bisa.”

“Oppa…”
“Ciumanmu, tadi saat aku menciummu, bibirmu memang hanya diam, tapi bukan hanya diam tapi juga dingin, berbeda dengan ciumanmu dulu yang selalu hangat dan penuh cinta, aku bisa merasakakannya, sekarang sudah tidak ada cinta lagi darimu untukku.”

“Oppa…” lirihku, apa benar seperti itu? aku sungguh tidak enak pada Joonhyuk oppa. Biar bagaimanapun dulu aku sangat mencintainya.

“Oppa, mianhae. Mianhaeyo oppa.” Ia tersenyum dan mengacak rambutku pelan.

“Gwaechana. Aku pasti akan memulihkan hatiku dengan cepat. Kau jaga diri, berbahagialah dengan cintamu yang sekarang. Kalau butuh bantuan aku akan selalu ada untukmu.” Katanya lagi.

“Oppa…” kataku dan langsung menghambur memeluknya dan terisak di pelukannya.

“Mianhae oppa.” Isakku.

“Nan gwaechana, Seo~ya. Cha, oppa pergi dulu tidak baik kalau berada di apertemen mantan kekasih sampai tengah malam begini.” Kata Joonhyuk oppa dan melepas pelukanku.

“Ijinkan oppa menciummu untuk terakhir kalinya. Bisakah?” tanya Joonhyuk oppa, aku terdiam sejenak dan lalu mengangguk. Joonhyuk oppa langsung maju aku langsung memejamkan mataku dan sesuatu yang hangat menyentuh keningku, Joonhyuk oppa mengecup keningku, kukira ia akan mencium bibirku lagi, tapi ternyata keningku. Cukup lama dan aku juga tidak menolaknya, biarlah ini yang terakhir.

 

-Flashback End-

 

Sekarang hanya tinggal masalahku dengan drummer itu, yang sepertinya akan jadi sulit terselesaikan.

Untungnya Haejin tidak memaksakanku untuk tetap bersama oppanya. Yah walaupun akhirnya ia kesal karena perlakuan Minhyuk padaku.

TING TONG TING TONG

Eoh? Haejin sudah datang? Cepat sekali?

Yapp, malam ini aku dan Haejin ingin jalan-jalan bersama, ingin berkeliling Hongdae, sudah lama kami tidak kesana, dan biasanya akan berakhir di Noraebang, sekedar melampiaskan apa yang dirasakan.

Aku langsung mengambil tas dan berjalan menuju pintu dan langsung membukanya tanpa melihat intercom lebih dulu.

“Haejin~ah, neo wasseo, cepat se…” ucapanku langsung terhenti begitu selesai memakai sepatu dan membuka pintu dan mendapati orang yang berdiri di depan pintu apartemenku bukan Haejin.

“Mau apa kau?” kataku ketus pada orang di depanku.

“Noona…” yah, malam-malam begini seorang drummer menyebalkan si Kang Minhyuk mendatangiku ke apartemen. Aku memang sedikit terkejut mendapatinya di depan apartemenku tapi begitu aku mengingat perlakuannya padaku minggu lalu aku jadi kesal lagi.

“Cepat katakan mau apa, aku ada urusan.”

“Noona, bisa bicara di dalam?”

“Tidak perlu. Di sini saja. aku akan pergi setelah ini.”

“Tapi, tidak mungkin bicara di sini. Kalau ada yang melihatku…”

“Kalau begitu lupakan.”

“Ne?”

“Lupakan, tidak usah bicara. Kau kembali saja ke tempatmu.” Kataku lalu berlalu dari hadapannya dan menuju lift. Tapi ia langsung menahan tanganku.

“Noona. ara. Aku akan bicara di sini. Tapi dengarkan, ne?”

“Hmm.” Gumamku, aku masih kesal jadi dengan gumaman saja cukup kan?

“Err,, noona~ya.”

“…”

“Kejadian yang lalu sewaktu didorm, nan…”

“…” aku masih diam, menunggunya selesai mengatakannnya, aku ingin tahu apa yang ingin dijelaskannya padaku. walau tidak kupungkiri saat ini jantungku berdebar-debar, yah, hal yang biasa terjadi saat aku berdekatan dengan Minhyuk.

“Nan, mianhae. Minhaeyo. Aku tidak sengaja melakukannya. Naega…”

“Atas dasar apa kau menciumku?” tanyaku akhirnya, aku pusing mendengar ucapannya yang berbelit-belit dan hanya terus-terusan meminta maaf.

“Ne?”

“Atas dasar apa kau menciumku kemarin? Kau tiba-tiba menciumku, itu agak aneh kan?” ulangku. Ia bukannya menjawab malah menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak gatal sama sekali.

“Kenapa diam? Jawab aku.” Kataku lagi.

“Ah, igo. noona~ya. Kemarin itu. emm, sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa aku menciummu begitu saja.”

“Jadi bukan karena kau sudah mencintaiku?” tanyaku lagi.

“Ne? ah, emm, itu err…”

“Ara. Gomawo.” Kataku dan langsung pergi dari hadapannya.

Aku sudah tahu jawabannya, kukira ia mencintaiku, kalau ia memang mencintaiku aku akan memaafkan perlakuannya kemarin. Tapi nyatanya ia memang tidak mencintaiku, dan mungkin tidak akan pernah bisa mencintaiku.

Cukup. Sudah cukup sampai di sini. Aku lelah. Aku, akan mengakhirinya segera.

 

Minhyuk POV

 “Err,, noona~ya.” Kataku membuka pembicaraan, aish kenapa sulit sekali sih?

“…”

“Kejadian yang lalu sewaktu didorm, nan…” heish, lagi-lagi ucapanku terpotong, kenapa sulit sekali hanya bicara dengannya. Arrgghh. Mana noona sedari tadi juga hanya diam lagi.

“…”

“Nan, mianhae. Minhaeyo. Aku tidak sengaja melakukannya. Naega…” ucapanku terpotong –lagi- tapi kali ini noona yang memotong.

“Atas dasar apa kau menciumku?”

“Ne?”

“Atas dasar apa kau menciumku kemarin? Kau tiba-tiba menciumku, itu agak aneh kan?” ulangnya. Dan  karena aku bingung menjawabnya aku malah jadi menggaruk tengkukku.

“Kenapa diam? Jawab aku.” Katanya lagi.

“Ah, igo. noona~ya. Kemarin itu. emm, sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa aku menciummu begitu saja.” babo Minhyuk! Kenapa aku jadi sebabo ini sih? Ucapanku malah semakin aneh dan melenceng. Err.

“Jadi bukan karena kau sudah mencintaiku?” tanyanya lagi. omo, apa yang harus kujawab? noona~ya, aku memang sudah mencintaimu, tapi bagaimana mengatakannya? Ottokhae????

“Ne? ah, emm, itu err…”

“Ara. Gomawo.” Noona memotong ucapanku dan langsung pergi dari hadapanku. Eh? Ige Mwoya? Kenapa aku ditinggal sendiri?

Tapi begitu aku membalikkan badanku dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ternyata Seoeun noona sudah tidak ada, heish cepat sekali menghilangnya.

Aku langsung merosot duduk didepan pintu apartemen Seoeun noona, meratapi nasib. Meratapi kebaboanku, kenapa sulit sekali sih mengatakannya, hanya tinggal mengatakan Saranghae, I Love You, Aku Mencintaimu, tapi kenapa mulutku rasanya kelu saat ingin mengatakannya.

“AIISHHHH!!!” aku mengacak rambutku frustasi.

Aku langsung mengambil handphoneku dan menghubungi Yonghwa hyung,  aku butuh sarannya sekarang ini.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, hyung~. Ottokhae?”

“Wae, Hyuk~ah?”

“Aku gagal lagi, hyung.”

“Mwoya? Gagal apanya?”

“Seoeun noona, aku tidak bisa mengatakannya. Huweee.”

“YA! YA! YA! Jangan menangis. Kenapa malah menangis sih?”

“Aku tidak menangis hyung, air matanya saja yang keluar tanpa permisi.”

“Heish, sudahlah, jangan keluarkan kata-kata anehmu itu. jadi sekarang bagaimana kau dan Seoeun? Neo, odiga?”

“Ya tidak gimana-gimana lah hyung, dan sekarang aku terdampar di depan apartemen noona.”

“He?? Terdampar?”

“Hmm, tadi saat sedang bicara tiba-tiba saja aku ditinggal pergi oleh noona padahal pembicaraan kami belum selesai.”

“Memangnya tadi bicara apa?”

“Tadi noona menanyakan tentang kejadian di dorm waktu itu dan noona bertanya kenapa aku melakukan hal itu juga bertanya apakah aku melakukan itu karena sudah mencintainya atau bukan.”

“Lalu kau jawab?”

“Aku tidak tahu. Dan aku malah ditinggal pergi padahal aku juga belum selesai bicara, aku kan grogi hyung.”

“…”

“Hyung, kenapa diam saja? ottokhae?” panggilku lagi karena tidak mendapat jawaban dari sana.

“BABO KAU KANG MINHYUK!” aku langsung menjauhkan handphone dari telingaku begitu mendengar teriakan hyung. Apa-apaan sih main teriak-teriak begitu?

“Hyung! Jangan berteriak!”

“YA salah sendiri kenapa kau jadi babo begitu? Hanya tinggal bilang. Ne, aku memang sudah mecintaimu. Apa susahnya sih bicara begitu? Ck. kau benar-benar deh.”

“Aku grogi hyung. Mana jantungku juga tidak karuan lagi. aku saja sampai khawatir noona akan mendengar debaran jantungku saking kencangnya..”

“Berlebihan kau. Sudahlah kau kembali saja ke dorm, nanti pikirkan cara lain lagi. ara?”

“Hm, ara. Aku kembali ke dorm sekarang. Tunggu aku hyung, nanti kau bantu aku pikirkan caranya.”

“Lihat nanti sajalah. Kau pulang saja dulu. annyeong.”

“Hmm, annyeong hyung.” PIP

Aku langsung bangkit dan menghadap pintu apartemen noona.

“Kim Seoeun Noona. Tunggu aku. Aku akan segera membuatmu jadi milikku.” Ucapku yakin. Heish, kalau bicara pada pintu saja aku bisa seyakin ini, tapi coba kalau ada orangnya, bicaraku malah jadi tidak jelas.

Setelah mengucapkan itu aku segera berbalik dan kembali ke dorm, bersiap mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini pada noona.

 

Seoeun POV

“Kang Minhyuk keterlaluan!”

“Kang Minhyuk menyebalkan!”

“Aku membenci Kang Minhyuk!”

Aku terus mengulang kalimat-kalimat itu, sepanjang malam aku bukannya senang –senang malah jadi kesal, gara-gara Minhyuk.

Dan ini bahkan siang ini aku masih terkapar di ranjang karena baru bangun, aku kembali ke apartemen lewat tengah malam dan menangis semalaman dan baru tidur menjelang pagi, alhasil aku bangun kesiangan dengan mata bengkak dan lingkaran hitam dibawahnya. Dan penyebab semua ini adalah sang drummer menyebalkan itu. heish, mengingatnya membuatku jadi emosi lagi. sudahlah lebih baik aku menghabiskan sisa hari ini bermalas-malasan di apartemen, tidak mood keluar apalagi dengan keadaan sekacau sekarang.

TING TONG TING TONG

Siapa sih yang datang? Ah, biarkan sajalah. Aku malas meladeni.

TING TONG TING TONG

Astaga, kenapa tidak pergi saja sih?  Anggap saja tidak ada orang dan sang penekan bel itu pergi lagi.

***

Yes! aku sukses menghabiskan hari ini bersantai-santai di apartemen, tanpa gangguan. Karena semua telepon dan pesan yang masuk tidak ada yang kuladeni. Dan ternyata yang datang dan menekan bel tadi siang itu Minhyuk, dan ia jadi pergi lagi karena aku tidak kunjung membukakan pintu, ditambah ia juga ada jadwal jadi harus pergi lagi. Biarkan saja.

Tapi tampaknya aku memang tidak bisa bersantai lebih lama lagi, karena baru saja Minhyuk mengirim pesan dan memintaku menemuinya di taman dekat apartemenku ini, mau apa dia meminta bertemu malam-malam begini? Memang jadwalnya sudah selesai? Dan ia tidak takut ada yang memergokinya sedang berkeliaran sendirian malam-malan begini?

Aku sudah menolaknya tapi ia bersikeras untuk menunggu sampai aku datang. Aku tadinya sudah tidak perduli ia mau menungguku atau tidak. Tapi tidak lama setelah itu, malah turun hujan, deras pula. Jujur, aku sedikit khawatir padanya, ia baru sembuh dari sakit beberapa waktu yang lalu, dan kalau sekarang ia kehujanan, ia bisa-bisa sakit lagi. dengan sedikit menekan egoku, akhirnya aku datang juga menemuinya, bukan untuk bicara tentu saja tapi untuk menyuruhnya pulang.

Sesampainya di taman itu, aku mendapatinya masih menunggu, duduk menunduk di salah satu ayunan di bawah guyuran hujan tanpa payung, hanya mengandalkan hoodienya yang sudah basah tentu saja.

Aku berjalan mendekatinya dan berdiri di depannya kemudian memajukan payungku agar menutupinya dari guyuran hujan. Mungkin ia menyadari ada yang berdiri di depannya atau ia merasa aneh tidak kehujanan lagi, karena kemudian ia mendongakkan wajahnya. Pucat, wajahnya sedikit pucat. Pasti ia kedinginan. Aku yakin ia pasti kaget karena kulihat ia membelalakkan matanya dan langsung berdiri sehingga sekarang aku jadi mendongak untuk melihatnya, dan terpaksa meninggikan jangkauan payungku.

“Babo!” kataku

“Noona, kau datang.” Serunya senang. Kehujanan dan kedinginan masih bisa sesenang itu? aku meyerahkan payungku padanya, pegal juga kalau harus aku yang memegang payungnya, mengingat ia jauh lebih tinggi dariku.

“Kenapa masih menunggu, harusnya kau pulang.” Kataku, tapi Ia hanya menggeleng.

“Ani, aku tidak akan pulang, aku kan sudah bilang pada noona akan menunggu sampai kau datang dan buktinya kau datang sekarang.” Sahutnya lagi, cih! Dasar, disaat seperti ini masih bisa kesenangan.

“Pulanglah. Kau bisa sakit lagi nanti.” Kataku lalu bersiap berbalik.

“Kalau aku sakit noona akan memaafkanku? Noona akan merawatku?” aku langsung menghentikan langkahku mendengar pertanyaannya.

“Silly. Jangan konyol kau. Itu tidak akan mempengaruhiku.” Kataku lagi.

“Benarkah? Benarkah noona sudah benar-benar begitu membenciku?”

“Aku tidak membencimu.” Jawabku, tetap membelakanginya tanpa membalik tubuhku menghadapnya.

“Lalu?”

“Mwo?”

“Kalau noona tidak membenciku lalu kenapa noona bersikap seperti ini padaku?”

“Tidak ada alasan.”

“Noona, aku sudah minta maaf. Lalu apa lagi yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?”

“Geumanhae.”

“Ne?”

“Hentikan semua ini. aku sudah mengatakan padamu, aku menyerah dan aku tidak akan menggganggumu, jadi kau juga lebih baik tidak usah melakukan semua ini lagi.”

“Kalau aku tidak mau?” hee? So stubborn. Giliran aku menyerah dan tidak akan mengganggunya lagi, malah ia yang gantian menggangguku.

“Aku tidak perduli. Apapun yang kau lakukan, apapun terjadi padamu aku tidak akan perduli lagi, semua itu tidak ada urusannya denganku lagi.” kataku, dan kali ini aku benar-benar melangkahkan kakiku untuk meninggalkannya. Sekarang jadi aku yang kehujanan, biarlah, toh apartemenku tidak terlalu jauh.

BRUKK

Aku langsung menghentikan langkahku begitu mendengar suara itu, aku menengok ke belakang ke arah Minhyuk berada, dan langsung shock mendapatinya tergeletak begitu saja, payungku bahkan terlempar dari tangannya. Aku langsung berlari mendekatinya.

“Minhyuk~ah.” Kataku begitu sampai disampingnya, aku merengkuh wajahnya. Astaga, pucat sekali.

“Minhyuk~ah. YA! Kang Minhyuk! Ireona!” kataku sambil menepuk-nepuk wajahnya pelan. Kudengar ia mengerang pelan.

“Minhyuk~ah”

“Noona~” lirihnya.

“YA! Gwaenchana?”

“Noona~”

“Ya! Ya! Ya! Jangan pingsan dulu. tahan dulu.” kataku dan berusaha memapahnya, mungkin aku harus berbaik hati membawanya ke apartemenku dulu. aku tidak setega itu membiarkannya kembali pulang dalam keadaan seperti ini, kalau ia kenapa-kenapa di jalan itu lebih gawat lagi.

“Minhyuk~ah, ireona! Kajja, kita ke apartemenku dulu.” kataku dan berusaha membawanya menuju apartemenku.

Astaga, ia kan kurus, tapi kenapa tubuhnya seberat ini sih? Laki-laki menyusahkan. Awas saja kalau ia sudah membaik nanti.

Sesampainya di apartemen yang dengan susah payah memapahnya akhirnya berhasil kucapai aku langsung membaringkannya di sofa ruang tamuku. Lalu aku bergegas ke kamar mengambilkannya handuk. Dan selimut. Sekalian mengganti pakaianku yang juga basah.

“Heish, ottokhae? Masa aku membuka pakaiannya?” gerutuku, aku sudah berhasil melepas hoodienya, sekarang hanya tinggal kaosnya, masa harus aku juga yang membuka kaosnya? Maldo andwae.

“Minhyuk~ah. Ireona. Lepaskan bajumu dulu, nanti kau tambah sakit.” Kataku, tapi sepertinya ia tidak mendengarku, atau mungkin kesadarannya sudah benar-benar menghilang? Kupegang keningnya, astaga, panas sekali, pasti demam. Sudah lah, masa bodoh dengan pakaiannya, sekarang lebih baik aku kompres dulu saja agar panasnya turun. Aku langsung menyelimutinya dan mengompresnya.

“Ya! Kang Minhyuk babo. Kenapa bersikeras menungguku? Harusnya kau tidak usah menungguku, jadi kau tidak akan kehujanan dan jadi begini.” Kataku, entah mengapa aku merasakan dadaku sesak melihatnya lemah seperti ini. aku tidak tega juga kasihan, aku merasa ikut sakit juga kalau melihatnya seperti ini.

Apa ini karena aku masih mencintainya? tapi aku sudah bertekad untuk melupakannya, dan aku harus segera menghilangkan rasa ini.

“Minhyuk~ah, ireonayo.” Kataku, sekarang bahkan aku mulai terisak dan air mataku sudah mendesak keluar tapi aku berusaha menahannya. Dadaku benar-benar sesak melihatnya tak berdaya seperti ini.

“Minhyuk~ah, mianhae. Nan jeongmal mianhaeyo. Aku harusnya tidak mengganggumu. Kalau sejak awal aku tidak mengganggumu, pasti kau juga tidak akan merasa bersalah padaku. maaf, karena aku mencintaimu. Dan maaf karena memaksakan diri untuk membuatmu mencintaiku, seharusnya aku tidak memaksakannya.” Dan akhirnya air mataku turun juga. aku menangis lagi untuknya.

“Ireonabwa. Minhyuk~ah.”

“Minhyuk~ah, aku ingin mengatakan beberapa hal padamu.” Hah, aku seperti orang gila yang bicara sendiri. Tapi, biarlah mumpung Minhyuk tidak sadar lebih baik kuungkapkan semua.

“Aku sampai saat ini masih mencintaimu, dan aku tidak menyesal mencintaimu. Meski terkadang aku kesal melihatmu di drama bersama yeoja itu. kau seenaknya berciuman dengannya, aku kesal, cemburu Haejin bilang. Tapi diluar rasa cemburu dan kesalku, entah kenapa aku masih mencintaimu, padahal jelas-jelas aku tidak pernah mendapat tanggapan darimu, dan harusnya aku sadar dan menyerah sejak lama. Tapi, aku bertekad tidak akan menyerah sampai kau sendiri yang mengatakan dan menyuruhku menyerah dan pergi darimu.” Aku berhenti sejenak, menenangkan diri, dan mengambil nafas sebelum melanjutkannya.

“Ternyata, aku menyerah dengan tekadku sendiri. Setelah kejadian di dorm, aku memikirkan semuanya, aku merasa sudah sejauh dan sebanyak apapun usahaku, kau tetap tidak menanggapi, dan saat aku tanya apa alasanmu menahanku dan melarangku, kau bahkan tidak bisa menjawabnya. Kuanggap itu sebagai tanda darimu kalau kau memang tidak pernah bisa menyambut rasaku.”

“Akhirnya, aku memutuskan untuk menyerah dan berhenti. Aku minta maaf, kalau akhirnya aku harus menarik ucapanku yang mengatakan aku akan membuatmu menyambut rasaku, tapi kupikir ini sudah saatnya aku menyerah. Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Joonhyuk oppa, dan aku juga harus segera menyelesaikan urusanku denganmu. Setelah ini, setelah kau sehat lagi, kuharap kita bisa kembali seperti awal dulu, saat kita tidak saling mengenal saat kita hanyalah menjadi orang asing satu sama lain. Meskipun aku tidak tahu apakah aku akan sanggup, karena pasti aku akan menemukanmu di manapun mengingat profesimu, tapi aku akan mengusahakannya. Dan kuharap kau juga bisa melakukan hal yang sama sepertiku.”

“Izinkan aku melakukan satu hal padamu. Setidaknya biarkan ini menjadi kenangan untukku, untuk penantianku yang panjang terhadapmu.” Kataku dan aku langsung mengecup bibirnya singkat.

“Gomawo, dan mianhae kalau aku lancang, anggap itu sebagai imbalan untukku. Kang Minhyuk, jadi…” aku menghentikan ucapanku menatapnya yang masih memejamkan matanya, panasnya sudah turun, aku mengambil nafas dan menghembuskannya lagi. inilah kalimat akhir, akhir dari semua ini. air mataku masih mengalir, dan aku tidak bisa menahannya. Dengan suara bergetar menahan isakan kukuatkan hatiku untuk mengatakannya.

“Mari, kita akhiri semua ini.”

―――――――――――――――――――――――――――――――――

YUHUUUUU~~

Ehm, sengaja tidak meletakkan TBC atau END. silahkan sesuaikan dengan anggapan masing-masing ya apakah ini TBC atau END…wkwkwk

Kalau ada yang beranggapan ini END aku makasih banget, kalau ada yg beranggapan ini TBC juga makasih…kekeke

Babayyy…

Saya mau memanfaatkan libur kerja yang tinggal beberapa hari ini. sebelum sibuk kerja lagi..hehe

6 thoughts on “Just The Way You Are Part 9

  1. authorrr,kenapa baru muncul sekarang?ff cn blue makin menghilang kalau author ga muncul.
    Eh?itu TBC apa END?ayo dong thor,masa endingnya begitu aja?gantung banget mendekati sad ending malah.
    Lanjut lah thor.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s