Restless (Part 3)

A Story by Pseudonymous

Title: Restless || Main cast: 2PM’s Wooyoung & SNSD’s Taeyeon || Genre: Romance & Life || Length: Chapter || Disclaimer: Terinspirasi dari film dengan judul yang sama || Credit Poster: Tumblr || Previous part: Part 1, Part 2

***

Udara sore musim gugur mencoba mengusir kesedihan Taeyeon. Mereka duduk di tembok luar rumah sakit dan menunggu. Awan-awan cukup rendah, turun, turun, sampai menyentuh lengan menara gedung di kejauhan sana. Mereka mendengarkan nyanyian. Lagu yang gembira, lagu penuh harapan. Mereka hafal lagu itu, tapi tidak begabung. Mereka saling menendang kaki dan tidak bisa mengatakan apa-apa.

Wooyoung mengulurkan tangan dan meraih Taeyeon. Telapak tangannya licin, lembab dan basah. Taeyeon tak bisa memandangnya. Rasa bersalah dan air mata menumpuk di kelopak matanya. Justru sebaliknya, Wooyoung tampak segar dan bertenaga. Kejadian tadi pagi tak sedikit pun membekas di wajahnya yang sempat muram. Biasanya Taeyeon berselera sekali menyantap sandwich dan sebatang cokelat sebagai penutup mulut, tapi ia bahkan tak sanggup menghabiskan setengahnya tadi. Nafsu makan, juga semangat hidupnya, lenyap sementara waktu.

Taeyeon memandangi Wooyoung, lalu beralih ke pohon-pohon oak di hadapannya. Ia tidak sanggup memandangi Wooyoung lebih lama lagi, karena ia tahu, tangisnya akan meledak sebentar lagi.

“Hari sudah hampir petang,” kata Taeyeon dengan suara nyaris bergetar. Ia berdeham dan berusaha tersenyum. “Sebaiknya kau masuk sekarang, sebelum udara jauh lebih dingin.”

Wooyoung tersenyum samar dan mengangguk. Keduanya saling menunduk dan menatap tangan masing-masing yang masih saling bertaut. Saat itu pula, Taeyeon merasa lebih baik.

Kami masih punya banyak waktu, batinnya. Kami masih punya tiga minggu, dua puluh satu hari, lima ratus empat jam, tiga puluh ribu dua ratus empat puluh menit, dan satu juta delapan ratus empat belas ribu empat ratus detik. Taeyeon tersenyum sendu. Itu waktu yang lama.

Setelah melontarkan basa-basi, Taeyeon melepas Wooyoung dan mengamati kepergian pemuda itu dengan perasaan lega. Wooyoung sempat menoleh kearahnya dan tersenyum. Taeyeon melambai kearahnya. Mereka sudah berjanji akan bertemu lagi esok hari.

***

Wooyoung sudah memikirkan soal saran Taeyeon. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu tiga minggu, pikirnya. Wooyoung berniat membuat daftar hal-hal yang ingin ia lakukan. Atau sekedar hal-hal yang ia inginkan. Lebih bagus kalau bisa diwujudkan, tapi tidak harus begitu.

Jadi, setelah menghabiskan makan malam, Wooyoung duduk di meja dan mengambil selembar kertas dan pensil dari dalam laci. Ia mulai menulis sebuah judul dengan huruf-huruf besar di baris pertama. ‘Rencana Kehidupan.’ Wooyoung sedang memikirkan keinginannya yang ketiga waktu Tiffany masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi makanan penutup.

“Kau sedang apa?”

“Bukan apa-apa,” kata Wooyoung. Ia menutup lembar kertas itu dengan lengannya. Tiffany langsung pindah ke belakang Wooyoung dan mengintip dari balik bahu.

Noona, jika kau berkenan..”

“Biar kulihat apa yang kau tulis.”

“Tidak!” Wooyoung berteriak. “Ini rahasia.”

Tiffany mundur dengan mata membelalak. “Baiklah,” gumamnya.

“Maafkan aku,” ujar Wooyoung penuh sesal. “Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya—”

“Ya, aku mengerti.” Tiffany mengangguk maklum. Ia masih terlihat sedikit ketakutan. “Apakah kau mimisan lagi hari ini?”

Wooyoung meremas-remas pensilnya. “Ya. Aku mimisan saat mandi tadi.”

Tiffany mengangkat piring kotor ke atas nampan. “Apakah darahnya banyak?”

“Tidak juga,” sahut Wooyoung.

Tiffany mendesah dan mengangkat piring kotor itu bersamanya. Ia melirik kertas yang ada di bawah lengan Wooyoung dan berkata, “Selesaikan urusanmu, lalu aku akan kembali membawa serum untuk menghentikan mimisanmu. Oke?”

Wooyoung hanya mengangguk samar. Tiffany menghela napas berat, meletakkan nampan ke atas meja, lalu menghampiri Wooyoung. Wooyoung membalik kertasnya agar Tiffany tidak melihat tulisannya dan meletakkan bolpoin tepat di atasnya.

“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Wooyoung,” ujarnya pelan. “Jika kau bisa menerima kenyataan bahwa kau bisa ‘pergi’ kapan saja, kau tidak akan pernah merasa seambisius ini untuk menjalani hidup.  Tapi, aku tahu bahwa kau masih menyimpan harapan besar di dalam hatimu dan aku menyukai itu.”

Tiffany tersenyum lembut kearahnya. “Sedikit dari orang-orang yang pernah kurawat dan bernasib sama sepertimu yang mempunyai harapan sebesar dirimu. Selama ini, mereka belajar untuk menghadapi kematian, tapi tetap menghargai kehidupan.”

Wooyoung tidak berkata apa-apa saat itu. Ia hanya mendengarkan. Tiffany menoleh kearahnya ketika hendak keluar kamar, lalu pergi. Wooyoung menunggu sampai yakin Tiffany sudah pergi, lalu ia mengangkat lengannya lagi dan melanjutkan tulisannya.

***

Mereka dikelilingi pohon ketika berbelok keluar dari jalan utama dan meninggalkan lalu lintas hari libur yang berdesakkan. Mereka menyusuri jalan satu arah menuju sungai, menikung tajam ke kiri lalu kanan, mengikuti rambu-rambu tua bengkok yang bertuliskan ‘God loves me.’

Matahari penghujung sore masih terasa panas, dan dedaunan dari ranting yang menggelantung tampak retak-retak dan berkelip bagaikan cermin pecah yang menyilaukan mata. Wooyoung menghirup udara baru ini, lembap, lembap yang hangat, dan sesekali tercium bau laut, dan memang benar, karena air pasang yang mengalir ke sungai kecil di bawah berada di belokan.

“Kita hampir sampai,” bisik Taeyeon.

Wooyoung mulai menggigiti kuku.

“Tidak apa-apa,” kata Taeyeon, lalu ia tersenyum dan menjauhkan tangan dari mulut, berkonsentrasi pada dunia serbahijau di luar.

“Wow!” Wooyoung menggumam kagum melihat pemandangan di hadapannya.

“Ayo!”

Taeyeon menarik tangannya, kemudian mereka berlari menuruni rerumputan bersama menuju sungai. Dengan hati-hati mereka menyeimbangkan kaki di papan tambatan yang tipis. Sudah busuk, aus dimakan waktu akibat garam, basah dan telantar.

“Lihat!” Wooyoung menunjuk ke sungai. “Ada ikan!”

Kemudian, Wooyoung duduk di dermaga lalu mencelupkan tangan dengan lembut ke dalam air dingin. Ikan menggelepar ke sisi. Taeyeon melihat Wooyoung sedang menatap diri sendiri, mengikuti pantulan yang beriak ketika air perlahan naik di sekitar ujung jarinya.

“Apakah ini ‘surga’?” tanya Wooyoung.

Taeyeon mengangguk. “Versiku.” Taeyeon memandang berkeliling dan menyadari tidak ada yang berubah dari tempat itu sejak ia terakhir kali berkunjung. “Aku sering datang kemari bersama Ibu dan kakakku. Kami piknik bersama di pinggir sungai. Sementara ibuku menyiapkan kompor, aku dan kakakku akan berlomba menangkap ikan di sungai, lalu memberikannya pada Ibu untuk diolah.”

Wooyoung melirik pantulan wajah Taeyeon pada sungai. “Apa kau masih memikirkan ibumu sampai detik ini?”

“Ya. Tentu saja.”

Wooyoung menepuk jeans-nya dan berdiri. “Aku berani bertaruh, kau tidak sedang sungguh-sungguh memikirkan ibumu.”

Taeyeon menatapnya kesal. “Apa maksudmu? Kau pikir aku sedang berbohong atau tidak menyayangi ibuku?”

Wooyoung tertawa kecil. “Bukan, bukan.” Ia menengadah ke kejauhan dan berkata, “Kau hanya sedang memikirkan penyesalanmu karena kau tidak bisa melakukan banyak hal ketika ibumu sakit dan tidak berdaya.”

Taeyeon mengangkat alis. “Ya, itu mungkin benar. Tapi, bukankah itu termasuk bahwa aku juga sedang memikirkan ibuku?”

Wooyoung menggeleng tidak setuju. “Itu bukan sebuah pemikiran, tapi sebuah teror. Kau selalu meneror dirimu dengan rasa bersalah. Kau perlu memaafkan dirimu sendiri, Taeyeon. Kau harus memaafkan dirimu atas apa yang tidak sempat kau lakukan atau hal-hal yang sudah terjadi. Kau tidak bisa terus terjebak dengan rasa penyesalan akan apa yang seharusnya terjadi.”

Taeyeon menunduk dan terdiam. Mungkin aku memang harus belajar untuk memaafkan diriku sendiri, batinnya.

Wooyoung mengeluarkan kertas dari saku jaketnya dan menggambar tanda check-list pada nomor satu. ‘Melihat surga dunia’ dan Taeyeon sudah menunjukkan hal itu padanya. Wooyoung meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya.

“Kau masih ingin membantuku untuk mewujudkan keinginanku, kan?” bisik Wooyoung.

Taeyeon mengangkat wajah untuk balas menatap Wooyoung. Ia tersenyum dan mengangguk. “Ya.”

***

Petang itu suara pertandingan baseball bergaung dari kamar Wooyoung. Tuan Jang baru saja pulang dari gereja dengan wajah bengkak seperti biasa, lalu masuk tanpa mengetuk pintu.

“Wooyoung?”

Ia melongokkan kepala terlebih dahulu dan mendapati tidak ada siapa pun di dalam kamar. Hanya TV yang dibiarkan menyala dan jendela kamar yang tirainya telah disibak. Mungkin di kamar mandi, pikirnya. Tuan Jang mengetuk pintu dan memanggil nama Wooyoung. Tidak ada sahutan. Wooyoung tidak ada dimana-mana.

Kemana anak itu? Tuan Jang berubah panik dan menuding Tiffany atas ketidakberadaan Wooyoung di dalam kamar. Ia segera berlari keluar kamar, menyusuri koridor, dan menuju meja resepsionis. Langkahnya terhenti beberapa meter dari sana saat ia melihat seorang wanita berdiri di depan meja resepsionis, berbicara dengan salah seorang perawat.

“Boleh aku tahu dimana kamar rawat pasien atas nama Jang Wooyoung?”

“Nomor 143, Nyonya,” sahut si perawat.

“Baiklah. Terimakasih.”

Saat wanita itu berbalik, kedua pasang matanya bertemu dengan tuan Jang. Mereka saling berpandangan dengan raut terkejut. Terutama tuan Jang. Sudah tujuh tahun berlalu sejak ia berpisah dengan istrinya dan tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak itu. Tapi, melihat mantan istrinya berdiri di hadapannya seperti ini, membuat dada tuan Jang terasa sesak. Sungguh suatu pertemuan yang tidak pernah ia inginkan.

***

Keduanya duduk dengan canggung di kafe rumah sakit. Cangkir kopi telah ada di hadapan masing-masing, menunggu untuk disentuh. Tuan Jang tertunduk dengan kikuk, sementara nyonya Jang tampak lebih rileks setelah beberapa saat.

“Dimana Wooyoung?” Nyonya Jang bertanya dengan suara pelan.

Tuan Jang menelan ludah. “Ia.. sedang berada di luar.”

Nyonya Jang mengernyit. “Di luar? Ia sedang sakit dan kau membiarkan ia di luar?”

“Udara rumah sakit membuatnya depresi, Namjoo. Aku tidak ingin ia merasa tertekan.”

“Oh.” Nyonya Jang bersandar pada kursinya. “Lalu, apa kata dokter soal penyakitnya?”

“Darimana kau tahu soal penyakit Wooyoung?” tanya tuan Jang dengan suara tercekat. Ia berusaha keras untuk tidak terdengar kesal.

Nyonya Jang mengangkat sebelah alisnya, menyadari sikap kaku mantan suaminya. “Aku mengetahuinya dari Sikwang. Ia menceritakan padaku semuanya.”

Tuan Jang tersenyum sinis dan memalingkan wajah. “Seharusnya aku mengunci mulutnya.”

Nyonya Jang mencondongkan tubuh dengan kesal. “Aku ibunya dan aku berhak tahu apa yang terjadi dengan anakku.”

Tuan Jang masih memalingkan wajah dan bersikap seolah tidak sudi untuk menatap wajah hina perempuan yang pernah dicintainya itu. Nyonya Jang meneguk kopinya dengan buru-buru untuk meredakan emosinya, lalu melipat kedua lengan di atas dada.

“Masih saja bersikap seperti anak-anak,” komentar nyonya Jang sinis.

“Apa katamu?” Tuan Jang menatap mantan istrinya, menantangnya untuk mendebat. Tapi nyonya Jang memutar bola matanya dengan remeh. “Jika kau datang kemari hanya untuk mengacaukan suasana, kau sebaiknya pergi dari sini, Namjoo!”

“Aku tidak akan pulang sampai aku bertemu dengan Wooyoung!” Nyonya Jang bersikeras.

“Wooyoung tidak akan mau bertemu denganmu!”

“Wooyoung atau justru kau yang tidak mau bertemu denganku?”

Tuan Jang tidak bergeming ketika nyonya Jang balas menantangnya.

Nyonya Jang kembali bersandar pada kursinya dan menghela napas panjang. Ia meneguk kopinya, lalu menyeka sudut-sudut matanya yang nyaris dibanjiri air mata.

“Seperti yang kubilang,” gumamnya dengan suara bergetar. “Aku tidak akan pergi sampai aku bertemu dengan Wooyoung.”

***

“Kau serius?” Taeyeon tergelak dan mengangkat daftar Wooyoung ke depan wajah, lalu mengamatinya lagi.

“Oh, hentikan!” Wooyoung mengerang.

“Oke, oke.” Taeyeon mengusap perutnya yang kram dan membaca ulang keinginan kedua Wooyoung. “Kau serius belum pernah merokok atau minum-minum?”

“Aku memasuki dunia remajaku ketika aku divonis,” kata Wooyoung dengan kecewa. “Ayahku langsung melarangku melakukan hal-hal itu. Konyol sekali, bukan?”

Taeyeon merengut bingung. “Soal apa?”

“Soal merokok atau minum-minum,” sahutnya. “Bukankah kedua hal itu akan menyebabkan kanker? Aku sudah divonis menderita kanker, jadi hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa lagi. Tapi ayahku tetap saja melarangku.”

“Ya, kau benar.” Taeyeon mengangguk-angguk. “Tapi aku tetap memaklumi ayahmu. Ia hanya ingin penyakitmu tidak bertambah parah.”

“Kau sendiri..” Wooyoung menatap Taeyeon dengan selidik. “Apa kau sudah pernah merokok dan minum-minum?”

“Ehm..” Taeyeon meletakkan kertas itu di atas pangkuannya dan mengangguk bangga. “Aku merokok ketika umurku empat belas tahun. Saat itu kami sekeluarga merayakan Natal di rumah pamanku dan mereka merayakan pesta sepanjang malam. Saat seluruh orang dewasa jatuh tertidur dalam keadaan mabuk di depan perapian, aku diam-diam mencomot salah satu batang rokok pamanku dan menghisapnya di dapur. Itu adalah pengalaman pertama dan juga terakhir. Bagi perempuan, merokok tidak terlalu menyenangkan.”

“Wow!” Wooyoung berteriak kagum dan tertawa takjub. “Aku tidak tahu gadis sepertimu bisa merokok.”

Taeyeon terkekeh. “Sangat munafik jika aku bilang aku tidak pernah ingin mencoba merokok.”

Wooyoung ikut terkekeh. “Lalu, apa kau pernah minum-minum?”

“Tentu saja,” kata Taeyeon, penuh percaya diri. “Beberapa kali, jika aku sedang memikirkan ibuku.”

“Wow!” Wooyoung berteriak lagi dengan takjub.

“Kalau begitu, ayo,” kata Taeyeon. Ia mengambil mantelnya dan menarik tangan Wooyoung untuk berdiri.

“Kita mau kemana?”

“Melakukan keinginanmu yang kedua,” sahutnya tak sabar. “Cepatlah. Sebelum hari mulai gelap.”

Taeyeon senang sekali bersikap sok misterius tentang kemana mereka akan pergi. Ia hanya bilang, “Jangan banyak tanya. Pokoknya lihat saja nanti.”

Walaupun agak menyebalkan, Wooyoung tetap menyukainya. Karena kejutan-kejutan yang disiapkan oleh Taeyeon—sejauh ini—tidak pernah membuatnya kecewa.

***

Jalanan-jalanan di lingkungan itu lebih tua daripada di daerah biasa. Di lingkungan biasa rumah-rumahnya bermodel sama. Rumah-rumah disitu mempunyai beranda dan modelnya berbeda-beda, sebab para penghuninya telah mengecat pintu-pintu mereka dengan warna merah cerah atau menggantungkan keranjang-keranjang atau jendela-jendela baru.

“Stop!” seru Taeyeon.

Mereka mendecit berhenti di luar sebuah pub kecil kumuh di sudut. Nama pub itu The Tiger. Cat di pintunya sudah pecah-pecah dan mengelupas. Pintu itu terkunci.

“Tutup,” gumam Wooyoung.

“Aku tahu,” kata Taeyeon. “Temanku yang mengelola pub ini. Ketuklah di sana.”

Ada pintu berwarna putih, dan di sebelahnya pintu rumah berwarna biru. Wooyoung mengetuk pintu yang biru. Seorang gadis yang lebih muda membukakannya. Rambutnya tebal, cokelat bergelombang.

“Kau mau apa?” tanyanya.

“Ramah sekali,” komentar Wooyoung.

Taeyeon tertawa kecil. “Wooyoung, kenalkan, ini Seohyun, temanku. Dan Seohyun, kenalkan, ini Wooyoung, teman baruku dari rumah sakit.”

Seohyun memandangi Wooyoung tajam. “Kau sakit apa?”

Globula spheroidal.”

Seohyun menoleh pada Taeyeon dengan bingung. “Apa?”

“Tidak penting. Jangan hiraukan ia,” kata Taeyeon. “Boleh kami masuk ke pub sekarang?”

“Kau tahu pub baru buka jam delapan malam.”

“Ya, aku tahu. Tapi Wooyoung harus kembali sebelum malam gelap. Ayolah, Seohyun. Sebentar saja.”

“Kalian ini sebenarnya menginginkan apa sih?” tanya Seohyun curiga.

“Kami haus,” kata Taeyeon. “Kami ingin minum sesuatu dari pubmu. Boleh, kan? Ayolah, Seohyun. Aku ini temanmu.”

Seohyun berdecak. “Baiklah, baiklah.” Ia menelengkan kepala, bersikap seolah sungguh-sungguh marah.

Seohyun masuk ke dalam, lalu kembali dengan membawa banyak kunci—mungkin ada puluhan—di tangannya. Wooyoung melirik kunci itu dan membaca setiap label yang ditempel. Ada toilet, gudang, rumah, lemari, dan sebagainya.

Di dalam The Tiger, Seohyun merasa menjadi nyonya rumah dan Taeyeon dan Wooyoung menjadi tamu-tamunya. Seohyun menyalakan semua lampu, lalu duduk di belakang bar, di salah satu kursi tinggi yang biasa ada di pub. Wooyoung berdiri canggung di belakang Taeyeon, memandang berkeliling. Tidak tahu mesti berbuat apa.

Taeyeon, tentu saja, merasa berada di rumah sendiri.

“Bisakah kau menyajikan minuman pada kami, Seohyun?” tanya Taeyeon, sopan. “Apa kau punya minuman menarik yang bisa kami coba?”

“Kami punya banyak minuman,” kata Seohyun. “Ada banyak sekali minuman yang tidak pernah dipakai di rak paling atas. Kalian mau mencoba salah satunya?”

“Tergantung minuman apa,” gumam Wooyoung, waspada.

Taeyeon menyikut perutnya dan mengerang. “Oh, ayolah. Jangan jadi pecundang.”

Seohyun mengawasi keduanya dengan curiga, lalu merangkak naik ke atas rak menggunakan kursi. “Crème de menthe, minuman mint, crème de cacao, itu kopi, kurasa, atau cokelat. Brendi ceri..”

“Itu ceri!” seru Taeyeon. “Itu saja.”

Seohyun menuangkan sedikit brendi ceri itu ke dalam dua gelas kecil untuk mereka, dan mendorong gelas itu ke depan.

Wooyoung mengambil gelas itu dan mengendus-endus baunya. Lalu, ia mulai menyesapnya sedikit. Tidak terlalu mirip ceri. Rasanya manis, lengket, dan seperti alkohol, seperti anggur Natal. Gela situ hanya cukup untuk sekali minum, langsung habis.

Seohyun mengamati keduanya dan memangku dagu di atas meja bar. “Apakah kalian berpacaran?”

Taeyeon terbatuk. Wooyoung tenang saja.

“A-apa?” Taeyeon tergagap.

Seohyun tersenyum kecil. “Sepertinya jawabannya ‘tidak’, kan?”

Wooyoung dan Taeyeon saling berpandangan, lalu cepat-cepat memalingkan wajah.

Seohyun melirik Wooyoung. “Tapi aku yakin, suatu saat nanti jawaban ‘tidak’ bisa berubah menjadi ‘iya’,” gumamnya penuh percaya diri.

“Apa-apaan sih kau ini!” Taeyeon tertawa gugup. “Jangan bicara yang tidak-tidak!”

Seohyun mengedikkan bahu. “Terserah kau saja.”

***

Setelah berpamitan pada Seohyun, mereka pergi membeli cokelat dan duduk di ayunan taman. Wooyoung melipat kertas kecil yang sudah kusut itu dan menyimpannya di dalam saku.

“Bagaimana?” tanya Taeyeon. “Menyenangkan, bukan?”

Wooyoung hanya tersenyum dan menggigit-gigit batang cokelatnya. “Tapi, aku punya satu permintaan yang agak sulit untuk diwujudkan.”

“Apa itu?”

“Pergi ke bulan. Bagaimana kita bisa mewujudkannya?”

“Tentu saja bisa.” Kedua kaki Taeyeon terjuntai-juntai di atas ayunan. Ia mendorong tubuhnya ke belakang sejauh mungkin. “Kita selalu punya cara untuk mewujudkannya. Kau tidak perlu khawatir.”

Wooyoung mulai berayun, setinggi mungkin. Ia merasa lelah, tapi sudah lama tidak merasa sebahagia ini. “Kita akan ke Bulan!” teriaknya. Sinting, memang. Tapi siapa tahu? Mungkin saja mereka bisa benar-benar pergi ke sana.

Keduanya tertawa dan berteriak-teriak di taman. Dua puluh empat jam yang tersisa sudah habis. Tinggal dua puluh hari lagi yang tersisa. Masih banyak, batin Taeyeon, menguatkan hati. Kami masih punya banyak waktu.

***

Wooyoung terkejut melihat ibunya ada di kamar rawat, mengobrol bersama ayahnya ketika ia baru saja mengakhiri petualangannya bersama Taeyeon. Saat melihatnya, nyonya Jang melompat girang dari kursi dan menghambur ke dalam pelukan Wooyoung.

“Ya Tuhan, Wooyoung!” Ibunya memekik bahagia dan memeluknya sangat erat hingga menekan Hickman Line-nya.

“Auch!” Wooyoung melonjak mundur dengan terkejut.

Nyonya Jang memandangi anaknya khawatir. “Ada apa, Sayang?”

Tuan Jang merengut. “Sudah kubilang ia tidak mau bertemu denganmu.”

“Tidak,” sanggah Wooyoung sambil mengusap dadanya. “Ibu menekan Hickman Line-ku.”

“Apa?” Ibunya mengernyit bingung.

“Itu slang tipis yang ada di dalam dadanya. Salah satu bagian pengobatan,” sahut ayahnya.

“Oh,” Ibunya memegang lengan Wooyoung. “Maafkan Ibu, Sayang.”

“Tidak apa-apa.”

Ibunya menarik Wooyoung duduk bersama di tepi ranjang, menggusur ayahnya yang tadi duduk dengan damai di sana. Keduanya saling mengamati satu sama lain, mencoba mengenali sisa-sisa kenangan yang pernah mereka lalui bersama. Nyonya Jang tahu tidak banyak yang berubah dari Wooyoung kecuali tinggi dan berat badannya. Sementara Wooyoung mendapati ibunya tampak lebih bahagia dan terlihat segar semenjak berpisah dengan ayahnya.

“Kau terlihat sehat, Sayang,” kata ibunya dengan lembut. “Ibu tidak percaya dokter memvonismu seperti ini.”

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.”

“Lihat, kau bilang kau baik-baik saja. Itu berarti kau memang tidak sakit. Sudah jelas bahwa kau sehat. Tapi, ayahmu mesti mengurungmu di rumah sakit tanpa kegiatan..”

“Aku punya banyak kegiatan,” kata Wooyoung.

“Namjoo..” kata ayahnya dengan nada memperingatkan.

“Konyol. Kau bisa melakukan apa di rumah sakit selain tidur? Kau bisa ikut bersama Ibu dan kita akan melakukan banyak hal, Sayang.” Ibunya mencoba terus membujuk, tapi justru mengusik amarah ayahnya.

“Namjoo..” kata ayahnya lagi. Raut wajahnya menegang. “Jangan.”

Ibunya tidak menjawab. Ayahnya sedang menatapnya. Ibunya seperti merasa bersalah, tapi sekaligus ingin tegas.

“Kurasa dokter itu asal bicara saja,” katanya lagi. “Wooyoung sehat-sehat saja. Coba lihat ia.”

Mereka memandanginya. Ibunya menjerit dan mundur beberapa langkah. Wooyoung menunduk melihat jaketnya yang telah dikotori oleh darah yang berasal dari hidungnya. Ayahnya beranjak maju dan menarik beberapa lembar tissue. Ia mimisan lagi.

“Tidak apa-apa,” kata ayahnya, lalu membersihkan wajah Wooyoung. Ayahnya menatap tajam pada ibunya dengan sorot mata menuduh.

Wooyoung melihat ibunya yang beranjak mundur ke belakang pundak ayahnya dengan ketakutan, seolah baru saja melihat hantu. Saat itu, Wooyoung tahu, bahwa ia tidak mengenali sosok wanita itu sepenuhnya. Itu seperti bukan ibunya.

To be continued…

72 thoughts on “Restless (Part 3)

  1. ibunya kaga bener-_-
    seo jadi pemilik pub? wajahnya sangat polos susah bayangin mending diganti hyoyeon aja
    semoga kaga sad ending dan woo tae jadian 🙂

  2. FF pertama yang bikin nangis sesenggukan:D. lebay mungkin.. tapi emang ngena banget. Keren lah pokoknya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s