Umbrella (Part 1)

Author: bluemallows

Main cast: Bae Suzy ‘Miss A’ & A member of 2PM

Genre: Romance

Length: Chapter

Disclaimer: Muncul dengan sendirinya karena author yang lagi galau (?)

#

Kalau pemuda-dengan-payung-warna-biru-langit itu tidak tuli, berarti ia bisu.

Sekalipun gadis itu berbicara pada pemuda di sampingnya, ia tidak pernah membalas perkataan gadis itu dengan apapun kecuali senyuman tulus.

#

Tepat lima hari sudah, setiap sore tetesan air mengguyur jantung kota Korea Selatan, Seoul. Apapun yang terjadi, jantung kota itu tidak akan pernah berhenti berdegup. Semua penduduk melakukan aktifitas mereka — bekerja, sekolah, atau kuliah — tanpa merasa terusik sedikit pun oleh hujan.

Gadis itu berjalan menerobos hujan rintik-rintik sambil meletakkan map warna abu-abu di atas kepalanya. Tetapi untuk kesekian kalinya, payung warna biru langit itu seolah tidak memperbolehkan gadis jelita itu terkena tetesan air yang jatuh dari langit.

“Kau lagi,” Gumam Bae Suzy – Mahasiswi dengan nilai pas-pasan di kampusnya.

Wajah pemuda-dengan-payung-warna-biru-langit itu tetap tersenyum ke arah Suzy.

Suzy menghentikan langkahnya, dan diikuti pemuda asing di sampingnya, “Sudah lima hari, kau memayungiku, memangnya ada apa?” Pemuda itu tidak menjawab.

“Namaku Bae Suzy, Kau?”

Pemuda itu tetap mengangkat kedua sudut bibirnya, tanpa menjawab sedikit pun. “Ck..” Suzy berdecak.

Mereka kembali berjalan di trotoar yang sudah basah oleh kiriman air dari langit. Dedaunan tumbuhan bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti arah angin, tampak bahagia.

Gadis dengan rambut panjang tergerai itu menghela nafas panjang. “Aku benci mereka,”

“Jia, Sunye, Sohee, Lim, semuanya!” Tegas Suzy

Pemuda itu menoleh ke arah Suzy, masih dengan senyum permanennya. Raut wajahnya seperti bertanya, “Wae?”

“Kemarin aku sudah menceritakannya padamu ‘kan? Aku seorang freelancer di berbagai blog tempat orang-orang memasukkan tulisan mereka di sana,”

Suzy menghela nafas – sekali lagi – lalu melanjutkan, “Setiap kali tulisanku di blog itu, pasti hanya ada beberapa komentar yang ditinggalkan untukku, padahal blog itu selalu ramai,” kini, gadis itu memasang tampang marah, “Apalagi jika ada Jia, fiksi karyanya langsung mendapat puluhan, atau bahkan ratusan komentar.”

Pemuda itu tetap memasang senyumnya. Meski membuat Suzy semakin jengkel, tapi entah kenapa ia menjadi sedikit merasa terhibur dari biasanya.

“Sangat menyebalkan, itu baru masalah menulis, belum lagi masalah kuliah,” Sambung Suzy

“Setiap hari aku belajar, belajar, dan belajar, tapi nilaiku tetap saja di bawah standar, atau sangat mepet,” Suzy tersenyum pahit, “Aku juga terus menulis, tetapi sepertinya hanya sedikit yang mau menghargai tulisanku.”

“Menyebalkan,” Gerutu Suzy sambil berhenti dan duduk di bangku halte bus.

Bus dengan jurusan ke arah Gangnam berhenti tepat di halte bus itu. Suzy masuk ke dalam bus, dan duduk di barisan paling belakang. Samar-samar gadis itu melihat seorang asing — yang sudah menemaninya dengan payung selama lima hari terakhir — melambaikan tangan ke arahnya.

Bae Suzy; ia duduk di bangku paling belakang transportasi umum yang bersih dan terawat. Ia memejamkan matanya, membiarkan imajinasinya berputar-putar memenuhi pikirian, tubuh, dan jiwanya untuk sesaat.. Ia tidak membutuhkan earplug yang ditancapkan pada iPod miliknya —Backsound suara rintik-rintik air hujan sudah cukup untuk menemaninya berimajinasi sesaaat.

Mungkin ‘masa gemilang’ yang dimiliki gadis itu mungkin sudah berlalu sejak beberapa tahun lalu, saat ia masih SD. Banyak orang-orang yang mengapresiasi tulisannya, dan mendukungnya. Nilai akademisnya tergolong baik, ia selalu mendapat peringkat lima besar. Tetapi perubahan signifikan terjadi saat ia SMP hingga sekarang – karyanya dipandang sebelah mata, nilai raportnya jeblok – Sesekali pertanyaan ini terlintas di benaknya “Apa ada remaja yang mengalami hal sepertiku?”

Ia mengerjapkan mata, gadis itu turun dari bus, di halte dekat rumahnya — dengan map miliknya diletakkan di atas kepalanya — Ia harus kembali pada kehidupannya, sebagai mahasiswi yang harus terus belajar, dan penulis freelance yang harus tetap melanjutkan fiksi karyanya yang masih acak-acakan.

#

Suzy tersenyum kecut ketika mendapati pemuda-dengan-payung-warna-biru-langit sudah berada di sebelahnya – sama seperti beberapa hari sebelumnya. Udara dingin mulai sedikit menusuk, musim gugur akan segera tiba tidak lama lagi. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, menahan dinginnya udara.

“Bagaimana aku bisa menjadi seorang penulis yang baik, jika aku masih mengalami masalah yang sama?” Tanya Suzy sambil menatap dalam kedua bola mata pemuda-dengan-payung-warna-biru-langit di sebelahnya. Ia tau, namja itu tidak akan menjawab pertanyaannya.

“Aku hanya menuangkan apapun yang ada di pikiranku ke dalam sebuah tulisan, itu saja” Tambah Suzy sambil menundukkan kepala, memandang sepatu warna putih miliknya yang sudah usang.

Pemuda di sampingnya masih memasang senyum permanen di wajahnya. Perasaan yang sama menghampiri Suzy, jengkel – tetapi ia merasa tenang.

Writer’s block, Alur terlalu cepat, ending yang tidak memuaskan, sampai kehilangan feel untuk membuat fiksi di tengah-tengah cerita,” Ucap Suzy, seolah meratapi dirinya sendiri “Ah,”

“Aku memang bukan penulis yang terkenal di dunia maya, meski pun begitu, tulisanku patut dihargai,”

“Semuanya benar-benar tidak adil.” Lanjut Suzy dengan suara parau.
Mereka berdua duduk di kursi halte bus, sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. “Sebenarnya kau siapa?” Tanya gadis itu tiba-tiba. Bola matanya terarah pada payung warna biru langit milik pemuda itu yang diletakan di samping bangku.

Namja itu tidak menjawab sepatah kata apapun, mulutnya seolah terkunci rapat dengan gembok yang kuncinya sudah dibuang jauh-jauh – Sama seperti di Namsan Tower. Suzy menghela nafas, “Kalau begini, sama saja ceritanya seperti aku membeli sebuah teddy bear besar yang memayungiku setiap pulang kuliah,”

“Entah apa yang dipikirkan orang lain olehmu, mungkin kau tuli atau bisu.” Tambah Suzy

Kali ini bus jurusan arah Gangnam datang lebih cepat dari sebelumnya. Suzy melompat masuk ke dalam bus berwarna merah mencolok itu sambil melambaikan tangan pelan pada pemuda yang masih menunggu bus lainnya.

Bae Suzy duduk di bangku favoritnya – bangku paling belakang – dan menerawang ke luar jendela bus itu. Matanya mengawasi pepohonan yang dijatuhi hujan rintik-rintik dari atas langit yang berwarna abu-abu. Pikiran gadis itu tidak bisa tenang, otaknya dipenuhi oleh tugas kuliah yang tidak ada habisnya, fanfiksi buatannya yang terkesan kacau, dan namja misterius yang selalu berjalan bersamanya setiap pulang kuliah hingga halte bus.

Gadis itu mengecek blog tempat ia menjadi author freelance lewat browser ponselnya, mencari fanfiksi karyanya untuk melihat berapa banyak komentar yang ditinggalkan untuknya. 24 komentar, 3 likes, lalu ia membandingkannya dengan fanfiksi karya Jia – 87 komentar dengan 26 likes – perbandingan yang cukup jauh dengan karya milik Suzy yang sedang tersenyum pahit.

Ingin rasanya gadis itu menangis, toh, kalau ia menangis disaat cuaca seperti ini, ia tidak akan menangis sendirian.

#

Genap sepuluh hari, namja itu sudah menjadi pendengar setia celotehan penulis amatiran dengan segala masalah yang ada di dalam kehidupan remaja akhir

“Tadi Minyoung berkata seperti ini padaku, ‘Kenapa kau tidak menghasilkan uang dari tulisanmu itu?’ Kemudian aku hanya tersenyum kecut padanya. Mungkin dia belum pernah membaca tulisanku sebelumnya,” Papar Suzy dilanjutkan dengan tawa pahit gadis itu.

Yeoja itu melihat sekeliling untuk sesaat, “Aku menulis bukan untuk uang, tapi aku menulis untuk memuaskan diriku sendiri. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa puas dengan setiap tulisan yang kuhasilkan.” Sambung gadis itu.

Tidak ada sahutan dari pemuda-dengan-payung-warna-biru-langit di sebelahnya—seperti biasanya. Hanya terdengar suara tetesan air yang menjatuhi payung warna biru langit, dan suara deru kendaraan bermotor yang menerobos hujan.

Tetes air dari mata gadis itu mulai membasahi pipinya, ia tidak punya pilihan lain selain menangis. Tidak ada kata yang dapat mendeskripsikan perasaannya, tidak ada orang yang dapat menghiburnya, selain senyuman dari namja asing di sebelahnya.

“Benar-benar tidak adil, bagaimana orang lain bisa menulis dan menuangkan isi pikiran mereka dengan mudahnya, sedangkan tidak untukku.” Ucap gadis itu dengan suara bergetar.

Tangan dingin dan sedikit berkeringat mendarat di atas rambut Suzy, membelai lembut rambut gadis 20 tahun itu. Namja itu tidak bersuara sama sekali – mungkin karena ia bisu – tetapi setidaknya belaian tangan darinya sudah membuat Suzy lebih tenang.

“Kau siapa?” Tanya Suzy tiba-tiba, matanya menatap wajah namja di sebelahnya, rasanya ia pernah melihat namja itu sebelumnya. Entah di mana.

Ia hanya mengulum senyum. Senyum tulus yang belum pernah gadis itu dapatkan selain dari kedua orangtuanya. Gadis itu menghapus air matanya sendiri, “Kau, malaikat yang datang untuk menghiburku?”

“Mungkin kau memang bisu, atau tuli. Tapi, kurasa kau sudah membuat hujan di setiap sore hariku menjadi berbeda.”

#

Seolah pemuda itu datang menjemput Suzy, namja itu sedang berjalan tepat di depan tempat Suzy mencari ilmu. pemuda-dengan-payung-warna-biru-langit tersebut tersenyum dan melambaikan tangan pada gadis itu. Mengisyaratkan agar gadis itu berjalan di sebelahnya. Namja itu masih memasang senyum permanen di wajahnya. Mungkin tidak ada seorang pun yang tau ada apa dibalik senyum yang terus menempel di wajahnya.

Tangan kanan namja itu membawa dua gelas kopi yang masih hangat, lalu menyodorkan satu gelas untuk Suzy. “Gomawo,” Ucap gadis itu. Keduanya berjalan sambil menyeduh kopi panas dari dalam gelas Styrofoam itu. Kopi itu mengalir hangat di tenggorokan keduanya di tengah hujan dan hembusan angin.

An.. Annyeong-ha..seyo?” Suara berat sekaligus lembut itu masuk ke dalam lubang telinga gadis itu. Suara yang nampaknya pelan dan sedikit terbata.

Mata Bae Suzy membulat, “Kau.. Kau bisa bicara?!”

Lagi-lagi namja itu tidak menjawab dengan sepatah kata pun selain anggukan kepala dengan mantap. Jika sehari mereka bertemu kira-kira 10 menit selama 2 minggu, itu artinya mereka sudah bertatap muka sebanyak 140 menit dan pemuda-dengan-payung-warna-biru-langit tersebut baru mengucapkan satu kata, Annyeonghaseyo.

Satu pertanyaan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi keluar dari bibir kering Suzy, “Siapa.. Siapa namamu?”

Jhoneun-

To be continued~

#

A/N: Cast namja-nya masih dirahasiakan identitasnya, yang pasti dia salah satu member 2PM (Ada yang bisa nebak? :D) Mohon maaf atas segala kekurangan dari fanfiction pertama yang saya kirim semenjak jadi author tetap *bow*

Ditunggu komentarnya! Don’t be a silent reader!

44 thoughts on “Umbrella (Part 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s