[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 2)

Tittle                : I Wish I Were You

Author             : Hyukkie44bee

Main Cast        : Lee Hyuk Jae (a.k.a Hyukkie – HaJe)

                          Lee Seung Hyun (a.k.a Seungri)

                          Park Gyuri

                          Lee Cae Rin (a.k.a Cae Cae)

Cameo             : Max Fernandes

                          Hwang Joon Ki

                         And many others

Genre              : Romance

Length             : {?} Continue.

Rate                 : PG 15+

Previous part: Part 1

a/n                   : 1. Terimakasih banget buat RFF yang udah mau mem-publish FF pertama aku. Hihihihi… walaupun udah pernah aku publish di blog pribadi aku, tapi rasanya tetep beda aja kalo publish di sini.

                          2. Terimakasih juga buad admin Lee Tae Ri yang udah ngebantu aku buad mem-publish FF aku ini. jeongmal gomawo^^

                          3. Terimakasih juga buad para reader yang udah comment di FF aku.. xixixixi… makasii banged yah semuanya….  Aku masi butuh banyak banget kritik dan saran. Maaf banget kalo ada salah kata, banyak typo bertebaran, mungkin juga ada kata-kata yang kurang berkenan, MAAF banget yah… Kedepan semoga FF aku bisa lebih enak dan menarik untuk dibaca.

                          5. Buat Seungri oppa.. ya Tuhan Oppa cha keph beud!! Hahha… serius deh… aku gak benci ma Oppa (pada tau kan fotonya yg bawa tulisan DON’T HATE ME)? So.. teruslah berkarya and jangan sedih lagi yah….

                        6. Buat Hyukkie Oppa, U always make my heart beat fast when I see ur face!! Xixixi (tapi tetep Tabi is the best for me)

  7. Well kayaknya prakatanya kepanjangan yah.. hehe maafkan saya sodara-sodara……. Akhir kata wasalam.. ^^

                          *bow

 

 

–o0o

Asan Medical Center International Clinic

“selesai,,,,,,!!  kau bisa pulang Panda!!” Seungri diam saja, kecewa hari ini rencananya gagal. Dia terus berfikir, kapan lagi kesempatan emas itu akan datang. Semua ini gara-gara gadis itu. Seungri bahkan tak sadar Joon telah selesai mengobati lukanya.

“hei, Panda!! Apa kau tidak mau pulang? Bukankah kau benci rumah sakit?” Joon memukul lengan Seungri, membawanya kembali ke dunia nyata.

“eum… Hyung. Terimakasih. Tapi, apa lukaku benar-benar tidak apa-apa? Aku baik-baik saja?? Apa aku perlu menginap di sini malam ini hyung?” Seungri mungkin sedang mabuk karena efek alcohol dan bau-bauan obat khas rumah sakit.

“Panda apa kau mabuk? Aku baru bertemu dengan orang yang senang sekali kalau dirinya sakit. Para pasien di rumah sakit ini kebanyakan ingin segera sembuh dan pulang. Tapi kau tidak…. Hahahaha….. kau aneh sekali……hahahhaha….!!” Seungri diam lagi. Sadar, pembicaraannya mulai ngelantur.

“hihihihi… aku hanya bercanda Hyung. Aku hanya tidak ingin luka di tanganku ini mengurangi kadar ketampananku!!” Seungri turun dari bangsal rumah sakit tempatnya mendapat perawatan.

“apa ketampananmu terletak di telapak tangan? Tanganmu yang terluka kenapa kadar ketampananmu yang berkurang? Bukankah itu tidak ada hubungannya? Dasar aneh!!” Joon, kali ini menunjukan sisi polosnya—bodoh lebih tepatnya.

“Hyung,, mana kakakku?? Dia tidak menemaniku di sini? Apa dia bersama gadis itu?” Tuan muda Lee yang manja ini ketara sekali sedang cemburu. Matanya memerah, menahan kesal.

“Kakakmu di luar dari tadi. Dia kan paling anti dengan rumah sakit. Lalu, gadis yang kau sebut-sebut itu, dia sudah pergi dari tadi. Lukanya tidak parah, tinggal dikompres air es besok juga sembuh”

“oww… jadi dia tidak apa-apa…” Seungri tersenyum senang. Senang karna kakaknya tidak perlu berpura-pura baik pada gadis yang telah sukses menggagalkan rencananya itu. “ Hyung, terimakasih sudah merawat lukaku. Aku pulang….” Dia meraih jaketnya bergegas keluar dari ruang perawatan. Namun Joon menahannya.

“Hey Panda, aku belum memberimu obat!! Kenapa kau terburu-buru sekali?”

Seungri hanya nyengir kuda. Sebenarnya dia enggan kembali. Dia ingin segera mencari kakaknya. Takut kali ini dia akan menghilang lagi. Namun dia mengurungkan niatnya. Bagaimanapun sehat itu jauh lebih baik dari pada sakit kan?

“Tadi Hyung bilang aku tidak apa-apa! Kenapa harus minum obat? Menyebalkan!!” Panda manja itu duduk dengan terpaksa di depan meja kerja Joon.

“dasar Panda manja! lukamu memang tidak parah, tapi lukamu itu terkena pecahan kaca, bila dibiarkan lukanya akan lama keringnya  dan mudah terkena bakteri! Dasar bodoh!! Kau sama saja dengan kakakmu”

“ara..ara… segera siapkan saja Hyung obatnya!!” memang benar, Seungri dan Hyuk Jae hampir mirip dalam segala hal. Hanya takdir hiduplah yang membuat mereka berbeda.

“jangan tergesa-gesa! Biarkan dia menenangkan diri dulu!”

“…………….” Seungri diam, merasa tidak sejalan dengan usulan Joon.

“Seungri-ah aku mohon. Tunggu sampai dia menjemputmu di sini, ara!!”

“………………” Seungri tidak menjawab. Tidak ada penolakan darinya, dia tetap duduk di kursi pasien di dalam ruangan Joon. Namun hatinya menolak terus bergejolak, baginya diam justru membuat keadaan semakin rumit. Dia letakkan kepalanya di atas lipatan kedua tangannya di atas meja. Hari ini Seungri terlalu lelah. Lelah karna harus melawan amarahnya terhadap beberapa orang yang menyebabkan rencananya gagal malam ini, dan juga Joon tentunya.

-o0o

Hyuk Jae’s Apartement

 “Hoammmm….” Seungri terjaga dari tidurnya saat dia merasa ada guncangan di tubuhnya. Ya, kakaknya dan Joon mengangkat tubuh Seungri ke dalam mobil. Hyuk Jae ingin mengantarnya pulang, namun dia belum siap menginjakkan kakinya lagi kerumah mewah saksi bisu kejadian paling bersejarah di dalam hidupnya. Dia putuskan membawa Seungri ke apartemennya. “Hyung….!! Kenapa kau tidak membangunkanku!! Kemana saja kau? Aku sampai tertidur di ruangan Joon Hyung tadi!” Seungri sedikit marah. Kakaknya memang sering melakukan hal-hal sesuka hatinya.

“berkali-kali aku membangunkanmu, tapi kau tidak juga bangun. Dasar Panda pemalas! Harusnya tadi kau kutinggalkan saja di rumah sakit!” Hyuk Jae yang sedari tadi sedang berkonsentrasi menyetir menjawab amukan Seungri tanpa menoleh ke arah si lawan bicara. “turunlah. Kita sudah sampai”

“Tidak mau!”

“Ayolah ini sudah sangat larut, dingin sekali di luar!”

“Tii Dakk Maa UU…!! Titik!!”

“berhentilah bersikap manja Seungri-ah! Kau sudah tua sekarang!”

“………………………………….”

“baiklah, terserah kau saja. Aku mau masuk. Udara di luar sangat dingin, aku tidak mau flu-ku bertambah parah karna terus berdebat denganmu di sini” Hyuk Jae geram. Seungri tidak pernah berubah, dia tetaplah seorang adik kecil yang selalu manja pada kakaknya. Sifat yang selalu dia sembunyikan di hadapan orang-orang selama 5 tahun ini.

“Hyung…” Hyuk Jae kembali ke arah Seungri setelah 7 langkah kaki ia langkahkan menuju apartemennya. Tetap saja tidak tega meninggalkan adik manja yang sudah tidak lagi kecil sebenarnya. Dia tarik tangan Seungri, sedikit memaksanya ikut masuk ke dalam apartement.

“Hyung, tanganku sakittt..!! kau tidak tau cara memperlakukan manusia dengan baik hemmm!!!”

“ini salahmu, kenapa sulit sekali disuruh masuk. Dan satu lagi, sejak kapan panda bisa dikategorikan sebagai seorang manusia…?? Hahaha…!!”

“yak… hyung!! Kau mau mengakhiri hidupmu sekarang haaa!!!!” Seungri marah tapi bahagia. Candaan-candaan kecil itu telah kembali. Bagai air yang mengalir di padang oase, senyum dan tawa Hyuk Jae mampu membasahi kerongkongan rindu di dalam hidup Seungri.

“bersihkan dulu badanmu lalu tidurlah!”

“……………” Seungri mematung di depan kamar milik Hyuk Jae.

“kenapa? Kau tidak mau tidur di sini? Atau kau mau tidur di hotel saja? Akan ku antar!”

Seungri tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Dia berlari kecil ke dalam kamar lalu dia lempar kasar tubuhnya ke atas ranjang milik Hyuk Jae. Aroma Hyuk Jae terpancar dari tempat tidur yang dia tiduri selama dua bulan terakhir ini.

“Hey!! Sudah kubilang, bersihkan badanmu dulu! Jangan tidur dengan pakaian kotor seperti itu!!” Hyuk Jae mengomel. Dia adalah type laki-laki perfectionist,  semua pakaian dan barang-barang yang dia pakai harus bersih tentunya.

“Aku malas Hyung. Airnya pasti dingin. Lagipula tanganku sakit. Lukaku tidak boleh terkena air agar cepat sembuh.” Seungri membenamkan kepalanya dibawah bantal. Dia enggan mengganti baju mahal karya perancang terkenal yang sudah lepek dan kotor terkena luka darah yang ia kenakan. Bahkan sepatu yang ia pakai masih melekat indah di kaki sempurna tuan muda manja Lee itu.

“setidaknya ganti bajumu dan lepas sepatumu sebelum tidur!!” Hyuk Jae menyeramahi adiknya sambil berlalu ke kamar mandi.

Seungri diam tak bergerak sedikitpun. Perintah dari Hyuk Jae sama sekali tidak diindahkannya.

1 menit

4 menit

9 menit

15 menit

20 menit

“zzzzzzzzZZZzzzz” hanya suara dengkuran kecil yang keluar dari mulut Seungri.

“Ya Tuhan” Hyuk Jae baru selesai mandi. Dia  geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya.Dia bergerak pelan mendekati Seungri. Dia buka sepatunya perlahan, takut adik kecilnya terjaga dari tidurnya. Seungri tampak lelah, lingkaran hitam yang memang enggan pergi dari mata indah Seungri semakin gelap. Itu artinya beberapa hari belakangan Seungri mungkin kurang tidur atau terlalu lelah. Hyuk Jae membenarkan letak posisi tidur Seungri, dia menyelimuti tubuh Seungri agar tidak kedinginan. “Selamat Tidur. Nice dream”

Lampu-lampu apartement masih menyala dengan terang. Hyuk Jae sengaja tidak mematikan satupun lampu di apartementnya. Hyuk Jae sebenarnya suka ketenangan, gelap terkadang membuatnya lebih damai. Namun tidak dengan Seungri. Dia takut kegelapan. Dia takut kesendirian.

Hyuk Jae mengistirahatkan tubuhnya di sofa dekat kamar, mencoba terlelap. Namun sulit. Tidur di atas sofa bukanlah tempat ideal bagi seorang perfectionists seperti Hyuk Jae. Matanya menutup kemudian terbuka secara beraturan. Sesekali matanya terhenti untuk menerawang langit-langit ruangan tempatnya tidur. Gelisah. Mungkin itu kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang Hyuk Jae rasakan saat itu.

“Ya Tuhan, kenapa sulit sekali.. ayolah… tidur..tidur…tidur..” Hyuk Jae terus saja bergumam. Ia sudah sering seperti ini, mata dan tubuhnya lelah dan  mengantuk, namun tidak dengan hatinya.

“Hyung…” Seungri terbangun. Wajahnya tampak ketakutan. Dia mendekati Hyuk Jae.

“ada apa? Kenapa terbangun? Apa aku mengganggumu? Apa lampunya terlalu terang? Biar aku matikan beberapa.”

“……” Seungri diam, dia mulai memeluk kakaknya. Hening hingga suara isakan kecil terdengar oleh telinga kanan Hyuk Jae.

“ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis? Diamlah…aku tidak suka melihat laki-laki cengeng!”

Seungri mencoba untuk tenang. Dia sadar apa yang dia rasakan juga sama dengan yang Hyuk Jae rasakan. Baik Hyuk Jae maupun Seungri sama-sama memiliki luka yang sangat dalam atas kejadian yang menimpa ibunya 4 tahun yang lalu itu.

“aku hanya mimpi buruk Hyung. Maafkan aku” Seungri belum melepaskan pelukannya. “Hyung, aku lelah. Temani aku tidur..” Bukan bermaksud manja, hanya saja Seungri merasa ketakutan sekarang. Dia tidak ingin mengalami hal-hal buruk untuk kesekian kalinya lagi.

“kau berubah jadi lebih manja sekarang? Hahahaha….!” Hyuk Jae mencoba mencairkan suasana. “sejak kapan kau minta seseorang untuk menemanimu tidur hemmmm…?? Hahahhaha” Hyuk Jae tidak bermaksud mengejek Seungri, hanya saja sifat manja Seungri memang terkadang bisa melampaui rambu-rambu kewajaran.

“semenjak kau pergi, Max selalu menemaniku tidur. Dia lebih sering terjaga dari pada tidur dimalam hari”

“……………………” hening sesaat. Seungri masih terus melawan rasa takut yang ia rasakan. Tidur bukan pilihan yang tepat untuknya  saat ini. Namun tubuhnya tidak bisa berbohong. Seungri butuh tidur, segera. Disisi lain, Hyuk Jae masih sibuk dengan perasaannya sendiri. Dia menyesal meninggalkan Seungri sendiri dimasa sulit dalam hidupnya.

“baiklah! Ayo cepat berdiri. Aku akan menemanimu tidur. Tidur di sini tidak nyaman. Cepatlah… ini sudah sangat larut!” Bibir merah muda Seungri sedikit tertarik. Dia senang karna seseorang yang ia sayangilah yang akan menemaninya menghabiskan malam menyeramkan yang juga sering ia alami di malam-malam sebelumnya.

Tanpa ba bi bu Seungri segera beranjak dari sofa menuju kamar Hyuk Jae yang ia tempati. Dia menata bantal dan guling yang berantakan di lantai. Dia posisikan tubuhnya senyaman mungkin.

“Hyung, tidurlah di sini” Seungri menepuk-nepuk permukaan kasur di samping tubuhnya. “kajja… bukankah katamu ini sudah larut? Kau juga mengantuk kan?”

Hyuk Jae nampak ragu. Tapi ia tetap meneruskan langkahnya kemudian ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur di samping Seungri. Dia benahi letak selimut agar menyelimuti tubuh mereka berdua.

“Hyung sebelah sini, mendekatlah. Aku ingin kau menepuk-nepuk kepalaku sampai aku tidur”

“aku tidak mau. Aku sedang terkena flu, jangan terlalu berdekatan nanti kau bisa tertular.” Hyuk Jae mencari-cari alasan. Memang benar dia sedang flu sekarang, namun alasan sebenarnya bukanlah itu. Baginya, terlalu dekat dengan Seungri akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Puppy eyes mulik Seungri berhasil meluluhkan hati dingin Hyuk Jae. Dia meringsak mendekati Seungri. Tangan Hyuk Jae mulai menari pelan di atas kepala Seungri. Mencoba membuat adik semata wayangnya ini merasa nyenyak dan nyaman malam ini.

“Gomawo” Seungri mulai mengatupkan kelopak matanya. Mencoba menikmati setiap kejadian yang ia alami selama ini. Malam ini menjadi malam bersejarah baginya. 4 tahun sudah Seungri menunggu pengganti Max sebagai ajudan malam yang setia menjaganya di malam hari.

Hari ini.. akhirnya datang… Terimakasih Tuhan.

-o0o

To. Panda

Tidurmu nyenyak?

Maafkan aku. Hari ini aku ada urusan. Jadi aku terpaksa meninggalkanmu sendiri. Ada sedikit makanan di kulkas. Makanlah, mandi, lalu segeralah pulang. Kau tidak boleh bermain-main lagi.!!                                                                                                                                                                  With Love,

                                                            Hyukkie.

 

Lelaki yang disapa panda tersenyum. Rupanya sang kakak yang hilang sudah kembali. Sambil berjalan menuju meja makan di sebelah ruang tv, Seungri menelfon Max. Max mungkin sedang khawatir sekarang. Sejak tadi malam Seungri sama sekali tidak memberinya kabar.

“yohboseo”

“Hyung..”

“hemm? Kemana saja kau? Kenapa tidak memberi kabar? Nona Cae Rin mencarimu kemana-mana! Bukankah tadi malam harusnya kalian menjalankan rencana untuk membawa Hyukkie Hyung pulang?” Max sebal dengan kelakuan Seungri yang lebih sering tampak seperti anak-anak diusianya yang telah dewasa ini. Namun dia lega, tuan muda sekaligus adik yang notabene orang yang paling berharga saat ini akhirnya memberi kabar. Dia baik-baik saja.

“tanyakan satu per satu Hyung, kenapa terburu-buru sekali!! Dasar!!”

“baiklah, jawab saja sekarang satu per satu. Jangan banyak bicara!”

“aku di apartement Hyukkie Hyung. Apa anak buahmu tidak melihatku pulang semalam? Telephone Cae Rin, katakan  aku baik-baik saja!”

“maafkan aku. Tadi malam aku panic, aku takut terjadi apa-apa denganmu. Apa lagi kau pergi bersama kakakmu, tentu saja aku tambah khawatir. Nyawa kalian mungkin sedang dalam  bahaya, oleh karna itu aku menugaskan semua anak buah yang ada di Seoul untuk mencarimu. Lalu, mengenai rencana tadi malam?”

“tadi malam teradi sedikit incident. Agak rumit untuk diceritakan. Lain kali saja oke. Dan satu lagi, berhentilah terlalu khawatir padaku hyung, aku cukup tau diri untuk menempatkan diri di tempat yang aman.”

“baiklah, Tuan Muda Lee.. “ Di lain sambungan, Seungri tampak tersenyum puas atas kemenangannya saat berdebat dengan Max. Sekuat apapun alibi yang diberikan Max, Seungri akan selalu memenangkan perdebatan itu. “oya,, siang ini jam 11 ada rapat penting. Kau harus pulang.”
Seungri membuang nafas, malas. Dia ingin tetap ada di apartement kakaknya. Menunggunya pulang.

“Hyung, tidak bisakah kau saja yang pergi menghadiri rapat itu? Aku masih ingin di sini”

“tapi ini rapat penting. Perebutan tender terpanas dan terbesar di Korea sekarang harus kita dapatkan. Ingat tujuan hidup dan janjimu pada Tuan Besar Seungri-ah.”

“Kau terlalu banyak bicara Hyung! Baiklah, aku akan pergi. Suruh orang menjemputku di sini”

“Baiklah”

Dengan malas Seungri meneguk susu strawberry yang dia tau persis adalah milik kakaknya. Entah setan apa yang merasui Hyuk Jae, lelaki dingin seperti dia adalah seorang strawberry holic. Kebiasaan yang unik.

Setelah isi botol susunya habis, Seungri bergegas ke kamar mandi. Dia tidak punya waktu lagi. Dia harus segera bersiap-siap untuk menghadiri rapat penting itu.

Drrrttt drrttt

“Hemm Hyung, waeo???” Hyuk Jae menelpone dari suatu tempat yang Seungri tidak tau keberadaannya.

“kenapa kau tidak sopan sekali padaku PANDA!!”

“memangnya sopan itu yang seperti apa Hyung??” Seungri mulai akan mencuci mukanya dan menggosok gigi.

“terserah kau lah! Kau sudah makan?”

“um..eb..l…mmm..” tanpa menghentikan aktifitasnya Seungri menjawab pertanyaan dari kakaknya.

“Letakkan dulu sukat gigimu lalu bicaralah dengan benar!! Bodoh!!”

Prankkk—-

“Seungri-ah..Seungri-ah…!! apa yang terjadi?? Dasar ceroboh!!” mendengar suara kaca pecah Hyuk Jae merasa sangat khawatir. Kenapa anak setua itu bisa sangat ceroboh. Hyuk Jae terus saja mengumpat dalam hati.

“hehe… mianhae Hyung! Aku tak sengaja menjatuhkan botol obatmu…Ini obat apa??”

“jangan kau sentuh! Itu obat flu ku, jangan sembarangan minum obat. Obat lukamu aku letakkan di meja makan dekat toast mu!”

“aku tau Hyung, aku juga tidak mau minum obat. Obatku juga tidak akan aku minum. Kau beli di mana obat ini?”

“ apa pentingnya pertanyaanmu itu?”

“tentu saja penting. Kau bilang itu obat flumu, harusnya kau minum sampai sembuh kan? Aku tidak sengaja menjatuhkan ke wash basin. Karna terkena busa bekas sikat gigi aku tekan saja flusher nya, dan semua obatmu ikut terbuang dengan air.. hehehe.. hanya tinggal 3 butir saja. Maaf Hyung”

“ Ya Tuhan, kenapa ceroboh sekali. Kau tidak perlu membelikanku obat lagi. Aku bisa beli sendiri. Baiklah, kau sudah bangun dan sudah siap-siap akan pergi kan.? Baguslah…”

“kenapa bagus?”

“karna kau tidak akan menggangguku lagi!”

“jadi selama aku bersamamu kau merasa terganggu?”

“bukan begitu,,,,,,hanya sa—-“ belum selesai bicara Seungri sudah mematikan sambungan telephone nya. Seungri marah, tidak seharusnya kakaknya berbicara seperti itu. Tapi dia tidak akan menyerah. Dia masih akan terus berusaha membawa kakaknya pulang lagi ke rumah mereka berdua. Dia tau kakaknya hanya berpura-pura tidak senang. Entah apa alasannya, hanya saja keyakinan bahwa kakak malaikatnya telah kembali. Membuat dunia tidak lagi abu-abu. Seungri bisa merasakan birunya langit dan hijaunya daun di musim semi. Ternyata indah..

-o0o

Chuncheon Dakgalbi Restaurant

 “HaJe kali ini kau harus menepati janjimu, kau harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Keputusanmu meninggalkan Madrid sedikit berdampak pada kinerja tim kita. 2 bulan di Korea kau sama sekali tidak latihan kan? Kau berjanji akan menguji mobil barumu di Catalunya, tapi hingga musim baru akan dimulai kau belum juga menampakkan hidung jelekmu itu….!!”

Keanny, manager Hyuk Jae yang lebih senang memanggil Hyuk Jae dengan sebutan  HaJe dari pada Hyukkie seperti orang lain kebanyakan itu merasa sedikit kecewa karna anak buahnya sama sekali tidak menepati janjinya untuk segera kembali ke Spanyol. Musim baru ini sangat penting bagi karir Hyuk Jae, apabila dia berhasil menjuarai musim ini, dia akan mengukir sejarah baru sebagai rider Korea pertama yang berhasil menjadi juara dunia berturut-turut selama tiga musim.

“aku tau, maaf kan aku. Ada sedikit masalah keluarga. Aku harus menyelesaikan pelan-pelan” nada bersalah ketara sekali dari setiap kata yang terucap dari bibir tipis merah merekah milik Hyuk Jae. Kulit skinny-nya berubah lebih pucat dari biasanya, mata indahnya di hiasi lingkaran hitam khas panda tak luput dari pandangan Keanny.

“emmm… ada apa lagi? Semuanya baik-baik saja kan? Apa perlu aku telephone Jinnie untuk segera menyusul ke sini….” Keanny panic, tentu saja. Tidak ada satu hal pun yang boleh mengganggu pikiran rider utamanya. Atau kalau tidak musim ini akan berakhir sia-sia.

“tidak perlu. Biarkan saja dia kesini ketika memang sudah waktunya.. oya, nanti malam apa aku bisa mencoba mobilnya? Aku juga akan mengenalkanmu dengan mechanic baruku?”

“kau yakin dia bisa diandalkan?” Keanny tampak ragu. Selama ini mechanic dari Jepang masih yang terbaik. Belum ada yang dapat menandingi kinerja mereka.

“tentu, dia teman lamaku. Ayahnya dulu adalah mechanic pribadiku saat aku mulai relly di usia 15 tahun. Kami pasti bisa bekerja sama dengan baik.”

“baiklah, aku percaya padamu… beri aku nomor telphonya. Biar aku mudah menghubunginya.”  Hyuk Jae menyerahkan secarik kertas kepada Keanny. Terdapat deretan angka di atasnya, tentu saja itu nomor Hoya, sang mechanic. Keanny melirik jam tangan mewah buatan designer aksesori terkenal dari Paris. Sedikit gundah, mungkin karna ada janji yang harus segera ia tepati. “aku harus pergi sekarang. Pulanglah, kemudian istirahat. Nanti malam kita bertemu di restoran milik Arnold, bawa serta teman mechanicmu itu ok.” Keanny menyambar coat coklat mahal miliknya. Dia bergegas untuk pergi meninggalkan Hyuk Jae yang masih asyik duduk sembari menikmati Strawberry Float miliknya.

Udara Seoul dirasa membaik saat itu. Angin tak lagi berhembus kencang. Matahari memancarkan sinarnya dengan wajar hari ini. Sesekali mata Hyuk Jae terpejam, udara Seoul 5 tahun lalu sudah kembali. Dia merasa bahagia menikmatinya, walaupun hanya seorang diri.

Tiba-tiba kenikmatan itu sirna. Saat mata sipit milik Hyuk Jae menangkap sosok wanita cantik yang tengah berlari dari kejaran 3 orang pria berotot lengkap dengan pakaian hitam dan juga senjata di tangan mereka.

Pikirannya melayang. Mencoba mengumpulkan ingatan-ingatan tentang sosok sang gadis. Tidak lama, hanya butuh beberapa detik dia menyadari bahwa gadis yang tengah dalam bahaya itu adalah gadis yang ia tolong tadi malam. Tanpa pikir panjang Hyuk Jae berlari melesat keluar Café kemudian mengejar para penjahat itu.

Pasokan udara dalam paru-paru Hyuk Jae menipis. Tak biasanya dia berlari sekencang ini. Hingga akhirnya jarak antara para penjahat dan dirinya tak lagi jauh. Dilihatnya sang gadis yang terlihat sangat berantakan. Raut muka ketakutan menghiasi wajah indah tanpa make up itu. Sang gadis terjebak pada sebuah gang buntu yang jarang dilewati orang. Beruntunglah malaikat penolongnya datang tepat waktu untuk memberikan keajaiban yang ke dua kalinya.

“heyyyyy…. Kalian bertiga! Apa yang kalian lakukan dengan gadis itu ha!!!!!!” Sebenarnya Hyuk Jae merasa ragu. Dia tidak ingin berkelahi saat ini. Bukan karna tidak bisa, hanya saja ini bukan saat yang tepat melukai diri dengan berkelahi. Karena hari-hari yang akan datang seluruh tubuhnya sudah dikontrak utuh untuk menjadi seorang rider juara yang tentu saja harus sehat jiwa dan raganya.

Hyuk Jae berjalan maju langkah demi langkah. Berusaha mendekatkan diri pada sang gadis. Dia ingin segera berlari, menyelamatkan nyawa gadis malang yang entah mengapa hidupnya seransa sangat menyedihkan dari pada narapidana yang harus menghabiskan seluruh hidupnya di jeruji besi.

“Hyu Jae-shi.. jangan mendekat! Berlarilah! Pergi dari sini!! Pergi!!”

Gyuri memberi aba-aba dengan melambai lambaikan tangan kirinya. Dia senang ada orang yang mau menolongnya. Namun dia juga tidak ingin malaikatnya terluka.

“tidak,,!!  aku akan menolongmu!! Bertahanlah!!” Hyuk Jae berteriak.

Prok..prokkk..prookkk…

“sungguh pemandangan yang sangat indah!! Kalian tidak perlu saling melindungi. Aku akan mengantar kalian untuk segera berkunjung ke  neraka!! Kalian bisa melanjutkan hubungan percintaan kalian di sana!!!”

“tcihh… kau pikir aku tidak bisa melakukan apa-apa ha….!!!” Gertak Hyuk Jae. Kali ini dia marah. Tidak ada yang boleh menghinanya kecuali Seungri dan Joon mungkin. Lelaki yang berusia sekitar 40 tahun itu tersenyum smirk, dia meremehkan kemampuan bertarung namja kurus yang ada dihadapannya saat ini.

“kita lihat saja nanti!! Hahahahahhhhhhaa….!!!”

Bukgh.. bukgh….

Baik para tukang pukul itu dan juga Hyuk Jae berhasil melayangkan tinju ke arah lawan mereka. Hyuk Jae berkonsentrasi melawan para tukang pukul hingga dia tidak sadar salah satu di antara mereka berhasil mendaratkan luka sayatan di tangan kiri sang gadis.

“arkhhhhhhhhhhhhh———– “ pekik Gyuri, besi dingin nan tajam itu berhasil mewarnai lengan putih milik Ji Eun menjadi merah.

“arrkhhhh… aku mohon lepaskan kami” Rintih Gyuri, dia harap para tulang pukul itu mau melepaskan mereka. Paling tidak Hyuk Jae bisa segera pergi menyelamatkan diri. Tak masalah jika 10 atau belasan luka lain yang akan dia rasakan. Asal Hyuk Jae selamat, pengorbanannya pasti tidak akan sia-sia.

“Hey henti….” Belum selesai Hyuk Jae bicara, sebuah benda tumpul berhasil bersarang di perut Hyuk Jae, pria gudul bermata hitam pekat itu lalu menendang disusul dengan menginjak perut Hyuk Jae yang kini telah tersungkur di tanah. “argghhh……” erangan-erangan lirih mulai terdengar. Rasa sakit luar biasa mulai Hyuk Jae rasakan.

“Hyuk Jae- shi…!! Jebball hentikan. Aku mohon aku akan segera melunasi hutangku asal kau mau melepaskan laki-laki itu aku mohon” Gyuri bersujud, air mata kini membanjiri pipi meronanya. Tak kuasa dia melihat orang yang telah menyelamatkan hidupnya dari buaya club tadi malam telah tersungkur tak berdaya di atas tanah. 2 orang tukang pukul itu bahkan tak berhenti sedikitpun menyiksa tubuh kurus Hyuk Jae. Bagi mereka Hyuk Jae adalah sasaran empuk untuk melepas penat yang merupakan aktifitas rutin mingguan mereka.

Bugkkhh…..

Bugkhhhh……

Suara pukulan terdengar nyaring bertautan, menyerupai lantunan music opera yang hanya dapat di dengar pada moment-moment penting saja.

“apa yang kau lakukan pada kakakku ha…!!”

Bugkhhh… bughh…..

Seungri membabi buta. Marah. Jelas sekali dari muka merahnya. Mata sayu berkantung itu pun tampak merah padam, tak kuasa menahan emosi. Seungri terus menghajar lelaki perawakan sedang yang tadi menjambak kasar rambut Hyuk Jae. Sementara Max telah berhasil melumpuhkan 2 orang lainnya.

Anak buah Seungri yang berjumlah sekitar 6 orang segera meringkus para tukang pukul itu untuk diantarkan ke rumah prodeo.

Seungri merengsat mendekati tubuh Hyuk Jae. Tetesan Kristal berhasil melepaskan diri dari sudut mata panda Seungri.

“apa yang kau lakukan di sini bodoh!!” Seungri menempatkan kepala Hyuk Jae yang tak menyerupai kepala lagi di pangkuannya. Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuh Seungri. Ketakutan. “Hyung, mana mobilnya..!! kenapa lama sekali, bodohhh!!!!” teriakan ketakutan dan sumpah serapah dengan fasih Seungri lafalkan. Jemarinya mengerat pada bahu lunglai milik kakaknya. Kristal bening itu semakin deras berjatuhan dari sumbernya.

“jj—a—jang—an me-nn——-ang-is lll—ala—lagi beb—bo—doh!! Bb—a—wa.. aa—ku ke—–ahh..uhukkk …uhukkkkk“ perkatann Hyuk Jae terputus. Tangan kiri Hyuk Jae meremas kasar perutnya. Rasa sakit yang luar biasa kembali muncul, membuat tubuh Hyuk Jae sedikit kejang. Cairan merah kental keluar dari mulut Hyuk Jae. Deras bagaikan sumber mata air yang baru saja di buka.

“arrggghhhhhhhhhhhhhhhhhhh….!!!! Max jebbal!!! Max!!!” Seungri berteriak frustasi. Dipeluknya erat tubuh kurus sang kakak. Kemeja hijau miliknya telah berubah warna. Senada dengan cairan yang keluar dari mulut Hyuk Jae.

“Hyuk Jae-shi… bertahanlah. Maafkan aku. Maafkan aku!!” Gyuri berlutut di samping Hyuk Jae dan Seungri. Dia menangis, merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Hyuk Jae.

Seungri tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Pikirannya kalut. Melayang lepas kendali. Bagai laying-layang yang terputus dari benangnya. Detik berikutnya Max tiba lalu segera membopong tubuh Hyuk Jae ke dalam mobil. Menunggu ambulance datang akan sangat lama dan beresiko pada keselamatan nyawa Hyuk Jae.

“kau! Ikutlah ke rumah sakit. Tanganmu juga terluka!” Seungri beranjak dari tempatnya. Tidak ada rasa benci dari hatinya pada gadis itu. Dia tau, gadis itu sedang menderita.

Gyuri mengikuti Seungri ke dalam mobil untuk menuju ke rumah sakit. Dia juga ingin tau keadaan Hyuk Jae selanjutnya.  

-o0o

Incheon – International Airport

 “baiklah, aku sedang menuju bandara. Kau tunggu saja di depan loby oke.” Keanny menutup sambungan telephone dengan seseorang. Dia sedang dalam perjalanan ke bandara. Menemui seseorang yang mungkin sangat berharga juga untuk Hyuk Jae.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore hari, seorang gadis berambut coklat bergelombang sedang duduk manis dikursi loby bandara. Tubuhnya indah, kulitnya putih bersih. Wajahnya lebih mirip orang Korea dari pada orang Spanyol kebanyakan. Bibirnya tipis sangat sexy. Ia mengenakan kaca mata hitam dengan setelan gaun tipis warna biru laut.

“Jinnie…!!!” pekik Keanny. Jinnie menoleh ke arah sumber suara. Segera ia tarik kopernya dan menyambar tas jinjing mewah Alexander Mc Queen yang ia letakkan di samping tempat duduknya.

“ada apa? Bukankah aku bilang hari ini aku akan menginap di suatu tempat dulu. Aku baru akan menemui HaJe besok lusa. Dia pasti terkejut dengan kedatanganku” Jinnie tersenyum anggun. Sebesar apapun kerinduannya pada Hyuk Jae sengaja ia tahan demi kejutan yang akan ia berikan pada Hyuk Jae besok lusa.

“ini darurat, HaJe sedang di rumah sakit. Dia terluka saat menolong seorang gadis…!!”

Jinnie menegang. Tidak percaya dengan apa yang baru saja Keanny katakan.

“,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,”

Hening cukup lama hingga Jinnnie buka suara. “antarkan aku ke rumah sakit sekarang!!” rasa marah dan khawatir bercampur jadi satu. Ia tak tau harus berbuat apa saat bertemu dengan Hyuk Jae dalam keadaan seperti ini.

-o0o

Asan Medical Center International Clinic

Perjalanan dari bandara menuju rumah sakit memakan waktu sekitar 30 menit. Otak Jinnie terus berfikir. Berusaha menerawang apa sebenarnya yang direncanakan Hyuk Jae. Kembalinya ke Korea secara tiba-tiba, juga putusnya komunikasi diantara mereka tanpa sebab.

Gigi indah Jinnie mulai beradu, mobil yang ia dan Keanny tumpangi telah berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Keanny menggenggam jemari Jinnie yang mulai mendingin.

“tenanglah, HaJe akan baik-baik saja. Seperti biasanya, dia akan pura-pura sakit. Lalu setelah kau datang, dia akan langsung sembuh. Jadi tersenyumlah!!”

Mendengar perkataan itu Jinnie tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya pelan, tanda setuju dan juga sebagai harapan. Ia berharap bahwa Huk Jae memang sedang pura-pura sekarang. Ia berharap ketika kenop pintu dibuka balon-balon berjatuhan, dan menemukan Hyuk Jae sedang menari sambil menyanyi di atas ranjang.

Jinnie dan Keanny berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Keanny menoleh ke arah kanan dan kiri mencari keberadaan keluarga Hyuk Jae. Sedangkan Jinnie terus menundukkan kepala, bingung, gundah, cemas merajai fikirannya. Langkah mereka terhenti tatkala melihat barisan orang-orang berbaju hitam lengkap dengan senjata di pinggang mereka, kurang lebih jumlahnya ada 30 orang. Di ujung lorong ada laki-laki muda sedang duduk lesu di lantai, ditemani seorang gadis Korea Inggris berperawakan jangkung yang sedang memeluk sang pria dari samping. Sesekali sang gadis menyeka peluh yang bercucuran dari dahi sang pria.

Seorang laki-laki kekar nan gagah berjalan mendekati mereka berdua. Tentu saja dia adalah Max. Max, menyadari pria dan wanita berkebangsaan Spanyol itu sedang mencari Hyuk Jae berada.

“kalian…..?” Max membuka pembicaraan. Dia tau 2 orang ini adalah teman Hyuk Jae.

“Aku Keanny, dan ini Jinnie.. aku manager HaJe. Aku mendapat kabar dari Hoya bahwa HaJe mengalami kecelakaan. Jadi kami langsung ke sini. Bagaimana keadaanya?” hembusan nafas berat sengaja dikeluarkan Max. Dia mengangkat bahu tegapnya. Menandakan ketidak tahuannya dengan kondisi Hyuk Jae saat ini. 2 jam lamanya mereka menunggu kabar dari dalam ruangan oprasi itu. Tak satupun dokter maupun perawat yang keluar dari dalam ruangan menakutkan itu.

“chagiya.. apa yang mereka lakukan di dalam hemm…? Kenapa lama sekali. Apa mereka tidak tau kalau aku menunggu mereka di sini? Mereka tidak tau siapa Seungri?” Seungri kembali menangis. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menunggu. Cae Rin mengelus pelan punggung tangan Seungri.

“berdoalah.. Tuhan akan menyelamatkan kakak kesayangan kita semua. Bukankah Hyukkie oppa orang yang kuat?” diputarnya tubuh Seungri sehingga mereka berdua kini saling berhadapan. “lihat aku. Aku, Max, dan yang lainnya juga berdoa untuk kesembuhan Hyukkie oppa. Banyak sekali orang yang menyayanginya. Dia pasti tidak apa-apa. Mungkin oppa sedang mempermainkan Joon di dalam… hihi…. Bukankah oppa memang suka bermain-main?” Cae Rin mencoba membuat lelucon yang jelas sama sekali tidak lucu di telinga Seungri. Namun seutas senyum mengembang dari bibir Seungri.

“ya aku percaya.. kakakku bukan orang yang lemah.”

Pintu ruang oprasi akhirnya terbuka. Joon keluar dari dalam ruangan. Kelihatan sekali raut mukanya yang juga tak kalah tegang dari orang-orang yang menunggu Hyuk Jae di luar. Seungri segera berlari menghampiri Joon. Dia tak sabar lagi ingin mengetahui keadaan kakaknya saat ini.

“Hyung..”

“tenanglah.. maafkan aku tapi Hyukkie belum boleh di ganggu. Dia masih perlu istirahat. Tunggu beberapa jam lagi OK.!!”

“kalau begitu katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kakakku. Kenapa kalian lama sekali di dalam” Seungri marah, kecewa. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Joon.

“tidak ada yang perlu di khawatirkan Seungri-ah. Tunggu saja sebentar lagi. Maaf aku pergi dulu” Joon segera pergi meninggalkan Seungri. Dia yakin tak akan mampu menjawab pertanyaan yang akan diajukan Seungri. Menghindar untuk sementara adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.

“Joon hentikan!! Katakan atau…” tanpa mereka sadari ternyata Seungri telah merampas salah satu senjata api milik anak buahnya. Dia letakkan ujung senjata itu tepat di pelipis kanannya. Joon dan semua orang di sana tentu panic. Seungri tidak pernah bermain-main degan apa yang akan dia lakukan.

“oppa hentikan!! Hyukkie oppa akan sangat sedih jika kau melakukan itu!! Jangan bodoh!! Kau ingin membuat kami tambah menderita haa….!!!!”

“Joon….hyung..!! aku mohon katakan. Biarkan aku masuk…..!!”

“Seungri-ah… aku mohon jangan seperti itu…..!! bersabarlah aku mohon. Beri aku waktu!!” Joon yang tadi sempat menoleh ke arah Seungri kini kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kerumunan pasukan berseragam hitam di lorong ruang operasi. Dia sama sekali tak memperdulikan teriakan dan rontaan yang keluar dari mulut Seungri.

“Max… aku ingin kau bunuh 3 orang yang telah menyakiti kakakku! Bawa mereka ke hadapanku. Aku ingin membunuh mereka dengan tanganku sendiri.!! Cepat pergi!!!!”

Max menuruti perintah Seungri. Dia akan membawa 3 orang penjahat yang sengaja diamankan ke rumah prodeo buatan milik keluarga Lee. Max terbawa emosi. Pikirannya tak lagi sejernih biasanya. Sementara itu Jinnie mulai menangisi kabar yang keluar dari mulut Joon. Dia tau keadaan Hyuk Jae tidak baik sekarang itu sebabnya mereka tidak boleh menemui Hyuk Jae.

“Ken…. Bisakah kau urus tempat tinggalku selama kita di sini? Mungkin kita akan lama di Korea.”

“tentu saja, kita akan menemani HaJe di sini” Keanny memberi pelukan hangat pada Jinnie. Mencoba menenangkan hati Jinnie, dan hatinya sendiri tentunya. Suasana lorong hening sejenak. 30 orang bodyguard masih setia berbaris rapi di pinggir-pinggir lorong. Seungri tidur di lantai, sedangkan Cae Rin duduk di atas kursi sambil menekuk kedua lututnya. Tiba-tiba seorang perawat keluar dari rungan mengerikan itu.

“maaf. Apa ada orang yang bernama Jinnie?? Pasien memanggil nama itu terus, jika ada silahkan masuk. Temui dia…”

Mata Seungri memlebar. Dia bahkan baru saja mendengar nama dan bertemu dengan orang yang berama Jinnie itu sekarang. Orang yang sedari tadi dia acuhkan keberadaannya, justru berkesempatan masuk untuk menemui kakakknya dulu. Siapa gadis bernama Jinnie itu? Tanya Seungri penasaran…

-o0o

Seungri’s Private Office

“Park Gyuri, kedua orang tuanya meninggal saat dia berumur 7 tahun. Kemudian dia diasuh oleh orang tua angkat yang bernama nyonya dan tuan Kim. Keluarga angkatnya memiliki banyak hutang pada Kim Kyu Joong. Oleh karna itu Gyuri dikejar-kejar karna keluarga Gyuri belum mampu melunasi hutang mereka. Sedangkan Jinnie de Carlos, gadis itu asli orang Spanyol. Identitas pribadinya sama sekali tidak dapat dilacak. Namun dia diketahui dekat dengan Hyukkie hyung. Dia sering tertangkap kamera sedang berpelukan di pit sewaktu Hyukkie hyung berhasil memenangi perlombaan.” Max melaporkan hasil pengamatan gadis bernama Park Gyuri dan juga Jinnie yang  sedang dicurigai Seungri.

“lalu, Keanny?”

“Keanny dos Silva, laki-laki itu adalah manager Hyukkie Hyung. Dia yang selalu menemani Hyukkie hyung di setiap race yang ia jalani. Asal usul orang itu juga tidak jelas… selama ini Hyukkie Hyung dan juga mereka selalu tinggal nomaden, tak ada tempat di Spanyol yang mereka tempati lebih dari 2 minggu… eummmm…  Maafkan aku,,,, aku akan berusaha mencari tau siapa mereka sebenarnya.!”

“maafkan aku juga Hyung, kemarin aku terus marah-marah dan membentakmu. Aku sedang kalut.”  Max berjalan mendekati Seungri, dia rangkul boss sekaligus adik kecilnya itu. Seungri terdiam, tak lagi ia teruskan kata-kata yang sebenarnya masih banyak lagi yang akan ia ucapkan.

“tentu saja aku maafkan. Apa kau sudah siap? Joon menelophoneku, kakakmu mencarimu tadi pagi. Segeralah ke rumah sakit. Temui dia, ingat, kendalikan emosimu. Jangan hujani dia dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya tertekan.”

“baiklah.. biarkan aku pergi sendiri”

“tentu. 20 orangku akan mengikutimu dari belakang. Aku akan mengurus semua urusan kantor. Bergegaslah, jangan buat kakakmu menunggu terlalu lama.”

“gomawo Hyung”

Seungri tersenyum kecut. Langkah kakinya terasa berat. Kali ini fikirannya jauh lebih kacau dari sebelumnya. Orang macam apa yang digauli sang kakak sebenarnya selama dia di Madrid. Mengapa data kecil seperti rumah tinggalpun tak Seungri dapatkan.

-o0o

Asan Medical Center International Clinic

Lexus LFA mewah hitam milik Seungri melesat cepat menuju rumah sakit. Seungri tak sabar ingin bertemu dengan kakaknya. Sesekali ia mainkan tablet yang ada di tangannya. Comic seru yang biasa ia baca tak lagi menarik seperti biasanya. Game terbaru buatan perusahaannya pun tak dapat merubah suasana hatinya.

“sudah sampai tuan!” ucap seorang bellboy sembari membukakan pintu mobil Seungri.

“gomawo”

Tanpa basa-basi Seungri segera berjalan cepat menyerupai lari kecil menuju ruangan vvip dengan nomor 447 milik Hyuk Jae. 20 orang bodyguard siap berada di belakang Seungri. Mereka bertugas menjaga dan akan menggantikan 20 orang bodyguard yang sudah berjaga-jaga di depan kamar Hyuk Jae mulai dari tadi malam.

Sesampainya di depan pintu kamar Hyuk Jae, Seungri terdiam. Menimbang-nimbang apa yang akan segera dia lihat. Seperti apa Hyuk Jae sekarang, membayangkannya pun telah sukses membuat darah Seungri naik turun. Perlahan dia tekan kenop pintu ruangan bernomor 447 itu. Sedikit terkejut. Laki-laki kurus takberdaya itu sedang melirik ke arah pintu. Hidungnya masih dihiasi selang bantuan oksigen. 2 selang lain menancap indah di lengan kirinya, sedangkan dadanya naik turun pelan dibantu alat pendeteksi denyut jantung. Laki-laki itu tersenyum kearah tamu yang sudah ditunggu-tunggu. Mata Seungri akhirnya menemukan sosok gadis yang sedari tadi duduk di samping ranjang Hyuk Jae. Tangan kanannya menggenggam erat tangan kanan Hyuk Jae. Senyumnya merekah, menghiasi wajah cantik yang disadari Seungri sudah tak asing lagi di hidup Seungri.

“halo.. Seungri. Masuklah. Kakakmu sudah menunggu dari tadi. Ini sudah jam 10 dan dia tidak mau makan jika tidak kau yang menyuapi.” Senyuman itu tak lepas dari bibir Jinnie. Dia mengatakan semuanya dengan tulus, berusaha mengakrabkan diri dengan Seungri.  Jinnie juga harus menyayangi orang yang Hyuk Jae sayangi.

“…………………………..” Seungri berjalan tanpa kata mendekati Hyuk Jae, mencoba mengembalikan kesadarannya lagi.

“jangan cemas. Kakakmu baik-baik saja. Hanya saja 1 tulang rusuknya patah lagi. Aku akan belajar ilmu cara mengganti rusuk manusia dengan rusuk binatang. Mungkin lain kali kita bisa mengganti rusuk HaJe dengan rusuk monyet… hahaha….”

Suasananya sangat tegang, Jinnie mencoba membuat suasana ruangan itu jadi lebih santai, walau kenyataannya suasana sama sekali tak berubah walau Jinnie sudah melempar sebuah candaan pada Seungri.

 “Seungri, aku harus pulang dan membersihkan diri. Nanti sore aku akan datang lagi. Kau jaga HaJe baik-baik. Paksa dia makan sesuatu oke… jangan lupa obatnya harus kau minumkan juga” 

Lagi-lagi Jinnie tersenyum hangat pada Seungri. Dia rapikan rok biru muda yang terlihat telah kusut. Sesekali dia rapikan juga rambut panjangnya dengan jari. Sebelum keluar Jinnie tak lupa mengelus rahang tegas milik Hyuk Jae yang berubah warna menjadi biru akibat terkena  pukulan kemarin . Dikecupnya bibir Hyuk Jae hangat sebagai tanda perpisahan.

“jaga dirimu baik-baik honey.. aku akan kembali nanti sore” tak ada penolakan dari Hyuk Jae, dia biarkan Jinnie melakukan apapun yang ia mau, hanya anggukan kecil menandakan jawaban ‘ya’ dari statement yang Jinnie lontarkan. Tenggorokannya memang sedikit sulit untuk berbicara.

“bye Seungri. Jaga kakakmu ya… !” Jinnie melesat keluar dari rungan. Sengaja ia tinggalkan Seungri sendiri bersama Hyuk Jae, dia tau Seungri sangat menceaskan kakaknya.

“…………………………..” hening. Seungri duduk di samping Hyuk Jae, 15 menit terbuang sia-sia tanpa ada pembicaraan diantara mereka. Akhirnya tangan Seungri meraih mangkuk makanan khas rumah sakit di atas meja dekat ranjang Hyuk Jae. Ia suapkan sedikit makanan ke arah mulut Hyuk Jae. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Tangan Seungri dengan telaten menyuapkan makanan pada Hyuk Jae, hingga Hyuk Jae menolak suapan ke empatnya.

“cepat makan!! Aku tidak mau berlama-lama menemanimu di rumah sakit. 70% sifatku mirip denganmu. Jadi kau tau pasti kan apa yang aku rasakan setiap kali berada di tempat sial ini” Seungri masih berusaha memaksa kakaknya untuk memakan lagi makanan khas rumah sakit yang sudah jelas bagaimana bau dan rasanya. Hambar.

“aku kenyang!”

“jangan seperti anak kecil. Habiskan makananmu! Setelah itu minum obat dan istirahatlah. Aku sudah berkonsultasi dengan Joon Hyung. Nanti malam kau akan aku  bawa pulang. Kau tinggal di rumah saja, aku akan menyewa dokter dan perawat pribadi untuk merawatmu di rumah”

Seungri menahan diri untuk tidak marah, walau sebenarnya setiap perkataan yang diucapkan Seungri menyiratkan kemarahan dan kekecewaan pada orang yang sedang ia ajak bicara.  Ingin rasanya langsung dia tanyakan siapa gadis yang telah mencium bibir kakaknya di depan kedua matanya itu. Matanya, wajahnya mirip sekali dengan seseorang yang juga berarti di dalam hidupnya. Namun niatnya diurungkan. Dia tak ingin memperburuk keadaan Hyuk Jae jikalau sampai terjadi pertengkaran diantara mereka.

“tanganku sakit, tolong ambilkan aku minum!” Seungri mematung di tempat duduknya. Mangkuk makanan yang masih berisi itu masih ada di tangan Seungri. Hyuk Jae sama sekali tidak menghiraukan ceramah Seungri mengenai kesehatannya. Dia tau Seungri sedang marah dan khawatir dengan keadaannya. Tak ingin memperpanas suasana, dia pejamkan saja matanya yang memang sedikit terasa berat.

“aku tidak apa-apa” Hyuk Jae membuka mata kantukya, dilihatnya Seungri masih tetap duduk di samping ranjangnya. Diam, tak bergerak seinci pun.

“aku tau,,,,,, sudahlah,,,, ambil saja minumanmu dan obatmu sendiri. Tanganku juga sakit”

Seungri beranjak dari tempat duduknya. Dia letakkan mangkuk makanan Hyuk Jae  di atas meja. Dia berjalan mendekati jendela kamar yang langsung menghadap taman di belakang rumah sakit. Pepohonan di sana terlihat hijau, rindang. Bunga-bunga bermekaran di pinggir taman membentuk pagar. Sesekali dilihatnya anak-anak berlalu lalang bermain di beberapa wahana yang terdapat di taman itu. Mungkin sesekali dia harus pergi ke sana, bermain dengan anak-anak tanpa dosa seperti mereka. Melepaskan semua penat di dada.

Hembusan nafas berat meluncur dari mulut Seungri. Tiba-tiba pandangannya berbalik arah, ke arah suara rintihan yang datang dari mulut Hyuk Jae. Sontak dia lari menghampiri kakaknya yang sudah terjatuh di lantai. Tube infuse yang melekat di tangan kiri Hyuk Jae terlepas, hingga darah segar keluar dari sana. Beruntung satu lagi tube yang menghubungkan cairan warna kuning keunguan ke tubuh Hyuk Jae masih melekat di tempatnya, hingga Seungri tak perlu menyaksikan banjiran darah keluar dari tangan kiri kakaknya. Tak di sentuhnya sang kakak yang sedang menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit. Keringat dingin mengalir dari pelipis Seungri. Kakinya tiba-tiba saja kaku saat akan melangkah untuk menekan bel darurat untuk memanggil perawat.

Setan apa yang merasuki Seungri hingga ia sama sekali tidak menyentuh Hyuk Jae yang sedang berguling-guling di atas lantai. mungkin sakit itu terlampau menyiksa tubuh Hyuk Jae hingga akhirnya erangan demi erangan mulai Hyuk Jae perdengarkan.

Mulut Seungri terkatup rapat, tangannya mengepal, pandangannya mengabur. Tiba-tiba kaki kaku Seungri melemas. Seungri pingsan tepat di sebelah tubuh Hyuk Jae yang masih sulit mengendalikan dirinya sendiri.

Rasa sakit beradu dengan rasa cemas luar biasa dirasakan Hyuk Jae. Ada apa gerangan dengan adik kecilnya itu. Sayup-sayup ia dengar hentakan kaki seseorang yang tak lain adalah Joon. Dalam hati dia bersyukur, ada orang yang akan menyelamatkan hidupnya dan juga adiknya.

“bertahanlah….!!!!! Suster…..!!!!! heyyy!! Kau yang di luarrrrrrrrrrrrrrr……………!!! Cepat cari pertolongan!!!!!!!!!!!! Brengsekk!!!!!!!!!!!!!!”

-o0o

Pukul 7 malam, Cae Rin akan menghabiskan kaleng ke 2 wafflenya. Menunggu orang yang sedang tidur dihadapannya ternyata memuakkan. Diletakkannya kaleng waffle yang sudah hampir kosong di meja dekat ranjang Seungri.

“bodoh!! Sampai kapan kau mau tidur!! Aku menunggumu lama sekali!! La-ma-se-ka-li!! Ini sudah hampir 7 jam, apa masih belum puas haaa!!! Apa yang kau lakukan di alam mimpimu?!!!”

Cae Rin sempat berdiri sambil menghentakkan kaki kirinya. Kesal juga melihat keadaan seperti ini harus terulang lagi. Dia merangsut pergi menuju jendela kamar ruangan Seungri. Dilihatnya pemandangan malam kota Seoul yang indah. Lampu-lampu malam selalu membuatnya damai.

“chagiya.. aku sangat lelah, bangunlah!! Ayo kita makan bersama. Setelah kau bangun aku ingin kau membuatkanku café di atas genting apartement baru kita. Makan malam sambil menikmati kopi di atasnya kelihatannya menarik.” Cae Rin tersenyum kaku, sadar ucapannya seikit ngelantur. Sementara orang yang diajak bicara masih saja menutup mata.

“bangunlah!! Jebbal!!!”

Kali ini Cae Rin berkata lirih, dia kembali mendekat ke arah Seungri. Dielusnya hidung dan bibir Seungri, mata Seungri yang kini kantungnya kian lama kian hitam. Lama sekali dia tak menyentuh wajah kekasihnya ini.

“baiklah, aku ijinkan kau tidur 10 menit lagi, setelah itu kau harus bangun. Aku bosan sendirian”

Suara detik jarum jam terdengar begitu nyaring kali itu. Air muka Cae Rin mulai mengeruh. Panic, bingung, khawatir dirasakan berbarengan. Kenapa Seungri tidak kunjung terjaga. Cae Rin takut kejadian 5 tahun lalu terulang lagi.Cae Rin menengadahkan wajahnya, menahan genangan air mata untuk tetap terkurung di tempatnya. Ya Tuhan..

“eummmmmmmmmm………” Seungri mulai membuka matanya, dikumpulkannya kekuatan untuk kembali ke dunia nyata. Seungri menarik nafas panjang. Cae Rin mendekat lalu memeluk Seungri. Bersyukur, tentu saja. “ha—us” Cae Rin segera membantu Seungri untuk minum dan kembali membantunya untuk berbaring.

“apa yang kau rasakan… tunggu… aku akan memanggil Joon oppa”  antara senang dan panic berampur jadi satu.

Seungri menahan pergelangan tangan Cae Rin, walaupun masih lemas. “tt dak ppe r lu…………. Emm.. aa ku, baik-baik saja”

Cae Rin mengangguk pasrah. Dia harus menuruti apa yang dikatakan Seungri, atau kalau tidak Seungri akan marah. Cae Rin duduk di samping ranjang dekat Seungri. Tangannya mulai mengelus pelan kepala Seungri. “bagian mana yang sakit?”

Tanpa berkata-kata Seungri menunjuk arah dadanya. Memang benar, kepalanya tak lagi sakit sekarang, begitu juga  organ-organ tubuh lainnya. Yang sakit adalah hatinya. Ia belum siap menyaksikan penderitaan dari orang-orang yang ia cintai.

Mata indah Cae Rin mulai berkaca-kaca. Tak kuasa melihat Seungri yang begitu kuat terlihat lemah dihadapannya sekarang.

“apa kakakku baik-baik saja?”

“oppa… sepertinya dia baik-baik saja. Max berada di kamarnya sekarang. Tak terjadi keributan apapun selama kau tidur, itu artinya oppa dalam keadaan baik kan?”

“benarkah?”

“tentu saja? Sudahlah.. kau harus istirahat sekarang, jangan banyak bicara. Aku tak ingin melihat laki-laki lemah sepertimu.”

Seungri tersenyum. Dalam hatinya dia bersyukur karna ada Cae Rin yang selalu ada di sampingnya melewati masa-masa berat dihidupnya. Tak sedikit pengorbanan yang telah Cae Rin berikan untuk Seungri. Itu sebabnya mereka berdua terlihat selalu kompak dan saling mencintai.

“chagiya.. bawa gadis itu ke sini, aku ingin bicara dengannya!”

“Gyuri eonni maksudmu?” Seungri mengangguk di sela-sela ucapan Cae Rin. “dia ada di rumahku. Lukanya tidak parah, jadi aku membawanya pulang semalam. Aku ingin mengajarinya ilmu bela diri seperti apa yang kita pelajari selama ini. Agar dia bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak merepotkan orang lain.”

“eum……aku ingin dia bekerja padaku! Apa kau setuju?” Seungri melontarkan pertanyaan seduktif pada Cae Rin. Cae Rin tau pasti apa yang ada di fikiran Seungri, dia hanya mengangguk tanda setuju yang langsung disambut senyuman oleh Seungri.

“aku sudah mempersiapkan sebuah apartemen di dekat perusahaan kita, Hyukkie oppa pasti enggan pulang denganmu jika kau tidak membelikan tempat tinggal baru untuknya. Kita hanya perlu waktu 10 menit menuju apartement dari perusahaan pusat. Jadi kita bisa dengan mudah mengawasi Hyukkie oppa tanpa harus mengorbankan perusahaan”

“kau hebat, chagiya….. kerjamu cepat sekali. Kau bahkan sampai mempersiapkan apartement khusus untuk kakakku. Apa kau benar-benar menyukai kakakku??” Seungri memonyongkan bibirnya, cemburu.. tentu saja tidak. Justru dia sangat senang fikirannya sejalan dengan Cae Rin. Dia tidak perlu khawatir jika Cae Rin cemburu jika terkadang perhatiannya pada kakaknya jauh lebih besar dari pada perhatiannya pada kekasihnya sendiri.

“tentu saja aku menyukai Hyukkie oppa, dia kan tampan!! Hahhahah….”

“kau tidak sedang menggodaku kan!!!” Seungri berkata dingin. Tak ingin kalah dengan Cae Rin, dia pura-pura marah padanya. Ditutupnya kedua mata beratnya lagi sambil sesekali memijat pelipisnya pelan. Seungri pura-pura kesakitan. Cae Rin memandang heran, tak biasanya Seungri semanja ini. Apa dia benar-benar sakit sekarang?

“apa kau benar-benar sakit?” Seungri menggeleng. “lalu? Apa yang kau lakukan dengan kepalamu? Apa itu pusing? Aku akan memanggil Joon Oppa agar d.….” Baru tiga langkah Cae Rin beranjak menuju pintu, dia mendengar kekehan lirih Seungri.

“yak…………….!!!!!! Kau sedang mempermainkanku ha….!!!! Panda brengsek!!!!!!!”

“kau mengatai tunanganmu sendiri brengsek!!!! Ya Tuhan, aku pasti telah berbuat dosa besar di masa lalu.!!” Seungri tersenyum evil, senang melihat kekasihnya mengkhawatirkan kesehatannya.

“hari ini kau tidur lebih lama dari biasanya. Saat tidur kau juga sering mengigau memanggil nama kakakmu, ibumu, dan juga Nara eonni. Aku sangat khawatir, apa kau tidak tau itu ha……!!!”  Cae Rin benar-benar marah. Dia sangat khawatir pada Seungri, namun orang yang dikhawatirkannya malah cengengesan, merasa senang melihat expresi yang ditunjukkan Cae Rin.

“maafkan aku! Kau terlihat lebih menyayangi kakakku tadi. Aku jadi cemburu” Seungri mencoba menghibur Cae Rin, dia merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan. “tadi aku hanya mimpi buruk, sekarang aku sudah tidak apa-apa. Kemarilah…!!” Seungri memberi aba-aba pada Cae Rin dengan tangannya untuk mendekat. “beri aku vitamin C” bibir Cae Rin tertarik ke atas. Sikap manja Seungri selalu mampu mengalihkan dunianya.

Tanpa basa basi Cae Rin mendekati Seungri. Cae Rin menempelkan bibirnya ke bibir Seungri. Lama… Sedikit tidak nyaman karna Seungri masih dalam posisinya berbaring di ranjang.

“tidak enak…!!! Satu minggu ini rasanya selalu berubah-ubah, kali ini kau makan apa??” Seungri menelan ludah. Lidahnya merasakan sesuatu yang janggal pada lidah dan bibir Cae Rin.

“eumm…. Waffle rasa terbaru yang diproduksi perusahaan kita. Almound mix Banana. Bukankah ini enak. 2 rasa itu rasa kesukaanmu kan? Teksturnya lebih lembut dari sebelumnya. Sangat menarik. Minggu depan rasa Strawberry juga akan mulai di produksi. Hyukkie oppa pasti sangat senang. Menikmati susu Strawberry ditemani Waffle kesukaannya.”

“lagi-lagi kau lebih memperhatikan kakakku. Kau hafal sekali dengan apa yang dia benci  dan yang dia suka….”

“hahahha………….. ini semua juga gara-gara kau. Kau mendirikan pabrik makanan yang memproduksi smua makanan kesukaan kakakmu, bukankah kau juga berencana membuat cabang yang ke 14 untuk pabrik kimchi instan bulan depan. Itu makanan pelengkap yang harus ada di meja makannya kan?  Kita juga mengeluarkan banyak uang untuk mendirikan pabrik susu di New Zeland. Belum lagi perusahaan game yang sengaja membuat animasi permainan sepak bola dan juga balap mobil sebagai game utama, itu juga olahraga favourite kakakmu kan?? Dan….”

“tidak usah disebutkan lagi. Kau benar-benar banyak bicara hari ini.”

Seungri memotong pembicaraan Cae Rin. Semua yang dikatakan Cae Rin memang benar. Tapi ia tak mau mendengarkan ocehan retoris yang sering dilontarkan Cae Rin. Bosan. Tapi Cae Rin sedang ingin balas dendam, dia tidak ingin balas dendamnya cukup sampai di sini.

“kau tidak boleh cemburu lagi sekarang! Bukankah kau sendiri yang bilang. 70% sifatmu itu menurun dari sifat asli kakakmu. Oppa manja, kau jauh lebih manja. Oppa pintar, kau jauh lebih pintar. Oppa keren, kau jauh lebih keren. Oppa kuat, kau jauh…jauh….lebih kuat. Dan.. Hyukkie oppa tampan…. “

“tentu aku juga jauh lebih tampan kan???” lagi-lagi Seungri memotong pembicaraan Cae Rin…

“tentu saja…..!! Hyukkie oppa tetap yang paling tampan!! Hahahhaa…” mereka tertawa berdua. Seperti orang gila, terkadang hal-hal yang tidak lucu pun mereka tertawakan. Ditengah-tengah kebahagiaan mereka tiba-tiba terdengan suara ketukan di pintu kamar Seungri.

“masuklah…..!” teriak Cae Rin.

“ow… Joon Oppa….!! Apa kabar?” Cae Rin membungkukkan badannya pada Joon sambil tersenyum.

“kabarku baik, kenapa kau tidak memberi tau aku kalau Panda sudah sadar? Hemmm….” Joon mendekati Seungri sambil mengacak-acak pelan rambut Seungri. Tangannya dengan lihai memeriksa keadaan Seungri. Stetoskop yang biasanya ada di sakunya bahkan sedang menari-nari di dada Seungri sekarang. “kau terlihat sangat baik Seungri-ah. Katakan padaku, apa yang terjadi tadi pagi? Apa yang kau rasakan?” Joon duduk di ranjang samping kiri Seungri.

“aku melihat kakakku jatuh dari atas ranjang, tangannya berlumuran darah karna jarum infusnya lepas, kedua tangannya mengepal, nafasnya pendek mungkin sesak. Lama-lama dia menangis memegangi perutnya sambil mengaduh..” Seungri memejamkan matanya.”kakakku kesakitan. Kepalaku tiba-tiba juga sakit.. setelah itu aku tidak ingat apa-apa.”

Joon memeluk Seungri. Dia bagi kehangatan tubuhnya pada Seungri. Tangannya mengelus pelan kepala Seungri.

“kau akan baik-baik saja. Ingat itu. Kau sehat, kau kuat, ya kau harus kuat Panda. Fighting…!!! Hahaha…” Joon mencoba menghangatkan suasana. Seungri masih terdiam, sementara Cae Rin memandangi mereka berdua dari atas sofa. Dia biarkan Joon dan Seungri berbicara dari hati ke hati. Antara kakak dan adik, bukan sebagai pasien dan dokter pribadi tentunya.

“Hyung, aku ingin kau menjaga Hyukie Hyung juga. Aku ingin membawanya pulang. Semua alat rumah sakit yang harus aku bawa pulang siapkan saja, aku juga akan menyewa beberapa perawat untuk menjaga Hyukkie hyung. Dan yang paling penting adalah kau. Kau harus ikut pulang juga denganku!!”

“tidak mau” kali ini Joon membuang muka.

“kau jahat…!!”

“kau yang jahat Panda!! Aku sedang tidak ingin menjaga dua balita tua yang manja dan menyebalkan seperti kalian berdua. Sewa saja dokter lain!! Arasso!!”

“Hyung…!!” Seungri memelas. Dia tau betul kakaknya sangat keras kepala, sama seperti dirinya. Joon adalah satu-satunya orang yang dapat diandalkan untuk menjaga Hyuk Jae. Joon dapat menakhlukkan Hyuk Jae dengan mudah. Seungri percaya, kakaknya akan baik-baik saja ditangan Joon.

“Seungri-ah… aku mohon jangan paksa aku. Kau tau kan aku paling tidak kuat melihat keluargaku sakit. Hyuk Jae itu lebih dari sekedar teman untukku. Dia juga sama berharga dengan nyawaku”

Joon menghentikan kata-katanya, sementara Seungri dan Cae Rin menunggu kelanjutan pembicaraan Joon. “kemarin siang, aku akan pulang ke rumah. Tiba-tiba aku melihat tubuh Hyukkie terbaring di atas ranjang didorong oleh beberapa suster ke dalam ruang oprasi. Aku reflek mengikuti mereka, di dalam sana aku hanya diam, tangan dan kakiku kaku, tak dapat berbuat apa-apa. Itu sebabnya saat keluar ruangan aku justru terlihat lebih acak-acakan dari pada kau yang sedang berguling-guling di lantai”

“oppa…” Cae Rin terharu mendengar perkataan Joon.

“maafkan aku. Aku tidak bisa melihat orang-orang yang aku sayangi sedang sakit. Hyukkie bukanlah orang yang pandai berbohong dan menyembunyikan sesuatu pada kita. Begitu juga dengan kau. Apa kau tidak tau, aku juga  sangat mengkhawatirkanmu.. itu menakutkan.”

“lalu apa yang harus aku lakukan hyung?” Seungri kembali memeluk Joon. Seungri tampak frustasi. Tentu saja, fikirannya sedang buntu sekarang. Jika dipaksakan berfikir, kepalanya akan sakit. Maka dari itu dia lebih memilih memejamkan mata, mencoba untuk tidur dan melupakan semuanya.

Joon melepaskan pelukan Seungri kemudian menyentuh bahunya. “apa kau marah padaku?  Aku berjanji akan membantumu mengawasi Hyukkie, sebagai teman tentunya, bukan sebagai seorang dokter. Lagi pula yang rusak itu rusuk kanan Hyukkie, dan tentu saja aku tidak bisa merawatnya. Aku ini dokter yang menangani penyakit dalam, kangker lebih tepatnya bukannya patah tulang, huuffthhhhh…”

“katakana  saja apa yang harus aku lakukan? Jangan bertele-tele!!” Seungri mencoba lebih tenang.

“tunggu sampai dua hari lagi. Biarkan dokter di rumah sakit ini yang merawatnya. Setelah keadaannya membaik, bawalah pulang. Suruh seseorang menjaganya 24 jam. Carilah orang seperti itu. Yang bisa menjaganya dengan lembut dan tanpa paksaan. Aku akan sering mengunjungi kalian berdua.” Joon bangkit dari duduknya, membenarkan letak selimut Seungri lalu meremas pelan bahu Seungri. “istirahatlah. Temui kakakmu saat kau benar-benar siap. Aku sudah membaca hasil pemeriksaan kesehatanmu, kau baik-baik saja. Hanya terlalu capek dan banyak fikiran, kau mungkin juga syok tiba-tiba melihat kakakmu kesakitan. Jadi sekarang lupakan dulu kakakmu sementara. Istirahatkan juga fikiranmu. Mengerti!!”

“oppa…. Apa benar anak manja itu baik-baik saja? Dia tidur lama sekali hari ini?” melihat Joon akan segera meninggalkan ruangan, Cae Rin segera bertanya pada Joon. Dia khawatir Joon menyembunyikan sesuatu darinya.

Joon mengangguk pelan dan tersenyum. “kau mengkhawatirkan anak manja ini?” Joon menunjuk ke arah kepala Seungri yang langsung disambut anggukan cepat Cae Rin. “gadis malang…. Seharusnya kau bisa mendapatkan namja yang jauh lebih baik darinya…… contohnya aku…….hahahhahah…….!!”

“yak…..!! hyung….!! Berani-beraninya kau menggoda kekasih orang!!!” mereka bertiga tertawa bersama. Hangat sekali. Membuat perasaan gundah Seungri sedikit menghilang.

“ Cae Rin sayang, datanglah ke kantorku kapan-kapan ok!!” Joon tersenyum evil. “Soal panda, kau tidak usah mengkhawatirkannya lagi. Dia hanya pura-pura sakit.. hahahha…”

Seungri menekuk mukanya. Joon segera pergi meninggalkan kamar Seungri. Sementara Cae Rin langsung menghampiri kekasihnya lalu memeluknya. Cae Rin merasakan nafas Seungri masih tersengal-sengal. Mungkin kali ini Joon benar, Panda yang manja sedang lelah dan butuh istirahat.

“tidurlah, aku akan menunggumu di sini”

Cae Rin masih memeluk Seungri erat, tiba-tiba dia merindukan hari-hari kebersamaan mereka berdua yang sudah jarang mereka lewati selama dua bulan terakhir ini.

“aku lelah terlalu lama memejamkan mata. Cepat bawa gadis itu ke sini. Aku ingin bicara”

Seungri melepas pelukannya, dia tatap Cae Rin lekat, syarat akan kerinduan dan harapan.

“bersabarlah, sebentar lagi Gyuri eonni pasti akan datang. Aku sudah menyuruh orang untuk mengantarnya ke sini”

“gomawo”

Cae Rin tidak menjawab, dia lebih senang memberikan ciuman dalam dengan sedikit bumbu nafsu sebagai jawaban atas ucapan terimakasih Seungri. Seungri tersenyum di tengah-tengah ciumannya.

“such a naughty girl”

“and you always like it”

Mereka masih meneruskan adegan 17+ yang sama sekali tidak layak dilakukan di rumah sakit. Mata dan telinga mereka mungkin sudah tidak normal lagi hingga suara ketukan pintu tak mampu menghentikan ‘permainan’ mereka. Gyuri  hanya diam, merasa malu dan bersalah karena menyelonong masuk tanpa ijin dari sang pemilik kamar. Tas yang sedari tadi dia jinjing pun akhirnya terjatuh saat melihat seungri mulai bermain-main dengan perut rata Cae Rin. Suara yang dihasilkan tas Gyuri pun akhirnya menjadi akhir dari permainan yang sedang dilakukan Seungri dan Cae Rin. Cengiran lebar Cae Rin menghiasi wajah cantiknya. Sedangkan Seungri hanya menggaruk belakang kepalanya yang tentu saja tidak gatal.

“maafkan aku? Aku mengganggu kalian…..”

Gyuri sungguh merasa bersalah pada mereka. Dia buru-buru meraih tasnya dan bermaksud akan keluar kamar namun Seungri menghentikan langkahnya.

“Gyuri -shi… tunggu!! Kau memang lancang masuk kamarku tanpa ijin. Tapi aku tidak marah, kau juga tidak perlu malu. Kita bertiga kan sudah sama-sama dewasa. Jadi sah-sah saja kan kalau aku melakukannya dan kau ingin menontonnya.. hahahaha…….”  tangan Cae Rin reflek menjitak kepala Seungri. “awww…. Sakit!!”

“dasar panda yadong!! Sifat ini kau tiru dari siapa haa….!!!”

“tentu saja dari kakakku juga!!”

“eonni, maafkan laki-laki bodoh ini. Mulutnya memang belum lulus sekolah TK jadi maklum perkataannya seperti ini… hahahah….”

“eumm….. Seungri-shi, terimakasih kau telah menolongku. Maafkan aku juga karna telah menyebabkan kakakmu jadi seperti ini.”

Gyuri benar-benar merasa bersalah. Dia tulus meminta maaf pada Seungri. Dia merasa beruntung karna ada keluarga Lee yang telah menolong mereka. Namun dia juga merasa bersalah dan berhutang budi karna telah menyebabkan kekacauan pada keluarga mereka.

“kau harus membalas apa yang telah kami lakukan padamu!”

Kali ini Seungri mulai berbicara serius. Cae Rin menatap Seungri dengan tatapan bingung.

“apa yang harus aku lakukan. Aku tidak punya apa-apa?”

“aku tau ayah tirimu memiliki hutang pada keluarga Kim Kyu Joong kan? Aku akan membayarnya. Sebagai gantinya kau harus bekerja padaku.”

Cae Rin makin bingung, sedangkan Gyuri hanya mengangguk pasrah dengan tawaran Seungri. Dia merasa banyak berhutang budi pada Seungri dan kakaknya.

“jadi kau setuju?”

Tanya Seungri girang. Dia puas transaksi mereka berjalan lancar tanpa ada hitung-hitungan alot yang mungkin dilontarkan oleh Gyuri.

“………………………………”Gyuri tampak berfikir lagi, namun tanpa fikir panjang Gyuri langsung menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Seungri.

“apa yang harus aku lakukan?”

Gyuri memberanikan diri mengangkat kepala menatap wajah Seungri.

“jadilah teman kakakku, temani dia 24 jam. Apa kau bisa?”

“hanya itu?”

“jangan meremehkan tugasmu Gyuri-shi. Kakakku ini punya sifat kaku dan dingin. Kau harus memiliki kesabaran extra untuk menghadapinya.”

“benarkah…..? tapi dia menolongku 2 kali walaupun kami tidak saling kenal..?”

Gyuri tampak bingung, dia pandangi wajah lesu Seungri bergantian dengan wajah Cae Rin yang terus tersenyum.

“jangan kau hiraukan perkataan Seungri eonni.. Hyukkie oppa tidak semenakutkan yang kau fikir. Dia tampan dan baik, kau pasti senang bisa bersama dengannya.”

Cae Rin menenangkan Gyuri, Gyuri tersenyum setuju. Benar, dia pasti bisa. Dan harus bisa. Dia tidak boleh menolak permintaan orang yang telah menolong nyawanya untuk yang ke sekian kalinya lagi.

“kau hanya perlu berjanji padaku Gyuri -shi. Kau harus bersabar dan terus ada di samping kakakku apapun yang terjadi, sekalipun dia mengusirmu kau tidak boleh pergi darinya. Hubungi aku atau Cae Rin jika kau perlu bantuan”

“aku akan berusaha semaksimal mungkin Seungri-shi”

“sudahlah… teruskan percakapan ini lain kali saja. Oya Eonni, kau temani Seungri malam ini ya….. Aku ada urusan mendadak, jadi aku harus pergi sekarang. Maaf merepotkanmu eonni, sekarang kau bisa berlatih, sifat mereka berdua hampir sama. Jadi apapun yang kau lihat pada Seungri kurang lebih hampir sama dengan Hyukkie oppa, hanya saja Hyukkie oppa jauh lebih baik darinya.. hahahhah….”

Cae Rin bergegas mencium bibir Seungri kilat untuk salam perpisahan, dia segera menyambar tas yang dia geletakkan di atas sofa. Dia bergegas pergi sebelum mendengarkan ocehan Seungri atas apa yang telah ia ucapkan pada Gyuri.

“aku tidak akan memarahimu gadis usil…!! Jadi jangan tergesa-gesa!! Hati-hatilah di jalan, telfone aku saat sampai tujuan” Seungri terus bergumam, kesal gadisnya selalu usil di saat yang tidak tepat. Dia merasakan satu pintu telah terbuka. Jalan untuk mendekatkan diri dengan kakaknya terbuka lebar.

Senyuman mengembang di bibirnya, kali ini dia terlihat puas dan agak tenang. Matanya mulai terpejam. Mencoba mengistirahatkan lagi mata dan juga fikirannya. Dia lepaskan pelan-pelan fikiran yang dia rasa memberatkan hidupnya. Sementara Gyuri terdiam sambil memposisikan dirinya duduk di atas sofa.

“Gyuri -shi, bolehkah aku minta satu permintaan lagi?” mata yang sedari tadi terpejam tiba-tiba terbuka lagi, kepalanya menoleh ke arah di mana Gyuri duduk. Dilihatnya Gyuri menganggukkan kepala, sedikit ragu. “bolehkah aku memanggilmu nuna??” ujung bibir Gyuri tertarik, agak kaget dengan permintaan Seungri, namun ia tetap mengiyakan apa yang Seungri minta. Dia senang akhirnya dia punya keluarga.

“tentu..” jawab Gyuri antusias.

-o0o

“kau mau ini? akan ku kupaskan untukmu?” Hyuk Jae menggelengkan kepalanya, nafsu makannya belum kembali. Perutnya sama sekali tak lapar sekarang. Dia hanya ingin menemui Seungri. Hoya menemani Hyuk Jae malam ini. Sedangkan Max sedang membicarakan sesuatu di luar. Entah hal penting apa yang sedang dia bicarakan hingga dia biarkan Hyuk Jae sendirian.

“kenapa kau sendirian malam ini? Mana Seungri?” lagi-lagi Hyuk Jae diam, tak menjawab pertanyaan Hoya. Pundaknya sedikit naik turun tanda tak tau. “maafkan aku baru menemuimu malam ini. Kemarin aku sedang menemani ibuku periksa kesehatan, saat aku sedang berbicara dengan Keanny melalui telefhone aku melihatmu didorong oleh suster menuju ruang oprasi, Seungri, Max, dan beberapa orang lainnya yang tak aku kenal mengikutimu dari belakang. Aku memberi tau Keanny agar menyusulmu ke sini. Aku bermaksud menemuimu, tapi di lorong ruang oprasi suasananya sangat tegang. Ada sekitar 25 sampai 30 orang berbaris rapi di samping kanan kiri lorong. Seungri tampak frustasi sambil duduk di lantai, di sampingnya ada seorang gadis yang sedang menenangkan Seungri.”

“apa kau tau keadaan keluargaku selama aku tidak di Korea?” akhirnya Hyuk Jae membuka mulut, Hoya tersenyum senang.

“tidak banyak. Yang aku tau, setelah appamu meninggal 1 tahun yang lalu, Seungri bekerja sangat keras. Perusahaan yang dia tangani maju pesat. Lee Corporation makin terkenal dengan produk-produk baru yang diproduksi oleh Seungri. Aku ikut bahagia dengan keberhasilannya.”

“benarkah??” pandangan Hyuk Jae menjurus ke atap kamar rumah sakit, kosong. “dia pasti berjuang sangat keras selama aku pergi” tiba-tiba pintu terbuka, Max masuk membawa makan malam untuk Hyuk Jae.

Max membungkukan badan pada Hyuk Jae dan Hoya. Dia meletakkan tray berisi makan malam milik Hyuk Jae di atas meja.

“Hyung, makanlah dan minum obat.” Hyuk Jae tak mau melihat Max yang sedang berbicara padanya. Max mendekatkan dirinya pada Hyuk Jae, dia langkahkan kakinya pelan, takut Hyuk Jae terganggu.

“aku tidak lapar Max, aku mengantuk” lelah mungkin dia rasakan, namun sejujurnya dia tak mengantuk sedikitpun. Justru banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan pada Max. Ragu dia bertanya, tak yakin bahwa Max akan menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur. Setelah kejadian yang menimpa mereka berdua, Max dan para perawat sengaja menjauhkan Seungri dari Hyuk Jae, maksud mereka baik mungkin. Tapi hal ini tentu saja membuat Hyuk Jae sama sekali tak nyaman.

“jangan seperti itu HaJe, bukankah race seri pertama akan dimulai 1 bulan lagi? Kita tak punya cukup banyak waktu. Aku sudah mencoba mobilmu tadi pagi. Luarrrr biasa, mesin turbo keluaran terbaru itu memiliki 3600 horse power, benar-benar pas dengan settingan mobil balapmu. Jangan membuatku bersedih karna harus dipecat oleh perusahaan sebelum benar-benar jadi mechanic pribadimu” tutur Hoya dengan nada ceria yang dibuat-buat. Hoya tau sifat keras kepala Hyuk Jae, dia juga mencoba membantu Max membujuk Hyuk Jae untuk makan makanannya. Ia tau persis, waktu satu bulan itu tidak cukup untuk memulihkan keadaan sahabatnya, tapi sebagai sahabat yang baik dia harus selalu berbagi semangat dan energy untuk Hyuk Jae yang lebih memerlukannya.

“benar Hyung, aku harap kejadian tadi pagi tidak terulang lagi. Aku minta maaf karna tidak becus menjagamu Hyung” Max menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Dua kali dia teledor menjaga keselamatan Hyuk Jae yang juga boss besar keluarga Lee itu.

“aku benci mendengar kata maafmu!!”

“huyung…!!” Max kaget dengan kata-kata Hyuk Jae yang terdegar kasar dan panas. “aku mohon, kau boleh membenciku, tapi kau tak boleh menyiksa dirimu, dan juga Seungri tentunya”

Hyuk Jae diam, tatapan kosongnya kini berubah jadi gelap. Dia tutup rapat mata tak berkelopaknya. Teringat sekelebatan bayangan Seungri yang tiba-tiba menegang lalu pingsan di hadapannya. Mulutnya gatal ingin menanyakan keadaan Seungri pada Max. namun ia urungkan niatnya. Takut tak dapat menahan emosi, dia lebih memilih menutup matanya.

Max diam ditempat sambil menunduk, sementara Hoya bangkit dari tempatnya. Bosan melihat pemandangan yang sama sekali tidak enak untuk dilihat. Dia ambil makanan Hyuk Jae yang masih di segel dari atas tray. Tangan kirinya masih sibuk dengan mangkuk sup untuk Hyuk Jae, sementara tangan kanannya menepuk-nepuk pelan bahu Hyuk Jae.

“buka matamu! Kalau kau ingin mati silahkan, tapi jangan sekarang. Setidaknya tunggu aku sampai pergi dari Korea. Sayangnya aku belum berniat meninggalkan Korea dalam waktu dekat ini, jadi sekarang bangkitlah. Makan makananmu lalu minum obat. Kau juga punya tanggung jawab membantuku untuk meraih cita-citaku!! Arasso!!!”

Dalam hitungan detik mata Hyuk Jae terbuka, sup yang Hoya bawa diletakan di meja kecil dekat ranjang Hyuk Jae, dia membantu Hyuk Jae untuk duduk.

“buka mulutmu,,,,!!!” Hoya menyuapkan sesendok makanan pada mulut Hyuk Jae. Tanpa banyak bicara Hyuk Jae melahap suapan pertama makannannya. Dua tiga suapan semuanya masih baik-baik saja, hingga di suapan ke empat raut muka Hyuk Jae berubah. Memerah, tampak kesakitan. Hoya panic bukan main begitu juga dengan Max.

Tangan kanan Hyuk Jae yang bebas dari selang infuse menutup mulutnya sendiri rapat-rapat. Hyuk jae merasa ada yang salah dengan pencernaannya. Mual, itu yang dia rasakan. Beruntung makanan yang sudah ada dalam perut Hyuk Jae tidak berontak memaksa untuk dikeluar kan lagi.

“ini.. minumlah Hyung” Max menyodorkan gelas berisi air putih. Dia elus punggung Hyuk Jae lembut. “Hyung gwanceana??”

“tidak apa-apa. Hanya sedikit mual. Aku tidak mau makan lagi, berikan obatku Max.” nada bicara Hyuk Jae sudah kembali lembut. Max segera mengambilkan obat Hyuk Jae dan membantu Hyuk Jae untuk meminum obatnya.

“Gomawo Hoya-ah… Max” Max dan Hoya tersenyum, sadar Hyuk Jae sudah kembali tenang. 2 orang yang yang sedari tadi cemas memikirkan keadaan Hyuk Jae dapat bernafas tenang sekarang. Hyuk Jae, malaikat yang baik hati telah kembali.

“Max, aku ingin kau menceritakan padaku apa yang terjadi pada Seungri selama aku tidak ada…”

“………………” Max tak menjawab, takut perkataannya akan membuat Hyuk Jae khawatir. Dia menimbang-nimbang apa yang harus ia ceritakan pada Hyuk Jae. Apakah harus semuanya? Atau dia berbohong saja? Tidak!!

“Max…” suara Hyuk Jae terdengar parau.

“Seungri kecil adalah saksi dari kejadian yang kalian alami Hyung” Max memulai cerita hidup keluarga Lee. “dia memang tidak tau persis apa yang dialami nona Nara 5 tahun yang lalu, dia hanya tau kakak kesayangannya pergi meninggalkannya tanpa 1 kata perpisahanpun” Baik Hyuk Jae maupun Hoya mendengarkan cerita Max dengan seksama.

“Seungri mengikutimu ke bandara Hyung, tapi kau telah pergi. Seungri….. dia tidak pulang selama dua hari. Kami menemukannya di sekitar stasiun dekat rumah kita. Badannya basah, kulitnya pucat dan dia sakit demam. Nyonya Lee membawanya ke rumah sakit. 3 hari setelah koma Seungri sadar. Tangisnya pecah, dia terus memanggil nama kakak kesayangannya yang pergi entah ke mana” Hoya menggenggam erat tangan Hyuk Jae, ia tau sahabatnya merasa sedih sekarang. Max berhenti bercerita, ia pandangi raut muka Hyuk Jae, takut ceritanya justru membuatnya sedih dan membuat kesehatannya terganggu.

“lanjutkan Max”

“Seungri berhasil melewati masa-masa beratnya selama kau tidak ada, hingga nyonya Lee meninggal karna serangan jantung. Ujian berat bagi Seungri ternyata belum usai, dia tau penyebab serangan jantung eommanya karna beliau mendengar kau hampir tewas saat kecelakan di Laguna Seca. Sejak saat itu Seungri takut untuk tidur, takut kegelapan, dan takut kesendirian. Siang hari Seungri menjadi anak yang ceria, pandai, dan mandiri. Sedangkan dimalam hari dia berubah menjadi anak manja yang takut dengan semua suasana malam. Aku selalu menjadi bodyguard malamnya. Seringkali dia terlihat ketakutan walau  matanya sedang terpejam…..”

Mata Hyuk Jae mulai mengkristal, tak terfikirkan olehnya keadaan Seungri sangat buruk saat dia tinggalkan. Kali ini Max membulatkan diri untuk terus bercerita. Dia fikir mungkin cerita ini akan mempermudah jalan Seungri untuk membawa Hyuk Jae pulang.

“Seungri berjuang untuk melewati masa beratnya dengan sekuat tenaga. Dia mulai bersekolah bisnis dan membantu tuan besar mengurus perusahaan. Banyak hal yang dia lakukan bersama dengan tuan besar. Dia juga menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari tempat tinggalmu walau itu sulit. 1 tahun yang lalu dia berhasil menemukan keberadaanmu saat kau sedang sangat popular di dunia balap mobil. Tuan besar menceritakan semuanya pada Seungri, kejadian yang membuatmu kabur dari Korea. Tuan besar merasa bersalah padamu, pada Seungri, dan juga nyonya besar. Beliau meminta Seungri untuk membawamu pulang dan menjaga perusahaan dengan baik. Rupanya itu adalah wasiat terakhir yang diberikan tuan besar untuk Seungri. Beliau meninggal karna kecelakaan saat melakukan perjalanan bisnis ke Osaka…………..”

“Max, hentikan ceritamu. Lain kali bisa kau teruskan lagi. HaJe-ah… tidurlah. Ini sudah malam. Kau butuh banyak istirahat.” Hoya menghentikan cerita Max, sadar keadaan mulai tidak baik.

“baiklah” Hyuk Jae sama sekali tak memberi tanggapan. Fikirannya melayang tak karuan memikirkan hidup Seungri selama 5 tahun ini. Dia merasa sangat bersalah.

“jangan terlalu difikirkan. Inilah yang namanya hidup. Max,, pergilah. Malam ini biar aku yang menjaga HaJe. Kalau ada apa-apa aku akan segera menghubungimu. Aku janji”

Max mundur secara perlahan kearah pintu. Sebelumnya dia membungkukkan badan pada Hyuk Jae dan Hoya. Max menutup pintu pelan, dia tidak pulang. Menunggu di luar beserta 20 orang pengawal lainnya.  Dia hanya tidak ingin tetap di dalam dan mengganggu waktu istirahat Hyuk Jae.

Mata Hyuk Jae masih menerawang ke arah langit-langit. Sesekali ia pejamkan, namun ia terjaga lagi.

“sudah kukatakan tidurlah…..” Hoya menyelimuti Hyuk Jae hingga dada. Dia benarkan letak tangan kiri Hyuk Jae yang tersambung dengan selang infuse. “pejamkan matamu…. Aku akan menemanimu di sini”

Hyuk Jae menurut. Ia pejamkan kedua matanya. Mencoba untuk melupakan apa yang Max telah ceritakan padanya. Hingga tanpa dia sadari setetes Kristal cair keluar dari sudut matanya.

“Seungri-ah…. Aku pantas mati…”

TBCJJ

16 thoughts on “[FF Freelance] I Wish I Were You (Part 2)

  1. aigooo~ seungri manjanya ga ketulugan ya tuhaaan -___-
    tapi pas baca cerita masa lalunya jadi kasian banget..
    nanti hyuk bakal sama gyuri ga yaaa?
    ditunggu next partnya ^^

  2. sedikit demi sedikit rahasianya terungkap….wooow…keren bgt karya km ini 🙂
    knp wkt di spayol tmpt tinggal hyuk jae ga menetap ya,dan jinie serta kenny byk misterinya,nanti bakal keungkap kan thor? 😉
    ditunggu lanjutannya.

  3. Ri..panda manjaaaaa…tapi aku suka..such a uri maknae 😉 feelnya riri menurut aku disini dapet bgt lo thoor..
    gatau deh mo komen apa lagi,thrillernya jga dapet bgt,pas ri pingsan gara2 liat hyukie, aku jd deg2an sendiri >.<
    ah ya thor dr part 1 mau bilang,setau aku kalo akhiran -ah itu buat nama yg akhirannya itu konsonan,kyk max-ah,kalo akhiran namanya vokal itu pakenya -ya, kyk seungri-ya..kalo ga salah,gitu thor 😉
    yoo cus ke part 3..keep write! Fighting!

    • iya Yachii..
      makasii udah diingetin..
      hehehe…
      part part awal banyak typonya..
      aku juga sempet bingung penggunaan -ah ma -ya..
      tp temenku yang baca ff aku ikutan ngingetin kalo itu salah..
      makanya d part selanjutnya udah mulai aku rubah dikit-dikit

      next part kalo ketemu typo lagi ingetin lagi yah..
      hahahha..*ngrepotin reader
      hihihihi..
      FF aku udah sampe cap 6 loh…
      makasii dah baca n coment ^^

  4. aduh, pas baca bagian yang max cerita tentang seungri itu kok aku pengen nangis-__- wkwk ceritanya bagus, tapi puanjaaaaang banget._. sebenernya ini bisa dibagi ke beberapa part lagi biar ga terlalu panjang. biar readers nya juga makin penasaran gitu kkk~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s