Threesome (Part 2)

A Story by Pseudonymous

Title: Threesome || Main cast: 2PM’s Nichkhun, SNSD’s Tiffany & Super Junior’s Siwon || Genre: Romance, Life, Friendship & Shounen-Ai || Length: Chapter || Rating: PG-15 || Disclaimer: My plot for sure. || Credit poster: Kihyukha || Previous part: Teaser, Part 1

***

Dua kata: kebun binatang.

Begitu memasuki apartemen Tiffany, Nichkhun disambut aura menjijikkan itu. Piring-piring kotor yang belum sempat dicuci—atau terlalu malas untuk dicuci—menumpuk di atas wastafel dapur, baju-baju kotor yang ada di mana-mana, dan karpet yang berdebu dan penuh oleh remah-remah keripik. Benar-benar chaos.

“Kau ini perempuan atau bukan, sih?” gerutu Nichkhun sambil memandang berkeliling.

“Aku belum sempat membersihkan apartemenku sendiri, Khun. Jadi, wajar saja keadaannya kacau begini.” Tiffany berjalan menuju ke kulkas.  “Kau mau minum apa?”

“Air putih saja,” sahutnya sambil duduk di sofa.

Walau Nichkhun tidak pernah setuju dan suka dengan gaya hidup Tiffany yang urak-urakan dan cuek, tapi diam-diam Nichkhun menyimpan kekaguman tersendiri pada sosok tegar Tiffany yang tetap bertahan di tengah badai perceraian kedua orangtuanya, lalu memutuskan untuk hidup berpisah dari orangtuanya bersama adik perempuannya, Jessica. Sungguh bukan keputusan yang mudah dibuat dan dijalani.

“Ini.”

Nichkhun meraih gelas air putih yang ditawarkan Tiffany dan menggeser bokongnya, membiarkan Tiffany duduk bersampingan dengannya.

“Di mana Jessica?”

“Jessica?” Tiffany berusaha kuat menarik lepas pembuka kaleng birnya dan melanjutkan, “Menginap di rumah temannya, katanya ingin mengerjakan tugas sekolah.”

“Oh.”

Nichkhun mengawasi Tiffany di sebelahnya yang masih berusaha menarik pembuka kaleng birnya. Nichkhun ikut merengut—mengikuti mimik Tiffany—dan mulai merasa khawatir dengan ujung jari telunjuk Tiffany yang mulai memerah. Karena tidak tahan lagi, Nichkhun akhirya merebut kaleng bir itu dan menjauhkannya dari Tiffany.

“Ada apa?” tanya Tiffany, heran.

“Lihat!” Nichkhun mengangkat jari telunjuk Tiffany. “Tanganmu sudah memerah karena mencoba terlalu keras. Dan berhentilah minum bir. Tidak baik untuk kesehatan.”

Tiffany mengangkat sebelah alisnya dan mengulum senyum. Ia memangku dagu dan mengamati wajah Nichkhun—yang sedang meneguk air putih—lamat-lamat.

“Khun..” panggilnya

“Apa?” sahut Nichkhun, meletakkan gelas kosong itu di atas meja.

“Apa kau ini benar-benar tidak tertarik dengan perempuan?”

Alis Nichkhun merengut bingung.

“Selama ini kau selalu perhatian padaku,” lanjut Tiffany. “Apakah itu tidak menandakan sesuatu?”

Nichkhun balas mengamati wajah Tiffany yang sedang mengulum senyum kearahnya. Untuk pertama kali, ia tidak bisa mengartikan senyum itu, apakah Tiffany hanya sedang mencoba untuk menggodanya ataukah ia benar-benar serius dengan pertanyaannya barusan.

Nichkhun menepuk lembut puncak kepala Tiffany dan berdiri. “Jangan bertanya yang aneh-aneh lagi,” katanya sambil tertawa pelan. “Aku hanya memberikan perhatianmu sebagai seorang sahabat dan tidak akan pernah lebih dari itu.”

Tiffany mengerutkan bibirnya dan berlagak kecewa. Ia mengawasi Nichkhun yang berjalan menuju kamar mandi dan menghilang di baliknya.

“Tapi aku tidak percaya,” sahut Tiffany pelan.

***

Nichkhun berdiri di beranda apartemen dengan ponsel di tangannya. Ponsel itu diputar searah jarum jam, sementara layarnya berkedip-kedip. Ibunya menelepon, tapi Nichkhun tidak kunjung mengangkatnya. Ia berusaha keras untuk tidak melirik nama ibunya, tapi selalu gagal. Ibunya sudah pasti mengkhawatirkannya. Ini tidak sesuai perjanjian. Nichkhun bilang ia hanya akan pergi menonton Busker Busker, tapi tidak mengatakan soal rencananya menginap di apartemen Tiffany. Ibu mana yang tidak akan khawatir?

“Khun!” Tiffany berdiri di ambang pintu kaca yang membatasi beranda dan ruang tengah. “Masuklah. Udara di luar sangat dingin.”

Tiffany masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Nichkhun di belakangnya. Keadaan kamar Tiffany jauh lebih baik daripada di luar. Disini suasananya sedikit bersahabat dan hangat. Nichkhun cukup menyukainya, walau ia masih merasa risih melihat meja rias Tiffany yang penuh oleh botol parfum, kotak bedak, dan segala jenis rias lainnya, tampak tidak teratur.

“Kupikir kau tidak mau menginap di ‘kebun binatang’ ini, Khun,” sindir Tiffany. Ia mendelik kearah Nichkhun melalui refleksi cermin—gadis itu sedang mengenakan handbody pada kulit lehernya.

Nichkhun menatap layar ponselnya. Ibunya sudah berhenti menelepon.

Tiffany melirik ponsel Nichkhun dan mengerutkan alis. “Khun, kau sedang mendengarkanku, bukan?”

“Aku mengantuk,” kata Nichkhun, mengabaikan pertanyaan Tiffany.

Nichkhun naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. Tiffany berbalik menatap punggung itu dan mendesah kecewa. Ia mengenal Nichkhun dengan baik. Nichkhun tidak pernah betah bertahan di keadaan kacau—seperti apartemen Tiffany—tapi melihat Nichkhun yang tetap bersikeras, pasti ada suatu alasan yang memaksanya untuk meninggalkan rumah sementara waktu. Tiffany baru saja teringat akan sikap Nichkhun yang dingin pada ayahnya.

“Pasti ia bertengkar dengan ayahnya.”

***

“Kau sudah menghubungi gadis itu?”

Siwon mengangkat wajah dari sarapannya. “Siapa?”

“Itu,” Eunhyuk menyuapi mulutnya dengan sepotong sosis utuh. “Yang kitfa temfui fi gfas stafsion maflam kemfarfin!” katanya dengan mulut penuh.

“Telan dulu makananmu, Bodoh!”

Eunhyuk mengunyah makanannya dengan cepat dan tiba-tiba terbatuk karena tersedak makanan. Ia menepuk-nepuk dadanya yang mendadak sesak dan memejamkan mata erat-erat.

“Sudah kubilang, kan, makan pelan-pelan saja,” kata Siwon. Ia melirik kiri dan kanan mencari minum. “Kau kan bukan buaya! Ini, minum.”

Siwon memberikan gelas air putih miliknya dan mengusap-usap punggung Eunhyuk.

Eunhyuk mendelik. Ia berusaha menjauhkan tangan Siwon, tetapi sulit, karena ia sendiri pun masih minum. Setelah merasa mendingan, didorongnya pelan tubuh Siwon agar menjauh.

Siwon mengerjap bingung. “Kenapa?”

Eunhyuk melotot sambil mendesis, “Kau ini mesra sekali. Tidak perlu sampai mengusap punggungku seperti itu.”

Tapi, Siwon tidak mau berhenti. Ia berusaha mengelus punggung Eunhyuk lagi, tetapi Eunhyuk menepisnya dengan tega.

“Kenapa?” sungut Siwon, kesal. “Aku kan hanya ingin menolongmu.”

“Aku hanya tersedak, belum mau mati,” desis Eunhyuk.

Siwon kembali ke tempat duduknya dan menekuk wajahnya. “Lagipula aku hanya mengusap-usap punggungmu, bukan memberi napas buatan.”

“Maksudku..” Eunhyuk menahan emosi di ujung lidahnya. “..ah, sudahlah.”

Keduanya terdiam dalam kecanggungan yang menyiksa setelah adegan menggelikan tadi. Eunhyuk berdeham keras untuk menyita perhatian Siwon dan kembali melanjutkan percakapan mereka yang sempat terpotong.

“Oh yah, soal yang tadi.”

“Apa?” Siwon menatapnya sekilas, lalu menunduk menatap garpunya.

“Gadis yang kita temui di gas station semalam. Kau ingat, kan?”

“Ada apa dengannya?”

“Kau tidak mencoba menghubunginya semalam?”

Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Untuk apa? Aku tidak mengenalnya!”

“Justru karena itu, Bodoh!” Eunhyuk berseru dengan gemas. “Kau meneleponnya untuk berkenalan dengannya.”

Siwon menggeleng. “Aku tidak tertarik.”

“Kau ini benar-benar homo, yah?”

Siwon tertegun di kursinya. Garpunya bergetar di ujung tangan. Eunhyuk mengamatinya dengan aneh.

“Siwon?”

“Y-ya?” Siwon menyahut gugup. “Aku sebenarnya baru saja berencana untuk menghubungi gadis itu,” lanjutnya. “Tenang saja.”

Eunyuk tertawa. “Bagus! Itu baru temanku!” serunya sambil menepuk-nepuk punggung Siwon.

Sementara Eunhyuk melanjutkan sarapannya, Siwon telah kehilangan selera makan.

***

Ayahmu akan pulang dari Inggris sebulan lagi. Kau tahu itu, kan?”

Siwon menghela napas berat dan mengangguk. “Aku tahu.”

Ia ingin bertemu denganmu di hari ia pulang nanti. Pastikan kau membawa seorang gadis untuk kau kenalkan. Jangan membuat masalah lagi, mengerti?”

Ne, oemma. Aku tahu.”

Siwon menutup telepon, lalu menghempaskan diri di atas tempat tidur. Hari ini adalah hari Minggu. Hari yang meresahkan untuk kaum remaja seperti dirinya. Weekend yang akan segera berakhir dan tugas kampusnya belum juga diselesaikan. Dan sekarang, beban pikirannya ditambah oleh kabar mengenai kedatangan ayahnya dari Inggris.

Siwon tidak punya banyak kenangan indah bersama ayahnya kecuali beberapa kenangan menyakitkan yang masih meninggalkan bebas di pergelangan kakinya—ia pernah dipukul beberapa kali dengan rotan oleh ayahnya karena pulang larut malam. Rasa trauma itu tetap menghantuinya. Bahkan walau ia tahu bahwa pria yang pernah menyakitinya itu adalah ayah kandungnya.

Ibunya sudah menegaskan bahwa kali ini pertemuan itu tidak boleh salah. Siwon harus membawa seorang gadis untuk diperkenalkan sebagai calon istrinya. Tapi, siapa?

Siwon mencengkeram rambutnya dengan frustasi, lalu teringat akan sesuatu. Ia cepat-cepat mengambil ponselnya dan menatap nama kontak itu. Gadis Asing.

“Apakah aku sungguh-sungguh harus menghubunginya?”

Siwon tidak terlalu yakin, tapi bisa apa? Ini kesempatan terakhirnya. Ia hanya punya gadis ini, jadi ia memberanikan diri memutar nomor telepon gadis itu dan mendekatkan ponsel ke telinga.

***

Tiffany terbangun oleh suara berisik yang berasal dari meja rias. Gadis itu membuka mata dengan susah payah dan melihat ponsel Nichkhun bergetar di atas meja.

“Khun,” Ia mengerang sambil menendang bokong Nichkhun yang masih tertidur pulas di sebelahnya. “Ada telepon.”

Nichkhun balas menggeram. Tapi tidak berniat untuk bangun dan mengangkat telepon.

“Khun!” seru Tiffany.

Lagi-lagi, Nichkhun hanya menggeram.

Tiffany melongok dan mendapati mata Nichkhun masih terpejam rapat. Percuma saja, pikirnya, kesal. Gadis itu beranjak dari tempat tidur dengan susah payah, lalu mengangkat telepon.

“Halo?”

Halo?”

“Ya?”

Masih ingat denganku?”

Tiffany merengut. “Kau? Kau siapa?”

Aku Siwon. Yang bertemu denganmu saat di gas station kemarin malam. Sekarang ingat?”

“Siwon?”

Tiffany memutar otaknya, lalu sejurus kemudian menjerit kaget. “Siwon! Ya Tuhan, aku ingat.”

Nichkhun menggeram lagi. Ia sepertinya terganggu dengan jeritan Tiffany. Gadis itu melirik Nichkhun hati-hati dan mengendap-endap keluar kamar, menuju beranda—tempat yang paling aman.

“Maaf,” kata Tiffany. “Aku lupa menghapus nomormu.”

Y-ya?” Siwon menyahut canggung, sekaligus bingung.

“Eh, tidak-tidak,” ralat Tiffany. Ia menepuk dahinya dan mengutuk dirinya. “Ada apa kau meneleponku?”

Aku ingin mengajakmu makan siang hari ini. Boleh, kan?”

“Makan siang?”

Ya. Bagaimana? Kau mau, kan? Aku akan menjemputmu kalau kau mau.”

Tiffany tidak tahu maksud pemuda bernama Siwon ini. Lagipula, ia juga tidak sempat melihat dengan jelas wajahnya karena pencahayaan di dalam mobil malam itu begitu minim. Tapi, jika ditawarkan makan siang gratis, siapa yang akan menolak?

“Baiklah,” sahut Tiffany, setuju. “Kita akan makan siang bersama.”

***

Ting, tong.

“Khun, tolong bukakan pintunya!” Tiffany melongok dari balik pintu kamar mandi.

Nichkhun dengan susah payah membuka matanya dan menguap. Ia melirik kearah jam dinding di seberang ranjang dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit.

Ting, tong.

“Khun! Tolong!” seru Tiffany, gemas.

“Iya, iya,” omelnya, sambil memulai langkah pertamanya hari itu.

Nichkhun menyurukkan kakinya ke sandal, diikuti oleh kaki satunya lagi.

Ting, tong.

“Ya Tuhan, tidak sabaran sekali!” geramnya dengan suara serak.

Begitu pintu dibuka, mata Nichkhun disambut pemandangan menyenangkan seorang pemuda yang tampak sebaya dengannya dengan setelan rapi dan wangi. Refleks, jari-jari tangannya menyisir rambutnya.

“Cari siapa?” tanya Nichkhun dengan suara seramah mungkin.

Baru saja si pemuda asing hendak menjawab pertanyaannya, tahu-tahu Tiffany menyeruak dari belakang Nichkhun dengan rusuh. Nichkhun sampai nyaris terjungkal ke belakang dan terhimpit ke pintu.

“Siwon?”

Siwon tersenyum ramah dan mengangguk. “Hai,” sapanya pada Tiffany.

“Masuklah. Kita mengobrol sebentar di dalam.”

Okay.”

Sementara Siwon masuk ke dalam, Tiffany terkikik-kikik geli.

“Tampan juga,” bisiknya di telinga Nichkhun.

“Cih.” Nichkhun mengernyitkan hidung. Jijik karena mendengar komentar Tiffany, walau ia sendiri tidak menampik bahwa Siwon memang good-looking.

Tiffany hanya melengos. “Bagaimana penampilanku?” Tiffany mengerjap-ngerjapkan mata penuh harap.

“Jelek sekali,” desis Nichkhun kejam. Matanya mendelik ke rambut Tiffany. “Rol rambutmu! Sungguh indah dipandang!”

Tiffany panik. Buru-buru ditariknya rol-rol rambut di kepalanya, sambil mengomel, “Ya Tuhan, hancur sudah reputasiku karena rol-rol sialan ini!”

Nichkhun memutar bola matanya risih. “Cih.”

***

“Maafkan atas kelancangan temanku kemarin malam,” kata Siwon, membuka percakapan siang itu. “Eunhyuk memang agak sedikit eksentrik.”

Tiffany tertawa. Nichkhun mendelik kearahnya dan tidak pernah melihat Tiffany tertawa seantusias itu. Demi Tuhan, bahkan perkataan Siwon tidak terdengar lucu, kenapa ia harus tertawa? Sinting!

“Tidak apa-apa,” sahut Tiffany setelah tawa yang dibuat-buatnya itu mereda. “Tapi, kenapa kau harus repot-repot mengajukan permintaan maaf dengan mengajakku makan siang?”

“Cih, bilang saja kau sebenarnya senang juga diajak makan siang secara gratis,” desis Nichkhun.

Tiffany mendelik kearah Nichkhun, sementara itu Nichkhun hanya berpura-pura membuang muka, memasang tampang innocent-nya yang khas.

“Jangan dengarkan ia,” kata Tiffany pada Siwon. “Ia sinting.”

Siwon melirik Nichkhun yang masih membuang muka dan ikut terkekeh.

***

Siwon membawa Tiffany pergi ke salah satu restoran favoritnya di daerah Gangnam. Seumur hidup, Tiffany belum pernah masuk ke dalam restoran semewah itu dan ia sukses dibuat menganga dengan suasana bintang lima yang coba diciptakan restoran itu. Tiffany merasa sangat istimewa dan refleks mengubah gaya jalannya bak seorang artis. Tapi ia juga agak menyesali pilihannya soal pakaian yang ia gunakan saat itu—kemeja flannel andalannya dan jeans biru pucat—yang sama sekali tidak cocok dengan suasananya.

“Kau ingin pesan apa?” tanya Siwon begitu mereka sampai di salah satu meja di dekat jendela.

“Ehm..” Tiffany menggumam cukup lama. Ia mengerutkan alis beberapa kali ketika mendapati nama-nama menu yang aneh dan asing di telinganya. “Aku..”

“Hm?”

Tiffany menutup buku menu itu dan menyeringai. “Aku pesan apa saja yang kau pesan.”

Siwon tertawa pelan. “Okay.”

Seusai memesan makanan, keduanya duduk dengan canggung sambil menikmati anggur. Tiffany memutar-mutar gelas anggurnya hingga cairan merah di dalamnya ikut berputar. Sementara itu, Siwon mengamatinya dengan geli dari seberang meja.

“Apakah Nichkhun itu kakak laki-lakimu?” tanya Siwon.

“Hm? Bukan.” Tiffany menggeleng. “Ia temanku, lebih tepatnya sahabatku, walau kelakuannya kadang tidak bersahabat,” kekehnya.

“Oh yah? Hubungan kalian terlihat lebih dari itu,” ujar Siwon, menanggapi. “Aku tadinya berpikir kalau ia kakak laki-lakimu atau pacarmu.”

“Tidak. Tidak.” Tiffany tertawa. “Ia tidak akan pernah mungkin menjadi pacarku,” sahut Tiffany sambil tersenyum sedih.

Siwon merengut bingung. “Kenapa?”

“Ia tidak menyukaiku.”

“Mana mungkin? Kau kan cantik.”

“Tidak. Khun tidak suka yang ‘cantik’.”

Siwon berdeham. “Apa ia suka yang ‘tampan’?”

Tiffany mengangkat wajah. “Apa?”

Siwon cepat-cepat membuang muka. “Hm, bukan apa-apa.”

***

“Bagaimana kencanmu dengan Siwon kemarin?”

Tiffany membuka tutup botol air mineralnya dan menyahut, “Biasa saja.”

“Oh.”

Tiffany mendelik kearah Nichkhun. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal Siwon? Apakah..” Tiffany mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “..kau menyukainya?”

“Apa-apaan sih kau ini!” gerutu Nichkhun, kesal. “Ia bukan tipeku.”

Tiffany mengangguk-angguk seperti anak anjing dan menarik tubuhnya. “Baguslah kalau begitu. Aku jadi tidak perlu merasa canggung lagi jika berdekatan dengannya.”

Nichkhun menatap Tiffany dengan sorot tajam. “Memangnya kau benar-benar menyukainya?”

“Kupikir begitu.”

Nichkhun menatap garpunya, lalu meletakkannya di tepi piring. Ia sedang meneguk air mineralnya ketika seseorang datang ke meja mereka.

Sunbae,” gadis itu membungkuk sopan pada Nichkhun. “Aku membuatkan cokelat untukmu. Mohon kau terima.”

Nichkhun menatap kotak makanan yang berisi karakter-karakter kartun lucu yang dibuat dengan cokelat itu dengan lelah. Lagi-lagi, ia disudutkan dengan sikap perhatian para penggemarnya dan tidak mempunyai pilihan lain selain menerimanya. Nichkhun baru saja mengulurkan tangan dan hendak meraih kotak makanan itu, namun tangan Tiffany sudah mendahuluinya.

Ya, sudah berapa kali kukatakan pada kalian para junior, berhenti bersikap centil pada Nichkhun!” kata Tiffany, kesal. “Bawa cokelatmu itu kembali dan kembali ke mejamu!”

Gadis malang itu menunduk malu, lalu kembali membawa kotak cokelatnya dengan kecewa. Nichkhun dengan takjub memerhatikan Tiffany yang terengah-engah karena amarah. Ini pertama kalinya ia melihat Tiffany meluapkan kemarahannya di depan banyak orang.

“Wow!” Nichkhun tertawa. “Terimakasih, Tiffany. Aktingmu sungguh membantu.”

“Ini tidak lucu, Bodoh!” bentak Tiffany marah, lalu melengos pergi.

Nichkhun mengangkat alis. Ia merasa tidak salah bicara, tapi kenapa Tiffany harus benar-benar marah?

To be continued.

136 thoughts on “Threesome (Part 2)

  1. Nickhun gay ato nggak sih?

    Taapi bagus lah kalo nichkun cemburu sama tiffany, eh tapi itu suka sama siwon yah?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s