[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 2)

Title : Hands Of Dragon Part 2

Author : Moo

Main Cast : Seo Yong Sun

Lee Hyukjae

Lee Sungmin

Support Cast : Lee Jonghyun

Kim Ji Reun

Genre : Mystery & Romance

Rating : PG

Length : Continue

Previous part: Part 1

Author Point Of View *

Yongsun masih saja sibuk menggeluti pikirannya tentang kehadiran Hyukjae yang ternyata adik kandung dari Sungmin. Tentu saja itu mengganggunya dikarenakan ketidaksukaannya pada pria dingin dan angkuh itu. Tapi, tidak ada gunanya ia menolak kehadiran Hyukjae yang secara jelas juga punya hak untuk tinggal dirumah ini.

“ Nona tuan muda menunggumu dimeja makan “. Ucap pengurus Gil memberitahukan bahwa jam makan malam telah tiba waktunya.

Dengan malas Yongsun keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Ketika masuk kedalam ruangan itu Yongsun setengah mati mengumpat hadirnya seseorang yang tak ingin dilihatnya. Hyukjae duduk manis sambil memainkan ponselnya dan tampak tidak perduli dengan suasana disekelilingnya. Kini pria itu tengah mengenakan kemeja biru pucat sangat rapi ketimbang yang Yongsun lihat dikampusnya.

“ Yongsun-ah “. Sapa Sungmin sumringah mengetahui kehadiran Yongsun ditengah suasana hening yang membosankan.

“ Kau dirumah oppa ?”. Tanya Yongsun sambil melirik Hyukjae yang duduk dihadapannya belum bergeming menyadari kehadiran Yongsun.

“  Hari ini jadwalku kosong seharian, apa saja yang kau lakukan hari ini ?”.

“ Tidak banyak, setelah merapikan bajuku kedalam lemari, aku menghabiskan waktu diperpustakaan “.

Makanan satu demi satu berdatangan membuat Yongsun menatapnya dengan penuh gairah. Makanan yang biasanya hanya ia makan direstoran mahal. Tanpa ia sadari pria yang semula mengacuhkannya kini sedang menatapi kelakuan lucu Yongsun. Yongsun menggigit bibirnya dengan ekspresi senang terpancar dari wajahnya ketika sebuah steak sapi terpampang dihadapannya.

“ Kau suka dengan makanannya ?”. Tanya Sungmin, dibalas anggukan Yongsun

“ Sepertinya ini enak “. Ucap Yongsun menunjukkan kegembiraannya pada Sungmin. Sungmin balas menatap Yongsun, namun dengan cepat Yongsun mengalihkan pandangannya dari tatapan mematikan itu.

Dan, ia masuk perangkap selanjutnya. Tidak ada yang lebih mematikan dari tatapan misterius sang pria dihadapannya ini. Pria yang sedari tadi memperhatikannya membuat Yongsun seakan tersihir dan diam mematung tak bisa melepaskan kontak mata mereka. Namun beberapa detik kemudian ia bisa bernafas lega. Karena Hyukjae kelihatannya lebih tertarik akan makanan dihadapannya ketimbang gadis diseberang meja itu.

Hyukjae Point Of View *

Aku berbaring diatas kasurku sambil menatap langit kamarku yang transparan. Aku menikmati beberapa bintang menggantung dilangit malam ini. Aku merasa sedikit tenang melihatnya baik-baik saja. Tidak banyak yang berubah darinya, hanya semakin cantik dan dewasa.

Aku merindukan matanya, mata itu dulu yang membuat aku berjuang keras untuk hidup. Sekarang giliranku yang akan menolong Yongsun-ah ..

Flashback *

SD Hongdae

“ Kalungmu .. Hei .. Kalungmu terjatuh “. Ucapku berteriak memanggil anak perempuan yang sudah menghilang masuk kedalam sebuah kelas.

Aku menatap kalungnya sambil tersenyum kecil dan menyimpannya disaku celanaku. Tiba-tiba suara merdu mengalun ditelingaku. Aku bisa menebak suara siapa itu, sambil berlari kecil aku menghampiri sumber suara itu. Dia sedang menyanyikan lagu tiga beruang dengan ceria. Dihadapannya seluruh teman-temannya memberikan tepukan semangat untuknya. Aku menyukai sorot mata itu, seperti ada suatu energi yang terletak disana. Tiba-tiba saja pandanganku mulai kabur dan suaranya terasa jauh sekali dari pendengaranku.

“ Kau baik-baik saja ?”. Dia mendekatiku sambil menatapku dengan wajah yang khawatir.

“ Matamu sangat indah “. Ucapku dan semuanya menjadi gelap.

**

Aku tidak masuk sekolah selama beberapa hari dikarenakan penyakitku yang bertamabh parah. Aku tidak tau penyakit apa ini yang jelas dokter dan orantuaku selalu memantau kesehatanku dan melarangku untuk sekedar bermain bola dengan teman-temanku. Aku hanya duduk dibangku taman sambil memandangi lapangan bola dimana teman-temanku sedang asyik-asyiknya bermain. Aku teringat akan sesuatu ketika aku merogoh saku celanaku, sebuah kalung. Aku belum mengembalikannya. Aku bergegas bangkit dan mencari letak kelas anak perempuan itu. Cukup sulit mencarinya karena aku tidak tau dia murid kelas berapa. Tapi mungkin seingatku di dua tingkat dibawahku mengingat kelasnya yang tak terlalu jauh dari kelasku. Namun, langkahku terhenti pada satu bayangan yang berdiri diambang pintu ruang guru, tak lama kemudian keluar seorang wanita muda dari ruangan itu dan menggandengnya pergi. Aku berusaha mnghampirinya yang perlahan melangkah menuju gerbang sekolah, disana sudah menunggu sebuah mobil.

“ Guru, anak perempuan itu mau pergi kemana ?”. Tanyaku pada seorang guru yang juga tengah mengamati objek yang sama denganku.

“ Dia akan pindah keluar negeri bersama orangtuanya. Hyukjae-ah untuk apa kau disini ? masuk kekelasmu cepat “.

“ Pindah ?”. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku menatap kalungnya yang ada digenggamanku. Tanpa pikir panjang aku berlari sekencang mungkin untuk mengembalikan kalung ini pada sang pemilik.

“ YA , Hyukjae mau kemana kau ?”. Suara guru bahkan tak mampu mengehentikanku saat ini.

Secepat apapun aku berlari, ada sesuatu didalam diriku yang sedang meronta. Aku benar-benar menahan sakit. Kecepatan kakiku seperti perlahan menurun, nafasku mulai tersengal. Dari jarakku sekarang aku hanya berharap agar dia tidak pergi. Namun kenyataannya dia sudah menghilang dari pandanganku. Pandanganku mulai redup, kalungnya adalah benda terkahir yang kulihat sebelum akhirnya aku ..

“ Hyuk-ah, ada apa denganmu ? bertahanlah guru akan membawamu kedalam “.

Flashback End *

 

Kalung itu masih kusimpan dengan baik. Kalung yang akan mengingatkanku dengan seorang gadis yang sangat ceria. Mungkin sudah saatnya aku mengembalikannya. Ya, mengembalikan kalung milik Seo Yong Sun.

Aku memasukkannya kembali kedalam sebuah kotak berwarna coklat dan menyimpannya didalam laci. Setelah jenuh dengan khayalan masa kecilku aku memutuskan untuk beranjak dari kamarku.

“ Ada apa sebenarnya ? aku hanya sedang melihat-lihat rumah ini !”. Suara Yongsun memekkan telingaku. Kini ia dipegangi oleh 2 orang penjaga rumah. Ia berusaha melepaskan diri namun tak berhasil.

“ Ada apa ?”. Tanyaku pada 2 orang pengawal itu.

“ Nona memaksa naik kesini, kami sudah melarangnya tapi dia bersikeras. Katanya dia ingin melihat-lihat lantai 2 ini “.

“ Lagipula ada apa dengan tempat ini sehingga aku tidak boleh kesini ?”.

“ Sudah kami katakan beberapa kali nona, ini area terlarang untuk siapapun. Tidak ada yang boleh kemari “. Aku hanya memperhatikan 3 orang yang saling beradu argumen ini. Dengan antusias akupun melipat tanganku didada.

“ Katakan tempat apa ini !! apa .. jangan-jangan .. jangan-jangan kalian adalah kelompok pengedar uang palsu ? pasti salah satu dari ruangan ini tempat kalian menyembunyikan uang-uang itu kan ?”.

“ Kau terlalu banyak berhalusinasi nona Seo. Jika mereka bilang jangan naik kesini harusnya kau mendengarkannya dengan baik “. Ucapku santai.

“ Aku hanya ingin melihat isi rumah ini. Apa itu juga tidak boleh ? Aishh !! menyebalkan sekali “.

“ Lagipula tidak ada hal yang menarik disini, jadi pergilah kembali kekamarmu dan jangan membuat onar lagi “.

“ Mwo ?? membuat onar ? jangan bicaramu tuan lee !! dan asal kau tau .. jangan karena ini rumahmu kau bisa berbuat macam-macam denganku !”. Aku mulai menyukai sifatnya yang satu ini, seperti hiburan untukku. Wajahnya akan sangat kesal jika aku terus mengganggunya dan itu justru letak kesenanganku. Aku mencengkram lengan kirinya dan menarik tubuhnya hingga jarak kami kubuat sekecil mungkin. Wajahnya jelas shock dan agak khawatir.

“ Kau benar-benar membuatku kesal nona Seo “.

“ Hyukjae-ah .. Yongsun ? sedang apa kau disini ?”. Sungmin sudah berada tidak jauh dari temtap kami berdiri. Dia memandangi aku dan Yongsun secara bergantian.

“ Oppa … aku  hanya sedang melihat-lihat “.

“ Ayo kita turun “. Ucap Sungmin melangkah maju menarik tangan kanan Yongsun. Akupun hanya diam dan kembali masuk kedalam kamarku.

Author Point Of View *

Sungmin mengantarkan gadis itu kedalam kamarnya. Raut wajahnya sudah tidak seserius yang tadi. Yongsun merasa penasaran dengan sikap Sungmin yang juga seperti menyembunyikan sesuatu.

“ Aku minta maaf “.

“ Bukan salahmu sepenuhnya. Sudahlah tidak usah dipikirkan. Hanya satu permintaanku, jangan pernah naik kelantai 2 lagi “. Ucap Sungmin memegang bahu kiri Yongsun.

“ Apa aku boleh tau alasannya ?”.

“ Tidak ada alasan yang bisa kujelaskan padamu. Lantai 2 menjadi milik Hyukjae sepenuhnya. Dia tidak mengijinkan siapapun untuk berada disana. Bahkan pekerja disini juga tidak bisa menginjak lantai itu. Demi ketenangannya lebih baik kau turuti saja, jangan mengusiknya “.

“ Cih .. aku benar-benar muak dengannya”. Umpat Yongsun dalam hati.

“ Masuklah, ini sudah malam “.

Sementara dilantai 2, Hyukjae tampak melangkah menuju sebuah lorong panjang yang dihiasi beberapa lukisan di sepanjang lorong itu. Sampai ia terhenti pada sebuah pintu berwarna agak kehitaman. Pintu terbuka otomatis dan diapun masuk kedalamnya.

Ruangan itu tidak terlalu besar. Ada sebuah meja dan kursi ditata sedemikian rupa, berkas-berkas memadati meja itu. Sebuah rak kayu yang penuh dengan berkas-berkas entah apa isinya. Disisi lain ada sebuah papan hitam yang tertempel ditembok penuh dengan berbagai coretan tangan dan foto-foto. Disebelahnya dengan papan yang sama ada banyak artikel koran yang ditempel asal-asalan.

Hyukjae melangkah maju ke sebuah papan hitam yang ditempeli foto-foto. Bukan foto keluarga namun lebih mirip seperti pria-pria separuh baya yang mengenakan pakaian rapi. Mungkin pejabat atau pengusaha. Terlihat jelas foto-foto itu ditempel dengan rapi dan dibuat 2 baris sejajar. Ada 6 foto yang sudah diberikan tanda silang merah, entah apa maksudnya.

Hyukjae berhenti pada sebuah foto pria muda yang mungkin berumur 25-an. Dia mengambil spidol merahnya dan menuliskan sebuah tulisan diatas foto pria muda tersebut.

NEXT  TARGET

 

Yongsun Point Of View *

Aku mengeratkan jaketku dan mendesah pelan. Sudah hampir setengah jam aku menunggu bis yang tak kunjung lewat. Kulirik jam tanganku sekilas, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku tidak ingin terlambat dihari pertama aku kerja.

Yah, aku merasa harus membiayai kebutuhan hidupku sendiri. Meski sekarang aku tinggal dengan Sungmin oppa aku tidak merepotkannya. Sudah beberapa hari ini aku mencari pekerjaan paruh waktu, tapi tidak ada satupun yang berhasil kutemukan. Hanya tempat itu yang membuka sebuah lowongan. Tempat yang bahkan tidak ingin kukunjungi. Sebuah bar kecil yang cukup ramai pengunjungnya menjadi pilihan terkahirku.

Aku berdiri melihat sebuah bus biru yang kutunggu akhirnya tiba juga. Tidak lama kemudian bus ini menurunkan aku ketempat yang aku tuju. Aku harus berjalan sedikit karena bar itu terletak agak masuk kedalam gang kecil. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki didaerah yang sangat sunyi seperti ini. Mobilpun jarang ada yang berlalu-lalang. Aku menggenggam tasku dengan erat. Aku merasakan ada sesuatu yang sedang mengikutiku dibelakang. Tanpa pikir panjang aku mempercepat langkah kakiku, namun terhenti ketika sebuah tubuh besar menghalangiku. Sebuah tangan meyentuh bahuku dan tangan lain menarik tanganku dan membawaku kesuatu tempat yang gelap. Aku benar-benar takut.

Ada 4 orang pria yang bisa kukatakan berandalan. Pria yang satunya memegang botol minuman beralkohol sibuk memainkan rambutku. Sementara 3 orang lainnya menatapku dengan senyuman menyeringai diwajah mereka. Aku benar-benar butuh pertolongan saat ini juga.

“ Apa yang kau lakukan disini nona ?”.

“ Benar, ini sudah sangat gelap dan kau sendirian ? Kau ingin kami temani ?”.

Mereka mendekatiku satu persatu. Aku meronta mencoba menepis tangan mereka yang mulai menjalar disekitar wajahku.

“ Berapa bayaranmu permalam ?”. aku melotot sempurna mendengar kata-kata itu.

“ Aku bukan wanita seperti yang kalian pikirkan !”.

“ Benarkah ? lalu untuk apa kau berjalan sendirian di malam hari ?”.

“ Itu bukan urusan kalian, lepaskan aku !”.

“ Tenanglah .. hanya sedikit sentuhan tidak apa-apa kan ?”.

“ Awas jika kalian berani macam-macam padaku !”. aku semakin meronta dan berteriak. Tapi aku merasa putus asa melihat kondisi tempat ini yang sunyi senyap. Apa aku akan berakhir disini ?

Tiba-tiba ada seseorang dengan tongkat baseball hitamnya menghajar berandalan itu satu persatu. Namun tidak sampai disitu saja. Sang preman-preman kegelapan it uterus menerus mencoba menumbangkan sang sosok misterius itu.

Aku tidak bisa melihat wajahnya jelas. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan topi dan masker hitam. Aku hanya bisa melihat matanya saat ini. Dia mengeluarkan berbagai pukulan dan tendangan yang cukup mematikan dan membuat kawanan preman itu jatuh satu persatu tak sadarkan diri.

Aku masih dalam posisiku yang berdiri bersandar ditembok sambil memegang erat kedua lututku. Aku bisa bernafas lega sekarang, berandalan itu sudah terkapar dan aku bisa kabur sekarang. Aku melupakan sesuatu, pria itu .

“ Hei .. Kau .. berhenti “. Aku melihatnya tengah berjalan meninggalkanku.

“ Kau siapa ?”. Tanyaku setengah berteriak. Aku yakin ia mendengarnya namun sengaja tidak menggubrisku.

Dia mempercepat langkahnya dan kemudian hilang begitu saja disebuah tikungan didepan sana. Aku menyusulnya dan menemukan dia sudah tidak terlihat sama sekali. Aku bahkan belum berterima kasih padanya.

Aku melangkah dengan cepat untuk sampai ketempat kerjaku. Aku terlambat satu jam dihari pertamaku bekerja, ini benar-benar buruk. Aku berhenti disebuah bangunan agak kumuh yang tidak terlalu sepi diluarnya. Lampu warna-warni menghiasi pintu masuk tempat ini. Berkali-kali aku menepis keinginan untuk kabur dari tempat ini, tapi aku tidak bisa.

“ Sedang apa kau disini ?”. Aku berbalik mencari sumber suara itu. Dan seorang Hyukjae sedang berdiri dibelakangku.

“ Bukan urusanmu ”. Jawabku sekenanya lalu meninggalkannya dan masuk kedalam bar.

Setelah mengenakan seragam kerjaku, aku lalu keluar menuju meja bar untuk mengantarkan pesanan pengunjung.

“ 2 gelas Tequilla Sunrise “. Ucap seorang pria paruh baya dihadapanku.

Buru-buru aku langsung menghampiri bartender untuk memintanya membuatkan pesanan pria itu. Sampai-sampai aku tidak sadar ada seseorang yang memperhatikanku saat ini.

“ Kau .. ?”. Kataku pelan setelah menyadari tak jauh dari tempatku berdiri Hyukjae sedang memperhatikanku dengan ekspresi datarnya. Tangan kanannya menopang kepalanya sedangkan tangan kirinya sibuk memainkan gelas berisi  Tequillanya yang bahkan masih penuh. Aku berani bertaruh dia belum meminum minuma itu.

“ Hei ! cepat antarkan !”. Ucap bartender didepanku dengan nada memerintah.

“ 2 Tequilla Sunrise “. Ucapku sambil meletakkan gelas-gelas kecil itu. Ketika aku akan melangkah meninggalkannya, tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggangku. Aku kaget setengah mati melihat sang pria paruh baya itu mengerling nakal kearahku.

“ Jangan buru-buru sayang “. Ucapnya sok manis. Aku berkali-kali menepis tangannya, namun ia tetap bersikeras menyentuhku.

“ Jauhkan tangan anda dari saya “. Ucapku tega yang malah disambut gelak tawa dari rekannya yang lain, yang sedari tadi hanya menjadi penonton. Kini temannya itu malah maju ingin menyentuh wajahku.

“ Kumohon jangan berbuat seperti ini padaku “. Ucapku menahan emosi. Bagaimanapun aku tidak bisa langsung bertindak kasar pada mereka. Aku juga tidak ingin kehilangan pekerjaanku.

“ Lepaskan “. Tiba-tiba Hyukjae sudah berada disampingku sambil menarikku kebelakang tubuhnya.

“ Kau siapa anak muda ? jangan ikut campur ! kembalikan dia !”. Ucap pria paruh baya itu memaksa.

“ Maaf .. tapi dia sudah menjadi milikku untuk malam ini, anda terlambat “. Ucapnya santai terkesan sopan. Dia menarikku meninggalkan kedua orang pria hidung belang itu yang tidak melawan sama sekali. Dia berhenti disebuah meja bar dan memanggil seorang bartender.

“ Bilang pada bosmu mulai besok dia tidak akan bekerja disini lagi “. Aku melotot kaget tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan pria gila ini. Dia menarikku paksa hingga kami berada diluar bar. Aku berusaha melepaskan tangannya dari tanganku.

“ Apa yang kau lakukan ?!!”. Ucapku benar-benar kesal dengannya. Aku menghempaskan tangannya.

“ Untuk apa kau bekerja ditempat seperti ini ?”.

“ Jangan ikut campur urusanku Lee Hyukjae !”.

“ Ini baru hari pertamamu bekerja dan kau sudah digoda oleh beberapa pria tua. Bagaimana jika kau terus bekerja disana ??”.

“ Tidak perlu mengkhawatirkanku ! urus saja urusanmu sendiri !”.

“ Aku tidak mengkhawatirkanmu nona Seo. Aku hanya khawatir bagaimana jika hyungku sampai tau kau bekerja disini “. Aku tidak pernah memikirkan hal ini. Benar bagaimana jika Sungmin oppa sampai tau, dia pasti akan benar-benar marah.

“ Akan kutunjukkan tempat yang layak daripada ini “. Ucap Hyukjae yang kembali meraih tanganku.

“ Aku bisa mengurusi masalahku sendiri “. Kataku dengan suara yang sudah tindak setinggi yang tadi.

“ Turuti kata-kataku saat ini Seo Yong Sun !!! “. Aku baru kali ini mendnegarnya berbicara seperti itu. Pelan namun suaranya seperti memendam emosi yang tidak ingin dia keluarkan. Mata itu lagi-lagi dia menatapku dan membuatku tidak bisa berkutik.

Untuk kali ini aku menyerah. Dia menarik tanganku dan mulai melangkah. Namun aku menghentikkan langkahku ketika sadar akan sesuatu.

“ Apalagi sekarang ?”. ucapnya kesal sambil memutar bola matanya.

“ Aku harus ganti baju “. Tanpa basa-basi dia melepaskan tanganku dan aku buru-buru masuk kedalam kembali mengambil barang-barangku.

Author Point Of View *

Yongsun berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Hyukjae. Mereka memilih untuk jalan kaki ketimbang naik bis.

“ Apa kau sering mengunjungi bar itu ?”. Tanya Yongsun untuk sekedar mencairkan suasana yang terlalu kikuk menurutnya.

“ Aku rasa itu bukan urusanmu “. Yongsun hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban sang pria yang ada disampingya kini.

“ Aku hanya memastikan bahwa kau tidak sedang mengikutiku “. Hyukjae tiba-tiba berhenti setelah mendengar kata-kata Yongsun.

“ Mengikutimu ?? Haahh .. lelucon macam itu . Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain sehingga harus mengikutimu ?”. Tanyanya sambil kembali melanjutkan langkahnya.

“ Itukan hanya tebakanku, jika ….. “. Belum selesai Yongsun berbicara. Dengan cepat Hyukjae menarik tangan Yongsun dan menghasilkan tubuh mereka kini menempel satu sama lain. Yongsun tak bergerak sama sekali. Terpaan nafas Hyukjae mengenai wajahnya saat ini.

“ Apa orang itu tidak bisa menyetir dengan benar !!”. Umpatnya setelah tadi ada sebuah mobil van putih melaju kencang kearah Yongsun. Yongsun perlahan sadar dan menatap wajah Hyukjae yang masih memperhatikan van putih tadi. Hyukjae pun langsung melepas tangannya dari tubuh Yongsun ketika mengetahui bahwa gadis itu baik-baik saja.

Yongsun masih tetap ditempatnya berdiri sambil memandangi punggung Hyukjae yang sudah berjalan mendahuluinya. Entah dia tidak mengerti ada apa dengan otaknya kini.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka tiba disebuah toko roti yang terletak tepat di seberang jalan raya. Hyukjae masuk kedalam dan tampak sibuk mencari seseorang.

“ Hyuk-ah … “. Teriak seorang pria tampan yang kini menghampirinya.

“ Aku pikir kau tidak ada disini “.

“ Aku baru sampai, ada apa ? dan  … dia siapa ?”. Tanya pria itu yang tampaknya senang akan kehadiran Yongsun.

“ Apa ada pekerjaan untuknya disini ?”. Tanya Hyukjae langsung ke intinya.

“ Kebetulan sekali. Salah satu kasirku sudah keluar pindah pekerjaan beberapa hari yang lalu. Oh ya, kau bisa memanggilku Doojun “.

“ Seo Yong Sun imnida “.

“ Besok kau bisa langsung bekerja disini, mulai jam 5 sore, bagaimana ?”.

“ Terima kasih. Aku akan berusaha sebaik mungkin “. Ucap Yongsun sambil tersenyum senang.

“ Karena besok aku tidak ada disini, jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan. Kau bisa mencari Kirin dia manajer disini. Mungkin besok kau juga akan bertemu dengannya “.

“ Sekali lagi terima kasih “. Ucap Yongsun sambil melangkah keluar dari toko roti tersebut.

“ Siapa wanita beruntung itu ?”. Goda Doojun sambil merangkul bahu Hyukjae.

“ Apa maksudmu ?”.

“ Ayolah .. bahkan kau mengajaknya kemari, pasti dia berbeda dengan yang lain “.

“ Dia gadis yang kuceritakan dulu .. “. Ucap Hyukjae sambil memandangi Yongsun yang menunggunya diluar.

“ Benarkah ?? akhirnya kau bertemu dengannya “.

“ Sudahlah .. bagaimana apa semuanya sudah siap ?”. Ucap Hyukjae setengah berbisik pada Doojun.

“ Seperti biasa, sebentar lagi si playboy itu akan mengabariku dan besok pagi akan kukirimkan alamatnya “.

“ Aku pulang dulu “.

Hyukjae dan Yongsun berhenti disebuah halte. Hyukjae memutuskan untuk menunggu Yongsun pulang naik bis. Tidak ada percakapan diantara mereka. Suasana menjadi sangat kikuk setelah mereka keluar dari toko roti itu.

“ Umm … untuk yang tadi aku …. “. Kalimat Yongsun terpotong oleh ucapan Hyukjae.

“ Maaf, terima kasih .. aku tidak ingin mendengar kata-kata itu. Itu dia bismu, pulanglah “. Ucap Hyukjae sambil berbalik meninggalkan Yongsun yang masih menatap Hyukjae.

“ Maaf dan Terima Kasih … Hyukjae “. Ucap Yongsun pelan sebelum akhirnya ia naik kedalam bis.

Hyukjae Point Of View *

Aku berulang kali mengecek peralatanku. Semuanya sudah siap digunakan. Setelah aku merapikan apartemenku yang cukup berantakan aku memutuskan untuk segera berangkat. Seperti biasa senjata laras panjangku ku masukkan kedalam tas golfku sebagai kamuflase tentunya.

Dddrrttt …

1 Message

Hotel EXCID . 475 . Kim Minseok

Pesan dari Doojun kubaca baik-baik sebelum akhirnya aku membawa mobil hitamku menuju tempat yang sudah ditentukan. Jalanan cukup lengang, ini justru memudahkanku untuk sampai ketujuan tepat waktu.

Tidak butuh waktu lama mencarinya. Akhirnya aku memarkirkan mobilku didepan butik yang tidak terlalu ramai. Aku mengenakan kacamata hitamku dan mengambil tas golfku. Diseberang sana ada 2 bangunan megah berdiri disbelah kanan sebuah bank milik chaebol yang cukup berpengaruh di Korea . disebelah Kirinya adalah tempat tujuanku Hotel EXCID. Aku buru-buru masuk kedalam dan berjalan menuju lobi utama.

“ Selamat siang ada yang bisa kami bantu ?”.

“ Aku sudah memesan kamar atas nama Kim Minseok “.

“ Bisa saya lihat kartu identitasnya ?”. Akupun langsung mengeluarkan sebuah kartu identitas yang bertuliskan Kim Minseok sebagai nama pemilik kartu tersebut.

“ Ini kuncinya, Kamar anda berada di lantai 5 dengan nomer 475 . Selamat beristirahat “.

Aku menekan tombol lift angka 5. Sementara menunggu lift itu naik keatas. Aku mengambil beberapa permen karet dan mengunyahnya untuk menutupi kegugupanku. Meskipun ini bukan yang pertama kali, tapi entah mengapa pekerjaan ini selalu membuatku gugup.

475

Aku membuka kamar itu perlahan dan menutupnya kembali. Aku meletakkan tas golfku di lantai kamar dan mulai memasang sarung tangan. Aku berjalan mendekati jendela yang tertutup horden putih. Aku menggeser kacanya perlahan dan mengamati bangunan diseberangku. Kamar ini berhadapan langsung dengan sebuah ruangan disalah satu bank swasta itu. Setauku itu ruang rapat.

Dddrrtttt …

“ Target akan sampai dalam waktu 25 menit, bersiaplah “.

Aku mengeluarkan senjata H&K G-3. Senapan ini punya fitur – fitur seperti kaliber 7,62 x 51 mm, jarak jangkau yang lebih jauh dari senapan serbu biasa yang berkaliber 5,56 x 45 mm. G – 3 ini mampu menghantam target plat baja dengan telak pada jarak 750 meter. Aku memasangnya dicelah jendela yang kubuka tadi. Aku duduk bersila menunggu sang target datang.

Target kali ini adalah Kim Jong Woon. Seorang anak dari pemilik Perusahaan ritel terbesar kedua di Korea. Saat ini Ayahnya ingin menyerahkan sebagian anak cabang pada sang putra tunggalnya. Termasuk bank ini. Dan kenapa aku harus mengincarnya ?

“ Target sudah masuk kedalam ruangan, haruskah kita bermain-main dulu ?”. Tanyaku pada Doojun diseberang sana.

“ Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu. Kau tau Kirin akan marah jika aku telat satu jam saja “.

“ Disaat seperti ini kau masih bisa memikirkan kencanmu bodoh !!!?”. Dia hanya tertawa menanggapi kata-kataku.

“ Setelah ini selesai, kau harus kukenalkan pada pasukan wanitaku Hyuk-ah “. Ucap pria lain diseberang sana ditempat yang sama dengan Doojun. Dia pasti si playboy tengik Seungri.

“ Dan setelah itu gelarmu akan jatuh kepadaku. Apa kita perlu mengadakan pesta ketika itu terjadi ?”. Tanyaku meledeknya.

“ Kau benar-benar cari mati Hyukjae “.

Aku membidik targetku dan menguncinya. Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan. Aku menggerakkan jariku perlahan dan memicingkan mataku.

KLIK – aku menarik pelatuk senapanku ..

Dan .. sebuah pelurupun meluncur dengan cepat menembus kaca dan bersarang tepat di dada sang target. Dia tewas seketika

Jika kau membutuhkan jawaban,  akan kujawab

Aku adalah seorang pembunuh bayaran ….

TBC ////

12 thoughts on “[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 2)

  1. apa.? knpa kim jongwoon oppa. yesung oppa..
    iish.. knpa hyuk hrus mnjdi pmbnuh byaran.?
    apa dia tidk tau rsko pkrjaan yg spt apa.?
    aishh.. jgnlah ada kyuhyun ato donghae yg msuk mnjdi trgetnya. amin.
    haha..
    bgus. sangat menrik. membuatku pnasaran.
    semangat thor. aku tnggu klnjtannya.

  2. huwaa.. jadi ini cerita ttg pembunuh bayaran wah keren.. 😀 yang akhir itu2 bikin deg-degan.. hyukjae kereen bgt XD terus kenapa dia begitu?? apa sungmin ga tau? terus hyukjae juga sakit kan.. oh ditunggu kelanjutannya .. so misterius .. belum ngerti ceritanya mau di bawa kemana 😀

  3. dari blog satu ke blog yang lain akhirnya saya nemu juga lanjutan FF ini… Cerita’y bener” buat penasaran dan butuh penalaran serta imaginasi…

    Good!

  4. ommo Hyukjae oppa seorang pembunuh bayaran, jadi yg dia sembunyikan di lantai 2 itu pasti semua perlengkapan yg mensupport profesi nya tsb sehingga Yong Sun tadi dilarang untuk memasuki wilayah lantai 2.. Tambah penasaran sebetulnya kenapa Yong Sun bisa dititipkan di tempat Lee Brother

Leave a Reply to natiara Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s