[FF Freelance] Sister (Part 2 – End)


Author            : @andinarima

Title                : Sister

Genre             : Family, life

Main Cast      :           – Lee Hyuk Je

                                    – Ciara Reriana

Rating             : Teen

Length            : Twoshoot (part 2/2)

Disclaimer      : annyoeng, aku kembali membawa fan fictionku yang ketiga. Sebenarnya ini dibuat sebelum ff ‘mysterious school’ dan cast nya juga bukan K-Idol. Tetapi setelah aku piker-pikir cerita ini layak dirubah menjadi fanfic dan cast nya pun ku ubah menjadi dancing machine-nya Suju. Karena mengalami pengeditan jadinya ff ini menjadi ff ku yang ketiga. Smoga kalian suka!

Previous part: Part 1

                        Don’t be SIDERs!! Ara???

                   Read Comment Like! Jangan lupa kasih saran untuk kebaikan ff ku selanjutnya…

###

Tanggal 24 April 2012 (4 hari sebelum konser)

“Kita berangkat besok. Jadi malam ini kalian harus siap-siap. Besok kita akan langsung diantar ke Bandara Incheon pukul 14.30. Kita akan sampai ke Indonesia mungkin malam,” kata leader Super Junior, Leeteuk di ruang latihan mereka.

“Baik, Hyung,” sahut semua member.

Eun Hyuk hanya mengangguk. Yuna menghampirinya.

“Udah siap buat bertemu adik kandung?”

“Siap tidak siap. Appa masih belum mau ke Indonesia, walaupun sudah aku bujuk.”

“Oh!”

Hening sesaat.

“Oh, ya. Aku sudah minta ijin sama Manajer Park dan dia membolehkan kita untuk menambah hari di Indonesia. Berhubung Indonesia negara terakhir di Asia yang kamu kunjungi, jadi kamu diberi waktu seminggu untuk berlibur,” ujar Yuna. Eun Hyuk mengangguk.

*

Tanggal 28 April 2012 (hari-H)

Cassy sudah hamper 10 menit menunggu Ciara yang lagi berdandan. Dia bolak-balik bertanya kepada Cassy, ‘Apa make-up-nya cocok?’. Cassy selalu menjawab ‘Iya’, tapi Ciara malah merasa sebaliknya dan menghapus make-up-nya dan menggantinya dengan make-up baru. Begitu seterusnya.

“Ciara, kalau kamu kelamaan dandan, kita tidak bakal keburu untuk dating ke acara press-con-nya!” kata Cassy kesal.

“Bentaaar lagi,” ujar Ciara, lalu mengambil tas yang sudah diisinya dengan ponsel, dompet, bedak compact dan kamera. “Ayo!”

Mereka akhirnya keluar dari kamar Ciara. Di ruang tamu, Mama menasihati Ciara dan Cassy. Setelah Ciara bilang kalau mereka hampir telat, Mama baru menghentikan ceramahnya.

Perjalanan yang ditempuh Ciara dan Cassy tidak sampai satu jam, itupun karena jalanan tidak terlalu macet. Sampai di MEIS, mereka langsung menuju tempat konferensi pers. Di pintu ruang konferensi, ada kertas bertuliskan ‘KONFERENSI PERS AKAN DIMULAI 15 MENIT LAGI. TERIMAKASIH!!!’

“Hhh… untung belum dimulai. Cas, mana temen kakak kamu yang reporter majalah itu?” tanya Ciara.

“Bentar, ya. Aku SMS dulu.” Tak lama SMS balasan datang. “Sebentar lagi dia kesini,” kata Cassy membacakan isi SMS balasan itu.

Mereka menunggu hamper tujuh menit, ketika Ciara melihat seorang cewek berkacamata sedang berjalan ke arah mereka.

“Cas, orangnya yang itu bukan?” tanyanya seraya menunjuk cewek berkacamata itu.

“Kayaknya iya. Aku panggil ya. Kak Lyra!” teriak Cassy. Cewek yang dipanggil Lyra itu menoleh, lalu berjalan lebih cepat menghampiri Ciara dan Cassy.

“Has, Cas!” sapanya.

“Hai juga Kak. Kak, kata Kak Cenny, kakak mau meliput press-con-nya Super Junior, ya?” tanya Cassy langsung.

Lyra mengangguk. “Iya, kan aku reporter majalah K-Wave. Kenapa?”

“Temen aku nge-fans banget sama Eun Hyuk dan dia pengin banget liat konferensi persnya. Tapi yang boleh masuk kan cuma awak media aja. Jadi…” Cassy sengaja menggantung kalimatnya.

Lyra menatap Ciara. “Kamu beneran mau?” Ciara mengangguk. “Bisa pake SLR?” Ciara mengangguk lagi. “Kalau gitu kamu aja yang ngeliput. Nanti liputannya langsung kasih ke redaksi K-Wave aja. Tahu, kan?”

“Beneran Kak?” tanya Ciara tidak percaya.

Lyra hanya mengangguk lalu memberi kamera SLR kepada Ciara. “Hati-hati ya. Jangan sampai rusak, punya kantor. Saya pamit dulu!” Lalu Lyra beranjak pergi.

“Cas,” desis Ciara, “aku bakal liat Eun Hyuk dari deket!”

Cassy hanya mengangguk untuk merespons. “Udah sana masuk. Cari tempat yang PeWe karena sebentar lagi bakal mulai. Aku nunggu di luar aja, ya!” Cassy mendorong pelan tubuh Ciara ke dalam ruang konferensi pers.

*

‘Masih’ tanggal yang sama.

“Kita panggil Super Junior!” seru Yuna yang bertugas menjadi MC. Para member Super Junior mulai melangkah memasuki ruang konferensi persMereka duduk di tempat masing-masing. Eunhyuk mendapat tempat duduk di barisan paling depan dan berada di tengah. Matanya menelusuri setiap wajah dan berhenti di mata cokelat milik Ciara. Ia sempat terpana, namun suara Yuna kembali membwanya ke alam nyata.

“Silahkan yang ingin bertanya, tetapi hanya tujuh pertanyaan yang mampu dijawab oleh Super Junior.” Yuna memulai wawancara.

Translator yang berdiri di samping Yuna mengartikan ucapan Yuna ke bahasa Indonesia.

Ciara sebenarnya ingin mengangkat tangan untuk bertanya namun pandangan mata yang begitu intens dari seorang cowok tampan di panggung mapu membuat dirinya tak berkutik. Matanya sempat ingin ia alihkan ke member yang lain tetapi ada sesuatu yang lain. Hatinya serasa terbang dan juga … sedikit takut. Dia belum pernah ditatap seperti itu sebelumnya. Apalagi oleh seorang cowok.

Saat pertanyaan pertama ditujukan kepadanya, Eun Hyuk sedikit gelagapan menjawabnya. Bukan karena pertanyaannya yang mengusik pikirannya, melainkan seorang gadis yang duduk tepat di depan matanya. Dia gadis di foto yang diambil Eun Hyuk di kamar Appa. Apa mungkin dia Hyu Rin?

“Ini adalah pertanyaan terakhir. Ada yang ingin bertanya?” tanya Yuna.

Ciara mengangkat tangannya ragu-ragu. “Aku mau nanya. Apa Eun Hyuk-Oppa mempunyai adik? Kalau punya, apakah lagu yang Oppa ciptak yang berjudul ‘My Sister’ ditujukan buat dia?”

Translator sudah siap untuk menerjemahkan namun Eun Hyuk segera menjawab. “Ya, aku punya. Dia perempuan, namun aku belum pernah bertemu dengannya. Lagu ‘My Sister memang aku persembahkan untuk dia!”

Senyap. Semua terpaku, termasuk para member Super Junior. Walaupun mereka sudah tahu, tetapi tak menyangka kalau Eun Hyuk akan berbicara menggunakan bahasa Ibunya. Awak media yang mengikuti konferensi pers itu semua tercengang. Bukan hanya karena jawaban Eun Hyuk–karena mereka baru tahu kalau Eun Hyuk mempunyai adik–tapi juga karena Eun Hyuk menjawab menggunakan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Tak terkecuali Yuna. Dia tidak menyangka Eun Hyuk berani mengambil resiko itu. Dengan segera Yuna mengakhiri acara kon-pers itu. Di belakang panggung Yuna dan kedelapan member Suju menginterogasinya.

“Kenapa tadi kamu menjawab pertanyaan Hyu Rin menggunakan bahasa Indonesia?” tanya Yuna

“Aku tadi hanya reflex saja. Mungkin karena melihat Hyu Rin di depan mataku,” kilah Eun Hyuk.

“Bagaimana kalau mereka semua membuat gossip yang tidak benar?” tnya Leeteuk khawatir.

Eun Hyuk hanya diam. Ia tak berfikir panjang sampai ke situ.

*

‘Masih’ tanggal yang sama

“Duh, kok lama banget sih, Ra?” sungut Cassy kesal.

“Cassy, kita kan masuk baru lima belas menit yang lalu. Konsernya bentar lagi juga mulai kok.  Sabar ya!”  kata Ciara.

Walaupun dia barui saja menenangkan sobatnya, tetap saja hatinya masih ketar-ketir.

Tak lama lampu tempat konsernya dipadamkan. Di layar super besar di atas panggung sedang menampilkan teaser-teaser Super Junior dari sebelum debutnya tujuh tahun yang lalu. Lalu setelah teaser-teaser-nya selesai diputar, Eun Hyuk tampil sebagai pembuka. Seruan serta teriak-teriakan histeris menemani aksi dancing machine itu.

Selesai menggerakkan tubuh Eun Hyuk menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul ‘My Sister’. Lagu ini menceritakan tentang seorang adik perempuan yang dipisahkan dengan kakak laki-lakinya yang disebabkan oleh perceraian orang tua, beberapa tahun kemudian si kakak laki-laki mencoba mencari adik perempuannya dan akhirnya mereka bertemu secara tidak sengaja.

Di lagu ‘My Sister’, Eun Hyuk berencana akan menarik seorang penggemar ke atas panggung. Dan penggemar yang beruntung itu adalah Ciara, mungkin karena duduk di bibir panggung. Kejadian itu membuat histeris para ELF yang tak terima keberuntungan itu ditujukan kepada Ciara. Ciara sendiri juga belum percaya kalau dia bisa sangat dekat dengan idolanya, bisa menggenggam tangannya. Namun ada perasaan yang sebelumnya tidak pernah ada. Tidak pernah singgah di hatinya. Perasaan yang berbeda dengan perasaannya kepada Mama, Cassy dan kepada teman-temannya yang lain. Perasaan yang membuat dia merasa terlindungi. Perasaan yang membuat dia merasa dekat dengan seseorang yang belum pernah dia temui. Merasa dekat dengan seorang… kakak!

Setelah hampir tiga jam menonton konser yang meriah banget itu, Ciara mengajak Cassy ke backstage. Ini juga merupakan salah satu keuntungan dari lomba yang waktu itu Ciara ikuti. Sesampainya di backstage, mereka melihat beberapa member Super Junior sedang mengelap keringatnya dengan handuk lalu meneguk air mineral. Seketika itu juga mata cokelat Ciara bertemu dengan mata almond milik Eun Hyuk. Eun Hyuk tersenyum lalu melangkah mendekati Ciara. Detik itu juga perasaan yang tadi dirasakannya kembali menghampirinya. Ciara menggeleng untuk mengenyahkan perasaan itu.

Annyoeng haseo!” sapa Eun Hyuk sembari membungkuk. Ciara dan Cassy membalasnya.

Oppa, tadi keren sekali. Daebak! Daebakida!!” puji Ciara tulus.

Gamsahamnida” kata Eun Hyuk.

Lalu Yuna datang menghampiri. “Annyoeng!” sapanya.

“Yuna, perkenalkan ini Ciara dan Cassy. Ciara, Cassy ini Yuna temanku!” kata Eun Hyuk.

Walaupun Ciara tidak mengerti apa yang diucapkan Eun Hyuk, dia dapat mencerna beberapa kata seperti ‘perkenalkan’, maka dia pun memperkenalkan diri. “Annyoeng. Ciara-imnida. Pangapseumnida!” lalu Ciara membisikkan “Perkenalkan dirimu” kepada Cassy. Cassy pun memperkenalkan diri dengan bahasa Koea yang terpatah-patah.

Yuna terpekur. Apakah ini adiknya Eun Hyuk? Kemudian Yuna membandingkan mereka berdua. Mulai dari bentuk mata, sama. Warna bola mata, hampir sama. Warna kulit, sama-sama putih. Semuanya sama. Walaupun terpisah oleh jarak dan lautan, tetapi entah bagaimana caranya Alam mampu membuat kesamaan.

Mereka terlibat dalam percakapan yang cukup seru. Mereka sepakat untuk menggunakan bahasa Inggris. Berbincang tentang apa saja. Di tengah percakapan, tiba-tiba terdengar dering ponsel, ternyata itu ponselnya Ciara!

Mama calling

I must go home now,” kata Ciara setelah telepon ditutup. Ciara menarik tangan Cassy lalu pergi dari backstage.

Jamkkan!” cegah Eun Hyuk. Ciara berbalik. “Mm… bolehkah aku meminta nomor handphone-mu?” tanya Eun Hyuk dengan bahasa Indonesia.

Ciara, Cassy dan Yuna melongo tak percaya. Namun Ciara tetap memberikan nomor ponselnya.

*

Tanggal 3 Mei 2012

Yoboseyo,” sapa suara di seberang sana.

Otak Ciara mulai menerjemahkan kata asing itu, namun tetap saja dia tidak mengerti arti kata itu. Dia pun melihat layar ponselnya dan tersentak kaget.

“Eun Hyuk Oppa?” tanya Ciara.

Ne. Kamu ada waktu?”

“Ada, Oppa. Wae?”

“Aku mau ajak kamu jalan. Lunch, mungkin!”

“Oh! Boleh Oppa. Ketemu dimana?”

“Bagaimana kalau kamu datang ke hotel tempat aku menginap? Dari sana baru kita putuskan! Setuju?”

Keurae, Oppa. Aku berangkat sekarang.” Telpon pun terputus.

Tak lama kemudian Ciara sudah sampai di lobi hotel tempat Eun Hyuk menginap. Di lobi Eun Hyuk sudah menunggu. Dia memakai kemeja hitam dan jins hitam, sementara Ciara memakai kaos lengan panjang putih dipadu hot pants. Sangat serasi.

Karena Ciara membawa mobil, mereka tidak perlu menyetop taksi. Eun Hyuk menjalankan mobil Ciara menuju Plaza Semanggi. Rencananya mereka akan makan di salah satu kafe di mal itu.

Selesai makan mereka memutuskan untuk jalan-jalan di mal. Ciara menyempatkan memasuki toko aksesoris. Dia tertarik dengan salah satu kalung berliontin. Bagus banget.

Maeume deureo?” tanya Eun Hyuk.

“Ha?”

“Kamu suka? Kalau suka ambil aja, nanti aku yang bayar,” kata Eun Hyuk.

“Ah, tidak usah. Nih, aku udah punya.” Ciara mengenggam liontin kalungnya.

Eun Hyuk mengamati kalung Ciara. “Ini kalung yang ada di foto itu ya?” Ciara mengangguk. “Bagus!”

“Makasih!”

Eun Hyuk sangat menikmati jalan-jalan bersama adiknya itu. Dunianya yang dulu sempat kelam sekarang sangat dipenuhi warna. Dia merasa kalau dia bukan lagi seorang artis yang sedang berlibur melainkan seorang kakak bersama adiknya yang sedang bersenang-senang.

Ciara juga merasa seperti itu. Selama ini kalau ia ingin pergi selalu minta ditemani Cassy. Dan seketika perasaan itu kembali singgah di hatinya. Perasaan yang membuat dia tenang dan merasa … dilindungi.

Tak terasa kalau sudah cukup lama mereka berada di mal. Sekarang sudah hampir jam tujuh malam. Mama pasti bakal marah nih kalau tahu aku tidak ada di rumah!

Oppa, sebaiknya kita pulang sekarang. Sudah malam,” ajak Ciara.

“Baiklah.”

Tak lama kemudian mobil berhenti di depan rumah Ciara. Ciara melirik ke dalam. Mama sudah pulang!

Oppa, mampir dulu ya. Mau aku kenalin ke Mama,” kata Ciara.

Eun Hyuk terlihar ragu. Dia sangat ingin bertemu Mama, tapi dia takut kalau omongan Appa tempo hari ternyata benar. Kalau Mama tidak menginginkan dia lagi. Namun, “Boleh deh.”

Ciara melonjak senang. Entah karena apa. Ciara turun dari mobil dan membukakan pagar agar Eun Hyuk dapat memasukkan mobilnya ke dalam. Ciara membuka pintu depan dan mempersilahkan Eun Hyuk duduk di ruang tamu.

“”Mama! Mama!” panggil Ciara.

Terdengar pintu kamar dibuka lalu ditutup lagi. Mama berjalan ke ruang tamu, dan seketika itu juga Mama terpaku. Anak itu? Apakah anakku yang pergi?

“Mama?” panggil Ciara lembut seraya menyentuh lengan Mama.

“Eh, iya, Ra. Siapa itu?” tanya Mama.

“Itu temen aku. Ara ajak kesini soalnya pengin Ara kenalin ke Mama. Dia bukan temen biasa lho, Ma,” ujar Ciara.

Mama tersenyum, lalu berdiri di hadapan Eun Hyuk. Eun Hyuk bangkit berdiri lalu, “Apa kabar, Tante?”

Mama mengangguk lalu mempersilahkan Eun Hyuk duduk kembali, sementara Mama sendiri juga duduk.

“Ma, kenalin ini Lee Hyuk Jae, idola aku itu lho!” kata Ciara.

“Oh, jadi kamu yang namanya Eun Hyuk. Foto kamu banyak lho di kamarnya Ciara.”

Eun Hyuk hanya tersenyum.

“Ciara, temen kamu tidak dikasih minum?” Mama mengingatkan.

“Oh Iya!” Ciara memukul pelan keningnya. “Mau minum apa, Oppa?”

“Apa aja.”

Ciara pun melesat ke dapur. Keluarga mereka sebenarnya mempunyai pembantu, tetapi tidak 24 jam stand by dan tugasnya hanya yang berat-berat. Kalau Cuma hal kecil sih, Mama yakin pasti Ciara bisa melakukannya.

Di dapur, Ciara yang sedang meracik orange juice mendengar Mama dan Eun Hyuk berbincang akrab. Tanpa disadari bibirnya mengembang. Tak lama Ciara kembali ke ruang tamu dengan tiga gelas orange juice di nampan.

Mama dan Eun Hyuk tidak menyadari kedatangan Ciara, jadi mereka tetap melanjutkan obrolan mereka.

“Ma, mama masih ingat aku kan?” terdengar suara Eun Hyuk.

“Hm.. kamu itu kakaknya Ciara dan anak Mama. Mama masih ingat kok.”

“Aku kangen Mama.” Eun Hyuk bangkit berdiri lalu memeluk mamanya.

Ciara yang mendengar itu kaget. Hampir saja nampan di tangannya terlepas, kalau saja dia tidak cepat tersadar dan menaruh nampan itu di meja terdekat. Setelahnya Ciara berlari  ke ruang tamu lalu memeluk kakak dan mamanya.

“Kakak,” bisik Ciara setelah melepas pelukannya.

“Ciara, kakak senang kamu sudah tahu semuanya.” Lalu Eun Hyuk merangkul adiknya yang menangis tersedu-sedu.

“Jangan pergi lagi!”

“Tapi Kakak harus segera kembali ke hotel.” Eun Hyuk melepaskan pelukannya.

*

Tanggal 4 Mei 2012.

Drrt… Drrt… Drrt… Eun Hyuk yang masih terlelap memaksakan untuk membuika mata dan mengambil ponselnya di meja di samping tempat tidur.

Yoboseyo?”

“Eun Hyuk ini aku Yuna. Paman Lee ada di lobi, cepat turun!” ujar Yuna.

“Hah? Appa di bawah? Kok bisa?”

“Aku tidak tahu. Aku dan member yang lain ingin sarapan di restoran bawah, ketika itu aku lihat Ahjussi mengotak-atik ponselnya. Aku pikir dia sedang menunggu seseorang, mungkin kamu. Makanya aku telepon kamu.”

“Oh, baiklah. Aku akan segera turun.” Telpon terputus.

Eun Hyuk baru ingat kalau dia ada janji dengan Mama dan Ciara untuk makan siang bersama. Mereka akan ke hotel tempat Eun Hyuk menginap. Sekarang sudah jam sembilan pagi. Ada kemungkinan sebentar lagi mereka datang.

“Jangan sampai Appa bertemu dengan Mama dan Ciara,” gumamnya.

Eun Hyuk segera beranjak dari tempat tidur. Mencuci muka lalu berganti pakaian. Setelah itu dia akan menemui Appa di bawah.

Appa duduk di sofa di samping pintu masuk dan membelakangi posisi Eun Hyuk sekarang. Yang ingin ditemui Appa adalah Eun Hyuk. Dia tahu hotel ini karena Eun Hyuk pernah bercerita kalau ia dan yang lainnya akan menginap di hotel ini. Appa juga ingin menghubungi Eun Hyuk, tetapi tidak tahu nomor ponsel Eun Hyuk di Indonesia.

Appa. Ada apa ke Indonesia?” tanya Eun Hyuk seraya duduk di depan Appa.

“Bagaimana konser kamu?” Appa tidak menjawab pertanyaan Eun Hyuk.

“Syukurlah semuanya berjalan lancar. Yah, itu semua kan juga berkat Appa!”

Appa adalah seorang composer terkenal di Korea Selatan. Pekerjaannya yang mengharuskannya berkutat dengan not-not balok atau apapun itu. Dan jika sedang stress biasanya dia akan menjadi sosok yang mudah marah dan mencari pelampiasan dengan minum minuman beralkohol. Itulah yang membuat mama Ciara memutuskan bercerai dengan suaminya, selain alasan selingkuh.

“Eun Hyuk, apa kamu sudah bertemu Oemma dan Hyu Rin?” tanya Appa tiba-tiba.

Sebelum Eun Hyuk sempat menjawab, pintu masuk hotel berderik menandakan ada yang memasuki hotel.

Mama melihat sekeliling dan Ciara mengeluarkan ponselnya untuk menelpon sang kakak. Sementara ponselnya masih belum terhubung, matanya tertuju pada seorang laki-laki yang duduk di sofa di samping pintu masuk.

“Ma, itu kayaknya Kak Eun Hyuk deh!” kata Ciara seraya menunjuk cowok tadi yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki setengah baya.

Mama melihat ke arah yang ditunjuk Ciara, seketika itu juga tubuh Mama menegang. Ciara yang tidak mengetahui perubahan ekspresi wajah Mama, menarik lengan Mama untuk mendekati meja itu. Kedua cowok itu masih belum menyadari keberadaan Mama dan Ciara.

“Kak Eun Hyuk,” sapa Ciara.

Kedua laki-laki itu mengangkat wajah lalu ekspresi wajahnya berubah.

Appa tidak menyangka kalau dia akan bertemu istri dan anak perempuannya sekarang juga secara tiba-tiba.

Eun Hyuk yang lebih dulu tersadar. “Ciara, kenalkan ini composer music terkenal di Korea.” Eun Hyuk mengambul napas lalu, “Dia juga ayahku!”

Ciara melotot tak percaya. Dia ayah Eun Hyuk, apa itu berarti dia ayahku juga? Ciara menatap mamanya menuntut penjelasan.

“Dia ayahmu Ciara!” Kalimat sederhana dari mulut Mama mampu membuat mata Ciara berkaca-kaca.

Tanpa disaddari, Ciara menghamburkan diri dalam pelukan Appa.

Apakah mereka akan menjadi satu keluarga seperti dulu? Sepertinya tidak. Karena selama pembicaraan mereka siang itu, Mama dan Appa memutuskan untuk tidak kembali bersama, namun Eun Hyuk dan Ciara akan tetap bersama. Bersama dalam arti kata tetap berhubungan walau terpisahkan oleh lautan yang luas.

Ciara tidak dibolehkan Mama untuk ikut bersama Appa dan Eun Hyuk kembali ke Korea, karena Ciara harus menyelesaikan sekolahnya disini. Kalau sudah lulus, baru Ciara yang akan memutuskan akan kuliah di negeri tempat Appa-nya bekerja atau tetap di negeri dimana ia dilahirkan. Itu hanya waktu yang bisa menjawab.

###

The End

2 thoughts on “[FF Freelance] Sister (Part 2 – End)

  1. senang’a ciara bisa bertemu kembali dengan oppa & appa’a 🙂

    ending yg sangat membahagiakan family’a berkumpul kembali walupun eomma & appa’a ciara tidak rujuk kembali tapi mereka cukup adil dengan mempertemukan eunhyuk & ciara yg sudah lama terpisah 🙂

    daebak thor cerita’a ^ ^

Leave a Reply to fifi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s