Crescent Rhapsody [Chapter 2]

Author: ree

Genre: romance, friendship

Rating: PG-13

Length: Short story

Casts: IU (Lee Ji Eun), Wooyoung 2PM, Taeyang Big Bang, Yonghwa CN Blue, Jiyeon T-ara

Disclaimer: This story is just my imgination. The characters belong to God, but the story is mine

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kkau…kan… Taeyang?!!”

“Sssstt…!!!” Taeyang buru-buru menutup mulut Ji Eun dengan sebelah tangannya, “Jangan berisik!”

“Ta…tapi, kenapa kau bisa…”

Taeyang mendecak, “Aku memang kerja sambilan di toko daging sepulang sekolah. Kau puas?!”

Ji Eun terdiam. Tampaknya Taeyang tidak begitu suka mengungkit hal ini.

“Tapi kau kan idola sekolah. Hampir semua gadis tergila-gila padamu. Kenapa kau malah…”

“Sejak awal aku tidak menginginkan citra idola seperti itu.” potong Taeyang cepat, “Mereka saja yang seenaknya menganggapku idola mereka. Aku hanya menjalani kehidupanku. Dan inilah kehidupanku yang sebenarnya.”

Ji Eun terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka seorang idola sekolah seperti Taeyang yang dipuja banyak gadis ternyata seorang karyawan toko daging.

“Bagaimana kalau mereka tahu? Citramu bisa rusak nanti.”

“Biarkan saja. Aku tidak peduli. Aku kan bekerja seperti ini karena kebutuhan.”

Taeyang lalu sedikit menarik topinya ke depan dan mendekatkan wajahnya pada Ji Eun, “Tolong jangan katakan ini pada siapapun. Yang tahu tentang hal ini hanya kau dan aku.” ia pun lantas bergegas meninggalkan Ji Eun untuk kembali ke mobil colt pengantar daging.

Ji Eun tidak langsung menjawab, “Tunggu! Sepertinya aku kenal suara ini. Kenapa dari tadi aku tidak menyadarinya?” batinnya.

“Tunggu!” tahan Ji Eun. Taeyang menoleh.

“Kau… yang tadi di atap sekolah dan yang menabrakku kan?” Ji Eun memberanikan diri bertanya karena ia baru menyadari suara Taeyang sama persis dengan suara laki-laki yang ada di atap sekolah dan yang menabraknya.

Taeyang menyernyitkan dahi, “Oh, kau orang yang menyanyi sambil main gitar itu?”

“Namaku Lee Ji Eun.” Ji Eun memperkenalkan diri, “Jadi benar itu kau?”

“Ya. Maaf sudah menabrakmu. Tadi aku harus buru-buru ke toko.”

“A…aku… juga…” kata-kata Ji Eun terpotong karena laki-laki itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, “…..minta maaf…” ia menghela napas. Setelah mobil tersebut menghilang dari pandangan, Ji Eun kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam toko.

***

“Tolong jangan katakan hal ini pada siapapun. Yang tahu tentang hal ini hanya kau dan aku.”

Entah kenapa, kata-kata itu terus terngiang di kepala Ji Eun. Hanya kau dan aku. Rasanya kata-kata itu istimewa. Berarti yang tahu rahasia itu di sekolah hanya dirinya dan Taeyang sendiri. Hanya mereka berdua. Tidak lebih.

Benarkah seperti itu? Rasanya Ji Eun tidak percaya hanya dia sendiri yang tahu rahasia itu. Apa teman-teman satu geng Taeyang yang dijuluki “Big Bang” itu juga tidak mengetahuinya?

“Dooorrrr!!!” tiba-tiba seseorang mengejutkan Ji Eun dari belakang. Membuat lamunan gadis itu buyar seketika. Ji Eun menoleh.

“Jiyeon-ah!! Kenapa kau senang sekali mengagetkanku?!! Jantungku serasa mau copot tau!”

Yang dimarahi hanya senyum-senyum, “Maaf deh, habis dari kemarin kau melamun terus sih! Lagipula sudah tahu aku sering mengagetkanmu, kenapa kau belum terbiasa juga?”

Ji Eun hanya bisa merengut, namun tak berapa lama ia kembali tersenyum.

“Ada ribut-ribut apa sih?” tanyanya kemudian sambil menoleh ke arah jendela.

Jiyeon ikut menoleh ke arah yang sama dengan Ji Eun, “Oooh, itu. Biasa, Taeyang. Tadi gadis-gadis itu tidak sengaja melihat dia dance di sudut lorong. Dan mereka langsung berebutan memberi kue dan sebagainya.” Jiyeon menghela napas, “Aku bosan setiap kali melihat kelakuan mereka yang seperti itu. Kenapa Taeyang tidak mencari pacar saja supaya gadis-gadis itu bungkam?” Ia lalu menoleh ke arah Ji Eun dan memperhatikan wajah gadis itu. Dahinya berkerut.

“Lho, Ji Eun, kenapa wajahmu merah?!” serunya.

Ji Eun refleks menyentuh kedua pipinya. Sedikit terasa hangat.

“Ma…masa’ sih!? Merah bagaimana maksudmu?”

“Benar, wajahmu memerah.” Jiyeon terdiam sejenak, “Aaaaah, kau juga naksir Taeyang ya??! Cepat katakan, ada apa antara kau dengan dia?”

“A…aku?? Naksir Taeyang?!” Ji Eun buru-buru mengibas-ibaskan tangannya, “Tidak mungkin!”

“Lalu kenapa wajahmu merah? Jangan bohong, Ji Eun…”

“A…aku tidak bohong kok! Bagaimana aku bisa suka? Kenal saja tidak.”

“Siapa yang tidak kenal idola sekolah seperti Taeyang? Semua gadis di sekolah ini mengenalnya. Dia keren, jago nge-dance, suaranya bagus, dan tubuhnya juga atletis. Tidak heran kalau gadis sepertimu juga menyukainya.”

“Jiyeon-ah, sudah kubilang kan kalau aku tidak…”

“Tidak apa?” tiba-tiba Wooyoung sudah berdiri disamping Ji Eun dan Jiyeon yang duduk berhadapan. Dahinya mengernyit, “Ji Eun, kau suka pada Taeyang?”

Ji Eun menatap tajam ke arah Wooyoung. Kenapa akhir-akhir ini laki-laki ini selalu datang di saat yang tidak tepat? Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian dua hari yang lalu, otaknya langsung mengingatkannya bahwa sekarang Wooyoung sekarang sudah memiliki perempuan lain. Hal itu berdampak pada hatinya yang langsung terasa panas dan bergemuruh.

“Kalau iya kenapa?!”

“Kau…”

“Ya, aku suka padanya! Aku menyukai Taeyang!” kalimat itu begitu saja meluncur dari mulut Ji Eun.

Baik Wooyoung maupun Jiyeon terperangah. Jadi, Ji Eun benar-benar menyukai Taeyang? Sejak kapan?

“Jiyeon, ayo kita ke kantin!” Ji Eun menarik tangan Jiyeon dan memaksa gadis itu beranjak dari tempat duduknya.

Dengan wajah kesal, Ji Eun berjalan cepat meninggalkan Wooyoung. Dia suka Taeyang?! Mustahil! Membayangkan dirinya akan berbicara dengan laki-laki itu saja tidak pernah terlintas di pikirannya. Melihat sosok yang berkharisma seperti Taeyang rasanya sangat jauh dengan dirinya yang hanya gadis biasa. Tapi entah kenapa kata-kata yang diucapkannya pada Wooyoung barusan keluar begitu saja. Padahal ia sama sekali tidak memiliki perasaan pada Taeyang. Dan pasti sekarang Wooyoung dan Jiyeon menganggap dirinya benar-benar menyukai laki-laki itu. Tapi yah, sudahlah. Hitung-hitung dia bisa balas dendam pada Wooyoung dan berharap perkataannya bisa membuat laki-laki itu tidak mendekatinya lagi. Dia kan sudah punya pacar.

“Ji Eun, perkataanmu tadi itu serius?” tanya Jiyeon di tengah perjalanan menuju kantin. Namun ketika sampai di loker Ji Eun, mereka berhenti.

Ji Eun tersentak dan menelan ludah. Ia sudah mengira Jiyeon akan menanyakan hal itu, tapi menghadapi pertanyaan itu secara langsung, tetap saja membuatnya gugup. Ia harus berusaha sebisa mungkin agar sikapnya tetap terlihat wajar.

“Be…benar, kok! Kau tidak percaya?” ia mengeluarkan dua bungkus roti dalam lokernya dan menyodorkan satu pada Jiyeon, “Kau mau?”

“Terima kasih. Tapi aku beli di kantin saja.” tolak Jiyeon halus. “Ji Eun-ah, kau berutang cerita padaku. Bagaimana kau bisa menyukai Taeyang? Apa yang sudah terjadi diantara kalian?”

“Tidak terjadi apa-apa, Jiyeon-ah. Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang?”

“Tidak sih… Aku hanya kaget saja karena tiba-tiba kau berkata seperti itu.”

Mereka berdua lalu melanjutkan langkah menuju kantin dan duduk di salah satu meja yang masih kosong.

“Tumben ramai sekali kantinnya. Aku hanya dapat hot chocolate dan french fries.” keluh Jiyeon sambil memasukkan satu per satu kentang goreng berbentuk stick itu kedalam mulutnya, “Kau mau?”

Ji Eun menggeleng, “Tidak, untukmu saja.”

Ketika sedang asyik menikmati makanan sambil mengobrol, tanpa sengaja Jiyeon melihat Taeyang yang hendak membeli roti di kantin, namun kehabisan karena kondisi kantin yang ramai.

“Ji Eun-ah, ini kesempatanmu!” seru Jiyeon tiba-tiba.

“Maksudmu?”

“Coba lihat kesana.” ia menarik bahu Ji Eun sehingga gadis itu menoleh ke belakang. “Kebetulan Taeyang kehabisan roti. Kau bawa dua bungkus kan? Berikan saja padanya!”

“Tapi…”

“Ayolah, ini pasti hari keberuntunganmu. Kapan lagi kau bisa punya kesempatan berdekatan dengannya?”

Setelah dibujuk-bujuk oleh Jiyeon, akhirnya Ji Eun menyerah dan bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu menghampiri Taeyang.

“Ng… Taeyang…” panggilnya ragu-ragu. Laki-laki itu menoleh. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana dan dilehernya melingkar earphone berwarna putih yang sering dipakainya. Aah, gayanya memang cool.

“Ng… Kau tadi kehabisan roti kan? Kebetulan aku bawa dua, jadi kuberikan saja punyaku…” Ji Eun menyodorkan sebungkus roti ke hadapan Taeyang.

Taeyang memperhatikan roti yang disodorkan Ji Eun, kemudian menatap gadis itu, “Oh, kau yang di toko roti itu kan?”

Spontan Ji Eun langsung mendekapkan kedua tangannya di dada. Wajahnya tampak sedikit terkejut, “Ah, kau ingat?”

“Itu kan baru kemarin. Mana mungkin aku sudah lupa?” Taeyang lalu mengadahkan sebelah telapak tangannya.

Ji Eun memperhatikan telapak tangan Taeyang dengan heran. dahinya mengernyit. “Sebenarnya orang ini mengajak bersalaman, berpegangan tangan, atau apa?”

“Katanya kau mau memberikan roti itu padaku?” ujar Taeyang kemudian.

Ji Eun memperhatikan bungkusan roti yang tapa sadar dipeluknya, “Oh iya, aku lupa.” ia lalu memberikannya pada laki-laki itu.

“Kau benar-benar mau memberikannya padaku?” tanya Taeyang memastikan. Ji Eun mengangguk mantap.

Laki-laki itu tersenyum, “Thanks.”

Ketika hendak melangkah, ia seperti teringat sesuatu dan kembali membalikkan badannya ke arah Ji Eun, “Oh ya, kau tidak memainkan gitarmu?”

“Kebetulan aku sedang tidak bawa gitar.” Ji Eun berpikir sejenak, “Kalau lain kali kau mengantar daging lagi ke toko rotiku, aku akan mempertunjukkannya padamu.”

“Ssssssttttt…..!!!” Taeyang langsung membekap mulut Ji Eun dengan tangan kirinya, sedangkan telunjuk kanannya ditempelkan ke bibirnya, “Jangan keras-keras! Bagaimana kalau nanti ada yang dengar?”

“Katamu tidak apa-apa kalau rahasiamu terbongkar?”

“Setidaknya jangan sekarang. Dan jangan didepan teman-temanku. Arasseo?”

Ji Eun mengangguk perlahan. Memang teman-teman Taeyang sedang berdiri tidak jauh dari situ. Mereka tampak sedang asyik mengobrol. Taeyang pun lalu melepaskan tangannya yang membekap mulut Ji Eun.

“Ingat perkataanku baik-baik.” Katanya tanpa bermaksud mengancam, “Dan terima kasih atas rotinya.” Ia pun kemudian berjalan meninggalkan Ji Eun.

“Waaah, kau benar-benar hebat! Kau bilang tidak mengenalnya, tapi bisa langsung ngobrol akrab begitu.” Jiyeon yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Ji Eun menyikut gadis itu pelan, “Aku yakin benar ada yang terjadi diantara kalian.”

“Tidak seperti itu, Jiyeon-ah…” Ji Eun mendorong punggung Jiyeon, “Sudah, cepat teruskan makanmu sana!”

***

Yonghwa menyesap espresso hangat dengan uap yang masih mengepul di atasnya, kemudian kembali fokus pada petikan jari diantara senar-senar gitarnya. Sesekali ia bernyanyi seiring nada yang dihasilkan dari alat musik akustik kesayangannya itu.

“Itu lagu ciptaanmu?” tiba-tiba Ji Eun menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Yah, bisa dibilang begitu. Aku yang selalu membuat lagu untuk band, walau terkadang dibantu temanku juga.”

“Wah, hebat! Band-mu sudah terbentuk berapa lama?”

“Hmm, sekitar tiga tahun. Tapi belum terkenal. Sekarang kami sedang berusaha untuk debut.”

Ji Eun mengangguk-angguk, lalu memperhatikan secarik kertas yang tergeletak di atas meja, “Aku ikut menemanimu latihan ya?” ia mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang tertera disana. Rupanya itu adalah sebuah lirik lagu.

I’m a Loner? Ini judulnya?” tanya Ji Eun lagi. Yonghwa menangguk.

Ji Eun membaca dengan seksama bait demi bait yang terdapat dalam lirik tersebut. Entah kenapa, lirik itu sangat mengena baginya. Ceritanya sangat mirip dengan perasaannya sekarang.

“Kau juga sedang patah hati?” tanya Ji Eun menebak-nebak. Biasanya, seseorang menulis lagu sesuai dengan perasaannya saat itu.

“Kenapa kau berpikiran begitu?” Yonghwa balik bertanya.

“Habis, lagu ini bercerita begitu. Dari nadanya, aku ingat kau suka menyanyikannya disini. Kau terlihat sangat menghayatinya.”

Yonghwa hanya tersenyum, lalu mengacak-acak puncak kepala Ji Eun, “Sudahlah, anak kecil sepertimu tidak akan mengerti.”

“Ya~! Kenapa kau selalu bersikap seolah-olah aku ini masih kecil?!” protes Ji Eun.

“Kau sendiri? Bukannya kau suka menyanyi? Tidak kepikiran untuk membuat lagu sesuai dengan perasaanmu?”

“Baru saja aku melakukannya kemarin.”

Yonghwa terkekeh. Gadis ini polos sekali.

“Ah, gara-gara kau berkata seperti itu, aku jadi ingin main gitar. Biar kuambil gitarku dulu ya. Sekalian menemanimu berlatih.” Ji Eun beranjak dari tempat duduknya, dan sekitar dua menit kemudian kembali dengan membawa gitarnya.

“Kau juga suka main gitar?” tanya Yonghwa. Ji Eun mengangguk. Ia pun kembali ke posisinya semula, duduk di sebelah Yonghwa dan mulai menyetel senar-senar gitarnya.

“Kita mau main lagu apa?” tanya Ji Eun.

“Apa tidak apa-apa? Ini kan sudah malam.Tokomu juga sudah sepi. Memangnya toko ini tutup jam berapa?” tanya Yonghwa ketika melihat keadaan toko yang agak sepi. Hanya ada beberapa pasangan yang sedang duduk-duduk sambil mengobrol disana. Cahaya lampu berwarna kuning yang tidak terlalu terang membuat suasana terasa romantis.

Ji Eun memandang jam dinding yang terletak tidak jauh dari situ, “Masih jam 7. Toko biasanya tutup jam 10.”

“Oooh…” Yonghwa memetik gitarnya, “Bagaimana kalau ‘More Than Words’?”

Ji Eun menjentikkan jarinya, “Ide bagus! Aku juga suka lagu itu.”

Yonghwa tersenyum, kemudian mulai memainkan gitarnya diiringi Ji Eun. Mereka pun bernyanyi bersama.

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It’s not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn’t have to say that you love me
Cause I’d already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you

More than words


Now that I’ve tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don’t ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn’t have to say that you love me
Cause I’d already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you

*Extreme – More Than Words

Setelah lagu selesai, Ji Eun pun bertepuk tangan. Penampilan mereka tadi tidak terlalu buruk, padahal baru kali ini mereka duet sambil memainkan gitar bersama. Para pengunjung toko yang sedari tadi memperhatikan penampilan mereka berdua ikut bertepuk tangan. Ji Eun tersenyum sambil melirik ke arah Yonghwa dan ikut bertepuk tangan sampai ada seseorang yang menepuk bahunya.

Ji Eun menoleh. Wooyoung tiba-tiba sudah berdiri disampingnya. Entah sejak kapan dia ada di toko roti itu. Apa dia juga ikut menonton ‘pertunjukan kecil’ Ji Eun dan Yonghwa? Entahlah.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” ujar Wooyoung.

Ji Eun menatap Wooyoung lurus-lurus. Dari sorot matanya, tampaknya laki-laki itu serius. Setelah sekian detik mereka saling bertatapan, Ji Eun lalu memalingkan wajahnya, “Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Ji Eun kemudian meletakkan gitar di pangkuannya ke atas booth berwarna coklat muda yang empuk disamping Yonghwa yang hanya diam melihat kejadian ini. Gadis itu lalu beranjak dari tempat duduknya.

“Kau mau minum apa? Biar aku yang buat.” tanyanya dingin seraya melangkah menuju barista.

Wooyoung mengikuti langkah Ji Eun, “Ji Eun, aku…”

“Kau tidak mau minum? Kalau begitu kau pasti mau makan roti. Mau pesan roti apa?” potong Ji Eun cepat. Ia tidak mengindahkan perkataan Wooyoung.

“Ji Eun…”

“Oh ya, aku sudah pernah bilang kan? Mulai sekarang kau harus membayar jika ingin makan roti.”

“Ji Eun-ah, dengarkan aku dulu!” Wooyoung menarik tangan Ji Eun agar langkah kaki gadis itu berhenti dan menoleh ke arahnya. Ji Eun hanya diam dan memalingkan wajahnya. Ia tidak berani menatap mata Wooyoung saat ini.

“Kenapa akhir-akhir ini sikapmu berubah? Kau jadi seperti menghindariku. Sebenarnya aku salah apa?!” ujar Wooyoung serius namun masih dalam batas volume suara yang wajar. Ia takut suaranya terdengar keluar sehingga mengganggu pengunjung disana.

Ji Eun menggigit bibir bawahnya. Akhirnya pembicaraan ini terjadi juga. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Namun ketika menghadapinya, jantungnya berdegup tidak karuan. Rasa marah, benci, kesal, dan sedih bercampur jadi satu.

Ji Eun menghela napas untuk mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak. Ingin rasanya ia menumpahkan semua perasaannya pada Wooyoung, menunjukkan betapa terkejut dan kecewanya dia pada sahabat yang disukainya itu, namun ia kemudian berpikir kalau itu semua hanya sia-sia, karena Wooyoung tidak akan kembali padanya.

Ji Eun lalu menatap Wooyoung lurus, “Kau sudah punya pacar, Wooyoung-ah. Itu salahmu.”

“Kenapa salah?”

Ji Eun tidak langsung menjawab. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Ia ragu untuk menjawabnya atau tidak. Ia pun lalu menghela napas. Sepertinya tidak ada gunanya hal itu disembunyikan lagi.

“Karena aku menyukaimu…”

Wooyoung tercekat. Apa yang dikatakan Ji Eun barusan? Apa dia tidak salah dengar? Gadis itu bilang menyukai dirinya?

Wooyoung hanya bisa melongo. Ia masih belum percaya dengan pernyataan Ji Eun. Selama ini ia sama sekali tidak menyangka gadis itu akan menyukainya. Kenapa ia bisa tidak menyadarinya?

Ji Eun kembali memalingkan wajahnya, “Aku mohon… mulai sekarang jangan mencariku lagi.”

“Tapi Ji Eun, kita kan teman.”

“Tapi kau sudah punya ‘dia’ Wooyoung-ah! Kau sudah punya orang lain. Membiarkanmu berada di dekatku membuat hatiku sakit!”

Ji Eun buru-buru membalikkan badannya sebelum laki-laki itu melihat air matanya meleleh membasahi pipinya. Gadis itu buru-buru menyeka pipinya yang basah karena air mata. Ji Eun akhirnya memutuskan untuk berjalan meninggalkan Wooyoung. Jika meneruskan pembicaraan ini, hanya akan membuat dadanya bertambah sesak dan hatinya hancur berkeping-keping.

“Pulanglah, ini sudah malam.”

“Tidak bisakah kita tetap berteman seperti dulu? Kau tidak perlu menjauhiku.” perkataan Wooyoung membuat langkah kaki Ji Eun terhenti.

“Aku juga berharap begitu, kalau aku tidak memiliki perasaan padamu.” jawab Ji Eun tanpa menoleh. Ia pun kembali meneruskan langkahnya.

Karena tidak ingin orangtuanya mendengar tangisannya, Ji Eun memutuskan untuk pergi ke belakang toko. Disana ia bisa menangis sepuasnya tanpa didengar siapapun. Tapi tidak, ia tidak ingin menangis! Ia tidak boleh menangis! Ia sudah bertekad tidak akan menangis.

Ji Eun menengadahkan kepalanya ke atas. Langit malam itu tampak mendung dan hanya sedikit bintang yang terlihat. Membuat suasana semakin terasa sendu. Samar-samar terlihat bulan sabit yang tertutup awan tipis. Ji Eun merasa bulan sabit itu seolah sedang tersenyum sedih ke arahnya. Tanpa terasa, air matanya kembali meleleh. Ji Eun pun menangis sesenggukan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara tangisannya tidak terdengar. Satu per satu bayangan masa lalu antara dirinya dan Wooyoung hadir di benaknya.

Kenapa persahabatannya dengan Wooyoung harus berakhir seperti ini? Kenapa laki-laki itu harus menyukai gadis lain? Andai saja ia tidak menyukai Wooyoung, semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Perlahan, Ji Eun mulai merasakan angin dingin berhembus dan udara malam itu terasa semakin menusuk tulang.

“Ji Eun?” tiba-tiba terdengar suara seseorang, “Kau Lee Ji Eun kan?”

Ji Eun menoleh. Ia sangat terkejut melihat siapa yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Gadis itu cepat-cepat menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Laki-laki yang mengenakan mantel dan topi berwarna hitam serta earphone putih yang menjadi ciri khasnya itu berjalan menghampiri Ji Eun.

“Oh Tuhan, kumohon, jangan kesini!” batin Ji Eun. Ia tidak ingin orang itu melihat wajahnya yang berantakan seperti ini. Rasanya ia ingin segera menutupi wajahnya dengan apapun dan pergi dari situ.

Ketika laki-laki itu berdiri dihadapan Ji Eun, ia nampak terkejut. Ji Eun berusaha memalingkan wajahnya agar matanya yang sembab tidak terlihat, namun laki-laki itu keburu menahan bahunya.

“Ji Eun, kau menangis?”

Ji Eun menepis pelan tangan laki-laki itu dari bahunya, “Aku tidak menangis, Taeyang.

Taeyang masih berusaha menatap wajah Ji Eun, “Tapi, matamu…”

Ji Eun menyeka sisa-sisa air matanya dan menghela napas, “Ada apa kau kesini malam-malam?”

“Tadi aku baru saja mampir ke toko CD, kebetulan lewat sini jadi aku mampir. Sepertinya enak juga minum kopi hangat dingin-dingin begini.”

“Kalau begitu masuklah. Akan kubuatkan.”

Ketika Ji Eun hendak melangkah, Taeyang menahan tangan gadis itu, “Tunggu. Kau tidak mau cerita tentang masalahmu?”

“Aku tidak apa-apa, Taeyang.”

Taeyang menatap wajah Ji Eun lekat-lekat. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu. Ia tahu dirinya hanya orang luar dan tidak memiliki kapasitas sebanyak itu untuk bertanya tentang masalah pribadi Ji Eun.

“Aku tahu kau sedang ada masalah. Dan kau butuh seseorang untuk menumpahkan semua perasaanmu.”

Ji Eun hanya tertunduk. Ia tidak ingin Taeyang melihat keadaannya yang rapuh seperti ini. Ia seperti gadis cengeng saja.

Tiba-tiba Taeyang menarik tangan Ji Eun dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.

“Menangislah sepuasmu. Kalau itu bisa membuatmu lebih baik.” katanya lembut.

Mendengar iitu, Ji Eun tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia pun kembali menangis dalam pelukan Taeyang. Semakin ia berusaha untuk menghentikannya, tangisnya malah semakin keras. Air matanya membasahi dada Taeyang yang bidang. Pelukan laki-laki itu membuat malam hari yang dingin terasa lebih hangat.

Sementara itu, tanpa disadari oleh mereka berdua, Wooyoung memperhatikan kejadian itu dari balik pintu belakang yang tidak tertutup rapat. Ia hanya bisa menyandarkan badannya ke dinding dan menghela napas. Tanpa sadar, ia mengepal tangannya kuat-kuat.

(to be continued)

_________________________________

Hai, semuanya! Aku balik lagi 😀

Makasih buat yang udah comment di chapter 1 kemarin, dan yang udah nungguin chapter 2 ini, aku hargain banget! >.<

Dan maaf kalo ff ini ‘biasa-biasa aja’. Maklum, aku bikin ini waktu masih awal-awal bikin ff, jadi ya… gini deh…

Jangan lupa RCL ya, sampai ketemu di chapter selanjutnya! 😀

26 thoughts on “Crescent Rhapsody [Chapter 2]

  1. Kurang dpet feel nya ni thor.
    😦
    bingung ama wooyoung nya. Mang ce’ nya wooyoung sapa thor.? Koq gx ada d sebutin ya thor. Scene woo nya jga dikit bnget. 😦 pengen nya sich woou nya d banyakin 😀 keke~
    d tunggu part selanjutnya thor.
    Fighting.!

  2. baguuuss.. masih bingung sih akhirnya IU nantiny sama sapa ? tapi itu yg bikin penasaran.. ak tunggu chapter 3’ny y thoor.. gomawoo

    • hmm… gimana ya? terserah kamu aja mau mengartikannya gimana, nanti juga akan terkuak, hahahaha *dikataceritamisteri?*
      oke, makasih ya udah baca 🙂

  3. Conversation nya hidup bgt,bikin aku senyum2 sendiri bacanya,apalagi yg pas IU,Tae sama Jiyeon lagi dikantin… 😉
    enak ya IU dikelilingin cowok2 keren,ahahaha sama so2k coolnya Tae kerasa bgt,penasaran,semoga akhirnya IU sama Tae aaa >,<
    tp penggambaran latarnya msh kurang jelas thor,jd agk ngeraba2 gitu buat ngebayangin pergantian latarnya…
    Keep writing ditunggu next2 chapnya 😉
    *komen yg sgt telat 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s