[FF Freelance] Dancing Around Fireflies (Oneshot)

Title : Dancing Around Fireflies ▋ Author : ivannuneo ▋Main Cast : Jr. and JB (JJ Project) ▋Cameos : Jay Park, Changmin (2AM), Taecyeon (2PM), Min (Miss A), Junho (2PM), Jo Kwon (2AM), Nichkhun (2PM), Baek Ayeon ▋Rating : General ▋Length : Oneshot – 4000+w ▋Genre : Friendship, Angst, Hurt/Comfort

Disclaimer : One Litre of Tears has inspired me of this. Big thanks to OnceUponATaem for the permission to develop the idea. The casts belong to God, the writing belongs to me. Also posted here and here.

* * * *

What is life? It is the flash of a firefly in the night. It is the breath of a buffalo in the wintertime. It is the little shadow which runs across the grass and loses itself in the sunset. (Crowfoot)

* * * *

Dia adalah satu-satunya murid yang begitu gemar mengulas senyum. Ia tersenyum ketika ia sedih, ia tertawa ketika seseorang memukul wajahnya, ia berbahagia ketika mentalnya dibanting secara keji ke permukaan tanah. Dia tidak cukup pelit untuk membagikan suka citanya pada semua orang semata-mata karena nuraninya ingin siapapun bahagia. Baginya, tak peduli apakah dia bodoh, tidak sempurna, tampan, jelek, populer, jenius, atau apapun itu, semua orang yang ia jumpai adalah wujud presensi seorang teman.

Berbeda dengan dia yang lain.

Dia adalah satu-satunya murid yang berteman baik dengan sikap apatis. Ia hanya diam ketika ia seharusnya bahagia, ia merengut ketika hatinya berbunga-bunga, ia bersungut-sungut ketika memenangkan suatu kompetisi. Nyaris seumur hidup ia gunakan untuk masa bodoh dengan segala hal, termasuk mengumpulkan banyak-banyak teman ke dalam kepingan hidupnya. Orang-orang pikir hatinya beku, seolah terus-menerus menelan derajat celcius setiap kali suhu tersebut berusaha naik.

Im Jaebum tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa pertemuannya dengan Park Jinyoung akan merubah banyak hal, bukan hanya dalam hidupnya, tapi juga kehidupan banyak orang. Park Jinyoung yang selalu dijauhi dan dianggap aneh atas segala senyum permanen di bibirnya itu, tanpa diduga-duga akan menjadi seorang pahlawan yang siap untuk dihargai secara besar-besaran.

***

Rasa-rasanya, Jaebum pertama kali berbicara dengan Jinyoung dalam peristiwa di ruang dance.

Mengetahui laki-laki itu adalah teman sekelasnya, cukup tak wajar mendapati fakta bahwa ia belum pernah sedetikpun berinteraksi dengan Jinyoung sebelum hari itu. Ia ingat di hari pertama mereka berstatus sebagai siswa di sekolah ini, Jinyoung adalah satu-satunya yang berdiri dan membungkukkan badan dalam-dalam secara santun ketika seorang guru memasuki ruangan. Seisi kelas menertawakannya, namun senyuman lebar itu tetap menggantung di bibir Jinyoung. Merasa tidak begitu peduli, hal itu adalah satu-satunya yang Jaebum ingat soal Jinyoung sampai satu tahun mereka mengusung ilmu di kelas yang sama.

Lantunan mash up dari sekumpulan lagu-lagu David Guetta bersumber stereo ponsel yang tak bersih menggema di sebuah ruangan berdinding kaca. Decitan-decitan terdengar ketika sepatu Jaebum bergesekan dengan lantai kayu secara gesit. Jaebum masih menggerakkan tubuhnya sesuai irama, sebelum akhirnya ia menginjak tali sepatunya sendiri dan jatuh tersungkur ke permukaan lantai.

“Aaaaargh!” ia menggeram kalut. Targetnya untuk menuntaskan lagu yang hanya berdurasi kurang lebih 10 menit itu tak kunjung terselesaikan. Terkadang ia salah gerakan, kehilangan tempo, dan kali ini jatuh atas tingkah bodohnya sendiri.

“Wow,” suara tak asing itu meredam lagu diskotik dari ponsel Jaebum untuk sepersekian detik. Ia memutar bola matanya ke arah pintu, lalu segera bangkit duduk mengetahui siapa yang tengah berdiri disana.

Park Jinyoung melangkah masuk sambil bertepuk tangan. “Tadi itu keren sekali,” katanya berbinar-binar. “Mengapa tak kau lanjutkan?”

“Kau tak melihat?” tanya Jaebum tanpa sedikitpun mengumbar nada sebal. “Aku terjatuh.”

“Sini,” Jinyoung mengulurkan tangannya ke arah Jaebum. Senyum itu tak henti-hentinya merekah, menyebabkan Jaebum harus berpikir apa yang membuat pria di hadapannya begitu bahagia. Jaebum mengabaikan uluran tangan Jinyoung, lalu bangkit dengan usahanya sendiri.

“Lakukan sekali lagi, dong?” pinta Jinyoung ketika Jaebum meraih ponselnya dan mematikan lagu yang terputar. Ia baru saja akan menoleh ke arah Jinyoung ketika tiba-tiba benda tersebut sudah berpindah tangan, lalu Jinyoung mendorong tubuhnya pelan sampai Jaebum berdiri di tengah ruangan.

“Kau mau aku menghitung sampai tiga atau tidak?”

Bodoh, mana mau aku melakukan. Jaebum sempat menggerutu dalam hati akan apa yang dilakukan pria berwajah sok imut ini, namun ketika tombol play itu ditekan, seperti telah diatur secara otomatis, tubuh Jaebum bergerak begitu saja seperti apa yang diperintahkan.

Jinyoung memerhatikan setiap gerakan yang dilakukan Jaebum dengan gembira. Disitulah untuk pertama kalinya, 10 menit lagu tersebut akhirnya tuntas dengan freeze memukau yang Jaebum lakukan sebagai penutup.

***

Sejak peristiwa itu, Tuhan memerintahkan  mereka untuk terus bertukar cakap dan menjadi teman dekat.

Jinyoung selalu mempunyai cara untuk melihat Jaebum ketika ia sedang melatih kemampuan dancenya. Kemudian ia muncul secara tiba-tiba, memuji Jaebum dengan sejuta kata, lalu merengek supaya Jaebum mau membagi ilmu kepadanya. Jaebum tak keberatan, maka ia turuti permintaan Jinyoung. Pertemuan di ruang dance menjadi hal rutin yang mereka lakukan, mungkin itulah yang membuat murid-murid di sekolah mulai beranggapan bahwa si penebar senyum Park Jinyoung, telah menemukan seseorang yang mau bersamanya.

Sejak lama sekali orang-orang sudah menganggapnya tak waras. Ia telah dicaci-maki, namun Jinyoung tersenyum. Ia dipukuli, namun Jinyoung tersenyum. Salah satu kabar buruk soal dirinya terpajang di majalah dinding, namun Jinyoung tersenyum. Ia dipandang aneh oleh seantero sekolah, namun Jinyoung tersenyum. Bahkan mungkin jika kini ia dijatuhkan dari atap gedung, Jinyoung akan mati dalam keadaan tersenyum.

Setelah beberapa lama, Jaebum mulai membuka kepingan karakter-karakter aneh dan tak wajar yang dimiliki seorang Jinyoung. Pertama, ia tahu bahwa Jinyoung adalah seseorang yang lamban, melakukan apapun yang ia mau, dan sedikit konyol. Kedua, ia tahu bahwa Jinyoung memiliki senyum permanen yang tak hentinya ia umbar dalam situasi segawat apapun. Ketiga, ia tahu bahwa Jinyoung adalah sosok dengan kepedulian tinggi. Dia adalah tipe orang yang tidak pernah membiarkan orang lain hidup dalam kesedihan, yang rela membagi-bagi kebahagiannya sendiri, yang senantiasa berusaha menanamkan senyum pada wajah orang lain.

Hyung!”

Dulu Jaebum tak menyukai itu. Ia selalu menentang Jinyoung yang mati-matian bersikeras ingin memanggilnya hyung sementara umur mereka hanya terjarak oleh beberapa bulan. Tapi saat ini, suara dengan nada yang tek pernah berubah—ceria, menyenangkan, dan menyimpan segudang aura positif—itu telah membuat telinganya sedikit bergeliut manja. Sebagai balasan, Jaebum memanggilnya—

“Hey, Junior.”

Dengan kantong plastik yang terlihat penuh di tangan kanannya, Jinyoung duduk bersila di tengah-tengah ruangan. Sambil tergesa ia membuka kantong plastik tersebut, mengeluarkan dua buah wadah styrofoam yang Jaebum sudah bisa memperkirakan apa isinya.

Bulgogi ini masih hangat. Ayo makan bersamaku.” ajak Jinyoung sambil membelah sumpitnya.

Jaebum tak beranjak—menunjukkan bahwa bau daging sapi yang menguar sedap itu tidak membuatnya memproduksi saliva berlebih. “Kita tidak latihan hari ini?”

“Ah ayolah, hyung. Aku sudah membelikannya untukmu.”

Jaebum memandangi aura ambisius yang berpendar dari tubuh Jinyoung. Ia tengah menaik-turunkan sumpitnya—mengisyaratkan Jaebum untuk mendekat, dengan pipi yang menggembung karena menyimpan suapan bulgogi. “Baiklah,” Jaebum menghela nafas pelan, lalu duduk di hadapan Jinyoung dan mulai menikmati makan siang itu bersama.

“Woah!” Jinyoung tiba-tiba berseru. “Ini lebih enak daripada yang terakhir kumakan,”

Alis Jaebum menyatu. Wajah Jinyoung terlihat begitu berseri-seri, padahal enak saja tidak terlalu di lidah Jaebum. “Hey Junior, apa yang membuatmu melakukan itu semua?”

“Melakukan apa?”

“Tersenyum sepanjang hari. Tertawa seperti kau tidak merasakan apapun selain bahagia.”

“Oh. Kakakku menyuruhku melakukannya. Dia bilang aku harus menjadi kunang-kunang, yang selalu bersinar disaat semuanya gelap,” Jinyoung sontak menghentikan kecapannya, membeku, lalu berpindah memandangi Jaebum. “Hey, kakakku sepertimu.”

“Hm?”

“Ia seorang streetdancer, ia pandai melakukan dance sepertimu. Tingginya sama sepertimu. Ia menyimpan banyak sekali lagu hip hop sepertimu. Namanya juga sama seperti namamu, Park Jaebum.”

“Oh ya?” Jaebum mengangkat kedua alisnya. “Kapan-kapan pertemukan aku dengannya.”

“Kau mau siang atau malam hari? Aku lebih menyarankan malam hari supaya suasana pemakamannya lebih mencekam,” canda Jinyoung, tapi tak sedikitpun menggairahkan kotak tertawa Jaebum yang memang tidak pernah berfungsi sejak lama.

“Oh, jadi…? Ah, sorry.”

“Untuk apa? Dia bukan mati karenamu, hyung.” kata Jinyoung seraya tersenyum simpul. “Dia mengalami kecelakaan pesawat ketika klub dancenya akan pergi ke New York.”

“New York? Sehebat itu?”

Jinyoung mengangguk-angguk. “Ah, mungkin itulah yang membuat aku benar-benar senang melihatmu melakukan dance. Kau benar-benar mengingatkan aku tentang dirinya, hyung. Dulu dia juga sering mengajariku seperti apa yang kau lakukan, tapi sejak ia meninggal, aku kehilangan minat.”

“Dia pasti penyabar sekali,”

“Hey, apa maksudmu?” Jinyoung menusukkan ujung sumpitnya ke lengan Jaebum. “Aku memang tidak pandai menari, tapi aku bisa menyanyi, asal kau tahu. Kau mau mendengar suaraku, hyung? Hm?”

Jaebum menurunkan sumpitnya ke styrofoam yang sudah kosong. “Baiklah. Coba nyanyikan sebuah lagu.”

Huh? Kau benar-benar memintaku melakukannya?” mata Jinyoung membulat.

“Jadi kau juga tak bisa?”

“Tidak! Maksudku, tunggu, beri aku waktu!”

Jaebum mengamati gerak-gerik Jinyoung yang menggelikan. Pria berwajah menggemaskan itu menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan tenang. Mulutnya mulai terbuka, wajah Jinyoung menunjukkan semburat kemerahan ketika suaranya menyanyikan lagu ballad yang cukup menenangkan. Matanya ia pejamkan rapat-rapat, diucapkannya lirik demi lirik dengan baik-baik, seolah-olah ia memang sedang menyuarakan isi hatinya. Sementara suara indah itu menyapa telinganya, Jaebum tak menyadari seulas senyum yang tiba-tiba sudah terbentuk begitu saja. Ketika Jinyoung selesai, Jaebum kehabisan kata-kata bahkan tidak sempat untuk sekedar bertepuk tangan.

“Kau tidak menyukainya?” tanya Jinyoung ketika Jaebum hanya diam.

“Hah? Tidak. Tapi aku sangat menyukainya,”

“Kalau begitu aku juga,” senyum Jinyoung melebar.  Matanya membentuk lengkungan tipis yang terkadang, tanpa disadari, membuat Jaebum seakan melihat pantulan dirinya disana. “Aku lebih suka menyanyi daripada dance seperti yang kau ajarkan, sebenarnya.”

“Bagaimana jika kau tak bisa bernyanyi lagi?”

“Mengapa aku tak bisa bernyanyi lagi?”

Jaebum menggedikkan bahunya. “Entahlah, mungkin sesuatu terjadi pada pita suaramu?”

“Kalau begitu kau yang bernyanyi untukku,”

“Aku tak bisa bernyanyi.”

“Aku akan melakukan lipsync.

Jaebum tertawa renyah—setelah sekian lama ia tidak pernah melakukannya. Bahkan Jaebum baru menyadari bahwa rasa menggelitik di dalam perutnya itu, rasa sudut-sudut bibirnya yang tertarik itu, memberikan sebenih kebahagiaan kecil yang merasuki pembuluh darahnya. “Kau harus bernyanyi untukku di audisi nanti ya, Jinyoung-ah?”

“Kau akan benar-benar mengikuti audisi itu, hyung?”

“H-hm,” Jaebum mengangguk-angguk sambil bangkit berdiri. Jinyoung menengadah mengikuti tubuhnya. “Siapa lagi yang mau menyemangatiku selain dirimu?”

Manik mata Jinyoung memerhatikan Jaebum yang bergerak ke arah sebuah audio player kecil di sudut ruangan. Sebelum Jaebum menekan salah satu tombol dan mulai mengaktifkan setiap sistem gerak pada tubuhnya, Jinyoung cepat-cepat bangkit berdiri.

Hyung!” ia menghampiri Jaebum. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat nanti malam.”

***

Jaebum merapatkan jaket yang dikenakannnya. Ketika ia menengadah, Jinyoung sudah jauh di atasnya, menaiki tangga-tangga batu itu penuh semangat. Jaebum tidak bisa sedikitpun menebak rencana apa yang dimiliki Jinyoung dengan mengajaknya menaiki bukit kecil di belakang gedung sekolah pada malam-malam hari begini.

“Cepat, hyung!” Jinyoung melambai-lambaikan tangannya dari atas, kemudian menghilang di balik pepohonan. Sepertinya ia sudah tiba di puncak bukit.

Jaebum mendengus. Masih dengan langkah-langkah malas di atas sneaker lusuhnya, ia berjalan mendaki tangga-tangga tersebut.

“Kau ini mau membawaku kem—”

Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Bukan karena Jinyoung yang tahu-tahu sudah berlari-larian menembus rerumputan setinggi lutut—dan ia tahu pasti Jinyoung tak akan mendengarnya. Demi Tuhan Jaebum bersumpah, bila sebuah pemandangan indah bisa merusak indera penglihat seseorang, kedua matanya kini pasti sudah buta tak berfungsi.

Cahaya-cahaya kecil itu berkeliaran menembus gelapnya malam, melayang-layang, mengitari tubuh Jinyoung yang tertawa-tawa sambil memainkan benda-benda kecil yang beterbangan itu. Rerumputan hijau tampak bergoyang-goyang halus ditiup angin. Tak jarang kunang-kunang bercahaya itu hinggap pada ujungnya, ikut bergerak-gerak ke kanan dan kiri dengan indah. Ketika Jinyoung merebahkan dirinya ke permukaan tanah, ratusan benda kecil bak bintang langsung menyembul keluar dan beterbangan pergi, menyebar seraya membentuk sinar-sinar berkelip yang elok di udara.

Mulut Jaebum menganga dalam takjub. Pantulan cahaya itu tampak jelas pada mata cokelatnya yang kini membentuk bulatan lebar. Dunianya seperti dibawa pergi oleh sebuah pemandangan epik, dimana Jaebum merasakan organ tubuhnya seolah berhenti bekerja begitu saja.

“Kemarilah, hyung,” suara Jinyoung sukses menarik jiwa Jaebum yang tengah melanglang buana untuk kembali ke tempat semula.

Jaebum melangkah mendekati Jinyoung. Ia sempat terkesiap ketika setiap injakan yang dibentuknya seolah menyemburkan kunang-kunang, lalu serangga yang diberkati Tuhan itu beterbangan mencari tempat peristirahatan yang lain.

“Bagaimana? Indah sekali, bukan?” tanya Jinyoung ketika Jaebum sudah duduk di sampingnya.

Stairway to heaven, hm?” katanya menerka, mengingat ia sempat menaiki puluhan tangga batu sebelum tiba di tempat ini.

Jinyoung tertawa kecil. “Jaebum-hyung—yang bukan dirimu—memperkenalkan aku pada tempat ini. Kapanpun ketika ia mendapatkan waktu luang di tengah kesibukannya, ia akan mengajakku kesini untuk sekedar bermain dengan kunang-kunang. Serangga ini adalah favorit kami,”

“Kakakmu pasti kecewa mengetahui bahwa orang yang kau bawa kesini adalah pria.”

“Apa?” kemudian Jinyoung tertawa terbahak-bahak. Jaebum cukup tercengir lebar mendengar gelak tawa tersebut. “Tapi hyung, jika aku berhasil membawa seorang wanita kesini, aku tidak mengerti bagian mana dari kunang-kunang yang cocok untuknya.”

“Maksudmu?”

“Hanya kunang-kunang jantan yang bisa terbang.”

“Begitu? Dia pasti tersinggung,” kata Jaebum sebelum terkekeh pelan bersama Jinyoung. “Jadi jangan menyesal jika kau membawaku kesini.”

“Oh,” Jinyoung teringat sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah kantong hitam dari saku celananya. “Coba perhatikan ini.”

Dengan gerakan perlahan, Jinyoung mulai menangkap kunang-kunang di sekitarnya satu-persatu, lalu dimasukkannya hewan tersebut ke dalam kantong yang ia bawa. Sisa-sisa cahaya yang dibatasi kain hitam menyala temaram dari dalam. Setelah ia rasa cukup, Jinyoung mengangkat kantong itu tepat di depan wajah Jaebum.

Jaebum memerhatikan kedua tangan Jinyoung. Ketika ia membuka mulut kantong tersebut, puluhan kunang-kunang langsung melesat keluar tepat di hadapan kedua pasang mata Jaebum, menyembur begitu saja seperti roket-roket kecil yang menakjubkan. Pendar-pendar kekuningan terbentuk samar di wajah Jaebum yang dihiasi oleh segaris senyuman, memerhatikan makhluk-makhluk kecil yang kini beterbangan menuju ujung langit berwarna hitam pekat.

“Kau mau mencoba?” tanya Jinyoung sambil menyodorkan kantong yang lain dari saku celananya.

Sembari tersenyum lebar, Jaebum dengan senang hati meraih kantong hitam itu, kemudian keduanya mulai bermain-main di tengah indahnya harmoni alam.

Jaebum memiliki memori pedih akan hidupnya. Ibunya meninggal ketika ia berumur sepuluh tahun, ayahnya nyaris tidak pernah menunjukkan batang hidungnya pada Jaebum, dan kedua orang tua itu tidak sempat memberinya saudara untuk membuat ia tidak kesepian. Jaebum tinggal bersama seorang paman yang rela menghidupinya meski hanya karena tuntutan seorang saudara belaka. Hingga detik ini, tidak ada yang pernah berhasil membuat Jaebum merasakan kehadiran seorang teman.

Mungkin kecuali Jinyoung.

Segala tingkah laku Jinyoung telah memberikan Jaebum pandangan baru akan hidupnya. Dia sekarang mengerti, tujuan hidup Jinyoung adalah sesederhana membantu orang yang membutuhkan. Saat Jaebum memperhatikannya tersenyum dan tertawa, ia menyadari seberapa sakit yang akan dirasakan Jinyoung jika ia berhenti membantu orang lain.

***

“Berhentilah mencari masalah dengan manusia-manusia bertubuh besar seperti mereka.” kata Jaebum sambil menempelkan kapas beralkohol pada memar di wajah Jinyoung. Ia tidak mengeluh, tidak sedikitpun meringis kesakitan.

“Aku tidak mencari masalah, hyung.” jawab Jinyoung sambil melihat pantulan dirinya dan Jaebum dari kaca. “Aku terlihat seperti pria sejati, tahu!” serunya girang.

“Bodoh.” Jaebum menekan kapasnya kasar, kali ini akhirnya membuat ekspresi Jinyoung berubah. “Pria sejati mana yang kalah berkelahi?”

“Itu karena badan mereka seperti raksasa. Dan luka yang ini,” ia menunjukkan memar besar pada sudut matanya. “Itu Taecyeon yang menghasilkannya.”

“Lagipula, mengapa kau mengajak bicara anggota klub rugby, hm?”

“Dengar-dengar ketua yang bernama Changmin itu baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Ia tampak sangat kacau, jadi aku hanya ingin menghibur dengan menceritakan soal keluargaku sendiri. Kau tahu, pengalaman yang sama bisa membuatmu lebih mengerti seseorang. Tapi entahlah, mereka malah memukuliku,”

“Karena kau terlihat bodoh. Berhentilah mencampuri urusan orang, Junior. Kau harus memberitahu kepala sekolah kalau kau dipukuli.”

Jinyoung berkacak pinggang. “Berhentilah mencampuri urusan orang, hyung. Aku mengganggu mereka, maka itu aku dipukuli. Untuk apa memberitahukan pada kepala sekolah? Masih ada hal berguna lain yang bisa dilakukan daripada membuat seseorang dimarahi oleh orang lain.”

Yah!” Jaebum melempar kapas itu ke wajahnya. “Kau ini dipukuli. Bukan oleh satu orang saja, tapi sepuluh orang sekaligus! Mereka seharusnya dilaporkan. Haish, sudahlah, biar aku yang memberitahukannya.” Jaebum segera bangkit berdiri. Belum Jinyoung berhasil meraih tangannya, suara dari speaker di luar ruangan menginterupsi langkah Jaebum terlebih dahulu.

Panggilan kepada murid kelas dua bernama Park Jinyoung, dimohon kehadirannya di ruang kepala sekolah segera. Sekali lagi, panggilan kepada murid kelas dua bernama Park Jinyoung, dimohon kehadirannya di ruang kepala sekolah segera. Terima kasih.”

Jaebum menoleh ke arah Jinyoung yang sudah memasang senyum jahil entah dasar apa. “Ups. Sepertinya seseorang mendahuluimu, hyung.” Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

Jaebum sangat tahu bahwa itu pasti laporan salah satu anggota rugby yang mendahuluinya. Mungkin mereka semua telah memutar balikkan fakta, mengarang cerita baru yang cukup untuk membuat Jinyoung menjadi pihak yang bersalah.

“Jelaskan yang sebenarnya terjadi, Jinyoung-ah.”

Jinyoung menoleh. “Tidak perlu, nanti mereka tidak senang. Doakan supaya telingaku tidak panas mendengar omelan kepala sekolah, ya, hyung.”

Ck, bodoh. Jaebum tahu akan konsep pikir Jinyoung yang benar-benar salah, tapi ia hanya diam.

***

Besok adalah hari audisi untuk Jaebum. Ketika Jinyoung datang ke sekolah, berbagai pandangan tak mengenakkan tertuju ke arahnya—meski tetap saja, ia masih berusaha tersenyum. Salah seorang teman sekelasnya baru mengabarkan hal itu ketika ia menginjakkan kaki di kelas. Jantung Jinyoung serasa meledak, lalu ia segera mengambil langkah banyak-banyak ke salah satu sudut di gedung sekolah.

Nafasnya berderu tak karuan ketika ia tiba di ruang dance. Ia bisa merasakan dadanya yang menyesak ketika didapatinya Im Jaebum bersandar pada salah satu dinding kaca, menengadahkan kepalanya dengan pandangan menerawang, sementara tangan kanannya telah dibalut oleh gips putih.

H-hyung,” dengan langkah gontai ia berjalan mendekat. Jaebum tampak terkejut dengan kehadirannya, namun melihat senyum yang menghilang dari wajah Jinyoung seperti itu sukses menggantikan keterkejutannya dengan sakit yang amat sangat.

“Junior, astaga, maafkan aku. Aku tak sengaja terjatuh dari tangga rumahku dan menimpa tanganku sendiri. Aku melukainya hingga seperti ini. Maafkan aku, Jinyoung-ah.” kata Jaebum parau.

Hanya satu hal yang terbesit dalam pikiran Jinyoung sementara matanya berusaha keras membentuk dinding pertahanan.

Besok adalah hari audisi Jaebum.

Besok adalah hari audisi Jaebum.

Besok seharusnya adalah hari dimana Jinyoung akan bernyanyi untuk Jaebum karena ia adalah satu-satunya penyemangat yang dimilikinya. Besok seharusnya adalah hari dimana Jaebum akan menantang mimpinya sendiri, meraih angannya, berjalan menuju tempat yang ia ingini. Mimpi itu sudah berada di pelupuk matanya, namun kandas begitu saja.

Jinyoung tidak mengerti mengapa ia ingin menangis. Jinyoung tidak mengerti apa yang membuat hatinya begitu tersayat seperti ini. Mungkin karena ia gagal. Mungkin karena bantuan yang ia kerahkan selama ini, tidak berhasil membuat mimpi Jaebum menjadi nyata. Maaf, maaf, maaf, berjuta-juta kata itu tertumbuk pada tenggorokannya, tercekat tak bisa keluar.

Hyung,” satu air mata Jinyoung jatuh. Ia segera membalikkan tubuhnya membelakangi Jaebum, tidak ingin membuatnya melihat sesal itu menyeruak keluar.

Batin Jaebum semakin tercengang. Ia tidak percaya saat seperti ini akan datang. Ia tidak pernah berpikir bahwa senyum itu bisa meninggalkan wajah Jinyoung dengan enggan. Tidak sekalipun ia berharap air mata Jinyoung untuk tumpah.

“J-Junior,”

Hyung…….” Jinyoung mulai menangis keras selagi kedua tangannya berusaha menghapus jejak itu berulang-ulang. Ia merundukkan bahunya dalam-dalam, hingga akhirnya kakinya tak sanggup menopang lagi sampai ia jatuh terduduk. “Hyung…….”

“Jinyoung-ah,” perih di dalam hatinya tak sanggup membuat Jaebum menahan air mata. Bulir-bulir itu turun begitu saja begitu melihat bahu Jinyoung yang berguncang hebat—untuk pertama kalinya. “Jangan menangis, Jinyoung-ah,”

Jinyoung masih terisak bukan main ketika dengan sepenuh tenaganya ia berucap, “Maafkan aku, hyung…..”

***

Keesokan harinya, Jaebum balik dikejutkan oleh kehadiran Jinyoung yang juga telah mengenakan gips pada tangan kanannya. Seisi kelas memusatkan perhatian pada mereka berdua, mulai berbisik-bisik soal keanehan yang terjadi disana.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jaebum ketika Jinyoung sudah duduk di bangku depannya. “Kau benar-benar melukainya?”

Jinyoung menggeleng-geleng menunjukkan suatu kebanggaan. “Tidak. Aku sengaja memakainya,”

“Bodoh, untuk apa?”

“Supaya kau tidak sendiri, hyung.”

Kemudian Jaebum terdiam. Awalnya ia menganggap Jinyoung terlampau bodoh untuk memposisikan dirinya dalam sebuah masalah seperti ini, namun sedetik kemudian ia menyadari bahwa apa yang dilakukan Jinyoung telah berhasil memberikan hati Jaebum sebuah kehangatan. Jinyoung melakukan ini untuknya, semata-mata agar Jaebum tidak merasa sendiri.

Desas-desis penghuni kelas masih menyelubungi telinga mereka berdua hingga akhirnya guru sejarah memasuki kelas tersebut. Wanita paruh baya itu segera menagih tugas yang ia berikan satu minggu sebelumnya. Jaebum merasakan tubuhnya disambar petir kecil begitu ia mengingat bahwa tak sedikitpun tugasnya tersentuh.

Hyung, apa kau sudah mengerjakannya?”

Jika Jinyoung telah bertanya demikian, kemungkinannya hanya satu : ia juga belum mengerjakannya.

Sang guru berkeliling kelas untuk mengumpulkan tugas, kemudian terhenti cukup lama ketika ia tiba di bangku Jinyoung. Mendapati Jinyoung yang hanya bergeming, ia membetulkan posisi kacamata yang bertengger di atas tulang hidungnya. “Dimana tugasmu, Park Jinyoung-ssi?”

“Aku—tangan kananku patah, seonsaengnim. Jadi aku tak bisa menulisnya.”

Di belakangnya, Jaebum tertegun. Selama ia berteman dekat dengan Jinyoung untuk satu tahun ini, Jinyoung tidak pernah sekalipun berbohong.

Yang dipanggil seonsaengnim hanya memberengut sejenak, lalu segera melewati bangku Jinyoung begitu saja. Matanya tampak melebar ketika ia mendapati Jaebum juga tengah mengenakan gips yang sama. Sebagai salah satu guru berinsting terbaik di sekolah tersebut, ia langsung saja menghentakkan tangannya ke meja Jaebum. Bahu Jinyoung maupun Jaebum sempat terangkat karena terkejut.

“Jadi di antara kalian berdua, siapa yang hanya mengenakan gips itu untuk bermain-main?”

Jaebum baru saja ingin menjawab dengan alasan yang sudah ia persiapkan, namun Jinyoung lagi-lagi menginterupsinya. Ia berdiri, mengangkat tangan kanannya yang baik-baik saja untuk diperlihatkan pada wanita itu. “Aku mengaku salah, seonsaengnim.

Ketika Jaebum ingin membelanya, Jinyoung hanya bisa mengucapkan “Bukan masalah, hyung,” lewat gerakan bibir. Ia kemudian dihukum berlari memutari lapangan sebanyak 15 kali.

***

Setelah gips Jaebum, Jinyoung menghabiskan satu tahun terakhirnya di sekolah itu untuk membantu murid-murid lain dengan cara yang tak terduga.

Ketika seorang anggota pemandu sorak bernama Min mengalami kecelakaan sampai harus menggunakan kursi roda hingga akhir hidupnya, Jinyoung menjadi salah seorang yang menyerahkan bantuannya secara sukarela. Jaebum selalu berjalan di belakang mereka, membawakan kursi roda itu sementara Jinyoung menggendong Min dengan punggungnya menaiki ratusan anak tangga hingga mereka meraih pintu kelas Min di lantai tiga. Jinyoung tidak pernah sekalipun mengeluh meski nafasnya selalu memburu dengan serakah setelah itu.

Ketika seorang kapten tim baseball, Junho, mematahkan salah satu tulang kakinya hingga ia harus berjalan dengan tongkat, Jinyoung menemaninya dengan berjalan satu kaki sepanjang sekolah sampai cidera Junho benar-benar sembuh secara total. Junho sempat menganggapnya aneh, namun lama kelamaan ia mulai menghargai apa yang dilakukan Jinyoung dan berterima kasih padanya.

Ketika seorang murid bernama Jo Kwon dikabarkan gay, Jinyoung membantunya dengan mencium pipi Jo Kwon secara terang-terangan, menunjukkan pada warga sekolah bahwa tidak ada yang salah dengan menyukai sesama jenis. Butuh waktu lama bagi Jo Kwon untuk berhenti menjauhi Jinyoung dan mulai berterima kasih banyak-banyak atas apa yang pernah ia lakukan.

Ketika seorang kingka, Nichkhun, didapati sedang mengejang sakaw di belakang gedung sekolah, Jinyoung adalah satu-satunya yang mau membawa Nichkhun ke rumah sakit sementara yang lain hanya bisa memandanginya jijik. Ia butuh kerja keras untuk menarik tubuh tinggi tersebut seorang diri, karena pada saat itu Jaebum sedang sibuk mencari kendaraan yang mau membawanya pergi.

Pada setiap bantuan yang dilakukannya, Jinyoung selalu terperosok pada kubang masalah. Tidak ada yang bisa melindunginya dari masalah-masalah tersebut, bahkan Jaebum sekalipun. Pihak sekolah berkali-kali memanggil orang tuanya, tapi apa yang bisa Jinyoung lakukan? Orang tua beserta kakaknya sudah lama meninggal.

Pada akhirnya, semua itu terbayar ketika seluruh warga sekolah mulai menghargai keberadaan Jinyoung. Sosok Jinyoung telah menjadi inspirasi besar bagi siapapun yang pernah dibantunya. Orang-orang kini mengenalnya dengan, ah, itu Park Jinyoung yang suka menolong orang lain, bukan dengan menganggapnya aneh dan berusaha menjauhinya seperti sedia kala.

***

Jaebum berlari dengan tergesa menyusuri sebuah lorong panjang. Peluh bersuhu rendah menuruni pelipisnya, mengiringi rasa gelisah yang membuat jantungnya berdebar-debar bukan main setiap ia melangkah.

“Jaebum-ah, bagaimana keadaannya?”

“Apa? Keadaan siapa?”

“Kau tidak mengetahuinya? Bus yang ditumpangi Jinyoung mengalami kecelakaan semalam.”

Percakapannya dengan seorang teman kelas—Baek Ayeon—terus menerus terngiang di telinga Jaebum. Mungkin itu sebabnya ia sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang sepanjang malam.

Kaki Jaebum berhenti bergerak ketika ia tiba di depan ruang ICU. Irisnya menangkap sosok itu. Dari sebuah jendela besar yang mengarah ke dalam, Jaebum melihat Jinyoung terbaring diam di antara banyak sekali alat yang mengerumuni tubuh kecilnya. Minat untuk membuka pintu dan berjalan masuk mengajak Jinyoung berbicara seketika hilang dari benak Jaebum. Ia mengambil langkah berbalik, mulai meninggalkan Jinyoung yang terpejam tak berdaya, sementara air matanya mulai luruh membasahi permukaan lantai rumah sakit yang dingin.

“Baik-baiklah, Jinyoung-ah.”

Banyak sekali murid yang berdatangan setelah Jaebum. Min, Junho, Jo Kwon, Nichkhun, dan semua orang yang pernah menerima bantuan dari Jinyoung silih ganti membesuknya di rumah sakit, memberinya kekuatan supaya mereka bisa kembali melihat senyum bahagia itu di bibirnya.

Sepertinya hal inilah yang membuat keadaan Jinyoung cepat pulih. Di hari kelulusan, Jinyoung sudah bisa menghadiri sekolah seperti biasanya walau dalam keadaan tak bisa berbicara. Untuk beberapa alasan yang tidak bisa dimengerti oleh Jaebum, kecelakaan tersebut merenggut pita suaranya dengan kejam. Dokter mengatakan, mulai saat ini Park Jinyoung akan menjadi seorang tuna wicara secara total.

Tak ada yang bisa mematahkan semangat Jinyoung, maka ia tetap tersenyum. Hatinya merasakan ketenangan luar biasa ketika sepanjang hari itu satu sekolahnya menjadi sangat hening, tanpa satupun mau berbicara, semata-mata karena mereka tidak ingin membiarkan Jinyoung memikul ketidaksanggupan itu sendirian—seperti apa yang dulu ia lakukan.

Upacara kelulusan diselenggarakan di aula sekolah yang cukup besar. Jinyoung sangat merasakan gerak-gerik asing Jaebum yang membuatnya berpikir bahwa kawan yang satu itu pasti memiliki sebuah rencana untuknya. Jaebum duduk di deretan paling depan, menjadi satu-satunya yang memandangi Jinyoung lekat-lekat ketika ia naik ke atas panggung dan menerima diploma kelulusannya.

Belum ia turun dari sana, seluruh lampu tiba-tiba padam, dan Jinyoung hanya bisa membeku dalam kegelapan. Ia merasakan kejanggalan itu semakin kentara saat tak ada satupun yang bergerak untuk mengatasi kesalahan teknis tersebut.

Namun ketika bola mata Jinyoung menangkap sebuah cahaya kekuningan, pemikiran awalnya terbuang sudah. Dari tempat duduk yang ia yakini adalah tempat Jaebum, puluhan benda-benda kecil yang menyala terang tampak menyembur keluar dan menyebar di udara. Tak lama kemudian, benda yang sama muncul dari sudut lain aula, kemudian sudut yang lain lagi, sudut yang lain lagi, hingga mata Jinyoung membelalak lebar mendapati ribuan kunang-kunang mengisi kegelapan disana.

Batin Jinyoung berguncang keras. Ada bahagia yang begitu menyeruak hebat dari dasar hatinya, bahagia yang paling bahagia dari sekian bahagia yang pernah ia rasakan. Lebih bahagia daripada ketika ia melukiskan senyumnya, lebih bahagia daripada ketika ia tertawa bersama Jaebum, lebih bahagia daripada ketika ia berhasil membantu orang lain.

Air mata Jinyoung seketika tumpah, sedangkan di sisi lain senyum suka citanya merekah. Tak lama kemudian terdengar nyanyian di dalam aula tersebut, serempak, menggema, indah. Lagu yang pernah Jinyoung nyanyikan di hadapan Jaebum, lagu yang seharusnya Jaebum dengar ketika ia akan mengikuti audisi.

Akhirnya, untuk sekali seumur hidup, Jinyoung merasakan bahwa kehadirannya telah dihargai. Semua melakukan ini untuknya, hanya pada dirinya. Jinyoung mati-matian bersyukur karena telah menciptakan teman-teman yang begitu hebat. Laki-laki itu kini telah didekalarasikan sebagai seorang pahlawan, yang segala tindakannya telah menyentuh hati banyak orang.

Kunang-kunang itu masih beterbangan dengan gemerlap menakjubkan ketika lagu selesai dinyanyikan. Jinyoung mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara, menepukkannya keras-keras dalam wujud terima kasih yang tak bisa terdefinisikan dengan kata-kata sementara air matanya terus terproduksi tanpa bisa dikontrol lagi. Semuanya seketika diam ketika mereka melihat mulut Jinyoung bergerak. Tak ada satupun suara yang keluar dari sana, tapi mereka tahu.

“Aku sangat bahagia,”

Jaebum tersenyum dari tempatnya. Meski dari sekitarnya ia bisa mendengar isakan haru dari Min, Junho, Jo Kwon, Nichkhun, Changmin, bahkan Taecyeon yang pernah memukuli Jinyoung, Jaebum tetap mempertahankan lengkungan tipis itu.

Ini untukmu, Junior. Terima kasih banyak. Terima kasih telah memberikan kami pandangan yang berbeda akan hidup. Terima kasih telah memberikan senyum di wajahmu itu kepada kami. Terima kasih telah rela membagi kebahagiaanmu sendiri. Terima kasih atas segalanya. Tetaplah menjadi kunang-kunang yang hanya bersinar ketika keadaan gelap, Park Jinyoung.

fin.

Huah! akhirnya selesai dengan oneshot yang kayaknya kepanjangan ini -_- Diperkirakan ini ntar bakalan tipis komen selain karena kepanjangan tapi juga gegara castnya yang not-so-popular. Tapi buat siapapun yang baca sampe tuntas, saya mengharap RCL-nya ya!

56 thoughts on “[FF Freelance] Dancing Around Fireflies (Oneshot)

  1. woahh…. baru nemu fanfic yg main castnya jj project, tapi sungguh thor! feelnya ngena bgt! jadi terharu dengernya T_T oh ya thor! trus bikin fanfic yg main castnya jj ya…#ngarep.com soalnya dikit sih ff yg main castnya mereka

    lanjutkan trus karya2mu ya! fighting! =))

  2. sedih banget akhirnya..
    pengen nangis sama min,nichkhun dan jo kwon
    menginspirasi sekali
    pengen banget jadi orang kayak park jinyoung
    pengen bisa jadi orang yang bisa menyembuhkan luka orang lain..

    keren!!!!!!!

  3. gak bohong aku nangis………….. ada ya orang sebaik jinyoung;;;;;;—-; inspirasional sekali huhuhu goodjob ivanaaa :)b

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s