영원히 (Forever)

영원히(Forever) by bluemallows

Main Cast: Lee Junho & Bae Suzy || Genre: Romance, School Life, Angst || Length: Oneshoot || Disclaimer: Terinspirasi dari berbagai drama, novel, atau film. || Credit Poster: erlyRine || Recommended Backsound Music: Suzy – I Still Love You, Baek Ah Yeon – Sad Song, Lee Jung- Sad Love.

  • i.  untuk masa lalu; ii. Untuk  masa sekarang.

//

“Kurasa Suzy tidak pernah mencintaiku,” Ujar Junho dengan suara lirih

“Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?”

Pemuda-tujuh-belas-tahun itu memandang ke arah lapangan basket yang sedang ramai oleh sepuluh siswa anggota tim utama basket kelas 12 dengan tatapan kosong.

“Suzy tidak pernah berkata bahwa ia mencintaiku.”

Minyoung tertawa ringan, “Hanya karena Suzy tidak pernah mengatakannya, bukan berarti Suzy tidak pernah melakukannya ‘kan?”

Gadis di samping Junho menghela nafas berat dan tersenyum pahit, “Aku sangat mengerti Bae Suzy,”


.

.

.
//

.

.

.

i.

Keadaan sekolah ini sedang tidak begitu baik seperti dulu saat pertama kali sekolah ini dibuka. Semua benda yang ada di dalam sekolah ini mungkin bisa disebut ‘sisa-sisa kejayaan’ para senior yang sudah lulus beberapa tahun lalu. Cat tembok yang terkelupas, pagar yang sudah hampir jebol, meja yang sudah penuh dengan coretan tip-x — benar-benar keadaan memperihatinkan. Krisis ekonomi yang melanda sekolah ini juga mengharuskan para siswa agar rela untuk memakai satu loker untuk dua orang.

Mungkin ini kebetulan yang sangat kebetulan, pasangan siswa dan siswi yang terbilang sangat populer itu harus berbagi loker yang sama. Tidak perlu ditanya, loker di pojok ruangan itu selalu penuh dengan surat, cokelat, atau bunga. Kalau kau berjalan melewatinya, mungkin kau harus menahan nafas karena wewangian parfum dari berbagai merek harus masuk ke dalam hidungmu sekaligus! Dan mungkin karena terlalu banyak barang di loker itu adalah salah satu penyebab pintu loker itu sedikit rusak, jika kau ingin menutupnya maka kau harus membanting pintunya keras-keras. Namun, seperti apapun keadaan sebuah gedung SMA, pasti akan menyisakan sebuah cerita cinta di dalamnya.

“Berapa hadiah dari ‘fans’ yang kau dapat?” Tanya Junho sambil membelai rambut gadis itu lembut.

“Eh? 14 untuk hari ini. Kuharap kau tidak mendapat lebih banyak dariku.” Jawab gadis itu sambil terkekeh

“Aku 15,” Sahut Junho sambil tertawa ringan.

Taruhan yang selalu dilakukan keduanya setiap pulang sekolah. Pasangan kekasih itu masih terus melakukannya sampai dua semester sudah berlalu.

“Ck.. Kau lagi yang menang,” Gerutu Suzy sambil memanyunkan bibirnya.

Junho terbatuk, berusaha menyamarkan tawanya, “Tidak, hasilnya seri.”

“Bagaimana bisa? Kau memang lemah dalam matematika, sangat!” Cibir Suzy sambil mencubit pelan lengan Junho

Pemuda itu masih menahan tawanya, “Ini, yang ke lima belas,” Tangannya mengulurkan sebuah cokelat susu favorit Suzy.

Cokelat itu tidak diikat dengan pita, tidak disertai surat dengan pengirim yang tidak jelas asal usulnya, dan tidak diberi wewangian aneh. Tapi asalkan dari Junho, Suzy sudah dapat tersenyum senang dan membuat pipi gadis itu menjadi merah merona.

Go, Gomawo Junho-ya

Junho mengangguk dan melempar senyum simpul. Lalu ia membanting keras-keras pintu loker itu agar tertutup kembali seperti semula. Suzy hanya tertawa renyah melihat ekspresi wajah Junho yang amat bersemangat ketika harus membanting pintu loker itu.

ii.

Pihak sekolah sudah mengecat ulang dinding, dan pagar. Dan tidak lupa membeli loker-loker baru untuk setiap siswa. Tentu saja hal itu membuat semuanya riang gembira, termasuk Junho. Bola matanya berbinar saat melihat lokernya yang baru, berwarna merah menyala dan masih mengkilap saat terkena siraman cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam koridor sekolah sore itu.

Junho membuka perlahan loker miliknya, dan menjauhkan kepalanya dari loker itu. Hanya untuk berjaga-jaga jika bau parfum tiba-tiba menyeruak keluar dari dalam lokernya. Ia membuka perlahan, dan baunya tidak begitu menyengat seperti dua tahun lalu, ketika ia masih berbagi loker dengan Suzy.

Tumpukan amplop, cokelat, dan bunga sudah mengantri untuk disingkirkan oleh tangan besar namja itu. Ia tidak merasa risih sedikit pun saat mengetahui adik-adik kelasnya memergoki dirinya sedang menyingkirkan hadiah-hadiah yang dihujankan pada loker milik Junho.

Perlahan Junho menutup pintu lokernya lagi. Ia tidak perlu membantingnya, dan tidak ada yang menertawakannya saat ia membanting pintu loker yang sudah hilang entah kemana. Matanya menatap pintu loker barunya itu dengan tatapan parau, tidak ada lagi taruhan ‘siapa yang mendapat hadiah lebih banyak’ lagi, atau acara makan cokelat hadiah bersama-sama.

Junho menarik nafas, dan membiarkan rongga paru-parunya terisi penuh oleh udara – menahannya selama beberapa detik – lalu membiarkan karbon dioksida dan kenangan itu keluar dari tubuhnya.

.

.

.

//

.

.

.

i.

Hyung! Dua porsi ramen, ya!” Ucap Junho dengan suara bersemangat.

Pemilik kedai ramen itu tersenyum dan mengangguk. Sudah merupakan rutinitas bahwa setiap hari Kamis sepulang sekolah, Junho dan Suzy akan datang pada kedai ramen milik Chansung dan duduk di kursi dekat jendela.

“Dua porsi ramen, untuk sang pangeran dan sang putri,” Ucap Chansung sambil terkekeh

Junho tertawa renyah mendengar ucapan Chansung barusan. “Gomawo, Chansung-Oppa” Ujar Suzy sambil menahan tawa yang nyaris saja meledak.

Uap panas dari kedua mangkuk ramen itu mengepul dan mengenai wajah Junho dan Suzy yang seketika berubah menjadi rakus. Keduanya seakan-akan menjelma menjadi sepasang harimau yang akan menerkam rusa gemuk dengan banyak daging di dalamnya. Junho memandang wajah Suzy, dan Suzy pun memandang wajah Junho, lalu tertawa bersama-sama.

“Bagaimana hari ini?” Tanya Suzy

“Baik-baik saja, mungkin aku bisa mendapatkan nilai 9 untuk ulangan sejarah tadi,” Jawab Junho sambil menyeruput kuah ramen dihadapannya

“Oh ya? Kenapa tidak 10?”

Junho berhenti mengunyah sesaat, “Kurasa aku tidak teliti pada satu soal.”

“Kalau begitu, kau janji agar memberikan nilai 10 pada ulangan yang lain.. Untukku, ya?” Gadis itu mengacungkan jari kelingkingnya di tepat di depan wajah Junho

“Aku tidak berjanji, tapi akan kuusahakan.” Sudut bibir Junho terangkat, lalu mengkaitkan kelingkingnya dan Suzy. Keduanya, atau Ketiganya bersama Chansung tersenyum senang.

Hwang Chansung; Ia adalah salah satu saksi mata hal-hal yang dilakukan Junho dan Suzy di kedai ramen miliknya. Benar-benar membuatnya ingin untuk kembali pada masa-masa mudanya, saat ia bebas jatuh cinta pada siapa saja, dan tentu saja saat ia memilih jatuh cinta pada Sunye, istrinya sekarang.

ii.

Hyung, seporsi ramen.”

Junho menjatuhkan tubuhnya di atas kursi favoritnya, kursi dekat jendela. Kursi kayu tua yang sudah berdecit ketika digerakkan sedikit saja, tetapi dapat membuat semua orang nyaman saat duduk diatasnya. Namja itu memandang keluar jendela, melihat teman-temannya yang lain keluar dari pagar sekolah. Ada yang memilih pulang sekolah sendirian dengan sepeda, ada juga yang berjalan ke halte bus bersama kekasih mereka. Hati Junho seakan tersayat-sayat melihat pemandangan itu.

“Bagaimana tadi di sekolah, Junho-ya?” Tanya Chansung, berusaha menghilangkan perasaan-perasaan sedih pada hati Junho — Ia tau itu.

Junho tersenyum hampa, “Aku mendapat 9,7 untuk ulangan sejarah, nyaris sempurna.”

“9,7 untuk sejarah? Wow! Kurasa kau sudah belajar dengan sangat baik,” Ujar Chansung, pria murah senyum dan sangat mudah melontarkan pujian-pujian bullshit.

Chansung meletakkan semangkuk ramen di atas meja Junho yang belum mengalihkan pandangannya sesentipun. “Ayo, dimakan. Ramen tidak akan enak jika sudah dingin.” Tangan Junho meraih sumpit dengan malas dan memakan ramen yang masih hangat itu perlahan.

Ia selalu merasa lebih baik setelah memakan semangkuk ramen buatan Chansung. Junho merasa kuah hangat ramen yang masuk dalam tubuhnya itu cukup untuk menghangatkan hatinya yang dingin.

Ya, lihat itu!” Seru Junho antusias sambil menunjuk kucing milik Chansung yang memanjat pohon milik Chansung pula. Sudah lama Suzy ingin tau bagaimana wujud kucing milik Chansung, dan baru kali ini Jeonggam menampakan dirinya.

Manik mata Junho melirik ke arah kursi di seberang tempat ia duduk — kosong. Perlahan segaris senyum pada wajah Junho memudar, dan perlahan ia menurunkan tangannya, lalu melanjutkan memakan ramen. Chansung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dari belakang meja uang — sebutan meja kasir dari Chansung.

.

.

.

//

.

.

.

i.

Pintu loker Junho dan Suzy bahkan tidak bisa tertutup sore ini, terlalu banyak hadiah dari siswi-siswi yang tergila-gila pada Junho dan banyak pula yang tidak mau menatanya – asal sudah masuk saja sudah beres – mereka semua menjejal-jejalkan kado dari mereka untuk Junho dalam loker sempit itu.

“Kado-kado sudah menantimu,” Ujar Suzy ketika berpapasan selama beberapa detik dengan Junho. Agak sinis.

Junho merasa ada yang aneh, ya sangat aneh. Bahkan pada hari ulang tahunnya, Suzy tidak mengucapkan selamat atau sebagainya. Langkah kaki namja itu berubah menjadi cepat saat mendekati lokernya, ia mencoba mencari kado yang diberikan oleh Suzy – siapa tahu gadis itu menyembunyikan miliknya di antara sekian banyak kado yang ditujukan untuk Junho.

Tangannya sedikit membongkar isi loker miliknya dan Suzy, melihat sepintas kotak-kotak yang dibungkus dengan kertas kado dengan berbagai macam motif. Tiba-tiba namja itu berpikir, bagaimana cara ia harus membawa semua kado itu? Ia sudah merasa otaknya tidak bekerja lagi setelah mengikuti pelajaran matematika dari Taecyeon-seonsaengnim. Ditambah dengan memikirkan cara membawa pulang kado-kado itu akan membuat otak Junho meledak, sebentar lagi.

“Baiklah, aku tidak mau kepalaku meledak,” Gumam Junho sambil berjalan meninggalkan deretan loker-loker dengan tampang masa bodoh.

Remaja-lima-belas-tahun itu berjalan menuju parkiran sepeda yang sudah sepi, hanya tersisa beberapa sepeda saja yang masih tertata dengan rapi dan teratur. Pasti security sudah mengembalikan sepeda-sepeda yang jatuh pada posisi semula, tidak mungkin jika semua siswa bisa setertib itu.

“Ehm,”

Telinga Junho memaksa kepalanya untuk menengok ke arah sumber suara itu. Tidak terlalu jauh dari tempat Junho berdiri sekarang, seorang gadis sudah berdiri sambil memeluk tiang kayu penyangga gedung sekolah dengan satu tangan.

“Punya waktu?” Tanya gadis itu sambil melempar senyuman maut yang dapat membuat semua namja tergila-gila padanya, termasuk Junho.

Junho hanya tersenyum, dan berjalan mendekat pada Suzy yang mengisyaratkan untuk duduk di bangku depan kelas 10.6. “Aku punya sesuatu untukmu,” Ujar Suzy seraya merogoh tas selempang warna baby pink miliknya.

Kotak kecil berwarna putih bersih keluar dari tas milik Suzy. Ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan kado-kado yang masih ada di dalam loker, namun meski kado itu terbilang kecil, Junho dapat tersenyum lebar melebihi saat ia mendapatkan kado-kado berukuran besar dari siswi-siswi lainnya.

“Untukmu, Saengil chukhahabnida!”

Namja itu tidak bisa menahan senyum, hatinya berbunga-bunga ketika menerima kotak kecil dari tangan mungil Suzy. “Boleh kubuka?”.

Anggukan kepala Suzy sudah menjadi jawaban yang cukup. Jemari Junho membuka perlahan kotak itu, sambil menebak-nebak isinya dalam hati. Cokelat mini buatan Suzy? Atau mungkin couple ring?

Bola mata Junho seketika berbinar saat melihat jam tangan digital warna putih dengan merek terkenal di dalam kotak mungil itu. “Wow!” Junho melihat jam tangan itu dari segala sisi.

“Ini pasti mahal ya?”

“Waktu tidah pernah murah, Junho-ya,” kata Suzy sambil mengulum senyum, “Jangan lihat harganya ya? Aku tau kau sangat menyukai jam digital, karena itu aku memberikan ini padamu,”

Jemari mungil Suzy memakaikan jam tangan itu pada tangan kiri Junho yang sedang tidak memakai jam tangan, karena jam digital miliknya rusak karena jatuh terbanting beberapa minggu lalu. Junho tersenyum saat kulit mereka saling bersentuhan, ia sangat menyukai perasaan itu, saat ia merasa ada kupu-kupu dalam perutnya.

“Apakah waktu yang akan merekam ingatan dan kenangan?” Tanya Suzy tiba-tiba

“Waktu merekam semuanya, aku dan kau — kita.” Jawab Junho

Suzy mengulum senyum, “Kita selamanya!” Ia menyodorkan kelingking di hadapanku

“Kita, Selamanya!” Sahutku -menirukan kata-kata Suzy – sambil mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya.

ii.

Wajah Junho terkejut saat mendapati Seulong-seonsaengnim – guru sejarah dengan kacamata berlensa tebal – berada di depannya dengan radius 5 meter. Ia berjanji akan mengembalikan buku paket sejarah yang ia pinjam pada Seulong-seonsaengnim hari itu. Tangan Junho segera mengaduk isi tas ranselnya, berusaha menemukan buku catatan sejarah Seulong-seonsaengnim.

Tidak mudah mencari buku catatan yang tertumpuk-tumpuk buku pelajaran lain di dalam tas milik Junho yang memiliki benda apapun di dalamnya – termasuk cokelat, bunga, dan hadiah lainnya. Dalam hitungan ketiga sebelum Seulong-seonsaengnim berada di hadapan Junho, buku itu sudah keluar dari tasnya.

“Seulong-seonsaengnim!” Pekik Junho sambil mengangkat buku catatan sejarah itu tinggi-tinggi

Seulong datang menghampiri Junho dan meraih buku catatan sejarah miliknya, “Kau sudah selesai membacanya? Tidak pusing dengan tulisan tanganku, kan?” Guru dengan perawakan ideal itu tertawa renyah.

Junho hanya menampilkan ­eye-smile miliknya, lalu membungkukkan kepalanya ke arah Seulong-seonsaengnim, sesuai kebiasaan dan adat istiadat warga Korea Selatan pada umumnya. Beberapa langkah lagi sebelum Junho mencapai sepeda warna hitam pekat miliknya, seseorang sudah menghentikan langkahnya. “Junho-ya?” Junho menatap mata pria di belakangnya lekat.

Jam tangan digital  berwarna marble white sudah berada tepat di hadapan wajahnya, jam yang tidak asing lagi baginya. “Ini milikmu, kan?” Tanya Wooyoung dengan jelas. Junho mengangguk dan mengambil alih jam digital itu dari jemari Wooyoung.

Remaja-tujuh-belas-tahun itu duduk di bangku depan kelas 10.6. Senyum samar tergambar di wajahnya yang senantiasa memandang jam digital yang sudah tidak memunculkan angka-angkanya. Junho ingat persis bagaimana ia menerima jam tangan itu, dari tangan seorang gadis yang sangat ia cintai.

Satu per satu teman sebayanya menuntun sepeda dan keluar lewat gerbang belakang sekolah yang hanya dibuka saat sebelum bel pelajaran pertama, dan setelah bel pelajaran kedelapan berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah. Ia masih ingat saat ia mengatakan, Waktu akan merekam semuanya, aku dan kau – kita kurang lebih dua tahun lalu di bangku yang sama, warna yang berbeda, dan keadaan yang berbeda.

Seandainya Junho menyangkal dengan mengatakan ‘Aku sudah melupakan semua kenanganku dengannya.’ Itu sama saja artinya dengan berbohong, tidak mungkin ia melupakan semua kenangan bittersweet yang telah ia lalui.

Jika dua tahun lalu masih ada seseorang yang duduk di sebelahnya pada bangku yang nyaris hancur dimakan rayap, hari ini ia duduk sendirian di atas bangku yang masih baru dan bersih, dengan setumpuk kenangan yang tersisa.

Junho melihat bayangan Bae Suzy duduk di sebelahnya, dengan mengacungkan jari kelingkingnya padanya. Suzy melemparkan senyuman terbaiknya, dan jam digital itu kembali memunculkan angka-angkanya—dalam ingatan.

.

.

.

//

.

.

.

i.

Matanya menerawang jauh ke arah langit yang seolah tidak ada batasnya dari atap sekolah. Bola mata dan otaknya bekerja sama untuk menebak-nebak bentuk awan yang terus bergerak sesuai arah angin. Awalnya ia menerka awan itu berbentuk panda, tetapi beberapa detik kemudian berganti menjadi elang yang membentangkan sayapnya lebar-lebar – begitu seterusnya.

“Kau membolos pelajaran Taecyeon-seonsaengnim lagi, ya?”

Junho segera tersadar dari imajinasinya terhadap awan-awan di atas langit, “Ya Tuhan! Kau mengagetkanku!”

“Oh ya? Kupikir kau tidak mudah terkejut,” Ucap gadis itu sambil duduk di samping Junho dan memeluk lututnya, dan disambung tawa lembut yang menenangkan.

“Kau sendiri? Membolos pelajaran siapa?”

Suzy  mengerling ke arah Junho, “Bukan aku yang membolos, tapi Sunye-seonsaengnim yang membolos,”

“Ah, dia pasti sedang pergi berlibur bersama Chansung, lihat saja kedainya tutup hari ini,” Ujar Junho sambil menunjuk kedai ramen tua milik Chansung yang tertutup rapat dilapisi pintu baja dengan rongga-rongga yang tidak terlalu rapat—seperti toko emas saja.

Pemuda itu membaringkan tubuhnya di atas tanah atap sekolah yang hangat karena sinar matahari, diikuti gadis di sebelahnya. Telunjuknya menari-nari seperti menggambar sesuatu dengan awan, “Lihat, yang itu seperti donat, kan?”

“Yang mana?”

“Itu, yang berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya,”

Suzy menyipitkan matanya, kedua alisnya bertemu dan mencoba mencari ‘donat’ yang ada di atas langit, “Aku menyerah, Aku tidak pandai dalam hal seperti ini” Lalu ia tertawa renyah.

Tidak seperti biasanya—Junho akan tertawa—tetapi tiba-tiba tampangnya berubah menjadi was-was dan cenderung curiga. Ia melirik ke arah Suzy dengan tatapan bingung—benar-benar tidak seperti biasanya, “Kau, menutup pintu masuk ke atap?”

Gadis itu memandang wajah Junho, lalu mengangguk pelan. Secepat kilat, ketakutan luar biasa tergambar pada wajah Junho yang seakan-akan segera dibunuh. “Wae?

“Gawat!” Ucap Junho sambil segera bangkit dan berlari menuju pintu menuju tangga dan lantai tiga gedung sekolah. Ia memutar-mutar gagang pintu, tetapi percuma saja—pintu itu memang hanya bisa dibuka dari dalam, dan tidak bisa dibuka dari luar.

Suzy menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepalanya, “Mianhae, Junho-ya.. Aku tidak tau,”

Junho mengangguk samar sambil melangkah tanpa harapan menuju tempat ia tadi berbaring. Tidak ada pilihan lain selain menunggu seseorang mendengar teriakannya untuk meminta dibukakakan pintu itu. Tawa namja itu tiba-tiba pecah, memecah keheningan dan suasana canggung diantara mereka berdua, Suzy hanya mengulum senyum sambil duduk berdampingan dengan Junho dan melihat ke atas langit.

“Jika kelak kita meninggal, kita akan pergi ke mana?”

Spontan Junho terkejut mendengar pertanyaan itu, topik yang terdengar aneh baginya menggetarkan kedua gendang telinganya yang masih normal – ia tidak salah dengar. Tatapan mata gadis di sebelahnya kosong dan mengarah ke atas langit yang tidak memiliki batas, “Apa mungkin kita akan terbang bebas sampai menembus langit?”

Junho masih terperanjat, tidak bergerak satu millimeter pun dari tempat ia duduk.

Suzy tersenyum samar dalam pandangan matanya yang parau, “Kalau kita meninggal, ki-“ Ucapnya terpotong. Jemari Junho yang dingin mengenggam erat tangan Suzy, yang memaksa gadis itu menghentikan ucapannya. Pemuda itu menarik tangan gadis itu lembut dan menempelkannya pada dadanya yang bidang, “Apapun yang akan terjadi, kau akan tetap ada di dalam sini,”

Keduanya melemparkan senyum terbaik mereka, dan memegang tangan satu sama lain dengan erat. Perlahan, keduanya melepaskan pegangan tangan itu, dan bertingkah seperti biasanya lagi. Tanpa sengaja Junho menangkap bayangan Jaebeom yang berjalan keluar dari gedung sekolah dengan bola basket di tangannya.

“Jaebeom-ah! Jaebeom-ah!” Pekik Junho penuh harap

Jaebeom menengok ke atas, ke arah Junho yang meneriakkan namanya keras-keras. Ia mengangkan satu sudut bibirnya dan melambaikan tangannya pada Junho lalu berjalan keluar dari gerbang sekolah. Baru saja Junho akan meminta tolong pada Jaebeom, tetapi perkataannya tercekat pada tenggorokannya. Ia mendengus kesal.

“Minyoung-ah!” Jerit Suzy dengan suara melengking

Gadis dengan tinggi tidak lebih dari 160cm itu menengok ke atas, “Tolong bukakan pintu untukku!” Teriak Suzy lebih keras. Minyoung menganggukkan kepalanya, dan berlari membukakan pintu dari lantai tiga. Junho dan Suzy melempar pandang dan tersenyum penuh kesuksesan.

ii.

Junho berdiri sambil menggengam erat pagar besi yang melingkari gedung atap sekolah itu sambil memandang teman-teman sekelasnya yang bertanding basket melawan kelas 12.9 untuk terakhir kalinya sebelum ujian kelulusan dilaksanakan.

“Hai,” Seseorang berdiri dengan jarak sekitar setengah meter dari tempat Junho melamun. Sebelum Junho melihat siapa yang ada di sebelahnya, ia melihat ke arah pintu terlebih dahulu. Dan pintu itu masih dalam keadaan terbuka.

Mata Junho hanya mengerling, gadis itu berdiri di dekatnya, kekasih Jang Wooyoung—Lee Minyoung. “Hai.” Sahut Junho dengan sedikit menggumam. Kedua manik mata mereka berdua mengarah pada bola basket yang terus berpindah tangan dari murid kelas 12.3 dan 12.9—kelas Junho dan Minyoung.

Genggaman jemari Junho kian kuat pada pagar besi yang berwarna biru muda. Ia mengalihkan pandangannya dari lapangan basket menuju ke atas langit yang berwarna biru dan menjadi semakin menawan dengan gumpalan awan yang menari-nari mengikuti arah angin. Ia merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang meniup sekujur tubuhnya, atmosfer yang tidak asing baginya.

“Kurasa Suzy tidak pernah mencintaiku,” Ujar Junho dengan suara lirih

“Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?”

Pemuda-tujuh-belas-tahun itu memandang ke arah lapangan basket yang sedang ramai oleh sepuluh siswa anggota tim utama basket kelas 12 dengan tatapan kosong.
“Suzy tidak pernah berkata bahwa ia mencintaiku.”

Minyoung tertawa ringan, “Hanya karena Suzy tidak pernah mengatakannya, bukan berarti Suzy tidak pernah melakukannya ‘kan?”

Gadis di samping Junho menghela nafas berat dan tersenyum pahit, “Aku sangat mengerti Bae Suzy,”

“Bibirnya jarang tersenyum, tetapi matanya selalu tersenyum. Mungkin itu yang membuatnya memiliki karisma yang lebih tinggi ketimbang yang lain,” Ia menundukkan kepalanya, suaranya mulai bergetar, “Dia tidak pandai mengekspresikan perasaannya, tapi ia melakukannya. Talk less, do more – katanya padaku.”

“Dibalik bola matanya yang cokelat, dan diatas sepatu converse khas miliknya, ia adalah seorang yang lemah, tidak seperti apa yang dilihat semua orang.”

Junho tersenyum samar, “Bahkan beberapa jam sebelum kejadian itu, aku mengatakan ‘Aku mencintaimu’ dan memeluknya erat, tetapi ia hanya diam saja dan tersenyum. Bukankah yeoja lain tidak akan berindak seperti itu?”

“Junho­-ya, kau harus tau sifat gadis itu. Dia berbeda dari yang lain, karena dia limited edition dan sangat spesial.”

Minyoung dan Junho bergeming untuk beberapa detik.

“Setelah kejadian itu, Nyonya Bae memberikan diary milik Suzy, dan isi dari buku itu nyaris penuh oleh namamu,” Minyoung tersenyum, lalu melanjutkan, “Tetapi Suzy juga menulis, ia tidak ingin kau membaca diary miliknya.”

Wae? Tentang kejelekkanku?”

Anio, semuanya berisi hal-hal manis, dan tentang cintanya padamu, ia mencintaimu selamanya.” Sahut Minyoung sambil berjalan pergi meninggalkan Junho sendirian.

.

.

.

//

.

.

.

i.

Loker reyot di ujung timur itu tertutup rapat meskipun bau parfum yang menyengat masih keluar dari dalam loker itu. Suzy bersiap untuk membuka pintu loker itu, bisa dijamin hari ini loker itu penuh dengan cokelat dan bunga—karena ini hari valentine. Tangan Suzy menarik gagang pintu loker yang salah satu sekrupnya sudah lepas itu perlahan agar pintunya tidak lepas.

Siapa yang menyangka, loker itu hanya berisi buku catatannya dan milik Junho. Tidak ada cokelat, tidak ada bunga, tidak ada boneka. Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tahun lalu. Tahun lalu hanya ada seikat bunga mawar sebagai pernyataan cinta dari Junho untuk Suzy. Namun hari ini gadis itu sama sekali tidak menemukan benda apapun yang berkaitan dengan valentine.

“Hai cantik, aku di sini,”

Suara yang berasal persis di belakang Suzy itu menggetarkan gendang telinga gadis cantik itu. Suzy mengulum senyum, ia tau persis siapa pemilik suara itu, pemilik eye-smile termanis di dunia—Lee Junho. Tepat ketika Suzy memalingkan badannya, seikat bunga mawar berada persis di depan wajahnya, “Omo!

Tangan Junho menurunkan seikat bunga itu, dan memandang kedua bola mata Suzy. “Happy Valentine, Happy 1st anniversary,” Ucap Junho seraya mengulurkan seikat bunga itu ke arah Suzy. Pipi gadis itu menjadi merah merona, tangannya menjadi sedikit bergetar ketika batang demi batang bunga itu menyentuh tangannya.

Gomawo, Junho­-ya.” Ucap Suzy pelan namun jelas sambil tersenyum mengamati bunga mawar di tangannya.

Lee Junho tersenyum, dan menenggelamkan kepala Suzy ke dalam pelukannya. “Jeongmal saranghaeyo, Suzy-ya,”. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya dan memeluk Junho erat, dan tersenyum samar dalam pelukan Junho. Namjaitu mempererat pelukannya yang menghangatkan, seolah ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan yeoja itu.

ii.

Jemari Junho menggengam erat seikat bunga mawar yang ada di tangan kanannya. Sekuat tenaga ia menahan air mata hingga bibirnya bergetar. Laki-laki tidak boleh menangis, Kata ayah Junho saat ia masih berumur sepuluh tahun – 7 tahun lalu. Kesedihan Junho yang mengharu biru akhirnya membuat air matanya meleleh dan menjatuhi tanah yang masih basah karena guyuran air hujan tadi siang.

Tepat setahun lalu, saat hari valentine, kejadian itu terjadi. Sepulang mengikuti bimbingan belajar, sebuah mobil nahas melaju dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh Suzy yang sedang menyeberang jalan hingga ia terpelanting dan mengalami patah kaki dan lengan yang terpaksa diamputasi. Namun sayang, jantungnya berhenti berdetak beberapa jam setelah operasi itu berakhir.

Junho terperanjat ketika melihat nama satu-satunya gadis yang ia cintai—Bae Suzy—terukir dengan jelas di atas batu nisan persis di hadapannya. Air matanya tumpah ruah. Ia meletakkan seikat bunga mawar itu di dekat batu nisan, dan berjalan meninggalkan makam itu.

Sesosok gadis tak kasat mata yang mengenakan pakaian serba putih muncul, mengamati namja yang ia cintai selamanya berjalan menjauh dari makamnya. Ia tersenyum siput dan perlahan-lahan sosoknya menghilang, meski tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya.

Bayangan Junho semakin lama semakin menjauh, ia berjalan menjauh sambil tetap membawa cintanya pada belahan jiwanya. Ia tau, Suzy tidak akan pergi begitu saja, gadis itu akan tetap tinggal dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Selamanya.

Fin.

A/N: Hai! Saya datang dengan genre dan cast baru. Genre yang cukup jarang saya buat yaitu angst, dan main cast Junho dan Suzy seperti yang saya janjikan beberapa waktu lalu. Saya sudah menulis yang terbaik, tapi maaf kalau hasilnya malah seperti ini ;__; Anyway,  saya tunggu komentar dari readers semuanya! Don’t be a silent reader! ^^

37 thoughts on “영원히 (Forever)

  1. ah,, daebak, keren thor…. tidak mampu kuungkapkan lagi dgn kata2.. bikin pairing mereka yang byk ya thor.. ekeke..
    sad ending sech, tp menyentuh.. penulisannya indah dan gampang dimengerti..
    good joob thor, annyeong!!

Leave a Reply to fitmabumssoempresses Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s