Threesome (Part 1)

A Story by Pseudonymous

Title: Threesome || Main cast: 2PM’s Nichkhun, SNSD’s Tiffany & Super Junior’s Siwon || Genre: Romance, Life, Friendship & Shounen-Ai || Length: Chapter || Rating: PG-15 || Disclaimer: My plot for sure. || Credit poster: Kihyukha || Previous part: Teaser

***

Nichkhun memandangi lokernya dengan raut horor. Tidak ada yang menakutkan dari lokernya, kecuali beberapa surat dengan amplop merah muda terselip di sana. Tapi justru itulah yang membuatnya menggigil ketakutan—surat-surat cinta yang terus berdatangan. Nichkhun bisa merasakan orang-orang di belakangnya menatap dirinya dengan berbagai macam asumsi. Sementara para wanita terkagum-kagum, para pria merasa terancam. Beberapa dari kaum pria bahkan menatapnya sinis, sarat dengan rasa cemburu dan iri.

“Halo, Tampan!”

Tiffany tiba-tiba muncul seperti jin dengan seringai di wajahnya. Gadis itu mengenakan kemeja flannel dan jeans, tampil casual dengan rambut yang dibiarkan tergerai melewati bahu. Plus, seringai dan eye-smiling Tiffany yang khas membuat gadis itu tampak attractive. Walau seringai itu membuat Tiffany terlihat manis, Nichkhun tetap berpendapat bahwa orang-orang akan berasumsi bahwa sahabatnya itu sudah tidak waras karena terlalu banyak menyeringai.

“Wah! Wah!” Tiffany berdecak kearah selipan surat cinta yang ada di loker Nichkhun. “Penggemarmu semakin banyak saja.”

Nichkhun hanya memutar bola mata dengan kesal, lalu mulai menarik satu per satu surat cinta itu dari lokernya.

“Biar kubantu.” Tiffany beranjak maju dan ikut menarik surat-surat itu seraya membaca sekilas nama pengirimnya. Beberapa di antaranya adalah teman-teman yang ia kenal cukup baik, sementara sisanya adalah junior-junior di kampusnya. Junior-junior ini centil sekali, pikirnya.

“Aku tidak habis pikir,” kata Nichkhun. “Mengapa gadis-gadis ini tidak lelah juga mengirimiku surat setiap hari. Dan semakin hari, jumlahnya semakin banyak pula.”

Tiffany terkikik geli. “Wajar saja, Khun. Satu setengah bulan lagi Valentine akan tiba. Mereka berharap bisa merayakan Valentine bersamamu.”

“Kau tahu aku tidak pernah tertarik dengan acara-acara seperti itu.”

“Kau memang tidak tertarik dengan acara seperti itu atau karena tidak punya pasangan untuk merayakannya?” goda Tiffany.

Nichkhun hanya menatapnya sinis, lalu menggelengkan kepala dengan lagak lelah.

“Oh, tunggu!” seru Tiffany lagi. “Atau, kau sengaja menolak semua gadis-gadis ini karena..” Tiffany mendekatkan wajahnya kearah Nichkhun dan berbisik, “..kau ingin merayakannya bersamaku?”

Nichkhun balas menatapnya. Wajah mereka sungguh dekat, bahkan keduanya bisa mencium bau napas masing-masing—Nichkhun sempat mengernyit saat mencium bau bawang dari mulut Tiffany.

It’s only in your dreams,” bisik Nichkhun.

Tiffany merengut, berlagak kecewa dan mundur.

Seusai mengumpulkan surat-surat itu, Nichkhun melemparnya masuk dengan asal ke dalam lokernya dan menguncinya bersama tumpukan tugas dan surat cinta lainnya yang belum sempat ia baca. Toh, ia juga tidak tertarik lagi membaca surat-surat itu karena itu memacu rasa mualnya, akibat harus membaca kalimat-kalimat puitis tak mutu dari penggemarnya.

“Aku boleh datang ke rumahmu malam ini, kan?” tanya Tiffany.

Nichkhun memasukkan kunci loker ke dalam tasnya dan mendongak. “Ingin makan malam gratis lagi di rumahku?” tanyanya sinis.

Tiffany terkekeh. “Begitulah.”

Nichkhun memutar bola mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lelah.

Okay,” kata Nichkhun, setuju. “Kau boleh datang, asal tidak mengacaukan keadaan rumahku.”

***

“Selamat sore, Ahjumma!”

Tiffany menghambur masuk ke dalam dapur keluarga Horvejkul dan mendapati ibu Nichkhun sedang berdiri di balik pantry dengan celemek menempel di tubuhnya, menyiapkan makan malam.

“Oh, halo, Tiffany!” Nyonya Horvejkul tersenyum ramah. “Kau datang untuk makan malam bersama kami?”

Tiffany hanya terkekeh dan mengangguk samar. Wajahnya bersemu merah karena malu. Walau keluarga Horvejkul—kecuali Nichkhun—selalu menyambut kehadiran Tiffany di pesta makan malam mereka dengan ramah, tapi diam-diam ia terkadang merasa malu karena selalu datang dan bergabung bersama mereka.

“Apakah Khun ada?”

Nyonya Horvejkul mendongak ke tangga atas, lalu berpaling lagi pada Tiffany. “Aku rasa ia masih tidur. Bisakah kau bangunkan Khun untukku?”

“Dengan senang hati.” Tiffany terkekeh lagi.

Tiffany berlari meniti tangga, menuju pintu kamar bercat putih itu—kamar Nichkhun. Tiffany mengulurkan tangan dan mengetuk pintu itu dengan pelan. Bersikap tata krama bukanlah sifat Tiffany. Ia ingin saja masuk ke dalam tanpa harus mengetuk lagi, lalu membangunkan Nichkhun. Tapi Nichkhun selalu menggerutu kesal dan memaksanya untuk tidak lagi mengabaikan tata krama. Jadi, disinilah Tiffany sekarang. Merasa sangat idiot, berdiri di depan pintu, menunggu Nichkhun membukakan pintu untuknya—yang entah kapan akan dibuka.

“Khun!” Tiffany mulai menggedor-gedor pintu dengan keras. “Khun! Khun!”

Tiffany baru saja ingin mengabaikan sikap tata kramanya dan masuk ke dalam, tapi tiba-tiba saja pintu di hadapannya terbuka dan sesosok pemuda bertubuh tinggi, mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek, dengan rambut awut-awutan, muncul di hadapannya.

“Akhirnya..” Tiffany mendesah lega.

Nichkhun menggosok-gosok matanya. “Apa?”

“Bangunlah. Makan malam sudah hampir siap.”

“Sebentar lagi. Aku masih mengantuk.”

Nichkhun menyeret langkahnya yang berat dan kembali menghempaskan diri ke atas tempat tidur.

Ya, bangunlah, Pemalas!”

Tiffany masuk ke dalam kamar Nichkhun dan tidak pernah sekalipun dibuat tidak tercengang dengan keadaan kamar sahabatnya itu. Buku-buku tersimpan dan tersusun rapi di rak-rak, seluruh barang-barang berada pada tempatnya, tidak ada pakaian-pakaian kotor berhamburan dimana-mana, karpetnya sangat bersih, dan kamar itu sangat wangi. Tiffany tahu bahwa Nichkhun sudah menjadi bawaan orok untuk hidup rapi. Bahkan kalau bisa, Nichkhun mau saja mengatur seluruh barang-barangnya berdasarkan feng shui.

Tiffany berani bertaruh, jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar ini, ia tidak akan percaya bahwa ini adalah kamar seorang pria. Kamar ini terlalu rapi, bersih, dan wangi untuk ukuran seorang pria. Satu-satunya hal yang menjadi ciri bahwa kamar ini milik seorang pria adalah playstation yang ada di bawah rak televisi. Itupun, playstation itu tidak pernah disentuh oleh Nichkhun.

Tiffany menatap gundukan di bawah selimut itu dan menarik selimutnya. “Bangunlah, Khun!”

Ya, apa yang kau lakukan? Kembalikan selimutnya!” gundukan di bawah selimut itu menggerutu kesal dan mengulurkan tangan untuk menggapai-gapai, namun Tiffany terus menjauhkan selimut itu dari jangkauan tangan Nichkhun.

“Bangunlah, Pemalas!”

Nichkhun meringis kesal. “‘Pemalas’? Lihat dirimu, Fany!” Nichkhun menunjuknya dari bawah ke atas. “Tubuhmu sangat pendek itu karena kau kurang tidur.”

“Brengsek, kau!”

Tiffany membekap wajah Nichkhun selimut yang ada di tangannya dan menaiki perut pemuda itu. Nichkhun meronta di bawah Tiffany dan berteriak-teriak tak jelas—suaranya diredam oleh selimut yang menutup wajahnya.

“Kau masih berani mengatakan tubuhku pendek, huh?” desis Tiffany dengan mimik kejam.

Penderitaan Nichkhun tidak berlangsung lama karena tertolong oleh kehadiran ibunya yang tiba-tiba membuka pintu dan menangkap basah keduanya dalam posisi yang tidak seharusnya. Mata Tiffany membelalak kaget dan selanjutnya ia terjatuh dari tempat tidur karena Nichkhun mendorong tubuhnya.

Oemma!”

Nyonya Horvejkul mengerjap-ngerjapkan matanya, tak percaya. Dipandanginya wajah Tiffany dan Nichkhun secara bergantian. “Makan malam.. sudah.. siap..” katanya dengan susah payah.

Nichkhun mendongak menatap Tiffany, lalu berpaling pada ibunya dan berdeham. “Ne, aku dan Tiffany akan segera ke dapur. Oemma dan Appa saja duluan.”

Nyonya Horvejkul mengangguk seperti orang idiot dan perlahan-lahan menutup pintu. Setelah pintu itu tertutup, Tiffany menjerit ringan dan menutup wajahnya yang memerah.

“Ya Tuhan, bagaimana ini?”

Nichkhun menatapnya aneh. “Apanya yang bagaimana?”

“Ibumu pasti berpikir macam-macam soalku. Ia pasti berpikir aku berniat memperkosamu.”

“Sinting!” desis Nichkhun.

Pemuda itu berdiri dan dengan santai mengganti kausnya di depan Tiffany.

Kajja! Kita susul ayah dan ibuku di dapur!” kata Nichkhun, lalu menggamit tangan Tiffany dan menariknya keluar kamar.

***

Saat keduanya masuk ke dalam, dapur penuh oleh wangi makanan yang mengoar ke seluruh ruangan. Tuan dan nyonya Horvejkul telah duduk di meja makan, menunggui keduanya.

“Makan yang banyak yah, Tiffany,” ucap nyonya Horvejkul ramah. Tiffany sedikit takjub mendapati perubahan sikap nyonya Horvejkul yang drastis. Beberapa saat yang lalu, ia ingat wajah nyonya Horvejkul tampak tercengang dan kini berubah ramah, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“Terimakasih, Ahjumma,” balas Tiffany sopan. Ia mengambil mangkuk nasi yang disodorkan nyonya Horvejkul padanya dan duduk bersama Nichkhun di salah satu sisi meja.

“Kau sedang diet, kan? Bagaimana kalau makan sayuran saja?”

Tuan Horvejkul menekur korannya dan mendelik kearah istrinya. Sepasang suami istri itu mengamati Nichkhun yang bersikap gentle dengan mengambilkan Tiffany lauk pauk.

“Apakah kalian berdua..” Tuan Horvejkul tidak menyelesaikan kalimatnya dan mengundang raut tanda tanya dari Nichkhun dan Tiffany.

“Apa?” tanya Nichkhun. Sumpitnya berhenti di tengah jalan ketika ia mencoba meraih irisan daging babi asam manis.

“Ah, bukan apa-apa.” Ayahnya menggeleng dan tersenyum. “Oh yah, Khun. Ayah hanya ingin mengingatkanmu soal pendaftaran tim sepakbola Seoul. Kau akan ikut, kan?”

Tiffany melirik Nichkhun dan ia dapat mudah mengetahui reaksi Nichkhun yang langsung mendesah lelah.

“Aku sudah mengatakannya padamu, Appa,” sahut Nichkhun. “Aku tidak berniat ikut dalam tim olahraga mana pun. Termasuk sepakbola.”

Wae? Padahal kau sangat berbakat di sepakbola.” Tuan Horvejkul bersikeras. “Kau seharusnya ikut, Khun. Bakatmu dalam bermain sepakbola sangat sayang jika disia-siakan begitu saja.”

Yeobo, sudahlah.” Nyonya Horvejkul menegur suaminya.

“Kau akan ikut, kan, Khun? Ayah akan mengantarmu hari Sabtu nanti. Bagaimana?”

Tiffany melihat tubuh Nichkhun menegang di sebelahnya. Gadis itu menarik kaki baju Nichkhun, mencoba memberi kode pada pemuda itu agar tidak mengamuk di meja makan. Ini bukan saat yang tepat.

Nichkhun menghela napas, berhasil mengontrol emosinya untuk kali ini. Ia menunduk memandangi makanannya dan berkata, “Akan kupikir-pikir lagi.”

***

Nichkhun merebahkan diri di atas tempat tidur dan memandangi langit-langit kamarnya. Suara televisi bergaung di hadapannya—Tiffany sedang memainkan playstation miliknya, sementara ia sedang berpikir.

“Kau lihat, kan, bagaimana ayahku selalu memaksaku untuk melakukan hal-hal yang tidak kusukai?” ujar Nichkhun.

Tiffany menoleh kearahnya sebentar, lalu kembali ke televisi. “Soal bergabung dengan tim sepakbola Seoul?”

Nichkhun mengangguk samar. “Ia terus memaksaku untuk ikut, padahal sudah berapa kali kukatakan padanya bahwa aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak suka sepakbola.”

GOAL!”

Tiffany menjerit kegirangan dan melompat-lompat saat tim Inter Milan yang sedang dimainkannya berhasil mencetak gol lawan. Nichkhun meringis kearahnya.

Ya, aku sedang bercerita tapi kau malah kegirangan!”

“Aku berhasil membuat goal, Khun!”

Aish!” Nichkhun membuang muka dan berlagak marah.

Tiffany menatapnya bingung. “Kau ini kenapa, sih?”

Nichkhun tidak menjawab.

“Daripada kau terus-terusan mengomel tidak jelas..” Tiffany menarik lengan Nichkhun. “..sebaiknya kau ikut bermain bersamaku.”

“Apa?” Nichkhun memandangi joystick playstation yang diberikan Tiffany padanya dengan bingung. “Kau tahu aku tidak suka bermain playstation. Aku bahkan tidak tahu cara memainkannya.”

“Sudahlah, duduk saja cepat!” Tiffany setengah memaksa dan akhirnya Nichkhun menurutinya.

Playstation sama sekali tidak masuk dalam daftar kegiatan Nichkhun untuk bersenang-senang. Ditambah lagi Tiffany menantangnya bermain Winning Eleven—sepakbola—yang membuat Nichkhun semakin makan hati. Nichkhun sama sekali tidak mengerti soal sepakbola dan yang ia lakukan sepanjang permainan hanyalah bertahan.

“Fany-ah, tidak bisakah kita bermain yang lain saja?” gerutu Nichkhun.

“Tidak.” Tiffany menggeleng, matanya tetap berkonsentrasi penuh ke layar televisi. “Kita harus bermain sepakbola supaya kau jantan sedikit.”

Nichkhun mendengus. “Tapi kenapa harus sepakbola?”

“Kenapa? Memangnya kau ingin main masak-masakan?”

Nichkhun merasa tersinggung dengan ucapan Tiffany dan mendorong tubuh gadis itu dengan kasar hingga terjerembap ke karpet. “Brengsek!”

***

“Apakah Tiffany menginap malam ini di rumah kita?”

Nyonya Horvejkul melirik suaminya melalui refleksi cermin dan mengangguk. “Ia menginap di sini dan tidur bersama Nichkhun di kamar atas.”

Tuan Horvejkul mengangguk, lalu naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti diri.

“Apakah menurutmu kita tidak berbuat salah jika membiarkan Tiffany tidur sekamar dengan Nichkhun?” tanya nyonya Horvejkul ragu.

Tuan Horvejkul mendesah. “Memangnya Nichkhun mau melakukan apa?”

Istrinya merengut dan duduk di tepi tempat tidur. “Kau masih berpikir bahwa Nichkhun—”

“Jangan sekarang, yeobo. Aku sedang tidak ingin berdebat.”

Nyonya Horvejkul menggeleng, tetap bersikeras. “Bisakah kau berhenti berpikiran buruk soal anakmu sendiri? Nichkhun tidak seperti yang kau pikirkan.”

Tuan Horvejkul tidak tahan lagi dan duduk tegak. “Jika Nichkhun normal, Tiffany mungkin sudah lama mengandung anaknya selama ini!” teriaknya marah. “Lihat, mereka sudah lama tidur bersama, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah, tapi tidak pernah terjadi apa-apa, karena Nichkhun itu seorang homoseksual!”

Nyonya Horvejkul terperangah di posisinya yang duduk menegang. Ia tidak menyangka suaminya akan menghardik putranya sendiri dengan kata haram itu. “Kau benar-benar jahat!” isak wanita itu, lalu meninggalkan suaminya dalam rasa bersalah yang dalam.

***

Nichkhun yang sejak tadi bersembunyi di balik anak tangga, melihat ibunya berlari meninggalkan kamar dengan wajah yang basah oleh air mata. Ia mendengar ayahnya berteriak, memanggil ibunya untuk kembali, tapi ibunya terus berlari dan keluar ke halaman belakang rumah. Nichkhun menatap ibunya sedih, tapi tidak tergerak untuk merangkul pundak yang bergerak naik-turun itu, hanya sekedar untuk menenangkannya. Ia takut, entah karena apa.

Jadi, Nichkhun memutuskan kembali ke kamar dan mendapati Tiffany telah tertidur di atas tempat tidurnya dengan joystick di atas perutnya. Ia menyingkirkan joystick itu, merapikan kabel-kabel, dan mematikan televisi, lalu bergabung bersama Tiffany di atas tempat tidur. Saat tempat tidur bergoyang akibat bobot tubuh Nichkhun, Tiffany mengerang dan memposisikan tubuhnya tertidur dengan lena di atas dada Nichkhun.

Entah sadar atau tidak, tangan Tiffany bahkan sengaja menarik tangan Nichkhun ke kepalanya. Nichkhun tahu apa maksudnya. Mereka sudah tidur bersama hampir beberapa tahun dan ia tidak akan pernah lupa kebiasaan ini, maka ia menenggelamkan jari-jarinya yang panjang ke dalam riak rambut Tiffany dan mengusapnya pelan. Saat Nichkhun hampir tertidur dan berhenti mengelus kepalanya, Tiffany mengerang manja dan mengembalikan tangan Nichkhun ke tugasnya semula, lalu mempererat dekapannya di pinggang Nichkhun.

Tiffany sadar bahwa tidur bersama seorang pria yang bukan suaminya memang adalah suatu kesalahan fatal. Apa pun bisa terjadi. Tapi ia tahu, pria seperti Nichkhun-lah, yang justru paling mengerti, memahami, dan menghormati dirinya sebagai seorang perempuan.

***

“Kalian mau kemana?”

Keesokan malamnya, nyonya Horvejkul melihat Nichkhun dan Tiffany tengah bersiap-siap pergi, sedang duduk di ruang tamu mengenakan sepatu masing-masing. Tuan Horvejkul menurunkan korannya dan bertukar lirik dengan Nichkhun.

“Kami ingin pergi menonton konser, Ahjumma,” sahut Tiffany, berdiri dari kursinya dengan tali sepatu telah terikat.

“Konser?”

“Ya. Busker Busker hari ini akan konser dan kami akan pergi menontonnya,” sambung Nichkhun, telah selesai dengan sepatunya.

“Oh. Kalau begitu, hati-hati di jalan, Sayang.”

Nichkhun mengangguk dan tersenyum. Ia mengecup pipi ibunya dan pamit, tanpa mengacuhkan keberadaan ayahnya di sana.

***

Gomawo.” Tiffany meraih segelas soft drink dan camilan dari Nichkhun dan duduk di bangku panjang yang ada di atas bukit. Api unggun menyala dengan terang di hadapannya dan menyinari kulit wajahnya dengan cahaya jingga kemerah-merahan.

Nichkhun ikut duduk bergabung bersama Tiffany dan meneguk soft drink-nya.

“Hari ini sikapmu aneh sekali,” kata Tiffany, tanpa menatap Nichkhun.

“Aneh apanya?”

“Kau sepertinya belum bicara sepatah kata pun dengan ayahmu hari ini. Apa kalian bertengkar?”

Nichkhun diam saja.

Tiffany menyikut perut pemuda itu. “Ya, aku bertanya padamu!”

“Diamlah!” balasnya ketus. “Konsernya sudah dimulai.”

Alasan lain Nichkhun dan Tiffany bisa bersahabat adalah keduanya sama-sama menyukai Busker Busker, band indie asal Korea. Sayangnya, mereka tidak pernah punya cukup uang untuk ikut bergabung bersama fans-fans Busker Busker lainnya di tempat konser, dan alhasil, mencari alternatif lain untuk menikmati penampilan band favorit mereka dengan menaiki salah satu bukit di belakang sebuah sekolah swasta di Seoul dan menonton keramaian itu dari ketinggian.

Ditengah lantunan lagu If You Really Love Me dari Busker Busker, Tiffany menggeser bokongnya, mendekat kearah Nichkhun dan menyikut lengan pemuda itu sekali lagi.

“Kudengar mereka akan mengadakan konser pada tanggal 14 Februari nanti. Menurutmu, bagaimana?”

Nichkhun mengangkat sebelah alisnya. “Apanya yang bagaimana?”

“Maksudku, bagaimana kalau kita datang lagi di hari Valentine untuk menonton mereka di sini?”

“Boleh-boleh saja.”

“Tapi kali ini tidak boleh nonton secara gratis lagi,” sungut Tiffany.

Nichkhun menyeringai. “Kau yang akan membeli tiketnya?”

Tiffany menggeleng dan tersenyum jahil. “Bukan. Tentu saja kau.”

Aish! Aku sudah tahu hal seperti ini akan terjadi,” gerutu Nichkhun sambil memalingkan wajah.

“Ayolah, Khun!” Tiffany mengguncang-guncang lengan pemuda itu dan mengerang manja. “Sekali ini saja kau mentraktirku nonton konser!”

“Baiklah, baiklah,” sahut Nichkhun lelah. “Kita akan menonton Busker Busker pada hari Valentine nanti.”

Tiffany menjerit girang dan menari-nari aneh di hadapan Nichkhun.

Ya, duduklah! Kau mengganggu pandanganku!” Nichkhun membentak dengan keras, tapi Tiffany tidak menghiraukan dan terus menari-nari kegirangan.

***

Nichkhun menepikan motornya di depan sebuah gas station dengan tiba-tiba, membuat Tiffany tersentak kaget.

“Ada apa?”

“Aku ingin buang air kecil,” ringis Nichkhun. “Terlalu banyak minum soft drink. Kau tunggu di sini sebentar. Jaga motorku dan.. oh yah, tolong pegang ponselku sebentar.” Ia mengeluarkan ponselnya dari saku jeans dan memberinya pada Tiffany.

Tiffany mengangguk dan berteriak, “Jangan lama-lama, Khun!”

Nichkhun berlari meninggalkannya dan balas berteriak, “Tidak akan!”

***

“Berhentilah menggodaku, Hyuk!” ringis Siwon di balik kemudinya. Ia mencoba menggapai-gapai ponselnya dari Eunhyuk yang duduk di sebelahnya, namun selalu gagal. Konsentrasinya bisa pecah kalau ia terlalu serius untuk merebut ponselnya dari Eunhyuk daripada mengemudi mobil.

Ya, tidak usah pedulikan aku!” tawa Eunhyuk. “Aku hanya akan mengeceknya sebentar. Kau berkonsentrasi saja membawa mobil.”

Siwon mendesah dan menyandarkan punggungnya. Ia menyerah. “Jangan mengotak-atiknya sembarangan!” katanya memperingatkan.

“Tidak,” sahut Eunhyuk kesal. “Kau ini cerewet sekali, sih. Seperti perempuan saja.”

Eunhyuk tidak benar-benar mengindahkan peringatan Siwon. Ia membuka inbox ponsel Siwon dan membaca beberapa pesan singkat yang masuk. Beberapa pesan singkat itu berasal dari ibunya dan kakak perempuan Siwon. Eunhyuk beralih mengecek contact list Siwon dan gelak tawanya meledak seketika.

Ya, apa yang kau lakukan?” tanya Siwon curiga.

“Kau tidak punya nomor ponsel seorang wanita di sini? Hanya ibu dan kakak perempuanmu?” tawa Eunhyuk, mengejek.

“Berikan ponselnya padaku, Hyuk!”

Eunhyuk masih tertawa. “Kau ini homo atau apa, huh? Nomor ponsel wanita saja tidak punya!”

“Hentikan, Brengsek!”

Eunhyuk memicingkan matanya ke depan dan berseru, “Siwon, cepat hentikan mobilmu di depan gas station itu!”

“Ada apa? Bensin mobilku masih penuh!”

“Tidak! Berhenti saja di sana! Di depan gadis itu!”

Siwon memandang ke kejauhan dan melihat seorang gadis duduk di atas motor, sendirian dan sepertinya sedang menunggu seseorang. “Itu temanmu?”

“Ehm, iya!” sahut Eunhyuk bohong. “Cepat hentikan mobilmu.”

***

Tiffany mendongak saat sebuah mobil berwarna metal menepi tepat di hadapannya. Gadis itu merengutkan alis saat seorang pemuda berwajah jenaka menurunkan kaca jendela dan menjulurkan kepalanya keluar.

Annyeong!” sapanya.

Tiffany mengangkat alis dan menyahut ragu, “Annyeonghasaeyo!”

Pemuda berwajah jenaka itu merebut ponsel milik Nichkhun dari tangan Tiffany dan mengetik sesuatu. Tiffany baru saja akan mengomelinya, namun ponsel itu sudah buru-buru dikembalikan. Tiffany membaca angka-angka yang ada di layar ponsel Nichkhun dengan atas nama Siwon.

“Itu nomor ponsel temanku. Aku juga sudah menghubungi nomor ponsel temanku agar ia bisa menyimpan nomormu,” kata pemuda berwajah jenaka. “Jangan lupa menghubunginya malam ini yah, atau ia tidak akan bisa tidur karena terus merindukan suaramu.”

“Hyuk, kau menyimpan nomorku di ponsel gadis itu?”

Tiffany melirik pemuda yang berada di balik kemudi mengomel. Tapi itu tidak berlangsung lama karena si pemuda berwajah jenaka itu segera menaikkan jendelanya dan beberapa saat kemudian, mobil itu langsung melaju pergi.

“Siapa mereka?”

Saat mobil itu menghilang di kejauhan, tahu-tahu Nichkhun sudah berdiri di samping Tiffany, telah selesai dengan ‘urusan’-nya.

Tiffany angkat bahu. “Aku juga tidak tahu.”

Nichkhun menatapnya aneh dan mengambil ponselnya dari tangan Tiffany. “Kajja!”

To be continued.

Advertisements

165 thoughts on “Threesome (Part 1)

  1. aku baru nemu ff ini.. dan 1 hal yg aku temuin.. kocak..
    wkwkwk..
    ini jdnya si nikhun bakalan bener bener dianggep homo? XD

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s