Reality (Ficlet)

A Story by Pseudonymous

Title: Reality || Main cast: 2PM’s Junho & Kim So Eun || Genre: Romance & Life || Rating: G || Length: Ficlet || Disclaimer: Inspired by my own experience

***

So Eun mendengar suara ibunya yang memekik dari luar kamar, mengusik ketenangannya untuk belajar. Kesabaran gadis itu mulai habis dan ia melongokkan kepala dari cela pintu kamar yang terbuka.

Oemma, bisakah pelankan sedikit suaramu?” gerutunya.

“Tidak bisa!” balas ibunya tanpa menoleh dari TV. Tubuh ibunya menegang di kursi, seperti hendak lomba lari. “Drama ini sangat seru, So Eun! Mana mungkin oemma akan tenang saja melihat pemeran utamanya kecelakaan! Ya Tuhan!”

So Eun meringis kesal, tapi drama yang sedang ditayangkan TV saat itu sedikit menarik perhatiannya. Ia memaksakan diri untuk menoleh kearah TV dan melihat pemeran utama pria sedang bersimbah darah, sementara seorang gadis—yang mungkin adalah kekasih si pria malang itu—menangis-nangis histeris, meminta bantuan.

“Ya Tuhan, berlebihan sekali,” komentarnya.

Oemma yakin pria itu akan kehilangan ikatan!” tambah ibunya tanpa memedulikan komentar So Eun.

So Eun memutar bola matanya dan mendesis. “Cih.”

***

“Ujianmu sudah selesai?”

So Eun mengapit ponselnya antara pipi dan bahunya dan menyahut, “Ne, Jagi. Kau akan datang menjemputku ke kampus, kan?”

“Ya. Aku akan datang.” Junho terkekeh di seberang telepon. “Apakah kau begitu merindukanku sampai mendesakku untuk menjemputmu?”

So Eun merengut manja. “Tidak juga. Hanya saja aku ingin berhemat uang bis dengan pulang diantar olehmu.”

Aigoo!” Junho tertawa. “Kau ini kejam sekali.”

So Eun hanya terkekeh pelan. “Kalau begitu, datanglah cepat. Jangan lupa mengirimkanku pesan singkat jika kau sudah berada di gerbang kampus, arra?”

“Siap, Nona!” sahut Junho, semangat.

So Eun tertawa. “Annyeong!”

Ne, annyeong!”

Klik.

So Eun tertegun. Ia menarik ponselnya dari bahu dan memandangi wallpaper ponselnya—fotonya bersama Junho. Tiba-tiba saja ia merasa aneh saat percakapan terakhirnya dengan Junho. Terutama di bagian saat Junho mengucapkan sampai jumpa padanya, seolah-olah Junho mengucapkannya dengan maksud bahwa ia memang akan pergi. Pergi kemana? So Eun tidak tahu.

Ia tidak mengerti dengan perasaan aneh yang berkecamuk di dadanya, namun mengedikkan bahu dan segera mengabaikannya.

***

So Eun memutar-mutar cangkir Styrofoam yang berisi kopi dan terus melongokkan kepala ke gerbang kampus. Ia melirik arlojinya dan menyadari sudah sejam berlalu sejak percakapannya yang terakhir dengan Junho. Seharusnya, Junho sudah berada di kampusnya sejak tiga puluh menit yang lalu. Jarak kampus Junho dan kampusnya tidak terlalu jauh, lalu mengapa Junho belum datang juga? Tidak biasanya Junho datang terlambat. Ini adalah pertama kalinya Junho datang terlambat dan kalau pun ia datang terlambat karena sesuatu, Junho pasti akan langsung mengabari So Eun—entah karena macet, bensin mobilnya habis atau ada keperluan mendadak dan terpaksa membatalkan pertemuan mereka.

So Eun mengambil ponselnya dan menatap foto Junho di wallpaper-nya. “Apakah aku harus meneleponnya saja?”

So Eun menggeleng dan meletakkan kembali ponselnya. Mungkin saja Junho masih dalam perjalanan dan terjebak macet, namun tidak bisa memegang ponsel untuk mengirimkan pesan singkat sementara ia mengendarai mobil. Sangat berbahaya, bukan?

So Eun terus mengisi pikirannya dengan dugaan-dugaan positif dan terus menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya, dua jam berlalu, kampus mulai sepi. So Eun mulai tidak tahan dan langsung menghubungi nomor Junho.

“Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”

So Eun mengerut kesal, dan mencoba menghubunginya lagi. Jawabannya tetap sama.

“Mengapa ia tiba-tiba mematikan ponselnya?” gerutunya. “Jika ia memang tidak ingin dan merasa keberatan untuk menjemputku, seharusnya ia mengatakannya saja. Tidak usah berjanji seperti ini dan membuatku menunggu lama. Menyebalkan!”

So Eun membuang cangkir Styrofoam yang telah kosong itu ke tempat sampah, lalu memutuskan untuk pulang seorang diri, karena ia mulai lelah untuk menunggu.

***

Malamnya, So Eun merebahkan diri di atas tempat tidur dan terus mencoba menghubungi Junho.

“Ini aneh sekali,” gumamnya. “Tidak biasanya ia mematikan ponselnya selama ini.”

So Eun mencoba, mencoba dan mencoba lagi. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Ia mulai putus asa dan merasa marah pada Junho. So Eun melemparkan ponselnya ke meja belajar dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia terlonjak dengan panik saat ponselnya bergetar hebat di atas meja. Ada telepon masuk dari Junsu, teman Junho.

So Eun mendapati dirinya bingung karena sebelumnya ia tidak begitu mengenal Junsu dengan baik. Ia menyimpan nomor Junsu di ponselnya itu pun karena Junho yang memaksa. Dan rasanya aneh sekali jika Junsu meneleponnya. So Eun mulai merasa curiga dan mengangkat telepon dengan segera.

Yeobboseo?”

“So Eun, kau dimana sekarang?” Suara Junsu terdengar panik.

“Aku? Aku ada di rumah,” sahutnya canggung. “Ada apa, Junsu-ssi?”

“Junho kecelakaan dan berada di rumah sakit sekarang.”

“Apa?!” So Eun membelalak dengan terkejut. Tangannya bergetar dan tidak sanggup lagi memegang ponselnya hanya dengan satu tangan. “Junsu-ssi, tolong, kirimkan alamat rumah sakitnya dan aku akan segera kesana.”

***

So Eun berlari-lari kecil dan menemui Junsu yang sedang berdiri di depan ruang ICU bersama keluarga Junho. Nyonya Lee sedang menangis tersedu-sedu di dada suaminya, sementara kakak perempuan Junho duduk termenung begitu saja tanpa bisa berkata apa-apa. Semua sedang dalam keadaan shock. Dan semua pemandangan itu gambaran semu mengenai betapa parahnya kecelakaan itu.

“Bagaimana keadaannya?” tanya So Eun pada Junsu.

“Sangat parah,” lirihnya. “Jantungnya sempat berhenti tadi, namun sekarang sudah stabil. Sekarang ia sedang beristirahat, namun belum sadarkan diri.”

So Eun menutup mulutnya dan mulai menangis. “Ya Tuhan, apakah separah itu? Bagaimana semua hal ini bisa terjadi?”

“Junho mengalami kecelakaan siang tadi. Ia bersamaku sebelum kejadian itu dan ia bilang ia akan pergi ke kampusmu untuk menjemputmu.”

So Eun mengangguk lemah. “Lalu?”

“Lalu, mobilnya ditabrak oleh truk besar dari arah kiri saat di perempatan jalan,” jelas Junsu dengan raut ngeri. “Dokter bilang, Junho mengalami cidera di bagian otak besar.”

“Tapi, tidak apa-apa, kan?”

Junsu menggeleng lemah. “Kami belum tahu, So Eun. Kami belum tahu jika Junho belum juga sadar.”

Setelah beberapa jam kemudian, dokter akhirnya membolehkan So Eun untuk masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat keadaan Junho. So Eun mengenakan jubah rumah sakit dan masker, lalu masuk ditemani oleh Junsu. Beberapa pasien lain yang kurang lebih mengalami keadaan yang sama dengan Junho ada di sana. So Eun memilin-milin jemari tangannya dengan gugup ketika mereka hampir sampai di tempat dimana Junho berada.

So Eun tidak bisa mengatakan apa-apa ketika melihat keadaan Junho. Selang dan kabel dimana-mana. Mulut Junho disumpal oleh semacam selang besar untuk membantu pernapasannya. Matanya terpejam rapat dan tubuhnya memucat. Ada beberapa bekas luka dan memar di tubuh Junho. So Eun melirik Junsu dan pemuda itu hanya diam dan mengangguk kearahnya dengan raut sedih.

So Eun mendekati Junho dan mengamati wajahnya. Ia mungkin sudah pernah melihat wajah Junho yang tertidur beberapa kali, tapi melihat Junho ‘tidur’ dalam keadaan yang berbeda membuatnya berpikir, apakah orang yang di hadapannya ini adalah benar-benar Junho, kekasihnya? Sangat sulit memercayainya karena So Eun mendengar suara pemuda itu beberapa jam lalu di telepon dalam keadaan sehat, namun beberapa jam kemudian justru mendapati kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

So Eun ingin menangis, tapi tidak bisa. Keheningan rumah sakit dan keberadaan Junho disana membungkam pita suaranya untuk berkata-kata. Ia hanya bisa terpaku di sana dan berdoa dalam hati agar tidak terjadi sesuatu yang jauh lebih buruk pada Junho.

***

Sudah hampir seminggu lebih sejak kecelakaan itu dan Junho belum juga sadar. So Eun berkeyakinan suatu saat Junho akan sadar dan baik-baik saja. Tapi menunggu sampai Junho sadar adalah hal yang berat baginya. Ia tidak bisa duduk diam gelisah dan ingin mengguncang-guncang pundak Junho agar pemuda itu agar segera bangun dari koma. So Eun sangat merindukan pemuda itu dan merasa sangat kesepian.

Jika selama ini Junho adalah orang yang selalu menemaninya ketika ia merasa sendiri dan tidak ada orang yang peduli padanya, namun ketika Junho dalam keadaan seperti itu, So Eun justru semakin tersiksa. Kesepian dan kehilangan orang yang biasa mengisi kesepiannya adalah hal yang paling ia benci. Tapi So Eun dengan tabah terus menunggu sampai Tuhan mengulurkan tangan dan menyadarkan Junho.

Beberapa hari setelahnya, So Eun mendengar kabar menggembirakan dari Junsu bahwa Junho telah sadar.

“Tapi,” Junsu memotong ucapannya setelah kabar menggembirakan itu. “Entahlah, So Eun, kami belum mengetahuinya dengan pasti karena tidak ada pernyataan jelas dari dokter dan dokter juga belum bisa memastikan.”

“Apa maksudmu?” So Eun mulai curiga. Pasti terjadi sesuatu.

“Junho sepertinya mengalami amnesia.”

So Eun merasakan tubuhnya dingin seperti baru saja disiram oleh air es. Bulu kuduknya meremang. Junho amnesia? Kenyataan itu adalah sesuatu yang sangat sulit diterimanya. Bagaimana mungkin bisa terjadi?

“Junho tidak mengenali anggota keluarganya sama sekali, So Eun,” lanjut Junsu. “Dan keadaannya masih sangat menyedihkan sekarang. Aku harap, kau bisa kuat setelah melihat keadaannya.”

So Eun kesuliatan menjelaskan perasaannya saat itu. Tadinya ia merasa sangat bahagia setelah mendengar bahwa Junho sudah sadar, namun kenyataan bahwa kekasihnya mengalami amnesia seolah menamparnya balik dan menyadarkan ke sebuah lubang kenyataan yang pahit.

So Eun tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis ketika masuk ke dalam kamar rawat dan melihat sosok Junho yang berbeda. Matanya yang redup, mulutnya yang terbuka dan seluruh tubuhnya yang tegang. Itu bukan Junho, bisiknya dalam hati. Itu bukan Junho-ku. Tapi, wajah itu memang milik Junho. Mata sipit itu yang akan melengkung indah jika tersenyum adalah milik Junho. Persis. Itu memang Junho. Junho, kekasih So Eun.

So Eun berdiri di sisi tempat tidur dan mengusap pipi Junho yang dingin. Ia terisak dan mencoba memanggil nama Junho. “Jagi-ah, ini aku, So Eun..”

Junho menggeram, namun tidak menatap So Eun. Ia terus menengadah ke langit-langit dan tatapannya terlihat kosong. Setiap kali So Eun mencoba menjalin kontak mata, Junho seolah menghindarinya.

Ahjumma.” So Eun berpaling pada nyonya Lee yang berdiri di sisi tempat tidur di seberangnya dan bertanya, “Apakah benar.. jika Junho amnesia?”

“Kami tidak tahu, So Eun. Junho bersikap seolah tidak mengenal kami saat ia sadar dan terus saja memberontak dan hendak mencabut infusnya,” jelas nyonya Lee.

“Lalu, apa yang dikatakan dokter?”

“Syaraf di kepala Junho membengkak dan itulah yang membuat seluruh tubuhnya menegang seperti ini. Yang jelas, dokter mengatakan bahwa kami hanya bisa lebih sabar lagi untuk menunggu progress dari kesehatan Junho.”

Air mata So Eun jatuh semakin deras. Ia terus memanggil nama Junho, tapi Junho tidak mengindahkannya. So Eun merasa sangat bingung bagaimana harus mengatasi situasi ini. Tadinya, ia berpikir bahwa amnesia hanya ada di drama-drama TV yang sering dinonton oleh ibunya, tapi setelah melihat Junho, kekasihnya sendiri mengalami hal ini, So Eun mulai kesulitan memahami kehidupan ini. Tuhan ternyata selalu punya rencana-rencana tak terduga di balik kehidupan manusia dan menguji keyakinan manusia, apakah ia bisa bertahan dan mempercayai situasi itu kalau kejadian itu benar-benar terjadi.

the end.

***

NB (numpang curcol): Seperti yang sudah saya tulis di bagian disclaimer, kejadian ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Baru-baru ini, temen baik saya mengalami kecelakaan dan kurang lebih keadaannya sekarang sama dengan keadaan yang sudah saya jabarkan di atas (yang terjadi pada Junho). Seperti yang tertulis di atas juga, saya awalnya juga menganggap bahwa amnesia hanya ada di sinetron-sinetron (walau sebenarnya saya emang percaya, tapi nggak menyangka akan terjadi pada temen saya sendiri), namun setelah melihat temen saya mengalami amnesia, rasanya tuh sedih dan shock banget 😥

Untuk sementara ini, dugaannya masih amnesia ringan dan ada kemungkinan temen saya masih ingat semuanya. Mohon doanya yah readers sekalian!

35 thoughts on “Reality (Ficlet)

    • Waaaa…ketinggal ni, abisnya br tau klu ada ffnya junsso di sini…hehe…
      Ceritanya mengharukan…good story..like…
      Moga temannya author bs segera mengingat lagi siapa dirinya….
      Semangat buat author…fightinggggg….

  1. tadi aku ga baca disclaimernya..
    ternyata ini kisah nyata yang dialami sama temen mu 😦
    bacanya jadi mau nangis sumpah..

  2. kasian bgt Junsso serung sad ending~ tragis T.T

    cepet sembuh ya buat temennya author~ Tuhan pasti ngasih solusi dan jalan kesetiap permasalahan yang Ia beri 🙂

  3. Ini beneran kisah nyata, za? Gk kebayang gimana jadinya kalo yg amnesia itu terjadi sama sahabat terdekat, terlebih lagi bagian dari keluarga… Andweee *panik sendiri*
    Walau aku gk bisa sepenuhnya ngerasain gimana sedihnya kamu (krn blm pernah ngalamin), tp dr cerita ini lumayan bisa ngerasain gimana terpukul dan sakitnya dilupakan oleh orang terdekat T_T
    Aku harap temanmu itu bisa segera pulih seperti sedia kala. Tuhan selalu punya rencana yang sulit diprediksi, semoga keajaiban segera terjadi… 🙂

  4. heuk~ ini kisah nyata? ya Tuhan… Kenapa bisa senyata itu? 😦
    aku tadinya ga percaya sama hal2 berbau kecelakaan-amnesia, itu sinetron banget menurut aku.. Tapi nyatanya ini kejadian juga 😦
    deepest –late- condolences buat temennya author..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s