Threesome (Part 3)

A Story by Pseudonymous

Title: Threesome || Main cast: 2PM’s Nichkhun, SNSD’s Tiffany & Super Junior’s Siwon || Genre: Romance, Life, Friendship & Shounen-Ai || Length: Chapter || Rating: PG-15 || Disclaimer: My plot for sure. || Credit poster: Kihyukha || Previous part: Teaser, Part 1, Part 2

***

Jessica menarik kerai jendela dan melongok ke bawah. Dilihatnya Tiffany sedang bercakap-cakap dengan seseorang di teras apartemen. Keduanya tampak akrab dan hangat, bahkan sempat saling bertukar senyum satu sama lain. Ini pemandangan ganjil untuk Jessica karena ia sebelumnya tidak pernah melihat kakaknya membawa seorang laki-laki kecuali Nichkhun ke apartemen mereka.

“Siapa pria tadi?” tanya Jessica, begitu kakaknya masuk ke dalam kamar dan melempar tas selempangannya ke sembarang arah.

“Siwon,” sahut Tiffany, lelah. Ia menghempaskan diri ke atas tempat tidur dan menghela napas, seolah baru saja melakukan pekerjaan berat dalam hidupnya—berbasa-basi dengan Siwon.

“Siwon?” Jessica mengangkat alis. “Apakah ia pacarmu?”

Tiffany menggeleng.

“Atau kalian sedang dalam pendekatan?”

Tiffany mengedikkan bahu. Ia sendiri tidak yakin. Siwon bersikap sungguh baik padanya atau malah kelewat baik jika memang tujuan Siwon hanya untuk meminta maaf soal sikap Eunhyuk malam itu. Mengajaknya jalan-jalan dan berbelanja, makan siang dan makan malam bersama di restoran mewah, dan diantar-jemput pulang kampus, apakah itu sungguh berlebihan untuk ukuran sebuah permintaan maaf? Bahkan Tiffany sudah melupakan soal sikap Eunhyuk, jadi sudah pasti Siwon punya maksud lain dari semua sikap baiknya pada Tiffany akhir-akhir ini.

Tiffany melirik majalah yang sedang dibaca Jessica—memuat edisi Busker Busker.

“Mereka akan konser hari Valentine nanti, kan?” tanya Jessica sambil menuding cover majalahnya.

“Ya.”

“Kau akan nonton?”

“Ya.”

Jessica menyeringai. “Bersama Siwon?”

“Bersama Nichkhun,” tukas Tiffany.

“Kau ingin menghabiskan hari Valentine bersama Nichkhun? Apa kau sudah gila?” pekik Jessica, terkejut.

“Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan itu?” Tiffany balik bertanya dengan nada tidak senang. Menurutnya reaksi Jessica terlalu berlebihan.

“Tapi..” Jessica menggaruk-garuk kepalanya dan melanjutkan dengan tidak yakin, “..bukankah ia homoseksual? Kau ingin menghabiskan hari Valentine dengan seorang.. homoseksual?”

Tiffany termangu, agak tersinggung dengan ucapan Jessica. “So, what?”

“Oh, demi Tuhan!” Jessica menepuk dahi, mengutuk kepolosan kakaknya. “Hari Valentine adalah hari yang sangat krusial, Eonni! Kau seharusnya merayakannya bersama pasanganmu, bukan sahabatmu yang gay!”

Tiffany tiba-tiba berdiri dan berkata dengan nada tidak senang, “Bisakah kau berhenti menyebut bahwa Nichkhun itu gay?”

Jessica menganga. “Tapi, bukankah kenyataannya memang seperti itu?”

“Ya, tapi kau mengucapkannya dengan nada mengejek dan aku tidak menyukainya,” tegas Tiffany.

Jessica mendesah. Ia menyerah. Toh, tidak ada gunanya mengajak kakaknya berdebat, karena perdebatan itu akan selalu dimenangi Tiffany dan Jessica akan selalu kalah walau ia berusaha sekeras apa pun.

“Ya, ya. Terserah kau saja.”

***

Tuan Horvejkul tidak tahan lagi. Ia menekur koran yang sudah dibacanya berulang-ulang kali—ia bahkan menghabiskan banyak waktu dengan membaca berita dengan isi yang sama sebanyak empat kali—dan menatap istrinya yang sedang lalu lalang di hadapannya. Sudah dua jam mereka berada di sana tanpa satu pun yang mau bicara. Tuan Horvejkul tahu istrinya masih marah soal ucapannya beberapa hari yang lalu dan lagipula ia sudah meminta maaf, tapi istrinya pikir itu belum cukup. Maka sekarang “hukuman” itu ditambah dengan aksi bisu istrinya yang perlahan-lahan mulai menyiksanya.

“Sampai kapan kau akan bersikap seperti anak-anak?” tegurnya.

Nyonya Horvejkul diam saja dan meneruskan kegiatan memasaknya tanpa menggubris ucapan suaminya. Bahkan ia enggan melirik suaminya dan menganggap bahwa pria itu tidak ada di dapur bersamanya.

Yeobo..” Suara Tuan Horvejkul terdengar memelas kali ini.

“Apa?!” Nyonya Horvejkul menyahut marah. Jendela dapur ikut bergetar ketakutan mendengar suaranya yang melengking.

Tuan Horvejkul membelalak ketakutan di kursinya. Ia tidak berani bicara sepatah kata pun, hanya diam di situ,  membiarkan keheningan mengambil alih dan menunggu. Apa yang sedang ditunggunya? Ia sendiri tidak yakin.

“Sesuatu” yang ia tunggu itu akhirnya menampakkan wujudnya perlahan-lahan. Bola mata istrinya yang mengilat karena amarah kini perlahan-lahan sirna, berubah kembali menjadi sepasang mata indah yang pernah membuat pria paruh baya itu tergila-gila setengah mati. Tapi, perubahan itu tidak berlangsung seperti yang ia inginkan. Bola mata itu justru berubah sepenuhnya menjadi sorot pedih yang menyakitkan, disertai genangan air mata yang menumpuk pada pelupuk matanya.

“Maafkan aku..” lirih Tuan Horvejkul. Sudut alisnya menurun, meminta penerimaan maaf dari sang istri.

Nyonya Horvejkul buru-buru menyeka air matanya dan duduk bersama suaminya di meja makan—yang membuat Tuan Horvejkul merasa lega.

“Aku hanya merasa sedih dan frustasi,” ujar wanita itu sambil tertunduk. “Khun adalah anak kita satu-satunya dan aku tidak mau terjadi sesuatu padanya.”

Tuan Horvejkul ikut menunduk menatap tangan istrinya. Jemarinya yang kini mulai keriput sibuk memutar-mutar cincin pernikahan mereka yang mulai melonggar di jari kurus itu. “Kita harus membawa Nichkhun ke psikiater sebelum semuanya terlambat, Yeobo.”

Nyonya Horvejkul menatap suaminya dengan kesal. “Kau masih yakin bahwa Nichkhun tidak normal? Ayah macam apa kau ini!”

“Lalu, kau sendiri apakah yakin bahwa Nichkhun memang normal?” Suaminya balik bertanya dengan nada lirih. “Aku mengatakan hal itu bukan karena aku membencinya. Justru sebaliknya, aku sangat mencemaskannya!”

“Pokoknya tidak!” tukas Nyonya Horvejkul sambil bangkit berdiri. “Nichkhun tidak akan ke psikiater mana pun. Ia normal. Titik.”

“Kau hanya sedang mencoba menyangkalnya, Yeobo!” Tuan Horvejkul ikut berdiri dan menantang istrinya. “Aku yakin bahwa kau sebenarnya juga tidak yakin apakah Nichkhun memang normal atau tidak, tapi karena kau terlalu takut, maka kau menyangkalnya!”

Nyonya Horvejkul berdiri membelakangi suaminya dan merasakan lututnya gemetar seperti jelly.

“Seperti yang kau bilang..” lanjut Tuan Horvejkul. “..Nichkhun adalah satu-satunya anak kita dan kita sama-sama tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Maka dari itu, kita masih punya kesempatan sekarang, Yeobo. Kita masih bisa mengubahnya..”

***

Nichkhun sedang menyingkirkan surat-surat cinta yang ia terima hari itu di kampus, ketika ibunya masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Walau itu agak mengejutkannya, detik berikutnya Nichkhun dapat dengan mudah mendapatkan kembali kontrol dirinya.

“Hai, Sayang.”

“Hai.”

Ibunya masuk ke dalam dan memerhatikan tumpukan amplop merah muda di dalam tempat sampah. “Sedang apa?”

“Tidak sedang apa-apa.”

“Ehm..”

Nichkhun mendongak kearah ibunya. “Tumben ibu mau mengunjungiku ke kamar.”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Okay.” Nichkhun mengedikkan bahu. “Apa itu?”

Nyonya Horvejkul duduk di bibir tempat tidur dan menghadap kearah Nichkhun. Nichkhun mengamati gerak-gerik ibunya yang serius dan ia saat itu tahu pasti pembicaraan ini akan sangat penting.

“Kau tahu, kan, sekarang begitu banyak masalah-masalah yang sering dihadapi seorang remaja sepertimu?” Ibunya membuka percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan yang ringan, tapi menjurus.

Nichkhun menyambut pertanyaan itu dengan sebuah anggukan. Ia masih belum merasa curiga saat itu dan membiarkan ibunya terus berbicara.

Nyonya Horvejkul memutar-mutar cincin pernikahannya—kebiasaannya yang sulit dihilangkan jika sedang merasa gusar—dan melanjutkan, “Aku sudah bicara dengan ayahmu, dan kami ingin..”

Nichkhun menelan ludah dan entah kenapa merasa gugup. “Ingin apa?” tanyanya ragu.

“Ingin kau mendatangi seorang psikiater.”

Nichkhun mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Ia diam saja dan tertunduk.

“Sayang, kami percaya padamu, tapi..” Nyonya Horvejkul terlihat kewalahan. “..demi Tuhan, kami hanya mencemaskanmu. Kami hanya ingin kau berkonsultasi kepada seorang psikiater jika kau memang merasa punya masalah, namun tidak mampu membicarakannya dengan kami.”

Nichkhun tahu bahwa kedua orangtuanya mencemaskan hal yang lain—bukan sekedar kenakalan remaja biasa. Ini semua lebih dari itu. Dan ia meyakini itu. Untuk beberapa alasan, Nichkhun tidak sanggup menampiknya, tapi di sisi lain, ia juga tidak menyukainya. Seberapa keras pun ia menghindar, ia tidak akan bisa kabur.

“Khun..” Nyonya Horvejkul mengulurkan tangan, mencoba menggapai tangan Nichkhun. Tapi pemuda itu dengan sigap menyingkirkan tangannya.

“Akan kupikirkan lagi,” katanya, lalu beranjak keluar kamar.

***

“Orangtuaku menyuruhku menemui seorang psikiater,” kata Nichkhun. “Sinting, bukan?”

“Apanya yang sinting? Bertemu dengan seorang psikiater itu kan normal, Khun!” sahut Tiffany dari balik pintu kamar mandi.

“Ya, memang. Tapi normal untuk orang-orang yang sudah merasa pikirannya tidak waras!”

“Memangnya kau waras?”

“Brengsek!” Nichkhun bangkit dari tempat tidur dan menggedor pintu kamar mandi. “Keluar kau, biar kujitak kepalamu!”

“Tada~” Tiffany membuka pintu dan mengabaikan ancaman Nichkhun. Gadis itu keluar dengan dress selutut berwarna ungu di tubuhnya, berputar di hadapan Nichkhun dan mengibas rambutnya. “Bagaimana? Cantik, kan?”

Mata Nichkhun membelalak kejut, sejenak lupa akan kekesalannya pada Tiffany. Ini pertama kalinya ia melihat Tiffany berdandan se-feminine ini. “Wow!” serunya sambil tersenyum. “Kau terlihat—”

“Memesona?”

“..menyedihkan,” sambung Nichkhun, dingin.

Senyum di wajah Tiffany luruh. “Apa?”

“Lihat! Dadamu kecil sekali..” kata Nichkhun menunjuk belahan dada pada dress yang dipakai Tiffany. “..tapi kau berpakaian seolah-olah kau punya sesuatu untuk kau tunjukkan. Benar-benar menyedihkan,” lanjutnya sambil geleng-geleng kepala.

Tiffany menyorot sinis kearah Nichkhun sambil menaikkan belahan dadanya. “Jika Siwon di sini, ia pasti memujiku,” gumamnya.

Nichkhun mengedikkan bahu dan berpura-pura tak acuh. “Lagipula, sejak kapan kau senang mengenakan dress seperti itu?”

“Siwon yang membelikan dress ini untukku,” sahut Tiffany yang kini menghilang lagi di balik pintu kamar mandi. “Ia bilang aku akan terlihat cantik jika lebih sering mengenakan pakaian seperti ini. Dan malam ini, ia bahkan ingin mengajakku pergi.”

“Apa?”

Tiffany tidak menjawab langsung. Ia keluar dulu dari kamar mandi, dengan berganti pakaian—kaus oblong abu-abu dengan gambar gadis sedang mengisap rokok—dan hot pants. “Kami akan pergi malam ini,” sahutnya sambil mengambil posisi di depan meja rias.

“Malam ini?” Nichkhun menautkan alis. “Tapi, bukankah kau ada rencana menginap di rumahku malam ini? Kau bilang—”

“Kalau begitu rencananya batal,” sela Tiffany. Ia mengikat rambut panjangnya dengan asal dan menoleh kearah Nichkhun. “Maaf yah?”

Nichkhun mendengus. Ia tahu Tiffany tidak benar-benar sedang meminta maaf dan menyesal—hanya sekedar basa-basi atau justru bermaksud menggodanya. “Kau sepertinya semakin sering jalan bersamanya,” gumam Nichkhun sambil membolak-balik halaman majalah Busker Busker tanpa berniat akan benar-benar membacanya. “Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita pulang bersama karena kau semakin sering pulang bersamanya.”

Tiffany tertawa. “Kenapa? Kau juga ingin pulang bersama kami? Nanti akan kukatakan pada Siwon.”

Nichkhun berpaling sebentar dari majalahnya untuk melirik Tiffany dan mendesah.

***

Baru beberapa menit berada di dalam mobil, Nichkhun sudah bosan setengah mati. Bokongnya bergerak-gerak gelisah di jok belakang. Ia merasa menjadi obat nyamuk di tengah-tengah sepasang laki-laki dan perempuan yang cekikikan di hadapannya. Bahkan keduanya seolah lupa kalau Nichkhun juga menjadi salah satu penumpang di mobil itu.

“Kau sekali-sekali harus mengunjungi kafe favoritku dan Nichkhun,” kata Tiffany pada Siwon. “Makanan dan minumannya sangat enak. Dijamin kualitas bintang lima, tidak kalah dengan makanan dan minuman di restoran-restoran mewah yang ada di Gangnam. Benar, kan, Khun?”

Yang dituding hanya mengangkat wajah dan mendelik. Nichkhun menelan ludah saat melihat Siwon meliriknya melalui kaca spion yang ada di atas dashboard mobil. Sepasang mata milik pemuda itu menatapnya lembut dan mendadak membuatnya mati rasa.

“I-iya,” sahut Nichkhun gelagapan.

Nichkhun kembali menjadi obat nyamuk setelah sahutan singkatnya itu dan obrolan akrab Siwon dan Tiffany terus berlanjut.

“Aku turun duluan yah, Khun!” kata Tiffany, setelah mereka sampai di apartemennya. “Siwon, tolong antarkan sahabatku pulang dengan selamat sampai ke rumahnya, yah?”

Siwon melirik Nichkhun sekilas dan terkekeh. “Okay!”

Ketika mobil Siwon perlahan mulai menjauh, Tiffany mengiringi kepergiannya dengan sebuah lambaian tangan dan raut sedih. Entah kenapa ia harus merasa seperti itu, seolah-olah sedang melepas kepergian seseorang ke dunianya yang sebenarnya—ke tempat seharusnya ia berada.

***

Siwon memasukkan CD Jamie Foxx dan sejurus kemudian Fly Love mengalun, mengisi jeda tak nyaman di dalam mobil. Nichkhun kini sudah duduk di sebelahnya dan Siwon tidak sanggup untuk melirik pemuda itu sekali pun. Keduanya merasa menjadi patung di jok masing-masing dan suasana awkward itu terus berlanjut. Siwon tidak suka terjebak di dalam situasi seperti itu, maka akhirnya ia berpikir untuk melakukan sesuatu agar itu tidak terus berlanjut.

“Sejak kapan kau sudah bersahabat dengan Tiffany?” tanyanya, memecah keheningan itu.

Nichkhun mengangkat wajah dan menatap Siwon, lalu berpaling lagi ke pemandangan di luar jendela. “Sejak masih sekolah menengah pertama. Aku mengenalnya di sana.”

“Wow!” Siwon membelokkan stirnya ke kanan. “Berarti sudah lama yah.”

Nichkhun mengedikkan bahu. “Begitulah.”

“Kalau begitu, aku bisa bertanya-tanya padamu soal Tiffany,” kekeh Siwon.

Nichkhun mendesah. “Kau benar-benar menyukainya?”

“Kupikir begitu.”

Nichkhun merasa semakin gusar. Rasa-rasanya ia ingin membuka pintu dan melompat keluar dari dalam mobil, tak peduli ia akan mati ditabrak atau apalah.

“Besok aku akan pergi bersama Tiffany,” kata Siwon setelah menepikan mobilnya di seberang rumah Nichkhun. “Kalau kau mau, kau bisa ikut.”

Nichkhun tertawa gugup. “Untuk apa? Bukankah keberadaanku hanya akan mengacaukan kencan kalian?”

Siwon menggeleng tegas. “Tidak. Justru keberadaanmu akan banyak membantuku, karena terkadang aku masih merasa canggung jika hanya berdua dengan Tiffany. Kau mau, kan?”

Nichkhun menyaksikan tatapan sendu itu seolah memohon kepadanya, tapi tidak menuntut. Ia tidak merasa disudutkan dengan tatapan itu, justru merasa sebaliknya. Ia merasa diundang dan “dibutuhkan”. Dan akhirnya, Nichkhun mengangguk dan setuju. Siwon mungkin memang benar-benar “membutuhkan”-nya.

***

Sesuai janji, ketiganya akhirnya bertemu di Namsan Tower—tempat untuk sepasang kekasih “mengikrarkan” hubungan mereka dengan sepasang gembok. Nichkhun sudah beberapa kali datang ke Namsan Tower bersama Tiffany, tapi itupun hanya sekedar untuk lihat-lihat. Keduanya hanya datang untuk menertawai kalimat-kalimat gombal yang tertulis di gembok-gembok itu dan bersumpah untuk tidak akan melakukan hal sekonyol itu dengan pasangan mereka nanti.

Tapi, Tiffany mengingkarinya.

“Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya,” ujar Siwon.

“Begini,” Tiffany mulai berlagak seperti orang dewasa lagi. “Kau menulis namaku di sini, sementara aku menulis namamu di sini. Lalu, kita menulis hal-hal yang kita harapkan dari masing-masing diri kita.”

Kita? Sejak kapan Siwon dan Tiffany menjadi “kita”? Nichkhun mendengus di belakang mereka. Ia menjadi obat nyamuk untuk kedua kalinya dan menyesali keputusannya untuk ikut. Tapi ia memilih untuk mengamati tour Tiffany tanpa mengucapkan sepatah kata pun—ternyata Siwon belum pernah berkunjung ke Namsan Tower. Ia baru saja pindah dari Inggris dua tahun lalu dan belum sempat mengunjungi Namsan Tower. Jadi, Tiffany berperan bak tour guide untuk Siwon saat itu.

“Tada~” Tiffany berseru. “Bagaimana? Cantik, kan?”

Siwon mengangguk kearah sepasang gembok biru dan merah muda yang dipasang Tiffany pada terali besi yang ada di Namsan Tower—bergabung bersama pasangan-pasangan gembok lainnya. “Cantik,” komentarnya, setuju.

“Jelek sekali,” desis Nichkhun dari belakang.

Siwon dan Tiffany serentak menoleh kearahnya. “Apa?” tanya Tiffany, tidak senang.

Nichkhun melirik Siwon dan menggeleng seperti orang tolol. “Tidak. Maksudku.. itu bagus,” ralatnya.

Tiffany ikut melirik Siwon, lalu beralih pada Nichkhun lagi. Gadis itu mengedikkan bahu dan mengeluarkan sebuah pocket camera dari dalam tasnya.

“Tolong ambilkan fotoku dan Siwon,” pintanya sambil menyerahkan pocket camera itu pada Nichkhun.

Nichkhun meraih pocket camera itu dengan raut cemberut. Ia mengangkat pocket camera itu dan siap membidik keduanya. Pemuda itu tertegun saat Siwon dan Tiffany mulai berpose bak sepasang kekasih—lengan Tiffany sudah melingkar nyaman di pinggul Siwon, sementara tangan Siwon mendekap bahu Tiffany.

“Khun, usahakan ambil setengah badan saja, okay?” seru Tiffany.

Nichkhun tidak sanggup mengatakan apapun selain mengangguk. Ia mengambil gambar itu dengan cepat, lalu menyerahkan pocket camera itu Tiffany.

“Ini. Aku mau ke kamar mandi dulu,” katanya, lalu pergi.

Okay. Jangan lama-lama!” teriak Tiffany, tapi Nichkhun tidak menyahut.

“Biar kulihat hasilnya.” Siwon mengambil pocket camera itu dan terentak. “Oh!”

“Ada apa?”

“Lihat.”

Tiffany setengah merebut pocket camera itu dari Siwon, melihat hasil gambarnya, dan meringis kesal. “Khun, kau benar-benar brengsek!”

Nichkhun rupanya hanya mengambil gambar kaki mereka.

***

“Mengapa kau tiba-tiba bersikap aneh begini di depanku dan Siwon?” tanya Tiffany kesal. Ia akhirnya berhasil menarik Nichkhun dan mengadakan pertemuan empat mata dengan pemuda itu, sementara Siwon menunggu mereka di dalam mobil.

“Apa? Aku tidak bersikap aneh,” balas Nichkhun dengan tampang innocent. Pemuda itu mengangkat wajah dan menyilangkan kedua lengan di atas dada—berlagak tak acuh. Ia tidak mau terdengar seperti seorang istri tua yang cembutu, tapi ia semakin yakin kalau Tiffany dan Siwon memang sedang mencoba melangkah ke sebuah hubungan yang lebih serius.

“Oh yah? Setelah bagaimana reaksimu tadi? Kau pikir aku ini tolol, Khun?” Nada suara Tiffany meninggi.

“Sudahlah,” Nichkhun mengibaskan tangannya. “Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”

“Kau hanya cemburu padaku, Khun! Jika kau juga menyukai Siwon, seharusnya kau mengatakannya saja langsung padaku!” bentak Tiffany frustasi.

Wajah Nichkhun berkedut penuh emosi. Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat agar tidak “meledak” di depan Tiffany. Dengan gerak pelan, Nichkhun mengangkat wajahnya dan memasang tampang dinginnya yang menusuk.

“Aku memang menyukainya,” sahutnya. “Lalu, kenapa?”

To be continued.

133 thoughts on “Threesome (Part 3)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s