[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 3)

Title : Hands Of Dragon – Part 3

Author : Moo

Main cast : Seo Yong Sun, Lee Hyukjae, Lee Jonghyun

Support Cast : Lee Sungmin, Yoon Doojun, etc.

Genre : Mystery, Romance

Length : Continue

Rating : PG

PS : Thanks udah baca FF yang masih banyak kurangnya ini, yang udah ngasih komen jeongmal gomawo ^^ .

Previous part: Part 1, Part 2

 

Hyukjae Point Of View *

 

Sudah hampir 2 tahun aku melakukan pekerjaan ini dan sudah lebih dari 9 orang tewas ditanganku. Aku tidak bekerja sendiri, 3 orang teman-temanku yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri, kami melakukan tugas ini bersama-sama. Mereka bertugas melacak dan mencari informasi target sedangkan akulah yang akan mengeksekusi para. Kebanyakan klienku adalah pejabat atau pengusaha yang merasa tamak akan kekuasaan dan kekayaan dan mereka menggunakan jasaku untuk menghabisi rintangan-rintangan yang menghadang mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Aku tidak peduli siapa yang akan menjadi targetnya yang penting mereka membayarku sangat mahal. Untuk satu nyawa aku bisa mendapatkan lebih dari 85 juta setiap bulannya. Namun, ini bukan semata-mata karena uang. Ada satu alasan mengapa aku melakukan ini. Karea seseorang ..

“ DONE ! Bersihkan semuanya “. Ucapku terakhir kali lalu mematikan sambungan telfon kerekan-rekan diujung sana.

Aku merapikan senjataku, mengganti kacamata hitamku dengan kacamata minus dan menggunakan topi golf dan meninggalkan kamar itu.  Aku sengaja membiarkan kuncinya masih menggantung dari dalam. Aku memecet tombol lift menuju lantai bawah. Melewati orang-orang yang berlalu-lalang dilobi hotel akupun keluar dari hotel sambil memandangi suasan panik dari orang-orang di bank swasta itu. Dari jarak jauh aku sudah bisa mendengar sirine mobil polisi bergerak menujuk tempat kejadian perkara. Akupun berjalan menuju mobilku dan memacunya menghilang dari tempat ini.

Aku berhenti dibawah sebuah jembatan layang yang membelah sebuah sungai ternama di Korea. Aku duduk diatas kap mobilku sambil melepas segala atribut penyamaranku. Rambut coklatku kubiarkan menari diterpa semilir angin yang menyejukkan. Aku memandangi tanganku kini. Dalam pikiranku terlintas wajah-wajah mangsaku yang bahkan tak kuketahui dengan detail siapa mereka. Aku mengangkat wajahku dan menatap lurus ke sungai Han yang tenang ini sambil mengingat alasanku memilih jalan seperti ini.

Flashback *

 

Aku terlahir sebagai anak seorang petani di Korea, namun karena orangtuaku sakit-sakitan mereka pergi meninggalkanku dengan cepat. Aku sendirian tidak punya siapa-siapa saat itu.

 

Sampai suatu waktu ketika aku sedang berada disalah satu pasar tak jauh dari rumahku, aku mencuri sebuah apel dari salah satu toko buah dipasar itu. Mau bagaimana lagi, aku tidak punya penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan perutku. Setelah berhasil mengambil apel itu, kesialanku malah berlanjut. Pemilik toko buah yang kucuri menyadari perbuatanku dan mengejarku. Akupun tertangkap, dia memukuliku habis-habisan. Aku merasakan tulang-tulangku remuk seketika, aku baru berusia 6 tahun dan sudah dihajar seperti ini. Tiba-tiba seorang pria tinggi mengenakan kemeja hitam berjalan kearahku. Dalam satu tatapan ia mampu menghentikan pukulan yang diberikan penjaga toko buah itu. Dia berjalan kearahku dan membantu aku berdiri. Dia menatapku sejenak lalu menyuruh salah seorang pria yang sedari  tadi mengikutinya untuk membopoh tubuhku.

Yah, mulai saat itu aku menjadi putra angkatnya. Putra seorang Yakuza. Aku menghabiskan masa kecilku di Osaka, kota yang sangat indah. Aku belajar bahasa Jepang serta ilmu beladiri dan juga menggunakan senjata api. Orang-orang memanggilnya J, entah apa maksudnya. Begitupun aku memanggilnya dengan sebutan J, bedanya anak buahnya akan menambahkan panggilan kehormatan untuknya, namun aku hanya memanggilnya J. dia selalu memarahiku karena tidak pernah memanggilnya ayah.

Jika aku dihadapkan pada satu pertanyaan, siapa orang yang akan kau lindungi ? maka dialah orangnya. Bagaimanapun kondisinya aku yang akan berdiri dibarisan depan untuk membela dan melindunginya.

Setelah umurku menginjak 11 tahun, J bertemu dengan seorang wanita Korea dan mereka memutuskan untuk menikah. Dia sangat bahagia dan terlihat sangat mencintai wanita itu. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di Korea. Aku sangat bahagia karena memiliki keluarga lengkap. Istri ayahku juga sangat menyayangiku. Tapi aku bukan putra satu-satunya dikeluarga baru ini. Ada seorang anak laki-laki 2 tahun lebih tua dariku. Namanya Lee Sungmin. Dia sangat menyayangiku seperti adikya sendiri. Disaat aku sulit menyelesaikan tugas-tugas sekolahku dia yang akan selalu menolongku. Bahkan disaat jam makan siang dia selalu datang kekelasku membawa sebuah kota bekal untukku.

Tapi ada satu kejadian yang membuatku aku sangat menyayangi orang itu. Suatu hari aku ketahuan berbohong oleh J dia sangat marah padaku. Belum pernah aku melihat dia semarah itu. Tiba-tiba Sungmin hyung menghampiri J dan mengatakan bahwa dia yang melakukan kesalahan itu dan seketika itu J tanpa menyelidikinya terlebih dahulu dia menghukum Sungmin hyung. Sungmin hyung dimasukkan kesebuah kamar kosong yang dingin tanpa makanan selama 2 hari. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku merasa bersalah. Mulai saat itu dia menjadi prioritas nomer 2 ku setelah J.

J dan istrinya menjadi pengusaha terkenal waktu itu. J tidak lagi menjadi Yakuza atas permintaan sang istri. Kami memiliki beberapa hotel dan mall ternama yang dibuat dibeberapa negara. Ini membuat banyak rival mereka menjadi berang dan ingin menyingkirkan J dan istrinya.

Tepat pada hari ulang tahun Sungmin hyung, J dan Ibunya dibunuh ketika dalam perjalanan menuju pesta ulang tahun Sungmin hyung. Mobil yang mereka naiki disabotase oleh seseorang yang disewa oleh rival J. Rem mobil mereka blong dan tanpa terkendali mereka menabrak pagar pembatas jalan dan jatuh dari tebing yang tinggi.

Aku sangat terpukul saat itu dan merasa jadi orang yang tidak berguna karena tidak bisa melindungi J pada saat itu. Perlahan-lahan asset-aset perusahaan J dan istrinya diambil alih oleh teman-temannya yang berubah menjadi musuhnya. Aku dan Sungmin hyung tidak mendapat sedikitpun asset itu, kami tidak bisa mempertahankannya. Hanya rumah yang bisa kami pertahankan hingga sekarang. Setelah J meninggal Sungmin hyung menjadi prioritas pertama untukku jaga, aku merasa beruntung masih memilikinya hingga sekarang.

Hampir selama sebulan kami mengalami goncangan jiwa dan ekonomi. Sungmin hyung bahkan berniat berhenti dari sekolah dokternya yang tinggal sedikit lagi akan selesai. Aku tidak tinggal diam dan berusaha mencari jalan keluar dari keterpurukan ini.

Hingga aku bertemu Tee seorang bos mafia kelas kakap yang juga teman J. Dia menawarkanku pekerjaan yang membuatku tidak bisa tidur karena terus memikirkannya. Ya, pekerjaan yang sekarang aku jalani. Pembunuh bayaran.

Awalnya aku mengaku pada Sungmin hyung aku bekerja disalah satu perusahaan milik teman J. Dan dia percaya. Aku membantu sekolahnya sampai dia benar-benar menyelesaikannya. Awalnya aku berjanji pada diriku sendiri bahwa ketika Sungmin hyung selesai dengan sekolahnya aku akan meninggalkan pekerjaan yang beresiko itu.

Namun, takdir berkata lain. Dia berkali-kali ditolak masuk di rumah sakit Seoul National Hospital. Dia hanya ditempatkan dibeberapa rumah sakit kecil yang sepi. Aku tau keinginannya terbesar untuk bekerja disana. Karena dulu ayah kandungnya juga bekerja disana sebelum tewas kecelakaan.

Aku menceritakan masalah ini kepada Tee. Dia bilang padaku bahwa dia akan membantuku mencari jalan keluarnya. Dan, jalan keluar itu muncul. Entah darimana Tee memberikanku akses untuk bertemu dengan pemilik rumah sakit itu. Akupun mengatur kunjungan untuk bertemu dengan sang pemilik rumah sakit. Setelah menjelaskan permasalahan panjang lebar, dia malah membuatku tercengang. Dia meminta agar aku mau mengorbankan sejumlah uang agar Sungmin hyung masuk kerumah sakit itu.

Aku harus mengumpulkan uang lebih dari 200 juta agar Sungmin hyung masuk ke tempat impiannya itu. Salah satunya jalan dengan kembali menjadi pembunuh bayaran. Yah, awalnya ini kulakukan untuk Sungmin, Namun, ada hal lain yang membuatku bertahan yaitu J. Aku bertekad tidak akan berhenti sebelum aku mengetahui siapa pembunuh J.

Kini Sungmin hyung sudah mengetahui semuanya. Awalnya dia sangat marah dan kesal terhadap tindakanku, namun setelah tau tujuan dari ini semua, perlahan-lahan dia membiarkanku untuk tetap menjalani pekerjaan ini.

Flashback End *

Lamunanku buyar seketika melihat sebuah panggilan masuk diponselku. Aku ,mendesah malas melihat sebuah nama tertera dilayar ponselku.

Seungri ..

“ Kau dimana ?”.

“ Aku sedang malas kesana, kalian saja “.

“ Ayolah … aku sudah memesankan tempat khusus untuk malam ini, apa kau tidak kasihan padaku ? aku menghabiskan banyak uang untuk pesta kita “.

“ Baiklah, aku akan kesana “.

“ Jangan lama-lama banyak wanita yang menantimu “.

Author Point Of View *

Dentuman musik up beat memenuhi sebuah bar disalah satu mall ternama di Korea. Bar itu sengaja disewa khusus untuk malam ini. Tampak dari lantai dansa banyak wanita-wanita dari asia hingga ke western memenuhi lantai itu. Tidak banyak pria terlihat disana mungkin kurang dari 10 orang. Mereka dikelilingi wanita-wanita yang berpakaian minim. Diatas sana disalah satu meja duduk seorang pria yang tampak enggan menyambut berbagai tawaran wanita-wanita cantik yang sedari tadi terus merayunya. Dia hanya terus memandangi ke 3 orang teman-temannya yang asyik dengan pesta dibawah sana.

“ Ada apa denganmu hari ini ? biasanya kau tidak seperti ini “. Tanya seorang wanita yang tampaknya akrab dengan Hyukjae.

“ Tinggalkan aku “. Ucap Hyukjae yang mulai malas dengan tingkah sang wanita.

“ Kita sudah lama tidak bertemu, sedikit ramahlah padaku “. Ucap wanita itu sambil memainkan tangan kanannya disekitaran paha Hyukjae dan tangan kirinya sibuk menjelajahi rahang tegas yang menawan itu.

“ Jill berhentilah .. Kau sudah bersama Junsu. Jadi jangan menggangguku lagi “. Ucap Hyukjae seraya menyingkirkan tangan wanita itu.

“ Kau tau aku tidak pernah menyukainya. Aku akan meninggalkannya kalau kau memintaku untuk melakukannya “. Hyukjae menatap wanita itu dengan tatapan andalannya (dingin dan tajam).

“ Seharusnya kau memang meninggalkannya. Kau tidak pantas untuknya “. Ucapan yang pelan namun sangat menusuk.

“ Kau dengar sendiri .. dia sudah menolakmu. Pergilah .. “. Ucap wanita lain yang datang menghampiri Hyukjae. Bisa dibilang wanita ini yang paling cantik dari semua wanita yang ada di bar. Lekuk tubuhnya pun bagus.

“  Kau .. ?? bukankah dia menolakku, untuk apa kau selalu menempel padanya ?!! “. Serang Jill

“ Itu bukan urusanmu wanita jalang “.

“ Apa kau bilang ?! Kau benar-benar ingin mengujiku ??”. Kini Jill dan wanita itu sedang adu pandang sambil mengumpulkan semua emosi mereka yang akan pecah sebentar lagi.

Dilantai Dansa

“ Kau harusnya waspada Seungri-ah “. Ucap Doojun setengah berbisik pada Seungri. Mereka dari tadi asik menyaksikan kejadian diatas sana.

“ Apa pernah ada wanita yang memperebutkanmu sampai seperti itu ?”. Kini giliran Junsu yang menggodanya.

“ Ahh .. Aku akui diantara kita memang dia yang punya aura berbeda. Baik-baik kau menang kali ini teman .. . Junsu-ah, sebaiknya kau tinggalkan wanita itu “.

“ Hyukjae juga sudah mengatakan itu berkali-kali, tapi aku masih ingin bermain-main dengannya “.

Hyukjae hanya geleng-geleng kepala melihat 2 wanita gila yang sedang bersitegang memperebutkan dirinya. Tanpa pikir panjang diapun bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalakn tempat itu.

“ Hyuk-ah….. “. Teriak Jill disusul wanita yang lainnya.

Hyukjae menghampiri teman-temannya sejenak untuk pamit undur diri. Dan melangkah keluar menuju tempat parkir.

Dia memacu mobil sport hitamnya menuju kesebuah tempat yang ingin ia kunjungi malam ini. Sebuah tempat yang mungkin bisa menghilangkan moodnya yang buruk hari ini. Dalam waktu beberapa menit diapun tiba didepan sebuah toko roti milik Doojun. Ia mematikan mesin mobilnya dan menyandarkan tubuhnya ke jok mobil sambil menikmati pemandangan didalam toko roti itu. Dia merasa nyaman dapat memandangi Yongsun yang sibuk dengan pekerjaannya. Tanpa berniat melihatnya lebih dekat, cara seperti ini lebih disukainya. Seperti diam-diam melihat Yongsun yang setiap pagi selalu menyirami kebun bunga dipekarangan rumahnya atau diam-diam melihatnya sibuk dengan buku-bukunya diperpustakaan sekolah.

Dddrtttt ….

Kirin Calling

“ Ada Apa ?”.

“ Harusnya aku yang bertanya ada apa .. sedang apa kau disitu ?! memata-matai karyawanku ?”. Ucap Kirin setelah menyadari mobil Hyukjae terparkir didepan toko rotinya namun ia tak menemukan sang pemilik mobil didalam tokonya.

“ Apa yang sedang kau bicarakan ?”. Ucap Hyukjae berkilah

“ Jika ingin melihatnya, masuklah kedalam sini. Jangan seperti penguntit !”.

“ Apa ?!! penguntit ?? .. YA ! aku .. aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan “.

“ Tidak usah segugup itu. Masuk dan bicaralah dengannya “.

“ Tidak akan ! “.

“ Kau mau aku yang mengatakannya bahwa dari tadi kau melihatnya ?”.

“ Jangan !!!!!!! Aisshh … kau … argghh “.

“ Kalau kau menyukainya katakan saja “.

“ Aku tidak menyukainya “.

“ Benarkah ? sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri Hyuk-ah .. kau akan menyesal nanti “. Hyukjae terdiam sesaat mendengar kata-kata itu. Dia menatap Yongsun sekali lagi lalu membawa mobilnya pergi dari toko itu.

Hyukjae Point Of View *

Hampir sejam aku menunggu dipinggir trotoar ini. Sesekali kulirik halte yang ada diseberang sana, sekedar untuk memastikan kedatangan seseorang. Aku mendesah pelan sambil menendang sebuah kaleng softdrink kosong yang tergeletak dipinggir trotoar. Lagi, sebuah bis datang dan berhenti di halte itu untuk menurunkan beberapa penumpangnya.

Gadis yang kutunggu akhirnya tiba. Dia turun dari bis itu dan melangkah menyusuri jalanan sepi pulang menuju kediamannya. Aku memperhatikannya dan mengikutinya. Meskipun dari jarak sejauh ini aku senang bisa menemaninya pulang kerumah, mengingat jalanan sepi ini berbahaya sekali untuk seorang gadis berjalan sendirian.

Ketika dia berbelok ke sebuah tikungan diseberang sana, aku memutuskan untuk menyebrang jalan raya. Namun belum sempat aku menyebrang aku menabrak seorang wanita tua dan mau tidak mau harus menolongnya.

Author Point Of View *

Yongsun tercengang dengan apa yang dilihatnya kali ini. Bagaimana tidak, preman-preman yang dulu sempat mengganggunya kini berada dihadapannya lagi.

“ Aku rasa kita memang berjodoh denganmu nona “.

“ Mau apa kalian, jangan ganggu aku “. Ucap Yongsun seraya mundur beberapa langkah untuk menjauhi preman-preman itu.

“  Jika waktu itu urusan kita belum selesai, maka sudah saatnya kita menyelesaikannya “. Tubuh Yongsun bergetar hebat. Ia berdoa agar penolongnya dimalam itu datang kembali.

“ Tinggalkan aku ! kumohon … “.

“ Kau memohon pada orang yang salah nona “.

Belum sempat sang preman maju menerkamnya, tiba-tiba sosok yang waktu itu menolong Yongsun kembali datang dan menghajar preman-preman itu untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini dia tidak menggunakan masker hitam, hanya topi melekat diatas kepalanya. Suasana yang gelap membuat wajah sosok itu tidak terlihat, terlebih lagi dia kini memunggungi gadis itu. Yongsun mencoba menggeser tubuhnya dan menjauh dari suasana yang kacau itu, sambil menenangkan dirinya yang masih shock.

Satu persatu preman-preman itu memilih untuk mundur dari ajang adu kekuatan itu sampai hanya menyisakan sang pahlawan Yongsun yang tengah mengatur nafasnya. Topi yang tadi ia kenakan kini sudah tergeletak dijalan. Yongsun terdiam menatap punggung sosok itu yang ditebaknya berjenis kelamin pria. Yah, benar saja sang pria misterius itu lalu membalikkan posisi badannya dan mengambil langkah panjang mendekati Yongsun. Tanpa pikir panjang pria itu langsung memeluk Yongsun.

“ Jonghyun … ?”. Tanya Yongsun yang bingung akan sosok dihadapannya kini

“ Untunglah kau tidak apa-apa “.

“ Kau … kau yang malam itu menolongku ?”.

“ Ehh ? malam itu ? … ayo aku antar kau pulang, sangat berbahaya kau pulang sendiri “. Ucap Jonghyun sambil merarik tangan Yongsun dan melangkah menuju mobil Jonghyun yang terparkir tak jauh dari sana. Disisi lain seorang pria tampak memperhatikan mereka dengan kesal dan marah, itu bisa dilihat dari kepalan tangannya yang erat.

**

Hyukjae memacu mobilnya sekencang mungkin, ia tidak perduli dengan apa yang ada dihadapannya kini, yang penting ia ingin mengeluarkan semua rasa kesalnya setelah melihat gadis spesialnya bersama dengan pria yang tidak ia sukai. Setelah lama berputar-putar dijalanan ia memutuskan untuk pulang kerumahnya. Yah, rumah buka apartemennya. Ia merasa harus memastikan sesuatu malam ini.

**

Yongsun membuka pagar dengan perlahan. Ia berniat ingin menutupnya sebelum tatapan mata Jonghyun membuat banyak pertanyaan dikepalanya.

“ Tidurlah, kau kelihatan lelah “. Ucap Jonghyun lembut sambil mengusap pelan kepalan Yongsun.

“ Terima kasih sekali lagi Jonghyun-ssi “.

“ Aku akan menerima ucapan terima kasihmu dengan satu syarat … jangan memanggilku dengan emberl-embel –ssi … itu sangat mengangguku. Lagipula kita ini kan teman, sudah seharusnya aku menolongmu “. Ucap Jonghyun panjang lebar membuat senyuman tercipta dari bibirnya.

“ Aku pulang dulu Yongsun-ah “.

Setelah cukup yakin Jonghyun telah menghilang dari pandangannya. Yongsun beranjak masuk kedalam rumah. Ia membuka pintu perlahan dan tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh mencengkram tangannya. Si pria yang ternyata Hyukjae itu kini menatapnya dengan ekspresi kesal dan marah.

“ Tidak kusangka kau cepat menemukan teman baru nona Seo ?”. Ucapnya pelan namun terkesan menyelidik.

“ Lepaskan aku “. Ujar Yongsun tegas namun tak cukup tegas untuk Hyukjae yang masih betah dengan posisinya menekan Yongsun.

“ Kulihat kalian sangat dekat. Apa hubunganmu dengannya ?”.

“ Bukan urusanmu Lee Hyukjae-ssi “.

“ Bukan urusanku ?? … Bagaimana jika aku tertarik untuk menjadikannya urusanku ?”. Kata-kata Hyukjae tepat sasaran dan seketika membuat Yongsun terdiam dan tak mampu membalas ucapan lawan bicaranya itu.

Ia heran dan tak mengerti tentang sikap Hyukjae saat ini. Namun disisi lain ia merasa sedikit senang dengan sikap Hyukjae saat ini. Entahlah, dia tidak bisa menemukan alasan mengapa ia patut senang akan sikap Hyukjae yang terkesan marah, tidak rela itu.

“ Katakan alasannya mengapa kau mau menjadikannya sebagai urusanmu Hyukjae-ssi “. Serang Yongsun.

“ Karena … Karena … pokoknya jangan mendekatinya “. Ucap Hyukjae pelan namun masih bisa didengar oleh Yongsun.

“ Kau cemburu pada Jonghyun ?”. Kini gantian Yongsun memberikan pertanyaan mematikan untuk pria dihadapannya kini.

“ Cemburu ?? .. Apa kau baru saja melucu ?? .. Kau bukan tipeku nona Seo ..“. Ucap Hyukjae yang mulai melonggarkan genggamannya.

“ Kau bukan cemburu, tapi memarahiku. Kau sangat menyebalkan, kau tau itu ?? hakku untuk dekat dengan siapa saja, kau bukan siapa-siapaku dan jangan mengurusi urusanku !! “. Ucap Yongsun sambil menghempas tangan Hyukjae kasar dari tangannya.

“ Jangan mendekatinya, atau kau akan menyesal “. Ucap Hyukjae beranjak melangkah menjauh dari Yongsun.

“ YA ! aku tidak perduli dengan kata-katamu . Urusi urusanmu sendiri “.

**

Hyukjae masuk kedalam ruangan pribadinya yang tersembunyi dari siapapun dirumah ini. Dia duduk sambil memijat pelan pelipisnya. Kejadian barusan benar-benar menyita emosinya. Dia tidak tau apa yang membuatnya sekesal itu akan kedekatan Yongsun dan Jonghyun, yang pasti ia tidak menyukainya.

Perhatiannya kini tertuju pada sebuah foto yang terselip diantara berkas-berkasnya yang berserakan diatas meja. Ia menatap sebuah foto. Foto yang menggambarkan seorang pria menggunakan kaos berkerah warna biru muda sedang asik tertawa dengan seorang wanita muda disampingnya. Lalu Hyukjae membalik foto itu, disana … dibelakang foto itu terdapat sebuah tulisan. Nama sang pria difoto ..

Seo Jang Woo

**

“ Yongsun-ah … “.

“ Appa .. jangan tinggalkan aku .. “.

“ Yongsun-ah putri appa yang paliiiiiing cantik “.

“ Appa … aku takut sendirian, jadi jangan pernah tinggalkan aku. Berjanjilah .. “.

DORR !!!

“ Appa …. “.

“ Yong … Yong … Ssu .. nn “.

“ Appa bertahanlah … SIAPAPUN TOLONG AYAHKUU !!!! “.

“ Tangan … naga .. “.

“ Jangan banyak bicara appa … TOLONGGG, TOLONG AKU !!! “.

“ Naga …. “.

“ APPPPPAAAAA …………… “.

Yongsun terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal. Dia baru saja mengalami mimpi yang paling ia takuti. Mimpi yang selalu menghantuinya. Ia mengusap wajahnya dari keringat yang membasahi wajahnya kini. Setelah cukup tenang ia kemudian mengambil sebuah foto lengkap dengan bingkainya. Foto seorang pria yang mengenakan kaos berkerah biru muda tengah asik tertawa dengan seorang gadis muda. Yah, foto Yongsun dengan sang ayah Seo Jang Woo. Pria itu tewas dibunuh disebuah lorong gelap. Tadinya pria itu akan pergi menjemput sang putri yang sudah menunggu ayahnya di sebuah toko buku. Namun, sayangnya ban mobilnya kempes dan mau tak mau iapun menggunakan jasa bis untuk menuju tempat dimana sang putri sudah menunggu. Ia kemudian melewati sebuah lorong yang gelap dan tak disangka sesosok mahluk serba hitam datang menyerangnya.

Awalnya Jang Woo bisa melawan sang penyerang namun gagal diakhir, karena kalah cepat dia harus merasakan sebuah peluru menembus dadanya dan tertanam dijantungnya. Dia tak terselamatkan, ia meninggal dihadapan Yongsun putrinya.

Yongsun termenung sambil memikirkan sesuatu. Kata-kata terkahir ayahnya yang ia ingat betul. Dua buah kata kunci ..

“ Tangan Naga “.

“ Aku akan menemukannya appa …. menemukan … pembunuhmu !”.

TBC /////

7 thoughts on “[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 3)

  1. aku muncul lagi, yay kangen sama ff ini 😀
    woa makin seru aja.. daebak.. feelnya berasa banget >< awalnya kukira yang nolongin yong sun lagi itu hyukjae.. owh hyuk kenapa peranmu disini cool banget T^T sekarang juga uda mulai tahu sedikit demi sedikit masalah2nya .. sukses banget deh thor uda bikin reader penasaran..
    ayo-ayo part 4 nya ditunggu.. jangan2 yang ngebunuh papa yongsun itu hyukjae.. kya :@

  2. Jangan2 yg membunuh appa nya Yong Sun itu komplotannya Hyukjae oppa, kalau Yong Sun sampai tahu kalau memang pembunuh ayahnya itu seseorang yg memiliki tangan naga dan ternyata orang itu adl Hyukjae oppa bisa gawat.. Penasaran sekali dgn kisah selanjutnya.. Saatnya baca part 4

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s