Threesome (Part 4)

A Story by Pseudonymous

Title: Threesome || Main cast: 2PM’s Nichkhun, SNSD’s Tiffany & Super Junior’s Siwon || Genre: Romance, Life, Friendship & Shounen-Ai || Length: Chapter || Rating: PG-15 || Disclaimer: My plot for sure. || Credit poster: Kihyukha || Previous part: Teaser, Part 1, Part 2, Part 3

***

Tubuh Siwon gemetar ketika melihat nama ayahnya berkedip pada layar ponselnya. Ia sempat berpikir untuk mengabaikannya, tapi ia tahu hal-hal ringan akan menjadi begitu serius jika ia membuat kesalahan sedikit pun dengan ayahnya. Maka Siwon memutuskan untuk tetap menerima telepon ayahnya, apa pun yang terjadi.

Ia mengamati sekelilingnya—melihat jok kosong di sebelah dan belakangnya—lalu mengamati keadaan di sekitar mobil. Belum ada tanda-tanda bahwa Tiffany dan Nichkhun akan kembali. Entah apa yang sedang dibicarakan keduanya, Siwon benar-benar tidak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah menyelesaikan semua rencananya dengan sesuai keinginannya, lalu menikmati kembali hidupnya yang sebenarnya.

“Kenapa kau terlambat mengangkat teleponku?” Suara baritone milik tuan Choi menegurnya dengan keras di seberang telepon.

“Maaf, Yah. Aku..” Siwon terdiam sebentar, mencari-cari alasan. “..baru saja kembali dari kamar kecil.”

Tuan Choi menggeram. “Begitukah?”

“Ya.”

“Kau sudah tahu bahwa aku akan kembali ke Korea dua minggu lagi?”

“Aku tahu.”

“Baguslah kalau begitu. Aku rasa ibumu sudah mengatakan bahwa kita akan mengadakan dinner bersama pada malam kepulanganku nanti.”

“Ya, Ibu sudah memberitahuku,” sahut Siwon, lemas.

“Lalu?”

Siwon mengangkat alis, namun beberapa saat kemudian teringat ucapan ibunya. “Aku akan membawa seorang gadis untuk kuperkenalkan padamu.”

Tuan Choi menggeram lagi. “Lalu, apakah kau sudah menemukannya?”

“Ya, aku sudah menemukannya.”

“Bagus.” Nada bicara tuan Choi terdengar puas. “I’ll see you in two weeks.”

“Ya.”

Telepon terputus. Siwon meletakkan ponselnya ke atas dashboard mobil, selanjutnya meringis dan mengetuk-ngetukkan jidatnya di depan stir.

“Bagaimana aku harus mengatakannya pada Tiffany?”

***

“Aku memang menyukainya. Lalu kenapa?”

Untuk pertama kalinya, suara hati Tiffany yang biasanya sangat “cerewet”, bungkam kehabisan kata. Ia mencoba menyadarkan dirinya bahwa yang didengarnya tadi tidak salah. Selama ini, Tiffany tidak pernah bertengkar hebat dengan Nichkhun, baik untuk masalah kecil sampai berat sekali pun. Dan sekarang, mereka terjebak dalam situasi tegang seperti ini hanya karena keberadaan Siwon di antara mereka. Untuk memperjelas lagi, masalah yang sedang mereka hadapi adalah masalah perasaan.

Tiffany tidak habis pikir, bahwa ia akan bersaing dengan seorang laki-laki—yang juga merupakan sahabatnya sendiri—untuk memperebutkan seorang laki-laki. Benar-benar sinting, pikir Tiffany.

Tiffany tidak pernah mendengar Nichkhun mengatakan hal seterus-terang itu ketika ia tertarik dengan seseorang. Paling-paling hanya, “Fany, menurutmu pemuda yang itu bagaimana?”, “Kupikir pemuda itu punya senyum yang indah”, atau “Seandainya saja pemuda itu tidak punya pacar.” Namun Nichkhun tidak pernah menunjukkan keseriusannya untuk benar-benar berpacaran. Selama ini, seperti yang sudah dikatakan tadi, bahwa hal paling “ekstrem” yang pernah dilakukan Nichkhun hanyalah sebatas rasa kagum. Tidak pernah lebih dari itu.

Namun, keadaan benar-benar berbeda sekarang. Sorot Nichkhun yang tajam, rahangnya yang mengeras dan garis dagunya yang tegas, semua itu seolah-olah sedang menantang Tiffany untuk sebuah persaingan.

“Hei, apa yang sedang kalian lakukan?”

Siwon tiba-tiba muncul—orang yang justru membuat keduanya terlibat dalam keheningan yang mencekam itu—dan menyapa keduanya. Tidak ada satupun dari mereka, baik Tiffany atau Nichkhun yang menyahut. Mereka masih membeku seperti itu, saling bertatapan. Siwon mengamati tingkah kedua orang itu dengan hati berdebar, merasa telah datang menginterupsi pada waktu yang salah.

“Apakah kalian sedang..” Siwon mengamati wajah Tiffany, lalu kearah Nichkhun, lalu kearah Tiffany lagi. “..okay. Aku akan pergi saja jika kalian masih ingin bicara.”

“Aku ingin pulang,” erang Tiffany. Suaranya terdengar lirih, seperti orang ingin menangis.

“Y-ya?”

“Aku ingin pulang,” ulang Tiffany. Terdengar jelas bahwa ia sedang berusaha terdengar tidak menyedihkan. “Kau bisa mengantarku pulang, kan, Siwon? Jika tidak, aku akan naik subway saja.”

Siwon melirik Nichkhun yang masih bergeming. “Tidak,” Siwon menggeleng. “Tentu saja aku tidak keberatan untuk mengantarmu pulang. Mari, biar kuantar kau pulang.”

Tiffany berjalan kearah Siwon dengan langkah lunglai. Tiffany terlihat menyedihkan, seolah-olah jiwanya baru saja dihantam sebuah badai emosi yang meluluh-lantakkan tulang-tulangnya hingga hancur, sehingga ia jadi tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri tegap. Siwon mengulurkan bantuan dengan memegang tangan Tiffany dengan erat. Dingin. Kulit Tiffany sangat dingin, sepertinya gadis itu terserang demam.

“Khun,” Siwon menoleh kearah Nichkhun sebelum akhirnya berbalik untuk menuntun Tiffany berjalan. “Bagaimana denganmu? Kau juga ingin kuantar?”

Nichkhun terlihat gusar. Matanya bergerak dengan gelisah. Ia melirik punggung Tiffany, lalu menggeleng pelan kearah Siwon. Menurut dugaannya, ia pasti tidak akan tahan semobil dengan Tiffany dalam beberapa menit ke depan. “Tidak usah. Aku akan pulang sendiri,” sahutnya.

“Kau yakin?”

“Ya.”

Okay.” Siwon mendesah kecewa. “Kami pergi dulu.”

Nichkhun mengamati punggung-punggung itu menjauh dengan hati gelisah dan resah. Tangan Siwon masih melingkar mesra di bahu Tiffany. Entah mengapa, saat itu, Nichkhun ingin sekali berlari kearah mereka, dan melakukan sesuatu—menghentakkan tubuh Tiffany agar tidak menyentuh tangan Siwon atau menepis tangan Siwon untuk tidak menyentuh bahu Tiffany. Nichkhun tersentak kaget mendengar hati kecilnya menawarkan kedua pilihan itu padanya.

***

“Kau baik-baik saja?”

Siwon menoleh kearah Tiffany yang duduk melorot di jok kursinya sambil memandang ke luar jendela.

“Ya, aku baik-baik saja,” sahut Tiffany tanpa minat.

“Wajahmu pucat. Ingin singgah sebentar untuk kubelikan sesuatu?”

Tiffany mengerang, terlihat agak kesal. “Aku ingin langsung pulang saja, Siwon.”

Siwon menjilati bibirnya dengan gugup. “Okay.”

Dalam perjalanan menuju apartemen Tiffany, Siwon memutar lagu “Jealous of Your Boyfriend” milik Servicing The Debt. Hanya lagu itu yang terus mengisi keheningan di dalam mobil. Tiffany masih enggan bicara dan Siwon begitu gemas ingin membicarakan sesuatu dengan gadis itu. Tapi, karena merasa waktunya belum tepat, Siwon menelan kembali kata-kata yang tadi sudah dipersiapkannya dan memilih untuk menunggu.

Begitu sampai di tujuan, Siwon sengaja turun untuk mengantar Tiffany sampai ke depan teras apartemen. Mereka masih belum bicara sama sekali sampai detik itu, tapi Siwon tidak keberatan. Ia menguntit Tiffany dari belakang dan gadis itu tiba-tiba berbalik ketika ia berhasil menaiki tangga terakhir teras apartemen.

“Terimakasih sudah mengantarku dan juga hari ini. Hari ini..” Tiffany menelan ludah. “Cukup menyenangkan.”

Siwon mengangguk. “Ya. Justu aku yang seharusnya berterimakasih karena sudah mau menjadi tour guide-ku.”

Siwon tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. Tapi ia gagal. Tiffany tidak tertawa sama sekali, bahkan tersenyum pun tidak.

“Aku masuk dulu,” kata Tiffany, lalu berbalik, meninggalkan Siwon.

Ketika gadis itu dua langkah lagi melewati pintu otomatis apartemen, Siwon mencegatnya. “Tiffany!”

Gadis itu berbalik. “Ya?”

Siwon berlari kecil menghampirinya. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Tiffany mengedikkan bahu. “Apa?”

“Aku ingin kau menjadi pacarku,” kata Siwon, terus terang. “Kau mau, kan?”

Pupil mata Tiffany melebar. Ini terlalu cepat, pikirnya. Ini terlalu buru-buru. Siwon meraih tangan Tiffany dan menggenggamnya erat. Diangkatnya tangan Tiffany sehingga jari-jari kurus gadis itu menempel pada dada Siwon.

“Kau mau, kan?” ulangnya.

Tiffany melirik tangannya yang telah dipegang erat oleh Siwon. Dengan ragu-ragu, ia menjawab, “Ehm.. Aku..”

“Kau mau, kan?” Siwon mengulang ucapannya untuk yang ketiga kali. Nada bicaranya terdengar mendesak dan memaksa kali ini.

“Entahlah, Siwon.” Tiffany tertawa sedih. “Tidakkah kau merasa bahwa ini terlalu cepat? Kita baru saja kenal dan—”

“Fany, pandang aku.”

Tiffany mendongak. “Apa?”

Untuk sepersekian detik, Tiffany tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya terjadi seperti kilat. Sangat cepat, sampai-sampai ia tidak sempat melihat wajah Siwon dan tahu-tahu wajah Siwon sudah begitu dekat, lalu bibir mereka bertemu. Ciuman itu hanya berlangsung tiga detik—barangkali—lalu Siwon melepasnya dengan raut kekagetan di wajahnya.

“K-kau..” Tiffany tergagap dan kesulitan bernapas.

Siwon terlihat kewalahan. Tangannya gemetar. “Ma-maaf.”

Tiffany hanya menggeleng. Entah menggeleng karena itu berarti tidak apa-apa, atau justru ia menggeleng karena menolak permintaan maaf Siwon atas ciuman itu.

“Kalau kau belum siap,” kata Siwon setelah hening yang panjang. “Aku akan menunggu jawabanmu. Aku pulang dulu sekarang. Aku akan menghubungimu nanti malam.”

Siwon bicara begitu cepat sampai-sampai Tiffany tidak dapat mendengar ucapannya dengan jelas kecuali bagian terakhir—Siwon akan menghubunginya nanti malam. Setelah pamit, Siwon dengan cepat menghilang, melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi dan menghilang ditelan keramaian jalan raya.

***

“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan ulangi—”

Nichkhun membanting gagang telepon keras-keras, hingga suaranya mengusik ketenangan di dapur—membuat ayah dan ibunya yang sedang menikmati secangkir teh sore dan kue tanpa pemanis, menjulurkan kepala kearahnya.

“Ada apa, Sayang?” tanya ibunya, lembut.

Nichkhun menggeleng resah. “Bukan apa-apa.”

“Kau yakin?”

Nichkhun menghela napas. Pemuda itu naik ke lantai dua, menuju kamarnya dan meninggalkan kedua orangtuanya dengan kepala yang didesakki oleh pertanyaan. Nichkhun berbaring di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya.

Sudah dua hari ia tidak bicara dengan Tiffany dan sudah dua hari pula Tiffany tidak datang ke kampus. Hal itu memicu kekhawatiran Nichkhun—walau ia sedang bersitegang dengan gadis itu—dan akhirnya memutuskan untuk menekan rasa egonya dengan menghubungi Tiffany. Ia juga sudah puluhan kali mencoba menghubungi ponsel Tiffany, tapi nomornya tidak aktif. Kemana sebenarnya anak itu? Dan apa yang sedang dilakukannya?

Nichkhun bangkit dari tempat tidur, menatap meja yang ada di samping tempat tidurnya dan merogoh isi lacinya, mencari-cari sesuatu. Dapat. Dua tiket konser Busker Busker untuk hari Valentine nanti yang ia beli kemarin. Nichkhun sengaja membeli tiket itu lebih cepat karena selain tidak ingin kehabisan, ia ingin cepat-cepat menunjukkannya pada Tiffany. Gadis itu pasti akan melonjak gembira saat melihat dua tiket itu sudah berada di tangannya. Lalu, kalau sudah begitu, keadaan akan kembali seperti semula, mereka akan berbaikan dan merencanakan hari Valentine mereka bersama.

Namun, rencana mereka terancam batal kalau Tiffany belum juga menunjukkan sikap ingin berbaikan dengan Nichkhun. Minimal, seharusnya gadis itu akan mengangkat teleponnya, tapi tidak kunjung dilakukan juga. Nichkhun mendesah frustasi. Sepertinya ia harus melakukan hal yang lain untuk membujuk Tiffany agar berbaikan dengannya.

***

Nichkhun mendongak kearah jendela apartemen Tiffany yang berada di lantai tiga. Lampu di kamarnya menyala, itu artinya ia berada di rumah dan masih terjaga. Nichkhun merapatkan jaketnya dan melangkah ke depan.

“Tif-fany!” panggilnya.

Belum ada tanda-tanda.

“Fany-ah!” Nichkhun berteriak lebih keras.

Seorang pria yang melintas di depan apartemen melirik Nichkhun dengan aneh. Tapi Nichkhun tidak peduli. Ia mendekat dan kembali meneriakkan nama Tiffany.

“Tiffany!”

Kucing-kucing mengamuk, seorang pria gemuk mengintip dari jendela dan melirik Nichkhun dengan sinis. Pria gemuk itu meletakkan telunjuknya di atas bibir. Jangan berisik! Nichkhun mengerutkan bibir dengan kecewa, namun wajahnya berubah terang ketika melihat seseorang melintas di depan jendela Tiffany. Dan benar saja, selanjutnya Tiffany muncul di sana dengan mengenakan sweater abu-abu.

Gadis itu agak terkejut mendapati Nichkhun melambai akrab kearahnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Tiffany, berusaha menahan gejolak rasa gembira dalam suaranya.

“Aku ingin bertemu denganmu.”

Gadis itu mengerutkan bibirnya. “Tapi aku tidak mau bertemu denganmu,” balasnya ketus.

“Tunggu! Tunggu!” Nichkhun memekik panik saat Tiffany ingin menutup jendela. “Lihat!” Pemuda itu mengeluarkan dua tiket konser Busker Busker dan mengangkatnya ke udara. “Lihat apa yang kubawa!”

Tiffany memicingkan mata. “Apa itu?”

Nichkhun menyeringai. “Menurutmu ini apa? Ini tiket konser Busker Busker, Bodoh!”

“Benarkah?” Seperti dugaannya, Tiffany melonjak-lonjak gembira, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dan menjerit. Busker Busker rupanya tidak mengecewakan Nichkhun kali ini. “Cepat naik ke atas!” seru Tiffany, riang. “Akan kubukakan pintu untukmu.”

Begitu pintu dibuka, Nichkhun tersentak saat Tiffany melompat ke pelukannya dan menjerit, “Khun, kau benar-benar baik!”

Nichkhun terkekeh dengan bangga dan menunjukkan tiket itu sekali lagi pada Tiffany. “Kau bisa menyimpannya kalau kau mau.”

“Tidak, tidak.” Tiffany menggeleng dengan wajah merona. “Aku tidak bisa tidur jika tiket ini terus berada di sekitarku. Kau saja yang simpan.”

Nichkhun mengangguk dan menyimpan kembali tiket itu ke dalam saku jaketnya. Dua hari tidak bertemu dengan Tiffany, Nichkhun merasa seolah sudah tidak bertemu dengan gadis itu selama sebulan. Mungkin karena setiap hari bertemu dan terlalu sering bertemu, perpisahan di antara mereka terasa begitu lama walau sebenarnya hanya berlangsung cukup singkat. Dan terlebih lagi, ada yang berbeda dari Tiffany hari itu. Wajahnya pucat.

“Kau sedang sakit?” Nichkhun menempelkan punggung tangannya di dahi Tiffany dan melonjak kaget. “Badanmu panas sekali.”

Tiffany mengulum senyum. “Aku kena flu dua hari lalu dan berakhir dengan demam. Tapi sekarang keadaanku lebih baik.”

“Apa kau sudah minum obat?”

Tiffany mengangguk. “Baru saja.”

Tiffany menatap Nichkhun begitu lama dan merasa begitu bahagia. Ia rindu diperhatikan oleh pemuda itu—walau hanya sebagai sahabat.

“Khun,” panggilnya, lembut. “Soal Siwon—”

“Tidak apa-apa,” Nichkhun menginterupsi dengan suara tercekat. “Aku bisa menerimanya. Lagipula aku tidak benar-benar menyukainya, kok. Aku hanya sedang menggertakmu saat itu.”

Nichkhun tertawa renyah kearahnya dan Tiffany dapat mengetahuinya dengan mudah kalau pemuda itu sedang berbohong. “Khun..”

“Tenang saja. Aku baik-baik saja.”

Tiffany menghela napas. “Okay.”

Keduanya kembali terjebak dalam keheningan yang tidak menyenangkan.

“Khun, jadi..” Tiffany sedang memikirkan kata-kata yang tepat. “..tidak apa-apa, kan, jika aku bercerita soal Siwon padamu?”

“Tentu saja.”

Okay.” Tiffany menarik napas sebentar. “Siwon menciumku.”

Bahu Nichkhun melorot kecewa. Seharusnya ia senang dengan kabar itu, bahwa sahabatnya sekarang sedang ditaksir seseorang, tapi keadaannya tidak seperti itu.

Nichkhun terbatuk. “Oh yah?”

“Kau tidak apa-apa?”

Nichkhun tertawa. Suara tawanya terdengar menyedihkan. “Memangnya aku harus kenapa?”

Tiffany mengedikkan bahu. “Entahlah, kupikir kau akan marah. Tapi demi Tuhan, ia yang duluan melakukannya. Ia bahkan ingin aku menjadi pacarnya. Menurutmu bagaimana?”

Seiring kata-kata yang terus keluar dari mulut Tiffany, Nichkhun merasa dirinya semakin larut dibawa arus kesedihan. Pemuda itu mencoba tersenyum untuk terlihat turut berbahagia—tapi ia tahu senyumnya terlihat menyedihkan.

“Menurutku bagaimana? Kalau begitu, pacaran saja dengannya.” Hanya itu yang bisa dikatakan Nichkhun dan diam-diam ia merasa telah mengkhianati hati kecilnya.

“Kau yakin?”

Nichkhun mengangguk.

Tiffany tersenyum. “Akan kukatakan padanya besok.”

***

“Kau terlihat cantik menggunakan apron itu,” goda Tiffany.

Nichkhun menatap dirinya sendiri—tubuhnya sudah dibalut apron merah muda milik Tiffany—dan tertawa. “Oh yah?”

Tiffany terbatuk. “Oh yah, bagaimana soal saran orangtuamu itu—psikiater?”

Nichkhun memecahkan telur dan mengocoknya menggunakan garpu. “Entahlah,” pemuda itu mengedikkan bahu. “Aku tidak mau memikirkannya.”

Tiffany mengangguk dan terbatuk lagi. Nichkhun menatapnya khawatir dan berkata, “Sebaiknya kau istirahat saja. Biar aku yang buatkan makan siang untukmu.”

“Tidak. Aku ingin menemanimu,” sahut Tiffany, bersikeras. Ia masih terbatuk.

“Keras kepala sekali sih kau ini!” Nichkhun memutar tubuh Tiffany dan mendorongnya perlahan menuju kamar tidur. “Kau harusnya istirahat, Bodoh. Lagipula aku bukan anak kecil lagi yang harus ditemani.”

Tiffany tertawa di sela-sela batuknya. “Okay, pemuda-sok-dewasa!”

Begitu berhasil menjauhkan Tiffany dari dapur, bel pintu berbunyi. “Biar aku yang buka,” kata Nichkhun saat hendak menutup pintu kamar. “Kau istirahat saja.”

Nichkhun berlari-lari kecil menuju pintu apartemen dan membukanya dengan cepat. Pemuda itu tersentak mundur saat melihat Siwon berdiri di depannya membawa keranjang berisi buah-buahan. Reaksi Siwon juga tak jauh berbeda dengan Nichkhun.

“Hai! Kau rupanya bersama Tiffany,” kata Siwon, ramah.

Nichkhun mengangguk, memaksakan sebuah senyum. Ia melirik bibir Siwon—bibir yang sudah pernah merasakan bibir Tiffany—dan menelan ludah.

Siwon menatap ke dalam, melewati bahu Nichkhun. “Dimana Tiffany?”

“Tiffany?” Nichkhun mengusap tengkuknya dengan gugup. “Ada di dalam sedang beristirahat.”

“Keadaannya masih buruk?”

“Tidak. Jauh lebih baik, tapi batuknya belum hilang.”

“Oh.” Siwon mengangguk-angguk dan menatap Nichkhun serius. Ia tersenyum kecil melihat apron yang menempel pada tubuh Nichkhun dan berkomentar, “Kau terlihat bagus dengan apron itu.”

Nichkhun menatap dirinya lagi dan tersenyum. “Terimakasih. Oh yah, masuklah dan temui Tiffany di kamarnya.”

Okay.”

Nichkhun membantu Siwon membawa keranjang buah itu ke atas pantry sementara Siwon mendatangi kamar Tiffany. Tak berapa lama, Nichkhun menyusul ke kamar Tiffany, namun menyembunyikan diri di balik dinding untuk mendengar percakapan mereka.

“Bagaimana perasaanmu?” Itu suara Siwon.

“Lebih baik.”

“Aku membawakan buah-buahan untukmu.”

“Terimakasih.”

“Oh yah, soal itu..”

Suara Siwon terdengar memelan.

“Aku sudah memikirkannya.”

“Oh yah? Lalu, bagaimana jawabanmu?”

“Ya, aku mau.”

Terdengar gesekan selimut. Mereka pasti berpelukan. Ya. Mereka berpelukan. Nichkhun mengepalkan tinjunya kuat-kuat dan berusaha bertahan. Tapi gagal. Air matanya akhirnya jatuh juga.

***

Begitu Nichkhun pulang ke rumah, ibunya sedang bercakap-cakap di telepon dengan seseorang. Ayahnya sedang duduk di ruang tengah, membaca koran—kolom olahraga. Ketika Nichkhun masuk ke dalam, ibunya terlihat gugup dan cepat-cepat mengakhiri percakapannya dengan seseorang itu.

“Bagaimana kabar Tiffany? Apakah ia sudah sembuh?” tanya ibunya.

“Belum. Ia masih sering batuk-batuk, tapi nanti juga sembuh.”

“Oh, okay.”

Nichkhun tahu orangtuanya merasa gagal. Ia dapat melihat dari raut mereka ketika mendudukkannya di meja dapur, dengan susu dan kue-kue di tengahnya, sementara mesin cuci berdengung di latar belakang sebagai pengalih perhatian seperti biasa. Ibunya memegangi tissue yang dikepal erat-erat seakan-akan sudah digunakan untuk menyeka air mata. Itulah masalahnya dengan orangtua Nichkhun. Mereka tidak membiarkan Nichkhun melihat kelemahan mereka, namun lupa menyingkirkan bukti-buktinya. Nichkhun tidak melihat air mata ibunya, tapi ia melihat tissue-nya. Nichkhun tidak mendengar amarah ayahnya karena tidak dapat banyak mengubah keadaan, namun Nichkhun dapat melihat itu di mata ayahnya.

“Ibu bicara dengan siapa tadi di telepon?” tanya Nichkhun, mengulurkan tangan untuk meraih kue. Tuan Horvejkul membantu mendorong piring kue agar dapat dengan mudah diraih oleh anaknya. Nichkhun melirik ayahnya, “Terimakasih.”

“Ibu bicara dengan seorang wanita, namanya Taeyeon,” sahut ibunya.

“Hm. Siapa dia?”

“Taeyeon? Ia seorang psikiater.”

Nichkhun berhenti mengunyah dan menatap kedua orangtuanya secara bergantian.

“Khun, aku dan ayahmu..” Nyonya Horvejkul melirik suaminya untuk meminta dukungan dan sorot mata suaminya melembut, “..sudah menjadwalkanmu untuk ikut penyuluhan bersama Taeyeon. Mulai minggu depan, kau akan bertemu dengannya, setiap hari Senin.”

Nichkhun menelan kuenya dengan tidak berselera dan meletakkan sisa kuenya ke atas piring. Ia menepuk-nepuk tangan untuk menyingkirkan remah kue, lalu tertunduk.

“Kau bisa bercerita banyak hal padanya,” Kini Tuan Horvejkul yang bicara. Suaranya terdengar lembut, dan itu pertama kalinya Tuan Horvejkul bicara dengan suara selembut itu pada Nichkhun. “Taeyeon akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu—masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh kami.”

Nichkhun menarik napas dan berdiri. Ia merasa marah karena diasingkan seperti ini. Nichkhun menatap ayah dan ibunya bergantian dan bertanya dengan suara parau, “Memangnya, kalian pikir apa masalahku? Masalah macam apa yang tidak bisa kalian selesaikan mengenai diriku sehingga harus menyerahkannya pada seorang psikiater?”

“Khun..” Nyonya Horvejkul memanggilnya, mencoba menahan diri untuk tidak menangis.

“Apa?!” Nichkhun membentak kearah ibunya. Ia sudah merasa di luar kontrol saat itu.

“Nichkhun!” Ayahnya balas membentak dan ikut berdiri. “Sopanlah sedikit! Kami hanya sedang mencoba membantumu!”

“Aku tidak suka dibantu! Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri!” teriaknya marah.

Nyonya Horvejkul menangis. Tuan Horvejkul berusaha menenangkan istrinya, sementara Nichkhun berjalan keluar dari dapur.

“Kau masih muda, Khun! Jiwamu masih labil!” teriak ayahnya, marah sekaligus terdengar cemas. “Sudah sepantasnya kami sebagai orangtua mengarahkanmu.”

Nichkhun berhenti dan menoleh ke belakang dengan pelan. “Mengarahkan apa lagi?” Ia tertawa histeris. “Justru sekarang kalian harusnya sudah bisa menerima kenyataan kalau aku.. gay.”

Terucaplah sudah, rahasia yang selama ini berusaha dijauhkan Nichkhun dari kedua orangtuanya. Tidak ada lagi yang disembunyikan. Tidak ada lagi rahasia.

Nichkhun sedikit menyesal begitu melihat asma ibunya mendadak kumat. Wanita paruh baya itu memegangi dadanya yang sesak dengan pandangan penuh derita. Tuan Horvejkul buru-buru mencari inhaler dari saku sweater yang dikenakan istrinya. Nyonya Horvejkul setengah merampas inhaler itu dari tangan suaminya dan cepat-cepat menghirupnya.

Yeobo..” Tuan Horvejkul mengelus punggung istrinya dengan khawatir “Tenang. Semuanya masih dibicarakan dengan baik-baik. Nichkhun pasti hanya bercanda, yah kan, Khun?”

Nichkhun diam saja. Ia tidak bisa menjanjikan sesuatu yang tidak bisa diberikannya.

To be continued.

128 thoughts on “Threesome (Part 4)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s