Bleeding Note—Chaptere #1

“Jika ada orang bodoh yang mengatakan bahwa dia mencintaiku, satu senyum sinisku untuknya. Jika ada orang pintar yang mengatakan bahwa dia membenciku, satu senyum tulusku untuknya-sungguh—

—tapi jika ada orang bodoh yang mengatakan dia membenciku, —maaf— aku harus membunuhmu—“ 

“—kau membenciku? Berarti kau membenci Tuhanku…..”

“Bleeding Note by AidenTOP”

Cast: Bigbang, Hyena (OC) || Genre: AU, Mystery, Thriller,Action, Ngaco || Length: Multichapter || Rating: PG–17 || Disclaimer: OC dan alur hak paten&cipta berlaku pada saya. Cast milik Tuhan. Author tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini|| Warning : Out of Character, Diksi Gaje, Bulepotan Style, Typo masih halal.

“Disappointment has a name, it’s heartbreak” 
― 
John Mayer

00

Saat bulan masih mengintip malu dari persembunyiannya, menggantikan matahari yang lelah pemberi sinar untuk bumi yang terus berputar dibatas senja yang merah sendu. Sesendu tatapan yang terpancar dari matanya.

Seolah menghakimi keadaan, menyalahkan Tuhan, menghujam takdir. Tidak ada yang benar dimatanya bahkan dirinya sendiri, semua salah.

“Langit…senja…andai kalian mengerti…andai kalian tahu…andai kalian benar nyata hidup dimataku, aku takkan kesepian. Tapi nyatanya kalian hanya jauh menatapku dari sana tanpa berbicara sedikit pun. Tak bisakah kalian meminta Tuhan untuk hal itu?”

“Aku disini untuk menemanimu……….”

—Bleeding Note

4 November 2007

“…..telah ditemukan satu keluarga terbujur kaku dengan kondisi yang mengenaskan di rumah mereka, Seoul Jongno-gu Gyedong 135-1. Para korban yang merupakan satu keluarga ini ditemukan sudah tidak bernyawa dengan luka tembak didada, kepala dan perut hingga tewas. Para korban pertama kali di temukan oleh seorang tamu yang datang hendak berkunjung. Polisi masih belum bisa menemukan titik terang siapa yang menjadi dalang dari pembantaian satu keluarga ini. Diduga pelakunya adalah…..”

◄►

“Choi Min Ki…?”

“Benar. Choi Min Ki. Anak kedua keluarga korban.”

“Tapi dia juga salah satu korban—“

“Aku juga tidak bisa mempercayai ini, Inspektur. Tapi setelah olah TKP, kenyataan mengatakan hal demikian. Dan ini…”

“Apa ini—?”

“Aku juga tidak tahu. Aku belum membukanya makanya aku memberikannya padamu. Mungkin ini petunjuk dari semuanya. Aku menemukan ini tepat disamping korban bernama Choi Min Ki itu.”

“Baiklah.”

“Aku permisi. Mau minum kopi dulu. Jika kau sudah selesai, kau bisa menemuiku di kafetaria. Aku akan menunggumu.”

Pernyataan tersebut berbalas singkat dengan sebuah anggukan oleh sang Inspektur. Pikirannya terlalu penasaran dengan isi dari buku hitam lusuh penuh dengan darah kering itu ditangannya bahkan untuk sekedar menjawab sebuah kata persetujuan “iya” bagi teman seperjuangannya yang baru saja beranjak pergi itu.

Ragu, perlahan dia buka sampul depan hitam buku itu.

SREEKK…

Lembar pertama. Penuh dengan tulisan yang tidak rapi dan terkesan berantakan. Layaknya anak taman kanak-kanak yang baru belajar menulis. Tidak jelas dan berantakan.

Dia, Kwon Jiyong—sang inspektur—menarik nafas dalam-dalam, alih-alih usahanya mencoba menenangkan kekalutan di benaknya yang belum berhasil dia kuasai atas kasus baru ini.

Kasus-kasus beruntun menghampiri kepolisian membuatnya mudah kalut akhir-akhir ini.

Berharap kekalutannya tidak membuat konsentrasinya pecah untuk memahami setiap baris kalimat atau kata-kata yang tercetak di atas kertas lusuh itu.

Dan…..

Berhasil.

Baru lembar pertama. Itu sudah membuat jantungnya berpacu tidak tentu.

“Aku sepertinya menanggapi ini dengan berlebihan,” ucapnya, dan kembali lagi tenggelam dalam lembar pertama buku itu. Sedikit kesulitan karena terhalang darah kering disana hingga membuat lembar demi lembar yang lain saling menempel.

Dengan segala upaya—dan bersyukur pada matanya yang masih normal—Jiyong mulai membaca kata pertama tulisan itu—

TUHAN…

 

—Bleeding Note—

4 Januari

TUHAN…

Aku…bukan, saya…tidak…tidak baiklah aku.

Aku. Benarkah aku ini ciptaan-Mu? Atau aku hanya makhluk gagal yang terlanjur Kau ciptakan dan tidak Kau pedulikan?

Benarkah Kau adil untuk semua umatmu, Tuhan? Tapi mengapa itu tidak berlaku padaku?
Benarkah Kau menyayangi semua ciptaanmu, Tuhan? Tapi mengapa aku tidak merasakannya? Oh…mungkin aku yang mati rasa? Terhadap-Mu?

Benarkah Kau mendengar setiap doa umatmu, Tuhan? Tapi mengapa kau seolah tuli dan tidak mengerti? Padaku?
Terlalu tidak mungkinkah permintaanku ini?

Aku tidak akan protes mengenai kenapa Kau titipkan aku kepada ibu yang yang bahkan tidak mengakui ku adaoh…ibu mengapa tidak kau bunuh aku saja sekalianatau kenapa Kau membuat si  tua brengsek itu menjadi ayahku atau kenapa membuat si maniak seks itu menjadi saudaraku atau kenapa Kau menciptakan kunci inggris yang pada akhirnya menjadi senjata utama maniak mekanik itu untuk menyiksaku. Tidak. [1]

Hanya “benarkah” yang ku tanyakan. Hanya itu.
Benarkah? Benarkah? Oh…maaf. Terlalu banyak “benarkah”  di benakku.
Benar atau tidak.

Tentu saja Kau benar. Hanya Kau yang benar. Tapi adakah pembenaran dengan aku ini? Orang pasti akan mengganggap, bukan, menyimpulkan aku ini salah. SALAH BESAR.

“Kau SALAH!”
Oh…diamlah! Seberapa benar dirimu hingga dengan mudahnya kau ucapkan kata salah itu? Kau tidak tahu apa-apa. Bahkan apa itu benar atau tidak itu sendiri kau tidak mengerti.

Lalu mereka? Apa mereka benar? Benar telah melakukan ini semua padaku? Benar telah menyia-nyiakan ku? Benar telah membenci ku? Benarkah? Tolong beri aku alasan kalau itu benar dan untuk salah, aku tidak butuh. Aku sudah tahu mengapa.

Jiyong selesai pada lembar pertamanya, sukses membuatnya termangu beberapa saat. Cukup sulit untuk mencerna semua kalimat yang sudah ternoda dengan darah itu. Tapi kualitas intelegensi yang dimilikinya tidak mampu ditipu hanya oleh itu.

“Mengapa dia tidak menuliskan tahun dia menulis catatan ini?” tanyanya dalam diam, yang tentu saja tidak dia temukan jawabannya. Pertanyaan berujung tanda tanya lagi.

“Penulisnya sudah mati—“ gumamnya.

—Bleeding Note—

24 Maret

“Brengsek! Beraninya kau tidak mendengarkanku?”

PLAKK.

“Beraninya kau tidak menurutiku?”

BUKK.

“Beraninya kau menatapku dengan tatapan menghinamu itu??!”

PLAKK…BUKK…

Lagi. Lagi kau ukir rasa sakit itu di kulitku ini? Warna biru itu lagi rasa sakit itu lagi? Tidak puaskah walau hanya sekali? Tidak cukupkah sekali? Sekali saja cukup! Bisakah?

Teganya kau memperdayaiku yang tidak bisa melawan mu ini. Teganya kau menyuruhku melakukan hal hina itu denganmu? Biadap. Dengan manisnya kau tersenyum puas dihadapanku melihat belati itu telah diselimuti merahnya darah. Darahku.

Apa yang bisa kulakukan, Tuhan? Aku berteriak pada-Mu pun akankah langsung Kau menghentikannya? Bahkan hingga luka ini mongering dan menghilang tanpa bekas sekalipun tidak ada yang mampu. Tidak juga Kau.

Hingga aku yang…

Terhenti.

Lembar berikut selesai dibacanya, entah lembar atau halaman berapa karena ternyata darah sudah membuat sebagian lembar buku itu menempel dan hanya itu yang berhasil dibukadan dibaca. Untuk yang satu ini dia sungguh mensyukurinya. Itupun terhenti karena—lagi-lagi—tertutup oleh darah mengering.

“Penganiyayaan. Aku dapat merasakan selama hidupnya penuh dengan penganiyayaan…”

Jiyong menghentikan sejenak keterpakuaannya terhadap buku itu, menerawang langit-langit bisu diatasnya seolah mencoba membayangkan kejadian yang menimpa sang penulis buku itu berbalik menimpa dirinya.

“Kira-kira siapa yang melakukannya?”

Dan lagi. Jiyong dihadapkan pada pertanyaan berlanjut yang tidak memiliki jawaban—

—Bleeding Note—

14 April

“Jangan pernah sekalipun kau mendekatinya—”

“Ayah melarangmu untuk berteman dengannya—”

“Apa kau mau jadi seperti dia—?!”

Kau dengar, Tuhan? Pasti.

Berbisik pun tidak perlu karena aku masih sanggup mendengarnya. Aku tidak tuli, teman. Bukan, calon teman maksudku atau mungkin selamanya bukan teman.

Untuk yang satu ini aku punya kelebihan kalian pasti tidak tahu. Pasti. Karena memang tidak tahu apa-apa tentang ku. Hanya menghakimi dan menghujat.

Tidakkah kalian berpikir? Kalian lebih bejat dan hina dariku?

Mengapa Kau tidak menghukum mereka, Tuhan? Benarkah yang mereka lakukan itu?

Tuhan, sekali lagi.

Aku tidak akan protes kenapa Kau membuat otakku tidak bisa mencerna dengan baik atau kenapa Kau membuat bibirku tidak mampu berkata-kata bahkan untuk sekedar mengatakan tidak hanya teriakan tak jelas yang aku sendiri tidak bisa mengendalikannyaatau kenapa Kau membuat sebelah kaki ini tidak mampu melangkah bahkan untuk sekali. Tidak.

Aku tidak peduli itu semua.

—Bleeding Note—

“Ibu yang tidak peduli, ayah penyiksa dan kakak seorang maniak seks. Keluarga ini sungguh rumit,” katanya, menyimpulkan sendiri hipotesis yang belum tentu kebenarannya itu.

Masih berisi tentang pengaduaannya kepada Tuhan. Seakan menyalahkan tapi juga memohon banTuan perlindungan yang memelas.

Lalu Jiyong tersenyum sinis, menyadari kisah sang penulis hampir sama dengan miliknya. Bedanya dia cukup tangguh dan normal untuk menghadapinya, terlebih seorang ibu yang masih peduli padanya.

Jiyong berpikir, “Apa yang membuatnya tidak bisa melawan?” dan jawabannya dia temukan setelah teringat lembar pertama dia membaca buku ini. Lalu segala kemungkinan muncul memenuhi pikirannya. Ya, dia yakin karena itu, pikirnya.

Tapi Jiyong tak mau gegabah untuk percaya dengan jawaban tak berbukti tersebut.

Jiyong menyesap sejenak capucino—dingin—yang dia abaikan keberadaannya sejak kedatangannya di meja miliknya itu sejenak. Sekedar menghilangkan dahaga yang muncul karena membaca buku hitam itu.

Lalu kembali berkutat dengan perjuangan lembar berikutnya yang masih penuh darah—kering…..

—Bleeding Note—

4 November

“Pergi kau, Brengsek! Anak sialan! Kau bukan anakku! Kau anak iblis! Anak iblis!!!”

Jelas. Sungguh sangat jelas di memori lemahku ini. Kau berteriak, kau memaki, kau mencaci, kau menghujat, kau menghakimi. Aku. Anakmu.

Dengan hebatnya kau tidak mengakuiku—bukan anakmu.

Dengan tangguhnya kau merajamku dengan kata-kata konotasi itu—aku ini anak iblis.

Membiarkan seisi rumah—bukan, seluruh dunia tahu aku ini si brengsek yang lahir penuh dengan dosa yang sepantasnya dihujat dan dihakimi. Aku bahkan tidak tahu apa itu dosa, ibu. Kau tidak mengenalkannya padaku.

Kau merajamku dengan batu pengingkaran yang lebih menyakitkan dari sebuah sayatan di paha kiriku saat itu. Ku pikir kau akan menangisiku—dengan luka yang masih segar menetes dari sana. Paha kiriku— lalu berlari meski

terhuyung dan memelukku sayang. Mengucapkan berbagai kalimat pengandaian dan maaf yang penuh penyesalan atas semuanya.

—kenyataannya. Kau menangisiku tapi dengan mencaciku. Kau mendekatiku tapi untuk membuat bekas biru legam itu lagi di kulitku. Kau berucap tapi untuk bersumpah serapah dihadapanku.

Lalu aku? Apa dayaku, Tuhan? Aku hanya mencoba tangguh di tengah kesakitan hebatku. Membalas hardikanya dengan kalimat yang hanya terdiri dari satu huruf. A.

Walau tersungkur, walau terjatuh, kau melihatnya dengan mata sinis itu tapi tidak ada uluran tangan didepanku untuk mencegahnya—setidaknya untuk menolong—sekalipun tidak.

Ibu…
Masih pantaskah kupanggil kau “ibu”? Kau tidak pernah sekalipun mengijinkanku. Sekali. Walau didalam hati yang tersembunyi ini. Aku takut. Takut kau mendengarnya lalu membunuhku kali ini.

Aku datang untuk ditenangkan ibu…bukan untuk dikacaukan lagi.

Aku dengan kesakitanku. Meski telah kering tapi itu masih sakit, Tuhan. Masih. Terlampau dalam dan dalam setiap kali mereka kembali membuatnya saat itu belum benar-benar kering. Hingga aku berada pada satu titik dimana aku tidak lagi memperdulikannya.

Membiarkan begitu saja merah pekat itu mengalir lembut membasahi setiap bidang yang dilewatinya. Berharap aku mati kehabisan darah. Tapi untuk kesekian kalinya kau tidak mengijinkannya, Tuhan. Mengapa?

Aku rela meski neraka menjadi tempatku nantinya. Aku rela meski dalam panasnya api abadi—milikMu itu. Kau tahu? Aku sudah terbiasa. Aku sudah terlatih. Berada di neraka dunia milikku…..

—Bleeding Note— 

Ini hampir berakhir.

Hampir.

Melihat ketebalan buku semakin menipis menandakan ini hampir mendekati akhir cerita buku ini.

Tapi…..tidak. Ini bukan akhir. Akhir dari cerita si penulis dalam buku ini merupakan awal bagi Jiyong untuk bekerja dua kali lipat dari ini. Merangkai segala kemungkinan yang terjadi—yang penuh keganjilan ini.

“Mengapa masih saja seorang ibu yang seperti ini?” lalu…tunggu. Otaknya tak sengaja tertumbuk pada sesuatu yang dia lewatkan. Dia baru sadar semua yang ditulis oleh sang penulis ini…..tidak seperti orang yang dia pikirkan jika merujuk pada tulisan pada lembar pertama yang dia baca itu…

“Seharusnya dia adalah seorang yang…..” Jiyong menghentikan kalimatnya sendiri tanpa alasan. Lalu mengangkat gagang telepon yang bertengger manis di atas meja kerja miliknya dan menempelkannya pada telinganya yang penuh tindikan itu—sungguh bukan khas seorang polisi yang seharusnya— sebelum akhirnya menekan tombol berlabel angka itu bermaksud untuk menelepon seseorang itu adalah…..

“Daesung…..kau masih di kafetaria? Kau bisa menolongku? Aku butuh bantuanmu untuk…..”

Jiyong menjelaskan segala maksud perkataannya yang dia sebut “banTuan” itu kepada rekan kerjanya itu sedangkan sang lawan bicara pemilik rambut blonde yang sebagian rambut menutupi wajah eksotisnya, mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti—meski tidak sepenuhnya—mengingat tabiat sang inspektur muda itu yang menjelaskan tanpa mengenal tanda titik koma. Pengalaman berteman 8 tahun dengannya membuat Daesung sangat memaklumi, dan—begitu—terbiasa dengan tabiat yang menurutnya cukup tidak keren itu.

Bahkan bisa dibilang, sangat tidak keren.

“Kau seperti seorang ibu yang sedang menasehati anak yang sudah menghamili anak gadis orang saja. Tapi kau lebih parah…” begitu katanya setiap kali Jiyong mengulangi—lagi—tabiatnya itu dan sang korban pelecehan yang disengaja  itu dengan senang hati memberikan hadiah sebuah jitakan mengenaskan menyambangi kepala pelaku pelecehan.

Takut dia akan mengalami krisis ekonomi mendadak jika harus—secara terpaksa—mengasuransikan kepala berharganya sebagai upaya pertolongan dini demi meminimalisir segala dampak buruk yang terjadi setiap kali Jiyong menjitak kepalanya, tindakan “pelecehan”  itu resmi dihentikan sepihak olehnya mengingat keinginan untuk hidupnya masih panjang.

Dan itu benar-benar ditepatinya, seperti hari ini dan hari-hari sebelumnya.

Jiyong kembali dengan tabiat—tidak—kerennya itu dan Daesung hanya bisa mengangguk-anggukan kepala sebagai perwujudan tanda mengerti, sebagai tindak pengalihan kalau-kalau bibirnya kembali lancang mengucapkan kalimat tersebut.

“Baiklah aku mengerti…”

PRAK.

Dan percakapan singkat itupun berakhir. Diakhiri sepihak dengan manis oleh Jiyong, membanting gagang telepon malang tersebut secara kasar, membuat Daesung harus menjauhkan telepon genggamnya beberapa centi secara reflek.

“Dasar inspektur aneh…apa dia lupa cara mengucapkan kata terima kasih?” gerutunya.

—Bleeding Note—

Kembali tertarik dalam kenangan yang tak sengaja dia dapat ini tepat hari ini, buku bersampul hitam dengan warna merah darah kering meliputi hampir setiap lembar kisah sang penulis buku itu, pusat pikiran Jiyong kini kembali menunggu gelisah menanti-nanti Daesung—yang menurutnya—bergerak lambat selayaknya siput berjalan. Padahal baru 5 menit yang lalu percakapan mereka berlalu.

Ok…ini berlebihan.

Tapi, ayolah…Jiyong benci segala sesuatu yang berlabel “lambat” dan bercap “lama”.

Sifat terburu-buru dan bergerak cepat miliknya membuat segala makhluk hidup disekitarnya harus perbuat demikian juga namun kondisi juga tidak memungkinkan untuk dia lakukan sendiri mengingat penasarannya semakin mencapai titik maksimum mendapati buku hitam itu memiliki tabir dibalik pembunuhan satu keluarga itu.

SREKK…

Kembali membuka entah halaman yang ke-berapa, Jiyong kembali mendapati hal ganjil dibuku itu. Beberapa baris pertama—kira-kira 10 baris—tampak kosong tanpa tulisan disana ditambah pada catatan kali ini tidak ada tanggal tertera seperti pada catatan sebelumnya. Jiyong menilik kelanjutan pada alinea selanjutnya…

“Aku yang tidak mengerti arti kata “keluarga”. Aku yang tidak mengerti arti seorang “ayah”. Aku yang tidak mengerti arti seorang “ibu”. Aku yang tidak mengerti arti seorang “saudara kandung”…” Jiyong mengulangi seperti yang tertera di buku itu.

“Aku pun begitu…” ujarnya mengamini paragraf pertama yang baru dibacanya itu. “Yang aku tahu aku adalah aku, Kwon Jiyong. Tidak ada yang lain yang harus kumengerti semenjak tidak ada orang lain yang mengajarkannya padaku…” Jiyong tersenyum sinis menyadari kini egois ternyata telah menjadi bagian dalam dirinya.

Tunggu…..jarinya tidak sengaja menyentuh lembar buku itu dan merasakan sesuatu disana. Jarinya dapat merasakan guratan-guratan berbentuk huruf pada baris-baris yang kosong itu menonjol pada sisi lain halaman hingga membuat guratan-guratan itu juga tercetak dihalaman selanjutnya  seperti tulisan yang dihapus, namun yang tak bisa terhapus bekasnya, abadi disana.

Dihapus? Kenapa? Berarti ini di tulis dengan pensil…..lalu paragraf-paragraf selanjutnya dengan pulpen?

Yang aku mengerti aku bukan bagian dari mereka. Aku bukan keluarga, bukan ayah, bukan ibu, dan bukan juga seorang saudara kandung. Aku bagi mereka “sesuatu”  yang harus dibuang, diinjak dan dilupakan.

Dibuang—yang menurut mereka—ke tempat para sampah berada…..

Jiyong membaca kelanjutannya tapi kini dia baca dalam hatinya. Membiarkannya menggema disana.

Otaknya dengan cepat mencerna dan memorinya segera mencetak hasil kerjanya, memperkirakan maksud dari paragraph terakhir itu. Tanpa pikir panjang Jiyong melenggangkan kakinya menuju suatu tempat yang terbayang dibenaknya setelah membaca bagian terakhir kisah tanpa tanggal itu.

—Bleeding Note— 

..…Tempat bagi mereka yang tidak diharapkan, bagi mereka yang dibuang, bagi mereka yang tak beruntung. Seperti aku.

“Anak-anak waktunya makan siang…”

Merasa lebih baik disini? Memang.

Tidak. Mungkin jasmaniku, iya. Tidak untuk rohaniku. Kebaikan mereka tidak sanggup menutupi lubang di hatiku.

“Sekarang waktunya berhitung. Sa…”

Sa…tu. Sekian lama, seumur hidupku. Aku baru tahu apa itu satu. Adalah angka, awal dari dari rangkaian angka berjejer disana…awal dari semua peristiwa…yang membungkus jalannya hidupmu…

—Bleeding Note—

“Nyonya Kang…bisakah saya menanyakan beberapa pertanyaan? Mengenai…..”

“Mengenai Min Ki?” sela wanita dihadapannya bermarga Kang itu.

“Mm…bagaimana anda bisa tahu Nyonya?” tanya Jiyong menyelidik, lengkap dengan alis terangkat sempurna khas seorang Jiyong

“Aku tahu kau inspektur Kwon Jiyong, menangani kasus pembunuhan keluarga Choi itu. Apa aku salah?”

“Tidak, tidak salah. Tapi bukan itu jawaban yang saya harapkan, Nyonya, dan saya juga tidak mau tahu dari mana anda tahu mengenai saya. Maaf, yang saya tanyakan bagaimana anda tahu saya kesini bermaksud ingin menanyakan tentang Min Ki?” sergahnya tak sabaran.

Maaf, Nyonya aku bukan tipe yang senang berlarut-larut dalam perbincangan tidak penting sementara aku sedang diburu waktu sekarang ini dan jawaban singkat, jelas, padat adalah yang sangat kubutuhkan saat ini. jerit Jiyong dalam hati, menegaskan alasan dibalik tindak tak hormatnya.

Nyonya Kang mengukir senyum tipis, senyum penuh kesinisan. Jiyong dapat menilai wanita setengah baya di hadapannya itu penuh dengan kelicikan. Tergambar dari seringaian licik tersungging di bibir berpulas bahan kimia berwarna merah bernama lipstick itu.

“Tch…pelan tapi pasti, Tuan Kwon. Aku tak suka terburu-buru jika kau tanya mengapa,” jawabnya santai, lalu mematik api dan menyulut rokok yang sudah terselip dikedua belahan bibir merahnya.

“Dia salah satu anak asuh disini. Dia berbeda dari yang lain—Oh…kau mau rokok juga, inspektur?” tawarnya, dengan sedikit nada mengejek disana.

“Tidak, tidak perlu. Tidak perlu repot-repot menawariku sebatang rokok jika itu hanya untuk sekedar menunda penjelasanmu, Nyonya. Apa maksudmu dengan beda dari yang lainnya?”

“Oh baiklah. Kau sungguh tidak bersahabat sebagai seorang yang meminta “banTuan penjelasan” Tuan,” dia mengehembuskan kuat-kuat asap putih pekat itu melalui longlongan bibirnya.

“Beda dari yang lainnya? Hm…kurasa kau mengerti maksudku, Tuan.”

“Apa?”

“Cacat. Dia cacat,” Jiyong pun ber-oh ria didalam hatinya, tentu.

“Cacat? Tapi ini bukan tempat penampungan anak-anak cacat, kurasa?” tanyanya lagi, mengingat anak-anak yang tadi dia lewati sebelum ke tempat ini bukanlah anak-anak penyandang cacat.

“Ayahnya. Tuan Choi Kang Hee, memaksaku memasukkannya ke sini. Sebelumnya aku ti—“

“…tapi sesudahnya kau menerimanya, bukan begitu, Nyonya? Uang,” Jiyong tersenyum sewajar mungkin padahal tulus didalam hatinya sebenarnya ingin tersenyum mengejek. Nyonya Kang tertawa menanggapi tebakan jitu Jiyong mengenainya.

“Siapa yang akan menolak terhadap uang, anak muda? Begitu pun dengan dirimu, kan? Jangan munafik dengan mengatakan kau tidak membutuhkannya,” ejeknya.

“Tapi tidak selamanya uang itu berguna.”

“Bagiku setiap yang berhubungan dengan uang, itu berguna bagiku,” jawabnya santai, diselingi asap putih yang—untuk sekian kalinya—mengepul, menutupi wajahnya sejenak, membuyarkan pandangan Jiyong terhadapnya setelah menghisap batang penuh bahan kimia mematikan itu.

“Tapi…..ternyata menanganinya tidak semudah yang kubayangkan karena kupikir dia hanya anak autis biasa dan aku salah besar karenanya,” Nyonya Kang menekan kuat-kuat rokok yang sudah memendek habis terbakar api itu ke dalam asbak, bergabung dengan putung rokok lainnya, mematikannya. Menyadari akan sikap ketidaknyaman yang diciptakan Jiyong yang tidak sengaja dia lakukan.

Jiyong mengernyitkan dahi mencoba mengerti, “Dia suka mengancam anak-anak lain dengan pisau ditangannya. Entah darimana dia dapatkan pisau itu dan dia suka mengatakan hal-hal aneh. Ya, mungkin karena dia autis karena anak autis itu cenderung lambat dalam berkata tapi entahlah.”

Tidak, Jiyong masih belum mengerti ini seperti ada yang terlupakan. Tapi apa?

“Satu lagi, buku yang kau pegang itu milik Min Ki, kan?” Jiyong seketika melempar perhatian tertuju pada buku yang sedari tadi dia genggam sejenak lalu kembali memperhatikan Nyonya Kang.

“Aku suka melihatnya memegang buku itu tapi aku tidak tahu kalau dia menulis apa disitu karena setahuku dia tidak bisa menulis,” tambahnya.

“Tidak bisa menulis?”

“Benar.”

Lalu siapa yang menulis catatan ini? pikirnya.

“Tapi Nyo…”

“Oh ada satu hal yang kulupakan. Dia pernah menulis—satu kali—tapi aku tidak mengerti dan sepertinya itu bukan hangul. Jadi, ya, aku tak tahu,” lagi-lagi wanita tambun ini menyela kalimat yang bahkan belum selesai dia ucapkantentu saja namanya juga menyeladan Jiyong sangat benci pada orang yang melakukannya, di depannya. Namun demi apapun yang disebut kelancaran dalam proses tanya jawab ini dia korbankan perasaannya dengan mengabaikannya.

“Apa masih ada?”

“Tunggu. Kurasa salah satu pengasuh kami masih menyimpannya. Sepertinya dia melupakan ini karena dia sudah pergi lama sekali?”

“Siapa yang anda maksud?”

“Dia Mark. Dia bilang begitu. Panggil saja aku Mark, begitu katanya, di suatu hari dia datang tiba-tiba ke sini dan bekerja tapi khusus hanya untuk anak itu. Aku tidak tahu mengapa jadi jangan paksa aku mengatakan alasannya—Oh ini dia catatannya,” Nyonya Kang menyerahkan lembar putih itu pada Jiyong.

Jiyong mengamatinya dan tidak tahu jenis huruf apa itu sebenarnya. Чой Сунг Хен

Apa ini?

“Lalu..mm… pengasuh itu—Mark maksudku—kemana dia?”

“Dia pergi bersama hilangnya Min Ki—maksudku tidak lama setelah Min Ki hilang dia juga menghilang,“

“Min Ki hilang?”

“Ya—”

—Bleeding Note—

“Jadi dia pernah di penitipan anak, hyung?”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan hyung, Seungri,” sergah Jiyong, merajam sosok yang berdiri disampingnya itu dengan tatapan mautnya, dalam sekali usaha langsung membuat Seungri membisu seketika.

“Baiklah, Tuan Jiyong. Apa benar dia pernah di tempat penitipan anak?”

“Ya, dititip untuk selamanya lebih tepatnya.”

“Dan dia hilang lalu ditemukan mati bersama keluarganya? Ini sungguh aneh.”

Begitu pun Jiyong. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Min Ki yang hilang lalu ditemukan mati dirumahnya sendiri. Mungkinkah…?

“Arghh…..” lalu sebuah teriakan lancang mengejutkan Jiyong untuk bangun dari konsentrasi tingginya berasal dari seseorang yang berdiri disampingnya.

“Kenapa kau?”

“Aku bingung dengan kasus ini,” tukasnya.

“Kau tidak masuk dalam tim ini. Mengapa kau yang menjadi seperti ini?”

“Aku mau minum kopi.” Seungri melenggang santai mengabaikan pertanyaan menyelidik Jiyong. Mau tak mau gelengan tak percaya dia lakukan. Sungguh jawaban yang melenceng dari pertanyaannya. Teraneh yang pernah dia dengar.

Sedetik berselang memorinya kembali mengingatkannya akan tujuan ia datang ketempat itu, kantor Daesung. Yang sebenarnya untuk mencari Daesung tetapi malah berakhir dengan perbincangan-tidak-bermanfaat-dan-tidak-bermutu bersama anak tengil itu—juga ber-misi sama sepertinya, mencari Daesung. Entah apa keperluannya, ia juga lupa menanyakannya.

“Apa aku sudah mulai tua? Aku begitu banyak melupakan hal-hal penting bahkan hal sepele sekalipun,” imbuhnya, menyadari ketidakbiasaaan lakunya itu.

“Aku harap uban tidak menghalangi ketampananku,” dia menertawai pernyataanya sendiri, geli. Oh…satu lagi tanda “penuaan dini” dirinya, narsis.

—Bleeding Note—

 Чой Сунг Хен

Чой Сунг Хен” kembali diperhadapkan dengan simbol-simbol yang membuatnya gerah. Kenapa setiap kasus harus ada simbol-simbol yang turut meramaikan suasana? Bahkan untuk sekedar membaca dia tidak bisa. Benar-benar menjadi buta huruf sekarang.

Dan dia menemukan simbol yang sama didalam buku ini seperti yang dia temukan dari Nyonya Kang tetapi masalah lainnya adalah lanjutan dari lembar berikutnya yang akan dia baca berupa simbol-simbol yang sama juga. Tch…ingin rasanya menjambak rambut sendiri.

Kelima jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk malas meja kerja pribadinya, memikirkan maksud atau arti dari catatan itu. Mengapa kali ini dia menulisnya dengan simbol-simbol?

—Bleeding Note—

“Ini bukan simbol, Jiyong. Ini huruf Rusia. Tch…kau ini huruf semudah ini kau tidak tahu?”

“Jangan mengejekku seperti itu, Youngbae. Aku bukan ahli bahasa sepertimu. Diamlah dan artikan apa arti huruf-huruf aneh itu,” perintah Jiyong, gusar untuk diminta bersabar menunggu lagi. Sial, IQ tinggi miliknya pun bisa jadi tidak berguna kalau diperhadapkan dengan huruf aneh seperti itu.

As your wishBoss! You can count on me,” jawabnya, sambil mengedipkan sebelah matanya. Jiyong bergidik geli melihatnya. Dia pada satu berkesimpulan; Youngbae sudah tidak waras lagi.

“Aku masih normal Tae,” imbuhnya.

“Hahaha.” Youngbae tak dapat lagi menahan gelak tawanya melihat reaksi berlebihan sang inspektur cerewet itu. Jiyong menanggapi dengan malas tawaan si pemilik rambut mowhak itu. Dia lebih tertarik melihat cara kerja Youngbae.

Baris matanya menangkap kelincahan tangan Youngbae dalam memainkan jari-jarinya di atas keyboard. Jiyong berharap jika dengan hanya melihat kerja tangan Youngbae, dia bisa se-ahli Youngbae dalam menerjemahkan kode-kode atau bahasa aneh yang sering dia jumpai dalam kasus.

Tapi tetap saja mana ada orang yang bisa sehebat itu, pikirnya. Maka jika hal itu benar terjadi, tidak ada lagi yang namanya orang bodoh di dunia ini. Orang macam Youngbae butuh menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajarinya, itu permasalahan pertama. Permasalahan selanjutnya? Ia malas harus menghabiskan waktunya bertahun-tahun dibalik meja dan hanya berkutat dengan namanya tugas dan ujian.

“Lebih baik aku disuruh mengejar penjahat hingga ke ujung dunia,” gumamnya dalam hati.

“”Hey, Tuan Kwon. Jangan melihatku dengan cara seperti itu. Aku bisa berpikir yang bukan-bukan tentangmu nanti” Jiyong terkesiap. Tak disangkanya dia tertangkap basah seperti itu padahal Youngbae tak sekalipun mengalihkan pandangannya. Jiyong mengubah posisinya, bersikap sewajar mungkin.

“Jangan kau ulangi lagi atau aku akan dengan senang hati menggodamu” Youngbae terkikik geli. “Nah…ini dia hasilnya. Aku tak yakin akan keakuratannya tapi kurang lebih seperti ini karena aku baru sekali ini menerjemahkannya,” lanjutnya.

Jiyong mengambil kertas itu dari tangan Youngbae yang sedang tersenyum manis padanya bermaksud menggoda tapi tentu saja takkan mempan untuk menggoda Jiyong. Seperti katanya, “Aku masih normal!” meskipun begitu Youngbae tidak peduli karena mengganggu Jiyong merupakan kesenangan tersendiri untuknya.

Perhatiannya kini tertuju pada kertas berisi kalimat-kalimat panjang didalamnya, alih-alih mengabaikan Youngbae yang masih saja tersenyum ganjil, cukup alasan untuk menumbangkan mowhak abadi Youngbae.

PLOK.

Satu tepukan tepat segera membuat sang korban meringgis kecil sesekali mengusap kening malangnya itu.

“Itu tanda terima kasihku Tuan dong Youngbae! Karena sudah membantuku dan, sudah tersenyum aneh seperti itu. Aku pergi.” Sebelum Youngbae hendak protes akan perbuatannya, Jiyong terlebih dulu melesat pergi tanpa lupa untuk melambai manis pada Youngbae dibelaKangnya. Jiyong tertawa geli memperkirakan reaksi Youngbae akibat perbuatan yang dia sengaja itu.

Satu. Satu kalinya dalam hidupku, aku mampu berpikir normal layaknya manusia seperti yang mereka harapkan.
Satu. Satu kalinya  dalam hidupku aku punya perasaan sebagai manusia normal seperti yang mereka harapkan.
Satu. Satu kalinya dalam hidupku aku bernafas normal seperti yang mereka harapkan.

Satu. Hingga satu perasaan timbul. Benar-benar nyata kali ini dan semakin nyata untuk menyeruak keluar dari dalam sana. Hatiku.

Bagai burung jinak yang telah lama terkeKang dibalik tegaknya jeruji besi berlapis emas, berkubang dalam keterbatasan seumur hidupnya, kini berontak dan mengganas. Mematuki besi yang tak mungkin runtuh hanya dalam sekali usahanya.

Tapi dia tidak bodoh. Dia belajar dan mengerti. Dia melihat dan mengolahnya dalam memorinya yang lemah sabagai seekor burung. Paruhnya yang bengkok diasahnya kini lurus meruncing di ujungnya siap mematahkan besi itu tanpa takut gagal. Penuh keyakinan…

Tidak sampai disitu. Jiyong jadi tidak mengerti apa lagi arti dari kalimat-kalimat ini. Apa yang dia maksud dengan kembali normal? Burung?

Lalu Jiyong mencoba membandingkan tulisan asli dengan terjemahan Youngbae. Jiyong tersadar sesuatu, ada yang terlewatkan oleh Youngbae.KataЧой Сунг Хен belum dia terjemahkan yang dia yakini sebagai nama orang atau sesuatu yang berhubungan dengan semuanya.

“Itulah akibatnya. Kalau bekerja sambil menggodaku seperti ini hasilnya.” Jiyong berlari mencari si rambut mowhak tetapi hasil dia dapat hanya ruangan lengang tanpa manusia satu pun disana.

Tentu saja. Jam istirahat.

Masalah lainnya adalah Youngbae beristirahat makan siang bukan di kafetaria sebelah kantor mereka melainkan pergi entah kemana bersama teman-temannya, begitu laporan dari Seungri. Rencananya untuk menyeret Youngbae dari jam istirahatnya pupus sudah.

Hyung, ayo kita makan siang bersama,” ajak Seungri, melihat Jiyong masih terpaku di tempatnya berdiri, di sebelah Seungri yang tengah asyik makan siang dan entah karena polos atau bodohnya Seungri kali ini yang tak sengaja menyebut kata haram itu, Jiyong menapakkan lagi tangannya begitu saja kepala Seungri hingga membuat dirinya tersedak.

Seungri menatap ngeri Jiyong setelah menyadari kesalahan kecilnya sungguh berdampak buruk baginya itu.

Padahal yang sebenarnya Jiyong kesal karena harinya begitu berantakan beberapa hari ini hingga membuatnya tak berkonsentrasi dengan baik. Satu kata, istirahat. Itu yang dia butuhkan tapi idealismenya memaki harga dirinya untuk menyerah pada yang namanya lelah.

—Bleeding Note—

“Ini berkas yang kau minta.”

Jiyong terlonjak dari posisi duduk nyamannya di kafetaria sebelah kantor mereka, mendapati Daesung sudah berdiri di hadapannya dengan menyodorkan sebuah file bersampul biru.

“Lama sekali,” ucapnya malas, lalu mengambil berkas itu dari tangan Daesung.

“Maaf, aku harus membantu Kepala Yang Hyun Suk dulu. Kau tahu dia orang yang seperti apa, ‘kan? Ada kasus pembunuhan lain. Jadi maafkan aku,” jelas Daesung panjang lebar, mengambil posisi duduk berhadapan dengannya.

Helaan nafas Daesung menjadi tanda bahwa dia benar-benar lelah hari ini. Jiyong maklum, dia pun sama lelahnya.

Jiyong mulai membuka berkas hasil pencarian Daesung itu yang berisi data dan riwayat Min Ki. Membaca dengan cara cepat Jiyong tidak menemukan data yang menyebutkan Min Ki bisa bahasa Rusia. Lalu siapa yang menulisnya?

“Ternyata dia mati di hari ia dilahirkan,” gumam Jiyong.

“Apa maksudmu?”

“4 November di mana satu keluarga Choi ditemukan tewas, ternyata  itu hari ulang tahun Min Ki.”

“Hmm…ya begitulah. Entah orang gila mana yang tega membunuhnya tepat di hari ulang tahunnya.”

Jiyong tidak tahu dan sedang mencari tahu. Lalu lamunannya dibuyarkan oleh getaran dari saku celananya tanda ada panggilan masuk.

Yeoboseyo? Ya, ada apa? Mworago?! Baiklah aku segera kesana.” Menerapkan jurus langkah seribu, Jiyong pergi meninggalkan Daesung yang masih menikmati posisi duduk tenangnya.

“Hei, ji!! Kau mau kemana?”

“Tempat penitipan anak!”

—Bleeding Note—

“Bagaimana keadaannya?”

“Korban ditemukan tewas di tempat tidurnya dengan sebuah tembakan menembus dadanya sebanyak 3 kali. Tidak ada satupun yang mendengar bunyi letusan atau pun teriakan dari korban. Kami duga pelaku membunuhnya dengan membekapnya dengan bantal lalu menembaknya,” jelas salah satu penyelidik itu kepada Jiyong.

Jiyong mengangguk mengerti. Apa yang di katakan si penyelidik it sepertinya benar, Jiyong menemukan tanda bibir merah yang menempel pada bantal yang sudah penuh darah itu. Kemudian matanya mendelik melihat keadan mengenaskan Nyonya Kang yang beberapa jam lalu berbicara dengannya.

“Apa anda ingin mengetahui pendapat saya tentang anda Nyonya? Mengingat ini mungkin adalah pertemuan pertama dan terakhir kita…anda sungguh tidak mencerminkan seorang yang peduli dengan anak-anak telantar. Aku yakin ada sesuatu yang lain yang tersembunyi dibalik Yayasan milikmu ini…dan tunggu saya untuk kedatangan yang kedua kalinya sebagai tersangka dan jaksa. Permisi…..”

Jiyong kembali teringat kata-kata terakhirnya sebelum pergi dari tempat ini. Pertama dan terakhir. Benar-benar ini pertemuan pertama dan terakhir mereka sebagai penyelidik dan…..korban.

Tunggu…Jiyong melihat sesuatu yang melambai di balik jendela kamar itu. Sebuah kertas. Dengan tulisan yang tidak bisa dia baca namun familiar dengannya.

-Чой Сунг Хен-

 Brengsek apa maksud dari ini semua? Youngbae juga belum sampai….kemana sih dia?

Jiyong pergi bersamaan dengan catatan itu yang ditulis dengan darah, mendekati Daesung yang juga turut para polisi lain dalam olah TKP.

“Dae…cepat cari Youngbae dan berikan ini padanya,” perintah Jiyong sambil menyodorkan kertas itu pada Daesung. Daesung mengangguk mengerti lalu melenggang pergi setelahnya.

“Tu…Tuan…” Jiyong reflek mendongak setelah cuping pendengarannya menangkap getaran suara menggelitik telinganya.

“Ada yang bisa saya bantu nona,” jawab Jiyong menawarkan diri.

“To…tolong bantu kami keluar dari sini—“

—Bleeding Note—

“Terima kasih, Tuan,” ujar gadis yang sedang tersenyum tulus dihadapannya.

Benar dugaannya. Yayasan ini ternyata hanya kedok dari perdagangan anak yang selama ini diincar kepolisian Korea. Tak disangkanya ternyata kejahatan sekarang ini sudah terang-terangan tidak lagi bersembunyi layaknya penjahat yang takut tercium gelagatnya.

“Awalnya mereka memang yayasan untuk menampung anak-anak terlantar tapi setelahnya mereka menjual kami pada para penjahat itu…”

Sungguh uang sudah membutakanmu, Nyonya Kang. Uang memang segalanya untukmu hingga uang-lah yang menghantarkan kematianmu…

“Sudah menjadi tugas kami,” tukas Jiyong dengan senyum sebagai akhir dari kalimatnya.

.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” takjub seorang temannya. Mereka kini berjalan bersisian pada koridor kantor mereka sehabis olah TKP pembunuhan Nyonya Kang.

“Dia lupa menyembunyikan bukti pembayaran atas transaksi jual-beli yang dia lakukan. Dengan beraninya dia menaruh bukti nyata itu diatas mejanya ketika aku mewawancarainya dan aku memotret palang yayasan mereka sebelum aku pergi dari tempat itu. Ternyata yayasan mereka tidak pernah terdaftar. Jadi apa lagi yang bisa kau simpulkan tentang itu semua? Terlebih semua pengurus yayasan disana tidak ada yang normal begitu juga dengan anak-anaknya…..dan…hei, Hyun, mengapa kau berhenti?”

Jiyong menyadari ada yang salah dari teman berjalannya itu atau memang dirinyalah yang salah sebenarnya.

Mendapati teman berjalannya tertinggal jauh darinya dikarena dia terlarut dalam semangatnya menceritakan kembali tentang analisisnya yang membuahkan terbongkarnya kasus penjualan anak. Jiyong tertawa kecil.

Oh! Lagi Jiyong. Apa kau sedang pamer saat ini? Tanda penuaan dini-mu muncul lagi.

“Hyun…kau bisa terlambat jika hanya diam dengan mulut menganga seperti itu,” orang yang dia panggil Hyun itu tertawa kecil dan berjalan mendekati Jiyong untuk melanjutkan perjalanan kecil mereka.

Dia bohong. Tidak…tidak sepenuhnya. Tentang data transaksi itu memang benar adanya tapi bukti itu bukan dia temukan diatas meja seperti yang dia katakan tadi tetapi dia temukan dari balik pesan yang dia temukan di jendela kamar Nyonya Kang.

Dia begitu mengenal data transaksi itu. Data transaksi atas nama samarannya saat menyamar menjadi pembeli salah satu anak disana sebagai bukti dugaannya.

“Dari mana dia dapatkan data ini? apa ini kebetulan? Apa dia tahu kalau aku melakukan ini?” begitu banyak pertanyaan mengitari pikirannya. Matanya menatap penuh tanya melihat huruf-huruf rusia yang membentuk sebuah kata itu tertera dibalik bukti transaksi itu yang dia temukan dari balik jendela Nyonya Kang.

—Bleeding Note—

“Apa ada penemuan baru?” ya, kini Jiyong sudah menginjakkan kakinya lagi di atas dinginnya lantai marmer tempat itu. Rumah sakit.

“Aku merasa ada yang ganjil dari tubuh jenazah korban yang bernama Min Ki ini. Di tubuhnya sudah diberi pengawet formalin dan seperti balsam untuk membuat mumi. Apa kau yakin ini ditemukan bersamaan dengan korban yang lainnya?” jawab orang yang Jiyong tanya tadi.

“Benar, dia juga ditemukan bersama yang lainnya. Tapi bedanya dia ditemukan terbaring di kamarnya.”

“Tidak ada bekas luka tembak satu pun di tubuh Min Ki. Darah yang ada disekujur tubuhnya saat dibawa kesini hanya darah palsu. Hm…tahukah kau kalau Min Ki memiliki mata biru? Maksudku retina matanya berwarna biru tetapi hanya sebelah kiri saja dan wajahnya rusak ternyata selama ini dia hanya mengenakan kulit tiruan untuk menutupi sebelah wajahnya yang rusak itu,”

Salah satu matanya biru?

Jiyong teringat seseorang yang memiliki mata yang sama tapi bedanya ini sebelah kanan. Seseorang yang telah lama menghilang.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Tidak…tidak ada apa-apa.”

Jiyong mulai berpikir segala kemungkinan dan logika yang bermain di kasus ini. Bagaimana bisa korban yang juga diduga sebagai tersangka sudah terdapat bahan pengawet ditubuhnya? Mengapa ada darah palsu?

“Itu artinya Min Ki sudah tewas sebelumnya, begitu?”

“Tepat sekali. Bagaimana kondisi mereka saat ditemukan?”

“Seperti yang kau sudah selidiki, Hyena. Mereka ditemukan dengan luka tembakan didada mereka dan berbaring sejajar di ruang tamu mereka. Tidak ada barang berharga yang menghilang jadi ini murni pembunuhan. Entah apa motifnya,” jelas Jiyong.

Jiyong menatap Hyena penuh keraguan dan tanda tanya seolah mengatakan sebuah kata pertanyaan, “benarkah?”

“Kau terlihat sangat lelah Jiyong,” Jiyong mengernyit heran dengan pernyataan melenceng  Hyena. Tatapannya diartikan beda oleh Hyena.

“Perkataanmu tidak ada sangkut pautnya Hyena. Jangan mengalihkan pembicaraan,” elak Jiyong.

“Selalu saja keras kepala. Aku bersikap peduli pun kau acuhkan. Baiklah jangan salahkan aku jika aku lebih peduli dengan mayat-mayat ini daripada dirimu,”

Jiyong tersenyum kecil. Sungguh sebenarnya dia ingin bersandar pada Hyena sejenak setelah berhari-hari tidak bertemu dan bertemu lagi hari ini juga mengatas namakan pekerjaan dan tugas. Jadi tidak ada di kamusnya untuk berleha-leha dalam tugas meski itu Hyena.

Tapi tidak bagi Hyena. Dia bisa saja menjadikan itu semua alasan kedua sedangkan alasan utamanya adalah ia rindu pada Jiyong-nya itu. Hyena mengerti betul tabiat Jiyong itu tapi kekhawatirannya sudah tidak bisa ditolerir lagi.

“Baiklah kalau begitu aku jadi mayat saja untuk mendapatkan perhatianmu,”

“Shireo! Aku hanya bercanda,” Hyena mengerucutkan bibirnya. Mana mungkin dia mau berhubungan dengan mayat? Meski itu Jiyong.?

“Haha…apa kau mau kita dipermalukan oleh mayat-mayat ini jika kita berkencan disini? Sudahlah Hyena acara berkencannya lain hari. Bagaimana?”

“Baiklah Tuan idealis. Tapi kapan? Aku sudah lelah terus digoda oleh mayat-mayat ini. Setiap hari mereka mengajakku berkencan. Apa kau tidak cemburu?” tukas Hyena.

“Tentu saja tidak. Karena aku yakin nona ahli forensic ini hanya menambatkan hatinya pada Tuan idealis ini,” Jiyong tertawa kecil. Hyena memukul lengan kiri Jiyong kesal karena masih sempat-sempatnya Jiyong menggodanya.

“Tapi kurasa aku memang sudah jatuh cinta dengan mayat!” tukasnya kesal bermaksud menyindir Jiyong yang menurutnya juga sama kakunya dengan mayat yang terbujur kaku disana.

Jiyong tersenyum geli entah bagaimana si nona satu ini bisa menjadi seorang ahli forensic dengan sikapnya yang terkadang manja dan suka merajuk itu. Jiyong terkadang dibuat takjub olehnya karena dia selalu bisa mengidentifikasi jenazah-jenazah dengan baik.

Gadis yang unik.

“Hari minggu kita pergi, ok? Sudah berhenti mengerucutkan bibirmu seperti itu. Apa ada hal lain yang ingin disampaikan?”

Hyena tertawa penuh kemenangan dan seketika berubah menjadi serius mencoba mengingat lagi hal yang ingin disampaikannya.

“Oh ..iya ada satu hal. Tidak ada selongsong peluru pun yang bersarang di tubuh ketiga korban yang lainnya juga Min Ki tapi ada bekas lubang disana juga tidak ada bau bubuk mesiu. Ini aneh…..”

“Hm…apa kau bisa menemukan keanehan lain dari tubuh Min Ki khususnya?”

“Ada banyak bekas luka dan lebam-lebam ditubuhnya sepertinya dia korban penganiyayaan. Apa mungkin dia tewas karena ini?”

“Mungkin…tapi…”

“Dan kau tahu? Sebelah kakinya tidak bisa digunakan sepertinya dia cacat juga,” katanya menyela kalimat Jiyong.

“Apa dia juga punya cacat mental?”

“Aku tidak tahu karena itu bersifat organ dalam. Otaknya yang kumaksud. Aku belum membedahnya,” Jiyong sedikit ngeri mendengar kata “membedah” itu. Membayangkan Hyena membedahnya dan sendirian, apa dia tidak merasa ketakutan?

“Kenapa? Aku sudah terbiasa,” imbuhnya menanggapi tatapan penuh menyelidik Jiyong. “Bagaimana kasusnya? Apa ada perkembangan?” tanyanya lebih lanjut.

“Aku baru dapat kabar tadi saat perjalanan kesini kalau saat tim penyelidik memeriksa rumah mereka ditemukan pabrik narkoba tersembunyi di belaKang rumah keluarga itu. Entah siapa yang harus bertanggung jawab dengan itu semua,” jelas Jiyong. Hyena tampak berpikir.

“Oh…begitu rupanya. Pantas saja aku bisa menemukan zat-zat adiktif itu dalam tubuh mereka tidak terkecuali Min Ki,”

“Apa?”

“Iya…seperti yang kau tahu. Morfin, ekstasi shabu-shabu itu yang berhasil kutemukan,” begitu rupanya. Lalu apa pembunuhan ini terjadi karena ada sangkut pautnya dengan bisnis narkoba yang mereka lakukan atau ada hal lain?

Lalu bagaimana bisa Min Ki terbunuh sebelumnya? Berarti bukan dia pelakunya? Dan di tubuh mereka tidak ada peluru yang bersarang? Ternyata puzzle-puzzle kasus ini belum ada satupun yang tersusun.

—Bleeding Note—

“Kau kenapa? Kau hanya memainkan sedotan itu saja.”

“Aku hanya merindukan seseorang…” jawab Jiyong tulus. Menerawang tajam ke langit-langit kafetaria itu seakan langit-langit mengerti.

“Apa?”

“TOP…” Hyena bungkam. Dia tahu benar perasaan Jiyong jika mengenai TOP. Sikap cemburunya yang tadi meledak-meledak kini padam begitu saja.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku hanya…heran. Kemana dia pergi? Kenapa dia pergi?”

“Itu mungkin sudah pilihannya Jiyong. Mungkin sesuatu ada yang harus dia selesaikan tanpa kau harus tahu. Setiap orang punya malahnya sendiri,”

—Bleeding Note—

FLASHBACK

“Jiyong, apa kau tahu jatuh cinta itu apa?”

“Hm…sejauh yang kutahu kau akan terus memikirkannya dan tidak bisa lepas dari bayangannya…”

“Ah…tentu saja kau tahu. Kau sudah punya, Hyena.” Namja jangkung itu tersenyum kecil. Mata elangnya melengkung membentuk senyuman.

Meski dibatasi oleh tingginya besi yang tersusun rapi diantara keduanya, tidak menyurutkan keinginan keduanya untuk meneruskan percakapan mereka. Jiyong menatap miris namja pemilik mata elang itu. Berbalut baju putih yang telah memenjarakan pergerakkan tangannya namun namja itu tidak terlihat terganggu sama sekali.

“Kau sedang jatuh cinta?” tanya Jiyong tak percaya dan penuh selidik. Dia tidak habis pikir bagaimana dia jatuh cinta sedangkan ruang yang bisa dia pijak hanya tempat ini saja. Mungkinkah salah seorang dimasa lalunya?

“Iya…mm…tidak. Aku tidak tahu ini jatuh cinta atau bukan tapi aku seperti punya ikatan batin dengannya. Aku seperti selalu diikuti oleh bayangannya. Entah itu dalam dunia nyata bahkan mimpi sekalipun. Entahlah. Bagiku nyata dan mimpi bagiku tidak ada bedanya. Tapi setiap ia menangis dan menjerit aku juga merasakannya seperti tertusuk disini,” namja itu menunjukkan dada nya sebagai tempat yang sakit itu.

Jiyong tak mengerti. Pengalaman namja yang berdiri disampingnya itu sungguh aneh. Dan Jiyong hanya mencoba untuk  mengerti dan bisa menempatkan dirinya sama dengan dunia yang dipikirkan namja itu.

“Artinya kau sudah benar tergila-gila dengannya,” Jiyong membawa tangannya untuk menepuk pundak namja itu. TOP tersenyum. “Siapa gadis tidak beruntung itu?” goda Jiyong.

“Dia berbeda. Sungguh berbeda dari yang kau bayangkan,” Jiyong terdiam. Namja di sebelahnya ini selalu penuh dengan teka-teki namun dia tidak mau terlalu ikut campur terlebih ini kisah cintanya.

FLASHBACK END

“Itu saat percakapan terakhirku dengannya. Sebelum kejadian itu. Aku masih ingat senyum bahagianya saat itu, saat dia menceritakan semuanya dan ringgis kesakitannya setelah kejadian itu,” Hyena mendengar dengan sabar setiap tutur kata yang Jiyong ucapkan. Ia membiarkan waktu 10 menit ini sebagai penyaluran keluh kesahnya.

“Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat mengetahui ia pergi. Pergi bahkan sebelum aku mengucapkan terima kasih padanya,” Hyena mengerti. Kejadian itu. Kejadian terbakarnya rumah sakit jiwa yang tepat bersebelahan dengan rumah sakit dimana Hyena bekerja seminggu setelah TOP ditangkap dan dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa.

Hyena membiarkan Jiyong untuk bernostalgia akan kenangan pahitnya itu. Biarkan dia menyelesaikan segala keresahannya yang selama ini dia pendam sendiri. Hyena tidak tahu seberapa sakit itu tapi dia tahu bagaimana sakitnya perasaan itu.

“Dia yang selama ini dianggap paling hebat sempurna pada kenyataanya dia rapuh dan  hanya berusaha untuk tetap tangguh,” lirih Hyena dalam hati.

“Jiyong…..kuyakin Tuhan akan mempertemukan kalian lagi. Jangan menyesal atas apapun yang terjadi diantara kalian. Aku tahu kau menyesal karena kau belum sempat membantunya untuk mencarikan keluarganya untuknya tapi setidaknya dirimu sekarang ini kau harus membuat dirimu hidup sebagai dirimu bukan dalam bayangan TOP oppa,” Hyena mengakhiri ucapannya dengan senyuman manis.

“Setidaknya kasus ini akan lebih mudah terungkap jika ada dia.”

“Ya, dia yang terhebat. Melebihimu,” Hyena menjulurkan lidahnya.

“Aku mengakui itu…”[]

—Bleeding Note—

“Aku mau jadi polisi…..” kata seorang yang tengah bersandar pada tembok dingin ruangan kelas itu.

“Aku yakin kau bisa. Kau punya kemampuan untuk itu. Aku juga ingin menjadi polisi,” senyum riang terpancar dari orang yang diajaknya bicara. “Apa tujuanmu menjadi polisi?” tanya orang itu kemudian.

“Untuk menyelamatkan temanku dari dinginnya tembok tempat biadap itu…”

“Jiyong…”

“Aku tidak rela mereka mengorbankannya demi menutupi kesalahan mereka dengan mengatakan kalau dia orang gila yang harus disiksa di tempat itu. Apa hasil kerjanya selama ini tidak mereka anggap?”

“Aku tahu bagaimana perasaanmu, Jiyong. Tapi itu memang kenyataannya. Dia…”

“Tidak! Dia tidak gila! Dia hanya depresi menghadapi kenyataan bahwa satu keluarganya mati didepan matanya! Kau tidak mengerti apa-apa tentang perasaannya, Daesung!” hardik Jiyong.

“Kau lupa Jiyong. Yang membunuh keluarganya adalah dia sendiri. Skizofrenia. Dia mengidap Skizofrenia!” balik Daesung balas menghardik Jiyong.

Jiyong diam.

Dia tahu sepenuhnya bahwa dialah yang sebenarnya membunuh keluarganya, bahwa dialah yang juga membunuh salah satu teman kerjanya saat mereka melakukan penyelidikan dan bahwa dia sebenarnya mengidap Skizofrenia. Bahwa dia…

Jiyong tidak tahan lagi, teman satu-satunya yang dia miliki sebelum dia memasuki akademi kepolisian dan bertemu dengan Daesung berakhir tragis seperti ini. Pelupuk matanya sudah tidak tahan lagi membendung air matanya sama seperti hatinya tak lagi tahan membendung perasaannya untuk tidak berkhianat dari kepercayaan yang selama ini yang dia pegang.

“Dia alasanku untuk menjadi seorang polisi. Dengan bangganya dia pulang bersama seragam polisi ditubuhnya dan menunjukkannya padaku waktu itu dan sekarang dia tidak lagi pulang dengan seragam polisi. Dia kembali dengan seragam putih penuh tali itu. Tangannya tak lagi memegang pistol, kini tangannya hanya bisa memeluk tubuhnya yang terikat. Aku tidak bisa…aku tidak bisa melihatnya seperti itu…”

—Bleeding Note—

Waktu sepuluh menit mereka kini telah berakhir. Hyena harus pasrah membiarkan Jiyong kembali ke tempat kerjanya yang penuh kerumitan.

“Datanglah kapan saja. Selesaikan kasusmu ini terlebih dahulu. Aku mengerti, Jiyong. Tapi setelahnya waktu sebulanmu harus kau berikan padaku,” canda Hyena. Jiyong terkekeh. Bagaimanapun Hyena begitu mengerti dirinya. Tidak memaksa dan dewasa ditengah sifatnya yang terkadang menyebalkan.

“Kalau begitu tunggu aku, Nyonya Kwon.” Jiyong membawa Hyena dalam pelukkannya dan meninggalkan satu kecupan ringan dibibirnya.

“Kutunggu lamaranmu baru kau bisa memanggilku dengan sebutan itu,” tukas Hyena.

Jiyong melenggang masuk ke dalam mobilnya dan matanya terpaku pada berkas yang belum sempat dia baca sepenuh itu. Berkas tentang Min Ki.

—Bleeding Note—

“Dia masuk akademi kepolisian lalu berhasil menjadi polisi terbaik, itu adalah cita-citanya. Tapi membunuh dan mengkhianati keluarganya bukanlah cita-citanya, Daesung. Mengetahui keluargamu adalah gembong narkoba internasional yang selama ini dicari kepolisian korea dan kau harus menghukum mereka, bagaimana perasaanmu?  meski mereka hanya keluarga angkatmu?”

Kini balik Daesung yang diam. Dia tidak tahu pasti bagaimana perasaannya tapi dia tahu bagaimana rasa sakit itu seperti apa.

“Akupun juga tidak tahu. Tapi aku mencoba mengerti. Mengerti bagaimana jika aku berada hidup seperti dunia yang selama ini dia jalani. Kau harus berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli tentang apa yang mereka lakukan. Kau bahkan tidak tahu kalau mereka adalah gembong narkoba, kan?”

Daesung menggelengkan kepalanya. Dia memang benar-benar tidak tahu.

“Dia pikir ayah yang selama ini dianggapnya sebagai polisi kebanggaan baginya ternyata seorang penyelundup senjata tajam kelas kakap, kakaknya adalah gembong narkoba dan ibunya mengalami gangguan kejiwaan setelah kejadian itu. Apa kau pikir ini masuk akal? Mereka seharusnya membuka terus kasus ini bukan menutupnya karena mereka takut kalau bisnis haram mereka hampir terbongkar karena kematian ayahnya! Inilah mengapa aku tidak rela membiarkannya begitu saja…..”

“Lalu apa yang akan kau perbuat?” tanya Daesung.

“Membasmi mereka…”

—Bleeding Note—

“Apa Youngbae sudah kembali?”

“Belum.”

“Daesung?”

“Aku rasa dia juga. Aku belum melihatnya dari tadi. Bukannya dia bersamamu tadi?”

“Iya, tadinya. Lalu dia kusuruh pulang terlebih dahulu untuk menemui Youngbae. Kenapa malah keduanya jadi tidak ada?”

Sang lawan bicara hanya mengangkat bahunya tanda dia juga tidak tahu. Lalu Jiyong berusaha menghubungi keduanya. Tapi tidak ada jawaban kemana mereka?

Memorinya lagi-lagi mengingatkan akan buku catatan milik Min Ki yang belum selesai dia baca. Sesegera mungkin dia menuju kantor pribadinya.

“Tunggu.”

Kaki Jiyong seketika berhenti mendengar perintah yang tidak tahu dari mana itu.

“Aku butuh berbicara denganmu, Kwon Jiyong,” Jiyong mendelik mencari sosok yang mengajaknya berbicara.

“Maaf?”

“Aku …..”

TBC

A/N : Diharapkan jangan mempercayai segala hipotesa abal dalan FF ini karena semua hanya karangan belaka. LOL.

26 thoughts on “Bleeding Note—Chaptere #1

  1. wow! FFnya panjang bgt, keren tapi, tapi juga agak mikir bacanya, kompleks! bingung sm yg mn isi hati jiyong, penarator, dan flashback
    di lanjut thor~ penasaran hihihi

  2. ya allah kemaren itu ya hari nyebelin sedunia..tiba-tiba si modem BRETTT! matii…*gigit2 GD* kkkk jadi sorry baru komenn…

    aku suka masalah detektif2 gini nih..apalagi yg rada psikopat *iya gitu? sotoy* bikin merinding sendiri…lebih serem baca novel psycho dari pada kuntilanak beranak ato apalah itu *upsss*

    aku penasaran lanjutannya…lah kenapa pada ngilang…jangan-jangann……#JRENGGJRENGG#

  3. Sumpah deh! Aku penasaran bgt sama kelanjutan cerita ff ini..

    Author Daebakk! Aku suka bahasa yg author pake., bahasanya baku, tp ngga berbelit en mudah dipahami.. Aahhh…! pokoknya keren lah..

    Next part ditunggu ya Eon, en jangan lama”..

    #hwaiting \(^.^)/

  4. wah keren ceritanya thor
    jarang” ada ff genre kyk gini, biasanya cinta”an mulu hehehe
    penasaran bgt sama siapa pelakunya
    lanjut ya thor 🙂

  5. Akhirnya aku sempat baca chap 1 nya, haha soksibuk ye. Ini asli rumit, berasa baca detectiv conan. Baru ngerasa seru pas jiyong ketemu nyonya kang itu. Terus nyonya kang tiba-tiba mati, aigooo,,, btw top kenapa ? Gila ? Bunuh ortunya ? Ah itu, kan jiyong nyuruh yb terjemahin tulisan gaje si minki, bukannya tulisan itu pendek ya ? Kok artinya panjang ? Apa aku yg salah tanggap ? Kkk. Aku bayangin jiyong disini tuh kaya that xx tapi yg rambutnya dirapiin kebelakang kaya pake banyak minyak rambut haha. Oke komenku makin gaje, intinya keren ! Bikin readers ikut mikir keras. Siapa pembunuh min ki ? Entahhlah ! Ditunggu chap 3 nya !

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s