I Can’t Let You Go Part. 1

Image

Tittle : I Can’t Let You Go

Author : Firuki Chun

Casts:

Byung Hee a.k.a G.O

Ahn Sohee

Lee Jungshin

Ka Eun

Ganre : Romance

Ratting : PG 15

*****

Sohee berjalan tertatih-tatih di trotoar jalan. Kemarin sore setelah pulang dari minimarket gadis itu terjatuh dari sepedanya. Dia bolak-balik melirik jam di pergelangan tangannya dan mendesah. Ya Tuhan, ini hari pertamanya masuk kerja. “Kenapa aku sial sekali?” Sohee membuka tas selempangnya dan mengambil ponselnya lantas memutuskan untuk menelefon Jungshin, pacarnya. Mungkin saja lelaki itu mau menjemputnya atau setidaknya memberi semangat pagi di keadaan menyedihkannya.

“Tidak diangkat,” Sohee kembali memasukkan ponselnya dan duduk di bangku halte. Tidak ada yang patah ataupun cacat di kakinya, hanya saja jatuh dari sepeda ke parit membuat kakinya terkilir dan susah untuk digerakkan.

Beberapa menit kemudian bus muncul dan kembali dengan langkah tertatih gadis itu berusaha bangkit dan melangkah pelan. Namun langkahnya terhenti tiba-tiba ketika ia melihat sosok lelaki dengan pakaian casual muncul dari balik kemudinya. Lelaki itu melambaikan tangan ke Sohee dan tersenyum.

Sohee mengembungkan pipinya kesal dan berkacak pinggang. Bisa-bisanya dia muncul dengan wajah tak bersalah.

Jungshin berjalan menghampiri Sohee dan mencium pipi kekasihnya. “Selamat pagi sayang,” Sohee mengacuhkan lelaki itu dan mengalihkan tatapannya pada bus yang masih berhenti di didepannya. “Kau tidak mengangkat telfonku!” Jungshin tersenyum dan mendorong bahu Sohee untuk berjalan memasuki mobilnya. “Maaf cantik, aku tidak membawa ponselku. Aku buru-buru.”

Sohee kembali menggembungkan pipinya dan memasuki mobil Jungshin dalam diam. “Senyum dong, hari ini hari pertama bekerja kan?” Jungshin memasangkan seatbelt pada gadis itu dan mencium pipinya kilat. “Kita akan berangkat ke kantor tuan putri…”

“Masuklah! Aku pergi dulu, nanti kalau pulang telfon. Oke?” Sohee mengangguk singkat  dan keluar dari dalam mobil Jungshin. Ia meringis pelan ketika tiba-tiba saja kakinya kembali nyeri. Banyak orang berlalu lalang di gedung ini. Dan dengan paksaan akhirnya gadis itu bisa berjalan memasuki kantor dengan wajar, tidak pincang.

Jungshin memandang punggung kekasihnya dan tersenyum. Sohee sepertinya masih marah. Tapi itulah daya tarik yang dimiliki gadis itu.

Suasana baru lingkungan baru pula, hal itu menjadi suatu hal yang kompleks yang harus di jalani gadis yang tengah berdiri di aula gedung pencakar langit itu. Rasanya seperti mimpi, diterima di perusahaan kosmetik besar seperti ini. Sohee menarik nafas dan melangkah semangat memasuki tempat kerja barunya.

Sepanjang perjalanan gadis itu tak henti-hentinya melongo melihat orang yang berlalu lalang. Semuanya modis dan berkelas dan hampir semua dari mereka menggunakan make up di wajahnya. Sohee berbelok menuju toilet dan membersihkan wajahnya sebentar lantas memolesi sedikit bibirnya dengan lipstick beraroma peach. Ia tidak boleh kalah cantik, ataupun kalah modis. Gadis itu berpose sebentar di kaca dan tersenyum.

“Kerjamu sebagai sekretaris adalah untuk membantu direktur, mendikte semua pekerjaan dan kegiatannya. Juga mencatat setiap detik hal yang sudah kau lakukan. Tentunya dengan yang ada hubungannya dengan pekerjaan. Jangan meletakkan berkas-berkas sembarangan dan disiplinlah. Karena kami sudah lelah mencari sekretaris.” Sohee mengekor mengikuti langkah lelaki paruh baya berambut setengah putih itu. Gadis itu hanya diam dan mengangguk-angguk.

Lelaki itu berhenti pada ruangan berpintu besar dan menoleh pada gadis di belakangnya. “Ruangan kerjamu ada disini. Didalam sini ada pintu lagi dan itu ruanganmu.” Sohee menatap pintu besar itu dan tersenyum. “Saya mengerti.” Lelaki itu mengangguk singkat “Direktur orang yang sedikit susah untuk.. lupakan. Kau akan tahu sendiri nanti.”

Sohee mengernyitkan alisnya bingung. Apa maksud dari perkataan lelaki itu? Apa maksudnya sedikit susah? “Jangan bilang kalau direktur itu hidung belang.”

Sohee mendorong pintu besar itu dan ternganga menyaksikan pemandangan memukau. Ruangan luas itu diisi oleh 8 meja kerja dengan dengan fasilitas yang mewah. Catnya berwarna biru mutiara dengan kombinasi putih bersih.

“Hei!” Seorang lelaki yang berdasi kupu-kupu menyapanya di ambang pintu. Lelaki itu membawa setumpuk kertas dan tersenyum. “Mencari seseorang?” Sohee tersenyum di hadapan lelaki itu dan menggeleng. “Aku sekretaris baru disini.” Lelaki itu tampak mengamati Sohee dari atas sampai bawah dan detik berikutnya tawanya membahana. “Sekretaris baru? Sekretaris direktur selalu baru. Masuklah, ruanganmu ada di dalam pintu itu.” Lelaki berdasi kupu-kupu itu menunjuk sebuah pintu tepat didepannya. “Selamat bekerja,” ucapnya sebelum berjalan keluar.

Sohee perlahan membuka gagang pintu ruang kerjanya dan gadis itu kembali tercengang. Ruangan ini memang lebih kecil dari ruangan utama tadi. Tapi ini benar-benar nyaman. Ada sofa tunggu dan fasilitas nyaman. Terlebih lagi, ruangan ini hanya ditempatinya sendiri.

Sohee meletakkan tasnya dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Ia menguap dan merentangkan tangannya. “Ah… nyaman sekali.” Tiba-tiba pintu ruangan di sebelah kirinya terbuka dan muncul sosok lelaki dengan dandanan yang… “Ya ampun..” Sohee menutup mulutnya sendiri. Ia menatap sosok lelaki didepannya tak percaya. Lelaki dengan setelan celana dan jas cokelat itu tampak benar-benar seperti reinkarnasi masa lalu. Dandanannya super kuno, semua yang melekat di tubuhnya terlihat membosankan dan tak menarik. Taka da kombinasi warna yang menarik sama sekali. Rambutnya juga di biarkan klemis, apalagi kacamata cokelat bundar besarnya. Ia benar-benar seperti pemain film tahun 70an.

“Siapa?” Sohee mengernyitkan alisnya tidak mengerti ucapan lelaki itu. Apa dia direktur disini? Tidak mungkin kan? “Dasar bodoh!” Sohee tertegun, matanya melebar dan menatap sosok di depannya tak terima. “Apa?? Apa kau bilang? Bodoh? Siapa yang bodoh?” Lelaki itu menatap Sohee dengan tatapan dingin dan berlalu pergi. “Astaga! Bisa-bisanya lelaki itu, apa haknya mengatakan aku bodoh? Ibuku saja tidak pernah mengatakan tentang hal itu.”

Sohee merasa tak berguna di tempat itu. Daritadi direktur tidak ada di ruangannya. Jadi bagaimana bisa dia memperkenalkan diri? Gadis itu memijit kakinya yang terkilir dan duduk di meja kerja. Tangannya membuka lembar demi lembar kertas yang ada di laci meja tapi tidak menemukan suatu yang penting. Hanya berkas-berkas atau draft yang tidak berguna.

Beberapa saat kemudian sosok lelaki kuno yang tadi muncul. Dia melirik Sohee sekilas dan berjalan masuk. Tapi dia berhenti tepat di ambang pintu dan berkata dengan suara berat. “Masuk keruanganku.”

“Ruanganku? Ruanganku?!!” Sohee membuka mulutnya tak percaya. Jadi, direkturnya adalah lelaki itu? Lelaki dengan tampang dan dandanan semacam itu. “Tak bisa dipercaya.” Sohee menarik buku agenda dan bulpoinnya lantas berjalan dengan langkah terseret-seret masuk ruangan. “Kaki sialan!” Umpatnya.

TBC

Butuh komen, saran dan kritik ya semuanya… makasih… *_^

4 thoughts on “I Can’t Let You Go Part. 1

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s