[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 1)

Title : Hands Of Dragon Part 1

Author : Moo

Main Cast : Seo Yong Sun

Lee Hyukjae

Lee Jonghyun

Support Cast : Lee Sungmin

Kim Ji Reun

Genre : Mystery & Romance

Rating : PG

Length : Continue

PS : Cerita ini terinspirasi dari komik mandarin yang berjudul “ Ai Ren “ . So, Happy Reading

 

Author Point of View  *

Gemerincing bel terus berbunyi menandakan pergerakan dari pintu sebuah cafe kecil yang mulai ditinggalkan pengunjungnya. Sayup-sayup terdengar alunan musik sting yang dipilih dengan alasan yang mungkin saja dikarenakan keadaan cuaca yang telah memasuki musim dingin atau memori sang pemilik café yang begitu kuat akan lagu tersebut. Entahlah, yang jelas lagu itu menjadi teman bagi sebagian orang yang sedang menikmati sisa-sisa hidangan mereka malam ini. Tampak dari sudut ruangan seorang gadis muda sedang menatap hampa pemandangan diluar sana dari balik jendela. Sejenak ia memejamkan matanya sambil mendesah pelan. Sorot matanya yang bulat menandakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

1 jam yang lalu …

“ Anggaplah ini sebagai permintaan dari kedua orangtuamu “. Ucap seorang wanita paruh baya sambil mengetukkan jemarinya kemeja. Tampak sang lawan bicara terkesan enggan merespon pernyataan dari wanita ini.

“ Tidak usah memaksaku lagi “. Ucap sang gadis yang sedari tadi cukup jenuh dengan pembicaraan ini.

“ Hanya untuk kali ini, dan setelah semua selesai aku tidak akan menganggumu lagi “. Sang gadis hanya mendesah berat menanggapi kata-kata perempuan tua itu.

“ Baiklah ! selesaikan semuanya dan menghilanglah dari hidupku “.

“ … Akan kuurus secepat mungkin. Ini .. “. Wanita tua itu menyerahkan sebuah kunci pada sang gadis. Sang gadis hanya menatapnya enggan dan langsung membuang pandangannya keluar jendela.

“ Yong Sun-ah , jaga dirimu “. Wanita tua itupun bergegas pergi setelah meletakkan selembar kertas lusuh diatas meja.

Sejam yang lalu percakapan itu berlangsung tanpa adanya respon lebih dari kedua belah pihak yang sepertinya kurang bersahabat tersebut. Gadis itu mengalihkan perhatiannya sejenak ke selembar kertas yang kini tertimpa asbak rokok yang sengaja diletakkan agar posisi kertas tersebut tidak berpindah tempat. Ia mencoba meraih kertas tersebut dan membacanya perlahan.

Tidak butuh waktu yang lama untuknya mencerna setiap kalimat yang ada didalam kertas tersebut. Yah, hanya alamat yang bisa ia lihat disana. Alamat sebuah rumah dan sekolah barunya yang harus dia tuju .. besok.

02.13 KST

Hawa musim dingin kian terasa menusuk. Tak jauh dari pusat kota sebuah tempat permukiman terasa  sunyi senyap ditinggal para warganya yang telah hanyut kedalam rotasi mimpi mereka masing-masing. Hanya bunyi dentungan tong-tong sampah terdengar cukup jelas, sesekali mahluk-mahluk kecil berlarian kesana-kemari untuk mencari tempat persembunyian yang hangat. Disebuah lorong kecil yang cukup gelap terkapar seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Ia mengerang pelan sambil menahan kucuran darah dari lengan kirinya. Mungkin sayatan pisau yang mengonyak lengannya kini. Ia mencoba menguasai badannya yang lemah untuk berjalan menjauh dari lorong itu. Dengan susah payahnya ia membawa tubuhnya mendekati sebuah mobil yang tak jauh dari tempatnya berdiri kini. Dengan kemahiran yang ia punya, ia pun berhasil membobol dan mengendarai mobil tersebut  menuju ke tempat tujuannya.

 

03.00 KST

“ Kau terluka lagi ?”. tanya seorang pria yang baru keluar dari kamarnya. Dia memegang sebuah buku ditangannya. Tidak terlalu cemas tampaknya akan kondisi pria yang ada dihadapannya kini.

“ Hanya sayatan pisau “. Jawab sang pria lemah itu.

“ Sayatan pisau ? dan kau selemah ini ?”. Tanyanya melecehkan.

“ Aku rasa sayatan pisau dengan sedikit obat bius didalamnya dapat membuatmu diam untuk sesaat “. Ucap pria itu sambil menyiapkan beberapa peralatan untuk menangani luka dilengannya.

“ Umm … kau harus lebih berhati-hati “. Ucap pria lainnya sambil mengusap pelan rambut pria yang terluka tersebut. Sebelum masuk kembai kekamarnya ia sejenak berhenti sambil memandangi pria itu dari kejauhan, ia mungkin merasa khawatir saat ini.

Pria itu meletakkan bukunya dengan malas kedalam rak buku. Perlahan ia mengitari meja kerjanya dan berhenti didepan sebuah jendela besar yang berhiaskan pemandangan malam yang gelap. Matanya menerawang jauh keluar, sejenak ia membenahi letak kacamata minusnya yang bertengger indah di hidung yang sempurna itu.

Bukan pertama kalinya ia mendapati pria itu datang dalam keadaan yang mengkhawatirkan seperti itu. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam sebulan terakhir.

Ia mengusap pelan wajahnya yang tampak lelah dengan pemikiran tentang sang pria yang kini mungkin sudah tidak berada dirumah itu lagi. Setelah bosan dengan pemandangan diluar, ia pun memutar seluruh tubuhnya menghadap meja kerjanya. Sebuah map hitam menarik perhatiannya. Setelah sejenak memandanginya, ia membuka perlahan map itu dan membaca sebuah berkas yang ada didalamnya. Tiba-tiba muncul sebuah seringai kecil dari sudut bibirnya ..

“ Cerita sudah dimulai “.

 

 

 

Yong Sun Point Of View *

Aku masih terpaku menatap rumah peninggalan kedua orangtuaku ini. Banyak kenangan didalamnya, aku bahkan sanggup menghafal ada berapa banyak anak tangga yang menghubungkan lantai 1 ini dengan lantai 2 tempat dimana kamarku berada. Setelah kematian orang tuaku beberapa bulan yang lalu, aku terpaksa harus tinggal sendiri dirumah sebesar ini. Sesekali perempuan itu … Kakak dari ayahku datang menjengukku untuk sekedar mengecek kondisi rumah ini. Yah, dari awal aku tidak suka padanya. Dia terkesan arogan dan tamak, setelah berusaha merebut semua harta milik orang tuaku, kini aku terpaksa harus terdepak dari rumahku sendiri.

Ini semua pasti ulahnya, meskipun aku tidak punya bukti tapi biarlah lebih baik aku tidak bertemu dengannya lagi. Setelah bernegosiasi lama dengannya, kemarin aku memutuskan untuk menerima pemberiannya, yang lebih tepatnya wasiat dari orangtuaku. Orangtuaku meminta aku untuk tinggal dengan seorang teman lamanya, jika aku tidak mau menerimanya wanita itu membuat pilihan lain yang cukup menyita pikiranku. aku akan dikirim jauh dari Korea, entah kemana. Dan sekarang aku akan pindah ke universitas yang sudah dipersiapkan oleh teman ayahku. Memilih untuk tetap di Korea bukan hal buruk menurutku.

Yah, aku mahasiswi tingkat 3 jurusan filsafat, kini aku harus berpindah tempat dikarenakan kejadian beberapa bulan yang lalu. Aku bukan orang yang mudah menyesuaikan diri. Ini pasti akan menjadi masa yang sulit untukku.

Aku mengenakan jaketku dan menatap rumahku ini untuk yang terakhir kalinya. Aku akan merebutnya kembali, gumamku dalam hati. Aku menarik keluar 3 buah koper besar keluar rumahku. Didepan pagar sudah terparkir sebuah sedan hitam yang sangat mewah. Aku menatap heran sang pria yang sedang berdiri disamping mobil itu. Aku berusaha mengacuhkannya dengan menarik satu-persatu koperku. Tiba-tiba sebuah tangan menarik 2 koper lainnya dan berjalan membawanya menuju sedan hitam itu.

“ Koperku … Mau dibawa keman koperku ?”. Ucapku setengah berteriak sambil menghampiri si pria tadi. Dia menatapku sejenak lalu membungkukkan badannya.

“ Selamat pagi nona Seo Yong Sun. Saya bertugas mengantarkan nona kesekolah hari ini “. Jujur aku makin tak mengerti akan ucapannya.

“ Mengantarku ?”.

“ Barang-barang ini akan saya bawa kerumah nona yang baru “. Aku terhenyak. Secepat inikah aku memasuki kehidupan yang baru..

**

Sesekali aku melirik kedepan hanya untuk memastikkan didaerah mana aku berada kini. Perjalanan yang sangat jauh dari rumahku, bahkan aku merasa asing dengan wilayah ini. Sinar matahari sudah tampak lebih terang saat ini. Kami memasuki sebuah daerah yang tertutupi oleh pohon-pohon rindang dan sebuah sungai kecil menghiasi jalanan yang lumayan sepi ini. Saking asiknya menikmati keindahan jalanan diluar mobil aku sampai tak menyadari mobil ini tak lagi berjalan.

Setelah berpamitan dengan pria asing tadi aku mulai berjalan memasuki lapangan basket yang masih sepi. Cukup sulit untuk menemukan dimana kelasku berada. Aku berjalan menyusuri koridor-koridor, sementara mataku terus mencari dimana letak ruangan itu.

BUKK !!

Aku hampir terhuyung kebelakang. Aku merasa tertabrak oleh sesuatu yang sangat besar. Masih dalam posisi berdiri aku mencoba untuk melihat sosok apa yang menabrakku tadi. Seorang pria kini ada dihadapanku berdiri dengan angkuhnya. Tangannya terkunci dikedua saku celana panjangnya. Satu yang hal yang membuatku kesal yaitu sorot matanya tajam seolah-olah akan menusukku perlahan.

“ Apa kau tidak bisa menggunakan matamu dengan baik, hah ?!”. Tanyaku emosi, mengingat aku berjalan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi bisa dipastikan orang inilah yang salah. Bukannya melawan dia malah mengerenyitkan alisnya dan menatapku dengan ekspresi bingung.

“ Aishh ! sudahlah . . “. Ucapku yang kembali teringat akan tujuanku semula. Aku bermaksud meninggalkan pria ini dan melanjutkan langkahku, namun dia malah menghalangiku. Dia memajukan tubuhnya kearahku, membuatku sedikit risih.

“ Kau sedang mencari masalah denganku nona “. Ucapnya agak pelan seperti terdengar berbisik. Entah mengapa aku merasa tidak ingin bertemu dengan pria ini lagi. Belum sempat aku menganggapi ucapan pria didepanku ini, sebuah suara mengagetkanku.

“ Tinggalkan dia Hyuk “. Aku sejenak mencuri-curi pandang kebelakang pria yang tadi bersuara itu, namun gagal setelah sang pria aneh ini kembali mencoba untuk bersuara.

“ Sampai bertemu lagi “. Ucapnya dingin sambil berbalik menatap seorang pria yang dari tadi berdiri dibelakangnya. Ada sorot mata yang aneh dari mereka berdua, tapi aku malas untuk berargumen dengan pikiranku sendiri saat ini.

Setelah pria aneh itu melenggang pergi, aku menatap sekilas pria dihadapanku kini. Aku cukup berterimakasih padanya, tapi toh tidak terlalu berpengaruh untukku. Aku rasa aku bisa mengatasi pria tadi sendirian.

“ Kau baik-baik saja ?”. Tanyanya tiba-tiba

“ Eh .. ? Iya, aku tidak apa-apa . Umm .. tapi aku tidak menemukan ruangan XXa, apa kau tau dimana tempatnya ?”.

“ Ada dilantai atas, apa perlu kuantar ?”.

“ Tidak perlu, untuk yang tadi .. terima kasih “. Ucapku sambil bergegas melangkah pergi.

“ Tunggu … siapa namamu ?”. Teriaknya dari seberang sana, dan itu membuatku berhenti sejenak dan berbalik.

“ Yong Sun, .. Seo Yong Sun “. Ucapku sedikit berteriak dan melanjutkan langkahku.

Author Point Of View *

XXa

“ Dimana Hyukjae ? dia kabur lagi ? .. “. Tanya seorang dosen yang baru masuk kedalam kelas itu. Hening. Hampir satu sekolah tau bagaimana kelakuan sang pria misterius itu.

“ Kim Ji Reun “. Tanya seorang gadis berambut panjang yang duduk disebelahnya.

“ Oh Seo Yong Sun .. senang berkenalan denganmu Jireun “. Ucap Yongsun agak kikuk.

**

“ Yongsun-ah ayo kita ke kantin “. Ajak Jireun semangat dan dibalas dengan anggukkan oleh Yongsun. Tampaknya mereka akan menemukan kecocokan satu sama lain.

Setelah sibuk memilih menu makan siang apa yang akan mereka makan. Mereka memutuskan untuk duduk disudut ruangan dari kantin tersebut. Yongsun memilih untuk menyantap burgernya sambil memandangi suasana disekelilingnya. Sampai ia tertegun melihat 2 orang gadis dengan makanan ditangan mereka bingung harus duduk dimana karena tidak tersisa satu mejapun didalam kantin.

“ Itu disana masih ada yang kosong “. Ucap Yongsun santai sambil menunjuk sebuah meja yang terletak didepan jendela besar. Bukannya merespon ucapan Yongsun kedua gadis itu malah saling berpandangan dan memutuskan untuk meninggalkan kantin itu.

“ Kenapa mereka malah pergi “. Ucapnya heran. Sementara Jireun diam memandang Yongsun khawatir.

“ Aku rasa sebaiknya kau mengetahui tempat siapa itu “. Ucap Jireun sambil menunjuk meja itu dengan menggunakan dagunya.

“ Hyukjae, Meja itu miliknya “. Ucap Jireun sambil melirik kembali meja itu.

“ Lalu apa masalahnya ?”. Setelah menarik nafas panjang Jireun mulai bersuara.

“ Lee Hyukjae .. Keluarganya merupakan donator terbesar di universitas ini. Kelakuannya sangat buruk. Tidak ada yang tau tentang dia. Saranku .. jangan berurusan dengannya Yongsun-ah “. Ucap Jireun sambil melahap makan siangnya sementara Yongsun hanya diam memandangi meja kosong itu.

 

 

 

Yong Sun Point Of View *

Aku sibuk menelusuri rak-rak buku yang menarik perhatianku ini. Perpustakaan ini sangat besar lengkap dengan segala jenis buku baik fiksi maupun nonfiksi. Namun, tidak ada tanda kehidupan disini. Perpustakaan ini bernuansa gothic dengan jendela besar disekelilingnya dan dipenuhi rak-rak yang tinggi menjulang, sehingga harus menggunakan tangga untuk menggapai buku dirak paling atas.

Aku berhenti pada satu rak yang menyajikan buku-buku lama bertemakan dewa-dewa yunani. Tidak sulit menjangkau buku itu karena berada tepat sejajar dengan pinggangku. Aku mencoba mengambilnya, namun perhatianku terhenti pada celah dimana buku tersebut berada aku melihat dibalik rak tersebut ada seorang pria sedang tertidur sambil menyenderkan tubuhnya ke rak dibelakangnya. Dia pria aneh yang kutemui tadi pagi, aku berargumen sendiri dengan pikiranku tentang tujuannya tidur disini dan tidak mengikuti perkuliahan.

“ Apa kau sudah puas memandangiku ?”. Tanyanya tiba-tiba masih dalam keadaan yang sama, bahkan matanya masih terpejam. Akupun berkesimpulan dia tidak sepenuhnya tidur.

Aku membenahi posisiku tidak lagi melihatnya. Namun otak dan tubuhku sepertinya punya niat lain yang sangat tidak kusukai. Entah kenapa aku ingin memastikannya untuk terakhir kali, akupun menunduk lagi dan sedikit demi sedikit melihat pria itu kembali. Hilang, dia sudah tidak ada disana lagi.

“ Mencariku ?”. Kini pria aneh itu ada dihadapanku dengan tubuhnya disenderkan ke rak yang ada disampingnya. Kedua tangannya lagi-lagi berada didalam saku celananya.

“ Aku pikir tadi aku melihat hantu “. Kataku berkelit. Dia hanya memutar bola matanya, tampak bosan dengan perkataanku. Tidak lama kemudian diapun berbalik menjauh dariku.

“ Kau ! .. harusnya kau minta maaf padaku karena sudah menabrakku “. Dia berhenti dan berbalik menghadapku, tidak  melangkah maju namun masih tetap ditempatnya kini berdiri. Tidak ada respon. Laki-laki ini memang tidak punya tata krama pikirku.

“ Yasudahlah, anggap saja kau sudah minta maaf padaku. Akan kumaafkan kali ini “. Kataku sedikit kesal.

“ Kau pikir kau siapa sehingga aku harus minta maaf padamu “. Ucapnya pelan namun terkesan dingin dan menusuk.

Aku baru menyadari perkataan Jireun tadi dikantin ada benarnya. Seharusnya aku tidak usah berurusan dengan orang ini, hanya membuatku kesal. Tanpa ada basa-basi dia pergi begitu saja.

“ Aisshh .. kenapa ada orang sepertinya didunia ini !! jangan sampai aku bertemu dengannya lagi ! “. Umpatku

“ Sepertinya ada yang membuatmu kesal ?”. Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakangku, aku menyipitkan mataku untuk melihat siapa orang itu tapi sayangnya sinar matahari meutupi wajahnya.

“ Lee Jonghyun “. Dia tersenyum simpul kepadaku. Kuakui pria ini tampan dan terlihat sangat baik. Ah ! dia pria yang kutemui tadi pagi juga.

“ Kau yang tadi pagi kan ?”.

“ Ingatanmu bagus, sedang apa disini ?”. Tanyanya ramah.

“ Ada satu jam pelajaran kosong dan aku merasa jenuh jika harus duduk dikelas terus “.

“ Tempat ini sunyi dan tenang, bukan pilihan yang buruk berada disini “.

“ Kau sendiri, apa yang kau lakukan ?”.

“ Hmm .. sama denganmu, hanya sekedar mengusir rasa bosanku “. Kami berjalan melewati belasan rak-rak dan duduk disalah satu kursi dengan meja kayu jati yang diterpa pantulan cahaya matahari.

“ Jika dia mengganggumu lagi, beritahu aku “. Ucapnya sambil menatap keluar jendela.

“ Siapa ?”. Tanyaku sambil asyik dengan buku yang kubaca.

“ Pria yang tadi pagi kau tabrak “. Aku mengalihkan pandanganku dari buku dan menatapnya.

“ Aku bisa mengatasinya sendiri. Lagipula itu hanya insiden kecil, bukan sesuatu yang berbahaya “. Ucapku santai.

“ Kau belum tau siapa dia “.

“ Apa dia semenakutkan itu sampai aku harus mewaspadainya ? sungguh menggelikan “. Meskipun aku cukup takut waktu itu, tapi kurasa dia bukanlah hal yang harus kutakutkan. Bahkan setiap kali melihat wajahnya, timbul keinginanku untuk memukul atau sekedar menampar wajahnya yang angkuh itu.

“ Aku hanya memperingatkanmu, kapanpun kau dalam bahaya aku akan siap melindungimu “. Ucapnya sumringah.

“ Kenapa kau melakukan ini padaku ? maksudku .. melindungi .. aku rasa banyak hal yang harus kau urus daripada melindungiku kan ?“.

“ Hmm .. entahlah. Aku hanya ingin menolong temanku. Bukankah kita teman ? seorang teman harus menolong temannya yang lain. Termasuk melindunginya dari bahaya “. Aku terdiam mencoba mencerna kata-katanya. Dia bangkit dari duduknya, mengedipkan matanya sebentar lalu beranjak meninggalkanku yang tak mengerti apa maksudnya dengan kata ‘ melindungi ‘ .

Author Point Of View *

Yongsun berjalan memasuki pekarangan yang ditumbuhi oleh banyak bunga. Dilihat dari luar rumah ini sangat nyaman untuk ditinggali. Warna putih mendominasi rumah ini ditambah sedikit kaca-kaca besar dibeberapa sisi. Tak lama gadis itu pun masuk kedalam rumah yang sempat ia kagumi tadi. Meskipun dari luar keliahatan sederhana, namun didalamnya sangat mewah. Rumah yang sekarang ia masuki ini sangat besar dan luas. Dengan muka bodohnya Yongsun terus memperhatikan setiap detail dari rumah itu, sampai seorang wanita menghampirinya.

“ Selamat datang nona Yong Sun “. Ucapnya ramah.

“ Saya kepala pekerja rumah tangga disini, Tuan muda sudah menunggu anda dari tadi silahkan masuk “. Yongsun segera melangkahkan kaki menuju ruangan yang ditunjuk perempuan itu.

Ruangan yang cukup besar dipenuhi sofa-sofa empuk, rak-rak buku dan piano hitam disudut ruangan tepat disebelah sebuah meja yang dipenuhi buku-buku. Alunan tuts-tuts indah berputar ditelinga Yongsun, tampak seorang pria sedang menikmati permainan Schlinder’s List Theme dari piano hitamnya.

“ Saya permisi dulu nona”. Ucap perempuan itu meninggalkan Yongsun dan pria asing dibelakang piano itu.

Yongsun tidak beranjak dari tempat berdiri. Matanya tetap mengamati seluk-beluk ruangan yang cukup terang ini. Tidak ada foto ataupun lukisan yang terpampang.

“ Senang bertemu denganmu nona Seo Yong Sun .. Sebelumnya aku sangat penasaran denganmu. Kau lebih manis dari yang kubayangkan “. Pria itu berdiri menghampiri Yongsun yang tengah menatap dirinya.

“ Sepertinya banyak pertanyaan yang melayang dipikiranmu “. Tanyanya tanpa mengurangi satupun kharisma yang ia keluarkan untuk gadis yang sedang berdiri didepannya ini.

“ Untuk saat ini hanya satu .. aku pikir kau tidak semuda ini “. Ucapan Yongsun membuat tawa sang pria pecah. Ia tak menyangka sang gadis muda sepolos itu.

“ Aku sudah bisa menebaknya. Aku harap kau tidak kecewa karena hal itu. Apa pengurus Gil sudah memperlihatkan kamarmu ?”. Tanya pria itu sambil melangkah keluar ruangannya.

“ Apa kau hanya tinggal sendiri dirumah ini ?”. Tanya Yongsun dari belakang mengikuti langkah kaki pria itu.

“ Sepertinya begitu .. buat dirimu senyaman mungkin dirumah ini “.

Akhirnya mereka sampai kesebuah ruangan yang berada disisi kanan rumah itu. Kamar Yongsun berhadapan dengan perpustakaan kecil milik sang tuan rumah. Yongsun memperhatikannya sekilas lalu masuk kedalam kamarnya.

“ Didepan ada perpustakaan, karena yang kutau kau suka membaca jadi aku memberikanmu kamar ini “. Yongsun tertegun dengan pria itu. Untuk kali ini perhatiannya dicuri semudah ini.

“ Terima kasih .. Umm bagaimana aku harus memanggilmu ?”.

“ Ah .. aku lupa namaku Lee Sungmin, kau bisa memanggilku oppa saja “. Ucap Sungmin sambil mengeluarkan senyuman andalannya.

“ Apa kau seorang dokter ? tadi aku melihat ada beberapa buku anatomi tubuh dimejamu “.

“ Sudah hampir 2 tahun aku menjalani profesi dokter. Sebenarnya tadi aku sedang membersihkan ruangan itu, makanya banyak buku berserakan dimejaku. Jika badanmu terasa sakit cepat beritahu aku “.

“ Terima kasih, kau sangat baik oppa .. Umm tapi bolehkah aku bertanya satu hal ?”.

“ Tentu saja “.

“ Bagaimana aku bisa ada disini ? .. Maksudku .. bagaimana orangtuaku bisa mengirimku kesini ?”. Raut wajah Sungmin kini tampak lebih serius daripada sebelumnya.

“ Tuan, anda disuruh kerumah sakit sekarang “. Tiba-tiba pengurus Gil masuk dan seketika itu juga Sungmin langsung menghilang dari pandangan Yongsun yang masih penasaran dengan jawaban akan pertanyaan yang barusan dia ajukan.

Yong Sun Point Of View *

Aku menikmati bunga-bunga yang tumbuh dihalaman rumah Sungmin oppa. Setelah sarapan tadi aku memutuskan untuk melakukan hobi dimasa kecilku dulu yaitu berkebun. Aku sangat suka dengan bunga terutama lili putih. Namun, tidak disangka aku menemukan beberapa tangkai bunga favoritku itu tak jauh dari pagar. Aku kembali beradu argument dengan pikiranku tenatng hobi sang tuan rumah yang cukup unik. Mungkin akan jarang sekali menemui pria dengan hobi menanam bunga. Tanpa pikir panjang aku mengambil selang dan menyirami mereka satu persatu.

Tidak beberapa lama aku hanyut dalam kesenanganku, seseorang memarkirkan mobilnya didepan rumah ini. Seorang pria keluar dari dalam mobil sport hitam. Ia mengenakan hoodie merah dengan bawahan celana pendek coklat tua, sambil membawa sebuah tas, lebih tepatnya tas stick golf.

Tunggu ! sepertinya aku pernah melihatnya. Dia membuka pagar dan melangkah masuk kedalam. Bukankah dia ..

“ Kau ! Apa yang kau lakukan disini ?”. Tanyaku setengah berteriak. Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa aku harus bertemu dengan pria itu lagi.

“ Hei ! singkirkan benda itu dariku …. YA! Apa kau tuli ?! kau membuatku basah “. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku dan menyadari bahwa selang yang kupegang kini terarah padanya. Setelah aku mematikan selang diapun melangkah maju menghampiriku.

“ Sedang apa kau disini ?!! Kau mengikutiku ?”.

“ Hah ?? harusnya aku yang menanyakan pertanyaan itu. Untuk apa kau disini !”. Ucapku kesal.

“ Untuk apa aku disini ?? Apa aku tidak boleh datang kerumahku sendiri ?”. Diam. Mungkin itu yang bisa menggambarkan ekspresiku sekarang setelah mendengar kata-kata pria aneh itu.

“ Rumah ?? ini rumahmu ? Rumahnya ? Bagaimana .. “. Aku meracau tak jelas dikarenakan otakku yang mendadak kacau.

“ Kau sudah pulang ?”. Tanpa kusadari Sungmin oppa  tiba-tiba sudah berada disamping pria aneh itu. Wajahnya sumringah sambil merangkul pria yang ada disampingnya.

“ Yong Sun-ah .. kau baik-baik saja ?”. Tanya Sungmin oppa yang melihat perubahan raut wajahku menjadi benar-benar penasaran dan kaget saat ini.

“ Iya, aku baik-baik saja. Tapi .. dia … “. Tanyaku sembari melirik pria aneh itu yang ternyata juga sedang menatapku intens.

“ Kenalkan dia Lee Hyukjae, adikku “.

TBC ////

14 thoughts on “[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 1)

  1. huaaaaa keren ni ceritanya …
    saya kyanya pernah denger judul komik ai ren deh
    tp lupa ceritanya…
    baca ini pun juga belum kegambar dimana…
    yaweslah drpd.penasaran nunggu kelanjutannya ajah

  2. keren banget ceritanya.. betul seperti komen di atas, penggambaran suasananya ngena banget.. misterius dan seru.. karakter hyuk jae disini aku suka 😀 lucu ya yong sun sama hyuk jae ribut mulu.. penasaran sama karakter Jonghyun..

  3. keren ceritanya author.. Penasaran juga kenapa Yong Sun bisa diwasiatkan orang tuanya untuk tinggal di rumah kerabatnya sedangkan rumah peninggalan orang tua nya di rebut paksa oleh bibinya sendiri.. Smg Yong Sun baik2 saja, mudah2an Jonghyun ataupun Sungmin oppa sbg tuan rumah dan juga kakaknya Eunhyuk oppa bs melindungi nya dari tingkah aneh Eunhyuk oppa

  4. Annyeong.. aku member baru di sini,, ubeg2 library ehh nemu FF ini…

    FF ini pernah di Post di SJFF kan??

    Ceritanya kerennnn bangetttt…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s