[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 7)

Title : Hands Of Dragon Part 7

Author : Moo

Main Cast : Seo Yong Sun

Lee Hyukjae

Lee Jonghyun

Support Cast : Lee Sungmin

Park Miina

Yoon Doojun

Genre : Mystery & Romance

Rating : PG

Length : Continue

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6

Hyukjae Point Of View *

“ Yongsun ?”.

Tanpa pikir panjang aku langsung membawa masuk Remington 700-ku masuk kedalam tas dan melompat turun dari lantai 2 dengan menggunakan tali aku berlari menuju Ducati-ku dan memacunya kencang hingga sampai ketempat Yongsun berada sekarang.

“ Cepat naik “, ucapku buru-buru hingga tak sadar kini Yongsun tengah menatapku dengan pandangan aneh. Benar, karena aku menggunakan helm, dia jadi tidak mengenaliku. Aku membuka kaca penurup helmku dan seketika itu dia kaget melihat wajahku yang panik.

“ Hyukjae ?”.

“ Cepat naik “, perintahku yang langsung ditanggapi Yongsun. Setelah ia duduk diatas motorku, akupun memacu Ducati-ku sekencang mungkin menghilang dari tempat itu.

Aku membawanya menuju kebawah jembatan didekat sungai Han, ia tampak terkejut melihat penampilanku kali ini. Aku melepaskan helmku dan turun dari motor. Aku memandangi Yongsun dengan seksama mencari apakah ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.

“ Apa kau terluka ?”, dia menggeleng sambil menatapku.

“ Apa tadi ada seseorang yang menemuimu ?”.

“ Seseorang ? aku bertemu banyak orang dikampus “.

“ Bukan, maksudku … seseorang yang … yang tampak aneh atau misterius “.

“ Tidak ada “, dia mengerenyitkan keningnya untuk menjelaskan kebingungannya saat ini.

“ Apa kau menerima telfon yang aneh hari ini ?”.

“ Tidak ada. Sebenarnya ada apa ? kau yang malah tampak aneh karena menanyakanku pertanyaan semacam itu ”, aku mendesah pelan lalu memeluknya erat. Syukurlah tidak terjadi sesuatu dengannya.

“ Katakan ada apa ?”, tanyanya yang masih dalam pelukanku.

Aku melepaskan pelukanku dan memutar badanku menatap hamparan sungai yang tenang dihadapanku. Sembari melepas topi aku melirik Yongsun sebentar yang masih menatapku bingung.

“ Mungkin aku tidak sebaik yang kau pikir, ada sesuatu yang harus kau tau tentang hidupku “.

“ Apapun keputusanmu setelah mendengar kata-kata dariku, aku sudah siap menerimanya “.

“ Ada apa ? “.

“ Jika aku mengatakan bahwa aku adalah seorang pembunuh bayaran apa kau percaya ?”, dia tampak kaget namun mimik wajahnya langsung berubah ketika aku menatapnya. Dia memegang lenganku.

“ Jangan membodohiku lagi, aku sudah cukup bingung hari ini !”.

“ Aku tidak sedang membodohimu Yongsun-ah … pria dihadapanmu ini … adalah seorang pembunuh bayaran “.

Yongsun melepaskan genggaman tangannya dilenganku, ia mundur beberapa langkah menjauhiku. Aku sudah menduga reaksi yang akan dia tunjukkan, sama seperti reaksi Sungmin hyung dulu. Kaget dan tidak percaya.

“ Kenapa kau melakukannya ?”.

“ Aku punya alasan sendiri ….. waktu itu .. “, aku menceritakan alasan mengapa aku menjadi seorang pembunuh bayaran. Yah, semata-mata untuk mencari pembunuh J.

“ Aku tidak memaksamu untuk menerima diriku yang seperti ini, jika kau ingin meninggalkanku tidak apa-apa itu keputusanmu “, setelah menceritakan alasanku panjang lebar aku kini memberikannya dua pilihan. Aku tidak percaya telah mengucapkan kata-kata tersulit ini, ada rasa kecewa dan sakit jika aku membayangkan keputusan Yongsun yang akan meninggalkanku. Aku rasa dia akan melakukannya, dia tidak akan mungkin tetap berada disampingku saat ini.

“ Kau ingin aku meninggalkanmu ?”, pertanyaannya sukses membuatku bingung.

“ Aku hanya memberikanmu kebebasan untuk mengambil keputusan “.

“ Seharusnya kau tidak menyuruhku untuk meninggalkanmu. Apa kau benar-benar ingin aku meninggalkanmu ?”.

“ Yongsun-ah, bukan seperti itu, aku tidak mau kau merasa takut saat bersamaku. Jika kau merasa lebih baik tanpaku akan kuterima “.

“ Dasar bodoh !!! bagaimana aku bisa merasa lebih baik tanpamu ?!! hanya kau yang bisa membuatku merasa lebih baik dan sekarang kau menyuruhku untuk meninggalkanmu ?! aku tidak bisa … “, aku melangkah maju dan memeluk tubuhnya sekali lagi. Aku tidak menduga dia akan tetap bertahan disampingku setelah mengetahui pekerjaanku.

“ Apa kau tidak apa-apa dengan pekerjaanku ?”, tanyaku takut-takut.

“ Aku tidak akan memikirkannya, anggap saja aku tidak pernah tau apa pekerjaanmu. Kau harus berjanji padaku untuk menyelesaikannya secepat mungkin ”.

“ Aku berjanji, semua akan berakhir “.

Yongsun melepaskan diri dari pelukanku dan menatapku dalam, sejenak ia berpikir dan menatapku kembali.

“ Apakah aku bisa meminta satu hal padamu ?”.

“ Katakanlah “.

“ Bantu aku mencari pembunuh ayahku “, aku terdiam tidak bisa merespon apa-apa kali ini. Permintaannya sungguh mengejutkan.

“ Pembunuh ayahmu ?”.

“ Waktu ayahku dibunuh, dia memberikan sebuah petunjuk kepadaku. Tangan Naga …. Itu petunjuknya “.

“ Tangan Naga ?”, aku membuang pandanganku kesembarang arah dan menghirup udara sebanyak mungkin.

“ Akan kubantu kau menemukannya “.

**

Setelah mengantarkan Yongsun pulang aku kembali memacu motor sportku menuju basecamp kami. Kali ini aku ingin mengetahui siapa klien yang ingin membunuhYongsun.

“ Kenapa ponselmu mati ?? aku menghubungimu berkali-kali “, ucap Junsu serampangan ketika aku baru masuk kedalam ruangan basecamp kami.

“ Siapa klien kita ? aku ingin tau identitasnya ?!”, kataku pada Seungri yang memasang ekspresi datar.

“ Kenapa kau tidak mengeksekusi target kita Hyukjae ?”, tanya Doojun tiba-tiba dari belakangku. Dapat kusimpulkan mereka semua tidak tau apa-apa.

“ Kalian tau, target kita kali ini adalah Yongsun !! dan kalian mau aku membunuhnya ?”.

Mereka bertiga langsung saling berpandangan, Seungri melepas kacamatanya sambil memijat keningnya pelan. Berbeda dengan Doojun ia kini memandangi Junsu dengan berang mengingat Junsu adalah orang yang patut disalahkan dalam menyebarkan informasi target kepada kami semua.

“ Aku tidak tau … Klien kita yang memberikan semua informasi mengenai target, salah satu orang suruhannya langsung menelfonku tadi siang ketika target sudah berada dilokasi eksekusi, aku sama sekali tidak tau menau. Bukankah kau bilang bahwa klien kita memang merahasiakan target itu dari kita semua ? “, ucap Junsu sambil menunjuk Doojun yang sedang berdiri dihadapannya.

“ Aku rasa klien kita memang sengaja merahasiakannya. Cari tau informasi mengenai klien kita “, ucap Doojun kepada Seungri yang langsung bergerak cepat mencari sesuatu dikomputernya.

“ Pasti seseorang yang mengenal kita … dia tau bahwa Kita semua mengenal Yongsun “, ucapku yang mencoba menebak teka-teki ini.

“ Lebih baik jaga dia, aku rasa ini belum berakhir “, ucap Doojun seraya berlalu keluar dari ruangan.

**

11.00 KST

Aku mengecek seluruh pengamanan yang ada dirumahku, seperti biasa berfungsi dengan baik. Aku menambahkan beberapa pengamanan dengan menggunakan kode rahasia dikamar Yongsun dan Sungmin hyung. Tak lupa beberapa penjaga aku tempatkan didepan rumah bukan penjaga yang mengenakan baju hitam dan terkesan misterius. Aku lebih suka mereka menggunakan pakaian casual atau biasanya aku menyuruh mereka berkamuflase sebagai tukang kebun hanya untuk mengelabui.

Aku memijat keningku pelan sambil terus memperhatikan sebuah artikel dikoran yang terbit beberapa waktu lalu. Tampaknya julukan untukku membuat aku semakin terkenal. Aku bangkit dari kursi yang kududuki dan menggeser lukisan yang terletak disamping blackboard. Dinding dimana lukisan itu berada kini bergerak terbuka bak pintu lift yang menampilkan sebuah ruangan persegi yang tidak terlalu besar. Ruangan yang hanya seukuran lemari 2 pintu menjorok sedikit kedalam . ini adalah ruangan senjata-senjataku. Mulai dari senjata laras pendek hingga laras panjang. Aku mengambil pistol FN-ku dari balik celanaku dan meletakkannya ditempatnya semula. Lalu aku mengeluarkan Remington 700-ku dari dalam tas dan meletakkannya ketempat yang sudah kusediakan.

“ Woahhh “, aku terkejut mengetahui Yongsun kini sedang berada diambang pintu sambil melongo melihat semua senjata-senjataku.

“ Aku baru melihat itu secara langsung, benar-benar keren. Apa aku boleh menyentuhnya ?”, tanya Yongsun sembari melangkah maju. Aku buru-buru menahannya.

“ Ini berbahaya untukmu, lebih baik kita keluar “, ucapku sedikit cemas lalu menutup kembali lemari senjataku dan menuntun Yongsun keluar meninggalkan ruang kerjaku.

“ Aku tidak tau kau punya senjata sebanyak itu “.

“ Secara tidak langsung aku menjadi kecanduan dengan senjata waktu umurku 15 tahun. J memberikanku satu buah pistol dan aku sangat menyukainya “.

“ Yah, lebih baik kau kecanduan senajata api daripada kecanduan sesuatu yang buruk “.

“ Tapi kurasa aku juga kecanduan wanita-wanita cantik “, godaku disambut serangan dari Yongsun tepat dilenganku. Aku hanya tergelak melihatnya yang begitu kesal.

“ Apa kau bosan dirumah ? ingin jalan-jalan ?”.

**

Kami berjalan kembali menyusuri kawasan Dongdaemun ini, diujung sana ada terdapat banyak lapak-lapak kaki lima yang menjual aksesoris ataupun barang-barang yang lain. Yongsun berhenti sejenak sambil mengusap-ngusap matanya.

“ Kau kenapa ? “, ia masih terus mengusapnya

“ Mataku seperti kemasukkan sesuatu “.

Aku mengangkat tangannya turun, dan kupegangi pipinya dia masih tidak bisa membuka matanya.

“ Buka matamu “, aku membantunya untuk membuka matanya, lalu aku meniupnya beberapa kali.

Dia mengerjapkan matanya pertanda itu berhasil. Matanya kini menatapku dalam. Dia melemparkan senyuman manisnya padaku yang masih mematung menatapnya. Tanpa bersuara ia melanjutkan langkahnya. Yongsun ternyata sudah jauh didepanku, dia tampak terhenti di salah satu lapak yang menjual barang-barang bekas namun unik bentuknya.

Ada beberapa orang ibu-ibu yang berdiri disampingnya. Aku berjalan menghampirinya dan berhenti tidak jauh dari tempatnya yang kini tengah melihat-lihat hiasan rumah yang menarik baginya. Siang ini cukup terik untunglah aku memakai topi. Kulihat ada pantulan cahaya yang menerpa kepala Yongsun, namun dia cukup asik memperhatikan barang-barang dilapak itu tanpa memperdulikan pantulan cahaya yang menyilaukannya.

Aku tersadar ditempat aku berdiri ada sebuah lapak koran dan majalah, aku membeli satu buah koran, lalu berjalan mendekatinya. Aku angkat tanganku yang sedang memegangi koran yang barusan kubeli, kututupi kepalanya dengan koran ini agar dia tidak terkena pantulan sinar matahari. Dia tidak sadar perlakuanku padanya, dia terus memilih beberapa barang yang ingin dibelinya. Dan aku terus memperhatikannya sambil memayunginya dari sinar matahari.

Setelah melihat-lihat dan membeli beberapa barang dia meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikanku. Aku hanya mengikuti langkah kakinya dari belakang. Kini pikiranku menerawang entah kemana.

“ Anak muda apa kalian ingin membeli gelang pasangan ini ?”, aku dan Yongsun saling tatap menatap. Seorang ibu penjual aksesoris memanggil kami untuk membeli barang dagangannya.

“ Gelang pasangan ?”, tanya Yongsun yang mendekati sang penjual sambil menatap gelang itu.

“ Benar, gelang ini bisa memperkuat hubungan kalian. Lihatlah, kalian sangat serasi pasti kalian bahagia sekali bukan ?”, aku hanya tersenyum mendengar ucapan dari ibu itu. Rasanya ini baru pertama kali ada yang menyadari kebersamaan kami sebagai pasangan.

“ Haruskah kita membelinya ?”, tanya Yongsun ragu.

“ Kalau kau suka beli saja “.

“ Baiklah ahjumma .. kami membeli gelang ini “.

“ Ini pakailah …. Semoga kalian tetap bersama sampai tua dan bahagia selalu “.

“ Terima kasih ahjumma “, kami berhenti disebuah taman kota yang cukup ramai. Aku memasangkan gelang itu ke Yongsun begitupun sebaliknya.

“ Baru kali ini aku membeli benda pasangan seperti ini ?”.

“ Benarkah ? apa sebelumnya kau tidak pernah membelinya dengan pacarmu ?”.

“ Tidak pernah …. “.

“ Lalu …. Apa wanita yang bernama Park Miina adalah pacarmu yang dulu ?”, tanya Yongsun hati-hati.

“ Begitulah … “, jawabku dingin.

“ Dia pernah mencarimu ke Snowflakes …. … berarti dia adalah cinta pertamamu ?”, pertanyaan Yongsun sontak membuatku menoleh kearahnya.

“ Bukan “.

“ Ternyata pacarmu banyak juga “.

“ Tidak juga, apa aku pacar kesekianmu ?”, tanyaku penasaran.

“ Kau yang pertama “, aku ingin bersorak mendengar jawaban Yongsun tadi, tidak kusangka aku bisa menjadi yang pertama dalam hidupnya.

“ Apa kau masih penasaran dengan cinta pertamaku ?”, Yongsun menatapku penasaran, aku benar-benar berhasil membuatnya penasaran kali ini.

Aku mendekatkan tubuhku kearahnya dan berhenti didepan wajahnya. Bisa kurasakan kini nafas Yongsun tercekat atas aksiku ini. Aku kembali menggerakkan tubuhku semakin dekat dan berhenti disamping wajahnya membisikkan sesuatu.

“ Itu rahasia “, sontak Yongsun langsung mendorongku, wajahnya kini sangat kesal dan itu membuatku ingin tertawa.

“ Aku sudah tidak tertarik lagi dengan kisah cintamu !”, ucapnya seraya pergi meninggalkanku.

“ Ayolah … aku hanya bercanda. Jangan marah … Yongsun-ah “.

 

Author Point Of View *

Yongsun tampak sibuk dengan para pengunjung ditoko Snowflakes itu, untungnya ada beberapa karyawan disana sehingga tugasnya tidak terlalu berat. Seorang wanita masuk dan memesan Americano padanya. Dia menatap wanita itu dengan intens begitupun sang wanita yang tengah duduk disudut ruangan itu menatapnya juga, bagaimana tidak ia adalah pacar terdahulu Hyukjae, Park Miina.

“ Untuk apa wanita itu terus-menerus datang kemari “, ucap seorang karyawan baru dibelakang Yongsun.

“ Dia sering kemari ?”.

“ Cukup sering, ia selalu mencari Hyukjae teman bos kita “.

Yongsun melamun sejenak membayangkan hubungan Hyukjae dengan wanita itu dimasa lalu. Ketika ia tersadar dari lamunannya, wanita itu sudah pergi menghilang dari tempat duduknya.

**

“ Noona aku pulang dulu, sampai bertemu besok “, ucap salah seorang karyawan pria yang pamit pulang. Yongsun merapikan beberapa gelas keatas rak dan melangkah menuju toilet untuk mengganti bajunya.

Udara malam ini cukup sejuk namun tidak terlalu dingin. Yongsun sedang menunggu lampu merah menyala untuk menyebrangi jalan raya yang sangat sepi tak jauh dari tokonya. Ia berharap seandainya Hyukjae datang menjemputnya. Namun sepertinya dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali Yongsun melirik ponselnya, tidak ada tanda-tanda ada telfon atau sms yang masuk. Hyukjae benar-benar mengabaikannya kali ini. Yongsun hanya mendengus kesal.

Setelah bosan melirik ponselnya ia baru tersadar bahwa sedari tadi lampu merah telah menyala. Buru-buru ia memasukkan ponselnya ketas dan menyebrangi zebra cross yang ada. Tapi, sebuah mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi melaju kencang kearahnya.

“ Yongsun awas … “.

BRUKK

Sebuah tubuh tergeletak, tangannya penuh darah. Yongsun diam mematung melihat tubuh pria itu yang tak bergerak. Mobil yang menabrak mereka kini hilang entah kemana. Yongsun langsung menelfon rumah sakit terdekat untuk mendatangkan ambulance ketempatnya sekarang.

Tidak beberapa lama, sebuah ambulance datang dan para perawat mengangkatnya naik kesebuah tandu. Yongsun kaget melihat wajah sang pria malang itu. Dia Jonghyun.

Dirumah sakit Yongsun terpaksa menunggu diluar karena syndromnya yang takut akan darah ia tidak berani mengecek keadaan Jonghyun didalam. Dokter sudah mengatakan bahwa kondisi Jonghyun tidak mengkhawatirkan.

Dari jauh terlihat Hyukjae berlari menghampiri Yongsun. Memang tadi Yongsun sempat mengabari Hyukjae bahwa ia akan pulang terlambat kerumah. Tapi mendengar kabar bahwa Yongsun dirumah sakit membuat Hyukjae panik bukan main.

“ Kau tidak apa-apa ?”, tanya Hyukjae sambil mengecek kondisi gadisnya itu.

“ Aku baik-baik saja, tapi Jonghyun …. Aku tidak bisa melihat darah. Kau mau kan melihatnya kedalam “.

“ Untuk apa aku melihatnya “.

“ Hanya mengecek keadaannya. Lagipula dia yang menolongku, kalau tidak ada dia mungkin aku sudah menjadi pasien dirumah sakit ini “.

“ Baiklah aku akan masuk dalam “, ucap Hyukjae malas.

Hyukjae perlahan mendekati Jonghyun yang lengan kirinya dibalut dengan perban. Ia mengamati pria itu dengan seksama. Ada tato di tangan kanannya, hal yang membuatnya cukup kaget mengingat Jonghyun berpenampilan sangat rapi dan ia berpikir Jonghyun tipe orang yang suka tidak suka hal semacam itu.

“ Apa yang kau lihat ?”, tanya Jonghyun yang sadar dengan kehadiran Hyukjae dibelakangnya.

“ Terima kasih sudah menolong Yongsun “, ucap Hyukjae yang merasa cukup dengan kata-katanya itu lalu berniat berbalik meninggalkannya.

“ Harusnya kau menjaganya dengan baik “.

Tatapan Hyukjae cukup memberikan penjelasan bahwa ia tidak mau ada seorangpun yang merebut posisi penjaga Yongsun darinya. Tanpa ingin berlama-lama iapun keluar meninggalkan Jonghyun yang masih ditangani oleh beberapa perawat.

“ Apa dia baik-baik saja ?’, tanya Yongsun panik menghampiri Hyukjae yang baru saja keluar dari ruangan itu.

“ Hanya luka kecil dilengannya, ayo pulang “.

“ Tapi bagaimana dengan Jonghyun ?”, Hyukjae menatap Yongsun bingung.

“ Dia hanya terluka kecil, ucapan terima kasihmu sudah kusampaikan. Jadi sebaiknya kita pulang “.

Hyukjae menarik tangan Yongsun yang sebenarnya enggan pulang meninggalkan Jonghyun yang sudah menolongnya itu. Tapi kekhawatiran Hyukjae lebih besar kini, apalagi dia merasa kesal karena bukan dia yang menolong Yongsun pada waktu itu.

Hyukjae mendekat kearah Yongsun dan memasangkannya seatbelt. Yongsun merasa aneh dengan sikap Hyukjae kali ini.

Dddrtttt ……..

Hyukjae mengangkat sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya tanpa mengecek siapa penelfonnya kali ini.

“ Halo “.

“ Ini peringatan pertama untukmu tangan naga … jika kau masih bersama dengan gadis yang bernama Seo Yong Sun, maka dia akan semakin banyak merasakan penderitaan “.

Hyukjae tertegun mendengar ucapan dari seseorang yang misterius itu.

“ Siapa kau, apa yang kau bicarakan “.

“ Ini bukan permainan yang harus kau akhiri … kau hanya harus memilih untuk mundur atau kalah , kusarankan …. Jauhi dia “.

KLIK

“ Ada apa ?”, tanya Yongsun yang khawatir melihat perubahan wajah Hyukjae yang terlihat pucat.

“ Tidak ada “, ucap Hyukjae sambil menghidupkan mesin mobilnya. Yongsun tidak boleh mengetahui hal ini pikirnya.

Hyukjae Point Of View *

Aku masih memikirkan tentang penelfon misterius kemarin malam. Apa itu ada kaitannya dengan klien kami yang juga memburu Yongsun ? apa ….

Banyak sekali hal yang berputar diotakku. Aku sampai tidak menyadari Yongsun tengah berdiri melihatku sambil memegang sebuah nampan berisi makan siangku.

“ Letakkan saja disana “.

“ Kau belum makan dari pagi, makanlah sekarang “.

“ Aku sedang sibuk, nanti akan kumakan “.

Aku kembali menyentuh berkas-berkasku dan fokus pada setiap tulisan yang ada. Aku sangat merasa bersalah mengabaikan Yongsun seperti ini. Tapi aku tidak punya pilihan, pikiranku benar-benar tidak fokus sekarang ini, aku tidak ingin dia kenapa-napa dia jadi prioritasku saat ini, aku benar-benar harus menjaganya.

**

10.00 Malam KST

Aku membolak-balikkan bukuku dengan enggan. Sudah beberapa lembar kubalikkan namun tidak ada satu katapun yang kubaca.

Dddrrttt …..

“ Apa kau sudah mengambil keputusan ?”.

Lagi-lagi penelfon misterius  itu, dengan cepat aku menghubungkan suaranya kenomor ponsel Seungri. Aku berharap Seungri bisa melacak siapa pemilik nomor ini.

“ Katakan apa maumu “.

“ Sudah kukatakan jauhi gadis itu ….. untuk sekedar meyakinkanmu, lebih baik kita bermain-main sebentar “.

“ …”.

“ Sekarang sebaiknya kau memeriksa keberadaan gadismu itu, sepertinya ia terlihat tidak baik “.

KLIK

Aku buru-buru menghubungi ponsel Yongsun sambil berlari menuruni tangga menuju mobilku. Sial ! ponselnya tidak aktif. Aku menekan nomor lain.

“ Kirin-ah … apa Yongsun masih ada disana ?”.

“ Yongsun ? dia sudah pulang setengah jam yang lalu. Mungkin masih dijalan “.

Aku menginjak gas dan mempercepat laju mobilku. Kini aku sedang berada dijalan menuju rumah Yongsun yang lama. Tapi tidak ada siapapun disana.

Aku memacu lagi mobilku mencarinya dijalan yang biasa dilewati oleh bis yang ia gunakan pulang kerumah. Aku merutuki lampu merah yang tiba-tiba harus menyala dan membuatku menunggu. Ketika sedang menunggu lampu hijau yang tak kunjung menyala, seorang gadis yang familiar dimataku berjalan ditrotoar. Sontak aku langsung menepikan mobilku dan keluar dari mobil menghampirinya.

Aku berlari mengejarnya dan memeluknya erat. Rasanya lega sekali bisa menemukannya saat ini.

“ Hyuk ??? “.

“ Kau darimana saja, aku mencarimu kemana-mana “.

“ Memangnya ada apa ? biasanya aku memang pulang selarut ini “.

“ Aku hanya sangat merindukanmu hari ini “, aku mengeratkan pelukanku dan mendesah lega.

“ Bukankah tadi siang kita sudah bertemu ?”.

“ Entahlah … yang penting aku benar-benar merindukanmu “, aku melepaskan pelukanku dan membawanya masuk kedalam mobil.

Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini. Dia benar-benar terancam jika aku tetap bersamanya. Seharusnya memang dari awal aku tidak mendekatinya.

**

Aku menekan nomor ponsel Doojun untuk menanyakan identitas klien dan si penelfon misterius itu.

“ Bagaimana ?”.

“ Belum ada info, nomor telfon yang dilacak Seungri menggunakan identitas palsu. Apa ada sesuatu yang spesifik dari suaranya ?”.

“ Tidak ada, dia menggunakan peredam suara. Aku hanya bisa menebak dia seorang laki-laki “.

“ Apa kau pernah berpikir bahwa ini ulah dari salah satu wanita yang terobsesi padamu ?”.

“ Wanita ? maksudmu Jill ? “.

“ Entahlah, banyak sekali wanita yang terobsesi denganmu ”.

“ Apa mungkin mereka akan melakukan hal yang seperti itu ?”.

“ Bisa saja. Mereka menyuruh seseorang untuk menerormu dan Yongsun “.

“ Aku tidak tau harus melakukan apa “.

“ Lakukan sesuatu yang terbaik untuk kalian berdua “.

KLIK

Aku menerawang jauh, kubuka laci dan mengambil sebuah foto yang dibelakangnya bertuliskan Seo Jang Woo. Apa ini keputusan yang tepat ??

Yongsun Point Of View *

Aku memutuskan untuk merapikan beberapa berkas dimeja kerja Hyukjae yang sangat berantakan. Awalnya aku merasa aneh dengan ruangan ini, tapi semenjak mengetahui semuanya, aku jadi cukup tertarik, apalagi ruangan yang berada dibalik lukisan itu, benar-benar menakjubkan. Selama ini aku hanya bisa melihat senjata-senjata seperti itu ditv tepatnya difilm action, tapi sekarang aku melihatnya sendiri.

Aku merapikan map-map hitam dan menyusunnya rapi, tidak lupa kubersihkan debu yang menempel pada telfon yang terletak dipinggir mejanya.

KRIING !!

Aku kaget ketika tiba-tiba saja telefon itu berbunyi nyaring. Aku bimbang harus menjawab telfon itu atau mengabaikannya. Namun semakin lama aku berpikir yang kudengar hanya bunyi nyaring dari telfon disampingku kini. Aku menghirup nafas pelan dan mengangkat gagangnya.

“ Tuan Tangan Naga, aku sudah menemukan beberapa informasi tentang kasus J untuk foto dan data-datanya sudah kukirimkan keponselmu, kau bisa mengeceknya .. “.

Nafasku tercekat. Bukan karena penjelasan panjang lebar yang dibeberkan orang diseberang sana, namun kata sapaan yang ia gunakan diawal. Tangan Naga ? Hyukjae ?

“ Kau mendengarkanku tuan ??? Yasudalah … jika ada yang kurang beritahu aku secepatnya ”.

KLIK

Telfon itu terputus. Aku masih dalam posisi memegang gagang telfon yang sudah tidak ada suaranya lagi. Pikiranku masih sibuk dengan sebuah nama yang selalu memenuhi otakku. Tidak mungkin. Aku mengambil selembar koran yang tergeletak begitu saja dimejanya. Sebuah artikel memenuhi halaman utama dari koran itu

            “ Tangan Naga Beraksi Kembali “

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha untuk menepis segala pikiran burukku. Kuharap ini hanya dugaanku yang bodoh.

“ Apa yang kau lakukan disini ?”, Hyukjae kini sudah berada diambang pintu sambil memegang beberapa lembar kertas ditangannya. Mukanya sedikit kaget namun bisa ia kendalikan lagi menjadi lebih tenang.

“ Apa kau bisa menjelaskan ini ?”, tanyaku sambil menunjuk kearah artikel dikoran itu.

“ … “, Hyukjae hanya diam saja tidak berniat menanggapiku, aku yakin dia tau apa yang kumaksud.

“ Apa … Apa kau yang ada diartikel ini ?”, tanyaku yang mulai menahan emosiku.

“ Apa yang ingin kau ketahui ?”.

“ Tangan Naga … apa itu julukanmu ?”, Hyukjae tersenyum kecil sambil melempar pandangannya keberbagai arah.

“ Akhirnya kau mengetahui semuanya. Aku orang yang kau cari selama ini … kau terkejut ?”, aku tidak bisa menahan rasa kecewaku. Aku menggigit bibir bawahku hanya untuk menahan air mata yang ingin keluar.

“ Aku …… si Tangan Naga, ….. orang yang membunuh ayahmu “.

TBC ////

Gimana readers apa part ini cukup membuat deg-degan ? ^^

Makasih yaa buat commentnya, [deep bow] pokoknya, tapi author ga janji bisa posting cepet untuk next partnya. Jadi harap sabar kalo lama yaa. Tapi kalo commentnya lebih dari 10 aku usahain cepet nulisnya.

Maaf kalo masih banyak typo. Ngerjainnya rada ngebut soalnya, mumpung idenya lagi ngalir banget. Untuk yang nanya Yongsun .. Seo Yong Sun ini karater fiksi yang aku buat. Dan jadi patner officialnya Hyukjae untuk FF aku selanjutnya.

11 thoughts on “[FF Freelance] Hands of Dragon (Part 7)

  1. Aaaaaaaaa jinchayoooo? Beneran hyuk yg bnuh appanya yongsun? Howaaaaaaaaaaaaa psti dilemaa bgt , thoorrrrr ayo cpt part brikutnyaaaaa, *gak sbaarrrrr

  2. aq gk yakin hyuk yg bunuh appa yongsun..itu pasti akal2an hyuk bwt bkin yongsun benci n akhrny mnjauh dr hyuk..spya yongsun aman..

    aaaargh,,knpa jd gini??
    sypa sih tu pnelpon msterius??

  3. author aku nongol lagi 😀
    huwaa keren, bener2 ga kecewa deh mantengin series ini
    penggambaran cerita author tuh keren banget bangetan !! XD

    kyaaa ternyata si tangan naga itu hyukjae.. woaaa
    kirain tadi itu jonghyun, soalnya ada tao2 gitu.. 🙂

    ayo author lanjutin… penasaran 😀

  4. daebakk~ (y)
    Ayo cepet dilanjut dong..
    Penasaran nih sama nasib hubungan hyuk oppa sama yongsun..
    *maaf baru komen di part ini.. C:

Leave a Reply to kinyuki Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s