[Oneshoot] Secret Forest

“Tunggu aku sekali lagi…”

“Secret Forest” by AidenTOP

Cast: Donghae, Jina (OC) || Genre: AU, Fantasy, Family, Romance, Friendship, Ngaco || Length: Oneshoot || Rating: PG–17 || Disclaimer: OC dan alur hak paten&cipta berlaku pada saya. Cast milik Tuhan. Author tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi in i|| Warning : Out of Character, Diksi Gaje, Bulepotan Style, Typo masih halal.

-o-

Kembali malam ini Jina teringat akan kejadian waktu itu. Kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan. Itulah janjinya dalam hati…..

–FLASHBACK–

“Chagi, ada sesuatu yang harus kukatakan kepadamu…..”

“Hmm…apa itu chagi? Sesuatu yang penting kah, eum?” Jina merengkuh leher Donghae. Merengkuhnya dalam pelukan siap untuk mendengarkan.

“Aku akan pergi lagi…..”jawab Donghae dengan hati-hati. Ya, Jina sudah mengerti dengan kalimat ‘aku akan pergi lagi’ itu. Seketika Jina melepaskan rengkuhannya namun Donghae menahannya, memaksanya untuk menatap matanya seakan mengatakan ‘tolong dengarkan aku sebentar….’

“Ya…ya…ya… aku tahu itu. Kau akan kembali lagi ke hutan-hutan, berkelana mencari entah apa tanpa tujuan dan seterusnya dan seterusnya. Arraseo, aku sudah tahu itu, tidak perlu untuk dijelaskan,”

“Tapi kali ini aku akan pergi ke tempat impianku,” tampak wajah Donghae berseri-seri. Matanya menerawang luar jendela, menatap bulan yang tersenyum saat itu.

“Apa maksudmu???”

“Butuh waktu yang lama bagi aku dan timku untuk mencapai ke sana. Dan inilah waktu yang tepat karena kami sudah mempersiapkannya semua. Bukankah sudah pernah kuberitahu hal ini pada mu dan kau bilang kau akan selalu mendukung ku? Ayolah chagi, hanya kaulah satu-satunya yang mengerti aku saat ini, dan kau pun juga tahu alasan lain kenapa aku ingin kesana.”

“Tapi…..”

“Aku mengerti. Ya, memang disana masih misterius dan belum diketahui apa saja makhluk hidup yang menghuni hutan itu. Tapi inilah yang ku impikan! Aku ingin namaku terukir sebagai salah satu penemu hutan yang masih misterius itu meskipun tidak ada yang berani melakukannya aku yakin untuk melakukannya!”

Pasrah. Sudah menjadi pilihan terakhirnya. Jina tahu tidak akan bisa melawan kekeras kepalaan Donghae yang melebihi batu bahkan karang laut sekalipun itu jika sudah bertekad di dalam hatinya terlebih ini adalah mimpinya. Cita-citanya seumur hidupnya.

“Jadi??”Jina melanjutkan disertai helaan nafas beratnya.

Donghae menarik Jina ke dalam pelukkannya, erat dan dalam. Membiarkan Jina untuk mendengarkan setiap detak jantungnya yang berdegup kencang dengan Jina yang saat ini ada dipelukkanya. Memberitahunya bahwa jantungnya akan selalu berdetak lebih kencang saat Jina ada disampingnya.

“Jadi…..tunggulah aku Jina. Tunggulah aku sama seperti kau selama ini kau menungguku. Aku berjanji padamu akan kembali padamu utuh tanpa terkecuali. Aku tidak pernah ingkar janji padamu kan? Jadi untuk kali ini, untuk sekali ini saja aku kembali memohon kepercayaanmu. Yakinlah akan cinta kita berdua, itulah yang akan menjadi kekuatanku nanti,” Donghae menatap dalam manik mata itu susul menyusul dengan cahaya lain untuk menjadi yang pertama memberi cahaya dimata itu.

Jina sudah tidak tahan lagi, ia tidak ingin kehilangan Donghae namun juga tak ingin menghalangi mimpinya. Egois bukanlah dirinya. Dia tidak mau menahan Donghae namun dia juga tidak bisa meyakinkan hatinya untuk percaya semua pernyataan Donghae kali ini. Menetes sudah air matanya tanpa bisa dikendalikan lagi‘Tapi kenapa? Kenapa aku merasa semua perkataannya seperti dia tidak akan kembali lagi??’

“Uljima chagi. Aku akan semakin berat untuk pergi jika saat terakhir sebelum kepergianku melihat mu menangis seperti. Yakinkanlah dirimu, kuatkan aku jika aku memang bisa dan akan berhasil seperti biasanya. Aku tidak akan mengecewakanmu Jina. itu janjiku…” Jina mendongak. Matanya yang sembap itu membalas tatapan hangatnya Donghae  mencari kelemahan dari semua pernyataannya tapi nihil. Hanya ada keyakinan kuat yang melingkupi.

Mata hangat itu sudah terpejam.  Mulai mendekat, mencoba menghapus jarak antara mereka. Donghae mencium lembut bibir itu untuk menenangkan hati Jina untuk tidak perlu terlalu khawatir akan dia. Asin dan basah mendominasi ciuman mereka karena Jina yang menangis. Namun Donghae masih bisa merasakan manisnya bibir Jina, menyadari bahwa dia sangat merindukan bibir itu memanjakan bibirnya. Donghae masih mencium lembut bibir Jina yang tak kunjung merespon, menyapu lembut setiap incinya menyatakan betapa ia sangat merindukannya kelak.

“Ya…Tuhan jika itu memang benar, tolong kuatkan aku. Hatiku yang ponggah ini tidak bisa berdamai dengan logikaku yang terus bertolak belakang. Kekhawatiran apa ini? perasaan macam apa ini? Tuhan…..jika Kau kehendaki dia melakukan ini semua aku hanya bisa minta tolong padamu, sertai dia apapun, dimanapun dan kapanpun…..” dan akhirnya Jina membalas sentuhan lembut Donghae seolah ingin meyakinan hatinya sendiri.

“Dan…..” Donghae melanjutkan sambil mengeluarkan sebuah suling bambu. Selintas Jina mencium wangi harum menyeruak dari bambu itu ketika Donghae mengeluarkannya. Permukaannya penuh dilapisi ukiran indah disetiap guratannya.

“Aku tahu kalau kau suka memainkan suling makanya aku memberikan suling ini padamu supaya kau dapat ingat aku dan dapat menjadi nada indah yang kau tiupkan meskipun aku tidak ada disisimu………………..tunggulah aku.”

–FLASHBACK END–

‘YA…Donghae aku masih menunggumu setia sampai hari ini tepat 6 bulan kau pergi’ katanya dalam hati. Tersadar dengan suling yang sudah di pegangnya sedari tadi, Jina mulai memainkan suling pemberian Donghae dengan lagu kesukaan Donghae karena hanya ini yang bisa dilakukan Jina setiap kali dia merindukan Donghae. Tuuuuuuuut…..lagu ‘Love You’ pun mulai mengalun indah memenuhi ruangan itu…………………

“………kau tau Jina lagu ini adalah lagu favorit ku, entah kenapa aku begitu menikmati lagu ini setiap lagu ini dilantunkan mungkin karena aku selalu mengingatmu setiap menyayikan lagu ini……………………”

Jina berhenti memainkan sulingnya. Kembali untuk kesekian kalinya air matanya mengalir setiap kali mengenang Donghae. Menangis tanpa suara. ‘Oh Tuhan aku sangat rindu padanya’ jeritnya tertahan dalam hati.

“Aku butuh seseorang untuk menemaniku disaat seperti ini, Donghae mungkinkah kau kembali dan masih  sempat untuk melihatku sekali saja? Aku benar-benar membutuhkan mu saat-saat ini,” Jina menatap nanar keluar jendela. Pupil matanya menangkap cahaya bulan yang seakan menatapnya juga. Dia tersenyum.

“Bulan, pasti saat ini kau sedang melihatnya disuatu tempat bukan? Kau pasti melihatnya saat ini baik-baik saja, kan?” Jina membisu seketika. Hanya ada air mata disana.

Kekalutan hatinya tidak bisa dia tutupi lagi ketika ke-frustrasi-an mulai muncul kembali kala Donghae masih belum juga kembali membuat kekhawatirannya semakin nyata tapi ia mencoba untuk terus menyangkalnya bahwa Donghae saat ini baik-baik saja, ya, baik-baik saja, hanya tersesat atau ….. apapun itu dia yakin Donghae akan kembali.

“Ya, pasti. Karena kau dapat melihat seisi belahan bumi dari atas sana. Tolong sampaikan aku rindu padanya…..tolong jangan berhenti menyinarinya, bulan jika saat ini dia memang tersesat. Aku disini akan menunggunya…..menunggunya……menunggu Donghae…..”

Jina memeluk sulingnya erat ditengah isakanya yang semakin kuat, terkulai lemah di bawah jendela yang terbuka lebar memungkinkan masuknya sinar bulan yang juga menerpa lembut tubuhnya dari belakang.

Jina menatap nanar suling di tangannya, “Aku harus kuat!” kembali Jina meniup sulingnya dengan indah tanpa ia sadari seseorang  sudah mendengar semuanya dan pergi kembali tanpa bekas…..

Tes…tes…tes…

“Uhuuk…uhuk…..”

Darah tiba-tiba mengalir di hidung Jina dan diikuti rasa sakit didadanya, “Tch…sakit ini lagi…” buru-buru Jina menghapus darah yang di hidungnya dan sejenak menatap darah tersebut yang disertai air mata yang mengalir.

“Aku tidak akan menyerah hanya dengan penyakit ini!” lalu Jina menghempaskan sarung tangan tersebut ke tempat sampah begitu saja dan beranjak dari situ.

***

“Anda terkena sirosis nona.”

“A…apa? Sirosis?”

“Iya nona. Kanker hati. Kini sudah berada di stadium 3. Itu yang kini membuat anda terus mengeluarkan darah dan memuntahkan darah setiap kali anda batuk. Kemungkinan yang lebih parah akan terjadi nona jika tidak segera ditangani..…anda butuh pendonor untuk dicangkokkan hanya itu sementara yang bisa diupayakan.”

“Kupikir…..kupikir…..ini hanya sebuah mimisan biasa…..ini hanya…..” dokter itu diam saja. Tidak tahu harus berkata apa lebih tepatnya.

Hancur sudah! Sirosis, sendirian dan kini tinggal kematian yang belum terjadi. Apa lagi? Hanya tinggal itu yang tersisa tidak lagi ada harapan. Jina berjalan gontai, sendirian sehabis dari rumah sakit. Tanpa sengaja Jina menabrak seseorang dengan jubah hitam yang membuat wajahnya tidak terlihat.

“Ma…maaf. Maafkan aku tuan,” dan kembali Jina pun berjalan tanpa perduli siapa yang telah ditabraknya. Orang itu menoleh kearah Jina, tampak kaku dan diam kemudian menghilang…..

Tanpa disadarinya, Jina telah sampai rumahnya dengan hanya berjalan namun kemudian Jina terkejut dengan pemandangan di depannya. Seekor anjing mungil tertidur di depan pintu rumahnya lalu terbangun karena kedatangan Jina.

“Guk…guk…” anjing itu mengonggong pada Jina. Jina pun tersadar dari lamunannya.

“Eh…kenapa bisa anjing kecil ini ada disini? Anjing kecil kenapa kau bisa berada disini di mana tuan mu? Pasti dia mencarimu saat ini.”

“Guk…guk… .”Jina membawa anjing kecil itu kedalam rumahnya, segera memandikan anjing kecil itu. Dalam hatinya Jina sangat senang menemukan anjing kecil itu didepan rumahnya namun dia harus mengembalikannya kembali ke pemiliknya. Ia tidak ingin pemiliknya sedih sudah kehilangan anjing lucu ini. Anjing itu terlihat sangat senang saat dimandikan dan diperlakukan dengan sayang oleh Jina.

Jina pun sudah siap untuk mengembalikannya kembali pada tuannya. Jina terbesit rasa tidak rela untuk mengembalikan anjing ini kembali tapi Jina sadar bahwa sesuatu yang bukan miliknya pasti akan cepat menghilang karena itu bukan merupakan haknya.

Pagi harinya Jina pun memulai melakukan misinya. “Anjing kecil…..aku harus segera mengembalikan mu pada pemilik mu. Maafkan aku, bukannya aku tidak menyukaimu tapi kau pasti milik orang lain dan aku tidak bisa mengambilmu begitu saja. Sehari rasanya sudah cukup bagi kita,” Jina tersenyum sejenak.

“Ayo kita harus segera,” Jina menggendongnya berjalan di tengah-tengah rumah warga setempat yang kemungkinan kehilangan anjingnya. Namun tidak satupun orang yang dikenalnya ataupun orang-orang sekitarnya yang ia tanya tahu tentang siapa pemilik anjing kecil ini.

“Uhuk…..uhuk…..sshh……”

“Guk…..guk…..”

“Sshh…..ah anjing kecil, ini bukan apa-apa,” Jina tersenyum meyakinkan menanggapi pandangan ingin tahu dari sang anak anjing. “Ayo…”

Tak terasa haripun sudah siang dan Jina pun baru sadar kalau dia belum makan sedari pagi. Ia memutuskan untuk makan dipinggiran jalan dan membawa serta anjing itu bersamanya.

“Wah ternyata sudah siang. Perut ini sudah menjerit minta makan. Baiklah aku akan makan dulu baru aku akan lanjutkan lagi. Kau juga kan pasti sudah lapar dan ingin makan . Iya kan?”

“Guk…guk…guk…”Jina tertawa mendengar gonggongngannya  yang dia yakini sebagai persetujuan. Jina memesan 2 porsi makan siang untuknya dan anjing itu, diapun meminta pelayan untuk menambahkan sedikit tulang-tulangan pada makanan anjing itu dan anjing itu pun menyukainya.

Kembali Jina melanjutkan pencariannya setelahnya dan akhirnya dia menyerah dan dia juga sudah lelah ketika dirasanya sakit didadanya semakin menjadi setelah seharian berjalan.

“Mungkin ini artinya kau akan tinggal disini,” katanya disertai senyum mengukir disana.

“Hmmm…aku harus memberimu nama, tapi apa ya panggilan yang cocok untukmu? Aha! Aku tahu, karena kau pintar menari aku akan memberikan mu nama Bugs! Bagaimana?”

“Guk…..guk…..” Bugs pun menari-nari kegirangan.

“Oh baiklah berarti itu tanda setuju,” Hari-hari Jina pun sudah tidak sendirian lagi sejak kedatangan Bugs. Kini dia sudah tidak lagi larut dalam kesedihannya meskipun terkadang masih dirasakannya. Mereka selalu bersama kemana-mana, Bugs senang di ajak ke taman karena dia bisa bermain-main disana dengan Jina. Bugs pun juga sudah pintar dan lebih mudah diatur. Tak ada masalah bagi Jina untuk merawat Bugs.

Lalu suatu malam ketika Jina sudah tertidur, ada seseorang yang datang menyelinap masuk ke rumahnya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar Jina dan dia pun meletakkan sesuatu di atas meja dekat tempat tidurnya.  Sejenak dia menatap Jina, dia ingin menyentuhnya namun urung dia lakukan dan dia pun pergi.

***

Mentari mulai menampakkan senyumnya menyalurkan setiap sinar yang dia miliki kepada setiap insan yang membutuhkan. Jina mulai mengerjap perlahan, membiasakan matanya menerima cahaya pagi menyegarkan itu.

Ketika Jina bangun dari tempat tidurnya, tidak sengaja Jina pun melihat sesuatu di atas mejanya yang di timpa dengan suling pemberian Donghae. “Surat? Surat apa ini? Siapa yang menaruhnya disini?” segera Jina membukanya dan membaca isinya.

“LEE DONGHAE MASIH HIDUP”

Betapa kagetnya Jina demi membaca tulisan itu. Senang tentunya Jina mengetahui hal ini namun ia masih tidak habis pikir siapa yang menaruh surat misterius ini di tempat tidurnya? Siapa dia yang mengetahui keberadaan Donghae sebenarnya?

Jina bingung bagaimana bisa ia mengkonfirmasikan hal ini, namun akhirnya ia memutuskan untuk datang ke tempat perkumpulan konservasi kehutanan, tempat dimana Donghae biasa berkumpul dulu seperti biasa yang dia lakukan selama ini untuk mengetahui perkembangan pencarian Donghaedan timnya yang hilang.

“Bugs, maaf aku tidak bisa membawa serta kau bersama ku. Ini begitu mendadak, aku harus pergi sekarang. Kau baik-baiklah dirumah, ya?” Bugs tampak diam saja tidak seperti biasanya lalu Jina pergi begitu saja tanpa mengetahuinya.

Sesampainya di sana Jina bertemu dengan beberapa teman Donghae yang dia kenal, ia menanyakan perkembangan pencarian tim penyelamat namun seperti biasanya pula mereka tidak bisa memberitahukan apa-apa bagi mereka itu sudah mustahil jika 6 bulan lamanya orang yang hilang di hutan masih selamat. Jina tak percaya ini, iya yakin Donghae masih hidup sama seperti surat misterius itu.

“Sudahlah Jina kau harus mengikhlaskan semua ini. Jangan lagi kau pikirkan hal ini lagi. Ini sudah menjadi resiko seorang aktivis konservasi kehutanan dan kau mengetahui hal itu kan? Jadi…..”

“Aku mendapatkan surat misterius pagi ini,” Jina selanya kemudian. “Isinya mengatakan kalau Donghae masih hidup dan aku yakin juga begitu,” Jina masih berbicara tanpa ekspresi.

“Aku ingin ikut kalian untuk melakukan pencarian!” kata Jina akhirnya. Tampak jelas keterkejutan meliputi wajahnya.

“Apa? Tidak mungkin, itu tidak mungkin Jina. Meskipun tim kami masih melakukan pencarian,  Kau tidak akan bisa masuk tim kami untuk ikut pencarian kau belum terlatih dan itu membutuhkan waktu yang lama untuk berlatih dan kami juga sudah mendengar kalau kau mengidap sirosis, hal ini tidak memungkinkan kau untuk ikut kami.”

“Aku tidak peduli !! Meskipun aku sakit, meskipun aku mati nantinya, aku tidak peduli !! Aku ingin sekali mengetahui keberadaannya yang sebenarnya supaya aku tidak menyesal nantinya tanpa melakukan apa-apa untuknya. Aku sudah lelah hanya duduk diam menunggu. Aku ingin mencarinya. Jadi tolonglah aku Joo Won,” kata Jina yang akhirnya menangis.

Joo Won tidak bisa melakukan apa-apa. Ia pun akhirnya perbolehkan Jina untuk bergabung dengan tim namun setelah Jina melakukan pelatihan. Jina mengiyakan dan dia janji untuk datang ke pelatihan yang akan datang.

Jina pun berpamitan dengan Joo Won. Ketika Jina keluar tempat ruang perkumpulan tersebut, tampak seseorang yang menggunakan jubah hitam bersembunyi di balik pohon masih dengan wajah tertutup sedang mengamati Jina berjalan dan naik bus dan ia pun juga ikut naik bus itu.

Sesampainya di rumah, “Bugs, Bugs aku sudah pulang. Dimana kau??Bugs, Bugs…” Jina bingung kemana Bugs pergi. Apa mungkin dia keluar rumah? Tapi itu tidak mungkin karena ia mengunci rumah, lalu kemana Bugs pergi? Tidak seperti biasanya Bugs seperti ini. Apa karena dia marah padaku karena tadi meninggalkannya? Sontak Jina buru-buru pergi mencari Bugs ke luar  ia takut kehilangan lagi namun tidak menemukannya sama sekali.

Kelelahan, ia pun tidak menyadari darah telah mengucur di hidungnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan ia pun kaget melihat Bugs yang sudah berada di rumah, “Oh…Bugs kau sudah…”BRUUK Jina pun pingsan.

“Aargh…dimana aku?” kemudian suster yang merawatnya datang “Nona, anda ada di rumah sakit, tadi anda dibawa kesini karena anda pingsan dan tidak sadarkan diri selama 2 jam,” jelas sang suster.

“La…lalu siapa yang membawaku ke sini?” Tanyanya seraya mengamati ruangan serba putih itu.

“Ada seseorang yang membawa anda kemari. Dia menggendong anda kemari,”

“Seseorang??”

“Iya dia laki-laki dengan jubah hitam, tapi dia tidak menyebutkan namanya dia langsung pergi dan dia hanya bilang untuk menjaga anda dengan baik. Tampaknya dia begitu khawatir.”

“Tapi kenapa dia langsung pergi begitu saja?”

“Saya juga tidak mengetahuinya nona. Nona beristirahatlah…”

“Ne..…gamsahamnida suster,” suster itu tersenyum dan pergi meninggalkan Jina yang masih dengan pikiran berkecamuk dikepalanya. ‘Sebenarnya siapa dia? Apa dia itu Donghae? Tapi itu tidak mungkin,kalau itu Donghae kenapa ia tidak memberitahu aku dia sudah kembali malah pergi meninggalkan aku begitu saja?’

Setelah 3 hari Jina di rawat di rumah sakit,  Jina kembali ke rumah masih dengan keadaan yang lemas. Setelah meminta izin dokter dan meyakinkan dokter bahwa ia bisa menjaga dirinya baik-baik ia pun di perbolehkan pulang. Ia teringat dengan keadaan Bugs yang sudah tiga hari ini tidak dia urus.

Sesampainya Jina di rumah, Jina pun langsung mencari Bugs yang ternyata sedang tidur di tempatnya. Bugs bangun mendengar kedatangan Jina. “Ah…Bugs maafkan aku sudah meninggalkan mu selama 3 hari ini. Kenapa waktu itu kau pergi dari rumah? Sudahlah, maafkan aku belum bisa mengajak mu bermain hari ini aku masih lelah,” kembali Bugs masih tetap diam melihat Jina yang sedang berjalan ke kamarnya.

Di kamarnya Jina masih tetap memikirkan hal itu. Siapa yang mengirimkan surat itu? Siapa yang membawaku ke rumah sakit? Donghae? Itu tidak mungkin. Kenapa dia tidak datang padaku kalau dia sudah kembali?. Jina pun menangis bingung dengan ini semua.

Matanya tak sengaja melihat suling pemberian Donghae, sudah lama rasanya Jina tidak memainkan suling itu mungkin ini dapat meredakan semua kebingungannya. Ia pun memulai memainkannya seperti biasa. Lagu ‘love you’. Bugs mendengar bunyi suling yang di mainkan Jina dan mendengarkannya dibalik pintu lalu beranjak pergi.

Hari ini Jina akan pergi ke tempat pelatihan konservasi kehutanan sesuai janjinya pada Joo Won. Dia masih merasa lemas namun ia tidak peduli dengan penyakitnya sekarang, yang dia inginkan hanya mencari Donghae.

Akhirnya Jina pun ikut pelatihan selama 6 bulan lamanya dan dia pun kini sudah siap untuk mengikuti pencarian bahkan ia masuk sebagai tim inti dan rencananya dua minggu lagi akan melakukan pencarian Jina yang pertama. Jina sudah mantap dengan segalanya peralatan bahkan dirinya. Namun dia masih saja mengkhawatirkan penyakitnya dan dia memilih untuk bersikap tidak peduli.

“Dua minggu lagi kita akan melakukan pencarian,” kata Joo Won pada Jina

“Ya, aku tahu dan aku juga sudah siap,” jawabnya sambil sesekali menyesap teh hangatnya.

“Apa kau yakin? Apa kau yakin dengan semua ini?”

“Kalau aku tak yakin kenapa aku harus membuang-buang waktu untuk melakukan semua ini?” hardiknya.

“Jangan membuatku tambah banyak masalah Joo Won, aku sudah lelah diam saja menunggu kabar Donghae yang belum kembali. Hanya ini yang bisa ku lakukan meskipun nantinya aku akan mati di tengah pencarian aku tidak peduli!”

Jina pun pergi meninggalkan Joo Won yang mematung. Seketika Jina merasakan sakit di dadanya, dia memegangi dadanya yang sakit. Sial! Runtuknya dalam hati kenapa penyakit ini harus datang di saat yang tidak tepat. Tidak lagi kuat menahan  sakit di dadanya Jina pun pingsan sebelum akhirnya keluar dari tempat perkumpulan konservasi.

“Jina!!!!!!!!,” Joo Won yang melihat itu langsung membawa Jina ke rumah sakit di bantu dengan teman-temannya.

“Jina kini sudah mengidap sirosis yang akut. Kini sirosisnya sudah pada stadium 4 dan mungkin lebih parah. Tidak ada yang bisa dilakukan selain melakukan pencangkokan tapi sayangnya kami tidak memiliki pendonor yang cocok,” kata sang dokter panjang lebar

“A…..apa dokter?sirosis? sudah separah itukah? Bagaimana ini, ini artinya dia tidak bisa ikut melakukan pencarian?” Tanya Joo Won

“Ya, itu sungguh tidak mungkin bahkan untuk bangkit dari tempatnya sekarang itu masih diragukan,” tampak dokter tidak bisa apa-apa lagi, Joo Won juga sudah tidak tahu apa lagi yang dia perbuat dengan pacar temannya itu. Lalu di balik pintu terlihat seseorang yang sedang mendengar semuanya itu dan pergi sebelum Joo Won berpamitan dengan dokter untuk pulang. Joo Won sejenak melihat keadaan Jina yang sedang di rawat.

“Aku pulang dulu Jina,”  Joo Won beranjak dari tempatnya kemudian datanglah seseorang dengan jubah hitam itu lagi dan melakukan hal yang sama namun hanya diam. Sampai akhirnya dia bilang, “Bertahanlah…..” dan lagi-lagi pergi ke tempat dokter berada.

“Dokter… saya ingin bicara dengan anda…”

Dua minggu sudah Jina dalam keadaan koma di rumah sakit dan akhirnya Jina tersadar dari komanya. Dokter langsung memeriksakan keadaannya. Dokter itupun tersenyum.

“Anda sudah sembuh nona…..” kata sang dokter tersenyum

“A…apa? Tapi itu mustahil dokter, bagaimana mungkin saya bisa sembuh?”

“Ada seseorang yang berbaik hati ingin mendonorkan hatinya tanpa dibayar.”

–FLASHBACK—

Orang dengan jubah hitam itu masuk ke ruang dokter “Dokter saya ingin bicara dengan anda…”, kemudian dia membuka tudung kepalanya dan tampak wajahnya kaku dan putih pucat dengan rambutnya yang kuning emasnya “… saya ingin medonorkan hati saya pada Jina,”

“Benarkah? Tapi saya harus mengetes kecocokkan DNA anda dengan DNA Jina dan kami tidak menerima pendonor yang masih hidup. Itu melanggar hukum,”

“Aku yakin hatiku cocok dengan Jina, tenanglah dokter aku akan kembali dengan membawa hatiku. Aku akan menghubungi dokter,” dokter hanya diam dan dia pun pergi. Ternyata ia berencana menabrakkan dirinya dengan mobil dan dia pun di bawa kerumah sakit dimana Jina di rawat. Sang dokter segera datang begitu melihat korban kecelakaan dan begitu kaget melihat si korban yang ternyata yang tadi datang kepadanya. “Dok…dokter la..la..lakukanlah apa yang saya minta dan tolonglah berikan surat ini padanya,”

“Baiklah, akan saya lakukan…” dia pun meninggal.

–FLASHBACK END—

“Begitulah ceritanya nona, saya tidak sempat menanyakan siapa dia dan apa hubungannya dengan nona. Dan ini…,” dokter memberikan surat yang penuh dengan darah itu ke Jina yang tengah menangis haru.

“Mungkin ini akan memberikan anda petunjuk tentang siapa dia, saya permisi dulu,”

“Terima kasih dokter,” Jina langsung membuka surat dan membacanya

Jina mungkin saat kau membuka surat ini kau sudah sembuh dari sakitmu

Maafkan aku tidak bisa menjagamu selama ini, hanya ini yang bisa kuperbuat untukmu

Semoga dengan hati yang ku donorkan pada mu dapat menjadi permohonan ku yang terakhir sebelum aku pergi. Mungkin kau bertanya siapa aku sebenarnya?aku selalu berada didekatmu hanya saja

Kau tak menyadarinya. Maafkan aku Jina…..

Tertanda

Bugs

Bugs??apa? Bugs? Kenapa bisa Bugs dia kan hanya seekor anjing kecil…apa sebenarnya ini??? Lalu tiba-tiba… BRUSSSHHH Jina kaget dengan kedatangan seseorang yang di depannya yang begitu tiba-tiba

“Ya Jina, ini aku Bugs. Aku yang telah mendonorkan hati padamu. Aku memang anjing itu,” kata Bugs

“Jadi selama ini kau bukan anjing, kau…kau siluman??”Tanya Jina keheranan

“Aku bukan siluman, aku memang manusia namun aku dikutuk menjadi seekor anjing,” kemudian dia membuka tudung kepalanya dan Jina kaget melihat sosok yang didepannya “Namaku sebenarnya Taemin  dan aku adalah adik Donghae hyung.”

“Adiknya Donghae?”

“Ya aku adiknya Donghae kau mungkin tidak tahu aku karena dia tidak pernah bercerita makanya dia tidak memberitahukan alasan sebenarnya dia pergi padamu, karena akulah makanya Donghae hyung pergi ke hutan misterius itu sendirian untuk mencariku karena 2 tahun yang lalu aku mengilang di hutan itu namun sebenarnya aku tidak menghilang aku hanya tidak bisa kembali Karena aku dikutuk menjadi seekor anjing dan dia pun kini juga telah dikutuk menjadi seekor serigala hitam  makanya tidak ada pemberitaan yang besar tentangnya karena hal ini hanya diketahui segelintir orang. Hanya aku yang lolos dari hutan itu karena saat aku keluar dari tempat itu hyung terluka dan tidak dapat melanjutkan perjalanan dan aku meninggalkannya dan berpesan untuk menjagamu…” Taemin tertunduk dan mulai terisak.

“Jadi…bagaimana dengan dia?” Jina mulai menaikkan nada bicaranya.

“Maafkan aku karena keegoisanku kau menjadi seperti ini, makanya aku ingin menebusnya. Akulah yang menaruh surat itu, yang membawamu kerumah sakit dan donorkan hatiku hanya itu yang bisa ku lakukan terakhir kalinya. Mungkin hyung masih hidup di hutan itu.”

“Dimana dia sekarang??”

“Hutan misterius itu berada di sebelah selatan kota Gangnam Utara tidak ada yang tahu keberadaan hutan itu karena hutan itu tersembunyi di balik gunung. Hanya aku dan hyung yang mengetahui keberadaan hutan itu saat kami pergi berpetualang bersama-sama dan kami berjanji untuk datang kesana suatu hari nanti untuk mengukir nama kami disana sebagai penemu hutan baru. Tapi karena keegoisanku aku hanya ingin hutan itu di ukir dengan namaku makanya aku pergi kesana yang ternyata penuh dengan kegelapan,”Taemin diam untuk sementara waktu dan Jina hanya diam tangisnya.

“Aku harap kau mau memaafkan aku Jina dan tolonglah selamatkan dia…kau dapat melawan mereka dengan sulingmu itu,” Taemin pun pergi dengan tenang.

Tiga hari sebelum jadwal pencarian Jina datang ke tempat perkumpulan konservasi kehutanan dan menyatakan keiginannya untuk pergi sendirian. Namun semua orang menolaknya dan Jina tetap bersikeras tanpa perduli yang lain dan diapun pergi dengan suling pemberian Donghae ditangannya.

Kota Gangnam sebelah selatan, setelah menempuh perjalan panjang butuh 12 jam Jina menemukan tempat itu dan sampailah Jina pada sebuah hutan kemudian dia menyusuri gunung dan menemukan sebuah batu yang terukir dengan tulisan aneh tepat di belakang kaki gunung tersebut.

Jina tak sengaja menyentuh batu itu dan melihat hutan misterius yang sebelumnya tidak ada. Ia pun memasuki hutan itu dengan sedikit ragu dan takut tapi dia yakin Donghae berada di sini. Pelan-pelan ia menyusuri hutan, semakin dalam dia memasuki hutan dia semakin merasakan aura misterius dan gelap padahal hari iu masih siang. Sampai ada sesuatu yang mengikutinya, Jina menyadari ada yang mengikutinya. Lalu ketika berbalik Jina terlonjak kaget ketika melihat sesosok macan hitam  mengaum di depannya.

“Aargh…”, Jina berlari secepatnya dan terjatuh. Sang harimau semakin mendekat perlahan memaksanya untuk tetap mundur hingga membentur sebuah pohon besar. Kalut, dia hanya bisa melempar benda-benda yang dia temukan disekitarnya ke harimau itu hingga tanggan tak sengaja mengambil seruling yang disampirkan di samping tasnya.

Kemudian dia mainkan sulingnya karena teringat perkataan Taemin yang ternyata membuatnya menjadi kesakitan dan pergi meninggalkannya. Jina dapat bangun kembali dan melanjutkan penyusurannya. Di tengah perjalan Jina melihat sesuatu tempat yang begitu mengerikan baginya dari sebelumnya namun tidak sengaja menemukan segerombolan anjing hutan dengan mata merah menyala.

Jina bingung harus melakukan apa kemudian Jina mengeluarkan tali dari tas yang di bawanya dan mencambuk-cambukkanya ke mereka lalu mereka pergi sebagian mati. Sesampainya Jina ke tempat itu, ia melihat sekelompok hewan tengah berkumpul untuk menyembah seorang wanita cantik namun tampak mengerikan itu. Dia mengetahui kedatangan Jina.

“Ada penyusup!!!” dengan sigap hewan-hewan tadi langsung menggerubungi Jina. Alhasil Jina pun tidak dapat kemana-mana.

“Oh…ada wanita cantik rupanya? Kau ingin mengantarkan nyawamu secara sukarela kesini?” Tanya wanita sambil tertawa sinis.

“Aku…..aku mencari Donghae! Di mana dia???”

“hahaha, Donghae?? Dia sudah tak lagi menjadi manusia dia telah berubah manjadi serigala hitam dan telah menjadi suamiku, untuk apa kau mencarinya?”

“Dasar kau wanita jalang!” Kemudian dia gunakan tali tadi untuk melawannya namun tidak berhasil ketika wanita itu ingin menghabisinya tiba-tiba datang seekor serigala hitam, “ Hentikan Auzora!! Jangan sakiti dia!! Jina!!”

“ Donghae, inikah kau??”

“Iya ini aku Jina, tunggulah di sini aku yang akan melawannya”

“Tidak jangan lakukan itu, nanti kau akan mati.”

“Cih!……aku muak melihat kalian berdua lebih baik kalian ku hancurkan”, Auzora berubah menjadi seekor ular berkepala manusia. Akhirnya Donghae  dan Auzora pun bertarung. Donghae bukan lawan sepadan bagi Auzora sehingga Auzora lebih mendominasi membuat Donghae berkali-kali jatuh dan terlempar.

“Haha… kau bukanlah lawanku Donghae jadi matilah kau !!!”

WUUUUSSSSH

Datang sosok dengan jubah putih melindungi Donghae yang membuat Auzora terhempas. “Taemin…!” katanya geram namun kemudian Auzora bangkit kembali dan melawan Taemin hingga Taemin jatuh dihadapan Donghae. “haha… matilah kalian…”

“Jina!! sulingnya!!!” seru Taemin  mendengar ini buru-buru Jina menancapkan  suling yang dibawanya ke tubuh Auzora kemudian tubuh Auzora mengeluarkan banyak darah dan terbakar akibat wangi dari suling tersebut dan Donghae selamat. Seketika hutan misterius itu berubah menjadi hutan yang indah dan menjadi lebih terang. Tubuh Auzora menghilang dan hewan-hewan kembali menjadi manusia serta Donghae pun berubah. Betapa banyaknya orang-orang yang telah Auzora ubah menjadi hewan yang ternyata orang-orang sekitar yang melintasi hutan itu untuk dijadikan korban. Akhirnya hutan itu ditemukan oleh orang sekitar dan menolong mereka.

“Akhirnya tuntas sudah semua keinginanku, selamat tinggal kak…”Taemin dengan senyum indahnya “Taeminnnnnnnnn…….”

Beberapa hari kemudian tim penyalamat datang, Hutan itu kini diberi nama hutan Jihaemin yang diambil dari Donghae,Jina, dan Taemin.

“Akhirnya cita-cita kami terwujud.”

“Ya Donghae, adikmu akan bahagia disana.”

“Terima kasih kau sudah setia menungguku selama ini.”

“Ya. Apapun itu untukmu…” Jina menangis haru dan Taemin pun tersenyum dari kejauhan sana…..

FIN

“Oke. ini emang bener2 failed tingkat dewa. Haha. Apakah masih ada yang menunggu “Bledding Note” ?

Readers: Siapa lo? XD “

3 thoughts on “[Oneshoot] Secret Forest

  1. Idenya keren tp sayangnya terkesan terburu buru…
    Hiks knp taem baik bgt sampai berkorban gini…suka sedih klo bias mati…untung hae balik lg ke Jina…
    Nice ff…selalu berkarya ya…

  2. Wow fantastic beibih~ kkk~ cerita fantasynya asik thoooor!! 😀
    Aku kira bugs itu si donghae,taunya taemin..wah jadi bayangin nih kalo taemin rambutnya emas *-*

    Setuju sama mischa jung, di akhir kesannya buru-buru thor.. ada apakah gerangan thor? Soalnya di awal menikmati banget alurnya.. Tapi so far so good laaah~

    GOOD JOB THOR!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s