The Boys and Me [Episode 3]

Author : Iefabings

Casts :

  • Kai EXO-K
  • Luhan EXO-M
  • Sehun EXO-K
  • Baekhyun EXO-K
  • Chanyeol EXO-K
  • Kim Taerin a.k.a Meylita174 (oc)
  • Shin Minra a.k.a awsemeoneim (oc)
  • Park Heehyo a.k.a helmsyin1 (oc)

Support Casts :

  • D.O EXO-K
  • Keluarga-keluarga para cast, temukan sendiri

Genre : Friendship, family, romance (?), comedy (?)

Ratings : PG-13

P.S : Annyeong… INDONESIA BAGUS SEKALI! KAMI CINTA SAYA! Doh, dua pacar author ini bikin gemes aja. Yang satu ngomong fasih banget, yang satu typonya fatal banget. Tapi author jadi tambah lope lope sama D.O dan Chanyeol deh *kiss D.OYeol*. Ini saya persembahkan part 3 nya. Berjuta kata maaf saya haturkan pada readers yang nungguin ini. Semoga di hari selanjutnya saya bisa lebih tepat waktu terima kasih. *habis galau smtown bahasanya jadi abal*

^0^

Author pov

“Sampai jumpa nanti, Lulu.”

“Ne.”

Taerin membuka pintu pagar rumahnya dan melangkah masuk. Pintu depan sudah terbuka, tidak biasanya.

“Kemana orang-orang?” gumamnya sambil melepas sepatu dan meletakkannya di tempat sepatu. “Aku pulang,” suara Taerin. Tak ada jawaban. Dia pun berjalan menuju dapur, berharap menemukan kehidupan di sana. Tapi nihil. Dapur kosong melompong. “Taehee-ah,” panggilnya.

Tetap saja tak ada jawaban. Dengan putus asa dia naik ke lantai atas, menuju kamarnya. Dia berhenti sesaat di depan pintu kamar Taehee. Tidak biasanya kamar Taehee bebas suara. Biasanya akan terdengar suara musik yang cukup keras dari dalam sana. Tapi Taerin hanya mengangkat bahunya lalu melewatinya begitu saja.

Dia melepas ranselnya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Istirahat sejenak, lalu mengambil handuk untuk mandi. Tiba-tiba matanya menangkap benda berkilau dari meja belajarnya.

“Aish, kenapa aku bisa lupa?” dia menepuk keningnya sendiri. Benda itu adalah cincin pemberian ibunya Kai.

 

<flashback>

“Bagaimana cheesecakenya?” tanya ibu Kai penuh antusias. Taerin tampak begitu gugup berada di hadapan ibu Kai saat ini. Sementara Kai yang membawanya dalam penderitaan sekarang malah duduk santai di sampingnya tanpa beban sedikit pun.

“Mashita,” jawab Taerin jujur. Cheesecake buatan ibu Kai memang sangat enak.

“Kau sangat manis, tidak salah putraku memilihmu,” ibu Kai tersenyum sambil mengusap rambut Taerin penuh sayang. “Kau tinggal dengan siapa?”

“Aku bersama appa, eomma dan yeodongsaengku,” jawab Taerin sopan.

“Pasti donsaengmu juga semanis dirimu. Pasti kedua orang tuamu sangat bahagia punya anak yang manis dan sopan sepertimu,” ucapnya sambil melirik Kai sekilas.

“Jadi eomma tidak bahagia punya anak sepertiku?” sahut Kai.

“Aku tidak bicara denganmu,” kata ibunya datar. “Apa pekerjaan ayahmu?”

“Appa bekerja sebagai jaksa wilayah di kantor pemerintahan. Hanya pegawai negeri biasa.”

“Aigoo, itu pekerjaan yang hebat. Lalu ibumu?”

“Eomma mengajar di sekolah dasar.”

“Keluarga yang sangat berpendidikan. Apa kau sekelas dengan Jonginnie?”

“Kenapa eomma bertanya terus?” potong Kai.

“Sudah ku bilang aku tidak bicara denganmu. Kau diam saja.”

“Sebenarnya siapa anaknya siapa? Kepadaku tidak pernah bersikap semanis itu. Aku ke kamar saja,” keluh Kai lalu beranjak dari tempat duduknya. Ibunya hanya tertawa kecil melihat tingkah kekanakannya.

“Jadi… kau sekelas dengan Jonginnie?”

“Ani, kami di kelas yang berbeda, ahjummeonie,” jawab Taerin.

“Aigoo, panggil eommeonie saja,” ucap ibu Kai yang membuat Taerin sedikit canggung. Lebih-lebih karena kini mereka hanya berdua saja. “Lalu kau di kelas apa? Dan bagaimana kalian bisa bertemu?”

“Aku… kelas 2-1. Cukup jauh dari kelasnya. Kami… bertemu…di…”

“Kelas 2-1? Kelas special? Omo, berarti kau murid yang sangat cerdas. Benar-benar sempurna. Jonginnie, kali ini kau melakukan hal yang sangat benar,” pekik ibu Kai girang. “Kemari, ikut aku,” diraihnya tangan Taerin agar mengikutinya.

Mereka memasuki sebuah ruangan yang tidak kalah luas dari ruang tamu tadi. Penuh dengan ornament mewah, sepertinya merupakan ruangan pribadi keluar Kim. Ibu Kai mengambil sebuah kotak berwarna perak yang terkesan mewah dan mahal lalu membukanya.

“Ini untukmu,” sebuah cincin yang sepertinya terbuat dari diamond asli dengan kilauan yang menyilaukan dibawanya ke dekat Taerin. “Aku benar-benar menyukaimu. Akhirnya cincin ini menemukan pemilik yang pantas,” dan tanpa mendengar persetujuan Taerin, kini cincin itu melingkar di jari manis Taerin.

“Tapi… ahjummeonie…” Taerin merasa bersalah. Biar bagaimana pun hubungannya dan Kai hanya sandiwara.

“Eommeonie,” ibu Kai mengoreksi. “Jangan menolak. Seudah jam berapa sekarang? Hampir waktunya makan malam. Kau makan malam di sini saja.”

Taerin tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan pasrah dia mengikuti ibu Kai yang begitu antusias bersamanya.

<flashback end>

 

“Harus segera ku kembalikan padanya,” ucap Taerin lirih.

Lalu dia meletakkan cincin itu kembali dengan tekad akan membawanya besok untuk dikembalikan.

“Tadi aku mau apa? Ah, mandi. Benar,” dia berbicara pada dirinya sendiri.

Dalam perjalanan menuju kamar mandi, dia kembali melihat pintu kamar Taehee karena kamar mereka memang berhadapan. Sedikit penasaran karena terasa begitu sepi. Akhirnya dia putuskan untuk masuk saja. Dibukanya pintu kamar yeodongsaengnya itu.

“Taehee-ah,” panggilnya dengan suara lembut. Tidak ada jawaban dari Taehee. Jadi dia terus saja masuk.

Keadaan kamarnya sudah sangat berantakan. Kertas di sana sini bertebaran. Dan betapa terkejutnya Taerin saat dilihatnya Taehee tengah tergeletak di tempat tidurnya dengan mata menerawang.

“Yak, Taehee-ah, kau kenapa?” tanyanya panik. Dihampirinya Taehee yang keadaannya sudah sangat random. Dia menepuk kedua pipinya agar tersadar.

“Eonnie…” jawab Taehee lirih.

“Kau sakit? Katakan pada eonnie. Ayo kita ke rumah sakit saja.”

“Aniya, aku… tidak sakit…. Tapi memang iya, aku sedang sakit. Tapi… bukan… yang seperti itu,” suara Taehee semakin terdengar aneh.

“Aish, apa maksudmu? Katakan yang jelas.”

Lalu Taehee bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. “Apa eonnie pernah jatuh cinta?”

“Mwoya? Bukannya kau sendiri yang mengaku sering berkencan? Kenapa malah tanya pada eonnie?”

“Ini berbeda. Rasanya begitu damai saat mendengar suaranya. Dan matanya yang bulat itu….”

“Sebenarnya kau kenapa?”

“Eonnie. Yongeun bilang aku sedang jatuh cinta padanya. Tapi dia adalah seorang oppa yang usianya empat tahun di atasku.”

“Lalu bagaimana kau bisa mengenalnya?”

“Takdir…” mata Taehee kembali menerawang. “Kami dipertemukan oleh takdir.”

“Ternyata masalah yang tidak penting. Ku pikir kau sedang sakit atau apa. Sudah, aku mau mandi.”

“Chamkanman, aku masih ingin cerita,” Taehee menahan tangan Taerin agar tidak pergi.

“Aku tidak tertarik.”

“Bukankah aku adalah adikmu satu-satunya? Apa kau senang jika aku menderita karena cinta?” entah sejak kapan dia belajar ber-puppy eyes begitu.

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Bantu aku, eonnie. Aku ingin menjadi yeojanya. Jebal….”

“Kenapa harus aku? Memangnya dia seseorang yang ku kenal?”

“Jadi eonnie tidak mengenalnya?”

“Bagaimana aku bisa tahu kalau namanya saja aku tidak tahu.”

“Namanya Do Kyungsoo. Nama yang indah bukan?”

“Tidak kenal. Aku mandi,” jawab Taerin datar.

“Tidak kenal? Mengecewakan sekali,” Taehee mengerucutkan bibirnya. Kini dia membiarkan eonnienya itu pergi. Setelah pintu kamarnya tertutup kembali, Taehee kembali berbaring. Dia terus memandangi langit-langit kamarnya dan membayangkan wajah cinta pada pandangan pertamanya itu, D.O.

^0^

Di rumah Sehun….

Sehun melempar tasnya begitu saja ke tempat tidurnya. Dia sedikit kesal karena harus mengantar Heehyo ke rumahnya.

“Memangnya dia tidak punya sopir pribadi?” gumamnya.

Kalau hanya mengantar baginya tidak masalah. Nah, ini dia harus menghadapi tingkah orang tua Heehyo yang menurutnya berlebihan. Mereka selalu menganggap Sehun seorang pangeran yang akan menikahi putri mereka. Dalam hati Sehun terus membatin, ‘tunggu hingga ku batalkan pertunangan ini.’

Dia duduk di sisi tempat tidur, saat pandangannya jatuh pada seonggok benda di meja belajarnya. Kado itu. Dia masih belum membukanya. Lalu dia teringat kembali adegan slow motion yang dia alami siang tadi. Saat matanya dan mata Minra berada dalam kordinat yang sejajar. Dia pun mendekati meja belajarnya, menarik nafas sebelum menyentuh kado itu. Perlahan dia buka kertas berwarna coklat yang membungkus hadiah pemberian Minra.

“Sarung tangan?” dahinya berkerut melihat isinya. Hanya sarung tangan biasa, yang tidak ada istimewanya sama sekali. Lalu sebuah note kecil berada di bawahnya.

Untuk Sehunnie

Aku merajutnya sendiri, dengan susah payah belajar dan akhirnya berhasil.

Ku harap Sehunnie suka dengan karya yang ku buat dengan penuh kasih sayang ini. Aku sangat mengagumimu. Um… apa aku salah jika ku katakan aku menyukaimu?

 

Minra

Tak terasa kedua sudut bibirnya tertarik untuk mengukir sebuah senyuman. Sekarang dia tahu apa yang istimewa dari hadiah ini. Dadanya terasa dipenuhi bunga-bunga kecil yang menari-nari. Dia bahagia.

^0^

Keesokan harinya, seperti biasa Taerin dan Luhan menunggu Sehun di halaman depan.

“Itu apa, Rin-ah?” tunjuk Luhan pada kalung di leher Taerin.

“Kalung?”

“Bukan, cincin yang kau jadikan liontin itu,” kata Luhan.

“Ige…” Taerin diam sejenak. “Kalau ku beritahu ini dari ibunya Kai, dia bisa marah karena mengira aku menyimpannya,” batinnya. “Aku menemukannya di kotak mainan lamaku. Karena ku pikir masih bagus dan sangat cantik ku pakai saja,” jawab Taerin sekenanya.

“Cincin itu memang cantik,” kata Luhan.

“Hanya cincin biasa,” Taerin menyembunyikan cincin yang menggantung pada kalungnya itu di balik seragamnya. “Itu Sehun,” tunjuknya untuk mengalihkan perhatian.

Mobil Sehun berhenti di depan mereka. Luhan dan Taerin pun naik, sebelum akhirnya Sehun melajukannya lagi.

^0^

Suasana sekolah masih heboh dengan hasil battle idola kemarin. Mading kini dipenuhi dengan wajah dan berita tentang lima idola itu. Taerin dan keempat kawannya beserta Heehyo berhenti sejenak untuk melihat berita di mading sekolah.

“Kenapa foto ini yang dipajang? Aku terlihat jelek,” keluh Baekhyun sambil mengamati foto saat kemarin dia naik ke punggung Sehun untuk melakukan shooting.

“Foto tidak masalah, yang penting kita menang,” ucap Taerin.

“Skorku nol. Benar-benar memalukan,” kata Sehun.

“Tidak masalah, di challenge berikutnya kau pasti bisa melakukan dengan baik,” Luhan merangkul pundak Sehun dengan tulus.

“Aku pasti mengecewakanmu ya, Luhannie. Aku benar-benar payah,” Sehun menundukkan wajahnya.

“Aigoo,” Luhan menarik dagu Sehun. “Bagiku kau tetap yang terbaik. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menganggapmu payah. Jangan sedih lagi,” hibur Luhan. Sehun akhirnya mengembangkan senyumnya.

Begitulah adegan kemesraan HunHan yang hanya mendapat tanggapan berupa gelengan kepala dari Taerin. Mereka pun bergandengan menuju kelas, tanpa menyadari ada ekor mata seseorang yang menatap mereka dengan konteks yang sulit diartikan.

^0^

Minra memandangi bungkusan kado di tangannya. Kado yang mungkin akan menjadi kado terakhir untuk Sehun. Bahkan kado pertamanya waktu itu tidak mendapat respon apa-apa dari Sehun. Well, dia memang tersenyum padanya. Tapi bisa saja itu hanya sebagai formalitas untuk menyenangkan hati fansnya.

“Annyeong, Minra-ah,” sapaan Heehyo membuat Minra tersentak. Spontan dia menjejalkan kado itu ke bawah bangku. “Mworago?”

“Ani, bukan apa-apa,” jawab Minra.

“Jelas-jelas tadi ku lihat kau memasukkan sesuatu. Aku ingin tahu,” badan Heehyo condong untuk bisa mengintip sesuatu yang berada di bawah bangku Minra.

“Sudah ku bilang bukan apa-apa. Hanya benda yang tidak penting,” Minra berusaha menutupi kado yang dia sembunyikan.

Heehyo pun menyerah dan memilih duduk di kursinya karena bel masuk akan segera berbunyi.

“Hyo-ah.”

“Ne?”

“Um…” Minra tampak ragu dengan sesuatu yang akan dia katakana sebentar lagi. Heehyo menatap Minra, menunggu. “Benarkah kau dan Sehun….”

“Ah, kau ingin menanyakan itu? Benar, aku memang tunangannya Sehun. Kami dijodohkan,” jawab Heehyo sebelum Minra sempat menyelesaikan kalimatnya. Jawaban yang terdengar enteng, tapi membuat dada Minra terasa berat.

“Dijodohkan?”

“Ne, biasa lah, hubungan perusahaan.”

“Apa kalian menerimanya?”

“Sejauh ini tidak ada yang menolak di antara kami,” Heehyo lagi-lagi menjawab dengan entengnya.

“Apa kau menyukai Sehun?” tanya Minra lagi.

“Entahlah, dia sangat menyebalkan, dingin, sedikit blak-blakan. Aku tidak tahu pasti karena aku baru mengenalnya. Oh ya, apakah Sehun dan Luhan berpacaran?”

“Mwo?” Minra sedikit terkejut dengan pertanyaan Heehyo yang terdengar aneh.

“Yaaaaa, dari kemarin aku melihat mereka mesra sekali. Jadi ku pikir mereka sepasang kekasih. Aku sedikit risih melihatnya,” Heehyo tampak bergidik. “Aku igin tanya Taerin, tapi tidak enak karena mereka sudah bersahabat sejak kecil.”

“Kau keberatan jika mereka dekat?”

“Tentu saja keberatan.”

Minra terdiam. Sepertinya memang Heehyo menyukai Sehun, begitu yang dia pikirkan. Dan mengingat siapa Heehyo dan siapa dirinya, sepertinya benar-benar tidak ada harapan baginya.

^0^

“Sekian untuk hari ini, selamat siang,” Kyuhyun seongsaenim mengakhiri pelajaran siang itu, pertanda waktu istirahat makan siang tiba. Baekhyun menghampiri Luhan di bangkunya, seperti biasa.

“Aku ke perpustakaan, kau mau ikut tidak?” tanya Baekhyun.

“Omo, kau mimpi apa semalam? Bagaimana bisa insaf?” mata Luhan membulat.

“Babo!” Baekhyun menjitak Luhan sedikit keras. “Tadi Taerin kan mengajak kita untuk berkumpul di sana.”

“Ah, benar juga. Aku lupa,” Luhan nyengir. “Aku tidak ikut, ada pertemuan klub basket sebentar lagi.”

“Geurae,” Baekhyun mengangguk paham lalu pergi meninggalkan Luhan.

Dan Luhan pun bangkit dari tempat duduknya untuk pertemuan klub basket seperti yang dia katakan tadi.

“Siang, Luhannie. Kau sudah makan siang?” baru saja tiba di pintu, beberapa fans sudah menghadangnya.

“Ani, aku harus segera ke ruangan klub basket,” jawab Luhan dengan senyum manisnya.

“Kemarin itu kau benar-benar hebat, Luhannie,” kata fans lain.

“Ne, Luhannie jjang!”

“Gomawo, aku harus segera pergi.”

Akhirnya bisa terlepas dari serbuan fansnya, kini dia bisa menuju ruang klub basket dengan tenang. Tapi rupanya dia tidak bisa semudah itu tiba di sana. Seseorang kembali menghadang langkahnya.

“Hi, Luhannie,” itu Heehyo, dan dia menyapa Luhan. Keningnya berkerut.

“Ne?”

“Kau sedang menuju kemana? Ku pikir ini bukan jalan menuju kelas Sehun.”

“Memang bukan. Aku mau ke ruang klub basket,” jawab Luhan.

“Ah, kau terburu-buru? Bisa bicara sebentar?” tanya Heehyo. Kerutan di kening Luhan bertambah. Tapi bukan berarti Luhan membutuhkan krim anti aging.

“Bisa.”

“Um… bagaimana kalau sambil duduk di sana?” tunjuk Heehyo pada tembok yang memang biasa dijadikan tempat nongkrong murid lainnya.

“Ye,” dan mereka berdua pun duduk berdampingan di tembok itu.

“Seberapa dekat kau dengan Sehun?” tanya Heehyo tanpa basa basi.

“Ne?”

“Apa perlu ku ulangi? Antara kau dan Sehun, kalian ada hubungan apa?” Heehyo memperjelas pertanyaannya.

“Sudah jelas kan? Aku, Sehun, Taerin, Baekhyun dan Chanyeol bersahabat sejak kecil.”

“Tapi kalian berdua beda. Tidak seperti tiga lainnya. Menurutku kalian lebih intim,” ujar Heehyo. “Kalian berpacaran?”

“Eh?” Luhan tersentak mendengar pertanyaan aneh Heehyo itu. “Apa maksudmu? Aku dan Sehun sama-sama namja…” Luhan tersenyum getir. Tidak menyangka Heehyo mengira dirinya dan Sehun tidak normal.

“Lalu bagaimana kalian menjelaskan kedekatan kalian? Dan kecemburuanmu padaku,” Heehyo mendekatkan wajahnya, membuat Luhan menggeser duduknya beberapa senti dari Heehyo. Dia gugup.

“Kami memang seperti itu… er… sebagai ungkapan kasih sayang saja. Cemburu? Aku? Padamu?” Heehyo mengangguk. “Kapan aku merasa cemburu? Biasa saja.”

“Jangan mengelak. Kau jelas-jelas cemburu karena aku duduk di sebelah Sehun.”

“Sebenarnya yah, sedikit kecewa. Itu adalah tempat duduk permanen untukku. Tapi sekarang aku sudah terbiasa.”

“Arasseo,” Heehyo manggut-manggut. “Boleh aku meminta sesuatu padamu?” tanya Heehyo.

“Mwoya?”

“Jangan terlalu dekat dengan Sehun. Aku tidak suka,” ucap Heehyo, yang lagi-lagi mendekatkan wajahnya pada Luhan. “Arasseo?”

Mata Luhan membulat. Tubuhnya kaku, tidak bisa bergerak, dengan wajah yang berjarak tak lebih dari 10 senti dengan wajah Heehyo. Dia hanya mengangguk, bernafas saja sulit baginya.

“Bagus, sekarang kau boleh lanjutkan kegiatanmu,” kata Heehyo santai sambil mempermainkan rambut Luhan dengan lembut. Kemudian, satu senyuman Heehyo tinggalkan sebelum berlalu meninggalkannya.

“Apa maksud ucapannya tadi dia cemburu jika aku dekat dengan Sehun? Dia takut aku merebut Sehun darinya? Aish, sulit dipercaya. Dan tadi itu apa? Kenapa wajahnya begitu dekat? Dan pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab atas sindrom aneh yang ku alami tadi,” Luhan terus saja mengoceh dalam hati sambil mengelus dadanya. Akhirnya dia bisa bernafas dengan normal lagi.

^0^

Minra berjalan takut-takut menuju bangku Sehun yang sudah dia hafal di luar kepala. Paling belakang, pojok, dekat jendela, itulah tempat duduk Sehun. Tanpa Sehun sadari, Minra memang selalu memperhatikannya sejak tahun pertama di sekolah menengah. Saat itu Minra masih sekelas dengan Sehun dan bisa setiap saat mengamati wajah, tingkah laku, dan semua gerakan Sehun. Tapi karena saat kenaikan kelas nilainya jauh di bawah standar, maka dia terlempar ke kelas 2-8 sementara Sehun di kelas 2-3. Tapi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus memperhatikan namja yang dia sukai itu. Setiap pagi sebelum ke kelasnya, dia akan menyempatkan diri untuk melongok ke kelas Sehun, memastikan dia masuk. Lalu saat jam istirahat, dia akan dengan sengaja melewati kelas 2-3 untuk sekedar memandangi wajah Sehun walau sesaat. Dan sebelum pulang, dia akan menunggu hingga Sehun dan teman-temannya pulang, tanpa satu pun dari mereka tahu. Ini bukan sekedar perasaan suka seorang fans. Dia tahu perasaannya akan sangat sulit mendapat balasan. Tapi sedikit pun dia tidak gentar untuk terus berharap. Hingga kemarin, saat dia harus menerima kenyataan bahwa Sehun dan Heehyo….

“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Ini salahku sendiri yang menyukainya,” batinnya. Diletakkannya kado itu di bawah bangku Sehun. “Mungkin ini yang terakhir. Walau perasaanku padamu tidak akan berakhir. Seandainya kau tahu bahwa aku begitu menyukaimu….”

Minra hanya bisa menatap nanar bangku itu. Lalu dia berbalik untuk kembali ke kelasnya dengan wajah menunduk.

Puk!

Tanpa sengaja kepalanya terantuk dada kokoh seseorang. Dia mendongak.

“Se… Sehunnie…” Minra gelagapan. ‘Habislah aku. Dia pasti mengira aku melakukan yang macam-macam tadi. Aish,’ batinnya.

“Sedang apa di sini? Bukan kelasmu kan?” tanya Sehun dingin.

“Aku… aku… tadi itu…”

“Apa yang kau lakukan di bangkuku tadi?” tanya Sehun lagi, masih dengan nada dingin.

“Mianhae… aku tidak bermaksud…”

Sehun tidak menunggu hingga Minra menyelesaikan kalimatnya. Dia melangkah ke bangkunya dan mengeluarkan kado yang Minra letakkan tadi. Dia lalu kembali ke hadapan Minra yang menundukkan wajahnya, tidak berani menatap langsung wajah Sehun. Di bayangannya kini pangeran impiannya sudah berubah sangar. *entah gimana cara bayanginnya, author aja gak pernah kepikiran Sehun bermuka sangar*

“Ini kado kan? Untukku?” Sehun tidak mengubah caranya bertanya sedikit pun. Dingin, sedingin esnya Xiumin.

“N… ne….”

“Lagi?”

“Kalau kau tidak suka biar aku ambil lagi. Mianhae, neomu mianhae. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Tidak akan menjadi stalkermu, tidak akan muncul di hadapanmu apa lagi memberikan kado-kado tidak penting. Mulai sekarang kau tidak akan terganggu dengan kehadiranku lagi. Yaksokhe,” kini tubuh Minra sudah membentuk sudut 90o.

“Janji macam apa itu?”

“Eh?” dengan sedikit keberanian Minra mendongak.

“Benda yang sudah kau berikan pada seseorang tidak boleh diambil kembali,” Sehun merebut lagi kado dari tangan Minra. “Kalau kau suka stalking, lakukan saja. Kalau kau punya ribuan kado untukku, berikan saja. Terganggu? Memang sedikit terganggu saat tahu ada fans yang mengendap-endap ke kelasku hanya untuk meletakkan ini. Aku lebih suka caramu kemarin itu,” kali ini ucapan Sehun memang masih terdengar dingin, tapi entah mengapa Minra merasakan kehangatan di dalamnya. Itu cukup untuk membuat wajah memerah dan dia jadi terkena time control sendirian.*Tao, plis kali ini jangan nakal ya. Kasihan Minra*#skip “Aku akan membukanya nanti,” Sehun menyimpan kado itu di dalam tasnya, sementara Minra masih membeku.*Yaelah, sekarang giliran Xiumin yang nakal. Minnie, kalo berhenti maen es nanti author bikinin ff khusus Xiumin yang panjanganya sepuluh miliar kata.*#ebuset, itu ff apa hikayat?

Sehun yang sebenarnya ada janji untuk ke perpustakaan bersama Chanyeol, Taerin dan Baekhyun kini melangkah ke arah pintu. Tapi kemudian berbalik lagi dan berkata, “Sarung tangan itu cukup membuatku hangat. Hasil belajarmu sangat memuaskan,” ucapnya. Minra yang masih enggan beranjak dari posisinya terus mengamati punggung Sehun hingga menghilang dari pandangannya. Lalu dia terbebas dari kebekuan yang dialaminya, kini dia berjingkrak saking bahagianya. Ini adalah rekor kalimat terpanjang yang dia dengar dari Sehun untuknya. Benar-benar suatu sejarah baginya. Kalau saja dia anak @l4y pasti dia sekarang sudah update status, tweet panjang hingga berparagraf-paragraf, kalau perlu pinjem toa masjid dan memberi tahu seisi sekolah tentang pengalaman berharganya tadi.*plak* Tapi satu hal yang tak Minra tahu. Sehun yang kini sedang menuju perpustakaan tak hentinya tersenyum penuh arti.

^0^

To : Sehunnie

Sepertinya hari ini tidak bisa pulang bersama, aku ada pelajaran privat untuk persiapan olimpiade Fisika bulan depan.

 

Taerin menghela nafas. Dia sadar, ini pertama kalinya dia berbohong pada keempat sahabatnya, dan semua itu gara-gara Kai. Tapi ini harus, begitu manurutnya. Dia harus mengembalikan cincin pemberian ibu Kai itu dan untuk melakukannya tentu harus bicara empat mata tanpa diketahui orang lain, lebih-lebih sahabatnya. Dan sepertinya pernyataannya itu menggemparkan karena Sehun memforward pesan dari Taerin pada Baekhyun, Chanyeol dan Luhan.

 

From : Sehunnie

Gwenchana, kami kan sudah terbiasa menunggu.

 

From : Lulu Hannie

Tidak ada ceritanya pulang secara terpisah. Akan kami tunggu.

 

From : Baekie

Kau bercanda?

 

From : Channie

Kabur saja, kalau begitu. Tidak usah ikut kelas privatnya.

 

To : Sehunie, Lulu Hannie, Baekie, Channie

Hunnie and Lulu >> Ini kemungkinan sampai larut malam. Kau tahu sendiri kan, ini olimpiade tingkat nasional dan akan menjadi tiketku ke tingkat internasional.

Baekie >> Kau sendiri bercanda?

Chan >> Adegan yg kau sarankan tidak patut ditiru. -_-

 

From : Lulu Hannie

Aish, seketat itu? Geurae, kami pulang duluan. Mianhae….

 

From : Sehunnie

Ooops! Sepertinya aku pun tak mampu menunggu selama itu. Tapi kalau nanti malam kau ingin dijemput, katakana saja. Ne?

 

From : Baekie

(-________-)” Sampai larut malam? Baekhyun menyerah.

 

From : Channie

Kasihan sekali tuan putri akan kelelahan sampai larut malam. *pukpuk*

 

To : Sehunnie, Lulu Hannie, Baekie, Channie

Lulu >> Gwenchanayo, justru aku lega kalau kalian tidak menunggu.

Hunnie >> Pasti, kau orang pertama yg akan ku telpon saat aku butuh tumpangan.

Baekie >> Tidak ada yg memaksamu untuk bertahan, Hyunnie.

Channie >> Itu sama sekali tidak membantu.

 

From : Sehunnie

Selamat belajar, kalau begitu.

 

From : Lulu Hannie

Hwaiting!

 

From : Baekie

Arayo, makanya aku menyerah. Selaat belajar, Rin-ah!

 

From : Channie

Kalau begitu aku bantu doa saja.

 

Taerin tersenyum lega. Sebelum membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya, dia berjaga di jendela kelasnya, memastikan keempat sahabatnya masuk mobil Sehun dan pulang.

“Bagus, sekarang tinggal membereskan si kulit gelap,” gumamnya setelah melihat mobil Sehun meninggalkan gerbang sekolah.

Dengan berlari kecil, dia menuju ruang kelas Kai. Tapi betapa kecewanya dia saat mendapati ruangan itu sudah kosong.

“Yak, chamanman!” panggilnya pada seorang murid yang kelihatannya beru keluar dari kelas Kai. Murid itu menoleh. “Kau dari kelas ini kan?”

“Benar,” jawabnya singkat sambil mengerutkan keningnya.

“Apa semua siswa kelas ini sudah pulang?” tanya Taerin.

“Tentu saja sudah pulang. Ini kan memang waktunya pulang.”

“Begitu,” lagi-lagi Taerin kecewa sekaligus menyesal tidak ikut sahabatnya pulang tadi.

“Tapi aku tidak tahu Kai sudah pulang atau tidak. Dia membolos pelajaran terakhir.”

“Jinjayo?” mata Taerin membulat, tapi segera merubah ekspresinya agar tidak menimbulkan kesan curiga. “Lalu dia kemana?”

“Biasanya dia sembunyi di perpustakaan.”

“Jeongmal gomawo,” ucap Taerin sebelum bergegas ke perpustakaan.

Dia berlari kecil menyusuri koridor dan menaiki tangga karena perpustakaan terletak satu lantai di atas kelasnya. Dia mengatur nafasnya saat tiba di pintu perpustakaan.

“Dasar tuan putri sok rajin. Yang lain sudah pulang kau masih ingin ke perpustakaan?”

Taerin mendongak. Bingo! Dia bahkan tidak perlu mencari lagi karena Kai sudah berdiri di hadapannya.

“Bagus, karena kau sudah di sini,” ucapnya lirih masih dengan nafas tersengal.

“Wae geurae? Kau mencariku? Apa sekarang kau sudah memutuskan untuk menjadi fansku juga?”

“Mwoya? Aku pasti baru saja mengalami kecelakaan tragis kalau itu terjadi,” kata Taerin penuh ejekan.

“Lalu?”

“Ada hal penting yang ingin ku bicarakan dan ku kembalikan.”

“Kedengarannya menarik. Kau mencuri sesuatu dariku?” Kai bersedekap.

“Aniya, aku bukan pencuri. Eommamu yang memberikannya padaku,” sanggah Taerin cepat.

“Eomma?”

“Ne, eommamu…” Taerin belum sempat menyempurnakan kalimatnya karena segera setelah itu Kyuhyun seongsaenim muncul.

“Ah, Taerin-ah. Syukurlah kau belum pulang,” Kyuhyun menghampiri mereka berdua. “Aku lupa memberi tahumu tadi kalau kelas privat akan dimulai hari ini. Jadi setiap hari Senin kau akan pulang larut malam.”

“Hari ini?” tubuh Taerin melemas. Kebohongannya menjadi kenyataan.

“Kajja, ke kelas Sains, murid lain sudah menunggu di sana sejak tadi,” kata Kyuhyun. “Dan kau, sedang apa di sini? Kau bukan peserta olimpiade kan?”

“Kalau ada olimpiade dance, aku adalah peserta utamanya,” sahut Kai dengan cengiran lebar.

“Tunggu saja, kalau begitu. Taerin-ah, cepat masuk kelas,” tekan Kyuhyun.

Taerin melihat Kai sekilas, lalu dengan terpaksa dia mengekor Kyuhyun ke kelas Sains. Gagallah recana mengembalikan cincin itu.

^0^

“Aish, aku pasti sudah gila,” rutuk Kai pada dirinya sendiri. Rambutnya sudah berantakan karena dia acak-acak sedari tadi. Sebenarnya ada apa dengan Kai? “Kenapa aku harus menunggu si tuan putri itu?” Oh, rupanya Kai dengan setianya menunggu Taerin pulang hingga malam hari dan kini sudah menunjukkan jam 9 malam. Kai sendiri tidak mengerti kenapa. Ada sedikit rasa khawatir mungkin karena Taerin akan pulang sendirian malam ini. Atau bisa juga karena dia sedikit penasaran dengan ‘sesuatu’ yang ingin Taerin kembalikan padanya. Tapi kedua alasan itu berusaha dia buang jauh-jauh. “Akan sangat memalukan kalau dia tahu aku menunggunya,” gumam Kai sambil berjalan menuju mobilnya. “Tapi… aish, aku harus pulang,” dia terus mendesak benaknya sendiri agar menyalakan mesin mobil dan segera melajukannya.

Maka dia mulai menginjak gas, mobilnya berjalan perlahan. Tapi lagi-lagi dia harus berhenti karena dilihatnya Taerin yang baru keluar dari gerbang sekolah berjalan sendirian entah menuju kemana.

“Yeoja babo! Apa dia mau naik bis? Aish, lantas apa peduliku?”

Kai terus melajukan mobilnya, tapi matanya terus saja mengamati kaca spion. Taerin masih berjalan kaki. Itu membuat Kai semakin gusar dan galau. Haruskah dia mengantar Taerin pulang?

“Andwe! Untuk apa aku mengkhawatirkannya?”

Walau mobilnya terus berjalan, tapi matanya tak lepas dari kaca spion.

“Sepertinya aku harus menjadi gila malam ini.”

Dan akhirnya, dengan pertimbangan tidak ingin penantian sejak sore tadi sia-sia, Kai memutar balikkan mobilnya. Taerin menghentikan langkahnya saat mobil Kai berhenti di dekatnya. Sedikit mengintip siapa yang mengendarainya dan matanya langsung terbelalak saat dilihatnya Kai di depan kemudi.

“Kau sedang apa?” tanya Taerin. “Jadi dari tadi kau belum pulang?” tambahnya, setelah melihat seragam Kai.

“Babo! Untuk apa aku menunggumu? Aku baru saja dari apartemen temanku dan kebetulan lewat,” jawab Kai ketus.

“Siapa yang mengatakan kau menungguku?” serang Taerin tidak kalah ketus. Kai langsung bungkam. “Lalu kenapa kau berhenti? Kalau kebetulan lewat, lekas pergi sana.”

“Kalau aku tidak hilang ingatan, sepertinya tadi sore ada yang ingin mengembalikan sesuatu padaku,” ucap Kai sambil berpura-pura mengingat sesuatu.

“Ah, yang itu,” kata Taerin. “Jadi kau menunggu untuk itu?”

“Sudah ku bilang aku tidak menunggumu!” elak Kai, terus saja menutupi kegengsiannya.

“Cih, masih saja berkilah,” batin Taerin. “Kau tidak hilang ingatan, aku memang ingin mengembalikan sesuatu,” Taerin memperlihatkan kalung yang melingkar di lehernya. “Kau lihat cincin ini? Ini dari eommamu.”

“Cincin?”

“Ye.”

“Aish, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dari sini. Dasar babo!”

“Kau sendiri tidak menyuruhku masuk. Dasar kau lebih babo!” bentak Taerin.

“Eh, benar juga. Geurae, masuklah,” Kai membuka pintu mobilnya dan Taerin segera duduk.

“Lihat, ini cincin pemberian eommamu.”

Kai mengamati cincin itu dan raut wajahnya berubah seketika. Sulit dibaca oleh Taerin.

“Eomma benar-benar memberikan ini padamu?” ada sedikit nada ketidakpercayaan pada pertanyaan Kai itu.

“Ye, saat kau masuk kamar. Dia mengajakku ke ruangan yang sepertinya ruang pribadi. Lalu dia memberikanku ini,” cerita Taerin.

“Mustahil…” kata Kai lirih. Ditatapnya Taerin lekat, memberi sedikit warna merah di pipi Taerin.

“Berhenti melihatku seperti itu,” Taerin pun mengalihkan wajahnya. “Aku tahu tidak seharunya aku memiliki ini. Aku jadi merasa bersalah karena telah membohongi eommamu. Makanya ku kembalikan saja.”

Taerin baru saja hendak melepas kalungnya, saat ponselnya berbunyi. Appanya menelpon.

“Ne, appa. Wae geurae? Bukankah aku sudah bilang ada kelas privat.”

‘Apa kelasmu sudah selesai? Ada tamu.’

“Tamu? Temanku?”

‘Bukan, seorang tamu istimewa. Makanya cepat pulang,’ dari nada bicara appanya itu, sepertinya tamu ini memang istimewa. Appanya terdengar senang saat mengatakan itu.

“Memangnya siapa? Kalau appa tidak mengatakannya, aku tidak akan pulang.”

‘Aish, kau ini. Geurae, dia adalah eomma namjachingumu, Nyonya Kim.’

Jderrrrr!

Taerin serasa disambar Chen petir. Dengan mata membulat, dia menatap Kai.

“Wae geurae? Terjadi sesuatu di rumahmu?” Taerin seolah tak mampu berkata-kata, hanya mengangguk. “Hal buruk? Kau harus segera pulang?”

“Ini sangat buruk, lebih buruk dari yang bisa kau bayangkan. Dan di sini kau juga dalam bahaya.”

“Mwo? Katakan yang jelas!”

“Ibumu sekarang berada di rumahku.”

“Mwoya?”

^0^

Kai melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bahkan dia sendiri sedikit ngeri saat menyetir. Tapi mengingat sekarang ibunya sedang berada di rumah Taerin rasanya hal ini sangat perlu dilakukan.

“Ini semua salahmu. Kenapa harus menceritakan keluargamu pada eomma?” dengus Kai dengan tatapan tetap pada jalanan di hadapannya.

“Aku? Aish, sepertinya kau harus mengoreksi sepenuhnya ucapanmu itu, Kim Jongin. Jelas sekali di sini kau yang membuat ulah duluan. Kalau kau tidak seenaknya menyeretku ke rumahmu dan membohongi ibumu semua ini tidak akan terjadi. Kau lihat? Sekarang bahkan aku membohongi appaku secara tidak langsung. Sejak bertemu denganmu, aku selalu mengalami nasib buruk,” Taerin menjawab lebih panjang dan lebih lebar dari dengusan Kai.

“Harusnya kau tidak perlu menyebutkan soal keluargamu waktu itu. Eomma itu punya banyak koneksi dan jika dia sudah benar-benar ingin tahu, dia akan melakukan segala cara untuk mengetahuinya, termasuk keluargamu.”

“Lalu kenapa tidak kau cegah? Saat itu kau bersama kami kan? Kau bisa memberiku kode atau apa pun yang bisa mencegahku melakukannya.”

“Aku juga tidak pernah menduga eomma akan melakukan ini.”

“Kalau begitu jangan menyalahkan aku, ini semua salahmu,” bentak Taerin.

“Kau juga salah, Kim Taerin!”

“Sumber kesalahan itu ada padamu!”

“Tetap saja tidak akan terjadi kalau kau tidak…”

“Berhenti, rumahku sudah terlewat, dasar bodoh!” Taerin mencengekeram lengan Kai kuat-kuat.

“Hentikan!” dilepaskannya cengekeraman Taerin yang agak menyakitkan itu. “Kenapa tidak bilang dari tadi kalau yang tadi itu rumahmu? Sekarang jelas kan, siapa yang lebih bodoh,” gerutu Kai sambil memutar balik mobilnya.

“Kalau kau tidak mengajakku bertengkar, ini tidak akan terjadi.”

“Aku tidak mengajakmu bertengkar, aku mengatakan kenyataan, semua ini memang salahmu. Dan ku harap sekarang kau diam karena kita sudah sampai.”

Sebenarnya Taerin masih ingin membalas makian Kai, tapi karena mobil Kai sudah terparkir dengan tampannya (?) di depan gerbang rumahnya terpaksa dia bungkam. Mereka pun turun bersamaan, serentak menghela nafas. Entah apa yang akan mereka katakan pada orang tua mereka masing-masing.

“Bersikap seperti saat di rumahku, arasseo?”

“Akui dulu, kalau semua ini adalah salahmu. Kalau tidak, akan ku bongkar semuanya,” bisik Taerin.

“Aish, kau masih memikirkan itu? Sekarang yang lebih penting…”

“Aku bisa dengan mudah membeberkan kebohonganmu karena aku tidak akan dirugikan jika melakukannya,” tekan Taerin.

“Lalu bagaimana dengan appamu?” serang Kai, dan Taerin langsung menciut. “Sudahlah, menurut saja,” ucap Kai dengan smirknya.

Taerin pun hanya bisa pasrah saat Kai menggandengnya ke dalam. Dan benar saja, Nyonya Kim tampak tengah bercakap-cakap dengan ayah dan ibu Taerin. Mereka terlihat begitu akrab dan sesekali tertawa karena suatu candaan. Ibu Taerin langsung menyongsong Taerin dan Kai saat mereka tiba.

“Ah, ini Taerin sudah datang. Eh, apa ini yang namanya Jongin?”

“Annyeong, Kim Jongin imnida,” Kai membungkuk dengan sopan, membuat Taerin mencibir sekilas. Baginya, Kai sangat tidak pantas bersikap seperti itu.

“Ah, rupanya kalian pulang bersama. Lihat kan, Tuan Kim? Mereka terlihat begitu serasi dan sangat romantis. Pantas saja putraku tidak pulang tadi sore, ternyata dia menunggu Taerin agar bisa pulang bersama. Aigoo, ini benar-benar membuatku bahagia,” ucap ibu Kai berbunga-bunga.

“Sekarang aku jadi tenang kalau Taerin ada kelas privat sampai larut malam. Ku harap Jonginnie akan selalu menjaganya,” sahut ayah Taerin.

“Kenapa berdiri saja? Taerin, ajak Jongin ke ruang TV,” kata ibu Taerin.

“Ah, tidak perlu ahjummeonie. Aku sebenarnya hanya ingin mengantar Taerin saja. Kebetulan ternyata eomma juga ada di sini,” tolak Kai degan halus. “Eomma sedang apa di sini? Ayo pulang,” ajak Kai sehalus mungkin pada eommanya.

“Karena Taerin sudah ada di sini, ku rasa sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan tujuanku ke mari,” ucap ibu Kai. “Sebenarnya aku ingin meminta tolong pada Taerin.”

“Aku?” tunjuk Taerin pada dirinya sendiri.

“Ne, kalau kau tidak keberatan tentu saja,” sahut ibu Kai.

“Ah, Taerin kami tidak akan menolak. Benar kan, Taerin?” pertanyaan dari ibunya itu terdengar seperti tekanan bagi Taerin. Mau tak mau dia mengiyakan.

“Sejauh yang ku tahu, prestasi Taerin di sekolah sangat baik. Dia masuk kelas special dan bahkan menjadi yang terbaik di angkatannya. Ini sangat berbeda dengan Jongin kami. Sebenarnya sangat malu mengakui ini, tapi nilainya benar-benar buruk. Keluarga kami sudah membayar guru privat berkali-kali, tapi pada akhirnya mereka menyerah dan memilih mengundurkan diri. Kami sudah sangat putus asa, Jongin hanya menari, bermain, kelayapan, dan sangat pemalas,” cerita ibu Kai.

“Ehm, eomma… bisakah tidak membeberkan keburukanku di depan mereka?” celetuk Kai pelan, tapi masih bisa didengar oleh keluarga Taerin.

“Ah, itu sudah biasa. Anak muda memang suka bersenang-senang dan cara mereka berbeda-beda untuk mendapatkannya. Mungkin kesenangan Jongin bukan pada pelajaran formal, tapi menari. Sedangkan Taerin, secara kebetulan menganggap pelajaran sebagai hal yang menyenangkan. Karena itu dia bisa melakukannya dengan baik,” sahut ayah Taerin. Wajah Kai sedikit cerah mendengar pembelaan itu dan berharap bisa membuat ibunya sadar.

“Tapi tetap saja, apa pun yang dia sukai dia tetap akan menghadapi ujian Negara. Dan dengan kemampuannya yang seperti itu…” ibu Kai menatapnya sekilas. “Rasanya tidak yakin dia bisa lulus. Karena itu ku harap Taerin bisa membantu kami.”

“Aku? Apa yang bisa ku lakukan?” tanya Taerin tak mengerti.

“Jadilah guru privat untuk Jongin. Datanglah ke rumah setiap hari untuk belajar dengannya. Aku yakin jika dia belajar dengan yeojachingunya, pasti akan terasa menyenangkan baginya. Benar kan, Jongin-ah?”

“Ah, itu…” Kai menggaruk lehernya. “Taerin sedang sibuk persiapan olimpiade. Tidak akan ada waktu untuk mengajariku. Jadi sebaiknya kita pulang saja. Arra?”

“Jinjayo? Jadi Taerin tidak mau?” ibu Kai menatap Taerin penuh harap.

Taerin dalam dilemma. Jika dia terima, berarti dia akan selalu dan selalu bersama Kai. Dia akan kehilangan banyak waktu untuk bersama sahabat-sahabatnya dan lebih parahnya, mereka pasti akan marah setengah mati. Tapi dia tidak sampai hati menolak permintaan khusus ibu Kai ini. Selain itu, lihat saja yang ibunya lakukan sekarang. Dia melakukan kontak dengan bahasa tubuh, memaksa Taerin untuk mengatakan iya.

“Sebenarnya aku…”

“Taerin mengatakan iya. Itu yang dia maksudkan. Nyonya Kim tenang saja, Taerin akan menemani Kai belajar setiap hari,” bukannya Taerin yang menjawab, malah ibunya yang bersuara. Taerin hanya bisa pasrah saat ibu Kai tersenyum bahagia menggenggam tangannya.

“Gomawo, Taerin-ah. Katakan saja apa yang kau inginkan, aku akan membarikannya untukmu. Apa pun itu. Dan kami akan memberikan uang bulanan untukmu walau kau belum menjadi istri Kai,” kata ibu Kai.

“Mwo? Istri?” mata Taerin membulat. Sejauh itukah pemikiran ibu Kai? Padahal mereka hanya berpura-pura kencan. Taerin semakin merasa bersalah padanya. Ditatapnya Kai dengan ‘lihat-apa-yang-sudah-kau-lakukan’. Kai pun hanya bisa menelan ludah, tidak tahu harus bagaimana.

“Aigoo, Nyonya Kim tidak perlu seperti itu. Taerin melakukannya dengan senang hati. Nyonya Kim tidak perlu memberikan apa pun,” ucap ibu Taerin.

“Benar, kami tidak membutuhkan semua itu. Selama Jongin menjaga dan menyayangi Taerin, itu sudah lebih dari cukup bagi kami,” sambung ayah Taerin.

Ibu Kai tersenyum penuh rasa haru. “Sekarang aku tahu dari mana Taerin mendapat sifat yang begitu hangat itu. Geurae, kalau begitu kami permisi pulang. Sepertinya kami sudah sangat merepotkan dan mengganggu waktu istirahat Taerin dan keluarganya.”

“Tidak perlu sungkan. Kami justru merasa senang bisa bertemu langsung dengan ibu dari namjachingu Taerin,” kata ayah Taerin.

Dan begitulah, akhirnya Kai dan ibunya pulang. Taerin pun bisa bernafas lega. Dia mengantar mereka sampai di depan gerbang rumahnya.

“Hati-hati di jalan, ahjummeonie,” Taerin membungkuk.

“Sudah ku katakana dengan jelas, aku ini juga eommamu. Arasseo?” ibu Kai mengusap pipi Taerin lembut. Sepertinya dia benar-benar menyukai Taerin. Dan otomatis, rasa bersalah Taerin bertambah ribuan kali lipat. Belum lagi kebahagiaan orang tuanya, dia tak tahu masih pantas dimaafkan atau tidak. Benar-benar merasa buruk.

“Ne, eommeonie,” ucap Taerin lirih sebelum ibu Kai memasuki mobilnya.

Kai meliriknya sesaat dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu memasuki mobilnya sendiri. Taerin mengamati kedua mobil itu menjauh hingga menghilang di belokan. Lalu saat dia berbalik untuk kembali masuk ke rumahnya, dia menepuk keningnya sendiri karena teringat sesuatu.

“Lihat, aku lupa lagi mengemblikan ini,” katanya gusar, sambil mengamati cincin yang menggantung bersama kalung di lehernya.

^0^

Baekhyun’s Side

 

To : Yeollie

Jemput aku, Yeol. Akan ku tunggu di halte dekat minimarket seperti biasa. Cepat ya, di sini dingin sekali.

 

Baekhyun mengirim pesan itu segera saat dia duduk di bangku halte. Paper bag penuh belanjaan teronggok rapi di sampingnya. Digosok-gosokkannya kedua telapak tangan mungilnya berkali-kali sambil sesekali ditiup agar dia merasa sedikit hangat. Ini semua gara-gara mini market di sekitar rumahnya tutup. Baekhyun terpaksa naik bus untuk memenuhi perintah ibunya yang menyuruhnya belanja. Dia sedikit kesal karena disuruh menggantikan noonanya yang masih belum pulang kuliah untuk belanja. Jadi dia melampiaskan kekesalannya dengan membelanjakan sisa uang sesuka hati, membeli semua cemilan kesukaannya. Mulai dari biskuit, susu, permen, selai, sampai coklat, semua dengan rasa strawberry. Secara tidak langsung dia jadi bisa balas dendam pada noonanya karena berbeda dengan Baekhyun, noonanya benci strawberry.

Tapi rupanya dia lupa bahwa untuk bisa pulang ke rumahnya dia harus naik bus lagi. Uangnya habis tanpa sisa, dan rasanya tidak mungkin jalan kaki menempuh jarak yang lumayan jauh itu kan? Karena itu dia segera meminta pertolongan pada Chanyeol. Sebenarnya pada Sehun juga, tapi Sehun sedang ada acara dan Chanyeol sedang bebas. Bersyukurlah Baekhyun karena masih bisa pulang walau harus menunggu Chanyeol di halte.

 

From : Yeollie

Ne, I’m coming, baby!^^

 

“Adik kecil, kau tersesat?”

Tepat saat Baekhyun menyimpan ponselnya di saku celananya, terdengar suara seorang yeoja. Baekhyun menoleh pada sumber suara itu. Penampilannya sedikit… berbeda, atau aneh… mungkin? Rambut hitam berantakan, celana gombrong hitam, dengan T-shirt hitam bertuliskan ‘DAMN’ di dadanya, dan sepatu boot yang juga berwarna hitam. Jaket tebal bukannya dipakai untuk menghalau dingin, malah teronggok tak berdaya di bahunya. Yeoja itu membawa gitar bersamanya, dan satu hal yang menurut Baekhyun membuatnya keren. Eye liner.

“Yak, aku bicara denganmu,” tunjuk yeoja itu pada Baekhyun yang menoleh ke kanan kiri juga ke belakang, mencari adik kecil yang dimaksud yeoja itu.

“Aku?” tanyanya tak percaya karena ternyata adik kecil yang dimaksud yeoja nyentrik itu adalah dirinya sendiri.

“Lalu siapa lagi? Di halte ini hanya ada kita berdua. Tunggu… kau memakai eyelines juga? Ck,ck,ck…” yeoja itu duduk tepat di sampingnya dan meletakkan gitarnya hati-hati.

“Siapa yang adik kecil? Jaga ucapanmu,” gerutu Baekhyun karena merasa tersinggung dianggap adik kecil.

“Memang benar begitu kan? Kau anak SMP? Atau malah SD? Kenapa sendirian? Mana eomma dan appamu? Kau belum cukup umur untuk kelayapan dan… memakai eyelines,” dengan berani yeoja itu menangkup wajah Bakehyun dengan kedua tangannya, meneliti mata Baekhyun yang memakai eyeliner.

“Yak, apa yang kau lakukan?” segera Baekhyun melepaskan diri. Jelas sekali wajahnya memerah. Belum pernah wajahnya sedekat itu dengan yeoja selain ibu, noona dan Taerin tentu saja. “Dan aku bukan anak kecil. Aku sudah cukup umur. Suka-sukaku mau pakai eyelines atau tidak. Satu lagi, aku sudah kelas 3 SMA,” suaranya sedikit meninggi.

“Gojitmal! Tidak mungkin kau lebih tua dariku. Wajahmu itu seperti anak SD. Sudah, tidak perlu sungkan. Mengaku saja pada noona,” kata yeoja itu tak percaya.

“Aish, aku tidak bohong. Aku benar-benar sudah kelas 3 SMA. Noona? Bagiku kau terlihat seperti ahjumma,” cecar Baekhyun.

“Mwo? Dasar tidak sopan!” dijitaknya Baekhyun sedikit keras, menimbulkan ringisan sesaat. “Tapi benarkah kau sudah kelas 3 SMA? Kau sekolah dimana?”

“SM High School. Kau sendiri? Pasti sudah kuliah ya?” *author udah gak tahu lagi mau ngarang nama sekolah gimana. Ngaco deh jadinya*

“Sembarangan,” satu jitakan mendarat lagi di kepala Baekhyun. “Aku masih kelas 2 SMA, di YG High School.”

“Saingan dan musuh berarti. Sangat menyenangkan melihat kalian kalah dalam pertandingan basket kemarin. Dan juga saat battle dance. Hahaha…” tawa Baekhyun meledak.

“Jangan lupakan kekalahan SM tahun lalu dalam Singing Contest dan Olimpiade Matematika,” balas yeoja itu.

“Cih, itu sudah berlalu. Kami kalah karena Murid special kami tidak ikut,” sanggah Baekhyun. Memang tahun lalu Taerin tidak bisa ikut olimpiade karena sedang mengikuti Speech Contest di Thailand. Dan Baekhyun sendiri hanya bisa pasrah saat radang tenggorokan menyerangnya di saat yang tidak tepat. Tahun lalu sungguh merupakan tahun penuh kekecewaan bagi mereka.

“Kalah tetap saja kalah.”

“Tahun ini kami kembali juara umum. Kalian hanya nomor dua. Hahaha….”

Yeoja itu tampak menggembungkan pipinya menahan marah. “Ganti topik. Kenapa kau pakai eyelines?”

“Karena aku terlihat lebih keren saat memakainya. Lihat kan, betapa tampannya aku dengan ini,” jawab Baekhyun penuh percaya diri. “Kau sendiri? Jangan bilang kau adalah penggemarku,” goda Baekhyun.

“Aku bahkan baru sekarang melihatmu. Aku memakai ini karena aku rockstar. Lihat kan, penampilanku. Dan ini adalah gitar kesayanganku,” dia menepuk gitar di sampingnya.

“Rocker? Selera musikmu sedikit unik. Padahal sekarang kan zamannya hallyu. Sorry, sorry, sorry, sorry…” Baekhyun mulai menyanyi sambil menirukan dance ‘cuci tangan’ ala Sorry Sorry Super Junior.

“Cih, kau suka hallyu? Sangat tidak keren. Rock lebih menarik. Bagiku Super Junior, DBSK, apa lagi? SHINee, Wonder Girls, After School, dan satu lagi… aish, aku lupa namanya. Yang ada 9 member yeoja itu…”

“SNSD?”

“Nah, itu dia. Yaks, music macam apa itu?”

“Yak, kau tidak berhak mengejek SNSD. Mereka itu cantik dan berbakat. Memangnya kau bisa seperti mereka?” Baekhyun mulai emosi karena SNSD, idola utamanya diejek oleh yeoja itu.

“Tentu saja. Aku bahkan lebih keren. Jangan bilang kau adalah fans berat SNSD.”

“Kalau benar memangnya kenapa?” yeoja itu tampak menutup mulutnya menahan tawa. “Apa yang kau tertawakan yeoja aneh? Kau sendiri siapa idolamu?”

“Aku sangat memuja Avril Lavigne. Dan jelas sekali dia lebih keren dari si Gee yang centil itu. Hahaha….”

“Apa kerennya si Avril itu?” cibir Baekhyun.

“Biar ku tunjukkan padamu,” dia mengambil gitarnya, mulai memetiknya untuk mengatur nada. “Dengarkan dengan baik, kau pasti akan memujanya juga setelah ini.”

Dan yeoja itu mulai bernyanyi….

I’m tuggin’ up my hair, I’m pullin’ up my clothes

I’m trying to keep my cool, I know it shows

I’m starin’ at my feet, and my cheeks are turning red

And I’m searching for the words inside my head

‘Cause I’m feeling nervous, trying to be so perfect

‘Cause I know you worth it, you worth it, yeah!

 

If I could say what I wanna say

I’d say I wanna blow you away

Be with you every night, am I squeezing you too tight?

If I could see what I wanna see

I wanna see you go down, on one knee

Marry me today, guess I’m wishing my life away

With these things I’ll never say

 

Jreng…!

Petikan terakhir itu mengakhiri lagu yang dia nyanyikan. Baekhyun mematung, matanya enggan berkedip. Telinganya masih ingin mendengar suaranya lagi. Ya, dia benar-benar memujanya setelah mendengar lagu itu. Bukan Avril Lavigne, bukan. Tapi yeoja yang baru saja menyanyi di hadapannya. Entah apa namanya, tapi baru kali ini Baekhyun memiliki perasaan seperti ini. Sulit dimengerti.

“Yak, kau mendengarkanku tidak?” dipetiknya jari tangannya berkali-kali di depan mata Baekhyun.

“Ah… ne?” mata Baekhyun berkedip-kedip, tanda kini dia sudah sadar.

“Aish, sudahlah. Percuma meminta penggila hallyu mendengar music rock. Aku naik bus ini, kau tidak naik?”

“Bus?” Baekhyun tampaknya belum sadar sepenuhnya. Memang sekarang sebuah bus sudah berhenti di depan halte. “Ah… tidak. Seseorang akan segera menjemputku.”

“Ya sudah kalau begitu. Annyeong….”

Yeoja itu melambai sekilas sebelum akhirnya menaiki bus. Baekhyun masih saja mengamatinya dan terus bertanya-tanya, ada apa dengan perasaannya sekarang? Bahkan hingga bus itu berjalan menjauh, Baekhyun masih saja tak mengerti. Lamunannya kembali buyar saat Chanyeol menepuk bahunya tiba-tiba.

“Yak, kenapa melamun? Aku sudah datang, honey,” kata Chanyeol.

“Ne?”

“Aigoo, apa yang kau pikirkan? Ayo pulang,” Chanyeol menarik Baekhyun agar segera bangkit.

“Benar juga,” ucap Baekhyun dan mengikuti Chanyeol menuju mobilnya.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Chanyeol saat mereka di mobil.

“Aku sendiri tidak mengerti, Yeol. Tapi suaranya itu….”

“Nugu?”

“Eh? Nugu?” Baekhyun malah balik bertanya.

“Suara siapa yang kau maksud?”

“Suara…” Baekhyun berpikir. “Sial!” rutuk Baekhyun. “Aku lupa menanyakan namanya.”

TBC

^0^

P.P.S : Sudah segitu aja dulu ya…. Berhubung Baekhyun belum tahu siapa nama yeoja rocker yang bikin dia slow motion tadi, interview untuk cast baru dalam episode ini tidak ada. Ditunda sampe Bekhyun kenalan aja ya. Jangan lupa RCL selalu ditunggu. Bagaimana episode kali ini dan ayo, readers bisa request challenge selanjutnya apa coba? Voice, Smart, Dance, atau Sexy? Nanti author akan pertimbangkan. See you next part^^….

17 thoughts on “The Boys and Me [Episode 3]

  1. hahaha…bener pisan itu pas D.O ngomong indo mantab bener tapi pas giliran yeolie, astaga..uda kenceng salah pula..wkwkwk
    nah lhooo~ sandiwara mreka ber2 makin parah aj ini, entah gimana kelanjutannya dah..ahh, selaen sehunie ternyata baekhyunie jg menemukan tambatan hati sepertinya. penasaran dah gimana reaksi mreka smua ya klo tiba2 janji yg mreka ucapkan dlu bakal tak tertepati..kekeke

  2. makin seruuuu…!!!
    lnjutanny jgn lama2 dong thor..
    sptnya episode ini para cast mulai mnemukan pasangn msg2 deh..
    kyaaa,,crtany mkn seru..
    Lanjut dong.

    • Halyu vs rockstar????
      anak sd pake eyeliner? ok, baekhyun mungkin wajahnya emang kyk anak kecil, tpi . . anak sd? ckckck. . kasian km baekkie. . -___-
      nah, taerin makin ngerasa bersalah ni ama eomma nya kai. .
      eh, authornya kyknya hunhan shipper y? romantis bgt adegan hunhannya ><
      next chapter. . d tgu!!!!

  3. eleh makan tuh sih Kai akibat dari kebohonganya dia jd kena masalah. tp Taerin juga kena. tp gak apa-apa dh, biar bisa tmbh dkt juga amah si Kai. hehehe. challenge selanjutnya q requestnya dance ataugak Voice dh, tp biar kai bisa menang kyknyalebih bagus lai Dance, tp bisa juga di bkn kejutan Voice tp Kai yg menang itu pasti langsung ngangak tuh semua hehe 😀

  4. wahhh heehyo suka sama Luhan yahhhh….
    beuh parah Eommanya berelebihan itu mahhh…masa langsung di putuskan jadi istri….ckckck (sebenarnya disini yg berlebihan author sih) #PLAKKK….*dirujak author* heheheheh…

    duhh Yollie…honey bunny sweety soulmatenya Baekhyun?kkk….seneng banget kayaknya ya punya sahabat yang rada koplak n koclak gitu…hahaha…

  5. .itu yg dipair sm baekhyun yg eonni dapetin nama kmaren itu bukan?? Hoho..keren juga rock vs hallyu (y)..
    .buat kai .. Ahh.. Ni anak bkin gemez aja dah.. Kalo suka sm tae.. Hajar aja..*loh??
    .dtembak mksudnya..
    .ehya.. Tyta bukan hunhan aja yg romantis yaa.. Baekyeol jg *hug baekyeol*
    .challege..? Coba yg sexy deh eon^^v
    .part4 ..?? Ppalliwaa eonniie.. Goodjob^^b

  6. Daebakkk!!!! ((y)ˆ ⌣ˆ)(y)
    Penasaran penasaran, semakin lama pada menemukan pasangan hatinyaa niihh,ayooo temukan pasangan hati’nyaaa…..hahaaa
    Next chap akuuu tetapp tungguuuu thor^^
    Makasii udeh d mention nd maaf yaa bru smpet baca jdy bru bsa komen skrg dehh 😉
    Lanjuuuuuutttttttttt thor thor kuuu sayangs :* ㅋㅋㅋㅋㅋ

  7. walahwalahwalah , masalah makin rumit aja dah, kai sih macem2 -_- menurut penerawangan aku *gaya peramal* kai sama taerin lama2 jadi deh-_- klu jadi nnti kyu di kemanain taerin? udh sama kyu aja jgn kai diambil juga u,u

    oh ya thor yg kyurin tale lanjut dong? nggak tau mau nyeritain apa lagi ya thor? *soktau* pokoknya yg kyurin tale aku tunggu ya thor!! :DD

  8. Wowo!!!! Pnsaran sama cew yg nyanyi Avril Lavigne.. Hehehe aduh kai sama taerin brtengkar terus, jodoh loh.. Jodoh hehhe

  9. dear author, cepetan di post dong next episode-nya. keburu lupa nih cerita sebelumnya. hehe. gomawo ya thor ceritanya keren abis. fighting lanjutin ya thor! 😀

  10. Taerin ga akan bisa lepas or jauh dr kai krn ibunya kai lgsng dth kerumah taerin n sdg berbicara dgn appanya taerin…makin seru aj nieh, lanjut lg ahh bacanya

  11. Nama aku maya baek-,- masa kamu lupa sih!?!!!=D iya tau deh muka baekhyun yang imutnya mengalahkan Leo Hello baby itu. Mau dong jadi guru privatnya jongin. Tapi bukannya mkin pintar malah makin pe’a nanti jadinya.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s