The Precious Moment ~ Part 2

Title                 : The Precious Moment (Part 2)

Author             : Bee678 (@Bee_678)

Rating             : PG

Length             : Chapter

Genre              : Drama

Cast                 : Jang Wooyoung, Han Sunhwa, Im Siwan

Disclaimer       : 100% original buatan author kecuali castnya..terinspirasi dari macem-macem..Say No to tukang fotokopi (Plagiat!!)

NB: Posternya aku ganti..hohoho..biar ada Siwannya..hohoho^^ happy reading..GBU all

Sebelumnya: part 1

Semalaman Wooyoung terus memikirkan keadaan Sunhwa dan nasib hubungan mereka. Hingga akhirnya ia sampai pada satu keputusan untuk menemui yeoja itu hari ini. Namja ini sibuk mengurusi penampilannya. Wooyoung sengaja memakai jaket kulit pemberian Sunhwa dan menyemprotkan parfume pasangannya dengan yeoja itu ke beberapa bagian tubuhnya. Ia memandang pantulan bayangannya dari balik cermin di kamarnya dalam diam. Detik berikutnya namja ini menghela nafasnya lalu memaksakan seulas senyum di bibirnya.

“Jang Wooyoung, mulai saat ini perjalananmu akan lebih sulit. Sekali lagi kau harus memenangkan hati seorang Han Sunhwa.” gumamnya sebelum akhirnya meninggalkan kamarnya, bergegas menuju rumah sakit.

Wooyoung memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit. Ia menyambar buket bunga lili putih kesukaan Sunhwa dari kursi penumpang di sebelahnya. Namja ini sengaja membelinya saat di perjalanan menuju rumah sakit. Wooyoung langsung menaiki elevator menuju lantai 7, tempat tunangannya itu dirawat.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari normal. Rasanya lebih gugup dibanding pertama kali ia meminta Sunhwa menjadi kekasihnya. Wooyoung sudah berdiri di depan pintu kamar bernomor 702. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Tangannya sulit sekali digerakan untuk mengeser pintu di depannya padahal otaknya sudah memaksanya melakukan hal itu.

“Jeogiyo…” suara seorang yeoja sukses membuat Wooyoung terkejut.

Ia menoleh ke sumber suara. Selanjutnya namja ini melihat yeoja yang mengenakan pakaian rumah sakit kotak-kota berwarna merah muda berdiri tidak jauh dari posisinya sambil menggiring tiang infusan. Wajah yeoja itu sedikit pucat kontras dengan warna rambutnya yang cokelat. Ia menatap Wooyoung bingung sebelum akhirnya melangkahkan kakinya mendekati namja ini.

“Eonni! Kau dari mana?” seru yeoja lain dari belakang tubuh Wooyoung. Wooyoung kembali memutar tubuhnya dan memastikan suara tadi milik Sulli, adik yeoja di sampingnya ini.

“Aku habis berjemur di taman rumah sakit. Dokter Park yang menyuruh.” jawab Sunhwa disusul anggukan kepala adiknya.

“Oppa, kau di sini juga?” ujar Sulli lalu tersenyum.

“Aku baru datang.” jawab Wooyoung lalu menatap Sunhwa lurus. Untuk beberapa saat Wooyoung dan Sunhwa saling berpandangan, sampai yeoja ini mengakhirnya dengan mengajak kedua orang di hadapannya masuk ke kamar rawatnya.

Sulli membantu sang kakak berbaring di ranjang pasien kemudian memutar alat di bawah tempat tidur Sunhwa agar posisi yeoja itu lebih nyaman. Wooyoung sengaja berdiri agak jauh dari kedua kakak-beradik itu sambil masih menggenggam erat buket bunga yang dibawanya.

“Gomawo.” ujar Sunhwa pada adiknya. Sulli tersenyum dan detik berikutnya kedua yeoja itu memandang Wooyoung bersamaan. Wooyoung yang merasa canggung ditatap seperti itu, langsung menghela nafasnya kemudian bergerak mendekati mereka. Ia menyodorkan buket bunga ditangannya pada Sunhwa begitu dirinya sudah berrdiri tepat di samping tempat tidur yeoja itu.

“Ini untukmu.” kata Wooyoung pelan. Sunhwa menatap buket bunga dan sang pemberi bergantian sebelum akhirnya menerimanya.

“Gomawoyo. Ini bunga kesukaanku.” katanya lalu tersenyum memperlihatkan gusinya. Senyuman yang selalu mampu membuat hati Wooyoung goyah dalam menghadapi sifat keras kepala yeoja ini. Wooyoung mengganguk singkat.

“Aku tahu.” gumam namja itu dengan hati mencelos.

“Hm?” tanya Sunhwa karena tidak dapat mendengar jelas apa yang dikatakan namja di sampingnya. Wooyoung buru-buru mengeleng lalu tersenyum pada yeoja itu.

“Oppa, duduklah!” ujar Sulli sambil mendorong kursi ke arahnya. Wooyoung berterima kasih lalu mengikuti perintah Sulli.

“Maaf, kau ini….”

“Aku Jang Wooyoung.” sela Wooyoung. Sunhwa mengangguk-anggukan kepalanya lalu kembali menggulum senyuman di bibirnya sebelum kembali berucap.

“Wooyoung-shi…” panggil Sunhwa sukses membuat hati namja ini hancur untuk kesekian kalinya. Panggilan itu terdengar asing di telinganya. Wooyoung menelan air liurnya dengan susah payah. Ia menatap Sunhwa dengan sorot mata yang penuh kekecewaan. Dan Sulli menyadarinya dengan sangat jelas karena sekarang, adik Sunwha ini memandang kakak dan kekasihnya itu, hampir menangis. “Mianhe, aku tidak dapat mengingatmu. Apa dulu kita sangat dekat? Kudengar saat aku koma kau datang menjengukku setiap hari.”

Wajah Wooyoung memerah menahan rasa sesak di dadanya. Mendengar langsung dari mulut Sunhwa, bahwa yeoja ini sudah tidak mengingatnya, membuat hatinya sakit berkali-kali lipat.

“Eonni, dia ini tu…”

“Kita bersahabat.” potong Wooyoung sambil menahan tangan Sulli agar yeoja itu tidak melanjutkan perkataannya.

“Jeongmalyo?” tanya Sunhwa tidak percaya. Wooyoung bergeming untuk sesaat sebelum akhirnya menggangguk pelan. Sulli yang tidak tahan melihat pemandangan itu memilih untuk pergi dari kamar rawat sang kakak dengan perasaan gusar dan fustrasi. “Ada apa dengan anak itu?” gumam Sunhwa sambil menatap punggung adiknya yang keluar dari ruangan itu. Wooyoung menunduk sambil mengepal kedua tangannya. Detik berikutnya perhatiannya terusik saat mendengar Sunhwa mengendus-ngendus. “Aku suka wangi parfurmemu. Tidak terlalu menyengat tapi sangat manis.” katanya kemudian. “Harumnya tidak asing di hidungku. Sepertinya aku sering sekali mencium wangi seperti ini.” gumamnya.

Wooyoung mendongak, matanya sirat akan harapan kalau Sunhwa dapat mengingat sesuatu tentang dirinya. Namun nampaknya, yeoja ini tidak berniat untuk berpikir lebih keras. Ingin sekali rasanya Wooyoung berteriak pada Sunhwa, memberi tahukan semua mengenai dirinya, mengenai hubungan mereka, tapi ia tidak mau mengambil resiko membuat yeoja yang sangat dicintainya ini jatuh sakit lagi.

Hening untuk sesaat. Sunhwa yang saat ini merasa canggung dengan keberandaan Wooyoung di sampingnya lebih memilih untuk memain-mainkan jarinya pada bunga pemberian namja itu. Sementara Wooyoung sibuk “memperbaiki” hatinya yang semakin tidak karuan.

Tidak berapa lama kesunyian di antara mereka terpecahkan oleh dering ponsel Wooyoung. Ia merogoh saku celananya dan menarik ponsel hitamnya untuk menerima panggilan masuk tersebut. Mata Sunhwa langsung tertarik pada gantungan HP Wooyoung. Ia menatap manik-manik kaca berwarna biru laut itu dengan kagum.

“Yeppueunda.” gumam Sunhwa membuat konsentrasi Wooyoung teralih dari orang di seberang telepon ke yeoja di hadapannya. Ia menatap Sunhwa yang matanya masih tertuju pada hiasan yang menggantung di HPnya.

“Kau menyukainya?” tanya Wooyoung setelah mengakhiri pembicaraannya di telepon.

“Eh?” tukas Sunhwa sambil menatap Wooyoung bingung namun detik berikutnya ia mengagguk sambil tersenyum. “Aku tidak menyangka namja sepertimu menyukai barang-barang manis seperti itu.” lanjut Sunhwa.

“Ini bukan milikku.” jawab Wooyoung datar tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun pada kedua bola mata Sunhwa.

“Kau mencurinya?” tanya Sunhwa dengan dengan wajah yang dibuat terkejut.

“Aniyo!” ujar Wooyoung cepat disusul suara kekehan yeoja ini. “Ini milik yeoja chinguku. Aku akan mengembalikan barang ini padanya kalau ia sudah sembuh.” lanjut Wooyoung lirih sambil menunduk dan memegang gantungan HPnya itu. Ia mengingat hari dimana ia memberikan benda itu pada yeoja ini.

#Flashback

“Sunhwa-yah, mengapa kau uring-uringan terus sepanjang hari ini?” tanya Wooyoung saat berada di dalam mobil menuju rumah yeoja di sampingnya.

“Jangan berbicara padaku sampai kau tahu apa kesalahanmu!” ujar Sunhwa kesal lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“Sebenarnya apa yang aku lakukan sampai membuatmu marah seperti ini? Aku sungguh tidak mengerti.” tukas Wooyoung sambil sesekali menoleh ke arah yeoja chingunya.

 Dalam hatinya namja ini tahu betul apa yang saat ini dikesalkan oleh Sunhwa. Diam-diam Wooyoung tersenyum melihat tingkah yeoja ini. Sunhwa kesal karena ia berpikir Wooyoung tidak mempersiapkan hadiah White Day untuknya. Sedangkan sejak tadi pagi di kampusnya, hampir semua teman-teman yeojanya memamerkan pemberian namja chingu mereka masing-masing.

Sebenarnya ia bukan tipe yeoja yang peduli dengan hal seperti itu karena Sunhwa memberikan hadiah valentine sebulan lalu bukan untuk mendapatkan balasan. Hanya saja yeoja ini menjadi panas hati setelah Lizzy-musuh bubuyutannya sejak awal masuk kuliah-terus menerus mengatainya.

Tidak lama kemudian mobil Wooyoung tiba di depan kediaman Sunhwa. Yeoja ini keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa. Wooyoung langsung mengejar yeoja chingunya itu dan menahan tangan yeoja ini yang tengah membuka pintu gerbang rumahnya.

“Yaa! Han Sunhwa, Lizzy yang membuatmu kesal tapi mengapa aku yang kau jadiakn pelampiasan?” ujar Wooyoung pura-pura marah.

“DIa tidak akan membuatku kesal kalau saja kau tidak lupa memberiku hadiah white day.” protes Sunhwa akhirnya.

“Kata siapa aku lupa memberimu hadiah white day?” tanya Wooyoung sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Mata Sunhwa melebar seketika. “Lihatlah di kamarmu!” sambung Wooyoung datar.

Kening Sunhwa berkerut menatap namja chingunya bingung.Detik berikutnya mulut yeoja ini menganga kemudian berlari masuk ke rumahnya. Ia langsung menuju kamarnya di lantai 2. Sunhwa membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya saat melihat sepasang boneka beruang putih yang memeluk keranjang berisi aneka macam permen. Sunhwa meraih boneka lucu tersebut dan membaca surat yang tertempel di keranjangnya.

When I see you smile, when I see pretty you
I fall in love more and more
I think of you before I go to bed, I close my eyes and sing of you
I want to be your dream

 

Serangkaian kata-kata manis yang sederhana tapi berhasil membuat hati yeoja ini berteriak girang. Kesenangannya tiba-tiba terusik oleh dering ponsel yang tidak dikenalnya namun berasal dari dalam kamarnya sendiri. Sunhwa mencari-cari sumber suara hingga akhirnya ia mendapati sebuah ponsel putih terkubur diantara tumpukan permen di dalam keranjang.

Ia mengambil ponsel itu kemudian melihat tulisan ‘Perfect Husband’ pada layarnya. Dengan ragu Sunhwa menempelkan ponsel itu ke telinganya, menjawab panggilan masuk tersebut.

“Apa kau terlalu senang sampai kau melupakan keberadaanku di depan rumahmu?” kata namja di seberang telepon. Sunhwa langsung menepuk keningnya sendiri lalu bergegas kembali keluar rumahnya.

“Mwoya? Perfect Husband? Cih, besar sekali kepalamu itu Jang Wooyoung-shi!” ujar Sunhwa begitu tiba di depan pintu rumahnya. Ia menyodorkan ponsel yang dipegangnya pada namja dihadapannya.

“Yaa! Itu kenyataan. Di mana kau akan menemukan namja sepertiku?” kata Wooyoung bangga. Sunhwa mendengus namun jelas sekali pipinya merona merah. Yeoja ini tidak dapat menyembunyikan kesenangannya. “Itu ponsel untukmu!” sambung Wooyoung.

“Mwo? Aku kan sudah punya ponsel. Untuk apa kau memberiku satu lagi?” tanya Sunhwa bingung. Wooyoung meraih ponsel putih di tangan Sunhwa lalu memasangkan sesuatu di sana. “Nomu yeppeunda!” tukas Sunhwa melihat gantungan HP yang baru dipasang Wooyoung pada ponsel barunya.

“Ini ponsel pasangan. Aku sengaja membelinya untukmu. Bukankah kau suka hal kekanak-kanakan seperti ini?” kata Wooyoung sambil memperlihatkan ponsel hitam miliknya. Sunhwa tersenyum lalu mengangguk pelan. “Dan gantungan ini sengaja aku pilih untukmu. Karena kupikir akan cocok bila kau yang mengenakannya.” katanya lagi sambil menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. Sunhwa bergeming. Ia menatap ponsel baru dan gantungannya bergantian tanpa menghilangkan senyumannya. “Jadi, apa kau masih mau marah-marah padaku? Aku heran dengan para yeoja yang sangat memusingkan hari-hari seperti ini. Dan aku baru menyadari satu hal, ternyata kau tidak tulus memberiku hadiah Valentine.” protes Wooyoung sambil memasang wajah kesal.

“Aniyo! Aku tulus, sangat tulus. Hanya saja aku akan lebih mencintaimu bila kau membalasnya.” jawab Sunhwa asal lalu tertawa. Wooyoung mendengus.

“Besok kau bisa memamerkan hadiah-hadiahmu ini pada Lizzy-shi!” sindir Wooyoung. Sunhwa langsung menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. “Yaa! Kau tidak mau mengatakan apa-apa padaku?” tanya Wooyoung dengan alis berkerut. Sunhwa mendongakkan kepalanya menatap namja di hadapannya.

“Gomawo.” katanya lebih terdengar berbisik.

“Cih! Saat marah-marah kau bisa berteriak sampai telingaku sakit. Tapi mengatakan terima kasih malah berbisik seperti itu.” protes Wooyoung.

“Berisik! Sudah sana pulanglah!” ujar Sunhwa yang salah tingkah. Wooyoung mengeleng-gelengkan kepalanya lalu beranjak pergi dari rumah yeoja chingunya ini. “Jamkkanman!” ujar Sunhwa sambil menahan tangan Wooyoung.

Namja ini kembali memutar tubuhnya menghadap yeoja itu. Sunhwa terlihat berpikir sesaat sambil menatap lurus namja di depannya. Wooyoung mengerenyit, menunggu apa yang mau dikatakan Sunhwa. Detik berikutnya bibir Sunhwa mendarat di bibirya sekilas. Mata Wooyoung melebar karena terkejut. Sunhwa buru-buru meninggalkan namja itu, masuk kerumahnya sambil menunduk.

Untuk beberapa saat Wooyoung masih membeku di tempat. Ia menyentuh bibirnya sendiri, masih tidak percaya apa yang baru saja dilakukan Sunhwa padanya. Sampai akhirnya perlahan-lahan sebuah senyuman terukir di wajahnya. Pipinya merona dan selanjutnya Wooyoung berjingkrak-jingkrak di depan rumah Sunhwa.

“Han Sunhwa, saranghaeyo!” teriaknya lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.

# Flashback End

Sunhwa berhenti tertawa lalu menatap namja di sampingnya dengan perasaan bersalah.

“Mianhe, aku tidak tahu. Memangnya yeoja chingumu sakit apa?” tanya Sunhwa. Wooyoung mendongakkan kembali kepalanya untuk menatap lawan bicaranya ini. Ia terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan yeoja itu.

“Sama sepertimu. Dia tidak mengingatku sama sekali. Padahal seharusnya kami sudah bertunangan kemarin. Tapi..” Wooyoung tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat mata yeoja di hadapannya ini berkaca-kaca. “Waegurae, Sunhwa-yah?” tanya Wooyoung bingung. Sunhwa mengelengka kepalanya kuat-kuat sambil menggosok matanya sendiri.

“Ani. Hanya saja aku seperti dapat merasakan bagaimana perasaanmu saat ini. Dan tiba-tiba saja air mata ini ingin keluar.” katanya. Hati Wooyoung mencelos. Namun ada sedikit perasaan lega di sana saat mendengar ucapan Sunhwa tersebut. Wooyoung tersenyum tipis sambil mengelus pelan puncak kepala Sunhwa. “Wooyoung-shi, kau tenang saja! Aku yakin yeoja chingumu itu akan segera sembuh dan akan kembali ke sisimu secepatnya.” ujar Sunhwa kemudian lalu menepuk-nepuk bahu kanan Wooyoung. Senyum di wajah Wooyoung semakin lebar kemudian namja ini mengangguk.

“Kalau begitu, apa aku boleh minta bantuanmu?” tanya Wooyoung sambil berdiri dari tempat duduknya. Sunhwa mengangguk lalu menunggu Wooyoung menyelesaikan kalimatnya. “Aku ingin menitipkan ini padamu.” lanjut Wooyoung sambil menyodorkan gantungan HP yang baru ia lepaskan dari ponselnya sendiri.

“Waeyo?” tanya Sunhwa bingung sambil menerima gantungan HP itu.

“Seperti yang kau katakan, aku percaya yeoja chinguku akan segera mengingatku kembali. Selama itu, aku ingin kau menjaganya untukku.”

“Iya tapi kenapa tidak kau jaga sendiri? Ini kan barang yang berharga untukmu.”

“Itu jauh akan lebih berharga bila berada di tangan orang tepat.” gumam Wooyoung.

“Eh?” tanya Sunhwa bingung. Wooyoung menggeleng lalu tersenyum.

“Pokoknya aku ingin kau menjaganya. Karena aku percaya padamu lebih daripada diriku sendiri.” jawab Wooyoung mengakhiri. “Sepertinya aku harus pergi dari sini. Aku akan sering-sering kemari.” sambung Wooyoung lalu beranjak hendak keluar.

“Wooyoung-shi!” panggil Sunhwa. Wooyoung kembali menoleh. “Aku akan menjaga barang ini untukmu. Kau jangan menyerah, ya! Dan aku minta maaf karena sebagai sahabat, justru aku juga melupakanmu. Jeongmal mianheyo.” katanya merasa bersalah.

“Gomawo. Kau juga harus cepat sembuh Han Sunhwa!”  ujar Wooyoung sambil tersenyum lalu keluar dari kamar itu.

Wooyoung menyandarkan dirinya pada pintu di belakanngnya. Ia menghela nafasnya. Tubuhnya terasa lelah sekarang. Namun di saat yang sama, ia juga mendapatkan suntikan semangat dari yeoja yang disayanginya. Gomawo, Sunhwa-yah, kau yang telah meyakinkanku untuk terus mengerjarmu hingga akhir, batin Wooyoung lalu bergeges pergi meninggalkan rumah sakit.

“Oppa!” panggil Sulli saat Wooyoung masuk ke dalam elevator. Yeoja ini mengikuti calon kakak iparnya, masuk ke dalam kotak besi itu. “Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? Wae? Kau membuatku kesal!” protes Sulli setelah Wooyoung menekan salah satu tombol di sisi kiri lift.

Wooyoung memutar tubuhnya menghadap yeoja yang kini menatapnya dengan kening berkerut. Ia memegang pundak yeoja yang sudaa ia anggap sebagai adiknya sendiri lalu tersenyum.

“Apa kau mau membuat kakakmu sakit lagi?” tanya Wooyoung sambil menatap lurus mata Sulli. “Terima kasih kau telah mencemaskan hubunganku dengan kakakmu, Sulli-yah! Tapi kau tenang saja. Aku sudah memutuskan untuk membuat Sunhwa mencintaiku sekali lagi. Aku tahu itu akan cukup sulit. Tapii aku optimis akan hal itu.” sambung Wooyoung sebelum Sulli mengeluarkan suaranya. “Aku membutuhkan dukunganmu. Dan untuk saat ini, sebaiknya kita tidak perlu mengungkit masalah pertunangan di hadapannya. Araso?” Sekali lagi Wooyoung berucap membuat Sulli mengatupkan mulutnyanya lalu mengangguk pasrah.

Wooyoung tersenyum lalu mengacak-acak rambut yeoja di hadapannya itu membuat yeoja ini mendengus kesal. Detik berikutnya pintu lift terbuka di depan basement rumah sakit. Wooyoung memeluk Sulli sekilas sebelum keluar dari lift ini.

“Oppa, Hwatting!” seru Sulli sambil mengacungkan sebelah tangannya ke udara.

“Gomawo! Jagalah Eonnimu dengan baik.” balas Wooyoung disusul anggukan kepala Sulli. Kemudian pintu lift kembali tertutup.

***

Siang ini Sunhwa ditinggal sendiri di kamar rawatnya. Sulli masih sekolah, Appanya mendadak harus pergi ke Jepang untuk urusan bisnis, sedangkan sang Eomma baru bisa menemaninya di rumah sakit menjelang sore. Sunghwa berguling-guling di atas tempat tidurnya kemudian menyalakan televisi dan mulai mengganti-ganti chanelnya.

Karena merasa tidak ada siaran yang menarik, Sunhwa mematikan televisi dihadapannya itu. Ia menyambar ponsel baru yang diberikan Eommanya kemarin, lalu mulai bermain game di sana. Namun 5 menit kemudian, kebosanan itu melanda dirinya lagi. Sunhwa menghela nafas lalu menggembungkan pipinya. Ia berpikir sebentar, apa yang sebaiknya ia lakukan agar tidak berjamur di kamarnya. Detik berikutnya ia tersenyum sambil menjentikkan jarinya kemudian bergegas keluar dari kamarnya.

Sunhwa berniat untuk berjalan-jalan ke sekeliling rumah sakit ini. Untung saja infusan di tangannya sudah boleh dilepaskan sehingga ia tidak perlu menggiring tiang pengait infuse yang merepotkan. Yeoja ini celingukan di sepanjang koridor rumah sakit. Ia naik turun gedung besar ini dengan lift dan melewati hampir semua klinik yang ada di rumah sakit. Sunhwa paling betah berada di lantai 3, di mana ia dapat melihat bayi-bayi mungil yang baru lahir di sana.

“Hah, mengapa waktu ini terasa begitu lama? Aku bosaaaaann!!” gerutu Sunhwa setibanya kembali di lantai 7, tempat kamar rawatnya berada.

Dengan enggan yeoja ini menyeret kakinya kembali ke ruangannya. Ditengah jalan, tiba-tiba ia mengerang sambil memegangi perutnya. Sunhwa mempercepat langkahnya bahkan setengah berlari menuju kamarnya, tepatnya menuju toilet di kamar rawatnya.

Saat tinggal beberapa langkah lagi ke ruangannya, Sunhwa dikejutkan dengan kemunculan seorang namja yang keluar mendadak dari kamar rawat yang berada tepat di samping kamarnya. Yeoja ini tidak sempat menghentikan larinya hingga akhirnya tubuhnya menabrak tubuh namja itu cukup keras. Sunhwa terhuyung beberapa langkah ke belakang dan hampir terjungkal kalau saja namja yang ditabraknya tadi tidak cepat-cepat menarik tangannya.

Yeoja ini memegangi keningnya yang masih diperban sambil meringis karena terasa nyeri akibat tabrakan tadi. Namja itu melepaskan gengaman tangannya lalu menatap lurus ke arah Sunhwa.

“Mianhe juga Gomawo karena sudah menolongku” ujar Sunhwa dengan kepala tertunduk.

“Kau tidak apa-apa?” tanya namja itu datar.

“Aku tidak ap…” Sunhwa tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihat namja dengan kamera SLR tergantung di tangan kanannya, sedang menatapnya tajam. Seketika sakit perut dan nyeri di kening yeoja ini menghilang. Matanya menatap namja itu tidak berkedip. Namja tampan, tinggi, berkulit putih, dengan sorot mata yang tetap terkesan lembut meskipun namja ini mencoba memperlihatkan sisi dinginnya.

“Apa ada yang salah pada wajahku?” kata namja itu akhirnya karena risih dengan sikap Sunhwa. Yeoja ini buru-buru menggelengkan kepalanya.

“Aaw..” seru Suhwa sambil kembali memegangi keningnya. Yeoja ini menggeleng terlalu kuat hingga kepalanya terasa berdenyut.

“Babo!” gumam namja itu sukses membuat Sunhwa melotot.

“Mworago? Tadi kau mengataiku apa?” protes Sunhwa. Namja itu mendengus lalu memandang Sunhwa dengan tatapan meremahkan sebelum akhirnya pergi melewati yeoja itu. “Yaa! Kemari kau!” teriak Sunhwa sambil membalikkan tubuhnya. Namun namja yang diteriaki sama sekali tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan sampai berbelok di ujung koridor ini. “Namja kurang ajar! Berani-beraninya mengataiku babo padahal dia sama sekali tidak mengenalku! Percuma aku mengaguminya tadi!” gerutu Sunhwa dengan suara yang cukup keras hingga membuat beberapa orang di koridor itu menatapnya heran. Merasa diperhatikan, yeoja ini pun bergegas menuju kamarnya sambil menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.

***

“Siwan-yah, kau di mana? Cepat ke lokasi! Modelnya sudah menunggu!” seru Kwanghee di seberang telepon.

“Araso. Aku sudah di jalan.” jawab namja bernama Im Siwan sambil berjalan keluar dari gedung rumah sakit.

“Kau ke rumah sakit lagi? Yaa! Sampai kapan kau akan seperti ini?” kata Kwanghee kesal.

“Bukan urusanmu! Lima belas menit lagi aku sampai.” tukas Siwan kemudian memutuskan telepon dari rekan kerjanya itu. Ia melangkahkan kakinya menuju motor besar yang diparkirnya di samping gedung rumah sakit. Sebelum menjalankan motor kesayangannya itu, namja ini sempat memegangi dadanya yang terasa nyeri karena benturan keras yang dialaminya dengan Sunhwa. Siwan berdecak sebelum akhirnya menggas motornya menelusuri jalan sepi di depannya.

To Be Continued
Hohohohoho..mian kalo sedikit acak kadut..heheheeh..tolong komennya..makin banyak aku makin semanget..kalo mu kasih masukan apalagi..hehehehe..gomawoo^^

INFINITE LOVE udah sampe part 7..ga akan aku post di sini lagi soalnya..ayo kalau ada yangbersedia mampir..aku senang sekali..hohoho^^

13 thoughts on “The Precious Moment ~ Part 2

  1. hmmm… yg mana ajah ini mukanya, ya? hahaha.. but pretty good! better than Kay.. hahahahaha… bercanda eonni.. post di WP lo juga atuh.. sepi banget disini.. +_+!!

  2. astaga! Woo, kenapa kamu nggak ngenalin diri sebagai tunangan sama Sunhwa, malah ngenalin diri sebagai sahabat. gimance sih? >< (nggak tahu kenapa aku justru lebih setuju Sunhwa sama Siwan daripada sama Woo *plak*)
    oke, ditunggu part selanjutnya. 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s