Restless (Part 5 – End)

A Story by Pseudonymous

Title: Restless || Main cast: 2PM’s Wooyoung & SNSD’s Taeyeon || Genre: Romance & Life || Length: Chapter || Disclaimer: Terinspirasi dari film dengan judul yang sama || Credit Poster: Tumblr || Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

***

Rasanya aneh, kembali ke bangsal lama itu. Perawat yang bertugas, beberapa di antaranya tidak Taeyeon kenali. Petugas yang mengantar Taeyeon mengatakan bahwa Wooyoung ditempatkan di kamar pribadi. Taeyeon menelusurkan ujung-ujung jemarinya di sepanjang dinding-dinding koridor sambil mengikuti perawat itu, dan mengingat-ingat. Ia masih ingat bahwa koridor ini biasa ia lewati saat hendak mengunjungi ibunya dan ia kembali melewati koridor itu sekarang.

Perawat itu berhenti berjalan. “Wooyoung ada di dalam kamar ini.” Ia menunjuk pintu yang ada di hadapannya. Kamar 143.

“Ah, ya. Terimakasih.”

Setelah berpisah dengan canggung dengan si perawat, Taeyeon mendekati pintu itu dan mencoba mendengar suara-suara dari dalam. Tapi suasana di dalam sangat senyap. Ia perlahan-lahan memutar knop pintu dan mendorongnya. Tampak Wooyoung sedang duduk di tepi tempat tidur, tertunduk dan mengenakan ice cap di kepalanya. Wooyoung mendongak saat menyadari ada seseorang yang telah membuka pintu kamarnya.

“Taeyeon?” Pemuda itu berdiri dengan tersentak.

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya. Dilihatnya wajah Wooyoung tampak tirus dan pucat. Gadis itu mulai menangis melihat keadaan Wooyoung yang menyedihkan dan berlari menghambur ke dalam pelukan pemuda itu. Wooyoung tersenyum sedih, memaklumi sikap Taeyeon. Ia mengusap punggung gadis itu, mencoba menenangkan isak tangisnya yang memilukan.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa,” bisiknya.

Taeyeon menggeleng dan terus menangis tergugu. Ia sudah tahu apa yang terjadi dan apa yang terlihat di balik ice cap itu. Semuanya sudah dimulai. Kemoterapi itu sudah dimulai.

***

Ia sudah merasa lebih baik sekarang. Taeyeon duduk bersama Wooyoung di tepi tempat tidur dalam hening yang cukup lama. Taeyeon memerhatikan Wooyoung sedang memutar-mutar gelang identitasnya. Taeyeon tahu itu hanya alibi. Ia sudah bisa melihat beberapa bekas seperti lebam di balik gelang identitas itu—bekas suntik. Lagipula tidak sulit untuk mengetahuinya karena pergelangan tangan Wooyoung tampak bengkak.

“Maaf, aku tidak memberitahumu,” kata Wooyoung. Masih memainkan gelang identitasnya.

Taeyeon tidak tahu harus mengatakan apa dan bereaksi bagaimana. Ia ingin marah, tapi juga merasa maklum. Ia tahu Wooyoung hanya tidak ingin dirinya merasa terlalu sedih dan terbeban, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.

“…” Taeyeon memilih untuk diam.

“Oh yah!” Wooyoung berseru dan mengeluarkan kertas daftar dari sakunya. “Kita masih punya beberapa hal untuk diselesaikan.”

Taeyeon melirik kertas kusut itu. Beberapa tulisannya mulai sulit untuk dibaca karena bagian-bagian yang kusut itu. Wooyoung menggumam, membaca tulisannya sendiri.

“Tapi, aku sudah memutuskan,” lanjut Wooyoung sambil mengangkat wajah dari tulisannya. “Karena aku sudah tidak sanggup melakukan banyak hal lagi, bagaimana kalau kita melakukan daftar yang terakhir saja dan yang paling ingin kulakukan.” Wooyoung memandanginya dengan mata berbinar. “Pergi ke bulan?”

Taeyeon masih diam.

“Tapi..” Wooyoung meringis. “Bagaimana kita bisa melakukannya?”

“Malam ini kita akan melakukannya,” sahut Taeyeon—akhirnya.

Wooyoung menatapnya geli. “Kau yakin?”

“Asal kalau kau bisa kabur tanpa sepengetahuan ayahmu dan para perawat yang bertugas pada tengah malam nanti.”

Wooyoung mengerutkan bibirnya. “Ya, aku pikir aku masih bisa melakukannya.”

Taeyeon mengangguk. “Aku akan menunggumu di luar malam nanti, lalu kita akan pergi ke bulan bersama.”

***

Waktu masih kecil, Wooyoung pernah menonton acara TV tentang astronaut yang berbicara tentang melihat Bumi dari luar angkasa. Katanya bumi tampak seperti bola dunia raksasa di ruang angkasa, tapi hidup. Wooyoung ingat waktu menonton itu, dan berpikir, ia akan melakukannya kalau sudah besar nanti. Waktu itu tidak ia sadari betapa susahnya mewujudkan hal ini. Dan sekarang tinggal satu hal itu dalam daftarnya yang belum terwujud.

Ia duduk dan mencoba mereka-reka, bagaimana Taeyeon dan ia bisa melakukannya. Mungkin Taeyeon menelepon sebuah yayasan dan meminta mereka menerbangkan mereka ke Amerika, lalu meluncurkannya ke bulan. Tapi barangkali tidak bisa begitu.

Wooyoung duduk di atas tempat tidur lama sekali, tidak melakukan kegiatan apa-apa, hanya berpikir saja. Lalu ia tertidur.

***

Wooyoung terbangun saat tengah malam. Kamarnya gelap sekali. Terlalu gelap. Bayang-bayang yang muncul kelihatan seram, seperti kalau sedang turun salju dan cahaya tiba-tiba menjadi lebih terang—seperti itu, hanya saja kali ini segalanya lebih gelap. Ia berbaring miring, mencoba memahami keanehan yang baru ini. Kemudian ia menyadari, lampu jalan di luar jendela tidak menyala.

Ia duduk tegak dan menekan tombol lampu. Tetap gelap. Ada pemadaman listrik, pikirnya. Sekarang sudah malam dan ada pemadaman listrik, dan semua orang sedang tidur, kecuali aku. Sementara ia berpikir demikian, sekonyong-konyong ia dipenuhi debar-debar aneh yang menggelisahkan. Dan tiba-tiba saja ia tidak betah berada di tempat tidur karena mendengar suara-suara dari luar jendela.

“Wooyoung! Wooyoung! Kau masih terjaga?”

Wooyoung mengintip dari balik kerai jendela dan melihat Taeyeon berbisik kearahnya dari luar jendela. Gadis itu berdiri di bawah pohon dengan membawa sesuatu.

“Taeyeon!” Wooyoung berseru dengan suara pelan. “Tunggu sebentar. Aku akan segera ke sana!”

Wooyoung melirik ayahnya yang tertidur lelap di sofa dan menuju laci lemari. Ia tahu dimana mereka menyimpan lampu senter—di laci tengah, tapi ia mesti mengaduk-aduk isinya dulu karena di sana begitu banyak sampah—kertas, besi-besi dan sebagainya. Wooyoung mengaduk isinya lama sekali sebelum menemukannya.

Ketika ia pergi ke koridor untuk mencari mantel, ia tidak berani menyalakan lampu senter itu, karena takut terlihat. Akhirnya ia mengenakan jaket ayahnya dan ice cap, berikut sepatu kets, lalu ia keluar. Ternyata di luar udaranya tidak sedingin yang ia kira. Dan keadaannya terang sekali, agak menyeramkan. Halaman belakang rumah sakit diselimuti oleh bayang-bayang terang keperakan dan semak-semak waktu ia menyorot dengan lampu senter. Dan suasananya amat sangat sunyi.

“Matikan sentermu!” Taeyeon memperingatinya. “Kita bisa ketahuan jika kau menyalakan senter. Lagipula di sini tidak terlalu gelap karena ada cahaya bulan.”

Wooyoung menurut dan mengikuti Taeyeon saat gadis itu menarik tangannya.

“Kita akan naik ke atas sana,” kata Taeyeon sambil menunjuk ke atas ranting pohon. “Kau bisa memanjat?”

“Aku rasa bisa,” sahut Wooyoung, walau tidak terlalu yakin.

“Baiklah. Aku akan naik duluan, lalu kau menyusul. Oke?”

Wooyoung memerhatikan Taeyeon yang dengan lincah memanjati pohon sembari berpikir untuk apa mereka naik ke pohon? Apakah ini merupakan bagian dari pergi ke bulan? Wooyoung tidak tahu, maka ia diam saja dan memilih untuk menuruti Taeyeon.

“Giliranmu!” bisik Taeyeon dari atas. Ia sudah duduk dengan nyaman di salah satu cabang pohon yang besar dengan kedua kaki menjuntai ke bawah.

Wooyoung mengantongi lampu senter itu di saku jaket dan mulai memanjat. Namun, ternyata memanjat lebih sulit daripada yang ia kira. Sebab ia memakai sepatu kets dan sepatu ini selalu melorot karena kakinya yang berkeringat. Ia mesti menekuk jari-jari kakinya erat-erat di dalam. Dan terlebih lagi, ia hanya memakai piama, sehingga kedua kakinya sering tergores-gores. Dulu ia suka memanjat pohon apel setiap musim dingin, tanpa kesulitan. Tapi kali ini sulit sekali. Apalagi dengan keadaan fisik yang berbeda.

Susah menemukan pijakan kaki. Bahkan mengangkat badannya ke cabang berikutnya rasanya berat sekali. Kegiatan ini sudah tidak menyenangkan lagi. Wooyoung tahu mestinya ia tidak berada di sini dan kembali ke rumah sakit. Tapi ia tidak ingin. Ia terus saja menarik tubuhnya ke atas, meski kedua lengan dan kakinya sakit, sampai akhirnya ia tiba di puncak.

Dan pada saat itulah Wooyoung melihatnya.

Di Seoul, Wooyoung tidak sering bisa melihat bintang-bintang. Memang ada beberapa, tapi tidak banyak dan kurang jelas. Kata ayahnya, itu gara-gara lampu-lampu jalan. Tapi malam itu semua lampu jalan mati. Dan bintang-bintang bisa terlihat hingga berkilo-kilometer, terus dan terus sampai alam semesta ini menekuk di sekitar tepi-tepi langit. Dan di sana, besar dan bulat, bersinar keperakan, adalah sang Bulan.

Wooyoung terus dan terus memandang. Belum pernah ia melihat bulan sebesar dan seterang itu. Bulan tampak seperti hasil buatan tangan seseorang yang memotongnya dari selembar kertas perak dengan gunting prakarya yang besar, lalu menempelkannya di langit. Wooyoung tidak tahu mengapa bulan itu tampak begitu indah—mungkin karena ia masih merasa lelah dan berdebar-debar.

“Aku sudah tahu hari ini akan ada gerhana bulan dan seluruh lampu akan dipadamkan,” kata Taeyeon. “Maka dari itu aku mengajakmu ke sini. Ini bagian dari rencana kita untuk pergi ke bulan. Walau kita tidak benar-benar pergi ke bulan, setidaknya kita bisa melihatnya dalam jarak yang rasanya sangat dekat.”

Wooyoung mengangguk. “Kau benar. Jaraknya sangat dekat, seolah-olah, aku hanya tinggal mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.”

“Lucu juga, ya?” lanjut Wooyoung sambil terkekeh. “Sewaktu membuat daftar itu, aku tidak pernah menduga akan bisa mewujudkannya dalam waktu sesingkat ini.”

Taeyeon ingin tertawa, tapi bibirnya kaku. Ia terus melirik lebam-lebam di tangan Wooyoung dan membayangkan apa yang di balik ice cap itu. Wooyoung menatap kertas kusut itu dan tersenyum sedih.

“Tapi, rasanya sangat aneh jika mengakhirinya begitu saja,” ujar Wooyoung. “Menurutmu, apakah aku harus menambahkan sesuatu?”

Taeyeon berdeham. Ia tidak begitu yakin. Taeyeon memalingkan wajah dan mendongak ke bulan. Tangisnya hendak meledak lagi. Jika daftar itu selesai, apakah itu artinya akan ada sesuatu yang ‘selesai’ juga? Wooyoung menyadari perubahan sikap Taeyeon. Ia meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya.

“Aku akan baik-baik saja, Taeyeon,” bisik Wooyoung, mencoba meyakinkan.

Taeyeon tidak percaya. Ibunya juga dulu mengatakan hal demikian.

Wooyoung mendengus kecewa. Ia mengambil pensil dari saku jaketnya dan menulis sesuatu dalam daftarnya. Ia menambahkan dua daftar baru dan menunjukkanya pada Taeyeon.

“Lihat,” katanya. “Ada dua daftar baru. Kita belum benar-benar mengakhirinya. Masih ada dua hal lagi yang perlu dilakukan.”

Taeyeon membaca dua daftar terakhir. ‘Menjadi sembuh dan sehat kembali’ dan ‘Menikah dengan Taeyeon’. Gadis itu tidak tahu harus menangis karena sedih atau bahagia. Taeyeon mulai menangis dan terus menangis. Wooyoung menggenggam tangannya dengan erat dan mengusap air matanya dengan ibu jari.

“Sudahlah, jangan menangis. Tapi, apakah kau menangis karena sedih akan menikah dengan pemuda yang tidak mempunyai rambut?” Wooyoung berusaha melontarkan candaan, tapi ia sendiri merasa sedih mengingat ia tidak mempunyai rambut lagi.

Taeyeon tersenyum. “Kau tetap terlihat tampan bagiku. Baik dengan atau tanpa rambut.”

Wooyoung terkekeh. “Kalau begitu, kau akan tetap mau menikah denganku, kan?”

Taeyeon mengangguk.

“Baiklah kalau begitu,” kata Wooyoung. “Aku akan berusaha sembuh untukmu dan kita akan menikah bersama. Dan berjanji satu hal padaku bahwa kau akan tetap melanjutkan impianmu untuk menjadi dokter, oke?”

Taeyeon tersenyum. “Ya.”

Gadis itu merasa lebih baik saat sekarang. Walau terdengar sangat mustahil untuk bisa sembuh, Taeyeon tetap menyimpan harapan untuk Wooyoung. Keduanya akhirnya terus duduk bertahan di sana, dan memandangi bulan.

***

Beberapa hari kemudian, udara mulai terasa semakin menusuk. Musim gugur mulai berganti. Ketika Wooyoung terbangun pagi itu, seluruh dunia telah berubah. Bahkan matahari tampak lebih terang. Ada bulatan-bulatan cahaya putih kecil menari-nari di tembok kamar tidurnya. Dan ketika ia membuka tirai jendela, ia tidak bisa berhenti memandangi. Jalanan, rumah-rumah, halaman; segalanya seperti telah dicelupkan ke dalam mesin cuci dan keluar lagi dalam keadaan berbusa.

Tiffany dan ayahnya sedang mengobrol mengenai sesi kemo yang kedua saat itu.

“Turun salju,” seru Wooyoung.

“Kami tahu,” kata ayahnya.

“Bisakah kita main seluncuran?”

Tiffany memandangi Wooyoung dari atas ke bawah. Lalu katanya dengan tenang, “Kenapa tidak?”

“Jangan konyol,” kata tuan Jang. “Udara sangat dingin. Kondisimu sedang lemah, bisa-bisa kau jatuh pingsan.”

Wooyoung merengut kesal. “Kenapa tidak? Aku janji tidak akan jatuh pingsan. Dan mungkin tahun ini tidak akan turun salju lagi. Ini kesempatan bagus untuk melakukan kegiatan ini, sementara.. sementara aku masih sehat.”

Wooyoung memandang ayahnya sekilas. Ayahnya memalingkan wajah. Tampak jelas sebenarnya ia tidak suka Wooyoung berkata demikian.

“Kau tidak boleh berseluncur,” tegas ayahnya. “Lagipula dalam beberapa hari lagi kau akan menjalani sesi kemo yang kedua. Kau harus tetap dalam keadaan baik saat menjalani sesi kedua nanti.”

Wooyoung mendengus. Baru kali pertama ini ia merasa kecewa dengan sikap ayahnya. Tiffany menatapnya sedih dan sepertinya hanya Tiffany yang mengerti perasaannya.

“Aku mengerti perasaanmu,” bisik Tiffany, diam-diam. “Dan kau tidak perlu khawatir. Setelah ayahmu pergi ke gereja siang ini, kita akan bermain seluncuran.”

Wooyoung menatap takjub pada Tiffany. “Kau sedang tidak bercanda, kan, Noona?”

“Tentu saja. Asal,” Tiffany meletakkan telunjuk di atas bibirnya. “Jangan bilang-bilang ayahmu.”

***

Mau tak mau Wooyoung cemas tentang ayahnya, sepanjang jalan naik taksi ke taman. Wooyoung merasa agak mengkhianatinya, sebab mereka pergi berseluncur padahal ayahnya sudah melarang. Tapi ia tidak tahu mesti bagaimana lagi. Bisa jadi ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk berseluncur.

Tak ada siapa-siapa di bukit tempat berseluncur. Hanya Taeyeon, Tiffany dan dirinya sendiri. Tiffany juga mengajak Taeyeon kemari. Dan Wooyoung terlihat semakin bersemangat dan gugup pada saat yang sama. Seolah-olah seluruh dunia sedang menahan napas.

“Siapa yang mau meluncur duluan?” kata Tiffany. “Atau berdua sekaligus?”

Wooyoung sulit percaya bahwa Tiffany benar-benar mengizinkannya berseluncur menuruni bukit. Biasanya ia khawatir sekali jika Wooyoung akan terluka atau apalah. Tapi hari ini sungguh berbeda. Wooyoung dan Taeyeon punya seluncuran plastik sendiri-sendiri. Mereka duduk berbarengan di seluncuran masing-masing.

“Satu,” Tiffany bersiaga. “Dua. Tiga! Jalan!”

Wooyoung mendorong dengan kakinya dan menyentakkan seluruh badan ke depan. Mulanya kereta luncur itu tidak mau jalan, lalu tiba-tiba mulai meluncur. Mulanya pelan-pelan, lalu makin cepat. Bisa ia rasakan angin menerpa kedua pipinyad dan masih melalui sarung tangan. Belum pernah Wooyoung merasa begitu hidup sepert ini dan ia tidak ingin ini berakhir.

Pagar semak-semak semakin mendekat dan semakin mendekat. Wooyoung menjulurkan kedua kakinya ke atas salju dan kereta luncur itu berhenti pada waktunya. Taeyeon menyusulnya dan berhenti di sampingnya. Kedua pipinya merah dan matanya bersinar-sinar.

“Lagi!” Mereka berseru.

Mereka kembali menyeret kereta luncur ke puncak bukti. Lalu mereka meluncur dengan kaki duluan, wajah duluan, sambil telungkup, sambil telentang, melihat langit berguncang-guncang dan bergoyang-goyang di atas sana. Tiffany berdiri di puncak bukit, mengawasi mereka.

Setelah beberapa waktu, Wooyoung mulai lelah dan tulang-tulangnya terasa sakit lagi. Lereng bukit yang putih dan indah itu sudah bergalur-galur oleh bekas-bekas jalur kereta luncur serta jejak-jejak kaki.

“Saatnya pulang, Wooyoung,” kata Tiffany. “Kau masih harus banyak istirahat untuk sesi kemo yang kedua. Kau tahu itu, kan?”

Setelah berpisah dengan Taeyeon, Wooyoung dan Tiffany menggunakan taksi untuk kembali ke rumah sakit. Hujan salju mulai turun. Wooyoung memandangi butiran-butiran putih itu jatuh ke permukaan dan menutupi jejak-jejak kaki yang mereka tinggalkan.

***

Seperti yang dokter Junsu prediksikan sebelumnya, bahwa keadaan bisa saja menjadi buruk di tengah proses kemoterapi, akhirnya terjadi. Dua hari sebelum sesi kedua itu dilaksanakan, Wooyoung terus mual-mual dan mimisan. Ia tidak sanggup lagi bangun dari tempat tidur dan terus menangis kesakitan. Dokter Junsu akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan kemoterapi itu, karena terlalu bahaya.

Lalu, keesokan paginya, Wooyoung sudah mengetahui bahwa kemoterapinya dihentikan. Ia semakin merasa aneh, berat, dan seperti tidak benar-benar sadar. Tulang-tulangnya sakit lagi.

Malamnya ayahnya datang dan duduk di tepi tempat tidur.

“Wooyoung,” panggilnya. “Kira-kira, bisakah kau makan sesuatu? Kau sangat kurus sekarang.”

Wooyoung menggeleng. Perutnya terasa mual, seolah organ-organ dalam perutnya turun-naik. Ayahnya mengangguk sekali-dua kali. Ayahnya menarik napas dalam-dalam.

“Mungkin kau bisa minum sedikit milkshake.”

Lalu, ayahnya memesan pada Tiffany untuk membuat milkshake. Wooyoung memegang gelas itu dengan canggung. Rasanya licin dan berat di antara jemarinya. Kulit tangannya bahkan terasa perih, tapi juga mati rasa. Bisa Wooyoung rasakan setiap tusukan benang pakaian di kedua lengan dan lehernya.

Sang ayah menatapnya.

“Minum yah,” pintanya.

Wooyoung meneguk setengah gelas milkshake itu, lalu muntah di selimut dan pakaiannya.

Ayahnya hanya duduk memandangi. Wooyoung mulai gemetar dan tak bisa ia hentikan. Lalu ia sadar dan mulai menangis, meski ia tidak tahu apakah karena ia merasa putus asa atau karena ia mual. Ia merasa sangat lelah dan sakit.

Ayahnya mengulurkan tangan dan merangkulnya, tapi ia terus menangis karena rasanya sakit. Maka ayahnya menarik lengannya dan ikut menangis.

“Aku benci,” kata Wooyoung. Suaranya terdengar tinggi melengking, gemetar oleh isak tangis. “Aku benci penyakit ini. Aku benci.”

Ayahnya mengangguk. Wajahnya basah oleh air mata.

“Aku juga,” katanya. “Aku juga, Sayang.”

***

Wooyoung tidak ingat berapa lama mereka menangis. Tapi ia ingat setelah mereka berhenti menangis, ayahnya memberinya beberapa lembar tissue dan membersihkan wajahnya dengan itu. Wooyoung tahu ayahnya ingin sekali memperbaiki suasana, tapi tidak bisa. Jadi, ia keluar, mengambil selimut bersih dan membantu Wooyoung berganti pakaian. Lalu, ayahnya duduk di kursi, di samping tempat tidur, sampai Wooyoung tertidur dan tidak pernah bangun lagi.

***

Taeyeon dan Yisook beranjak ke pintu kamar Wooyoung dan berdiri di situ, ingin masuk tapi tidak berani. Ketika akhirnya Yisook menarik tangannya untuk masuk, ternyata suasananya tidak separah yang tadi Taeyeon bayangkan. Wooyoung berbaring di tempat tidur, telentang dalam piama biasa. Kelihatannya ia tidur. Ayahnya duduk di samping tempat tidur sambil memegangi tangannya. Ayahnya menoleh ketika mereka masuk.

Taeyeon duduk di samping tempat tidur dan memegangi tangan Wooyoung. Tangannya sangat dingin dan kaku. Ia menatap wajah Wooyoung yang sedang tertidur dan berharap Wooyoung menyadari keberadaannya, lalu membuka mata. Tapi, selama beberapa menit di sana, Wooyoung tidak kunjung membuka mata.

“Ia sudah begini sejak tiga hari yang lalu,” kata tuan Jang lirih. “Keadaannya tiba-tiba menurun sangat drastis.”

Taeyeon mulai terisak dan ingin sekali menjerit, membangunkan Wooyoung dengan mengguncang-guncang tubuh pemuda itu. Tapi ia tahu usahanya akan sia-sia. Maka Taeyeon hanya mendekat ke wajah Wooyoung dan membisik di telinga pemuda itu.

“Kau sudah berjanji padaku untuk sembuh, Wooyoung. Kau juga sudah berjanji akan menikah denganku. Kau akan menepati janjimu, kan?”

Wooyoung tidak bereaksi. Dan hanya tidur seperti itu.

***

Taeyeon tidak bisa tidur di malam meninggalnya Wooyoung. Ia terus terjaga dan mendengar suara-suara dari luar kamarnya. Rasanya seperti mimpi ketika tuan Jang menelepon dan mengabarkan Wooyoung telah pergi. Taeyeon tidak bisa menangis saat itu, karena ia masih tidak mampu mempercayainya. Sampai akhirnya ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Keesokan paginya, Wooyoung akan dimakamkan. Semua orang mulai berkumpul di gereja dan mengenakan pakaian serba hitam. Taeyeon mengenakan dress hitam yang pernah ia gunakan saat ibunya dimakamkan. Yisook ikut bersamanya pergi ke gereja.

Di gereja, Taeyeon tidak bisa mengenali siapa-siapa kecuali tuan Jang dan Tiffany. Ia juga melihat nyonya Jang datang bersama suami dan anak perempuannya yang umurnya tujuh tahun. Saat proses itu berlangsung, adik tiri Wooyoung—Suzy—terus bertanya pada nyonya Jang seperti, ‘Oemma, siapa yang meninggal?’, ‘Kenapa Wooyoung meninggal?’, ‘Kenapa semua orang terlihat sedih?’, dan sebagainya.

Nyonya Jang terus menangis sepanjang proses itu berlangsung dan tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya. Sementara itu tuan Jang juga menangis tergugu dan beberapa kali nyaris jatuh pingsan. Gereja itu penuh oleh air mata dan isak tangis. Taeyeon sendiri bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh lemas ketika peti Wooyoung mulai dimasukkan ke dalam liang lahat.

***

Seminggu setelah kepergian Wooyoung, Taeyeon begitu sering mengunjungi makam pemuda itu dan bertahan di dinginnya udara musim dingin. Ia hanya berdiri di depan batu nisan itu dan menangis. Taeyeon tidak tahu apa yang ia harapkan dari terus mengunjungi makam Wooyoung. Dan pagi itu, tuan Jang juga ada di sana dan terkejut mendapati Taeyeon ada di makam anaknya.

“Kudengar kau terus mengunjungi makam Wooyoung setiap hari,” kata tuan Jang.

Taeyeon menyeka air matanya dan tersenyum. “Aku pernah mendapati Wooyoung menatap ke pemakaman. Aku tahu ia merasa bahwa akan ada saatnya ia juga akan mengalami hal yang sama dengan apa yang ia lihat. Aku hanya khawatir tentangnya.”

Tuan Jang tersenyum. “Kau datang kemari untuk menemaninya?”

Taeyeon mengangguk. “Aku tidak ingin ia merasa terlupakan, Ahjussi.”

Tuan Jang mengangguk dan menunduk menatap batu nisan Wooyoung. “Kau tahu, Wooyoung adalah pemuda yang sangat gigih. Ia bersikeras untuk sembuh dan menyalakan harapan di tengah hujan masalah yang selama ini menerpa dirinya. Tapi, semalam sebelum ia tidak pernah bangun lagi, ia menangis seperti anak kecil di depanku dan mengatakan bahwa ia benci penyakitnya. Putus asa bukanlah sifat Wooyoung, tapi aku tahu itu adalah hal yang sangat manusiawi.”

Taeyeon mendesah.

“Aku tahu ia sangat lelah bertahan di tengah penderitaan itu dan aku sudah bertindak begitu egois dengan memaksanya untuk tetap bertahan,” lanjut tuan Jang lirih. Pria itu mulai menangis lagi. “Aku tidak sadar bahwa perbuatanku justru memaksanya untuk tetap merasakan rasa sakit itu lebih lama lagi. Kalau saja aku melepasnya, ia mungkin sudah tenang dan tidak akan merasa kesakitan lagi.”

“Tapi..” Tuan Jang menyeka air matanya dengan saputangan yang ia bawa dan mencoba tersenyum. “Wooyoung pernah mengatakan padaku, bahwa kematian mungkin mengakhiri kehidupan, tapi tidak pernah mengakhiri sebuah hubungan.”

Taeyeon ikut tersenyum dan mengangguk setuju.

“Taeyeon,” panggil tuan Jang. Pria itu menatapnya dengan mata berbinar. “Aku mendengar dari Yisook dan Tiffany bahwa kau juga pernah mengalami rasa kehilangan yang sama denganku dan merasa putus asa. Tapi itu tidak akan menjadi alasanmu untuk mengakhiri kehidupanmu.”

Taeyeon menunduk ragu, merasa malu. “Maafkan pikiran bodohku, Ahjussi. Aku tahu ideku terdengar sangat konyol.”

Tuan Jang tersenyum. “Aku memahami perasaanmu, tapi bukankah kau ingin menjadi ilmuwan, menemukan obat untuk melawan kanker? Mengapa kau tidak melanjutkan impianmu, agar tidak ada lagi orang-orang yang kau sayang harus berakhir menyedihkan seperti ini?”

Taeyeon mengerutkan bibirnya dan mengangguk canggung. “Kupikir kau benar.”

Tuan Jang meraih tangannya dan menepuknya pelan. “Sekarang, hiduplah untuk impianmu dan selamatkan nyawa orang-orang kurang beruntung itu. Untuk dirimu dan untuk Wooyoung.”

Taeyeon tersenyum. “Untuk Wooyoung.”

Keduanya bertukar peluk. Taeyeon bisa menghirup aroma tubuh Wooyoung melalui tubuh tuan Jang. Persis. Saat keduanya berpelukan, Taeyeon membuka mata dan melihat seseorang berdiri di luar pagar pemakaman, tersenyum kearahnya. Pemuda itu mengenakan syal, dan berpakaian serba putih. Bahkan rambutnya pun masih ada, seperti sedia kala.

Taeyeon tersenyum kearah pemuda itu dan Wooyoung membalas senyumannya.

the end.

***

NB: Maaf kalau part ini kesannya agak maksa & konyol, soalnya saya nggak pengen FF ini kesannya jadi bertele-tele. Maaf juga kalau ini endingnya nggak sesuai harapan😐

42 thoughts on “Restless (Part 5 – End)

  1. best ending..🙂
    it’s okay,,
    wooyoung nya slalu ada di hati taeyeon :’)
    thx for the beautiful ending authornim~🙂

  2. Sad ending..
    T.T

    padahal awalnya aku berharap banget kemotraphy nya Wooyoung bisa berhasil jadi mereka bisa bersatu..
    Tapi rupanya takdir gak begitu..
    Ya sudahlah..

    but, endingnya so sweet banget..

  3. Huaa:'( sedih banget thor.
    Kata” menyentuh banget.
    Ampe kebawa suasana.
    Kepengennya sich happy ending thor, tpi gx apa dech.
    Keren koq thor. Kata”nya jga mudah d cerna.🙂
    d tinggu ff berikutnya ya thor.
    Oia thor. Req ff Wooyoung ama iu dong thor. Dah lma gx baca ff milkycouple ni thor. :Dkeke~

  4. meski dengan ending yg ga aku sua (read; sad ending) tapi tetep mancing emosiku keluar, dan aku nangis..
    paling jleb itu pas uyong nambahin 2 impiannya di dafta ‘kehidupan’nya..
    mian sa., aku baru sempet baca.. :’)
    sebenernya mau banget baca yang threesome.. tapi musti nyuri2 waktu juga buat baca..-__,- ini aja aku begadang, buat nyempetin baca ffmu.. hehe..

  5. “tidur dan tdk pernah bangun lg” oke, so sad T_____T tp…..endingnya beautiful. ya walaupun taeng sama woo-nya ga bersatu. daebaklah ffnya! good job, thor!

  6. waaaaa…. ternyata sad ending T_T
    sedih banget wooyoung nya harus meninggal😦
    pertama nya sih ngga ngira meninggal, kirain bakal sembuh…
    tapi ngga papa kok😉
    ff nya keren banget, aku suka banget!!🙂
    author keren!🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s