Please Call Me Seonsaengnim! (Part 1)

Author : Xan She

Title : Please Call Me Seonsaengnim!

Main Cast :

  • Bae Suzy ‘Miss A’
  • Ok Taecyeon ‘2PM’

Support Cast :

  • Jung Yunho ‘TVXQ’

Genre : Romance, School life

Length : Chapter

Rating : PG-13

Disclaimer : inspired by Japanese comic’s ‘Seishun Shiteru Kai’ by Ryo Azuki. Just the main idea, the story is different.

—<><>—

Daun-daun berwarna warni nampak indah menghiasi pepohonan rindang di sekitarnya. Angin pagi bertiup lembut, sinar mentari yang hangat mulai mengintip dari celah dedaunan, seolah ingin mengusik tidurnya yang damai.

Pemandangan indah di sekitar, sama sekali tak dihiraukannya. Pemuda itu masih berbaring di bawah teduhnya pohon besar. Terlalu banyak musim semi yang ia lewati dengan aktifitas yang sama. Membosankan, juga tampak seperti orang bodoh. Sebenarnya apa yang ia lakukan?

Musim semi tahun ini telah tiba bersamaan dengan hari pertama berlangsungnya tahun ajaran baru. Siswa siswi yang lain tengah berbaris rapi dalam sebuah upacara rutin menyambut tahun ajaran baru, sementara pemuda itu lebih memilih melarikan diri atau lebih tepatnya melakukan ritual rutin tiap tahunnya.

Suara teriakan riang bocah-bocah kecil di sekitarnya sedikit mengusiknya. Suara-suara itu perlahan semakin terdengar jelas di telinganya, hingga sentuhan tangan-tangan kecil memaksa dirinya untuk segera membuka mata.

Ahjjussi, apa yang kau lakukan disini?” Suara bocah perempuan terdengar sangat dekat di telinganya.

Pemuda itu menyipitkan matanya saat membuka matanya. Kelopak matanya makin meredup begitu menyadari matahari yang sudah meninggi di atas kepalanya menyorotnya tajam.

Ahjjussi, cepat bangun!” Kini giliran bocah laki-laki yang bersuara. Kedua bocah itu tak henti-hentinya berseru ‘ahjjussi’ sambil menggoncangkan tubuh pemuda itu untuk membangunkannya.

Pemuda itu makin terganggu dengan situasi yang membuatnya tidak nyaman. Ia memaksakan kedua kelopak matanya terbuka sempurna walau terik matahari menyilaukan matanya. Pemuda itu menatap penuh amarah pada kedua bocah di hadapannya yang telah mengganggu istirahatnya.

“Ya, mwohaneunghoya?” Bentak pemuda itu tiba-tiba hingga membuat kedua bocah itu yang sebelumnya dalam posisi berjongkok dan berlutut, reflex terduduk di rerumputan kering saking terkejutnya. “Berani sekali kalian mengganggu tidurku!” Ulang pemuda itu lagi dengan nada serupa.

Kedua bocah yang sepertinya berusia 5 tahun itu saling tatap bergantian. Sedikit perasaan takut dan terkejut nampak jelas terlihat dari mata mereka. Namun bocah laki-laki nampaknya ingin mencairkan suasana tegang yang sempat tercipta.

Ahjjussi, bisakah kau menjadi saksi kami?” sahut bocah laki-laki.

Pemuda itu mengerutkan keningnya mendengar permintaan aneh bocah itu. Ia lalu bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap kedua bocah kecil yang juga tengah menghadapnya. “Mworago?” Tanyanya tidak mengerti.

“Kami adalah teman dekat, kami berjanji akan selalu bersama-sama dalam keadaan apapun dan sampai kapanpun,” lanjut bocah itu. Ia mengajak bocah perempuan di sebelahnya untuk saling menautkan jari kelingking mereka dan menempelkan ibu jadi mereka satu sama lain tanda sebuah perjanjian telah dilakukan.

Pemuda itu menatap lirih pemandangan di depannya. Dengan senyum meremehkan, ia menggumam dengan suara yang hampir tak terdengar, “Bodoh! Kalian masih terlalu kecil untuk mengerti sebuah janji!”

Kedua bocah itu saling bertukar senyum yang paling manis yang mereka punya. Sedang pemuda itu masih menatap ragu akan perjanjian unik bocah-bocah itu.

Ahjjussi, kau telah menjadi saksi perjanjian kami. Kau boleh menghukumku bila aku mengingkarinya. Aku rela memberikan seluruh uang tabunganku yang kukumpulkan untuk membeli PSP padamu,” ucap bocah laki-laki itu dengan sungguh-sungguh. Semangatnya benar-benar terlihat jelas dari pencaran kedua mata indahnya.

Ne, Ahjjussi, kau juga boleh mengambil boneka barbie kesayanganku bila aku yang mengingkarinya,” kini giliran bocah perempuan yang menyahut.

Pemuda itu dibuat kaku menyaksikan semangat kedua bocah kecil yang sangat kentara di penglihatannya. Ia akhirnya tersenyum. Ia berusaha untuk tidak lagi meragukan perjanjian unik itu.

“Siapa namamu?” Tanya pemuda itu pada bocah laki-laki di hadapannya.

“Namaku Leo,” jawab bocah itu.

Pemuda itu kembali tersenyum lalu berkata, “Kau adalah laki-laki. Kau harus memenuhi janjimu hingga akhir!” Ia menatap lekat bocah kecil yang diajaknya bicara. “Apapun yang terjadi, jangan pernah mengingkarinya. Apa kau mau berjanji padaku?”

Bocah itu mengangguk penuh semangat sambil tersenyum. Ia membiarkan pemuda di depannya mengacak pelan rambut hitamnya yang tebal sambil melebarkan senyum satu sama lain. Keduanya kini saling manautkan jari kelingking dan menyatukan kedua ibu jari mereka. Inilah yang disebut dengan perjanjian antar lelaki.

Setelah perjanjian telah dilakukan oleh kedua bocah kecil itu, mereka pamit meninggalkan tempat itu. Keduanya nampak riang berlarian bersama sambil bergandengan tangan sepanjang jalan. Senyum merekah tak pernah pudar di wajah mereka. Pemandangan itu sungguh indah bagi sang pemuda yang hanya bisa terduduk di tempatnya sambil menatap kepergian kedua sosok kecil itu yang makin mengecil hingga menghilang di kejauhan.

Sedetik kemudian ia tersadar lalu mendengus pelan sambil tersenyum kecil, “Ahjjussi? Apa tampangku begitu tua?” Tanyanya pada dirinya sendiri. Ia berdecak sedikit kesal menyadari panggilan bocah-bocah tadi padanya. “Apa mereka tidak melihat aku mengenakan seragam sekolah menengah atas? Aish~” Kesalnya lagi. Namun perasaan kesalnya tidak berlangsung lama. Senyumnya kembali tercetak di wajahnya ketika kembali membayangkan tingkah-tingkah lucu kedua bocah tadi saat saling berjanji.

Andai waktu bisa kembali, aku seharusnya tidak hanya berdiam diri saat itu.

—<><>—

“Ini adalah tahun keempat ia mengulang kelas yang sama. Kami sudah tidak tau lagi apa yang harus kami lakukan agar membuatnya lulus dari sekolah ini.”

“Benarkah? Apa yang salah dengan anak itu?” Suzy cukup terkejut mendengar berita yang baru saja disampaikan wakil kepala sekolah dalam sebuah rapat tahunan antar guru dan pimpinan sekolah.

Wajar bila ia sangat terkejut, hari ini adalah hari pertama Suzy resmi menjabat sebagai guru freelance bahasa inggris di Kirin High School. Usianya masih 20 tahun, ia baru saja lulus dari salah satu universitas terkenal di Australia secara cumlaude. Karena prestasi akademiknya yang sangat memuaskan, Suzy hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk mendapatkan gelar sarjana. Dengan rekomendasi langsung dari sang kepala sekolah, ia kini menjabat sebagai guru freelance di tempatnya berada saat ini.

Ne, anak itu bernama Taecyeon. Entah apa yang ada di kepalanya hingga ia sama sekali tidak memikirkan untuk lulus!” Kesal sang wakil kepala sekolah. Berkali-kali ia mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena kesal. “Suzy-ssi, kuharap kau bisa membuat anak itu lulus dari sekolah ini. Dengan begitu, kami akan memepertimbangkan untuk menerimamu menjadi guru tetap di sekolah ini,” lanjutnya lagi.

Suzy tertegun, seluruh pasang mata yang berada di ruangan itu menatapnya lekat—seolah meremehkan sosoknya yang tidak mungkin sanggup melaksanakan amanat dari wakil kepala sekolah.

Suzy berdehem pelan untuk sekedar mencairkan kegugupannya, “Ne, aku akan mencobanya.”

“Kau hanya akan membuang waktu bila kau hanya mencobanya. Tiga orang guru profesional dan berprestasi yang mengajar kelas itu pada tiga tahun terakhir terpaksa diberhentikan karena tidak dapat membuat anak itu lulus.” Salah seorang guru melontarkan tanggapannya. Ia bernama Jia, guru mata pelajaran matematika sekaligus wali kelas 3A. “Kuharap kau tidak akan mengalami nasib serupa, ” cibirnya pedas yang disambut kekehan pelan guru-guru yang lain.

Suzy hanya tertunduk diam menanggapi sahutan-sahutan selanjutnya yang terkesan memojokkan dan meremehkannya.

“Mulai hari ini kau adalah wali kelas 3F. Buat siswa siswimu lulus dengan nilai terbaik tahun ini. Kau harus membimbing mereka dengan kemampuanmu, Suzy-ssi!”

Ne, aku akan berusaha semampuku,” Suzy membungkuk pelan ke arah wakil kepala sekolah di penghujung rapat tahunan hari ini.

para petinggi sekolah dan guru-guru mulai bangkit dari duduknya dan beranjak keluar dari ruang rapat satu per satu. Mereka masih menyempatkan diri menatap Suzy yang masih di tempat duduknya. Tatapan-tatapan itu menghantamnya bertubi-tubi. Suzy tidak mempu membendungnya. Ia merasa sangat terasingkan dengan kondisi seperti ini. Kini ia hanya berharap orang-orang itu segera meninggalkannya sendiri di ruang itu.

Chukkae!”

Suzy mengangkat wajahnya, menoleh ke sumber suara tepat di hadapannya. Seorang pria dengan setelan jas rapi berdiri tegak di hadapannya sambil mengulurkan tangan ke arahnya.

Suzy belum merespon, ia masih terlalu terkejut mendapati sosok pria tampan yang terlihat sangat dewasa memberinya ucapan selamat.

“Apa kau tidak mau bersalaman denganku?” Tanya pria itu yang tak lain adalah Jung Yunho, pria yang Suzy tau adalah guru olah raga Kirin High School. Tubuhnya yang berbidang dan berotot terlihat sangat cocok dengan profesinya itu.

A-ani, bukan begitu,” sahut Suzy sedikit gugup. Dengan reflex ia mengusap sekilas telapak tangannya pada ujung rok selutut yang ia kenakan, lalu segera menyambut uluran tangan pria itu. “Gomawo,” lanjutnya masih sedikit gugup.

Ruangan terlihat sepi, hanya Suzy dan Yunho yang ada di sana. Suasana sunyi mendadak membuat Suzy makin gugup entah mengapa.

“Apa kau baru pulang ke Korea baru-baru ini?” Tanya Yunho setelah beberapa saat lalu melepaskan tangannya dari tangan Suzy.

Ne, aku baru saja pulang minggu lalu,”

Yunho mengangguk pelan tanda mengerti, lalu bergerak dan duduk tepat di sebelah Suzy. “Berapa lama kau di Australia?” Tanyanya mulai tertarik.

“Sejak sekolah dasar aku bersekolah disana,”

Jinjjayo? Apa selama itu kau tidak pernah kembali ke Korea?”

Suzy mengangguk sambil tersenyum renyah.

“Lalu, bagaimana bisa kau menguasai bahasa Korea selancar itu?” Yunho memiringkan sedikit duduknya hingga menghadap Suzy. Ia nampak sangat tertarik dengan cerita yeoja di hadapannya itu.

“Kedua orang tuaku membiasakan menggunakan bahasa Korea dalam komunikasi kami sehari-hari. Aku belajar dua bahasa sekaligus disana,” Suzy menjawab setiap pertanyaan Yunho dengan tak kalah antusias. Ini adalah hari pertamanya menginjakkan kakinya di Kirin High School. Membayangkan perbedaan umur yang cukup jauh antar guru, juga perbedaan budaya keseharian orang Korea dan Australia membuat Suzy berpikiran akan kesulitan bergaul dengan teman-teman sesama guru. Tapi sepertinya sosok Yunho membuatnya lupa akan bayangannya itu.

Keduanya berbincang akrab satu sama lain. Banyak hal yang mereka bicarakan. Yunho lebih banyak menanyakan pengalaman Suzy di negeri Australia dan Suzy sama sekali tidak keberatan berbagi pengalamannya pada Yunho.

“Kau harus memberitahuku bila kau mengalami kesulitan. Sudah pasti aku akan menolongmu!” ucap Yunho menyemangati Suzy yang disambut anggukan semangat dari yeoja itu.

—<><>—

Hari pertama proses belajar mengajar adalah hari yang paling membosankan, itulah pendapat siswa bernama Taecyeon. Hal yang paling sering ia lakukan untuk menghilangkan kebosanannya adalah dengan melarikan diri.

Dengan penampilannya yang berantakan, Taecyeon jelas terlihat seperti siswa pemberontak. Kemeja yang tidak terkancing sempurna di bagian atas, jas sekolah yang juga sengaja tidak dikenakan rapi membuatnya terlihat sangat kacau.

Bel tanda pelajaran pertama dimulai yang baru saja berbunyi sama sekali tidak dipedulikannya. Ia terus melangkah menuju bagian belakang sekolah. Tembok belakang sekolah yang menjuntai tinggi pun tidak berhasil menghalangi niatnya untuk melarikan diri dari sekolah ini. Dengan keahliannya memanjat pohon tinggi, Taecyeon mulai mengambil ancang-ancang untuk meraih puncak tertinggi tembok itu. Tidak butuh banyak keringat baginya hingga Taecyeon berhasil menggapai tembok itu. Ia segera membenarkan posisinya di atas tembok itu untuk bersiap-siap melompat. Belum juga niatnya itu tercapai, suara seseorang yeoja menghentikan gerakannya secara tiba-tiba.

“Ya, mwohaneunghoya? Cepat turun dari atas sana!”

Suara yeoja itu bukan hanya menghentikan gerakan Taecyeon secara tiba-tiba, tapi juga berhasil membuatnya hilang keseimbangan hingga akhirnya pemuda itu jatuh tersungkur di atas rerumputan di balik tembok belakang sekolah.

Taecyeon berkali-kali meringis kesakitan karena tubuhnya baru saja menghantam keras permukaan tanah yang penuh dengan rerumputan. “Ck, sial!” Keluhnya kesal. Ia akhirnya bangkit berdiri lalu sekilas membersihkan jas sekolahnya yang sedikit terlihat kotor akibat kejadian tadi.

“Siapa yeoja itu? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya!” Gumam Taecyeon seorang diri. Ia tidak terlalu jelas melihat sosok yeoja yang meneriakinya tadi. “Apa ia murid pindahan?” Tebaknya kemudian.

Taecyeon mengerutkan keningnya lalu kembali melanjutkan langkahnya ke tempat yang ingin di tujunya. “Itu bukan urusanku!”

—<><>—

“Suzy-ssi, disana bukan jalan menuju kelas 3F. Apa yang sedang kau lakukan disana?” Park Jungsoo, guru fisika yang ditugaskan langsung oleh wakil kepala sekolah untuk mengantarkan Suzy menuju kelas 3F di hari pertamanya mengajar, memergoki Suzy yang tengah menghadap tembok belakang sekolah. Yeoja itu berdiri cukup lama di sana. “Cepat ikut aku. Kita tidak punya banyak waktu!”

N-ne?” Sahut Suzy mulai tersadar. Ia segera berbalik dan berlari menyusul pria yang akan mengantarkannya menuju kelas anak-anak didiknya, atau mungkin lebih tepatnya adik-adik didiknya.

“Apa sudah banyak guru yang dikeluarkan hanya karena tidak sanggup membuat siswa bernama Taecyeon itu lulus dari sekolah ini?” Suzy mulai bertanya sambil terus menyeimbangkan langkah-langkah cepat pria di sebelahnya.

“Seperti yang kau dengar pada rapat tahunan kemarin. Tiga orang guru dalam tiga tahun berturut-turut terpaksa dikeluarkan karena alasan itu!”

Jinjjayo? Bagaimana bila aku juga gagal?” Suzy merasa sedikit pesimis dengan kemampuannya.

“Sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu. Kau tau apa yang akan terjadi!” Jungsoo melirik Suzy sekilas. Yeoja itu nampak tertunduk lesu mendengar ucapannya.

Ne, kau benar!” Ucap Suzy dengan nada lemah. “Mengapa sekolah tidak mengeluarkan siswa malas sepertinya? Apa anak itu sangat istimewa?”

Jungsoo memperlambat langkahnya hingga Suzy reflex mengikuti gerakan pria itu. “Bukankah kau direkrut langsung oleh kepala sekolah untuk mengajar di sekolah ini?” Tanyanya heran. Kini langkahnya telah benar-benar berhenti, begitu pula dengan yeoja di sebelahnya.

Suzy menatap heran Jungsoo, baru kemudian mengangguk—mengiyakan pertanyaan barusan.

“Lalu apa kau tidak tau bahwa siswa itu adalah anak dari kepala sekolah?”

Mwo?” Suzy dibuat terkejut bukan main. Ia mulai dapat mengira mengapa sekolah bersikeras mempertahankan siswa bermasalah itu agar tetap dapat bersekolah di sekolah ini. Lagipula mana mungkin ada sekolah yang mau menerima siswa yang tidak naik kelas selama tiga tahun berturut-turut?

“Suzy-ssi, mengapa kau hanya berdiri di depan pintu? Mari masuk. Kau harus segera memperkenalkan dirimu!” Jungsoo mengajak Suzy masuk ke dalam kelas 3F yang tepat berada di hadapannya.

Beberapa detik kemudian Suzy mulai bergerak mengikuti langkah Jungsoo yang telah lebih dulu memasuki ruang kelas.

Suasana kelas yang sebelumnya ricuh mendadak tenang begitu Jungsoo dan Suzy memasuki ruang kelas. Para siswa dan siswi penghuni kelas seketika menghentikan kesibukan mereka sejenak. Para siswa laki-laki serempak mengarahkan pandangannya pada sosok cantik yang kini berdiri di depan kelas. Mereka seolah terhipnotis dengan kecantikan Suzy yang terlihat bersinar. Sementara sebagian siswi perempuan menatap Suzy iri dan ada juga yang terkagum-kagum.

“Mohon perhatiannya sebentar, akan kuperkenalkan guru baru bahasa inggris kalian yang sekaligus akan menjadi wali kelas kalian,”

Informasi yang baru saja disampaikan Jungsoo atau biasa dipanggil Park seonsaengnim, membuat suasana kelas kembali kacau. Suara teriakan penuh semangat para siswa terdengar mendominasi seisi ruangan.

“Apa-apaan mereka ini?” Jungsoo cukup terkejut dengan reaksi seisi kelas. Suasana kelas sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya saat ia mengantarkan guru baru memasuki kelas ini. Biasanya sambutannya tidak pernah semeriah ini. Apa karena kali ini guru baru mereka masih sangat muda dan cantik?

“Kuharap kalian bisa bersikap tenang sebentar. Ia akan segera memperkenalkan dirinya!” Teriak Jungsoo dengan suara lantang.

Tidak butuh waktu lama hingga suasana kelas kembali tenang. Sungguh di luar prediksi, keadaan kelas mudah sekali dikendalikan untuk saat ini.

Annyeonghaseyo, Bae Suzy imnida. Kalian bisa memanggilku seonsaengnim. Mulai hari ini aku adalah guru bahasa inggris sekaligus wali kelas kalian. Kuharap kita dapat saling bekerja sama!” Suzy tersenyum manis diakhir kalimat perkenalannya hingga membuat setiap pasang mata yang melihatnya terkagum-kagum.

“Dimana Taecyeon? Apa anak itu membolos lagi?” Tanya Jungsoo ketika tidak berhasil menemukan Taecyeon di dalam kelas. “Ck, anak nakal itu benar-benar!” Tanpa perlu menunggu seisi kelas menjawab pertanyaanya, ia sudah tau bahwa jawabannya adalah benar.

“Baiklah, apa ada pertanyaan untuk wali kelas kalian ini?” Tanya Jungsoo lagi dengan suara cukup keras.

Seonsaengnim, aku ingin bertanya,” Siswa bernama Jinyoung mengangkat tangan kanannya dan segera disambut Jungsoo dengan anggukan. “Apa Suzy Seonsaengnim sudah memiliki namjachingu?” Lanjutnya dengan kekehan pelan diakhir pertanyaannya. Pertanyaannya itu juga berhasil membangkitkan keributan kembali. Nampaknya seisi kelas juga menanti jawaban dari Suzy, terutama para siswa laki-laki.

“Ya, Park Jinyoung, pertanyaan macam apa itu?” Kesal Park seonsaengnim.

Wae? Bukankah tadi Seonsaengnim meminta kami untuk bertanya?” Jinyoung membela diri dan didukung teman-temannya seisi kelas.

Suzy tersenyum samar ke arah Jinyoung, lalu mulai menanggapi pertanyaan siswa itu, “Boleh aku tau apa pengaruhnya bila aku telah memiliki namjachingu?”

“Tentu saja sangat berpengaruh. Bila Seonsaengnim telah memiliki namjachingu, itu akan sangat mempengaruhi semangat belajar kami!”

Suzy mengerutkan keningnya. Jawaban yang tidak masuk akal menurutnya. “Arraseo, saat ini aku belum mempunyai namjachingu!” Ucapnya pada akhirnya.

Jawaban Suzy barusan menambah keributan yang lebih parah di dalam kelas. Para siswa bersuka cita mendengar kabar gembira itu.

“Apa kalian sudah selesai?” Teriak Jungsoo di tengah-tengah keributan yang semakin menjadi. Seketika suasana kelas mulai mereda. “Aku pamit lebih dulu. Silahkan kau lanjutkan tugasmu,” ucapnya pada Suzy. Ia akhirnya keluar lebih dulu dari kelas meninggalkan Suzy bersama dengan siswa siswi penghuni kelas 3F.

“Ia terlihat masih sangat muda,” bisik salah satu siswi bernama Eunjung pada teman sebangkunya, Jiyeon.

“Mari kita taruhan. Menurutmu dia akan bertahan berapa lama di sekolah ini?” Sahut Jiyeon juga dengan berbisik. Matanya tak lepas menatap guru barunya di depan kelas.

“Bagaimana kalau 6 bulan?”

“Selama itu? Kurasa ia tidak akan bertahan lebih dari tiba bulan! Bila aku menang, berikan sepatu yang kau dapat dari Prancis itu untukku. Bagaimana?” Tawar Jiyeon kemudian.

Eunjung menatap teman sebangkunya itu dengan mata membulat. Sepatu yang dikenakannya saat ini adalah sepatu kesayangannya yang dihadiahi oemmanya dari Prancis beberapa hari yang lalu.

“Baiklah, tapi bila kau yang kalah, kau harus rela memotong rambut panjangmu hingga tersisa tiga senti meter saja, bagaimana?” Eunjung balik menantang.

Jiyeon melirik Eunjung sinis. Ia sedikit tersinggung dengan permintaan teman sebangkunya itu. Sifat egoisnya kini tengah mempengaruhinya, akhirnya Jiyeon menyanggupi tantangan dari Eunjung. “Arraseo, kita lihat siapa yang akan menang!”

Perhatian kembali terpusat pada Suzy yang berada di depan kelas. Ia mulai berjalan mendekati meja Jinyoung yang berada di barisan kedua dari belakang. “Apa kau tau dimana siswa bernama Taecyeon?” Tanyanya pada Jinyoung.

Jinyoung menatap Suzy gugup. Hanya dengan didekati guru barunya itu, membuatnya mendadak gugup dan salah tingkah, “Eh? Hm—”

“Bisa kau memberitauku nomor ponselnya?”

Tanpa berkata-kata, Jinyoung segera mengeluarkan ponsel dari saku jas sekolahnya lalu mencarikan nomor ponsel Taecyeon dari daftar kontaknya.

Suzy meraih ponsel Jinyoung untuk melihat kontak Taecyeon lalu segera menyalinnya pada ponsel miliknya. Setelah selesai, Suzy segera menghubungi nomor itu.

Nada tanda panggilan telah tersambung mulai terdengar dari ujung ponsel Suzy. Ia menunggu dengan tidak sabar berharap panggilannya segera dijawab.

—<><>—

Taecyeon sedikit menggeliat dalam tidurnya di bawah teduhnya pohon. Getaran ponsel di saku celananya memaksanya untuk segera bangun dari tidurnya. Akhirnya dengan gerakan malas, ia meraih ponsel itu dan menatap cukup lama memperhatikan sederet nomor tidak dikenal terpampang di layar ponselnya.

Yeobboseo?” Jawabnya malas.

“Ya, Ok Taecyeon-ssi, dimana kau sekarang?” Suara seorang yeoja asing mulai terdengar dari ujung ponsel Taecyeon.

Nuguya?” Taecyeon mulai bangkit dari tidurnya dan terduduk tegak di bawah pohon besar.

“Cepat katakan padaku kau ada dimana?” Yeoja di seberang ponsel kembali mengulang pertanyaannya.

Taecyeon mulai dapat menebak siapa yang menghubunginya saat ini. Kejadian serupa setiap tahun di hari pertama masuk sekolah. Guru-guru baru itu selalu berusaha merubah prilaku pemberontak yang dimiliki Taecyeon.

“Jangan coba mengatur hidupku. Urus saja siswa siswimu yang lain!”

—<><>—

Tutt… tutt.. tutt..

“Ya, Ok Taecyeon!” Teriak Suzy saking kesalnya. “Anak itu sangat tidak sopan! Berani sekali dia memutuskan sambungan telepon saat aku belum selesai bicara!”

Seluruh siswa siswi hanya dapat menyaksikan ekspresi kesal yang kini ditunjukkan Suzy.

Anak itu, belum bertemu saja sikapnya sudah sangat menyebalkan. Aku harus membuatnya menyesal karena telah mengabaikanku. Ucap Suzy dalam hati.

“Apa ini tas milik Taecyeon?” Tanya Suzy sambil meraih tas ransel di bangku kosong yang berada tepat di belakang bangku Jinyoung. Beberapa penghuni kelas mengangguk dan ini membuat Suzy menyimpulkan sendiri bahwa tas itu benar adalah milik siswa bernama Taecyeon. “Aku akan menahan tas ini hingga bel pulang nanti. Suruh ia menghadapku bila ingin tasnya kembali!” Lanjut Suzy penuh amarah.

—<><>—

 

To be continued…

Note: Seperti biasa, aku butuh tanggapan/ comment readers sebelum aku putuskan untuk melanjutkan ff ini atau tidak. Apabila tanggapan readers cukup banyak, kemungkinan besar aku akan posting part berikutnya secepat yang aku bisa.

Mohon kerjasamanya dengan meninggalkan comment setelah membaca setiap postingan ff untuk mendapatkan password di akhir part nanti (apabila ff ini berlanjut). Untuk mengurangi pertanyaan readers, readers yang comment/ jejaknya hanya muncul di beberapa part, tidak akan mendapatkan PW. So, apa kalian sudah merasa menjadi good readers?

Advertisements

67 thoughts on “Please Call Me Seonsaengnim! (Part 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s