[FF Freelance] Winter of Love (Ficlet)

Title :
Winter of Love

Author :
swithya_chan

Genre :
Romance, Fluff

Rating :
PG 15

Length :
Ficlet

Main Cast :
Han Cheonsa
Yesung

Author’s note :
Ini kedua kalinya aku kirim FF ini ke blog ini. Semoga tidak mengecewakan. FF ini pernah aku publish di https://fanfictionschools.wordpress.com dan https://swithya.wordpress.com dengan 2 part dan beberapa blog lain sebagai FF Freelance. And last, your comment please…*puppy eyes*

Disclaimer :
This story is 100% my imagination. Please, don’t copy paste this fanfic without my permission. And don’t forget to comment. Thank you^^,

 

Happy Reading!

~Winter of Love~

Cheonsa’s Side

Aku mengetatkan pelukanku saat keluar dari gedung yang menjadi kantor majalah, tempat aku bekerja sebagai fotografer di sana. Langkahku langsung terhenti saat sebuah benda berwarna putih jatuh perlahan dari langit. Dingin. Aku tersenyum. Salju selalu membuatku teringat padanya. Kepala besarnya. Senyuman manisnya. Tawa konyolnya. Pelukan hangatnya. Aishh, aku benar-benar merindukannya. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia masih suka membuka mulutnya saat hujan salju tiba?

Aku masih ingat dengan jelas pertemuan pertama kami. Saat itu salju sedang turun untuk pertama kalinya setelah musim panas, seperti saat ini. Aku yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, tanpa sengaja melihat sosok laki-laki itu sedang berdiri di tengah taman kota. Dia melebarkan pelukannya sambil menengadahkan wajahnya dan membuka mulutnya seakan ingin memakan salju yang sedang jatuh dari langit. Memang tampak bodoh tapi sejak saat itu aku sering ke taman kota, mencari sosoknya dan diam-diam memotretnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa tertarik untuk mengabadikan setiap ekspresi yang dia tunjukkan.

“Nona sedang memotretku?”

Aku masih ingat ekspresi yang dia tunjukkan saat memergokiku yang diam–diam memotretnya. Tentu saja aku mengelak tuduhan yang dia lontarkan karena kelakuanku seperti seorang stalker saat itu.

“Sudah lama aku ingin tahu seperti apa rasa salju.”

Aku masih ingat saat dia tersenyum lebar, menunjukkan eye smile-nya begitu aku menanyakan kebiasaan anehnya saat salju mulai turun. Jawaban bodoh yang sempat membuatku berpikir dia adalah alien yang baru saja mendarat ke bumi. Tapi kepolosannya itu yang membuatku semakin tertarik padanya.

“I’m dreaming of white Christmas

Just like the one I used to know

Where the treetops glisten

And children listen

To hear sleigh bells in the snow”

Aku tersenyum sekilas saat melihat sekumpulan anak kecil menari-nari dengan licahnya sambil menyanyikan salah satu lagu Natal itu. Lagu Natal yang sempat pula laki-laki itu nyanyikan. “I’m dreaming of white Christmas, with every christmas card I write. May your days be merry and bright, and may all your christmases be white.” Tanpa sadar aku ikut menyenandungkan lagu itu.

Annyeong, Cheonsa-ya!”

Annyeong!” Aku membalas sapaan seseorang. “Eonni mau pulang?” tanyaku pada orang itu saat melihat seorang laki–laki yang berdiri di samping mobil Audy berwarna silver sambil menggendong seorang anak perempuan. Laki-laki itu membungkuk begitu aku membungkuk ke arahnya.

Ne,” jawabnya. “Kau mau pulang? Bagaimana jika kita pulang bersama?” ajaknya. Kami memang tinggal di dalam satu gedung apartemen yang sama.

Aku menggeleng. “Gomawo, Eonni. Tapi aku ingin menikmati udara malam ini,” tolakku halus. “Terima kasih karena menawariku.”

“Baiklah jika itu maumu. Kami pulang dulu. Annyeong!”

Aku membungkuk saat Hyena Eonni, perempuan itu berpamitan denganku. “Annyeong, Eonni. Hati-hati di jalan.”

“Cepatlah pulang, Cheonsa-ya. Hari sudah semakin larut,” ucap laki – laki yang sedang menunggu Hyena Eonni.

Ne. Aku akan segera pulang, Dr Kim.”

Annyeong!”

Annyeong!”

Aku memperhatikan Peugeot 307 itu bergerak menjauh dari tempatku berdiri. Hyena Eonni adalah desaigner gaun pengantin yang sering menggunakan jasaku untuk mengambil foto gaun–gaun rancangannya untuk katalog toko bridal miliknya. Sedangkan Dr Kim adalah seorang dokter yang bekerja di salah satu RS terbaik di Seoul. Mereka memiliki seorang putri yang manis bernama Ye Eun. Sebuah keluarga harmonis yang pernah aku bayangkan akan aku wujudkan bersama dengan laki-laki itu. Tentu saja sebelum dia menghilang dan meninggalkanku.

Dia menghilang, tepat satu tahun setelah kami bertemu. Aku sudah mencarinya namun nihil. Orang–orang seperti tak ada yang pernah menyadari keberadaannya. Siapa dia sebenarnya? Apa keberadaanya hanya halusinasiku saja? Tapi kenapa semuanya begitu nyata? Senyumannya. Tawanya. Suaranya.

“Han Cheonsa..”

Eh..

“Han Cheonsa!!”

Suara itu!!

“HAN CHEONSA!!”

Kenapa suaranya begitu nyata?

“Cheonsa-ya…” Seseorang memelukku dari belakang. “Bogoshipoyo,” bisiknya. Dia memutar tubuhku agar kami berdiri berhadapan.

Perlahan air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Dia benar–benar nyata. “Yesung Oppa…” Aku merasakan kecupan hangat mendarat di bibirku sebelum aku melanjutkan perkataanku.

 

Yesung’s Side

“Yesung-ah, tak bisakah kau merubah keputusanmu?”

Aku menggeleng. “Mianhaeyo, Hyung. Tapi keputusanku sudah bulat,”

Leeteuk Hyung menghela nafas panjang. Sepertinya dia sudah mulai menyerah untuk membuatku merubah keputusanku. “Ingat satu hal, saat kau menyerahkan mereka. Kau tak akan bisa mendapatkan mereka kembali.”

Aku mengerti yang dimaksud Leeteuk hyung. Mereka yang dia maksud adalah sepasang sayap yang ada di punggungku. Yaahh.. Aku seorang malaikat. Malaikat bodoh yang mencintainya. “Aku mengerti, Hyung.” Aku tersenyum dan memejamkan mataku, berharap Leeteuk Hyung melakukan apa yang telah aku putuskan.

“Baiklah kalau begitu.” Leeteuk Hyung mengulurkan jari tangannya ke dahiku namun sebelum jarinya menyentuh dahiku, seseorang menghentikannya.

Ryewook. Dia menatapku sedih. “Hyung, apa kau sangat mencintainya?”

Aku mengangguk sambil menunjukkan senyum terbaikku.

“Tapi haruskan kau melakukan hal ini?”

Mianhaeyo, Wookie-ah,” ucapku menatap Ryewook, berharap agar dia mengerti keputusanku. Aku beralih ke Leeteuk Hyung, ”Hyung, bisakah kau melanjutkannya?”

Leeteuk Hyung menghela nafas panjang.

Aku tahu ini adalah hal terberat yang pernah dia lakukan. Tapi inilah keputusanku, menjadi seorang manusia. Han Cheonsa, wanita itulah yang membuatku berani mengambil keputusan seperti ini. Wanita yang membuatku ingin melindunginya bukan sebagai malaikat penjaganya tapi sebagai seorang manusia, seorang laki-laki.

Aku merasakan kehangatan menyelimutiku saat jari Leeteuk Hyung menyentuh dahiku. Seketika aku merasakan tubuhku dihempaskan oleh angin seakan tubuhku hanya selembar kertas. Ingin rasanya aku membuka mata tapi sulit seakan ada sesuatu yang merekatkan kelopak mataku. Tiba-tiba aku mulai merasakan udara dingin menggelitik leherku. Perlahan aku membuka mataku. Sebuah taman.

Aku mengingat tempat ini. Ini adalah tempat pertama kali aku bertemu dengan Cheonsa. Aku masih mengingat wajah paniknya saat aku menangkap basah dia yang sedang memotretku. Dia terlihat sangat cantik saat itu, membuatku langsung jatuh cinta padanya. Perasaan yang sebenarnya terlarang bagiku. Perasaan yang membuatku harus memilih kehidupanku yang sebenarnya.

Aku melayangkan pandanganku ke seluruh taman. Nihil. Aku tak menemukan sosok wanita itu. “Han Cheonsa, dimana kau?” bisikku. Entah kenapa, tiba-tiba sebuah tempat terlintas di benakku. Kantor. Ya, aku yakin dia pasti masih ada di sana. Aku segera memutar tubuhku dan segera menggerakkan kakiku menuju tempat Cheonsa bekerja yang berjarak beberapa blok dari sini.

“Cheonsa-ya,” bisikku. Sudah setahun berlalu sejak aku meninggalkannya. Apa dia masih mengingatku? Apa dia merindukanku?

Aku menghentikan langkahku. Apa dia membenciku karena meninggalkannya tanpa mengatakan apa–apa? Aku mengacak rambutku dengan frustasi. “Eh..,” aku mendongakkan wajahku saat sesuatu yang dingin menyentuh tanganku. “Salju..”

“Yaahh.. apa yang kau lakukan?”

“Sudah lama aku ingin tahu salju itu seperti apa rasanya,”

Sepenggal kejadian saat dia melihatku berusaha menangkap salju yang jatuh dari langit dengan mulutku terlintas di benakku. Tawa lepasnya masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku menghela nafas, mencoba menyakinkan diriku yang tiba-tiba merasa ragu bertemu dengannya.

I’m dreaming of white Christmas,

with every christmas card I write

May your days be merry and bright,

and may all your christmases be white

Suara itu. Walau lirih aku bisa mendengarnya. Aku segera memutar kepalaku mencari sumber suara itu. Salju yang mulai turun sedikit menghalangi pandanganku. Ya, akhirnya aku menemukannya. Han Cheonsa. Gadis itu memakai mantel coklat kesayangannya. Saat ini, dia tak melihatku karena dia berdiri memunggungiku. Dia berdiri berdiri beberapa meter di depanku, mengamati sekelompok anak kecil yang menyanyikan lagu itu pula. Aneh. Mereka -anak kecil itu- menyanyikan lagu White Christmas, lagu yang juga dinyanyikan Cheonsa. Tapi suara Cheonsa lebih jelas terdengar di telingaku. Entah kenapa.

Aku berniat mendekatinya. Tapi hal itu segera aku urungkan saat seorang perempuan mengajaknya berbicara. Han Cheonsa. Entah apa yang kau gunakan hingga aku tak bisa melepaskanmu. Wajahmu? Ahh, kau bahkan tak secantik artis Moon Geun Young. Aku bahkan sempat merasa kesal saat tahu bahwa bukan dia lah yang aku jaga tapi kau. Tapi setelah mengenal dan bersamanya membuatku menyayanginya, bahkan mencintainya.

“Annyeong!”

“Annyeong!

Sekarang perempuan yang tadi mengajak Cheonsa mengobrol menghampiri seorang pria yang sedang menggendong seorang anak perempuan. Mereka masuk ke dalam sebuah Audy berwarna silver. Aku memperhatikan Cheonsa mengamati mobil mereka berlalu dan kemudian Cheonsa mulai berjalan ke arah apartemennya.

“Han Cheonsa..,” panggilku. Aku melihat tubuhnya berhenti, namun tak kunjung berbalik. “Han Cheonsa!!” panggilku lagi. Dia masih berdiri di depanku tanpa bergerak. “HAN CHEONSA!!” ulangku lebih keras. Aku mempercepat langkahku dan langsung memeluknya dari belakang.

Aku dapat merasakan tubuhnya sedikit menegang saat aku memeluknya. “Cheonsa-ya, bogoshipoyo,” bisikku sambil memutar tubuhnya.

“Yesung Oppa..,” gumamnya.

Aku melihat setitik embun di sudut matanya. Tanpa sadar aku mendekatkan wajahku ke arahya, mempersempit jarak bibir kami dan aku merasakan kehangatan menjalar dari bibir kami.

~END~

8 thoughts on “[FF Freelance] Winter of Love (Ficlet)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s