Hello Schoolgirl (Part 10 – End)

Author: Tirzsa

Title: Hello Schoolgirl

Main cast: 2PM’s Nichkhun & Wonder Girls’s Sunmi

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari film Korea dengan judul yang sama & film Thailand “First Kiss.”

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8, Part 9

***

“Sunmi?”

Nyonya Horvejkul memicingkan mata dan melihat jelas bahwa yeoja yang dilihatnya itu benar-benar Sunmi.  Ia sendiri merasa terkejut melihat pemandangan itu ketika baru saja pulang dari berbelanja untuk makan malam. Ia menemukan Sunmi berjalan dengan cepat meninggalkan apartemen Nichkhun dengan bahu berguncang dan berlinang air mata. Begitu turun dari bus, nyonya Horvejkul dengan cepat mengikuti Sunmi dan berusaha mencegat yeoja itu.

“Sunmi!” Nyonya Horvejkul memekik pelan setelah berhasil menangkap lengan yeoja itu. Ia membalik tubuh Sunmi dan napasnya tersentak ketika melihat wajah Sunmi yang basah dan bengkak oleh tangis. “Ya Tuhan, apa yang terjadi denganmu?”

Sunmi hanya menggeleng dan terus terisak. Nyonya Horvejkul mengusap pipi yeoja itu dan mendongak ke jendela apartemen Nichkhun. “Apakah kau bertengkar dengan Nichkhun? Apakah Nichkhun melakukan sesuatu yang buruk padamu?”

Sunmi masih menggeleng lagi, tapi kali ini ia berbicara, walau dengan suara serak dan tidak jelas. “Mianhae, ahjumma. Aku harus segera pulang.”

Sunmi menolak untuk menjelaskan. Mungkin sedikit tidak sopan ketika ia tidak menjelaskan apa pun, lalu meninggalkan nyonya Horvejkul begitu saja. Tapi, jika ia menjelaskan kembali adegan menyakitkan tadi dan memaksa otaknya kembali memutar kejadian itu, ia akan semakin tersakiti. Sunmi terus menggumamkan kata ‘maaf’ dalam hatinya ketika meninggalkan nyonya Horvejkul dan mencegat sebuah taksi, lalu pergi.

***

Nyonya Horvejkul mengetahui dengan pasti bahwa ada yang salah dengan Nichkhun dan Sunmi. Ia bertemu Sunmi di teras apartemen dengan keadaan Sunmi yang menyedihkan. Terlebih lagi, ia merasa sedikit kecewa ketika Sunmi memanggilnya ‘ahjumma’ bukan ‘oemeoni’ seperti yang diperintahkannya. Dan begitu ia masuk ke dalam apartemen anaknya, kecurigaannya semakin jelas saat melihat Nichkhun berdiri di hadapannya, membukakan pintu dengan wajah lembab dan bengkak.

“Kau menangis?”

Nichkhun hanya diam dan membantu oemmanya mengangkat tas-tas belanjaannya ke atas pantry dapur, sementara oemmanya mengikuti dari belakang.

“Khun, oemma sedang bertanya padamu,” tegas nyonya Horvejkul. “Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi oemma melihat Sunmi berlari keluar dari apartemen sambil menangis dan sekarang oemma juga mendapatimu dengan wajah sembap. Pasti terjadi sesuatu, bukan?”

Nichkhun lagi-lagi hanya diam dan berdiri mematung di balik pantry. Nyonya Horvejkul mulai putus asa. Ia tahu, tidak baik untuk memaksa seseorang menceritakan semuanya ketika keadaannya sendiri masih kacau. Tapi, nyonya Horvejkul kesulitan untuk menahan rasa penasarannya.

“Khun..”

“Aku sudah berpisah dengan Sunmi,” gumam Nichkhun saat oemmanya mendekat.

Mwo? T-tapi, kenapa?” Suara nyonya Horvejkul tercekat. Ia terdengar tidak menerima dengan pernyataan Nichkhun barusan.

Nichkhun menatap oemmanya dan bisa membaca segala gurat kekecewaan di wajah yeoja yang dicintainya itu. “Mianhae, oemma. Aku sangat letih sekarang,” katanya sambil mengusap wajahnya. “Aku ingin tidur.”

Nyonya Horvejkul hanya bisa menatap Nichkhun dengan tak percaya. Segala sesuatunya berjalan terlalu cepat. Tadinya ia sudah begitu bahagia dan membayangkan Nichkhun akan berdiri di altar pernikahan bersama Sunmi, tapi sekarang bayangan itu berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan ia sendiri tidak sanggup untuk membayangkannya. Namun, bayangan mengerikan itu berubah menjadi kenyataan dan menyapanya tepat di depan matanya sendiri. Sebuah perpisahan.

***

Nyonya Lee sedikit terkejut dengan bunyi pintu rumahnya yang dibuka dengan tiba-tiba, lalu sosok putrinya menghambur masuk ke dalam rumah dengan isak tangis dan wajah basah.

“Sunmi?”

Yeoja itu tidak menoleh dan terus berlari meniti tangga menuju kamarnya. Ia butuh waktu sendiri untuk meredakan kesedihannya—atau merenungi nasibnya. Itu perbedaan yang sangat tipis. Tapi, nyonya Lee sudah dapat membaca keadaan bahwa Nichkhun sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Walau pun terdengar sedikit jahat, tapi nyonya Lee merasa senang melihat keadaan Sunmi sekarang. Artinya, tidak ada lagi hubungan di antara keduanya. Semuanya berakhir dan ia bisa mengambil alih kendali.

Nyonya Lee mengambil brosur salah satu universitas terkenal di Amerika yang didapatnya dari teman kerjanya dan menyusul Sunmi ke kamar. Ini saat yang tepat, pikirnya. Begitu ia masuk ke dalam kamar, Sunmi masih menangis di atas tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan bantal. Nyonya Lee mendekat dan duduk di tepi ranjang.

“Apa yang terjadi?” tanyanya, berpura-pura tidak tahu.

Sunmi tidak menjawab dan terus terisak.

Nyonya Lee mengusap rambut anaknya dan kembali bertanya dengan suara hati-hati, “Apakah ini semua ada hubungannya dengan Nichkhun? Apakah ia melakukan sesuatu yang buruk padamu?”

Nyonya Lee tampak gugup saat melihat Sunmi mulai bereaksi—tidak hanya terus terisak dan tidak menjawab. Sunmi menyingkirkan bantalnya dan mulai duduk tegak. Ia mengusap pipi dan hidungnya yang basah dan menatap oemmanya dengan sendu.

Oemma benar,” kata Sunmi dengan suara parau dan tersendat. “Aku sudah memperjuangkan namja yang salah. Nichkhun ahjussi mencampakkanku begitu saja dan mengatakan bahwa aku hanyalah seorang remaja SMU di matanya. Hanyalah anak-anak. Lucu sekali.”

Nyonya Lee bisa merasakan benci yang dirasakan Sunmi melalui mata basah yeoja itu dan ia merasa puas. “Jadi, kalian sudah benar-benar berpisah, kan? Maksud oemma, kau tidak lagi mencintai Nichkhun, bukan?”

Sunmi tertunduk dan memilih tidak menjawab. Kau baru saja berpisah dengan namjachingumu sejam yang lalu dan berpikir bahwa sejam kemudian kau tidak lagi mencintainya? Itu sulit. Nyonya Lee tampak sedikit kecewa, tapi belajar untuk memaklumi. Ia pun pernah merasa demikian ketika suaminya mencampakkannya begitu saja. Cinta akan tetap tinggal di dalam hati dan cara satu-satunya untuk merebut posisi itu adalah dengan mengganti hal itu dengan yang lain. Mengalihkan pikiran agar tidak terus memikirkan hal itu.

Dan nyonya Lee tahu persis apa yang akan ia lakukan. Ia menarik selembar brosur yang sudah disiapkannya sejak tadi dan menyerahkannya pada Sunmi.

Oemma tahu, mungkin ini akan menjadi saat yang sulit untukmu,” ujarnya. “Tapi, setidaknya, kau bisa melihat-lihat dulu.”

Sunmi tahu betul apa maksud oemmanya. Ia membaca brosur itu dan merasa ragu. Tapi, ia bingung harus merasa ragu karena apa. Alasannya tidak ingin berkuliah di Amerika hanyalah karena takut tidak akan bertemu Nichkhun dalam waktu yang lama, lalu hubungan mereka akan kandas. Tapi, keadaan sekarang sudah berbeda, namun, kenapa ia masih harus merasa ragu? Apakah ia masih berharap bisa bertemu Nichkhun atau mencoba kesempatan kedua walau itu terdengar mustahil?

Nyonya Lee mulai merasa netral. Tidak lagi merasa bahagia seperti tadi. Rasanya sudah cukup. Ia beralih memandang wajah Sunmi yang terlihat ragu dan meraih tangan putrinya itu. “Oemma akan menemanimu ke Amerika sampai kau merasa aman dan nyaman.”

“Ini bukan soal itu, tapi..”

“Kau tahu, oemma sangat mencintaimu, Sunmi.” Nyonya Lee berkata dengan suara lembut dan hangat. “Kau adalah satu-satunya orang yang paling berharga di hidup oemma. Dan jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, oemma tidak akan bisa memaafkan diri oemma sendiri. Oemma hanya ingin memberikan pendidikan terbaik untukmu dan oemma harap kau akan setuju.”

Sunmi merasa tersanjung dengan ucapan oemmanya. Kapan terakhir kali oemmanya mengatakan hal semanis itu padanya? Mungkin saat umurnya menginjak enam tahun, ketika Sunmi baru saja akan masuk ke bangku sekolah dasar. Hari pertama sekolah akan menjadi hari yang menakutkan dan Sunmi merasakan itu. Tapi oemmanya dengan sabar mengatakan bahwa sekolah akan menjadi jawaban yang tepat dan menyenangkan. Lalu, nyonya Lee akan mengatakan bahwa ia mencintai Sunmi, mengecup pipi yeoja itu dan seketika Sunmi merasakan dirinya tersengat oleh energi yang membahagiakan, seperti saat ini, setelah apa yang dilaluinya.

Sunmi tersenyum dan memeluk oemmanya. Mungkin ini memang jawaban yang tepat, pikir Sunmi.

***

“Aku akan menikah dengan Yuri,” ujar Nichkhun.

Semuanya berlalu begitu cepat. Seperti kilat. Nyonya Horvejkul bahkan belum sempat mengatakan apa-apa atau meminta penjelasan dari Nichkhun tentang bagaimana ia bisa memutuskan segala sesuatunya dengan begitu cepat. Namun, nyonya Horvejkul tersenyum kaku saat mendengar keputusan itu. Ia harus memaksakan senyum dan berpura-pura bahagia mendengar kabar itu, karena Yuri ada di sana. Duduk bersebelahan dengan anaknya dan menggenggam erat lengan Nichkhun.

Tapi, nyonya Horvejkul pandai membaca situasi. Terutama situasi anaknya. Ia tahu Nichkhun sedikit tidak nyaman dengan genggaman Yuri pada lengannya, tapi lebih memilih untuk menerimanya—secara terpaksa. Tapi, kenapa Nichkhun harus memaksa diri? Jawaban itulah yang sedang berusaha nyonya Horvejkul cari. Tapi, Nichkhun adalah namja yang cerdas. Ia selalu menemukan jalan untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang menjebak perihal hubungannya dengan Sunmi yang tiba-tiba kandas.

“Dan kami sangat memohon persetujuan darimu, oemeoni,” lanjut Yuri dengan raut berseri.

Nyonya Horvejkul mengangkat alisnya. Agak terkejut saat Yuri memanggilnya dengan sebutan ‘eomeoni.’

“Boleh aku tahu, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?” tanya nyonya Horvejkul.

“Ehm..” Nichkhun menggumam, tidak mengingat dengan pasti.

“Sebulan.” Yuri menimpali.

Mata nyonya Horvejkul membulat. “Dan apakah kalian memang sudah yakin akan melanjutkannya sampai ke pernikahan?”

“Ehm..” Nichkhun menggumam lagi. Yuri menatapnya kesal karena namja itu selalu terlihat ragu.

Ne, kami yakin!” sahut Yuri pasti.

Mian,” sela nyonya Horvejkul pada Yuri. “Aku tidak menginginkan jawaban dari satu orang saja. Aku juga membutuhkan jawaban Nichkhun.” Nyonya Horvejkul berpaling pada anaknya. “Jadi, kau sendiri, apa sudah merasa siap?”

“Kau sudah siap, kan, Khun?” desak Yuri.

Nyonya Horvejkul melirik Yuri dengan tajam. Yeoja ini pasti akan menjadi istri yang terlalu banyak menginterfensi urusan suaminya, pikirnya. Sampai urusan hati saja ia juga harus ikut turun tangan.

“Khun?”

Nichkhun mengangkat wajah. “Ne, aku yakin.”

Yuri tersenyum bahagia. Nyonya Horvejkul justru mendesah kecewa, tapi tidak bisa berbuat banyak. Jika seperti inilah pilihan anaknya, ia tidak ingin ikut campur.

“Lalu, kapan kalian akan mengurus pernikahan kalian?” tanyanya.

“Secepatnya!” sahut Yuri.

***

Musim ujian kelulusan telah tiba. Pagi itu waktu menunjukkan pukul 07.45. 15 menit lagi ujian akan dimulai. Sementara yang lain sedang sibuk membaca buku-buku pelajaran—mencoba mengingat materi sebisa mereka, bergosip, atau berdoa, Sunmi memilih menyendiri di sudut kelasnya dengan kertas brosur di tangannya. Di brosur itu terdapat nama salah satu universitas terkenal di Amerika. Universitas Princeton. Di sanalah oemmanya ingin Sunmi melanjutkan pendidikan perguruan tinggi.

Sunmi membolak-balik brosur itu dan membacanya berulang-ulang kali. Ada keterangan fasilitas, testimonial dari beberapa alumni dan mahasiswa-mahasiswi yang bersekolah di sana—menjelaskan keuntungan-keuntungan yang akan didapatkan jika melanjutkan pendidikan di universitas Princeton, dan sebagainya. Sunmi mengamati gambar-gambar bangunan kampus itu dan membayangkan dirinya berdiri di sana, memeluk buku-buku tebalnya, dengan menggunakan pakaian casual ala anak muda Amerika dan tersenyum. Tapi, apakah ia benar-benar akan tersenyum begitu tiba di sana?

Sunmi mendesah, lalu melipat brosur itu dan menyelipkannya ke dalam saku. Rasanya begitu berat, memikirkan bagaimana ia harus meninggalkan teman-temannya di Korea. Teman-teman sekolah, sahabatku—Sohee dan Jo Kwon, dan Nichkhun—oh! Sunmi tercekat. Kenapa ia bisa masih memikirkan ketakutan akan berpisah dengan Nichkhun di saat yang tidak tepat seperti ini? Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia tiba-tiba merasa sedih dan bertanya-tanya, mengapa semuanya bisa berakhir seperti ini?

Sunmi cepat-cepat menghapus air matanya saat melihat Sohee dan Jo Kwon menghampirinya. Ia mencoba tersenyum, tapi kedua sahabatnya tidak tersenyum.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jo Kwon, seraya ikut menarik kursi lain dan duduk bersama sahabatnya itu.

Ne, aku baik-baik saja.” Sunmi berbohong.

“Tidak mungkin, Sayang,” ujar Sohee lembut. Ia meraih tangan Sunmi dan mengusapnya. “Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

Ne. Universitas Princeton. Hubunganku dengan Nichkhun. Ujian. Semuanya.

“Tidak ada.” Sunmi berbohong lagi.

Sohee dan Jo Kwon bertukar pandang, lalu berpaling pada Sunmi. “Kami mengetahui semuanya, Sayang,” ujar Sohee. “Oemmamu akan memasukkanmu ke universitas di Amerika, bukan?”

Sunmi menggigit bibirnya kuat-kuat, tapi ia tidak sanggup. Tangisnya meledak. Ia memeluk Sohee dan mencengkeram tangan Jo Kwon. “Aku tidak bisa. Sungguh.”

“Kau bisa, Sunmi,” kata Jo Kwon berusaha menyemangati, walau suaranya sendiri terdengar sedih. “Oemmamu berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Kami juga akan mendukungmu dari sini. Kita akan selalu bertukar e-mail. Bukan begitu?”

Sohee mengangguk dan mengusap punggung Sunmi. “Ne, kita akan selalu bertukar e-mail dan saling mengabari, jadi kau tidak perlu takut. Oke?”

Sunmi mengangkat wajahnya dan Jo Kwon membantu mengeringkan wajah yeoja itu. Ketiganya bertukar senyum—senyum sedih—lalu saling berpelukan. 15 menit adalah waktu yang sangat singkat. Bel berbunyi dan pengawas ujian mulai masuk ke dalam kelas. Sunmi, Sohee, dan Jo Kwon segera kembali duduk di bangku masing-masing dan menyemangati diri mereka. Ujian pun dimulai.

***

Nichkhun berkonsentrasi mengendarai mobil Junsu yang dipinjamnya, sementara Yuri sedang bercerita mengenai gaun-gaun pengantin yang cantik. Nichkhun hanya menanggapi Yuri sekali-dua kali, lalu kembali berkonsentras ke jalan. Ia sama sekali tidak berminat untuk mengurus segala persiapan pernikahan ini. Tapi Yuri terus mendesaknya agar bergerak cepat.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Yuri, menatapnya dengan penuh harap.

“Apanya?” tanya Nichkhun, bingung.

Yuri mengerutkan dahi. “Apa maksudmu dengan ‘apanya’? Kau tidak mendengarkanku berbicara sejak tadi? Aku sedang berbicara mengenai konsep pesta pernikahan kita, Khun!”

“Oh, mian. Aku sedang berkonsentrasi pada jalanan, jadi..”

Yuri tidak bersedia untuk mendengar penjelasan apa pun. Ia memalingkan wajah ke luar jendela dan merasa kesal. Kemudian ia tidak tahan dan membentak Nichkhun. “Aku tidak mengerti, Khun. Kau bilang ingin menikah denganku, tapi kau yang sepertinya enggan-engganan mengurus segala perlengakapan pernikahan kita. Apa sebenarnya maumu?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Nichkhun, sedikit kesal. “Aku peduli dengan pernikahan ini, maka dari itu aku mengantarmu untuk mengurusnya sekarang.”

Ne, kau mengantarku, tapi hatimu tidak di sini. Kau hanya terpaksa!”

Nichkhun menepikan mobilnya dan menatap Yuri. “Mengapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini padaku?”

“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Mengapa kau bersikap seperti ini padaku?” Yuri mulai menangis. “Kau tidak tahu betapa aku bahagia saat mendengar kau ingin menikah denganku. Bagiku ini sebuah mimpi setelah bagaimana kau memperlakukan selama ini dengan sangat dingin. Junsu sudah menceritakan semuanya padaku. Mengenai anak SMU itu, yeojachingumu. Aku tahu kau bermaksud menjadikanku sebagai pelarian, walau itu terdengar sangat jahat, tapi aku tetap menerimamu karena aku mencintaimu. Apakah itu masih tidak cukup untuk meluluhkan hatimu?”

Nichkhun menelan ludah. Ia benci melihat Yuri menangis. Ini semakin membuatnya merasa bersalah. Benar memang, bagaimana ia menganggap Yuri hanya sebagai pengalihan agar ia bisa segera melupakan Sunmi. Tapi semuanya berakhir sia-sia. Seberapa keras ia mencoba melupakan Sunmi, ia tetap tidak bisa.

Nichkhun memejamkan mata dan menggumam, “Mianhaeyo.”

“Hanya itu yang bisa kau katakan, Khun?”

“Aku sungguh tidak bermaksud jahat padamu. Hanya saja, aku butuh waktu untuk melupakannya dan..”

“Kalau begitu, aku sudah tahu akan ke mana hasil hubungan kita sekarang.” Yuri membereskan barang-barangnya dan keluar dari mobil.

“Kau mau ke mana?”

“Aku ingin memberimu waktu untuk melupakan yeoja itu,” kata Yuri. “Namun, jika kau masih belum bisa melupakannya, kita berakhir.”

***

Nichkhun menepikan mobilnya di depan sebuah taman yang berseberangan dengan rumah Sunmi. Ia mengamati rumah itu dari balik kaca mobil yang gelap dan mulai merasakan gelombang kesedihan itu menyapu hatinya. Nichkhun merasa dirinya benar-benar pecundang. Ia masih belum bisa melupakan Sunmi. Ia pikir, segalanya akan menjadi lebih mudah jika Yuri bersamanya. Tapi, sayangnya, semua menjadi semakin rumit. Ia merasa bersalah pada Yuri dan terjebak oleh perasaan rindu yang meremas-remas hatinya.

Sudah berapa lama ia tidak bertemu Sunmi? Seminggu? Dua minggu? Tiga minggu? Sebulan? Nichkhun tidak ingat. Berapa pun lamanya ia tidak bertemu Sunmi, rasanya sudah seperti bertahun-tahun.

Nichkhun masih mengawasi rumah itu dengan mata digenangi air. Ia masih berharap Sunmi akan keluar dari rumahnya, mungkin hanya sekedar untuk membuang sampah atau apa pun yang dapat membuat yeoja itu keluar dari rumahnya. Nichkhun begitu ingin bertemu dengan Sunmi, tapi nyonya Lee sudah memperingatkannya. Satu-satunya jalan untuk menuntaskan rasa rindunya hanyalah melihat Sunmi dari jauh. Jebal, ringis Nichkhun.

Tidak ada tanda-tanda akan ada yang keluar dari rumah. Nichkhun mulai putus asa, tapi berusaha memikirkan jalan lain. Ia melirik ponselnya dan memberanikan diri untuk memutar nomor nyonya Lee. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ada sahutan dari seberang. Sahutan yang sangat tidak ramah.

“Apa lagi yang kau inginkan?”

“Aku ingin bertemu Sunmi,” ujar Nichkhun.

“Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kau tidak boleh bertemu dengannya lagi?” Suara nyonya Lee terdengar semakin tidak senang.

“Tapi, sekali ini saja, nyonya Lee,” Nichkhun memohon. “Aku sangat merindukannya.”

“Tidak bisa!” tegas nyonya Lee. “Sebentar lagi Sunmi akan menghadapi upacara kelulusannya dan berkonsentrasi untuk ujian masuk ke universitas di Amerika. Aku tidak ingin kau mengacaukannya.”

“Tapi..”

“Dengar, Nichkhun, ini peringatan terakhir yang akan kuberikan padamu. Jangan pernah mendekati Sunmi lagi atau aku akan melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk padamu. Mengerti?!”

Tuut.. Tuut.. Tuut..

Nyonya Lee memutuskan sambungan.

***

“Apa lagi yang kau inginkan?”

Sunmi yang melintas di depan kamar oemmanya, berhenti. Ia memegang erat kaleng minuman sodanya dan mengintip lewat cela pintu kamar yang terbuka. Sunmi melihat oemmanya sedang menelepon seseorang. Entah siapa, tapi membuat Sunmi merasa penasaran.

“Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kau tidak boleh bertemu dengannya lagi?”

Sunmi mengernyit. Tidak boleh bertemu dengannya? Siapa yang sedang oemma bicarakan?

“Tidak bisa!” Sunmi tersentak mendengar oemmanya membentak. Ia mencengkeram kaleng di tangannya lebih kuat dan merinding. “Sebentar lagi Sunmi akan menghadapi upacara kelulusannya dan berkonsentrasi untuk ujian masuk ke universitas di Amerika. Aku tidak ingin kau mengacaukannya,” lanjut oemmanya.

Ada apa sebenarnya? Siapa yang sedang ditelepon oemma?

“Dengar, Nichkhun,” Sunmi menelan ludah. Nichkhun ahjussi? Oemma menelepon Nichkhun ahjussi? Sunmi mendekat agar dapat mendengar lebih jelas. “..ini peringatan terakhir yang akan kuberikan padamu. Jangan pernah mendekati Sunmi lagi atau aku akan melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk padamu. Mengerti?!”

PLANG!

Kaleng itu jatuh dari tangan Sunmi. Nyonya Lee menutup telepon dan menoleh. “Sunmi?” Wajah yeoja paruh baya itu berubah pucat. “Sejak kapan kau sudah berdiri di sana?”

***

Nyonya Horvejkul membuka pintu dan melihat Nichkhun dengan tampangnya yang mengejutkan. Mata namja itu memerah dan sembap, wajahnya pucat, dan matanya meredup. Nyonya Horvejkul menunduk dan melihat tangan Nichkhun memegang sebotol soju yang masih tersisa. Singkatnya, namja itu mabuk.

“Ya Tuhan, Khun!”

Oemma,” Nichkhun menggumam, memandangi wajah oemmanya dengan bingung, lalu menangis histeris. “Oemma!”

Nyonya Horvejkul menyambut anaknya dengan sebuah pelukan. Pelukan hangat yang bisa ia berikan ketika Nichkhun kecil berlari kearahnya dan menangis karena jatuh dari sepeda atau baru saja bertengkar dengan teman sebayanya. Pelukan oemmanya memang selalu berhasil menenangkan Nichkhun. Tapi, kali ini terlihat jauh lebih sulit. Nichkhun terus terisak di pelukannya.

Mianhae, oemma. Mianhae,” ucap Nichkhun sambil menarik diri. “Aku sudah membohongi aboji dan oemma. Aku sungguh minta maaf.”

Nyonya Horvejkul menangkup wajah anaknya. “Mengapa kau harus meminta maaf, Nak? Kau tidak salah apa-apa.”

“Aku berbohong soal Sunmi. Aku berpisah darinya bukan karena aku tidak mencintainya lagi. Justru sebaliknya, aku masih sangat mencintainya. Tapi, Sunmi hanyalah seorang remaja SMU, oemma. Ia masih memiliki perjalanan yang panjang dan aku tidak tega menukar perjalanan panjangnya itu dengan terjebak sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga bersamaku. Ia masih terlalu muda untuk itu, aku tidak ingin memaksanya,” jelas Nichkhun dengan tersendat.

Nyonya Horvejkul mendesah. Ia tidak merasa terkejut dengan pengakuan Nichkhun mengenai status Sunmi. Tapi justru merasa terkejut dengan kekhawatiran Nichkhun itu sendiri.

“Jadi, apakah ini semua karena perbedaan umur kalian?” tanya nyonya Horvejkul.

Nichkhun mengangguk lemah.

Nyonya Horvejkul menggenggam tangan anaknya dan tersenyum lembut. “Khun, maafkan aboji dan oemma jika selama ini kau merasa diteror dengan tuntutan pernikahan. Sejujurnya, kami hanya ingin melihatmu bahagia, tapi tidak memaksamu menikah sampai kau merasa sudah siap. Masalah perbedaan umurmu dengan Sunmi, aku rasa itu juga tidak akan menjadi masalah. Umur hanyalah sebuah angka dan jika kalian saling mencintai, sebuah angka tidak akan berarti apa-apa untuk cinta kalian. Jika kau yakin dengan perasaan cinta yang ada di antara kalian, jangan pedulikan apa pun yang berusaha menghalangi kalian. Perjuangkan cintamu, Sayang.”

***

Sunmi berlari meniti tangga sambil terisak, sementara oemmanya menyusulnya dari belakang dan meneriakkan namanya, memintanya berhenti.

“Sunmi-ah! Kau harus mendengarkan penjelasan oemma!”

Sunmi berhenti sejenak dan membalik badan. “Apa yang harus oemma jelaskan? Semua sudah jelas. Pantas saja Nichkhun ahjussi tiba-tiba bersikap seperti ini padaku, rupanya oemma yang memerintahkannya. Oemma benar-benar jahat!”

Sebelum Sunmi berhasil melarikan diri, nyonya Lee sudah berhasil menangkap lengannya. “Aku melakukannya demi kebaikanmu, Lee Sunmi! Kau harus mendengarkanku agar kau tidak bernasib sama seperti oemma!”

“Berhenti mengungkit-ungkit masalahmu dengan appa!” teriak Sunmi sambil menepis tangan oemmanya. “Nichkhun ahjussi dan appa berbeda! Nichkhun tidak seperti yang kau pikirkan. Ia mencintaiku dengan tulus. Dan kau tidak berhak menyalahkan seseorang untuk sesuatu yang belum tentu dilakukannya!”

“Tapi..”

“Berhenti menjadikan alasan rasa trauma oemma untuk menghalangi hubunganku dengan Nichkhun!” bentak Sunmi dengan frustasi, lalu berlari masuk ke kamar dan membanting pintu.

Nyonya Lee terdiam. Ia memandangi pintu kamar yang tertutup itu dan merasakan wajahnya memerah seolah baru saja ditampar. Rasanya sangat menyakitkan.

***

Sambil terus terisak, Sunmi mencari-cari ponselnya di dalam tas, lalu segera memutar nomor Nichkhun. Ia merasa harus bicara dengan namja itu dan meminta maaf atas semua kesalahpahaman yang terjadi. Tapi setelah beberapa kali mencoba menghubungi Nichkhun, tak ada yang menjawab. Sunmi semakin putus asa. Namun tidak dengan oemmanya.

Sunmi masih bisa mendengar oemmanya berdiri di depan pintu, mengiba agar dibukakan pintu. Sunmi ingat, besok adalah hari kelulusannya dan oemmanya sudah memesan dua tiket pesawat untuk ke Amerika besok siang. Tapi, ia tidak ingin ke Amerika sampai ia bertemu dengan Nichkhun. Karena teleponnya tidak diangkat juga, Sunmi memutuskan untuk meninggalkan voice mail.

Ahjussi,” Sunmi terisak di telepon. “Aku ingin minta maaf padamu karena sudah mengatakan hal yang buruk padamu waktu itu. Aku sudah mengetahui bahwa oemma yang berusaha memisahkan kita. Besok, aku akan menghadiri upacara kelulusanku dan siangnya aku akan berangkat ke Amerika. Jika kau masih menaruh harapan pada hubungan kita, aku harap kau bisa datang besok dan meyakinkan oemmaku bahwa dugaannya salah terhadapmu. Aku yakin hubungan kita dapat diperjuangkan, ahjussi. Aku yakin.”

***

Upacara kelulusan telah dimulai sejak sejam yang lalu dan Sunmi gelisah di tempat duduknya, terus menoleh ke belakang. Ia melihat oemmanya sedang berdiri di depan pintu, menungguinya. Di depan sudah ada mobil dan barang-barang yang akan dibawa ke Amerika. Setelah upacara kelulusan itu selesai, Sunmi dan oemmanya akan segera ke bandara dan berangkat ke Amerika.

Sunmi mendesah kecewa karena tidak menemukan Nichkhun di mana-mana. Dimana dia? Mengapa dia belum datang juga? Sebentar lagi upacara itu akan berakhir dan kemungkinan untuk bertemu Nichkhun semakin sedikit. Sunmi mengumpat dalam hati.

Ahjussi, kau di mana?” gumamnya. “Apakah kau merasa sebegitu putus asanya sampai tidak mau memperjuangkan hubungan kita lagi?”

***

Nichkhun terbangun dengan sakit kepala yang menyerang secara bertubi-tubi. Ia sepertinya tertidur di sofa setelah mabuk semalam. Begitu terbangun, Nichkhun mendapati oemmanya sedang berdiri di pantry menyiapkan sarapan pagi. Nichkhun beranjak dari sofa dan bergabung bersama oemmanya.

“Selamat pagi.”

Nichkhun tersenyum. “Selamat pagi.”

“Merasa lebih baik sekarang?”

“Begitulah.”

Nyonya Horvejkul meletakkan piring berisi roti panggang dan telur mata sapi ke hadapan Nichkhun. “Tadi malam ponselmu bergetar terus. Sepertinya ada yang mencoba menghubungimu,” kata oemmanya.

“Oh yah?” Nichkhun mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan melihat berpuluh-puluh missed call masuk dari nomor yang sama. “Sunmi?”

“Dari siapa?” tanya nyonya Horvejkul.

“Sunmi,” sahut Nichkhun. “Ia bahkan meninggalkan voice mail.”

Nichkhun menghampiri oemmanya dan memutar voice mail dengan speaker agar oemmanya juga dapat mendengarkannya.

Ahjussi,” Sunmi terisak di telepon. “Aku ingin minta maaf padamu karena sudah mengatakan hal yang buruk padamu waktu itu. Aku sudah mengetahui bahwa oemma yang berusaha memisahkan kita. Besok, aku akan menghadiri upacara kelulusanku dan siangnya aku akan berangkat ke Amerika. Jika kau masih menaruh harapan pada hubungan kita, aku harap kau bisa datang besok dan meyakinkan oemmaku bahwa dugaannya salah terhadapmu. Aku yakin hubungan kita dapat diperjuangkan, ahjussi. Aku yakin.

Nichkhun mendongak pada oemmanya. Oemmanya tersenyum. “Pergilah.”

***

Nichkhun menggigiti kukunya sambil memandang keluar jendela taksi. Brengsek, umpatnya. Bagaimana bisa aku tertidur seperti mayat hidup dan tidak mendengarkan telepon darinya? Nichkhun melirik jam tangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Upacara kelulusannya mungkin sudah selesai tapi Nichkhun masih berharap bahwa Sunmi masih berada di sekolah.

Begitu tiba di SMU Kirin, Nichkhun segera melompat turun dari taksi bahkan sebelum taksi itu sempat berhenti dengan sempurna. “Tunggu sebentar,” katanya pada supir taksi, lalu berlari masuk. Ia melihat beberapa anak SMU masih berdiri di depan gedung aula, tapi ia tidak menemukan Sunmi di mana-mana.

“Brengsek!”

Nichkhun melirik jamnya lagi. 11.30. Mungkin sudah di bandara. Nichkhun berlari menuju taksi dan segera mengarahkan taksi agar segera ke bandara.

***

Sunmi terus menoleh kearah luar bandara, masih menanti Nichkhun. Ia terus mengharap bahwa Nichkhun akan benar-benar datang, tapi seperti sebelumnya, ketika masih ada di gedung aula, harapannya mulai menipis seiring waktu. Jam keberangkatan pesawat menuju Amerika hampir tiba. Sunmi mengawasi oemmanya yang sedang menelepon seorang rekan kerjanya di kantor, meminta izin bahwa ia tidak masuk untuk beberapa waktu karena harus menemani Sunmi di Amerika.

Suara seorang yeoja petugas bandara menyapa para penumpang lewat pengeras suara, memberitahu bahwa sudah tiba waktunya untuk para penumpang dengan tujuan menuju Amerika agar memasuki pesawat. Sunmi menggigit bibirnya dengan panik. Ia menoleh kearah luar bandara, tapi Nichkhun masih belum muncul di sana. Ahjussi, kau sebenarnya di mana?

“Sunmi,” panggil nyonya Lee. “Sudah saatnya.”

Sunmi menatap oemmanya. “Tidak bisakah kita menunda penerbangan ini? Aku masih harus bertemu dengan Nichkhun!”

“Ia tidak akan datang.”

“Ia pasti akan datang.” Sunmi bersikeras.

Suara peringatan untuk memasuki pesawat kembali terdengar. Nyonya Lee memelototi anaknya. “Kajja!”

Sunmi ingin menangis saat oemmanya menarik tangannya dengan gerakan sedikit memaksa. Sementara oemmanya terus menariknya, Sunmi terus menoleh ke belakang dan menanti Nichkhun muncul. Tapi, begitu giliran ia dan oemmanya tiba untuk naik ke pesawat, Sunmi mengubur harapannya dalam-dalam. Nichkhun tidak datang.

***

Nichkhun melompat turun dari taksi dan membayar tarifnya. Ia lalu berlari masuk ke dalam bandara dan mencari-cari Sunmi. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi tidak menemukan Sunmi di mana-mana. Dengan jantung berdegup kencang, Nichkhun terus berlari dan mencoba berpikir positif. Ia mendongak ke layar besar yang ada di atas kepalanya dan melihat pesawat menuju Amerika akan segera terbang. Itu pesawat Sunmi!

Nichkhun berlari menuju boarding room, namun dua orang petugas berseragam menahannya. “Mian, Tuan. Anda tidak bisa masuk jika Anda bukan penumpang,” kata salah seorang dari mereka dengan sopan.

“Tapi aku ingin bertemu dengan yeojachinguku! Ia tidak boleh pergi!” teriak Nichkhun putus asa.

“Tuan, Anda tetap tidak boleh ma—”

BUK! Nichkhun melayangkan sebuah tinju pada petugas itu. Ketika yang satunya mencoba menangkap tangan Nichkhun, ia dengan cepat menekuk lututnya dan menghantamkannya ke perut petugas itu. Keduanya jatuh terkapar sambil meringis. Nichkhun mengucapkan kata ‘maaf’ dalam hati dan masuk ke dalam dengan langkah terburu-buru.

Pesawat yang ditumpangi Sunmi mulai mengatur posisi dan sedang siap meninggalkan landas. Nichkhun berlari memasuki landasan dan beberapa orang petugas melihatnya dengan bingung.

“Tangkap orang itu!” Petugas yang tadi rupanya mengejar Nichkhun dari belakang, walau dengan langkah terseok-seok akibat hantaman tadi.

Nichkhun tidak memedulikan beberapa orang petugas yang mengejarnya dari belakang dan mengejar pesawat itu. “Sunmi!” teriaknya sekencang mungkin, walau terdengar mustahil untuk dapat didengar karena suara dengung pesawat. “Sunmi!”

Ya, pergi dari situ! Ini sangat berbahaya! Ya!” Beberapa orang petugas mulai berteriak memperingati.

Pesawat itu mulai membalik haluan dan siap terbang. Nichkhun terus mengejar, tapi langkahnya semakin lemah. Ia mulai tersengal, sementara para petugas di belakangnya semakin mendekat. Pesawat itu mulai berjalan, cepat, cepat, cepat, lalu perlahan-lahan mulai meninggalkan landasan dan terbang. Nichkhun terus berlari dengan mata meredup dan menggumamkan nama Sunmi. Namja itu mulai kehilangan kesadaran akibat sengat matahari yang panas dan suara dengung pesawat yang memekakkan telinga.

“Sunmi..”

Nichkhun bergumam untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya jatuh pingsan. Ia menutup mata dan samar-samar mendengar beberapa orang petugas berteriak-teriak panik, lalu semua terasa hampa.

***

“Khun?”

Nichkhun membuka kelopak matanya dengan susah payah. Semua objek yang dilihatnya terlihat menjadi berlipat-lipat ganda dan berbayang.

“Khun, gwaenchanha?”

Nichkhun menoleh dan melihat Junsu dan oemmanya berada di sisi ranjang. Bau steril rumah sakit langsung menyerang indra penciumannya dan Nichkhun sedikit tidak menyukainya.

“Apa yang terjadi?” tanya Nichkhun dengan suara parau.

“Tadi pihak bandara menghubungi oemmamu dan mengatakan kau mencoba memberontak dan memaksakan diri untuk masuk ke boarding room, lalu akhirnya kau pingsan,” jelas Junsu dengan mimik khawatir. “Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, Khun? Mengapa kau sampai bisa melakukan hal senekat ini?”

Nichkhun mengusap dahinya dan berusaha mengingat sesuatu, lalu tersentak. “Sunmi! Aku mencoba menghentikan pesawat Sunmi! Tapi, aku tidak ingat.” Nichkhun menegakkan tubuhnya dan menyangga punggungnya dengan bantal agar bisa duduk. “Apakah aku berhasil melakukannya?”

Junsu dan nyonya Horvejkul saling berpandangan. Tatapan mereka terlihat sedih dan menyesal. Nyonya Horvejkul meraih tangan Nichkhun dan menatapnya. “Oemma turut menyesal, Khun.”

Nichkhun menahan napas. Jawabannya sudah jelas. Sunmi telah berangkat ke Amerika, meninggalkannya.

***

EPILOG

4 tahun kemudian…

Umurnya 29 tahun. Anggurnya hampir habis.

“Sebentar lagi pelemparan bunga! Who’s excited?” MC berteriak dan seluruh undangan—terutama yeoja—berteriak histeris. Pelemparan bunga oleh mempelai yeoja menjadi sangat penting dan sakral. Menurut orang-orang yang memercayainya, jika kau berhasil menangkap bunga itu, kau akan segera mendapat jodoh dan menikah. Sulit dipercaya, tapi begitulah.

“Menggelikan,” komentar Nichkhun sambil meneguk anggurnya hingga tandas. Ia meletakkan gelasnya ke meja dan memilih untuk menikmati pemandangan itu di belakang.

Beberapa orang undangan yeoja mulai berkumpul di depan panggung, menunggu Minyoung melempar bunga yang ada di tangannya. Junsu berdiri mendampingi Minyoung dengan setelan jas putih. Junsu juga terlihat menikmati pemandangan menggelikan itu ketika para yeoja itu mulai saling mendorong.

Hana, dul, ses!”

Minyoung melemparkan bunganya tinggi-tinggi. Para yeoja berteriak histeris dan mendongak kearah bunga. Tak seperti perkiraan, Minyoung sepertinya melempar bunganya terlalu tinggi dan jauh. Bunga itu melambung tinggi, melewati para kerumunan yeoja itu dan mendarat ke belakang. Nichkhun mengawasi bunga itu dan mengerutkan dahi. Bunga itu menghampirinya, seolah dipanggil, lalu mendarat di tangannya yang dengan refleks terjulur ke depan untuk menangkapnya.

Seluruh undangan menoleh kearahnya. Para undangan namja menatapnya dengan geli, sementara undangan yeoja menatapnya tajam. Nichkhun merasa dihakimi dengan yeoja-yeoja itu.

“Aku tidak bermaksud—”

“Menyebalkan,” komentar salah seorang dari mereka, lalu kerumunan itu pun berpencar dan melanjutkan pesta seperti biasa.

Junsu menertawai Nichkhun dan menghampirinya. “Hai, Pria-Yang-Sebentar-Lagi-Akan-Menikah!”

“Brengsek!” Nichkhun mengutuk diri dan mencari-cari tempat sampah.

“Ingin membuangnya?” tanya Junsu, masih menyeringai.

Ne, tentu saja.”

“Sebaiknya jangan. Simpan saja, Khun. Siapa tahu, bunga itu memang mengartikan sesuatu bahwa kau memang akan segera menikah dalam waktu dekat.”

Nichkhun menatap bunga di tangannya itu dan bergidik. “Konyol sekali.”

“Oh, ayolah! Lagipula ini bunga yang dilempar dari istriku. Bagaimana kau bisa membuangnya begitu saja di hadapan suaminya?”

Nichkhun mengedikkan bahu dan tersenyum. “Terserahlah. Tapi, selamat, bro! Kau sudah menikah sekarang dan aku tidak percaya bahwa yeoja secantik Minyoung mau pada namja hiperseks seperti dirimu.”

“Brengsek kau!”

Keduanya tertawa dan saling memukul bahu masing-masing. Setelah mengobrol beberapa lama, Junsu pamit pada Nichkhun untuk kembali ke panggung untuk mengambil foto bersama istrinya. Nichkhun mengamati Junsu dan istrinya dan berpikir bahwa betapa beruntungnya mereka berdua, sementara ia sendiri masih single di penghujung umur 20 tahunnya. Nichkhun menunduk pada bunga yang ditangkapnya tadi dan menggumam, “Semoga rumormu itu benar-benar nyata..”

***

Nichkhun menaiki bus saat pulang dari pesta pernikahan Junsu. Ia duduk di bangku dimana bangku itu pernah menjadi saksi bisu berlangsungnya ciuman pertamanya dengan seorang remaja SMU. Sudah seperti apa Sunmi sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Nichkhun tidak tahu. Setelah pergi ke Amerika, Nichkhun tidak mendengarkan kabar apa pun mengenai Sunmi. Ia merindukan yeoja itu dan terkadang masih mengingat-ingatnya lagi. Seperti malam ini.

Bangku itu kosong. Hanya Nichkhun yang duduk di sana. Ia duduk tepat di dekat jendela, tempat di mana Sunmi duduk ketika mereka pertama kali berciuman. Nichkhun mendesah dan tahu matanya mulai tergenang oleh air mata lagi. Ia tersenyum. Bukan senyum sedih atau bahagia. Netral. Ia sedih karena merindukan yeoja itu, tapi berbahagia untuknya karena setidaknya Sunmi pasti sudah berhasil menempuh pendidikan terbaik di sana.

Memikirkan hal itu membuat Nichkhun merasa lelah dan kantuk. Ia memutuskan untuk tidur sejenak dan menyandarkan kepalanya pada jendela bus, lalu tertidur.

Tak berapa lama kemudian, bus berhenti, memuat seorang penumpang yeoja. Yeoja itu menggerai rambut panjangnya yang berwarna coklat gelap hingga melewati bahu. Dulu saat SMU, yeoja itu harus patuh pada peraturan sekolah bahwa tidak akan ada siswi yang boleh mencat rambut. Tapi kini umurnya 22 tahun, bebas dan tampak lebih dewasa.

Yeoja itu mengamati seisi bus dan melihat bangku kosong yang ada di samping Nichkhun. Ia memutuskan duduk di sana dan mengamati teman bangkunya. Yeoja itu tersenyum geli saat melihat sebuah bunga pernikahan ada di pelukan seorang namja.

Saat bus mulai berjalan dan melewati beberapa polisi tidur di jalan, yeoja itu mulai khawatir dengan kepala teman bangkunya yang terus terantuk ke jendela bus. Yeoja itu memutuskan untuk bersikap murah hati dengan meminjamkan bahunya untuk menyandarkan kepala Nichkhun di sana. Dan Nichkhun sepertinya tampak lebih nyaman dan hangat.

“Kepalanya sangat ringan. Pasti otaknya sangat kecil,” gumam Sunmi dan tersenyum.

THE END

Advertisements

18 thoughts on “Hello Schoolgirl (Part 10 – End)

  1. First kah?
    Ko gantung thoorrr…..huhuuuu udeh harap” cemas itu baca story’nya…..si sunmi gak ngenalin nickhun yaaa d bis?nickhun jugaa blman liat wajah sunmi yg umur 22 donk……skuel yaa…. 😉 heheee…

  2. speechless.
    biasanya endingnya antara sweet / menyakitkan. dan sekarang ber-ending gantung ..
    suasana baru yang keren 😉

    Berharap ada sequel, tapi nggak maksa juga kalo nggak ada sequel 😀

  3. aku suka aku suka..
    Aku sampe nangis tersedu-sedu baca pas sunmi ninggalin nickhun..
    sequel dong tho.. Please sequel ya,, soalnya critanya gantung.. Trus nickhun blum lihat wajah sunmi di umur 22 thn..

  4. wahhhh…aq kira endingnya bakal gimanaaa gtu…kok kyanya ngegantung ya?jd penasaran nih…coba ada ada squelnya hehehe…(ngarep)…ditunggu ya ff lainnya yg lebhi seru hehehe…

  5. wUADUHHH…..itu tulisan END knapa gak nungu NIck meLek dulu ciy…AIgoooooooooo….

    Gantung tp seRuuuuuu…
    Aq bkal baYangin ending sweet’nya d oTaQu sndiri deh klo gtu…

    Fighting author Tirzsa..thx y udh ngstw PW’nya..
    Jeongmal Gomawo ^_^

  6. endingnya beda sama yg aku kira.. setuju sih sama komen2 diatas, endingnya gantung. atau mungkin authornya pengen ngikutin metode film hollywood yg rata2 endingnya gantung itu? hmm.. tp mungkin aja readers mikirnya khun bakal nikah ama sunmi 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s