Restless (Part 2)

A Story by Pseudonymous

Title: Restless || Main cast: 2PM’s Wooyoung & SNSD’s Taeyeon || Genre: Romance & Life || Length: Chapter || Disclaimer: Terinspirasi dari film dengan judul yang sama || Credit Poster: Tumblr || Previous part: Part 1

***

Hujan sudah berhenti. Hanya meninggalkan tetesan-tetesan terakhir pada sudut-sudut genting. Angin berdesau dan menusuk tulang. Segala sesuatunya tampak berhenti di awal. Taeyeon terdiam cukup lama dan terus mencengkeram ujung jaket Wooyoung erat-erat.

“Apakah kematian masih terlihat mudah untukmu?” bisik Wooyoung. Napasnya terasa hangat di wajah Taeyeon—dan ada sedikit bau susu dalam napasnya. “Aku akan melepaskanmu sekarang, jika kau memang ingin mati.”

Taeyeon menelan ludah. Seringai di wajah Wooyoung kini telah digantikan oleh raut serius. Dan saat itu Taeyeon tahu bahwa Wooyoung sedang tidak main-main dengan ucapannya. Gadis itu menunduk dengan pelan ke bawah. Jaraknya dari atas ke bawah bisa mencapai puluhan meter dan Taeyeon sudah bisa membayangkan kepala dan seluruh tulangnya remuk di tanah yang keras kalau-kalau Wooyoung akan melepaskan pelukannya.

“Aku—”

“Ada apa? Bukankah kau ingin bunuh diri?” Wooyoung tertawa geli. Tawanya terdengar mencemooh. “Setelah kau meninggal, aku akan meminta bantuan dari rumah sakit untuk mengangkat jasadmu. Tapi..” Wooyoung melirik ke bawah dan menelengkan kepalanya. “Kau tahu, apa yang akan terjadi pada jasadmu kalau kau jatuh ke bawah. Hancur, remuk, berantakan. Akan butuh waktu lama bagi kami untuk..”

Taeyeon menatapnya dengan membelalak dan ketakutan. “Tarik saja aku,” pintanya lirih.

Wooyoung diam dan menatapnya. Taeyeon nyaris menangis saat itu, tapi berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat terlalu menyedihkan di depan Wooyoung.

“Aku mohon..”

“Baiklah.”

Wooyoung menarik tubuh Taeyeon dan gadis itu mendesah lega. Ia segera menjauh dari beranda dan memeluk ranselnya dengan ketakutan. Taeyeon merapikan semua barang-barangnya—memasukkan tissue dan buku catatannya ke dalam ransel, lalu berlari menuruni tangga.

Ya, kau mau kemana?” Wooyoung mengejarnya dari belakang, tapi Taeyeon terus menghindarinya.

Ya!”

“Aku mau pulang!” teriak Taeyeon, lalu berhenti di teras. Ia menoleh pada Wooyoung dan berkata, “Berhenti mengikutiku!”

Wooyoung terdiam di tempatnya. “Tapi, kau akan merubah pikiranmu, kan? Soal bunuh diri itu..”

Taeyeon memeluk ranselnya lebih erat. “Entahlah,” katanya, lalu berlari lagi.

Wooyoung mengerutkan bibir dengan curiga dan terus mengawasi punggung Taeyeon yang perlahan-lahan menghilang dari jangkauan matanya.

“Ia tidak akan mencoba bunuh diri lagi, kan?”

***

Tiffany berjalan mengitari teras rumah sakit sambil menggigiti kukunya. Ia mendongak ke jalanan berulang-ulang kali, mencari-cari sosok Wooyoung di sana. Hari sudah mulai gelap dan bintang mulai bermunculan, tapi Wooyoung belum juga kembali. Tiffany panik bukan kepalang saat ia menghampiri kamar Wooyoung dan tidak menemukan pasiennya dimana-mana. Apalagi keadaan pemuda itu sedang sangat rawan dan ia bisa jatuh pingsan dimana saja kalau merasa terlalu lelah.

“Dimana kau, Wooyoung?” gumamnya sambil menghentak-hentakkan kaki dengan gemas.

Tak berapa lama kemudian, Tiffany bisa menangkap siluet seorang pemuda di seberang jalan. Ia memicingkan mata dan beranjak maju. “Demi Tuhan!” serunya sambil mendesah lega. Kekhawatirannya meluap sudah setelah tahu bahwa orang itu adalah Wooyoung. “Darimana saja kau?!”

Wooyoung menutup payungnya dan melepas jaketnya yang basah. “Jalan-jalan sore.”

“Apa? Jalan-jalan sore? Di tengah cuaca seperti ini?”

“Memangnya ada apa? Aku bosan jika berada di rumah sakit dan hanya tidur,” gerutunya.

“Tidak, tidak, Wooyoung.” Tiffany menggeleng-geleng tidak senang. “Sangat berbahaya bagimu berjalan seorang diri tanpa pengawasan. Kau seharusnya bilang padaku jika kau ingin keluar.”

Wooyoung melipat jaketnya, menyampirkannya di lengan dan mengedikkan bahu. “Walaupun aku sudah mengatakannya padamu, apakah kau sungguh akan mengizinkanku keluar?”

Tiffany terdiam. Tidak.

“Tidak, kan?”

Tiffany masih diam.

Wooyoung mendesah dan meregangkan tubuhnya. “Aku ingin istirahat sebentar. Bangunkan aku ketika makan malamku sudah diantar.”

***

 Taeyeon duduk di kamar dan memandangi jam berputar selama beberapa menit pelan yang menjemukan ketika lagu Natal yang diputar Yisook di ruang tengah mengeras. Yisook ikut menyanyi seolah ikut koor. Nyanyiannya terdengar sangat percaya diri. Taeyeon menunduk menatap buku catatan yang ada di pangkuannya. Tulisan ‘Rencana Kematian’ yang ia tulis kini berubah menjadi ‘Rencan atian’ karena sebagian tulisannya tertutup oleh darah kering.

“Apakah kematian masih terlihat mudah untukmu?”

Taeyeon memberengut kesal. Ia merasa sangat marah sekaligus kecewa. Kenapa aku bisa terlihat begitu bodoh di depan pemuda itu? Taeyeon memang ingin mengakhiri hidupnya, tapi tidak dengan cara jatuh dari lantai tiga. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan cara yang lebih layak dan tidak terlalu menyakitkan. Tapi, bagaimana caranya?

“Boleh aku masuk?”

Taeyeon menoleh ke pintu dan melihat Yisook mengintip. “Tentu saja.”

Yisook masuk ke dalam kamar membawa kantung hitam besar—kantung sampah. Lagu Natal yang tadi ia putar kini tidak terdengar lagi dari ruang tengah. Suaranya telah dikecilkan.

Yisook memandang berkeliling, mencari-cari sesuatu. “Apakah ada sampah di kamarmu?”

“Disana!” Taeyeon menunjuk tempat sampah yang ada di sudut kamar, dekat meja belajarnya.

Yisook membungkuk untuk mengais-ngais tempat sampah itu dan memasukkannya ke dalam kantung sampah yang ia bawa. Ia memandang berkeliling lagi dan mengambil amplop-amplop kusut di atas meja, hendak menyatukannya dengan sampah yang lain.

Eonnie, apa yang kau lakukan?!” Taeyeon melonjak turun dari tempat tidur dan mengeluarkan amplop-amplop itu dari kantung sampah.

Yisook menautkan alis dengan bingung. “Ada apa? Bukankah kau tidak menggunakannya lagi?”

Taeyeon menepuk-nepuk amplop-amplop itu dan membersihkannya dari debu. “Aku masih menggunakannya.”

Yisook menatap amplop yang berisi surat kelulusan Taeyeon di universitas Dongguk dan mengulum senyum. “Apakah kau sudah menetapkan hatimu untuk melanjutkan pendidikanmu?”

“Ehm, belum,” sahut Taeyeon canggung. “Aku masih memikirkannya.”

Yisook tahu Taeyeon hanya berusaha mengelak. “Baiklah,” katanya sambil menarik kantung sampah bersamanya. “Pikirkanlah baik-baik.”

***

Ayahnya dulu bekerja pada yayasan amal yang mengurus anak-anak yang mengalami gangguan belajar. Ayahnya berhenti bekerja waktu Wooyoung mulai sering jatuh sakit. Sekarang, ayahnya di rumah saja, mengantarnya ke klinik beberapa kali dan mengurusi orang-orang yang datang berkunjung. Hari Minggu ayahnya libur, sebab ia pergi ke gereja dan lebih banyak berdoa setelah mengetahui keadaan Wooyoung. Wooyoung kadang-kadang ikut pergi juga, tapi sekarang tidak lagi, sebab ia benci jika orang-orang mulai bertanya-tanya soal penyakitnya.

“Bagaimana keadaanmu?”

Wooyoung tidur di atas ranjang dan sedang menonton berita. “Baik-baik saja.”

Wooyoung melirik ayahnya. Wajahnya merah dan bengkak. Pasti ayahnya baru saja pulang dari gereja dan menangis sepanjang hari di sana. Beberapa kali Wooyoung sering memergoki ayahnya menangis di ruang pengakuan dosa dan merasa bersalah karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk menyembuhkan Wooyoung.

Ayahnya duduk di tepi ranjang dan menepuk-nepuk pahanya. “Aku dengar dari Tiffany, kau mimisan hari ini.”

“Begitulah,” sahut Wooyoung tanpa berpaling dari TV.

Ayahnya terlihat sedikit kcewa ketika Wooyoung tak kunjung menoleh. “Apakah darahnya banyak?”

“Lumayan.” Masih tetap pada TV. Pembaca berita sedang menjelaskan perihal banjir di Thailand.

Ayahnya mendongak kearah TV, lalu pada Wooyoung. “Aku sudah memberitahu dr. Junsu soal mimisanmu.”

Kali ini perkataan tuan Jang berhasil menyita perhatian Wooyoung. Wooyoung mengecilkan volume TV sampai ruangan menjadi senyap, lalu menatap ayahnya. “Lalu, apa yang ia katakan?”

“Tidak banyak,” kata ayahnya. “Ia bilang kau akan diberi serum untuk menghentikan mimisanmu.”

Wooyoung mengangkat alis. “Hanya itu?”

“Ya. Dan Tiffany akan mengambil sampel darahmu sebentar lagi.”

Wooyoung beranjak dari ranjangnya dan duduk tegak di tepinya. Mendadak ia merasa sangat ketakutan. Ketika ayahnya menyarankan untuk melakukan kemoterapi, Wooyoung sudah mengetahuinya lebih awal kalau ia harus melewati tahap itu untuk sembuh. Ia membaca banyak artikel di internet dan menyiapkan diri untuk menghadapi kemoterapi. Namun, ketakutan yang berusaha diredamnya muncul ke permukaan saat proses itu telah tiba.

Tak berapa lama kemudian, Tiffany masuk ke dalam kamar.

“Waktunya sudah tiba, tuan Jang,” katanya. “Aku akan membawa Wooyoung untuk bertemu dengan dr. Junsu sekarang.”

Wooyoung mengikuti Tiffany menuju ruang operasi—tapi mereka tidak akan melakukan operasi. Dr. Junsu menyambut Wooyoung dengan senyuman ramah dan hangat. Dr. Junsu adalah seorang pria berumur enam puluh tahun dengan kepala botak. Sebenarnya ia tidak benar-benar botak. Wooyoung masih bisa melihat beberapa helai rambut putih di atas kepala polos itu kalau dr. Junsu berdiri di depan jendela yang terang atau tepat di bawah lampu. Dr. Junsu masih mempunyai rambut, hanya saja lebih sulit untuk dilihat.

“Tidak perlu tegang, Wooyoung,” kata dr. Junsu sambil menyiapkan Hickman Line—slang tipis panjang—yang akan dipasang di dada Wooyoung. “Rasa sakitnya hanya sebentar saja.”

Wooyoung telah merebahkan diri di atas ranjang operasi. Ia melirik Tiffany yang berdiri di sisinya. Tiffany tersenyum kearahnya. Menguatkannya. Tapi tetap saja Wooyoung merasa takut. Ia memicingkan mata ketika dr. Junsu menyalakan lampu yang ada di atas kepalanya.

Dr. Junsu mengangkat jarum suntik dan Hickman Line ke depan wajahnya. “Rasanya mungkin akan sangat sakit di awal, jadi tahanlah sebentar saja. Oke?”

Wooyoung mengangguk gugup.

Wooyoung mulai meringis saat jarum suntik menembus permukaan kulitnya, kemudian masuk, lebih dalam, nyaris menyentuh tulang. Ia ingin berteriak kesakitan dan memberontak, tapi ia sudah menaruh curiga bahwa keberadaan Tiffany di sana bukan tanpa alasan. Tiffany telah menahan lengan Wooyoung dengan kencang untuk mengunci pergerakannya.

Tubuh Wooyoung menegang beberapa detik, lalu mulai jatuh lemas dan tak sadarkan diri.

***

Wooyoung terjaga pada pukul setengah dua pagi. Lampu di kamarnya redup, karena beberapa diantaranya telah dimatikan. Ayahnya sedang tertidur pulas di atas sofa dengan remote TV di atas perut. Wooyoung meringis menahan rasa ngilu di seluruh tubuhnya dan sengat tajam di dadanya. Ia meraba-raba dadanya dan merasakan benjolan panjang dan tipis di sana. Rasanya sedikit menakutkan saat tahu ada sesuatu dalam tubuhnya, tapi Wooyoung terlalu lelah untuk ambil pusing.

Wooyoung membuka mata dan mendengar suara-suara di sekitarnya. Yang dapat didengarnya hanyalah suara dapur yang sibuk dan beberapa suster jaga yang sedang bergosip. Wooyoung meringis kesakitan lagi dan memejamkan mata. Ia mulai tidak tahan dan akhirnya memaksakan untuk kembali tidur. Berharap keadaannya esok hari menjadi lebih baik.

***

Wooyoung terbangun dan terduduk di atas ranjang, mencari-cari ayahnya. Tidak ada siapapun di dalam kamar, kecuali seorang office boy yang sedang mengangkat sampah dari kamar mandi dan mengepel lantai. Wooyoung beranjak dari sana sambil memegangi dadanya yang masih terasa nyeri, seolah-olah takut kalau dadanya akan copot.

Si office boy menatap Wooyoung iba. “Mau kubantu berjalan?”

Wooyoung mengangkat tangannya ke udara dan menggeleng. “Tidak usah, aku baik-baik saja,” katanya dan ia terus berjalan.

Setibanya di koridor, Wooyoung masih terus mencari-cari ayahnya. Rumah sakit mulai kembali sibuk pagi itu. Wooyoung merasa semakin gelisah dan memutuskan untuk mencari ayahnya di ruangan dr. Junsu. Dimana lagi ayahnya akan berada kalau bukan bersama dr. Junsu? Wooyoung sampai di depan pintu ruangan dr. Junsu dan menahan gerakannya untuk mengetuk pintu ketika ia mendengar suara dr. Junsu dari dalam.

“Bagaimana keadaan Wooyoung? Apakah ia bisa tidur nyenyak setelah pemasangan Hickman Line kemarin?”

“Ehm, aku tidak begitu yakin.” Itu ayahnya. “Ia sepertinya sedikit kesakitan semalam.”

“Ya, itu biasa. Ia hanya perlu membiasakan diri dengan alat itu.”

Wooyoung mengintip melalui lubang kunci dan melihat dr. Junsu berdiri di depan jendela, sementara ayahnya duduk dengan tenang di kursi. Walau ia duduk dengan tenang di sana, tapi Wooyoung bisa membaca kegelisahan ayahnya. Ayahnya terus memilin-milin jemarinya. Itu kebiasaannya jika sedang merasa gugup atau khawatir.

“Tuan Jang,” dr. Junsu beranjak dari jendela dan duduk berhadapan dengan ayahnya. “Aku juga memiliki seorang anak laki-laki di rumah dan aku sangat memahami perasaanmu setelah menerima kabar ini. Tapi..”

Ayahnya mendongak. “Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?”

Dr. Junsu mengangguk. “Bukan ‘terjadi sesuatu’ tapi ‘akan terjadi sesuatu.’ Kami sudah memeriksa sampel darah Wooyoung dan tetap akan melakukan kemoterapi seperti yang kau inginkan. Tapi seperti yang aku katakan di awal, proses ini akan sangat membahayakan bagi Wooyoung. Pilihannya hanya ada dua. Berhasil atau gagal. Jika berhasil, Wooyoung kemungkinan akan sembuh. Dan jika gagal, Wooyoung akan menghadapi situasi kritisnya. Dan..”

Dr. Junsu menahan penjelasan selanjutnya di ujung bibir dan membiarkan dirinya dan tuan Jang menarik napas. “Dan Wooyoung dipastikan akan hanya memiliki waktu dua belas bulan untuk bertahan menghadapi kritisnya,” lanjut dr. Junsu.

Wooyoung menegakkan tubuh dan menegang di tempatnya. Pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka dan ayahnya keluar dari sana dengan terkejut ketika melihat Wooyoung berada di sana.

“Oh, apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau sudah lama berada di sini?”

Wooyoung menyadari kepanikan ayahnya. Mungkin ia takut kalau Wooyoung mendengar semua percakapan tadi. “Ehm, baru saja,” ujar Wooyoung berbohong. “Aku baru saja ingin mengetuk pintu, tapi tahu-tahu ayah keluar.”

Ayahnya tampak mendesah lega. “Lalu, bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah..” Ayahnya melirik dada Wooyoung, “..itu tidak terasa sakit lagi?”

Wooyoung meraba dadanya dan tersenyum. “Sedikit, tapi aku yakin tidak akan terasa sakit lagi setelahnya.”

Mereka terdiam dan terjebak dalam situasi canggung yang tidak mengenakkan. Wooyoung tertunduk dan kata-kata ‘dua belas bulan’ itu terus berbisik di telinganya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu dan berjalan meninggalkan ayahnya dengan langkah lunglai. Ia rasa, ia membutuhkan udara segar untuk berpikir. Memikirkan soal ‘dua belas bulan’ itu. Dua belas bulan, setahun. Itu memang waktu yang lama, tapi Wooyoung tahu, apa pun bisa terjadi dalam setahun.

***

Aroma segar embun beku membangunkan Taeyeon dari tidur dan ia bangkit dengan cepat untuk mengamankan jendela. Ia memandang keluar, ke lanskap berwarna susu. Sempurna, sunyi, tak tersentuh, dan mengerikan kecuali jejak kaki burung berdada jingga yang terhuyung-huyung sendirian dan berusaha mempertahankan nyawa di dinginnya musim gugur. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, Taeyeon tersenyum pada matahari yang meninggi.

Ia merasa baru hari ini. Seolah api unggun yang ada di dalam dirinya kembali berkobar dengan panas dan bergairah. Taeyeon tidak tahu pasti apa yang terjadi pada dirinya. Tapi ia ingin menikmati sesuatu yang menyala di dalam dirinya hari ini dan tidak mau melewatkannya.

Taeyeon berlari menuruni tangga, terdesak oleh rasa semangat yang menjalari kulitnya dan segera keluar untuk membiarkan udara pagi membawa dirinya pergi. Ia sudah menyiapkan segala hal sejak semalam. Buku catatan, surat keterangan dari universitas Dongguk, dan uang. Ia akan mempersiapkan diri untuk menghadapi upacara penerimaan mahasiswa baru beberapa saat lagi.

Taeyeon membuka buku catatannya. Tulisan ‘Rencana Kematian’ telah dicoret-coret dan diganti menjadi ‘Rencana Kehidupan.’ Dan rencana pertamanya untuk mengawali kembali kehidupannya adalah bertemu dengan ibunya.

***

Wooyoung berdiri di luar pagar pemakaman dan mengamati semua makam-makam yang ada di sana. Tangannya terselip di balik saku jaket karena udara dingin pagi yang menusuk. Pemakaman sepi dan sunyi seperti biasa. Tapi ada dua orang wanita di kejauhan sedang berkunjung. Mereka mengenakan setelah serba hitam dan membawa sebuket bunga mawar. Mereka tampak tenang. Tidak terlihat sedih, juga tidak terlihat bahagia.

Wooyoung beralih menatap makam yang dikunjungi oleh dua wanita itu. Makamnya sudah terlihat lama dan berlumut. Tampak tidak terurus dan dimakan oleh terik matahari. Wooyoung melihat dua wanita itu meletakkan bunga mawar di atas makam, lalu bersedekap, mendoakan arwah seseorang yang telah meninggalkan mereka. Setelah doa selesai, dua wanita itu pergi dan mengobrol seperti biasa ketika keluar dari pemakaman.

Wooyoung menatap makam yang ditinggalkan itu dan merasa sedih. Makam itu terlihat kesepian dengan bunga mawar yang terangguk-angguk disapu angin, seolah-olah sedang memohon dan merangkak pada dua wanita itu agar tidak cepat pergi dan tetap tinggal di sana untuk beberapa menit lagi menemaninya. Saat itu, Wooyoung kembali berpikir, apakah jika ia meninggal suatu saat nanti—semoga saja bukan dalam waktu dekat—nasibnya akan sama menyedihkan dengan makam yang ditinggal itu? Akankah orang-orang terdekatnya beramai-ramai menghadiri hari pemakamannya? Akankah mereka tetap datang setelah bertahun-tahun kemudian—bukan hanya sekedar mengunjunginya sebagai sebuah rutinitas?

Wooyoung menghela napas dalam. Suara yang melankolis.

“Kau ini sepertinya punya kebiasaan aneh yah!”

Wooyoung menelengkan kepala dan melihat gadis itu berdiri tidak jauh darinya. Tersenyum kepadanya—senyum mengejek. Tapi Wooyoung menyukainya, karena gadis itu terlihat lebih cantik jika tersenyum daripada merengut.

“Kebiasaan aneh?” Wooyoung mengangkat alis dan ikut tersenyum.

Taeyeon mengangguk. “Ya. Kau punya kebiasaan aneh. Selalu saja mengunjungi makam orang yang tidak kau kenal.”

Seekor burung pekakak melayang di atas kepala mereka dan mendarat di salah satu puncak batu nisan. Keduanya mengamati burung itu menggosok-gosok kepala ke tubuhnya, lalu terbang lagi.

“Apa kau sudah sarapan?” tanya Taeyeon, memecah keheningan itu.

“Belum.” Wooyoung menggeleng. “Ada apa?”

Taeyeon tersenyum lagi. “Aku akan mentraktirmu sarapan pagi ini, jika kau mau.”

“Tentu saja.” Wooyoung tertawa. “Aku paling suka ditraktir.”

Taeyeon ikut tertawa. “Dasar. Kalau begitu, kau tunggu di sini, sementara aku masih harus mengunjungi makam ibuku dulu, lalu kita pergi sarapan bersama di taman. Oke?”

Wooyoung mengangguk semangat. “Ya.”

***

Taeyeon dan Wooyoung pergi membeli beberapa bungkus sandwich, beberapa batang cokelat Refresher dan segelas kopi di gelas plastik di toko sudut jalan, lalu memakannya sambil duduk di taman.

“Apa kau masih berpikir untuk bunuh diri lagi?” tanya Wooyoung dengan mulut penuh sandwich.

“Ehm,” Taeyeon menggumam panjang dan berseru, “Setelah kupikir-pikir, jawabannya ‘tidak.’”

Wooyoung menatapnya takjub. “Oh, benarkah?” Ia tertawa dan berkata, “Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

Taeyeon meliriknya. Kau.

“Aku diterima di fakultas kedokteran, universitas Dongguk,” ujar Taeyeon. “Aku masih ingin hidup untuk mimpiku yang belum sempat kugapai.”

“Oh, kau ingin menjadi dokter?”

“Ehm, lebih tepatnya ilmuwan,” sahut Taeyeon, tersenyum bangga. “Sebenarnya, aku begitu ambisius untuk menjalani kehidupanku karena ibuku berada bersamaku untuk mendukungku. Ia adalah penyemangat hidupku dan yang memotivasiku untuk menjadi dokter. Tapi—”

“Sekarang kau hidup untuk mimpimu?” Wooyoung melanjutkan.

“Ya, begitulah. Aku ingin menjadi dokter dan berharap bisa menemukan obat untuk penyakit ibuku, walau aku tidak sempat mewujudkan hal itu kepadanya. Tapi, aku merasa lebih hidup sekarang. Aku yakin, ibuku juga masih mendukungku dari atas sana.” Taeyeon mendongak ke langit biru yang bersih tanpa awan dan tersenyum hangat. “Dan kau sendiri,” Taeyeon berpaling pada Wooyoung. “Untuk siapa kau hidup?”

Wooyoung tersenyum. Ia meletakkan gelas plastiknya ke bangku taman dan menepuk-nepuk telapak tangannya untuk menyingkirkan remah roti yang menempel. “Untuk kau.”

Taeyeon membelalak terkejut. Wajahnya berubah merah. “Apa?”

Wooyoung mengangguk. “Aku hidup untukmu. Aku akan menunggumu sampai kau berhasil menemukan obat-obat itu.”

Taeyeon mengerutkan alis. “Apa maksudmu?”

Senyum di wajah Wooyoung menyurut, berubah menjadi mimik sedih. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu dan maafkan aku jika aku sudah berbohong padamu.”

Jantung Taeyeon mulai berpacu. Perasaan tak enak itu kembali muncul. Ia takut mendengar sesuatu yang buruk dari mulut Wooyoung. Mereka baru dua kali bertemu dan Wooyoung sudah mengakui kalau ia baru saja berbohong pada Taeyeon. Tapi, berbohong soal apa?

“Aku tidak bekerja di rumah sakit,” kata Wooyoung. Ia menyisihkan lengan jaketnya dan menunjukkan gelang identitas yang diberikan rumah sakit. “Aku pasiennya.”

Taeyeon memandangi Wooyoung lekat-lekat. “Kau sakit apa?” tanyanya.

Wooyoung sebenarnya tidak berminat menjelaskan tentang penyakitnya. Itu adalah pertanyaan yang paling ingin ia hindari. Tapi, Taeyeon terlihat begitu penasaran.

“Aku mengidap glubola shpreoidal,” kata Wooyoung.

Taeyeon menatapnya bingung, namun sejurus kemudian rautnya berubah pucat. Ia pernah mendengar istilah itu beberapa kali saat ibunya dirawat di rumah sakit. “Kau.. mengidap.. Leukemia?”

***

Taeyeon merasa mujur karena harinya terencana, tapi tidak menyangka sejam kemudian, gelombang, juga suasana hatinya mulai berubah dengan sangat drastis. Perasaan gagal menyodok tepi antusiasmenya yang rapuh, dan bahkan sandwich yang baru dipanggang dengan mentega tanpa lemak tidak memulihkan semangatnya.

Selama ini Taeyeon tidak menyadari bahwa Wooyoung sebaya dengannya. Ada kedewasaan dalam kesendirian Wooyoung, dalam kemandiriannya yang terpaksa karena diabaikan oleh Tuhan. Namun, saat menceritakan soal penyakitnya, Wooyoung meringkuk di bangku taman, tampak kecil, rapuh dan dahaga. Wajahnya terlihat damai pada langit. Jelas bahwa ia mengharapkan sebuah kehidupan yang lebih panjang. Memohon kepada Tuhan.

Mendadak Taeyeon merasa marah pada dirinya sendiri dan sangat menyesali perbuatannya soal bunuh diri. Ia baru saja menyadari bahwa itu adalah ide terkonyol dan sangat picik yang pernah dipikirkannya. Bagaimana bisa, ia, yang hidupnya sempurna—walau tidak lagi memiliki ibu dan ayah—namun, memiliki kakak perempuan yang sangat menyayangi dan mendukung sepenuhnya, memutuskan untuk mengakhiri dan menyia-nyiakan hidupnya pada kematian? Sementara orang-orang kurang beruntung di luar sana—seperti Wooyoung—justru mengharapkan sebuah kehidupan? Sungguh pikiran yang sangat egois.

“Aku masih ingin melakukan banyak hal selama aku hidup, tapi Tuhan tidak mengizinkanku,” kata Wooyoung.

Taeyeon membisu, tapi akhirnya memutuskan untuk bicara. “Apakah dokter mengatakan sesuatu padamu? Maksudku, apakah ia mengatakan sampai kapan kau bisa bertahan?”

“Ia tidak mengatakannya secara langsung,” sahutnya. “Tapi aku mendengar percakapan dokter dengan ayahku. Sebenarnya beberapa minggu lagi aku akan menjalani proses kemoterapi. Tapi ada kemungkinan di tengah jalan, proses itu gagal dan aku akan mengalami masa kritis. Dokter memprediksikan aku bisa bertahan selama dua belas bulan.”

Taeyeon menelan ludah. Ketakutan yang pernah dirasakannya, naik ke pangkal tenggorokannya. Ia merasa mual, tapi mencoba rileks. “Beberapa minggu, hm? Kau bisa melakukan banyak hal dalam waktu beberapa minggu itu.”

Wooyoung menatapnya. “Kau pikir begitu?”

“Ya.” Taeyeon mengangguk yakin. “Dan aku akan membantumu untuk melakukan segala hal yang ingin kau lakukan sebelum..” Taeyeon berdeham. “Sebelum kau pergi.”

To be continued…

75 thoughts on “Restless (Part 2)

  1. “Untuk siapa kau hidup?” “Aku hidup untukmu. Aku akan menunggumu sampai kau berhasil menemukan obat-obat itu.” astaga suka banget sama part ini >< Wooyoung bener-bener punya harapan besar & ngedukung Taeyeon karena dia juga butuh obat-obat itu, kan? huehehe ini apa ._.

    Terus, “Dan aku akan membantumu untuk melakukan segala hal yang ingin kau lakukan sebelum..” Taeyeon berdeham. “Sebelum kau pergi.”

    aku suka banget, simple as that lol.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s