[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 4)

Title : Hands Of Dragon Part 4

Author : Moo

Main Cast : Seo Yong Sun

Lee Hyukjae

Lee Jonghyun

Support Cast : Lee Sungmin

Yoon Doojun

Junsu (2PM)

Genre : Mystery & Romance

Rating : PG

Length : Continue

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3

PS : Big thanks for you guys  d(^^)b …. Ini buat rekomendasi aja, waktu ngerjain part ini author dengerin lagu “ Wish You’re my Love / Creating Love “, mungkin readers bisa coba baca sambil dengerin lagu itu.

So, Happy Reading J ..

 

Hyukjae Point Of View *

Aku mempersiapkan perlengkapanku dengan teliti sebelum masuk menuju gedung tempat aku mengeksekusi targetku nanti. Aku merapikan letak kacamata hitamku yang menutup seluruh mataku kini. Hari ini aku memilih mengenakan kemeja putih dengan celana hitam. Setelah semua sudah kuperiksa, aku memutuskan untuk keluar dari mobil sambil menjinjing sebuah tas hitam.

Kini aku berada disebuah lorong yang sepi sambil menunggu seseorang. Junsu mengeluarkan separuh kepalanya dari celah sebuah pintu. Tanpa berlama-lama aku menyusulnya dan masuk kedalam sebuah gedung perkantoran melalui pintu belakang. Ya, Junsu tengah menyamar sebagai pekerja kebersihan gedung itu dan ini tentu agar memudahkanku masuk kedalam gedung ini.

Aku menaiki ratusan anak tangga untuk mencapai balkon gedung ini. Disana dari jarak yang cukup jauh aku akan mengeksekusi seorang hakim yang tengah mengadakan konferensi pers digedung pengadilan yang terletak didepan gedung perkantoran ini.

Setelah menjelajahi seluruh anak tangga, akhirnya aku mencapai balkon dan mulai menentukan posisi. Kuletakkan tas hitamku kelantai dan memandangi hakim itu dari atas gedung. Dibawah sana dia tengah sibuk dengan pertanyaan beberapa wartawan yang masih mengerubutinya. Aku mengeluarkan sarung tangan hitamku dan mulai memakainya. Kustel senjata H&K G-3 dengan posisi yang pas untuk membidik sang target nantinya.

Kukunyah permen karet rasa strawberry untuk menghilangkan rasa bosanku karena harus menunggu momen yang tepat untuk menguncinya. Karena terlalu banyak orang yang mengerubunginya aku tidak bisa mengambil resiko menembaknya sekarang. Aku menyenderkan tubuhku kepagar pembatas balkon sambil menopang dagu dengan tangan kiriku.

Targetku kali ini, Choi Minguk salah satu hakim terkenal di Korea. Menurut data yang diberikan Seungri. Seorang klien ingin melenyapkannya karena hakim Minguk pernah menangani sebuah kasus korupsi seorang pejabat negara. Namun entah karena apa hakim Minguk dinilai melakukan kecurangan dalam menangani kasus tersebut. Kabarnya, pejabat yang dijebloskannya kepenjara itu sama sekali tidak bersalah, dan hakim Minguk ternyata telah disuap untuk sengaja menggiring sang pejabat malang itu kepenjara dan meloloskan pihak lain yang ternyata adalah koruptor sebenarnya.

Kehidupan politik selalu rumit, ini yang selalu aku pikirkan. Hanya karena satu persoalan yang tidak masuk akal menurutku lalu seseorang ingin melenyapkan pihak lainnya. Semata-mata hanya karena uang.

Mungkin terdengar mirip denganku. Aku mengesampingkan sisi kemanusiaanku untuk sebuah bayaran yang sangat menggiurkan. Tapi ini berbeda, terkadang target yang kubunuh memang patut menerimanya karena kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat fatal bagi banyak orang dalam hal ini masyarakat biasa. Namun, uang yang kudapat tidak sepenuhnya kupakai.

Kami tidak pernah bertemu langsung dengan para klien kami. Itu adalah salah satu peraturannya. Identitas klien kami sengaja disembunyikan dan identitas kami juga disembunyikan. Biasanya kami menerima uang muka setengah dari bayaran kami, lalu setengahnya lagi akan dibayar ketika target sudah dilenyapkan. Uang muka yang aku terima, kujadikan sumbangan untuk universitas. Itu sebabnya keluarga Lee menjadi penyumbang terbesar untuk universitas dan menjadikanku bahan pembicaraan seantereo kampus. Belum lagi dikarenakan ada satu kejadian yang membuatku ditakuti.

Setahun yang lalu, seorang wanita yang kusayangi dia setahun lebih tua dariku. Disuatu sore aku menemukannya sedang diperlakukan tidak senonoh oleh salah satu dosen senior disana. Aku tidak terima dengan perlakuan dosen bejat itu. Dengan emosi yang sudah melampaui batas, aku menghajarnya habis-habisan, sampai dia koma beberapa hari. Tidak ada yang berani mengeluarkanku, namun Sungmin hyung harus berkali-kali meminta maaf pada seluruh dosen disana atas kejadian yang kulakukan. Dia memarahiku habis-habisan dan membuatku keluar dari rumah itu dan memutuskan untuk tinggal sendiri. Meski sekarang aku sesekali pulang kerumah, namun kurasa untuk keamanan Sungmin hyung, lebih baik jika aku tinggal terpisah darinya.

Kumpulan wartawan-wartawan tersebut sedikit demi sedikit berangsur meninggalkan teras gedung pengadilan. Hanya ada 2 atau 3 wartawan disana, ini saat yang tepat kurasa. Aku memegang senapanku dan mengarahkannya. Agak lama karena posisi target yang sulit untuk dikunci. Dan .. aku berhasil menguncinya …

KLIK –

Aku menarik pelatukku …

Tepat menembus jantung sang target. Orang-orang disekitarnya panik, beberapa petugas keamanan langsung siap siaga membidik kesegala rah untuk mencari sang penembak misterius. Sementara petugas keamanan lainnya mungkin menelfon rumah sakit terdekat. Aku bergeas mengeluarkan ponselku dan menekan nomer 1.

“ CLEAR ! “. Ucapku pada Junsu yang menungguku dilantai 8.

Aku buru-buru membereskan senapanku. Namun aku menjadi sedikit panik ketika beberapa orang polisi disekitar gedung pengadilan mulai melirik ke balkon gedung ini tempat aku berada saat ini. Akupun bergegas turun kebawah masih dengan tas hitamku.

“ Mungkin dalam 5 menit lagi tempat ini disegel “. Ucapku pada Junsu yang tengah berdiri dihadapanku sambil memasukkan tas jinjing hitamku kesebuah kantong sampah berwarna hitam. Aku telah mengenakan jas hitam, dasi coklat tua dan membawa sebuah tas kerja berwarna coklat.

Aku masuk kedalam sebuah lorong dan berjalan menuju sebuah lift. Sementara Junsu menghilang di tikungan lain sambil membawa kantong sampah berisi senjataku.

Author Point Of View *

Suasana panik seketika. Belasan  polisi berhamburan di lobi hotel dan memeriksa satu persatu karyawan yang berniat ingin meninggalkan gedung ini. Sementara diluar sana beberapa mobil patrol dan belasan polisi berjaga didepan pintu masuk pun telah dipasang police line.

TING .

Pintu lift terbuka, muncul Hyukjae dengan seragam rapihnya tengah menunggu giliran untuk diperiksa. Seorang polisi bertampang sangar kini ada dihadapannya, menggeledah isi tasnya dan memeriksa setiap sisi tubuh Hyukjae. Polisi itu menangkap sesuatu yang aneh menurutnya. Sebuah sarung tangan hitam milik Hyukjae. Tanpa berkata-kata polisi itu menatap tajam Hyukjae.

“ Itu sarung tangan kupakai ketika mengendarai motorku, apa ada yang aneh ?”. Tanya Hyukjae berusaha setenang mungkin dihadapan sang polisi.

“ Sudah selesai “. Ucap sang polisi akhirnya meninggalkan Hyukjae.

Ditempat lain, Junsu berusaha membuka sebuah bak sampah yang terletak di luar gedung tempat dimana tadi Hyukjae berhasil masuk. Setelah memasukkan bungkusan hitam itu kedalam bak sampah iapun lalu masuk lagi kedalam gedung.

Diluar sana seorang pemulung masuk kelorong sambil membawa beberapa plastik yang lusuh. Bajunya ditambal sana-sini, ia menutupi wajahnya dengan hoodie lusuh miliknya. Bahkan hoodie itu terkesan tidak  berwarna lagi.

Ia berjalan menuju sebuah bak sampah diujung lorong itu. Sejenak ia mengaduk-aduk isi bak sampah dan menemukan sebuah bungkusan berwarna hitam yang menarik perhatiannya. Ia membuka bungkusan itu perlahan … menatapnya … dan memutuskan untuk mengambil bungkusan itu.

Pemulung itupun bergegas meninggalkan lorong itu dan berhenti sejenak melihat keramaian yang terjadi, ia menyeringai kecil lalu berbelok meninggalkan tempat itu. Dia berjalan menyusuri trotoar yang lumayan ramai sampai dia masuk kesebuah mobil yang sengaja diparkirkan pemiliknya diujung jalan sana.

“ Kau dapat darimana baju ini ? … baunya benar-benar luarbiasa “. Ucap Hyukjae melepaskan atribut penyamarannya. Sementara Doojun hanya tertawa kecil sambil terus fokus pada kemudinya.

“ Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku relax, itu tadi cukup menegangkan “. Ucap Doojun

“ Cukup menghibur menurutku, baru kali ini aku memakai pakaian terbau diseluruh dunia kurasa. Aku benar-benar harus mandi “.

“ Tapi … cepat atau lambat mungkin kita akan berakhir dipenjara Hyuk-ah “.

“ Aku sudah siap, tapi sebelum itu aku harus menemukan pembunuh J “.

“ Kita sudah hampir menemukannya, aku berharap semuanya akan cepat selesai “.

“ Kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti ini ?”.

“ Entahlan .. Aku memikirkan Kirin …”.

“ Tentang pernikahan ?”.

“ Dia selalu mengajakku untuk bertemu dengan orangtuanya, aku bingung harus melakukan apa “.

“ Mungkin sudah saatnya kalian hidup normal “.

“ Jangan bilang kau mau melakukannya sendirian “.

“ Hanya menunggu waktu yang tepat sampai tujuanku tercapai “.

“ Kita akan melakukannya bersama-sama, kita sudah memulainya dari awal dan harus bersama-sama mengakhirinya “.

“ Apa kau sudah siap menerima serangan dari Kirin lagi ?”.

“ …. Aku sudah kebal dari serangannya. Aisshh …. Kenapa dengannya ? tiap kali aku menolak membahas pernikahan maka dia akan memukuliku habis-habisan “.

“ Apa kau tau .. kemarin Seungri melihat Miina. Kurasa dia sudah kembali “. Hyukjae terdiam seketika mendengar kata-kata Doojun barusan. Miina wanita yang meninggalkannya setahun yang lalu kini datang kembali.

Yongsun Point Of View *

Aku berjalan mengitari lorong rumah keluarga Lee yang begitu besar. Setelah puas akupun bergeas keluar menuju pekarangan bunga mereka. Tanaman bunga lili putih ini selalu menarik perhatianku. Aku ingin sekali memetik dan menyimpannya dikamarku, pasti sangat cantik.

“ Seperti nona sangat menyukai bunga itu “. Ucap pengurus Gil yang tiba-tiba sudah berada dibelakangku.

“ Ah … Ibuku dulu sering menanam ini, lalu lama-kelamaan aku jadi mulai menyukainya “.

“ Tuan muda pasti senang melihat tanaman bunganya selalu diperhatikan, bahkan nona juga sering mengurusnya “.

“ Aku tidak pernah berpikir Sungmin oppa menyukai bunga “.

“ Bukan Tuan Sungmin … Tapi Tuan Hyukjae. 2 tahun yang lalu dia mulai menanam semua bunga-bunga ini, tapi dia sangat rajin mengurus bunga lili ini. Katanya bunga lili ini adalah bunga kesukaan seorang gadis “.

“ Seorang gadis ?”.

“ Mungkin nona orangnya “.

“ Aku ????? hahahah … tidak mungkin, pengurus Gil ini pintar bercanda “. Ucapku dengan ketawa yang dibuat-buat.

“ Tapi … apa aku boleh memetik satu tangkai saja pengurus Gil ?”. Tanyaku dengan hati-hati.

“ Mungkin nona harus memintanya pada sang pemilik bunga ini “. Ucap pengurus Gil sambil tersenyum dan berbalik meninggalkanku.

“ Haruskah aku meminta ini padanya ? ….. tidak !!! dia pasti akan memarahiku “. Aku memegang dan mengamati bunga lili itu, alangkah baiknya jika pria aneh itu mengijinkanku memiliki bunga itu satu saja.

Ketika aku berniat bangkit berdiri, aku dikejutkan oleh sosok Hyukjae yang dari tadi ternyata sudah berdiri didepan pagar dengan tangan dimasukkan kedalam saku celananya. Dia menatapku tanpa ekspresi. Aku buru-buru menarik tanganku dari bunga-bunga itu. Dan melangkah meninggalkan pekarangan itu.

Sore ini aku ada janji dengan Kirin eonni, dia minta ditemani mencari kado untuk Doojun Oppa pacarnya. Setelah merasa puas dengan penampilanku, akupun melangkah keluar. Rumah ini sepi sekali. Sungmin oppa dari kemarin terus berada di rumah sakit dan orang itu, maksudku adiknya sedari tadi tidak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya dirumah ini.

Author Point Of View *

Hyukjae keluar dari ruang kerjanya dan melangkah menuruni tangga. Ia memperhatikan sekeliling rumahnya. Ia pun berjalan menghampiri perpustakaan kecil yang terletak didepan kamar Yongsun. Melihat suasana yang sepi iapun keluar dari perpustakaan itu.

“ Tuan muda sedang apa disini ?”. Tanya pengurus Gil tiba-tiba datang mengagetkan Hyukjae.

“ Ngg … Aku … sedang melihat-lihat buku. Kenapa rumah ini sepi sekali ?”.

“ Tuan Lee sedang dirumah sakit seperti biasanya “.

“ Aku lupa …. Uummm … bagaimana dengan penghuni lainnya “. Tanya Hyukjae yang sebenarnya dari tadi sedang mencari Yongsun namun tak menemukannya dirumah ini.

“ Penghuni lain ? maksudmu nona Yongsun ? Tadi dia pamit pergi untuk menemui temannya “.

“ Teman ?”. Didalam pikirannya kini Hyukjae mereka-reka siapa teman yang sedang bersama dengan Yongsun. Dia berharap orang itu bukan Jonghyun.

Hyukjae kini mengitari pekarangan rumahnya. Pandangannya jatuh pada bunga lili putih yang ditanamnya beberapa tahun yang lalu. Ia kembali teringat kejadian tadi pagi, ketika Yongsun tengah memegang lilinya dengan antusias. Hyukjae kemudian berjongkok memetik beberapa bunga lilinya.

 

07.00 Malam KST

Yongsun memasuki kamarnya dengan langkah gontai, tampaknya seharian menemani Kirin belanja. Yongsun melempar tasnya asal keatas tempat tidur. Perhatiannya kini tertuju pada sebuah vas krystal berwarna putih yang terletak diatas meja disamping tempat tidurnya. Didalam vas itu terdapat 3 tangkai bunga lili berwarna putih. Yongsun mendekati vas itu dan menyetuh bunga-bunga lili itu. Dia tersenyum sesaat memikirkan orang yang menaruh bunga itu.

Namun Yongsun ingin memastikannya sekali lagi, iapun keluar dari kamarnya dan mencari pengurus Gil.

“ Pengurus Gil … “.

“ Nona, ada apa ?”.

“ Apa tadi anda yang memberiku bunga lili dan meletakkannya dikamarku ?”.

“ Bunga lili ? tidak nona, tapi tadi sore aku melihat Tuan Hyukjae membawa 3 tangkai bunga lili masuk kedalam rumah “.

“ Benarkah ?”. Tanya Yongsun kali ini senang. Tidak tau karena alasan apa dia merasa senang malam ini. Entah karena mendapat bunga lili itu atau seseorang yang memberikan bunga itu.

Yongsun sesekali melirik keatas tepat dimana kamar Hyukjae berada. Cukup lama ia menanti laki-laki itu turun. Hyukjae keluar dari kamarnya, penampilannya sangat rapi. Ia mengenakan celana jeans hitam, kaos hitam yang dibalut dengan jas coklat tua. Jam tangan Bvlgari bertengger indah di pergelangan tangannya.

Yongsun terperangah kini melihat sosok yang turun dari tangga itu. Sukar untuk diakuinya pria itu sangat mempesona saat ini. Ditengah lamunan Yongsun akan penampilan Hyukjae, dia tidak menyadari bahwa sang pria yang membuatnya terpesona sedang menatapnya sambil memiringkan kepalanya. Hyukjae sedang bertanya-tanya tentang ada apa dengan sang gadis dihadapannya itu. Yongsun tersentak lalu mundur beberapa langkah kebelakang, menyadari kejadian aneh barusan ia langsung berdeham menghilangkan rasa gugupnya.

“ Kenapa kau melihatku seperti itu ?”. Tanya Yongsun lantang dan terkesan menantang Hyukjae.

“ Aku yang harusnya bertanya, kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu ?”.

“ Aku ?? melihatmu ?? tidak …. Aku hanya sedang melamun sambil memikirkan sesuatu “. Ucap Yongsun terbata-bata.

“ Benarkah ?”. Goda Hyukjae sambil tersenyum nakal.

“ Tentu saja, apa kau pikir aku sedang memperhatikanmu, hah !!? “.

“ Aku tidak bilang seperti itu, kau sendiri yang baru memberikan pernyataan “.

“ Pernyataan apa ? sungguh tidak masuk diakal “.

“ Apa yang tidak masuk diakalmu ? …. Apakah Seorang Lee Hyukjae ???”.

DAMN ! Yongsun terdiam seketika. Kata-kata Hyukjae tepat sasaran, mungkin sekarang dia tengah memikirkan jawaban dari pertanyaan pria aneh itu. Apakah memang seorang pria yang bernama Hyukjae mulai merontak masuk kedalam pikirannya ?? …

Hyukjae hanya tersenyum puas memandangi kekalahan lawan bicaranya itu. Dia mundur beberapa langkah berniat meninggalkan Yongsun dalam kebingungannya. Namun langkahnya terhenti didepan pintu rumah ketika Yongsun bersuara cukup pelan.

“ Untuk bunga itu … terima kasih “. Yongsun memberanikan dirinya menatap punggung Hyukjae, tidak ada respon apa-apa dari lelaki yang ditatapnya itu. Dia justru melangkah keluar meninggalkan Yongsun. Namun, tanpa diketahui Yongsun tadi Hyukjae sempat tersenyum kecil mendengar kata-kata terakhir Yongsun. Dan .. hari ini dia berhasil satu langkah menyusup kedalam hati gadis itu.

01.00 Siang KST

@SeoulUniversity

“ Apa hari ini kau ada waktu luang ?”. Tanya Jonghyun pada  Yongsun yang sedang sibuk mencari beberapa buku dirak-rak yang menjulang.

“ Aku harus bekerja sampai larut malam, apa ada sesuatu yang penting ?”.

“ Tidak hanya saja aku ingin mengajakmu makan diluar “.

“ Lain kali saja, eoh .. “. Ucap Yongsun sembari memberikan senyum terbaiknya sebagai tanda rasa bersalahnya menolak ajakan pria tampan itu.

“ Baiklah .. tapi kau harus menepati janjimu “.

“ Tentu saja, kau tidak percaya padaku ?”.

“ Aku tidak mungkin tidak percaya padamu … aku ada kelas, aku masuk duluan “. Ujar Jonghyun berlari sambil sesekali berbalik melemparkan senyumannya kearah Yongsun.

Yongsun mendesah pelan sambil sesekali memejamkan mata merasakan sinar matahari menyentuh permukaan wajahnya, rasanya sangat hangat … tiba-tiba terlintas wajah Hyukjae dipikirannya. Dia buru-buru membuka matanya dan memandang sekelilingnya. Mati-matian dia merutuki dirinya yang bodoh karena bisa-bisanya memikirkan pria aneh itu.

Yongsun tenggelam kembali dalam kesibukannya mencari-cari buku yang mengugah minatnya untuk membaca. Sesekali dia membuka catalog buku untuk sekedar mencari buku yang menarik. Dia menemukannya ..

Buku itu terletak di rak depan dekat pintu masuk. Yongsun mencoba mengedarkan pandangannya mencari buku itu. Buku yang dicarinya kini terletak jauh rak atas, mungkin tidak terlalu sulit digapai, namun karena ukuran tubuhnya yang minim Yongsun terpaksa berjinjit menggapai buku itu. Sekeras apapun dia berusaha hasilnya nihil.

Tiba-tiba seseorang dengan mudah meraih buku itu dan membuat Yongsun tercengang. Pria itu memberikan buku yang berhasil diambil kepada gadis yang berdiri dihadapannya. Jika diperhatikan tatapan pria itu sangat lembut menyapa sosok Yongsun, berbanding terbalik dengan Yongsun yang mematung memperhatikan pria dihadapannya itu. Setelah buku itu sampai ketangan Yongsun, pria itupun berbalik melangkah meninggalkannya.

“ Ada apa denganku … “. Ucap Yongsun yang masih berdiri ditempatnya.

Disana Hyukjae tersenyum penuh arti setelah melihat reaksi bodoh Yongsun tadi.

Langkah ke-2 = Bingo

**

Yongsun memaksa masuk beberapa barang kedalam tasnya. Ia melihat jam tangannya dengan gusar. Karena harus menemani Jireun mencari beberapa cd ditoko music langganannya, dia harus seburu-buru ini merapikan dirinya dan berangkat ke toko roti tempatnya bekerja. Ia mengingakt sepatu ketsnya dengan asal dan bergegas keluar dari kamarnya.

“ Oppa …. “. Ia memanggil Sungmin yang baru saja akan beranjak keluar rumah.

“ Yongsun, ada apa buru-buru seperti ini ?”. Tanya Sungmin yang sejenak berhenti lalu memperhatikan Yongsun.

“ Oppa, aku mohon bantu aku kali ini “.

“ Ada apa ?”.

“ Aku sudah terlambat kerja, jika aku menunggu bis maka waktunya tidak akan cukup. Bisakah aku menumpang mobilmu ?”. Ucap Yongsun dengan tampang memelas.

“ Maaf Yongsun-ah … aku harus ketempat lain, ada operasi yang penting sekali …… Umm bagaimana ini ….. Oohh . Hyuk-ah .. !!!! tolong antarkan Yongsun ke toko roti tempatnya bekerja, aku buru-buru dan tidak bisa mengantarnya “. Yongsun membenamkan wajahnya tidak percaya atas apa yang dilakukan Sungmin. Ia menyesali takdir yang selalu mempertemukannya dengan pria itu. Sementara Hyukjae hanya memutar bola matanya malas dan sejenak melirik Yongsun yang tampak frustasi.

“ Baiklah .. “. Ucap Hyukjae malas dan melangkah keluar menuju mobilnya.

“ Tidak apa-apa kan Yongsun-ah ?”.

“ Ya, tidak apa-apa oppa “. Ucap Yongsun pasrah dengan nasibnya.

Mereka hanya diam dan asik dalam kegiatannya masing-masing. Sesekali Yongsun berdeham untuk mencairkan suasana yang terlalu kikuk. Lagi-lagi Hyukjae tetap fokus pada jalan yang ada didepannya, dalam hatinya ia merutuki bibirnya yang bahkan tidak bisa digerakkan pada saat seperti ini.

“ Eeheemmm … “. Yongsun berdeham untuk yang kesekian kalinya.

“ Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakanlah. Tidak usah berdeham … itu sangat mengganggu “. Ucap Hyukjae yang acuh tak acuh, sementara Yongsun hanya mendengus kesal.

“ Tidak ada yang ingin kukatakan “. Jawabnya santai. Lalu sebotol air mineral diserahkan Hyukjae sementara tangannya yang lain sibuk memegang kemudi.

“ Ini apa ?”. Tanya Yongsun yang hanya menatap botol air itu.

“ Kau tidak ingin mengatakan sesuatu. Jadi mungkin ada yang tidak beres dengan tenggorokanmu, minumlah agar aku tidak mendengar kau berdeham lagi “.

“ Tenggorokanku tidak apa-apa Hyukjae-ssi “. Yongsun benar-benar kesal kini, intonasi suaranya dinaikkan satu oktaf.

“ Wah, lihatlah suaramu jadi meninggi seperti itu, mungkin benar ada yang salah dengan tenggorokanmu, sini biar kuperiksa “. Ucap Hyukjae setelah meletakkan botol air ke jok belakang, lalu ia menggerakkan tangannya kerah tenggorokkan Yongsun. Yongsun seketika itu berubah jadi sangat panik. Tiba-tiba saja ia mengigit tangan Hyukjae yang hampir saja menyentuh lehernya.

“ AAAWWWWW !!! YA !!! KAU MAU MEMBUNUHKU ??!!! “. Teriak Hyukjae yang kini memegangi tangannya, dia beralih sejenak dari kemudinya dan memang pada saat itu sedang lampu merah.

“ Makanya jangan macam-macam denganku “.

“ Lihat !!!! ini berdarah … Aisshhh …. Kau tidak tau aku punya penyakit yang berbahaya … jika aku terluka sekecil apapun, maka darahnya tidak akan berhenti keluar … “. Muka Yongsun yang tadinya kesal kini berubah khawatir.

“ Benarkah ?”. Tanyanya mulai panik.

“ Aku bisa kehabisan darah dan mati “. Ucap Hyukjae yang masih serius memegangi tangannya. Yongsun dengan cekatan mengambil tissue dari tasnya dan memegangi tangan Hyukjae. Dia menekan luka kecil itu dengan tissue.

“ Ya .. lakukan seperti itu … “. Ucap Hyukjae sembari menahan tawanya. Dia benar-benar mengerjai Yongsun, penyakit itu dikarangnya hanya untuk mendapatkan perhatian Yongsun saat ini. Dia benar-benar senang .. sangat senang.

“ Kenapa tidak kau saja yang melakukannya ?”.

“ Aku harus mengemudikan mobil ini, kau mau aku mati kehabisan darah saat mengemudikan mobil ini ?”. Yongsun hanya mengerucutkan bibirnya, masih tidak mempercayai kata-kata Hyukjae. Dengan terpaksa iapun kembali memegang tangan itu.

“ Hhmm, baiklah … apa benar ada penyakit seperti itu ?”. Tanya Yongsun yang khawatir sekaligus masih tidak percaya.

“ Kau tidak percaya ? ….. apa jika aku sudah mati baru kau mempercayainya ?”.  Yongsun kali ini menerima kenyataan bahwa pria ini benar-benar mempunyai kondisi yang parah. Dalam kekhawatirannya ia mengeratkan genggaman tangannya. Hyukjae hanya bisa tersenyum kecil menyadari perlakuan Yongsun itu, tangan gadis ini benar-benar hangat pikirnya.

Tidak beberapa lama kemudian, mobil sport hitam itu berhenti di depan toko roti Snowflake. Yongsun masih tetap dalam posisinya memegangi tangan Hyukjae.

“ Apa kau tidak mau turun ?”. Tanya Hyukjae menatap gadis disampingnya itu.

“ Bagaimana dengan tanganmu ?”. Hyukjae hampir tertawa mendengar pertanyaan polos sang gadis, dalam hatinya ia merasa bersalah telah membohongi Yongsun.

“ Aku akan mengatasinya “. Hyukjae berpura-pura memegangi tangannya dan sesekali melirik Yongsun yang baru saja keluar dari mobilnya.

“ Hei !! “. Yongsun yang tadinya akan masuk kedalam Snowflake berhenti sejenak setelah Hyukjae tiba-tiba memanggilnya.

“ Ada apa lagi ?”. Tanpa menjawab pertanyaan Yongsun, Hyukjae maju melangkah menatap Yongsun dengan tatapan lembutnya.

DEG.

Yongsun berusaha mengontrol pikiran dan perasaannya kali ini. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Hyukjae dari jarak sedekat ini. Jantungnya sudah bertingkah tidak normal sejak tangan Hyukjae dari tadi ada digenggamannya. Hyukjae yang sedari tadi menatapnya kini berlutut dihadapan Yongsun dan memperhatikan tali sepatu Yongsun yang sudah terlepas. Dia perlahan membenarkan dan mengikat tali sepatu Yongsun.

 

Yongsun Point Of View *

Apa yang terjadi denganku ?

Aku mungkin berbohong ketika aku berkata ; Aku tidak menyukai tatapan mata itu

Aku berusaha mengendalikan perasaanku. Aku tidak akan jatuh saat ini. Ini hanya perhatian kecil pikirku. Namun, ada perasaan senang yang luar biasa ketika dia sedang memperhatikanku seperti ini. Bayangkan … tidak ada pria yang pernah mengikatkan tali sepatuku, baiklah mungkin itu tidak penting(?).

“ Kenapa kau ceroboh sekali ?”. Ucap Hyukjae bangkit dan melihatku sejenak, aku berani bertaruh ekspresi wajahku benar-benar bodoh saat ini. Sangat memalukan.

Aku masih menatapnya meskipun kini ia sudah berada didalam mobilnya dan perlahan menghilang dari pandanganku. Aku menarik pintu kaca Snowflake dan beranjak masuk.

“ Kenapa kau senyum-senyum seperti itu Yongsun-ah ?”. Tanya Kirin eonni mengagetkanku.

“ Aku ?? tidak .. mungkin eonni salah lihat “.

“ Benarkah ? …. Tapi aku merasa kau bahagia sekali hari ini “.

“ Hhhmm .. cuacanya indah … sore yang yang indah .. benarkan “.

“ Yasudahlah .. Oh iya Yongsun, aku akan pergi sebentar, tolong kau tangani dulu toko ini .. “.

“ Baik eonni .. “.

Aku buru-buru masuk kedalam ruangan khusus karyawan untuk meletakkan barang-barang. Toko tidak terlalu ramai, untung aku tidak sendiri lagi, beberapa hari yang lalu 2 orang pria datang melamar ditoko ini. Aku beringsut keluar menuju mesin kasir sambil mengenakan (Apron) celemek dipinggangku.

“ Selamat Sore, mau pesan apa nona ?”. Tanyaku ramah pada seorang wanita yang baru masuk ke Snowflake. Tapi ada yang aneh dengan wanita tersebut. Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah sibuk memperhatikan sekelilingnya.

“ Umm … Apa Hyukjae ada disini ?”. Tanyanya tiba-tiba

“ Hyukjae ?? …. Dia tidak ada disini “.

“ Kira-kira kapan dia akan kemari ?”.

“ Entahlah, aku tidak tau. Dia jarang kemari … apa kau mau meninggalkan pesan untuknya ?”.

“ Katakan saja padanya Park Miina datang mencarinya “.

TBC ////

8 thoughts on “[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 4)

  1. park miina sapa tuh? jangan-jangan masa lalunya hyukjae.. 😮 ya ampun thor, kenapa adegan shoot nya keren bgt *bayangin hyuk di mv SPY* 😀 yang ada disini jonghyun SHINee ato CN blue, mungkin CN Blue kali yah 😀 next part sangat sangat ditunggu..masih pensaran

  2. Siapa Park Miina, kenapa tiba2 cari Hyukjae oppa.. Mudah2an nanti Hyukjae oppa bs bersatu cintanya dgn Yong Sun

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s