Restless (Part 1)

A Story by Pseudonymous

Title: Restless || Main cast: 2PM’s Wooyoung & SNSD’s Taeyeon || Genre: Romance & Life || Length: Chapter || Disclaimer: Terinspirasi dari film dengan judul yang sama || Credit Poster: Tumblr

***

Ia mabuk dan terhuyung-huyung keluar dari lift, lalu memencet bel pintu. Tidak ada yang menjawab. Taeyeon mengeluarkan kunci-kuncinya dari saku, dan dengan kikuk ia membuka pintu.

Lampu di ruang duduk menyala; ruangan itu sepi. Patung Bunda Maria yang dibeli oleh ibunya seolah mengawasinya. Dengan tersaruk-saruk ia menuju kamar tidurnya, namun berhenti sejenak di depan pintu kamar yang pernah ditempati oleh ibunya. Pelan-pelan ia membuka pintunya. Tampak olehnya sosok ibunya yang berbaring miring di tempat tidur.

Taeyeon masuk ke dalam kamar dan membetulkan selimut yang tak sengaja tersibak oleh angin yang masuk lewat jendela; lalu ia keluar lagi, menutup pintu di belakangnya dengan pelan.

Di dapur, ia menuang segelas air dari wadah di atas meja, lalu sambil minum ia memandang sekelilingnya. Tidak ada yang berubah. Dengung mesin lemari es masih tetap sama, begitu pula bak cuci dengan tumpukan piring dan mangkuk yang belum dicuci. Dibiarkannya kepalanya terkulai ke depan, lalu ia masuk ke kamar dan memandangi kakaknya yang sedang tidur. Diraihnya selimut yang menutupi tubuh kakaknya dan disentaknya hingga tersingkap. Kakaknya terduduk dengan kaget dan menggosok-gosok mata.

“Kapan kau sampai di rumah?” Yisook mendesah mendapat perlakuan kasar demikian. “Apa kau habis minum-minum?” Yisook merebut kembali selimut-selimut dari tangan Taeyeon, dan merapikannya.

“Kenapa kau tidur?” Suaranya bernada orang mabuk.

Yisook menatapnya heran dan melicinkan baju tidurnya. “Apa? Aku mengantuk dan tentu saja aku akan tidur!”

Wajah Taeyeon memerah. “Apa kau sudah gila?!”

“Memangnya aku mesti bagaimana? Dan seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau sudah gila membangunkan orang yang mengantuk dan tiba-tiba mengamuk seperti ini?” Yisook balas berteriak.

“Kau membiarkan dapur kotor dan masih banyak piring dan mangkuk yang belum dicuci dan dibersihkan!” teriak Taeyeon marah. “Apa kau tidak lihat, Ibu sedang letih dan sudah tidak sanggup untuk membersihkan rumah seorang diri! Kau seharusnya membantunya!”

Kemarahan di wajah Yisook menyurut seperti ombak. Ia tidak lagi merasa marah pada adiknya, karena ia tahu Taeyeon hanya sedang dibawah pengaruh mabuk. “Taeyeon,” panggilnya sambil bangkit berdiri. “Ibu sudah tidak ada, Taeyeon. Kau ini hanya mabuk.”

Taeyeon menepis tangan Yisook dengan kasar ketika kakaknya mencoba untuk meraih lengannya dan menenangkannya. “Kau gila! Ibu masih hidup! Ia ada di dalam kamar dan sedang tidur karena letih sekarang.”

Yisook menggeleng dengan lelah. “Taeyeon, tenangkan dirimu. Duduklah dan aku akan membuatkanmu sup untuk menghilangkan efek mabukmu.”

“Jangan sentuh aku!” Taeyeon meraih tongkat golf dari sudut dan hendak melemparkannya ke seberang ruangan.

Yisook menatap adiknya dengan prihatin sekaligus takut. “Taeyeon, aku mohon padamu, berhentilah bersikap seperti ini,” bisiknya sambil mendekat dengan hati-hati. “Ibu sudah pergi, Taeyeon. Ibu sudah meninggal dan kau harus menerima kenyataan itu. Kau harus menjadi orang yang kuat, seperti yang dipesankan Ibu pada kita. Kau mengerti, kan?”

Taeyeon terdiam. Tangannya yang menggenggam erat tongkat golf mulai memerah dan bergetar.

Yisook meraih tongkat golf itu dari tangan Taeyeon dan membantunya duduk di meja makan. Sementara Yisook mulai menyalakan kompor dan membuat sup, Taeyeon menggigit bibirnya dan rasa panas merebak di dadaya. Digosok-gosoknya dadanya dengan dua tangan, sebagaimana kebiasaan yang ibunya lakukan. Ibunya akan menggosok-gosok dada Taeyeon jika ia sedang marah dan dikuasai emosi. Dan sentuhan lembut ibunya akan selalu berhasil menenangkannya.

Yisook diam-diam melirik adiknya ke belakang dan mendengar suara tangisan lirih itu berubah menjadi sesegukkan yang memilukan.

***

Yisook mendongak pada jam dinding. Pukul dua pagi. Taeyeon telah menghabiskan dua mangkuk sup untuk menghilangkan rasa mabuknya dan jatuh tertidur di kamar Ibu. Yisook menutup jendela kamar yang terbuka dan menunduk menatap adiknya tertidur dengan memeluk bantal. Sudah berkali-kali sejak ibunya meninggal, Taeyeon terus membayangkan bantal itu sebagai Ibu. Dan setiap kali Yisook melihat pemandangan itu, hatinya meringis kesakitan.

Ia keluar dari kamar, menutup pintu, dan jatuh bersandar pada daun pintu sambil menangis lirih. Yisook tidak pernah ingin terlihat menyedihkan di depan adiknya. Yisook adalah orang yang selama ini berusaha menguatkan adiknya, tapi kalau saja Taeyeon tahu bahwa kakaknya tidak cukup kuat sama seperti dirinya.

***

“Tak bisakah kita coba saja?”

Wooyoung mendengar ayahnya meringis dan memohon kepada dokter. Dan sang dokter mengerutkan bibir.

“Bisa saja,” sahut sang dokter. “Tapi kemungkinan kesembuhannya sangat sedikit. Dan risikonya juga sangat besar, karena Wooyoung mungkin tidak akan cukup kuat setelah sesi terakhir dan itu cukup berbahaya.”

Wooyoung terus mengancingkan kemejanya dan memasang telinga.

Didengarnya ayahnya mulai menangis dengan suara lirih. Ia tidak cukup tega, tapi bisa melakukan apa?

Setelah pembicaraan itu selesai, Wooyoung akan tetap menjalankan proses penyembuhan itu, namun menunggu waktu beberapa hari lagi agar kondisi tubuhnya membaik dan stabil. Ayahnya diam saja ketika Wooyoung muncul di hadapannya dengan pakaian tidur rumah sakit serta gelang identitas di tangannya.

“Apakah aku terlihat sangat tampan?” Wooyoung tertawa, tapi ayahnya tidak. Candaan itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengurangi atmosfir menegangkan itu, tapi ayahnya sepertinya tidak tertarik sama sekali.

Wooyoung tersenyum pada ayahnya dan meraih tangan pria tua itu. “Aku akan baik-baik saja, Yah. Aku akan baik-baik saja, aku yakin.”

***

Taeyeon duduk di depan jendela dan mengamati air hujan menampar kaca. Langit sangat gelap di luar sana dan yang terdengar hanyalah suara air hujan yang mengenai atap rumah. Ia duduk sepanjang hari di sana, menekuk lututnya, dan meringkuk menahan dingin.

“Taeyeon.” Yisook mengetuk dan membuka pintu kamar adiknya. “Ini hampir sore hari, apakah kau tidak lapar? Kau hanya sarapan roti dan belum makan apa-apa siang ini. Mau kubuatkan sesuatu?”

“Tidak. Aku masih belum lapar,” sahutnya tanpa menoleh dari jendela.

Yisook mendesah khawatir. “Kau yakin?”

Taeyeon membisu.

“Kau harus makan sesuatu, Taeyeon. Bagaimana jika kau jatuh sakit?”

Taeyeon tetap tak bergeming.

Yisook memandangi kamar adiknya dan melihat tumpukan amplop dan brosur di atas meja belajar. Amplop itu berisi surat dari universitas Dongguk yang mengabarkan bahwa Taeyeon telah diterima menjadi mahasiswi kedokteran. Beberapa minggu lagi, upacara penerimaan mahasiswa baru akan digelar dan seharusnya Taeyeon bersemangat dalam menyambut status barunya itu. Tapi justru sebaliknya, kematian ibunya membalikkan keadaan hanya dengan beberapa detik.

Ibu mereka menderita penyakit Leukemia dan sudah dirawat di rumah sakit sejak beberapa bulan yang lalu. Ketika ibunya masih ada, Taeyeon begitu bersemangat untuk dapat menembus fakultas kedokteran universitas Dongguk. Ia sudah berjanji pada ibunya akan belajar dengan baik di sana, menjadi ilmuwan, dan menemukan obat untuk penyakit yang menggerogoti ibunya.

Sayangnya, Taeyeon tidak dapat mewujudkan mimpinya saat ibunya menghembuskan napas terakhir dan ia memilih untuk mengubur mimpi itu dalam-dalam, karena bagi Taeyeon, ibunya adalah satu-satunya alasan untuknya untuk tetap hidup dan berjuang.

“Untuk apa aku berjuang untuk sesuatu yang sia-sia?” Begitu kata Taeyeon ketika Yisook mencoba menyemangatinya. Tapi, semua memang sia-sia. Taeyeon kini tidak lebih dari seonggok daging dan tulang yang mulai kehilangan semangat hidup.

“Aku akan keluar sebentar untuk pergi berbelanja,” kata Yisook, menoleh lagi pada adiknya. “Kau tidak apa-apa jika kutinggal sendiri di rumah?”

Taeyeon mengangguk lemah. “Aku akan baik-baik saja.”

“Baiklah.” Yisook menghela napas dan menutup pintu dengan rasa kecewa di dadanya.

***

Sembari menunggu kakaknya pulang, Taeyeon membuka internet dan mengetikkan sebuah situs ke addressbar. Ia telah begitu lama ingin membuka situs itu, namun terhalang oleh keraguannya sendiri. Namun, akhirnya memberanikan diri untuk membuka situs itu juga.

Seperti dugaannya, tampilan pertama situs itu akan dipenuhi oleh lagu-lagu sedih tentang kematian, tentang orang-orang yang ditinggalkan, dan orang-orang yang pergi. Keseluruhan tampilan situs dipenuhi oleh warna hitam pekat. Taeyeon menarik scroll mouse­-nya dan membaca sekilas headline-headline artikel yang ada di sana.

Beberapa artikel membuatnya merinding, tapi ada juga beberapa yang menarik perhatiannya. Ia mengambil buku catatannya dan sebuah bolpoin, lalu menulis beberapa hal yang ia rasa penting untuk dicatat. Ia menulis tulisan itu besar-besar dan membacanya ulang, “Rencana Kematian.”

***

Wooyoung berdiri di depan jendela dan tidak bisa melihat apa pun di luar sana karena langit yang gelap dan hujan yang deras. Ia ingin sekali bisa melihat sesuatu di luar sana, sedang mencari-cari, tapi tidak mengetahui persis apa yang sedang ia cari. Susternya—Tiffany—yang sedang berdiri di belakangnya mengganti seprai tempat tidurnya dan mengantarkan camilan sore hari.

“Ini susu dan beberapa kue muffin untukmu, Wooyoung.”

Wooyoung beranjak dari jendela dan duduk di tepi ranjang. “Terimakasih.”

Tiffany tersenyum. “Sama-sama. Kau membutuhkan sesuatu yang lain? Akan kuambilkan jika kau perlu sesuatu.”

“Aku membutuhkan sesuatu, tapi aku menginginkan hal ini darimu,” sahut Wooyoung.

Tiffany agak terkejut, lalu mengganti raut terkejutnya dengan sebuah senyum hangat. “Apa yang kau butuhkan? Kau ingin aku melakukan sesuatu?”

“Ya. Aku ingin kau menjawab pertanyaanku.”

“Baiklah.” Tiffany duduk bersama Wooyoung dan menatapnya. “Apa yang ingin kau tanyakan? Aku akan menjawabmu semampuku.”

“Kemana orang pergi sesudah meninggal?”

Tiffany terdiam dan membelalak. Waktu seakan berhenti di sekelilingnya, tapi detik jarum yang ada di atas kepalanya terus berbunyi dan mengeluarkan suara yang menyeramkan. Untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus berkata apa. Ini topik yang sangat sensitif dan sangat ingin ia hindari. Tapi, sorot mata Wooyoung tampak berbinar-binar dan begitu ingin mengetahui pendapatnya.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?” tanya Tiffany setelah jeda yang agak lama.

“Aku mendengar dari dokter, kau adalah suster yang dikhususkan untuk merawat orang-orang yang sedang sakit parah seperti aku. Aku hanya penasaran, apakah selama ini kau tidak pernah tahu, kemana orang-orang yang kau rawat itu pergi? Atau mungkin, mereka pernah menceritakan sesuatu padamu?”

Tiffany mengedikkan bahu. “Entahlah, aku juga tidak begitu yakin. Mungkin mereka menjadi hantu dan menghantui orang-orang. Ada kemungkinan juga, mereka akan bereinkarnasi dan dilahirkan kembali sebagai orang lain atau sesuatu yang lain—seperti pohon atau awan—mungkin?”

Mata Wooyoung semakin membinar-binar, seperti anak umur lima tahun yang mengharapkan ayahnya mendatangkan badut di pesta ulangtahunnya yang ke enam. “Selain itu?”

“Mungkin rasanya hanya seperti tertidur. Atau rasanya mungkin sama sekali berbeda. Tidak ada yang mengetahuinya secara persis, Wooyoung.”

Pundak Wooyoung melorot dengan kecewa. Ia tidak cukup puas dengan jawaban Tiffany dan masih ingin menanyakan yang lain, tapi Tiffany tidak bersedia.

“Maaf, Wooyoung, aku masih harus segera kembali ke dapur dan mengantarkan camilan untuk pasien-pasien yang lain,” katanya. “Sebaiknya kau habiskan susu dan kue muffin-mu lalu tidur.”

Wooyoung mengerutkan bibirnya dan mengawasi kepergian Tiffany dengan perasaan kesal. Sepertinya ia harus memastikan jawabannya sendiri. Ia meneguk susunya hingga tandas, lalu berlari keluar rumah sakit dengan membawa sweater dan payung.

***

“Kau mau kemana?”

Taeyeon mendongak dari ranselnya dan memandang kakaknya sekilas. “Pergi.”

Yisook memutar bola mata. “Ya, aku tahu kau akan pergi. Tapi kemana? Apa kau tidak tahu cuaca di luar sedang tidak bagus? Sangat berisiko jika kau keluar di hari hujan seperti ini, Taeyeon.”

“Aku akan membawa payung dan jaket. Tenang saja,” katanya sambil mengikat tali ranselnya.

“Tapi—”

“Aku pergi dulu,” sela Taeyeon sambil menenteng ranselnya. “Tenang saja, aku akan segera kembali.”

Taeyeon tidak memberi kesempatan Yisook untuk mencegatnya, dan berlari menuju pintu. Ia mengembangkan payung hitamnya dan berjalan menembus hujan yang kini sudah mereda menjadi butir-butir rintik. Taeyeon sempat berhenti sejenak dan mengeluarkan buku catatannya. Ia membaca tulisan ‘Rencana Kematian’ yang ia tulis dan sudah menetapkan hati. Tujuan pertamanya adalah mengunjungi makam Ibu.

***

Makam gaya Barat kuno itu terletak di atas sebuah bukit, sekitar satu setengah mil dari rumah sakit. Pemakaman itu dikelilingi pagar papan yang sudah reyot, di beberapa tempat condong ke dalam, dan yang selebihnya condong ke luar, tetapi ada satu yang masih berdiri tegak. Rumput dan ilalang tumbuh lebih tinggi daripada beberapa makam. Semua makam tua sudah melesak. “Suci dalam kenangan akan” dan seterusnya, dahulu pernah dituliskan di atasnya, tetapi hampir semuanya tidak bisa dibaca lagi.

Wooyoung berhenti di makam baru yang batu nisannya masih berdiri tegak dan tanahnya masih kecokelatan. Terdengar angin lembut berdesau di antara pepohonan. Wooyoung mendongak dan mengira itu mungkin roh-roh orang mati, yang mengeluh karena terganggu. Dan tiba-tiba saja kesunyian itu membuat jiwanya tertekan.

“Apakah aku mengenalmu?” Wooyoung hampir saja melompat dan berteriak ketakutan karena mendengar suara seseorang dari belakang punggungnya, tapi ia mencoba menahan diri untuk tidak melakukannya sampai ia berhasil memastikan apakah suara itu milik manusia atau bukan.

Seorang gadis berambut cokelat terang menatapnya heran cenderung ke curiga. Gadis itu membawa ransel dan memegang sebuah buku catatan di tangannya. Dan sepertinya, gadis itu hanyalah gadis biasa dan tidak mengancam.

“Apa?” Wooyoung bertanya dengan nada canggung.

“Aku bertanya padamu, apakah aku mengenalmu?” ulang si gadis.

Wooyoung mengernyitkan hidung dan tersenyum geli. Ia memandang ke sekelilingnya dan balik bertanya, “Apakah semua orang harus mengenalmu?”

Gadis itu menggeleng. “Tidak, tidak. Maksudku, apa yang kau lakukan di sini?”

Wooyoung kali ini tertawa. “Apa yang kulakukan di sini? Ini pemakaman dan ini tempat umum. Semua orang boleh datang kemari.”

Gadis itu menepuk jidatnya dan mulai tidak tahan dengan ketololan yang terus-menerus ditunjukkan Wooyoung. “Maksudku, apa yang sedang kau lakukan di depan makam ibuku?”

“Oh!” Wooyoung mengangguk mengerti dan menunduk menatap batu nisan di hadapannya, lalu membaca tulisannya dengan suara keras, “Cha Yoonhee. Satu September, dua ribu dua belas.” Wooyoung membelalak dan menoleh lagi pada gadis itu. “Ibumu baru saja meninggal?”

Gadis itu mengangguk.

“Penyebab kematiannya?”

“Maaf, ibuku melarangku untuk menceritakan hal-hal pribadi pada orang yang tidak dikenal.”

“Tidak, tidak!” Wooyoung menggeleng. “Aku serius. Aku hanya ingin tahu penyebab ibumu meninggal.”

Gadis itu mengamati Wooyoung dari bawah ke atas dan menandai logo sebuah rumah sakit yang menyembul keluar dari garis dada jaket yang dipakainya. “Kau bekerja di rumah sakit?” tanyanya, memilih untuk mengabaikan pertanyaan Wooyoung.

Wooyoung ikut menunduk kearah dadanya. “Ehm.. Ya, aku bekerja di rumah sakit,” ujarnya berbohong.

“Oh yah? Sebelum ibuku meninggal, ia sempat dirawat di rumah sakit itu,” kata si gadis. “Apa pekerjaanmu di rumah sakit? Kau terlihat masih muda, jelas sekali kau bukan seorang dokter.”

Wooyoung memberengut tidak senang ketika gadis itu menatap remeh kearahnya. “Maaf, aku tidak bisa memberitahumu profesiku di rumah sakit karena ibuku melarangku untuk memberitahu hal-hal pribadi pada orang yang tidak dikenal,” balasnya sinis.

“Cih!” Gadis itu memutar bola matanya dan mendesis sinis.

Wooyoung tersenyum penuh kemenangan. Ia menjulurkan kepalanya untuk mengintip kearah buku catatan yang dipegang oleh gadis itu. “’Rencana Kematian’?”

Gadis itu baru saja akan berteriak marah karena Wooyoung mengintip ke buku catatannya, tapi terkejut ketika melihat setetes darah jatuh ke bukunya. Ia memandangi Wooyoung dan Wooyoung mundur selangkah karena juga terkejut melihat darah itu.

Gadis itu memandanginya dan menjerit, “Hidungmu!”

Wooyoung meraba lubang hidungnya. Ternyata penuh darah.

***

Mereka berdua kini berteduh ke sebuah rumah kosong berlantai tiga yang jaraknya tidak begitu jauh dari pemakaman. Mereka memilih lantai tiga untuk berteduh karena di lantai satu dan dua penuh oleh hewan-hewan pengerat yang membuat Taeyeon bergidik jijik. Rumah itu sepertinya sedang dibangun, namun diberhentikan di tengah jalan karena sesuatu—masalah finansial, mungkin? Beranda rumahnya bahkan tidak dipasangi terali dan akan sangat berbahaya jika berdiri di pinggir sana.

Taeyeon menghampiri Wooyoung dan berkata, “Tidak apa-apa. Coba dongakkan kepalamu. Nah, begitu. Kau hanya mimisan. Tidak apa-apa. Tunggu sebentar, aku punya tissue dalam ranselku.”

Wooyoung memandangi Taeyeon dengan ekspresi ganjil. Taeyeon sepertinya bertindak diluar perkiraannya. Taeyeon terlihat sangat panik, yang seharusnya kepanikan itu dialami oleh Wooyoung. Tapi Wooyoung sudah tahu ia akan mengalami mimisan dan telah belajar jauh-jauh hari untuk mengatasi kepanikannya.

Taeyeon dengan lembut menaikkan dagu Wooyoung dan mengusap darah yang mengotori sekitar mulut pemuda itu dengan tissue. Kemudian, Taeyeon menarik beberapa lembar tissue lagi dari dalam ranselnya dan menyumbat lubang hidung Wooyoung. Setelah itulah, Wooyoung baru bisa melihat Taeyeon bisa bernapas lega.

Wooyoung meraba-raba tissue yang menutup lubang hidungnya dan tertawa geli kearah Taeyeon. “Kau terlihat sangat panik tadi.”

Taeyeon duduk bersila di lantai yang dingin dan mengusap dahinya yang tidak benar-benar basah oleh keringat. “Maaf, itu hanya gerakan refleks. Aku tidak pernah sanggup melihat orang mimisan.”

Wooyoung memandanginya serius. “Kenapa?”

Taeyeon memilin-milin tissue yang dipegangnya dan menggumam dengan suara pelan, “Karena hal itu pasti selalu mengingatkanku pada Ibu.”

Wooyoung merasakan jantungnya mulai berpacu. “Ibumu.. menderita Leukemia?”

Taeyeon menatapnya takjub. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Wooyoung mengedikkan bahu dan menarik gelang identitas di tangannya agar bersembunyi di balik jaket. “Kau tahu, aku bekerja di rumah sakit dan sudah melihat begitu banyak pasien yang menderita penyakit yang sama, jadi aku sudah menghapal gejala-gejalanya.”

“Ah.” Taeyeon menganggukkan kepalanya. “Tapi, kenapa kau tiba-tiba mimisan seperti tadi?”

“Ehm, mungkin karena aku terlalu letih,” sahut Wooyoung. “Kau tahu, di rumah sakit begitu banyak pasien yang manja dan harus diurus.”

Taeyeon mengangguk dan tertawa, tapi Wooyoung hanya tersenyum sedih.

Wooyoung menatap buku catatan Taeyeon yang tergeletak di lantai dan berkata, “Aku membaca tulisanmu tadi.”

Wajah Taeyeon bersemu merah karena malu dan menarik buku catatan itu ke dalam pelukannya. “Aku masih memaafkanmu karena kau mimisan tadi, tapi jika tidak, aku pasti sudah menonjokmu sampai hidungmu berdarah.”

Wooyoung tertawa. “Tapi, mengapa kau menuliskan hal yang aneh di buku catatanmu?”

Taeyeon meliriknya sinis. “Apanya yang aneh?”

Wooyoung mengangkat alisnya. “’Rencana Kematian’?”

Taeyeon menggaruk kepalanya dengan kikuk dan menggumam, “Ehm, itu hanya—”

“Apa kau sedang berencana untuk bunuh diri?” tanya Wooyoung lagi, masih tertawa.

Taeyeon tidak menjawab dan Wooyoung benar-benar berhenti tertawa. Pemuda itu menatapnya serius. “Hei, apa kau benar-benar serius ingin bunuh diri?”

Taeyeon berdiri dan berjalan menuju beranda. “Memangnya apa yang salah dengan bunuh diri?”

Wooyoung ikut berdiri. “Tapi, kenapa?”

“Karena aku letih!” teriak Taeyeon marah. Suaranya bergema di rumah kosong itu. “Aku merasa sia-sia hidup di dunia ini sejak ibuku pergi. Aku kehilangan semangat hidup jika ia tidak ada di sini. Aku tidak sanggup menjalani hidup jika ia tidak ada bersamaku dan mendukungku. Yang kutahu adalah kematian adalah hal yang gampang dan kehidupan adalah hal yang sulit.”

Wooyoung terdiam. Kau gadis yang menyedihkan. Selalu mencari jalan pintas untuk keluar dari masalahmu sendiri.

Taeyeon membalikkan badan dan menatap Wooyoung. “Aku sudah membuka situs bunuh diri yang kutahu dan ingin melakukan salah satu cara bunuh diri itu nanti.”

Wooyoung mendesah dan berjalan menghampirinya. “Apa yang membuatmu berpikir bahwa kematian adalah hal yang gampang?”

Taeyeon merasa tertekan ketika Wooyoung menghampirinya dengan langkah pelan dan berat. “Ya, tentu saja kematian adalah hal yang gampang, karena kau tidak perlu berpikir lagi jika kau sudah meninggal.”

“Oh yah?” Wooyoung tersenyum kecil dan terus mendekat.

Taeyeon mulai merasakan kepanikan naik ke tenggorokannya. Seharusnya ia mengikuti saran ibunya untuk tidak menceritakan hal pribadi kepada orang yang baru saja ia kenal.

“A-apa yang hendak kau lakukan, huh?” tanyanya dengan suara bergetar.

Tapi Wooyoung tidak menjawab dan terus memasang senyum seperti itu. Taeyeon perlahan-lahan mundur kearah beranda ketika jarak Wooyoung tak sampai lima langkah darinya.

Ya, jangan mendekat!” jerit Taeyeon ketakutan. Pikirannya sudah kemana-mana. Pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi, dan semacamnya. “Jangan mendekat, kataku! Atau—”

“Atau apa?” bisik Wooyoung sambil menyeringai.

Taeyeon ingin menjerit meminta tolong, tapi suara hujan di luar mungkin akan meredamkan teriakannya. Tidak ada gunanya. Tumit sepatunya kini sudah sampai di pinggir beranda yang tidak berterali. Taeyeon menunduk ke bawah dan melihat tanah yang keras seolah melambai kearahnya dan siap menyambutnya kalau ia jatuh. Saat ia berbalik lagi, Wooyoung sudah berdiri rapat di hadapannya. Ujung sepatu Wooyoung sudah menyentuh ujung sepatunya.

“Apa yang kau lakukan, Bodoh?!” jerit Taeyeon ketakutan.

Wooyoung masih tersenyum dan mendorong-dorong kaki Taeyeon. Tubuh gadis itu mulai bergetar di pinggir beranda dan tangannya refleks menggapai jaket Wooyoung. Belum juga puas, Wooyoung mendorong lutut Taeyeon lebih keras dan kini setengah kaki Taeyeon telah berada di luar garis batas beranda. Taeyeon menjerit keras dan memeluk tubuh Wooyoung dengan erat sambil memejamkan mata.

“Tolong, tarik aku! Tarik aku!” jeritnya.

Wooyoung tersenyum penuh kemenangan dan berbisik, “Lihat…”

Taeyeon mendongak kearahnya dengan perasaan campur aduk—takut dan bingung. Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.

Wooyoung tersenyum kearahnya, melirik ke bawah dan lanjut berbisik, “Apakah kematian masih terlihat mudah untukmu?”

To be continued…

***

NB: Pertama-tama, saya pengen minta maaf untuk seluruh readers yang sudah membaca FF “Brilliant Legacy” karena dengan sangat terpaksa, FF itu saya cancel atau diberhentikan karena penyakit author, yaitu writer’s block T.T Tapi, sebagai balasannya, saya mengganti FF itu dengan ide terbaru saya. Mudah-mudahan pada suka yah 🙂 So, jangan lupa tinggalin komentar, karena semakin banyak komentar part selanjutnya akan saya publish as soon as possible.

88 thoughts on “Restless (Part 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s